Selasa, 30 Oktober 2018

Israel Serang Suriah Lagi sejak Penembakan Pesawat Rusia


Israel Serang Suriah Lagi sejak Penembakan Pesawat Rusia
Serangan militer Israel di Latakia, Suriah, bulan lalu. Foto/Ynet

TEL AVIV - Israel telah melakukan serangan di Suriah lagi sejak jatuhnya pesawat pengintai Rusia akibat ditembak sistem pertahanan rudal S-200 Suriah bulan lalu. Operasi militer itu diungkap seorang pejabat senior Israel pada hari Senin.

Pada 17 September lalu, pesawat pengintai Il-20 Moskow secara tak sengaja ditembak jatuh oleh sistem pertahanan S-200 rezim Damaskus di Latakia. Sistem anti-pesawat itu sejatinya sedang merespons serangan empat jet tempur F-16 Israel, namun dalam waktu yang bersamaan pesawat Il-20 muncul. Sebanyak 15 tentara Moskow tewas dalam insiden itu.

Pejabat Tel Aviv yang mengungkap operasi militer terbarunya di Suriah tidak merinci tanggal dan hasil serangan.

"IDF (Pasukan Pertahanan Israel) telah menyerang di Suriah, termasuk setelah jatuhnya pesawat Rusia. Koordinasi militer dengan Rusia berlanjut seperti sebelumnya," kata pejabat senior pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang tidak dapat disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters, Selasa (30/10/2018).

Stasiun televisi Israel, Channel 1, melaporkan satu serangan udara ditujukan pada pengiriman peralatan Iran untuk gerilyawan Hizbullah Lebanon. Peralatan yang dikirim itu berfungsi untuk meningkatkan akurasi roket dan rudal mereka.

Sejak perang saudara pecah di Suriah 7,5 tahun terakhir, Israel telah melakukan serangan udara di negara Presiden Bashar al-Assad itu berkali-kali. Dalam insiden 17 September, Moskow menyalahkan Israel yang dituduh menjadikan pesawat Il-20 sebagai tameng jet tempur F-16 dari serangan sistem pertahanan S-200 Damaskus.

Namun, Tel Aviv menolak disalahkan dan menganggap kesalahan fatal ada di pihak militer rezim Damaskus. Kejadian itu membuat hubungan Tel Aviv dan Moskow retak.

Sejak pesawat Il-20 jatuh, Rusia mengirim sistem pertahanan rudal S-300 yang diprotes Israel dan Amerika Serikat. Sistem itu dianggap Amerika akan menambah situasi konflik di Suriah semakin parah.

Pejabat Tel Aviv yang mengungkap operasi militer terbaru di Suriah juga menyampaikan bahwa Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan bertemu dalam konvensi Paris,  11 November mendatang. "Kami percaya ada peluang bagus, pertemuan itu akan terjadi di sana," katanya. "Ini nyaman, tetapi belum diatur." 




Credit  sindonews.com