Jumat, 26 Oktober 2018

Tahun Depan, Turki Pasang Sistem Pertahanan Rudal Rusia


Tahun Depan, Turki Pasang Sistem Pertahanan Rudal Rusia
Ilustrasi S-400. (UMNICK via WIkimedia Commons)


Jakarta, CB -- Turki akan memulai proses pemasangan sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia pada 2019 mendatang.

Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar, mengatakan bahwa pemerintah akan mengirim personel terpilih ke Rusia untuk mengikuti pelatihan perakitan sistem dan kembali ke negaranya.

Pembelian sistem senjata S-400 ini menimbulkan kekhawatiran NATO yang mewaspadai kehadiran Rusia di kawasan Timur Tengah.


AS pun mengancam bakal menjatuhkan sanksi dan membatalkan sejumlah perjanjian jika Turki melakukan pembelian rudal S-400 dari Rusia.


Salah satu perjanjian yang terancam batal adalah pembelian jet tempur Lockheed Martin F-35 dari AS. Washington mengancam akan membatalkan perjanjian itu jika Turki tetap membeli S-400.

Akar mengatakan bahwa program pembelian F-35 terus berjalan seperti yang direncanakan, di mana jet ketiga dan keempat akan dikirimkan pada Maret 2019.


Sebelumnya, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Turki akan terus membayar cicilannya. Namun, Turki akan mencari alternatif lain jika AS memutuskan untuk menghentikan pengiriman.

Turki dan AS sendiri mengadakan pembicaraan mengenai kemungkinan penjualan sistem pertahanan rudal pertahanan Raytheon Co Patriot sebagai alternatif untuk sistem senjata S-400.

Namun, Turki menyatakan bahwa AS gagal membentuk kerja sama peningkatan keamanan. Mereka pun harus mencari kekuatan di luar NATO untuk memenuhi kebutuhannya.


Meski demikian, Erdogan mengatakan bahwa hubungan Turki dengan NATO tetap kuat. Turki juga berusaha untuk mengamankan kesepakatan pertahanan dengan negara anggota NATO lainnya.

Mereka telah menandatangani Letter of Intent dengan Perancis dan Italia untuk memperkuat kerja sama dalam proyek pertahanan gabungan.

Sebagai langkah pertama, konsorsium EUROSAM Franco-Italia dan sejumlah perusahaan Turki akan melihat sistem pertahanan berdasarkan sistem rudal SAMP-T.

"Ada beberapa masalah akibat S-400, perkembangan politik dan peradilan, tetapi kondisi politik dan militer yang kita miliki sekarang tidak menimbulkan kekhawatiran," kata Akar kepada kantor berita Anadolu.




Credit  cnnindonesia.com