Senin, 13 Juni 2016

Kiamat Letusan Toba, Supervolcano dari Indonesia


 Kiamat Letusan Toba, Supervolcano dari Indonesia
Pemandangan Danau Toba yang dilihat dari desa Tongging, Karo, Sumut, Sabtu (25/01). Tempo/Dian Triyuli Handoko
 
CB, Copenhagen - Sekitar 74 ribu tahun lalu, gunung berapi Toba di Pulau Sumatera meletus dahsyat dan mengakibatkan bencana global. Letusannya diperkirakan 5.000 kali lebih besar dibanding letusan Gunung St Helens di Amerika Serikat pada 1980, bahkan menjadi bencana vulkanis terbesar di bumi selama 2 juta tahun terakhir.

Toba memuntahkan lava yang cukup guna membangun dua Gunung Everest. Gunung api itu juga melontarkan abu yang sangat banyak ke atmosfer dan menghalangi sinar matahari sehingga mengakibatkan bumi gelap sepanjang hari selama bertahun-tahun, seperti sudah kiamat. Letusan dahsyat Toba meninggalkan bekas berupa kawah berdiameter rata-rata 50 kilometer yang kini dikenal sebagai Danau Toba.

Letusannya ini membuat Toba diklasifikasi sebagai gunung berapi raksasa (supervolcano). Tak hanya abu, Toba mengirim cukup banyak asam sulfat ke atmosfer guna membuat hujan asam di daerah kutub bumi. Informasi ini diperoleh setelah para ilmuwan mengais jejak sisa asam sulfat dalam inti es kutub yang dalam.

"Kami melacak jejak hujan asam dalam lapisan es di Greenland dan Antartika," kata Anders Svensson, ahli gletser dari Institut Niels Bohr di Universitas Copenhagen, Denmark.

Inti es bisa memberikan bukti lebih detail soal iklim bumi yang berubah drastis hanya dalam beberapa tahun setelah letusan dahsyat Toba. Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan bahwa letusan supervolcano akan memicu pendinginan global hingga 10 derajat Celsius selama beberapa dekade. Namun inti es di kedua kutub menunjukkan pendinginan yang terjadi dalam waktu yang lebih pendek dan tidak konsisten di seluruh belahan bumi.

"Tidak ada pendinginan global yang merata akibat letusan Toba," kata Svensson, mengacu kurva temperatur inti es. Menurut dia, fluktuasi pendinginan suhu yang besar hanya dijumpai di belahan bumi utara, sedangkan di belahan bumi selatan lebih hangat. "Kondisi ini mengakibatkan pendinginan global terjadi dalam periode singkat."

Bukti yang ditemukan Svensson dan rekan-rekannya menjanjikan jalan keluar bagi sejumlah perdebatan arkeologi. Letusan Toba terjadi di titik kritis dalam sejarah manusia purba ketika Homo sapiens pertama kali keluar dari Afrika ke Asia. Namun ada perbedaan pendapat yang kentara soal nasib manusia awal yang terkena dampak letusan Toba. "Apakah sebagian besar penghuni bumi musnah oleh letusan itu?"

Ia mengatakan bahwa lapisan abu vulkanis dari letusan Toba ditemukan di sebagian besar wilayah Asia. Material letusan ini digunakan sebagai petunjuk arkeologi kuno yang sangat penting mewakili peradaban yang dianggap terlalu tua guna dilakukan penanggalan karbon. Sedangkan analisis inti es menyediakan informasi lainnya guna menempatkan temuan arkeologi kuno secara lebih akurat.

"Posisi letusan Toba dalam rekaman inti es akan menempatkan temuan arkeologis dalam konteks iklim. Ini akan sangat membantu menjelaskan periode kritis sejarah manusia," kata Svensson. Penelitian ini secara perinci dimuat dalam jurnal Climate of the Past.



Credit  TEMPO.CO