Senin, 06 Juni 2016

Obetuari - Dunia tinju kehilangan sang legendaris



Obetuari - Dunia tinju kehilangan sang legendaris
Mahkota "Raja Tinju" diletakkan di kepala bekas petinju asal Amerika Muhammad Ali dalam Konvensi Dewan Tinju Dunia ke-50 di Cancun. (REUTERS/Victor Ruiz Garcia )
 
 
Jakarta (CB) - Legenda tinju Muhammad Ali mungkin akan tetap hidup sepanjang masa, meskipun sang legendaris itu telah menghembuskan nafas terakhirnya Jumat malam atau Sabtu siang WIB pada usia 74 tahun.

RS Phoenix, Arizona, AS, menjadi tempat perawatan terakhir sang legendaris, yang lebih dari 30 tahun menderita penyakit parkinson.

Banyak nama-nama besar yang tercatat dalam sejarah dunia olahraga tinju profesional. Namun, tidak ada yang menyangkal, bahwa Ali adalah yang terbesar dengan berbagai prestasi dan kontroversinya.

Di era kejayaannya tahun 1960-1970, penggemar tinju sedunia selalu menantikan penampilan Ali dengan berbagai gaya khasnya yang membangkitkan gairah olahraga keras ini.

Muhammad Ali yang pernah bertanding di Jakarta melawan Rudi Lubbers tahun 1973, juga sangat akrab bagi penggemar tinju di Indonesia.

Ali yang sebelum masuk Islam bernama Cassiuss Clay, mulai mencuat namanya ketika ia meraih medali emas Olimpiade 1960 sebagai petinju amatir.

Di kancah tinju profesional ia menjadi juara dunia kelas berat termuda dalam sejarah, setelah merobohkan Sonny Liston pada usia 22 tahun di tahun 1964.

Itu adalah gelar juara dunia pertamanya, dari tiga kali gelar yang diraihnya dalam karir tinju profesional.

Selanjutnya perjalanan hidup pria kelahiran Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, 17 Januari 1942 itu penuh dengan aneka warna prestasi di dalam maupun luar ring tinju.

Ali menolak untuk ikut dalam wajib militer tahun 1967 sehingga mendapat skorsing dan gelar juara dunianya pun dicopot.

"Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satu pun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!," demikian salah satu alasan Ali menolak ikut perang Vietnam.

Di awal 1970-an dunia tinju kembali dapat menyaksikan penampilan spektakuler Ali di berbagai negara.

Salah satu laga terhebatnya adalah ketika ia merobohkan George Foreman dalam pertarungan di Zaire tahun 1974 dan kembali merebut gelar juara dunia.

Tanda-tanda kemerosotan prestasi Ali terlihat ketika ia kalah dai Leon Spinks di tahun 1978.

Meskipun ia berhasil membalas kekalahannya di tahun yang sama untuk merebut sabuk juara dunia yang ketiga kalinya, namun sudah terlihat bahwa Ali tidak sekuat dulu lagi.

Larry Holmes, mantan mitra latih Ali, mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di kelas berat.

Tahun 1981 Ali resmi mengundurkan diri dengan rekor 56 kali menang (37 dengan KO), dan lima kali kalah. Tiga dari kekalahan dialami dalam empat penampilan terakhirnya.

Tiga tahun kemudian ia dinyatakan mengidap penyakit parkinson. Seperti dikutip USA Today, pihak keluarga yakin penyakit itu terkait dengan karirnya di olahraga keras ini.

Dengan tangan bergetar dan sulit bicara, salah satu ciri dari penderita sindrom parkinson, Ali masih terlibat dalam kegiatan sosial.

Desember lalu ia juga sempat mengkritik kandidat presiden AS Donald Trump yang menyatakan akan melarang orang Islam memasuki Amerika Serikat.

"Kita sebagai Muslim harus bangkit menentang orang-orang yang menggunakan Islam untuk kepentingan agenda pribadinya," demikian pernyataan Ali.

Setelah 30 tahun bergelut dengan parkinson dan berbagai penyakit, akhirnya di usia 74 tahun di Phoenix, Arizona, ia wafat setelah tiga hari dirawat di rumah sakit setempat.

Dunia olahraga berduka atas kepergian Ali untuk selamanya, termasuk petinju-petinju yang pernah dikalahkannya.

"Bagian dari diri saya sudah tiada dan semoga mendapat kedamaian." kata George Foreman, mantan juara dunia kelas berat yang pernah KO di tangan Ali, melalui akun Twitter.





Credit  ANTARA News