Menlu
Rusia Sergey Lavrov mengatakan, AS secara konsisten menolak membahas
penyebaran senjata di luar angkasa, serta masalah stabilitas strategis
lainnya. Foto/Istimewa
MOSKOW
- Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengatakan, Amerika Serikat
(AS) secara konsisten menolak membahas penyebaran senjata di luar
angkasa, serta masalah stabilitas strategis lainnya.
Lavrov, yang
berbicara saat melakukan wawancara dengan Vietnam Television (VTV),
CCTV dan Phoenix TV, menuturkan sejak 2017 Rusia selalu berusaha
mengajak AS membahas masalah penyebaran senjata di luar angkasa. Namun,
AS tidak pernah menggubris hal itu.
"Kami memiliki banyak
kesempatan, pada pertemuan Hamburg 2017 antara Presiden Vladimir Putin
dan Donald Trump dan KTT Helsinki pada Juli 2018, percakapan saya dengan
Michael Pompeo dan kunjungan Penasihat Keamanan Nasional, AS John
Bolton ke Rusia," ucap Lavrov, seperti dilansir Tass pada Minggu (24/2).
"Dalam
setiap pertemuan itu menyarankan untuk meluncurkan dialog terstruktur
mengenai stabilitas strategis yang akan mencakup rudal jarak menengah
dan jarak pendek, Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis dan ruang
angkasa, yang dianggap sebagai area baru di mana AS ingin mengerahkan
senjata, meskipun itu akan disesalkan," sambungnya.
Diplomat
senior Rusia itu kemudian mengatakan, draft perjanjian Rusia-Cina
tentang non-penyebaran senjata di luar angkasa di Konferensi Jenewa
tentang Perlucutan Senjata telah menjadi penghalang bagi AS.
"Ini
adalah dokumen yang solid dan disusun dengan baik yang memiliki banyak
pendukung, termasuk negara-negara Eropa, tetapi AS tidak ingin terikat
dengannya. Ketika AS mengumumkan rencana untuk menyebarkan senjata di
luar angkasa, menjadi jelas mengapa mereka menolak untuk mendukung
rancangan perjanjian yang disajikan oleh Rusia dan China," tukasnya.
Bom hidrogen Uni Soviet, RDS-220 atau "Tsar Bomba", adalah
bom termonuklir terkuat yang pernah dibuat.[Scott Martin/Army
Technology]
CB, Jakarta - Ada cukup banyak senjata nuklir
di dunia untuk menyebabkan bencana global yang menghancurkan dunia
dalam sekejap. Menurut para ilmuwan, tidak ada negara yang dapat
menembakkan lebih dari 100 hulu ledak nuklir tanpa menimbulkan
kehancuran sedemikian rupa sehingga warga negara mereka sendiri yang
pulang akan terbunuh.
Sebagian besar negara nuklir yang diakui
oleh Perjanjian tentang Non-Proliferasi Senjata Nuklir, yakni Prancis,
Rusia, Inggris dan Amerika Serikat, telah mulai mengurangi persenjataan
mereka.
Cina
merupakan pengecualian. Jumlah pasti hulu ledak negara ini tidak
diketahui, tetapi banyak analis mengatakan persediaannya secara perlahan
semakin meningkat.
Sebaliknya, Korea Utara, walaupun terkenal sulit diprediksi, pada
akhirnya dapat mengurangi program nuklirnya jika pemulihan hubungan
diplomatiknya dengan Barat terus berlanjut.
Negosiasi mengenai
perlucutan senjata nuklir secara politis sulit. Tetapi ketika
kesepakatan tercapai, para ilmuwan dan insinyur dapat menyediakan
berbagai alat untuk membongkar beberapa senjata buatan manusia yang
paling mematikan dan menyimpan atau menggunakan kembali bahan nuklir
berbahaya.
Pelucutan senjata nuklir adalah proses yang
terkoordinasi, yang melibatkan politisi, ilmuwan dan insinyur, seperti
dalam laporan Inside Science, insidescience.org, dikutip pada 25
Februari 2019.
Semuanya dimulai dengan cetak biru yang digunakan para desainer untuk membuat senjata di tempat pertama, menurut para ahli.
"Ini
seperti jenis mesin lainnya," jelas Robert Rosner, ketua Buletin Badan
Ilmuwan dan Keamanan Atom. "Ini adalah proses membongkar sepotong demi
sepotong." Bom
"Priscilla" meledak dengan energi 37 kiloton TNT di Situs Uji Nevada
pada 24 Juni 1957. [Situs Keamanan Nasional Nevada/Wikipedia/Business
Insider]
Untuk membongkar senjata nuklir, para insinyur
perlu mengetahui urutan yang tepat di mana potongan-potongan itu awalnya
disatukan.
"Desain bom atom adalah apa yang saya sebut rahasia
terbuka. Tidak banyak cara mendesainnya, jadi jika orang Amerika harus
berurusan dengan bom Korea Utara misalnya, itu tidak akan menjadi
misteri bagi mereka," kata Rosner.
Tetapi bom hidrogen yang lebih
canggih dan destruktif yang dimiliki oleh Amerika Serikat, Inggris,
Cina, Prancis, dan Rusia adalah cerita lain.
"Ada banyak desain
yang berbeda sehingga pembongkarannya sangat sulit. Anda harus sangat
berhati-hati," kata Rosner. "Dari sudut pandang insinyur mesin, mereka
seperti arloji Swiss yang sangat diciptakan dengan rumit. Mereka adalah
karya seni mekanis dengan desain yang sangat pintar."
Para ahli lain sepakat bahwa membongkar desain nuklir adalah bagian yang paling menantang dari proses denuklirisasi.
"Ini
lebih sedikit tentang bahan nuklir dan lebih banyak tentang teknik,"
kata Tom Plant, direktur Proliferasi dan Kebijakan Nuklir di Royal
United Services Institute for Defence and Security Studies, sebuah think
tank independen di Inggris.
Ini akan jauh lebih sulit dan oleh
karena itu lebih kecil kemungkinannya bahwa tim insinyur dapat
membongkar bom hidrogen tanpa mengetahui urutan desain yang tepat,
tetapi secara teknis masih tidak mungkin.
"Sangat tidak mungkin
meledak jika ada kesalahan dalam proses pembongkaran, kecuali jika
dirancang untuk meledak pada kemungkinan itu, yang mungkin saja terjadi
meskipun mustahil," kata Rosner.
Plant setuju bahwa skenario
terburuk adalah peledakan tidak disengaja, tetapi ada risiko lain yang
mungkin terjadi jika pembongkaran salah. Orang-orang yang melakukannya
dapat tersengat listrik atau terkena bahan nuklir atau bahan kimia
beracun lainnya.
Tetapi suatu negara, yang mengetahui desainnya sendiri, harus dapat membongkar senjata nuklir modernnya sendiri.
Mengalihkan Sisa Plutoniun atau Uranium
Pada 2014, AS telah membongkar 85 persen dari cadangan senjata
nuklirnya yang dipublikasi sejak 1967 ketika AS memiliki lebih dari
31.000 hulu ledak nuklir siap-perang, menurut Departemen Luar Negeri AS.
Bahkan
sebelum pembongkaran nuklir dilakukan, suasana politik yang benar perlu
diwujudkan, kata Plant. Dia masih tidak optimis bahwa dialog saat ini
antara Korea Utara dan Amerika Serikat memiliki cukup kemauan politik
untuk melihat semenanjung Korea yang bebas nuklir.
Setelah
komponen senjata dibongkar, proses selanjutnya berurusan dengan sisa
plutonium atau uranioan entah itu menggunakan teknologi bom yang lebih
tua dan lebih canggih.
Satu solusi yang mungkin adalah menggunakan
kembali bahan radioaktif, baik plutonium atau uranium, untuk
menghasilkan listrik. Untuk membuat unsur ini cocok untuk pembangkit
listrik, bahan perlu diencerkan dengan versi yang kurang diperkaya.
Mematikan
limbah radioaktif dan menjaganya tetap aman adalah ilmu tersendiri.
Uranium atau plutonium yang diekstraksi akan mengandung isotop yang
berbeda, varian dari keduanya memiliki massa atom yang berbeda, yang
berarti radioaktivitas-nya meluruh pada tingkat yang berbeda.Isotop
yang sangat radioaktif memiliki waktu paruh pendek, yang berarti mereka
meluruh lebih cepat daripada yang kurang radioaktif, dan itu
menghasilkan banyak panas.
"Bahan itu harus diletakkan di kolam
air selama sekitar setengah dekade untuk mendinginkan batang saat mereka
meluruh," kata Rosner. "Kemudian baru bisa menggunakan limbah tingkat
rendah yang relatif lebih sedikit radioaktif-nya."
Isotop yang kurang radioaktif lebih lambat meluruh, yang menimbulkan masalah tersendiri.
"Mereka
memiliki nukleus yang lebih berat, sehingga mereka memiliki paruh yang
sangat panjang bisa sampai jutaan tahun dan Anda masih harus melakukan
tindakan tambahan. Anda tidak bisa membiarkan mereka disimpan begitu
saja," kata Rosner.
Batang radioaktif ini harus disimpan dalam
wadah yang dirancang khusus, yang disebut "tong kering". Tanki ini
biasanya terbuat dari baja dan ditutup rapat untuk mencegah kebocoran.
Masing-masing tong kemudian dibungkus dalam cangkang baja lain dan
kemudian di lapisan beton tebal untuk mencegah radiasi.
"Jika Anda berdiri di luar wadah maka Anda tidak akan dapat mendeteksi radiasi," jelas Rosner.
Tetapi
bahkan opsi penyimpanan ini memiliki kekurangan seperti biaya
pembangunan, pemeliharaan dan pemantauan fasilitas-fasilitas ini tidak
akan pernah hilang selama batang di dalam menghasilkan radiasi.
Selain
itu, ada keamanan nasional untuk dipertimbangkan, kata Plant.
"Pemerintah akan menyimpannya di tempat yang aman jika mereka ingin
menggunakannya kembali atau seandainya ada teroris yang berusaha
mendapatkannya."Itulah mengapa opsi ketiga yang disebut "pelucutan sebagian" menjadi lebih populer dalam beberapa tahun terakhir.
Pelucutan sebagian akan menyimpan zat radioaktif sambil menghilangkan peluang untuk bom yang akan digunakan.
"Jika Anda menghilangkan pelatuknya, maka apa yang tersisa tidak dapat digunakan sebagai bom," kata Rosner.
Tetapi
pelucutan sebagian bersifat reversibel, artinya pemicu dapat dipasang
kembali dan karena itu hulu ledak dapat diaktifkan kembali."Anda
tidak bisa mengembalikannya dalam hitungan jam sehingga mereka tidak
bisa siaga. Anda berbicara tentang minggu untuk melakukannya," kata
Rosner.
Jika Korea Utara setuju untuk melakukan denuklirisasi,
Korut memiliki beberapa pilihan untuk dipertimbangkan dan jangka
panjang, tetapi ketika negara-negara pemilik senjata nuklir bekerja sama untuk mengendalikan persenjataan mereka, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih aman, kata Plant.
CB, Jakarta - Pemimpin
Korea Utara Kim Jong Un menjejakkan kakinya di Vietnam pada hari Selasa
pagi, 26 Februari 2019 setelah menempuh perjalanan sepanjang 4.500
kilometer atau 60 jam dengan mengenderai kereta antipeluru dari
Pyongyang via wilayah Cina.
Kereta yang membawa Kim berhenti di stasiun kereta Dong Dang, berbatasan dengan Cina.
Sejumlah
pejabat tinggi Vietnam menyambut Kim dengan menggelar karpet merah dan
sambutan kenegaraan dan dua bendera kedua negara berkibar.
Kim begitu turun dari kereta melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Cucu pendiri Korea Utara ini mengenakan pakaian ala Mao Zedong berwarna
hitam.
Mobil Mercedez Bens kemudian membawa Kim menuju Hanoi
sejauh sekitar 170 kilometer. Para pengawal mengiringi mobil yang
membawa Kim.
Dari
dalam mobil Kim Jong Un melambaikan tangannya kepada penduduk yang
berbaris di sepanjang jalan dengan melambai-lambaikan bendera Vietnam
dan Korea Utara.Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump
dikabarkan tiba di Hanoi pada Selasa sore. Trump didampingi Mentero Luar
Negeri Miko Pompeo.
Stasiun Dong Dang, Vietnam menggelar karpet merah menyambut kedatangan Kim Jong Un pemimpin Korea Utara. [KOREA HERALD]
Kim
Jong Un dan Donald Trump akan bertemu pada hari Rabu, 27 Februari untuk
membahas program denuklirisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea. Ini
pertemuan kedua mereka setelah mengadakan pertemuan pertamanya pada
Juni 2018 di Singapura.
Pemerintah
Ukraina mendesak dunia internasional, termasuk di dalamnya Indonesia,
untuk membantu mengakhiri aneksasi Rusia terhadap Crimea. Foto/Istimewa
JAKARTA
- Pemerintah Ukraina mendesak dunia internasional, termasuk di dalamnya
Indonesia, untuk membantu mengakhiri aneksasi Rusia terhadap Crimea,
yang saat ini telah memasuki tahun kelima.
"Ukraina mendesak
masyarakat internasional dan khususnya Republik Indonesia sebagai
anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB saat ini untuk terus melanjutakan
upaya untuk menghentikan agresi hibrida Rusia terhadap Ukraina,
termasuk pendudukan temporal Crimea, dengan tujuan akhir pemulihan
integritas wilayah Ukraina di dalam perbatasannya yang diakui secara
internasional," kata Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Volodymyr
Pakhil dalam keterangan tertulis yang diterima Sindonews pada Selasa
(26/2).
Pakhil, dalam keterangan menuturkan bahwa lima tahun lalu
pasukan Rusia atau yang disebut "orang hijau kecil" memasuki Crimea
tanpa lencana militer. Pada awalnya, papar Pakhil, Presiden Rusia,
Vladimir Putin membantah keterlibatan negaranya, kemudian mengakui bahwa
ia telah berbohong kepada seluruh dunia.
Dengan
keberadaan “lelaki hijau kecil” bersenjata, Moskow berhasil melakukan
referendum palsu tentang transisi Crimea ke Rusia, yang tidak diakui
oleh dunia yang beradab secara demokratis.
"Yaitu, Resolusi
Majelis Umum PBB “Integritas Teritorial Ukraina” menegaskan komitmen
terhadap integritas teritorial Ukraina dalam batas-batasnya yang diakui
secara internasional dan menggarisbawahi ketidakabsahan referendum palsu
yang disebutkan. Dokumen itu didukung oleh 100 negara anggota PBB. Oleh
karena itu, sejak awal Rusia mendapati dirinya berada dalam isolasi
internasional, yang didukung hanya oleh 10 negara yang memiliki catatan
demokrasi serupa dengan Moskow," ucapnya.
Dia
kemudian menambahkan, pendudukan sementara Crimea berarti bahwa, untuk
pertama kalinya sejak 1940-an, sebuah negara Eropa merebut sebagian
wilayah dari tetangga dengan paksa, sehingga secara besar-besaran
melanggar hukum dan ketertiban internasional.
"Selain itu,
pendudukan Crimea menjadi awal perang hibrida Rusia melawan Ukraina,
termasuk agresi militer yang sedang berlangsung di timur Ukraina serta
perang informasi yang sangat besar. Untuk beberapa alasan, kampanye
disinformasi besar-besaran dan intervensi agresif ke dalam urusan
internal Ukraina serta banyak negara lain menjadi praktik umum bagi
Kremlin," tukasnya.
Ukraina
menyatakan Rusia saat ini telah menjadikan Crimea sebagai pangkalan
militer mereka di Semenanjung Laut Hitam. Foto/Istimewa
JAKARTA
- Ukraina menyatakan Rusia saat ini telah menjadikan Crimea sebagai
pangkalan militer mereka di Semenanjung Laut Hitam. Crimea, di mata
Ukraina, adalah wilayah yang dianeksasi Rusia lima tahun lalu.
Duta
Besar Ukraina untuk Indonesia, Volodymyr Pakhil dalam keterangan
tertulis yang diterima Sindonews pada Selasa (26/2), menuturkan
pelanggaran HAM terus menerus dilakukan oleh Rusia di Crimea.
Namun,
selain pelanggaran HAM, papar Pakhil, Moskow juga mengubah Krimea
menjadi pangkalan militer besar, mengubah keseimbangan keamanan
regional.
"Orang
tidak dapat mengesampingkan bahwa militerisasi Krimea dapat digunakan
untuk memperluas agresi Rusia terhadap Ukraina ke wilayah Ukraina baru
dengan kemungkinan upaya pendudukan Laut Azov dan bagian selatan
Ukraina," tulisnya.
"November lalu, Rusia melakukan satu lagi
tindakan agresi terbuka terhadap Ukraina dengan cara serangan bersenjata
dan penangkapan kapal-kapal angkatan laut Ukraina di perairan
internasional Selat Kerch dan Laut Azov, serta melukai dan menangkap
anggota kru mereka," sambung Pakhil.
Dia lalu menuturkan, Ukraina
sangat menyambut keputusan Majelis Umum PBB pada akhir tahun lalu untuk
mengadopsi Resolusi "Masalah militerisasi Republik Otonomi Crimea dan
kota Sevastopol (Ukraina), serta bagian dari Laut Hitam dan Laut Azov",
mendesak Rusia menarik pasukan bersenjatanya dari Krimea.
"Pada
saat yang sama, sanksi terhadap Rusia terbukti menjadi salah satu
langkah terkuat yang diterapkan oleh komunitas internasional untuk
mendukung Ukraina, 41 negara saat ini telah menjatuhkan sanksi terhadap
Rusia untuk agresi terhadap Ukraina. Sanksi-sanksi ini harus tetap
berlaku sampai de-pendudukan wilayah Ukraina terjadi," tukasnya.
Duta
Besar Ukraina untuk Indonesia, Volodymyr Pakhil menuturkan, pihak yang
paling rentan akibat aneksasi Rusia atas Crimea adalah kelompok Muslim
Tatar. Foto/Istimewa
JAKARTA
- Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Volodymyr Pakhil menuturkan,
pihak yang paling rentan akibat aneksasi Rusia atas Crimea, yang saat
ini telah memasuki tahun kelima adalah kelompok Muslim Tatar.
Dalam
keterangan tertulis yang diterima Sindonews pada Selasa (26/2), Pakhil
menuturkan pendudukan sementara Crimea berarti bahwa, untuk pertama
kalinya sejak 1940-an, sebuah negara Eropa merebut sebagian wilayah dari
tetangga dengan paksa, sehingga secara besar-besaran melanggar hukum
dan ketertiban internasional.
Selain itu, pendudukan Crimea
menjadi awal perang hibrida Rusia melawan Ukraina, termasuk agresi
militer yang sedang berlangsung di timur Ukraina serta perang informasi
yang sangat besar.
"Untuk
beberapa alasan, kampanye disinformasi besar-besaran dan intervensi
agresif ke dalam urusan internal Ukraina serta banyak negara lain
menjadi praktik umum bagi Kremlin," tulis Pakhil.
Dia lalu
menuturkan, Crimea sekarang menjadi zona ilegalitas dan pelanggaran
hukum bagi semua orang yang menolak bekerja sama dengan Rusia. Kelompok
yang paling rentan adalah Tatar Crimea, di mana mayoritas dari mereka,
dipenjara secara ilegal di bawah motif politik. Kremlin, lanjut Pakhil
juga melarang Parlemen Nasional Tatar Crimea, serta media, pendidikan,
budaya, dan agama Tatar telah dilecehkan secara sistematis.
"Lebih
dari 70 Tatar Muslim dan etnis Ukraina lainnya tetap ditahan secara
ilegal di bawah dakwaan yang bermotivasi politik dan tidak memiliki
hukum di Rusia dan Crimea yang diduduki Rusia. Daftar ini diperbarui
berdasarkan bergulir ketika penangkapan baru, penahanan dan keputusan
pengadilan berlangsung. Aktivis hak asasi manusia, pengacara, dan semua
orang yang memberikan dukungan kepada warga Ukraina, termasuk Tatar
Crimea, berada di bawah tekanan konstan," ucapnya.
Diplomat
Kiev itu menyebut larangan Moskow bagi pengawas internasional dan
lembaga bantuan untuk masuk ke Crimea membuat hampir tidak mungkin untuk
memberikan bantuan yang diperlukan bagi mereka yang sangat membutuhkan
di wilayah di Semenanjung Laut Hitam itu.
"Karena tidak ada
lembaga penegakan hukum independen dan pengadilan yang adil di Rusia,
satu-satunya alat adalah untuk melanjutkan dan memperkuat tekanan
politik dan sanksi internasional. Pelanggaran hak asasi manusia dan
nasional di Krimea oleh Rusia telah berulang kali dikutuk oleh PBB dan
organisasi internasional lainnya," tukasnya.
AS dan Taliban memulai pembicaraan soal perdamaian di Afghanistan
CB,
KABUL -- Utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk perdamaian di
Afghanistan bertemu dengan seorang pemimpin senior Taliban di Doha,
Qatar, pada Senin (25/2). Kedua pihak mengadakan kembali pembicaraan
untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 17 tahun kendati
pemberontak itu terus menolak berurusan dengan pemerintah Kabul.
Zalmay
Khalilzad, yang ditunjuk tahun lalu untuk memimpin usaha perdamaian AS,
bertemu untuk pertama kalinya dengan Mullah Abdul Ghani Baradar,
pendiri bersama Taliban dan kepala politik gerakan tersebut. Pembicaraan
diperkirakan akan berlangsung selama sedikitnya empat hari.
"Baru
saja selesai makan siang dengan Mullah Baradar dan timnya. UntuK
pertama kali kami bertemu. Sekarang bergerak untuk adakan pembicaraan,"
kata Khalilzad dalam cuitannya di Twitter.
Kendati
pembicaraan berlangsung, perang di Afghanistan telah menewaskan hampir
4.000 warga sipil pada tahun 2018. 2018 menjadi tahun paling mematikan
bagi warga sipil Afghanistan sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
mulai mendokumentasikan korban-korban dalam perang satu dekade lalu.
Baradar
tiba di Doha pada Ahad (24/2). Tetapi sumber-sumber menyatakan tidak
jelas apakah ia akan menghadiri seluruh pertemuan. Babak terakhir
pembicaraan berakhir di Qatar pada Januari.
Baradar yang
merupakan mantan petempur dan tokoh berpengaruh dalam Taliban dibebaskan
dari penjara di Pakistan tahun lalu. Penunjukannya dipandang luas
sebagai usaha baru oleh Taliban untuk muncul dari bayang-bayang politik
dan diplomatik.
Pekan lalu Taliban mengatakan bahwa
Baradar telah menunjuk sebuah tim beranggota 14 orang untuk menghadiri
pembicaraan dan tidak akan ke Qatar, tetapi rencananya berubah pada Ahad
Konvoi truk yang membawa makanan dan obat-obatan dihalangi oleh kelompok Maduro
CB,
BOGOTA -- Negara-negara Amerika Latin diperkirakan akan mengumumkan
langkah-langkah untuk mengerahkan lagi tekanan-tekanan terhadap Presiden
Venezuela Nicolas Maduro pada Senin (25/2). Langkah baru ini akan
dimabil setelah Maduro merintangi masuknya ratusan ton bantuan
kemanusiaan ke negara itu pada akhir pekan.
Negara-negara yang tergabung dalam Lima Group kemungkinan akan
membalas penentangannya atas penggunaan kekuatan pada pertemuan di
Bogota, kata mereka yang menghadiri pertemuan dan sumber-sumber
diplomatik.
Sedikitnya tiga orang tewas dan hampir 300 lagi
mengalami cedera dalam protes-protes dan bentrokan-bentrokan pada Sabtu
ketika konvoi-konvoi bantuan dukungan Amerika Serikat berusaha masuk ke
wilayah Venezuela untuk mengirim makanan dan obat-obatan.
Politisi
oposisi Juan Guaido, yang diakui sebagian besar negara Barat sebagai
pemimpin sah Venezuela, telah mendesak blok tersebut untuk
mempeRtimbangkan "semua opsi" dalam menggulingkan Maduro.
Guaido
akan menghadiri pertemuan itu dan begitu juga Wakil Presiden AS Mike
Pence. Tak seperti Lima Group, pemerintahan Trump sejauh ini menolak
mengesampingkan penggunaan kekuatan militer.
"Kami punya
tanggung jawab untuk menggandakan dan meningkatkan dukungan kami," kata
Menteri Luar Negeri Kolombia Carlos Holmes Trujillo ketika pertemuan itu
dimulai.
"Orang-orang Venezuela tak pernah mengalami banyak kamajuan menuju pemulihan demokrasi mereka."
Trujillo juga menekankan perlunya bagi resolusi damai dari krisis Venezuela.
Laporan-laporan
yang menyebutkan ada perbedaan di Lima Group terkait penggunaan
kekuatan adalah salah, kata Wakil Menlu Peru Hugo de Zela Martinez pada
pembukaan peretemuan itu.
Langkah-langkah baru yang akan
diambil AS diperkirakan diumumkan oleh Pence dalam pemaparannya kepada
grup itu setelah pukul 10:30 waktu setempat, setelah ia bertemu dengan
Guaido.
Konvoi truk yang membawa makanan dan obat-obatan
dihalangi pada akhir pekan lalu oleh tentara dan kelompok-kelompok
bersenjata yang setia kepada Maduro, yang memperoleh dukungan dari Cina
dan Rusia. Kedua negara itu memiliki investasi di sektor energi di
Venezuela.
Maduro menyatakan usaha-usaha dengan mengirim bantuan tersebut merupakan bagian dari kudeta yang disutraradi AS.
Truk-truk
itu ditembaki gas air mata dan peluru-peluru karet. Dua truk terbakar,
yang pihak oposisi salahkan atas pasukan keamanan dan pemerintah
Venezuela pada para pemerotes.
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. (REUTERS/Alex Wroblewski)
Jakarta, CB -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo merasa yakin kepemimpinan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, hanya tinggal menghitung hari.
"Prediksi
itu sulit. Menentukan hari yang tepat itu sulit. Tapi saya yakin rakyat
Venezuela akan memastikan bahwa (kepemimpinan) Maduro bisa dihitung
hari," ucap Pompeo saat diwawancarai CNN pada Minggu (24/2) pekan lalu.
Pernyataan
itu diutarakan Pompeo di saat krisis politik Venezuela belum juga
menemukan titik terang. Bentrokan bahkan sempat mewarnai perbatasan
dengan Brasil, di mana tentara Venezuela menembak mati dua warga di
antara massa yang mencoba mencegah penutupan perbatasan.
Massa
Desa Kumarakapay berupaya menghadang personel militer yang berusaha
menutup perbatasan, demi memblokade bantuan kemanusiaan masuk ke
Venezuela.
Pompeo menyalahkan pasukan bersenjata lolyalis Maduro yang dikenal
"Collectivos" atas kekerasan yang terjadi di perbatasan tersebut.
"Kami
berharap militer Venezuela akan segera mengambil peran sebagai
pelindung warga dari tragedi-tragedi ini. Jika itu terjadi, saya pikir
hal-hal baik akan terjadi," katanya seperti dikutip AFP.
Di
Kolombia Pence berencana bertemu dengan Presiden Majelis Nasional
Venezuela, Juan Guaido, yang secara aklamasi menyatakan sebagai pemimpin
interim negara Amerika Latin itu.
Pence
akan menghadiri pertemuan dengan Guaido serta Lima Group, organisasi
multinasional yang terdiri dari 13 negara Amerika Latin dan Kanada,
untuk mendiskusikan penyelesaian krisis politik Venezuela dan strategi
menyingkirkan Maduro.
Sejak awal, AS memang telah mengakui Guaido
sebagai presiden sah Venezuela, langkah yang tak lama diikuti oleh
puluhan negara lainnya termasuk Uni Eropa.
"Satu-satunya misi tunggal kami adalah memastikan rakyat Venezuela
mendapatkan demokrasi yang layak dan membuat orang-orang Kuba dan Rusia
yang telah menjatuhkan negara yang dulunya kaya ini selama
bertahun-tahun supaya tidak lagi berkuasa," papar Pompeo.
Para tentara Venezuela yang membelot membeberkan pengakuan mereka kepada BBC di Kolombia. Foto/BBC
BOGOTA
- Sejumlah tentara Venezuela yang membelot dari pemerintah Presiden
Nicolas Maduro Moror ke Kolombia mengaku mencemaskan keselamatan
keluarga mereka. Para pembelot takut, keluarga mereka akan diserang
pasukan loyalis rezim Maduro.
Orla Guerin, salah satu pembelot berusia 23 tahun mengatakan kepada BBC
bahwa ia mencemaskan nasib keluarganya yang hidup di bawah kekuasaan
rezim Maduro. "Pasukan yang setia kepada presiden dapat menyerang
keluarga saya," katanya, yang dilansir Senin (25/2/2019).
"Tapi saya pikir ini adalah keputusan terbaik yang bisa saya buat," ujarnya, membela pembelotan yang dia lakukan.
Lebih
dari 100 tentara Venezuela telah membelot, yang sebagian besar terjadi
selama bentrokan mematikan atas pengiriman bantuan pada hari Sabtu pekan
lalu.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Maduro mengirim
pasukan untuk memblokir jalan dan jembatan di wilayah yang berbatasan
dengan Brasil dan Kolombia. Dua negara itu menjadi tempat pengiriman
bantuan makanan dan obat-obatan dari Amerika Serikat dan sedang
diupayakan kubu oposisi agar bisa masuk ke Venezuela.
Di berbagai
titik persimpangan, pasukan keamanan Venezuela menembakkan gas air mata
ke sukarelawan dan pemrotes yang membakar pos-pos dan melemparkan batu
ke arah tentara dan polisi antihuru-hara.
Beberapa orang terkejut
dengan adegan kekerasan akhir pekan lalu ketika pasukan Venezuela
menembaki warga sipil dengan gas air mata dan peluru karet.
Berbicara dengan BBC dengan
syarat anonim, sekelompok desertir Venezuela yang berbasis di sebuah
gereja di Cúcuta menggambarkan apa yang mendorong mereka untuk
meninggalkan pasukan bersenjata rezim Presiden Maduro.
"Ada
banyak pasukan profesional yang ingin melakukan ini. Ini akan menjadi
efek domino. Ini akan memiliki pengaruh signifikan pada angkatan
bersenjata," kata seorang pembelot pria berusia 29 tahun.
"Angkatan
Bersenjata telah hancur karena begitu banyak perwira korup. Militer
profesional lelah. Kita tidak bisa tetap menjadi budak, kita membebaskan
diri kita sendiri," ujarnya.
Seorang pembelot lainnya, seorang
wanita, menggambarkan suasana hati pada hari Sabtu sebagai sesuatu yang
menegangkan. "Saya berpikir saya tidak bisa membahayakan rakyat saya
sendiri," ujarnya.
"Putri saya masih di Venezuela dan itu yang
paling menyakitkan. Tapi saya melakukan ini untuknya. Sulit karena saya
tidak tahu apa yang mungkin mereka lakukan padanya," lanjut dia.
Pembelot ketiga mengaku merasa sakit melihat orang-orang Venezuela di jalanan berjuang untuk meminta bantuan kemanusiaan.
"Saya merasa impoten dan tidak berguna. Saya merasakan sakit untuk semua yang terjadi," katanya.
Krisis
politik Venezuela mulai memanas ketika Ketua Majelis Nasional
(Parlemen) yang dikuasai oposisi, Juan Guaido, mendeklarasikan diri
sebagai presiden interim negara itu. Guaido tidak mengakui hasil pemilu
2018 yang dimenangkan kubu Presiden Maduro.
Pengakuan Guaido itu
didukung Amerika Serikat dan banyak negara lain, termasuk negara-negara
Amerika Latin. Namun, Rusia, China, Turki, Iran dan negara lainnya tetap
mendukung Maduro sebagai pemimpin sah yang terpilih melalui pemilu
2018.
Sedikitnya
60 anggota pasukan keamanan Venezuela membelot di tengah kekacauan yang
terjadi di perbatasan negara itu dengan Kolombia.
Foto/Ilustrasi/Istimewa
CARACAS - Sedikitnya 60 anggota pasukan keamanan Venezuela membelot di tengah kekacauan yang terjadi di perbatasan negara itu dengan Kolombia. Hal itu diungkapkan oleh pihak berwenang Kolombia.
Sebuah
video yang beredar di media sosial menunjukkan sejumlah pasukan
meninggalkan pos mereka mengendarai kendaraan lapis baja. Mereka
kemudian melintasi jembatan yang menghubungkan Venezuela dan Kolombia,
merobohkan barikade besi, dan kemudian melompat keluar dari kendaraan
dan berlari ke sisi Kolombia.
"Apa yang kami lakukan hari ini,
kami lakukan untuk keluarga kami, untuk rakyat Venezuela," ucap salah
seorang pembelot dalam video yang disiarkan program berita televisi
Kolombia seperti disitir dari Reuters, Minggu (24/2/2019).
Kekacauan pecah di wilayah perbatasan Venezuela dan Kolombia. Tentara Venezuela yang setia dengan Presiden Nicolas Maduro menggunakan gas air mata dan peluru untuk menghalau bantuan kemanusiaan masuk ke negara itu.
Partai
Sosialis yang berkuasa di Venezuela menyebut upaya bantuan yang
diinisiasi tokoh oposisi Juan Guaido sebagai invasi terselubung yang
didukung oleh Washington. Caracas menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS)
seharusnya membantu Venezuela dengan mencabut sanksi sektor keuangan dan
minyak yang melumpuhkan.
Petugas kesehatan melepaskan pakaian
pelindung setelah mengunjungi barak isolasi rumah sakit Bikoro, yang
menerima terduga kasus Ebola, di Bikoro, Republik Demokratik Kongo,
Sabtu (12/5/2018). (REUTERS/Jean Robert N'Kengo)
Kinshasa (CB) - Para penyerang membakar satu pusat
perawatan Ebola yang dikelola Medecins Sans Frontieres (MSF) di bagian
timur Republik Demokratik Kongo (RDK) Ahad malam (24/2), memaksa para
staf mengevakuasi pasien-pasien, kata lembaga amal tersebut.
Sejauh ini, belum ada rincian mengenai identitas atau motif dari
orang-orang pembakar fasilitas, yang berada di distrik Katwa, di jantung
wilayah wabah terburuk penyakit mematikan itu di RDK.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa para pekerja bantuan
menghadapi ketidakpercayaan di beberapa kawasan. Kondisi itu dipicu
desas-desus mengenai perawatan dan orang-orang yang memilih pengobatan
tradisional.
"Akibat pembakaran bangunan itu, para pasien tak mungkin lagi mendapat
perawatan di sana," menurut MSF di Twitter pada Senin. Tak ada pasien
maupun staf yang mengalami luka-luka, tambahnya.
Wabah Ebola telah membunuh 546 orang sejak Juli, kata Kementerian Kesehatan Kongo melaporkan.
Sebagian besar dari kasus itu terjadi sejak permulaan tahun di Katwa, yang dekat dengan perbatasan dengan Uganda.
Tiga sukarelawan Palang Merah Kongo diserang ketika mereka membantu
penguburan seorang korban Ebola di bagian timur Kongo pada Oktober. Dua
bulan kemudian, para pengunjuk rasa politik menggeledah sebuah pusat
isolasi Ebola di dekatnya.
Pengunjuk rasa mengibarkan bendera
Spanyol dan berteriak di depan balai kota dalam sebuah demonstrasi
mendukung persatuan Spanyol sehari sebelum referendum kemerdekaan 1
Oktober yang dilarang di Catalunya, di Madrid, Spanyol, Sabtu
(30/9/2017). (REUTERS/Sergio Perez/cfo/17)
Barcelona (CB) - Ratusan orang turun ke jalan di Barcelona
pada Minggu (24/2) untuk menentang kunjungan Raja Spanyol Felipe VI ke
Catalunya, wilayah yang gagal memisahkan diri pada 2017.
Raja Spanyol menjadi tokoh polarisasi di Catalunya sejak ia melakukan
campur tangan politik yang langka di puncak krisis pemisahan Catalunya.
Ketika itu, dia menyebut para pemimpin prokemerdekaan tidak bertanggung
jawab dan tidak demokratis.
Raja Spanyol berkunjung ke Barcelona, Ibu Kota Catalunya, pada Minggu
untuk menggelar makan malam bagi pertemuan industri telepon seluler.
Kalangan separatis Catalunya menyikapi kunjungan tersebut dengan
membakari foto-foto Raja dan menutup sejumlah jalan di pusat kota
Barcelona.
Para demonstran membawa spanduk-spanduk bertuliskan "Hentikan
Penindasan" dan "Rotten Bourbouns", mengacu kepada kediaman kerajaan
Spanyol. Mereka juga melemparkan telur ke arah polisi daerah di Museu
Nacional d`Art de Catalunya (MNAC), tempat perjamuan makan malam
berlangsung.
Kehadiran Raja di Barcelona muncul di tengah saat yang sulit bagi
politik Spanyol, yaitu ketika 12 pemimpin separatis Catalunya menjalani
persidangan di Madrid atas gerakan kemerdekaan.
Perdana Menteri Sosialis Spanyol Pedro Sanchez menyerukan pemilu dini
pada 28 April setelah sejumlah partai prokemerdekaan Catalunya bergabung
dengan partai-partai oposisi untuk menentang RUU anggaran 2019 yang
diusungnya.
Bantuan untuk korban perang Yaman diumumkan di Mesir.
CB,
SHARM EL SHEIKH -- Perdana Menteri Inggris Theresa May berjanji
memberikan dana 200 juta poundsterling untuk membantu para korban perang
di Yaman. Ia juga menyerukan untuk pengakhiran krisis dan penderitaan
dari perang saudara selama empat tahun di sana.
PM
May mengumumkan sejumlah paket bantuan saat tiba untuk pembicaraan
konferensi tingkat tinggi (KTT) selama dua hari dengan Uni Eropa dan
Liga Arab di Sharm El Shiekh, Mesir pada Ahad (24/2) waktu setempat.
"Kami berada pada bagian kami dan akan terus melakukannya, meski masih
ada lagi yang bisa dilakukan sebagai komunitas internasional soal
Yaman," kata May dilansir Guardian, Senin (25/2).
May
juga mendorong negara-negara Arab dan Eropa untuk melipatgandakan upaya
dalam mencapai perjanjian damai konflik Yaman. "Harus ada penyelesaian
melalui solusi politik. Itulah satu-satunya cara untuk mengakhiri krisis
dan penderitaan yang ditimbulkan," ujarnya.
May
meminta, dialog damai yang digelar di Stockholm pada Desember lalu
diganti menjadi perdamaian abadi. "Perjanjian Stokholm harus
diimplementasikan secara penuh," kata dia.
Dalam dialog di
Stockholm, kedua kubu, pasukan lokal yang didukung Arab Saudi dengan
pemberontak Houthi, menyepakati kesepakatan bersenjata di kota pelabuhan
Hodeidah serta manarik pasukan. May pun menyarankan agar tekanan
diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik Yaman. "Pasukan
dari semua pihak harus mulai keluar dari Hodeidah dan menindaklanjuti
rencana pertukaran tahanan," ujarnya.
"Gencatan senjata
harus dihormati dengan pihak-pihak yang menahan diri. Houthi harus
mematuhi komitmen mereka. Ini penting agar kemajuan dapat dicapai pada
putaran pembicaraan damai berikutnya dan agar jalur pasokan bantuan
kemanusiaan dapat dibuka," ujar May.
"Inggris telah
memberikan dukungan penuh untuk proses perdamaian yang dipimpin oleh
PBB, dan saya ingin terus membangun dukungan internasional untuk kerja
tak kenal lelah dari utusan khusus PBB," May menambahkan.
Para
pemimpin UE dan Liga Arab mengadakan pertemuan puncak pertama mereka di
kota peristirahatan Mesir untuk membahas migrasi, keamanan dan
kesepakatan bisnis. Dalam kesempatan tersebut, May bertekad mendorong
Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud untuk menyelesaikan
konflik Yaman. "Inggris, bersama dengan mitra-mitra Eropa kami, juga
terus menyerukan Iran untuk mendukung upaya-upaya untuk mengurangi
konflik dan memastikan gencatan senjata saat ini," kata dia.
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sekitar 10 ribu orang tewas dalam
konflik di Yaman. Namun sejumlah kelompok hak asasi manusia memprediksi
angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Anak-anak tersebut hidup di 31 zona konflik aktif di Yaman.
CB, SANA'A
-- Sebanyak 1,2 juta anak kini masih tinggal di daerah konflik di Yaman
dan negara yang diguncang. Anak-anak "Anak-anak terus hidup di 31 zona
konflik aktif termasuk Al-Hudaydah, Taiz, Hajjah dan Saada, di daerah
yang menyaksikan kerusuhan besar yang berkaitan dengan perang," kata
Geert Cappelaere, Direktur Regional Unicef untuk Timur Tengah dan Afrika
Utara, di dalam satu pernyataan, Senin (25/2).
Dia
menjelasan, tidak cukup perubahan yang terjadi buat anak-anak di Yaman,
sejak Kesepakatan Stockholm pada 13 Desember 2018," kata pejabat itu,
sebagaimana dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu yang dipantau Antara di Jakarta.
"Setiap hari sejak itu, delapan anak telah tewas atau cedera.
Kebanyakan anak yang meninggal tersebut sedang bermain di luar rumah
bersama teman mereka atau dalam perjalanan ke atau dari sekolah," kata
Cappelaere.
Unicef menyeru semua pihak yang
berperang agar mengakhiri kekerasan di tempat bergolak dan di seluruh
wilayah Yaman, melindungi warga sipil, menjaga anak-anak dari bahaya dan
mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan buat anak-anak. Juga bantuan
untuk keluarga mereka di mana pun mereka berada di negeri itu.
Yaman
telah dirongrong oleh kerusuhan sejak 2014, ketika kelompok Syiah
Al-Houthi menguasai sebagian besar wilayah negeri tersebut. Krisis itu
meningkat pada 2015, ketika koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan
serangan udara yang memporak-porandakan dengan tujuan membalikkan
perolehan gerilyawan Al-Houthi.
Komandan
Angkatan Udara Garda Revolusi Iran (IRGC), Amir Ali Hajizadeh
mengatakan, Amerika Serikat (AS) gagal menyabotase program rudal Iran.
Foto/Istimewa
TEHERAN
- Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi Iran (IRGC), Amir Ali
Hajizadeh mengatakan, Amerika Serikat (AS) gagal menyabotase program
rudal Iran, karena Teheran telah siap untuk mencegah tindakan semacam
itu.
Hajizadeh mengatakan bahwa Teheran telah memahami hal ini
sejak beberapa tahun yang lalu, tetapi tetap diam tentang hal itu. "Kami
mengadopsi langkah-langkah khusus untuk menghadapinya," ucapnya,
seperti dilansir Sputnik pada Senin (25/2).
Dia menuturkan, AS
dan sekutunya pertama-tama mencoba mencegah pembuatan rudal, kemudian
memblokir impor suku cadang dan mesin besar, mencegah impor papan
kendali dan bagian-bagian kecil, kemudian menahan ekspor komponen
elektronik kecil ke negara itu.
Namun,
katanya, karena AS tidak dapat mengganggu proses pembuatan, Washington
dan sekutunya mencoba untuk menyabotnya. Tetapi, lanjut Hajizadeh mereka
telah gagal melakukan sesuatu sejauh ini karena Teheran telah bersiap
menghadapi hal ini, salah satu caranya adalah dengan melakukan produksi
dan pengembangan di bawah tanah.
"Menyimpan amunisi di terowongan
bawah tanah telah diterapkan untuk pertama kalinya pada tahun 1984 dan
kami telah menggunakan metode ini hingga hari ini untuk membangun dan
menyimpan berbagai jenis rudal untuk melindungi pencapaian IRGC,"
tukasnya.
ANKARA
- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk keras Presiden Mesir
Abdel Fattah el-Sissi setelah sembilan anggota Ikhwanul Muslimin
dieksekusi mati baru-baru ini. Erdogan mengatakan eksekusi itu merupakan
hal yang tidak bisa diterima.
"Mereka membunuh sembilan anak
muda baru-baru ini. Ini bukan sesuatu yang bisa kita terima," kata
Erdogan dalam sebuah wawancara dengan CNN-Turk dan Kanal D.
Eksekusi
terhadap sembilan anggota Ikhawanul Muslimin itu berlangsung hari Rabu
pekan lalu. Mereka yang dieksekusi dinyatakan bersalam atas pembunuhan
terhadap jaksa penuntut umum Mesir pada tahun 2015.
"Tentu
saja, kita diberitahu bahwa itu adalah keputusan pengadilan, tetapi di
sana, keadilan, pemilu, semua itu, codswallop. Ada sistem otoriter,
bahkan totaliter," ujar Erdogan, seperti dikutip Times of Israel, Senin (25/2/2019).
"Sekarang,
saya menjawab mereka yang bertanya-tanya mengapa Tayyip Erdogan tidak
berbicara dengan Sissi, karena ada mediator yang kadang-kadang datang ke
sini, tetapi saya tidak akan pernah berbicara dengan seseorang seperti
dia," katanya.
Hubungan antara Turki dan Mesir telah hampir tidak
ada sejak militer Mesir, yang saat itu dipimpin oleh Sissi, pada 2013
menggulingkan Presiden Mohamed Morsi yang didukung Ikhawanul Muslimin
dan merupakan sekutu dekat Erdogan.
Ikhwanul Muslimin dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Mesir. Namun, anggota kelompok itu mencari perlindungan di Turki.
Erdogan, yang mengecam penggulingan Morsi, kerap menarik paralel dengan kudeta yang gagal terhadap dirinya pada tahun 2016.
Presiden Turki tersebut juga menyerukan pembebasan tahanan Ikhwanul Muslimin lainnya di Mesir.
“Pertama-tama,
dia harus membebaskan semua yang dipenjara dengan amnesti umum. Selama
orang-orang ini belum dibebaskan, kami tidak akan dapat berbicara dengan
Sissi," katanya.
Erdogan
juga menyerang negara-negara Barat yang, menurutnya, menggelar "karpet
merah" untuk Sissi dan menutup mata terhadap eksekusi terbaru di Mesir.
"Di mana orang Barat? Pernahkah Anda mendengar suara mereka?," katanya.
"Di sisi lain, ketika menyangkut orang-orang yang dipenjara di negara kita (Turki), mereka meneriakkan pembunuhan berdarah."
Amnesty
International mengutuk eksekusi terhadap sembilan anggota Ikhwanul
Muslimin di Mesir. Menurut Amnesty, mereka dihukum di pengadilan yang
rusak oleh tuduhan penyiksaan.
Ilustrasi keluarga militan ISIS di Suriah. (Fadel SENNA / AFP)
Jakarta, CB -- Pasukan koalisi Amerika Serikat di Suriah memulangkan 280 warga Irak yang menjadi pengikut kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ke negara asalnya. Mereka ditangkap dari wilayah terakhir kelompok teroris tersebut di Suriah.
Melalui
pernyataan, media kantor keamanan Irak memaparkan Pasukan Demokratik
Suriah (SDF) telah menahan pejuang ISIS dari berbagai negara "dalam
jumlah besar", termasuk lebih dari 500 warga Irak.
SDF merupakan salah satu kelompok bersenjata yang tergabung dalam koalisi AS di Timur Tengah.
"Sejauh ini 280 (warga Irak pejuang ISIS) telah diserahkan," bunyi pernyataan kantor tersebut pada Minggu (24/2).
Seorang juru bicara militer Irak mengonfirmasi hal tersebut. Dia
menyebutkan pasukan keamanan Irak telah menerima penyerahan pejuang ISIS
gelombang pertama yang berjumlah sekitar 130 orang.
"Transfer (tahanan pejuang ISIS) akan dilanjutkan sampai selesai," bunyi pernyataan itu menambahkan seperti dilansir AFP.
Di sisi lain, penyerahan itu dibantah seorang juru bicara dari pasukan koalisi AS.
Sementara itu, pasukan keamanan Irak juga dikabarkan telah menerima daftar nama para pejuang ISIS asal negaranya.
Daftar
itu kemudian akan disamakan dengan data milik pengadilan, yang juga
telah mengeluarkan surat perintah penahanan terhadap para teroris
tersebut.
Dalam jumpa pers, Perdana Menteri Irak, Adel Abdel
Mahdi mengatakan negaranya terus memantau situasi di Suriah bagian timur
"dengan sangat hati-hati dan seksama."
Wilayah itu menjadi benteng pertahanan terakhir ISIS yang saat ini masih terus digempur koalisi AS.
Koalisi AS melaporkan saat ini ISIS telah terkepung di daerah seluas setengah kilometer persegi di sebuah gurun di timur Suriah.
Irak khawatir sisa-sisa pejuang ISIS yang masih bertahan bisa kabur dari wilayah itu melalui perbatasan Irak.
Irak telah mendeklarasikan kemenangan terhadap ISIS pada Desember 2017
lalu, setelah berhasil merebut wilayah-wilayah yang sempat dikuasai
kelompok teroris itu sejak 2014 lalu.
Keluarga militan ISIS yang menyerah dan ditampung pasukan Kurdi di Suriah. (Fadel SENNA / AFP)
Jakarta, CB -- Pasukan Demokratik Suriah
(SDF) yang dipimpin etnis Kurdi dan koalisi yang dipimpin Amerika
Serikat mulai mengeluh kerepotan menampung dan mengurus para pengungsi
dan tawanan perang militan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)
yang ditangkap, terutama warga asing. Mereka mendesak supaya
negara-negara asal para anggota ISIS bertanggung jawab memulangkan warga
mereka karena dianggap menjadi beban.
"Jumlah para militan asing
dan kerabat mereka yang kami tahan meningkat tajam. Fasilitas kami
tidak sanggup menampungnya," kata juru bicara urusan luar negeri Kurdi,
Abdel Karim Omar, seperti dilansir AFP, Senin (25/2).
Omar menyatakan SDF sampai saat ini mengevakuasi sekitar 5000 orang dari
Baghouz, yang merupakan kantong pertahanan terakhir ISIS di Suriah.
Mereka terdiri dari lelaki, perempuan, dan anak-anak.
Kelompok
Kurdi sudah berulang kali meminta negara-negara yang warga negaranya
menjadi pengikut ISIS dan tertangkap supaya segera memulangkan. Namun,
kebanyakan enggan melakukan itu karena mereka khawatir para anggota ISIS
itu justru bisa membuat masalah di kampung halamannya jika dipulangkan.
"Ribuan
warga asing yang kabur dari wilayah ISIS membuat beban kami yang sudah
berat menjadi bertambah. Hal ini menyulitkan kami, kecuali sejumlah
negara bertanggung jawab atas warga negaranya," kata Juru Bicara SDF,
Mustafa Bali.
Menurut lembaga pegiat hak asasi manusia berbasis
di Inggris, Observatorium HAM untuk Suriah, menyatakan sekitar 46 ribu
warga asing kabur dari wilayah ISIS. Mereka yang merupakan warga sipil
dibawa ke kamp pengungsian, sedangkan yang militan langsung dijebloskan
ke penjara Kurdi.
Menurut Omar, saking banyaknya militan asing ISIS yang ditangkap membuat penjara Kurdi sampai kelebihan kapasitas.
Sedangkan
kondisi kamp pengungsian, salah satunya Al Hol, juga mulai sesak karena
jumlahnya pendatang terus bertambah. Omar menyatakan jika hal ini terus
terjadi, maka bakal terjadi masalah baru.
"Kami harus menyediakan tenda tambahan dan perlengkapan lainnya,
menambah pasokan air, fasilitas mandi cuci kakus, dan obat-obatan," kata
Omar.
Pertempuran melawan ISIS di Suriah terus berlangsung.
Mereka saat ini semakin terdesak dan dilaporkan sisa-sisa anggota mereka
kabur dan bergabung dengan kelompok yang berada di Irak. Menurut sumber
CNNIndonesia.com, saat ini ada 38 warga negara Indonesia pengikut ISIS yang ditangkap oleh pasukan Kurdi.
Gunung es raksasa seukuran dua kali Kota New York di Brunt Ice Shelf di Antartika terancam terlepas. Foto/NASA
WASHINGTON
- Para ilmuwan NASA sedang mengamati Brunt Ice Shelf di Antartika,
tempat mereka mengkhawatirkan gunung es seukuran dua kali Kota New York
akan segera terlepas. Para ilmuwan mengatakan masa depan menjadi tidak
pasti jika gunung es raksasa itu terlepas.
Para ilmuwan NASA pada
hari Minggu memperingatkan gunung es besar raksasa di Brunt Ice Shelf
akan segera melahirkan atau pecah. Jika itu terjadi, akan ada peluang
penelitian di masa depan.
NASA telah mengamati retakan yang tumbuh di lapisan es gunung tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
"Retak
di Brunt Ice Shelf Antartika diatur untuk melepaskan gunung es dengan
luas sekitar dua kali ukuran NYC (New York City). Pemisahan ini dapat
menghasilkan masa depan yang tidak pasti untuk penelitian ilmiah dan
keberadaan manusia. Lihat apa yang ditangkap oleh satelit @NASAEarth," bunyi tweet @NASA, yang menampilkan citra satelit baru kondisi gunung es raksasa terancam terlepas.
"Belum
jelas bagaimana lapisan es yang tersisa akan merespons setelah jeda,
menghadirkan masa depan yang tidak pasti untuk infrastruktur ilmiah dan
keberadaan manusia di rak yang pertama kali didirikan pada tahun 1955,"
tulis para ilmuwan NASA, dikutip Fox News, Senin (25/2/2019).
Ketika
satu celah penting, yang muncul pada Oktober 2016, terus berlanjut ke
timur, para ilmuwan mengatakan keprihatinan yang lebih cepat adalah
keretakan besar yang mengalir melalui Brunt Ice Shelf. NASA mengatakan
bahwa meskipun celah itu sebelumnya stabil selama sekitar 35 tahun,
celah tersebut baru-baru ini mulai melaju ke utara secepat 4 kilometer
(hampir 2,5 mil) per tahun.
Para
ilmuwan memperingatkan, ketika retakan itu mengarah ke celah lain,
diperkirakan 660 mil persegi es akan pecah dari rak. Mereka mengatakan
bahwa kemungkinan besar gunung itu tidak akan masuk "daftar top 20"
gunung es terbesar Antartika. "Itu adalah gunung terbesar yang keluar
dari Brunt Ice Shelf sejak pengamatan dimulai pada 1915," lanjut NASA.
"Ilmuwan
NASA mengamati untuk melihat apakah kerugian itu akan memicu rak untuk
berubah lebih lanjut dan mungkin menjadi tidak stabil atau putus," imbuh
NASA.