Pembelot mengatakan seorang Rusia diduga perencana serangan akan tetap di Inggris
CB,
LONDON -- Seorang pembelot badan intelijen Rusia Komitet
Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) mengungkapkan pada Sabtu (7/4)
mengenai penyerang mantan intelijen ganda Rusia di Salisbury, Inggris.
Dia mengatakan bahwa seorang Rusia yang diduga merencanakan serangan
racun saraf terhadap agen Sergei Skripal dan putrinya Yulia akan tetap
berada di Inggris.
Mantan agen KGB itu adalah Boris
Karpichkov (59 tahun). Dia mengungkapkan kepada Sunday Mirror bagaimana
rencana pembunuhan itu mungkin telah terungkap. Dia mengatakannya
berdasarkan pelatihan intelijennya sendiri dalam racun mematikan.
Dia mengatakan penyadap dari agen mata-mata Dinas Keamanan
Federal (FSB) Rusia akan memantau ponsel Yulia, email, internet, dan
Skype untuk menentukan tanggal dan waktu penerbangannya ke Inggris. Agen
yang menyamar itu diduga telah memandu enam orang anggota skuad yang
dikenal sebagai The Cleaners. Mereka dipandu ke target mereka
diSalisbury.
Empat hari sebelum keberangkatan, enam
operator lapangan FSB akan dipilih untuk membentuk kelompok operasional
khusus atau SOG. Kelompok ini bertugas untuk melaksanakan misi.
Mereka
akan mencuri identitas palsu dari negara di Uni Eropa, sehingga mereka
tidak membutuhkan visa ketika bepergian. Paspor narapidana yang
sebenarnya di penjara Uni Eropa akan dikloning.
Itu
akan memungkinkan SOG untuk menuju ke Inggris dalam satu dan dua orang.
Mereka melakukan perjalanan menggunakan feri, bukan penerbangan yang
lebih banyak diteliti.
Kemudian satu orang akan
tinggal di Moskow untuk mengikuti Yulia (33 tahun). Yulia terbang ke
Heathrow dan mendarat pukul 2.40 sore waktu setempat pada 3 Maret.
Setelah mata-mata itu yakin Yulia berada di bawah pengawasan oleh tim
SOG yang sudah berada di posisi di Inggris, mata-mata itu akan kembali.
Pada
pukul 4.15 sore berikutnya, Sergei dan Yulia terkapar di sebuah bangku
taman dekat restoran Zizzi di Salisbury karena keracunan. Agen yang
menyamar itu akan menyediakan rumah yang aman, membeli atau menyewa
mobil dan sepeda motor dengan uang tunai.
Semua
fasilitas itu diberikan kepada SOG untuk menunjang tugas mereka
melakukan serangan terhadap Sergei (66 tahun) dan Yulia. Sedangkan agen
yang menyamar itu akan mengintai di mana operasi hitam itu akan
dilaksanakan.
Dia yang merencanakan rute penyerangan
oleh skuad tersebut untuk menghindari pengawasan kamera CCTV. Dia juga
akan bertanggung jawab untuk memeriksa apakah ada pengawasan terhadap
Sergei Skripal yang mungkin membahayakan misi.
Karpichkov
adalah mantan mayor dalam KGB, yang penggantinya FSB. Dia sendiri
diberi lisensi untuk membunuh dengan racun sebelum dia membelot ke
Inggris.
"Saya diberitahu bahwa hanya satu tetes
atau sedikit bubuk dari substansi yang akan saya dapatkan lebih dari
cukup untuk melikuidasi siapa pun. Saya harus mengenakan dua pasang
sarung tangan, yang terbuat dari karet, dan berhati-hati menahan nafas,"
katanya.
Semua yang diperlukan kemudian adalah
menyebarkannya pada barang-barang yang digunakan sehari-hari, pegangan
pintu, kunci tas pribadi, ransel, kotak diplomat, gagang pintu mobil,
tutup bahan bakar mobil, dan sebagainya. "Saya juga bisa mengerjakannya
melalui handset ponsel mereka, baik di kantor mereka atau di kantor
pribadi mereka".
Dalam kasus Skripal, 'pegangan
pintu depannya' adalah mengirimkan racun pada 4 Maret. Agen ganda itu
dipenjara oleh Rusia karena juga menjadi agen Inggris. Namun dia
dibebaskan pada 2010 dengan barter agen.
Sekitar 29
negara telah mengusir 145 utusan Rusia dalam solidaritas dengan Inggris
atas serangan itu. Ajaibnya, kini Skripal dan Yulia berangsur membaik
setelah melewati berpekan-pekan perawatan intensif.
Karpichkov
mengatakan kemungkinan penyerang itu menggunakan agen saraf Novichok
A-234. Setelah berhasil, anggota skuad itu akan menghilang dengan cara
yang sama seperti saat mereka datang. Tetapi agen yang menyamar itu akan
tetap tinggal untuk menyiapkan misi selanjutnya.
Anak-anak menerima perawatan medis setelah pasukan rezim
Assad diduga melakukan serangan gas beracun ke kota Duma, Ghouta Timur,
Damaskus, Suriah, 7 April 2018. Media pemerintah Suriah membantah jika
militer telah meluncurkan serangan kimia. Fadi Abdullah/Anadolu
CB, Jakarta -
Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan sebuah pernyataan, Ahad, 8
April 2018, isinya mengutuk keras serangan kimia di Kota Douma, Suriah, dan mendesak masyarakat internasional melakukan penyelidikan untuk menemukan pelaku.
Media Turki, Daily Sabah,
dalam pemberitaannya mengatakan, pasukan rezim Bashar al Assad
menjatuhkan bom barel berisi racun kimia di kawasan sipil di pinggiran
Damaskus, Ghouta Timur, pada Sabtu dini hari, 7 April 2018, waktu
setempat. Akibat serangan tersebut, sedikitnya 70 orang tewas dan lebih
dari 500 orang cedera.
Pekerja
medis memberikan oksigen kepada bayi melalui respirator setelah dugaan
serangan gas beracun di Douma, Ghouta timur, Suriah, 8 April 2018.
Serangan gas beracun ini terjadi di sebuah kota yang dikuasai
pemberontak di dekat ibu kota. AP/White Helmet
"Kami mengutuk keras serangan tersebut yang diduga dilakukan oleh
rezim. Masyarakat internasional punya rekaman rezim Suriah pernah
menggunakan senjata kimia," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri
Turki.
Pernyataan itu menambahkan, insiden itu menunjukkan,
resolusi Dewan Keamanan PBB tentang penggunaan senjata kimia bernomor
2118, 2209, dan 2235 telah diabaikan. "Kami berharap komunitas
internasional menunjukkan reaksinya dalam menghadapi serangan."
Seorang
anak Suriah menunggu untuk menerima perawatan medis setelah pasukan
rezim Assad diduga melakukan serangan gas beracun ke kota Duma, Ghouta
Timur, Suriah, 7 April 2018. Halil el-Abdullah/Anadolu
Sementara
itu dari Rusia diperoleh informasi, sekutu dekat Suriah itu membantah
segala berita tentang serangan senjata kimia. Sebab semua berita
tersebut dianggap bohong dan dibuat-buat.
"Penyebaran cerita gadungan tentang penggunaan klorine dan zat beracun lainnya oleh pasukan pemerintah Suriah terus berlanjut," bunyi pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dikutip Reuters.
Foto ini dirilis oleh kantor berita resmi Suriah
SANA, menunjukkan pasukan pemerintah Suriah mengawasi evakuasi para
pejuang dan keluarga mereka dari kota terkepung Douma, sebelah timur
Damaskus, Suriah, pada Senin, 2 April 2018.
Foto: SANA/AP
Mereka mengutuk serangan kimia yang dilakukan oleh rezim pemerintahan Assad
CB,
IDLIB -- Warga yang berada di wilayah kelompok oposisi Suriah melakukan
unjuk rasa atas serangan kimia baru yang dilancarkan rezim pemerintahan
Suriah Bashar al-Assad, Ahad (8/4) waktu setempat. Dengan serangan
kimia tersebut, militer Suriah menyerang Ghouta Timur.
Kantor
berita Turki Anadolu melaporkan, warga yang berunjuk rasa berasal dari
daerah Khan Shaykhun, Maarrat al-Nu'man dan Saraqib yang terletak di
Provinsi Idlib. Tak hanya mereka, warga lokal dari Maar Shuhur,
Kafrehmul, Aleppo Barat, Kifrenbude, dan beberapa daerah di Hama juga
ikut berdemonstrasi.
Mereka berunjung rasa sambil menunjukkan spanduk bertuliskan
bahasa Arab dan bahasa Inggris. Mereka berharap masyarakat dunia
melihatnya, meminta keadilan, dan menuntut agar ada keberpihakan pada
hak asasi warga Ghouta Timur.
Seorang aktivis
Suriah, Muhammad al-Hani, yang berpartisipasi dalam demonstrasi di
Saraqib, mengatakan bahwa mereka mengutuk serangan kimia yang dilakukan
oleh rezim pemerintahan Suriah Bashar al-Assad di Douma, Ghouta Timur.
Sementara
itu, seorang anggota dari White Helmetes, Hasan al-Hassan, menuturkan
penyerangan rezim Assad terhadap Douma terjadi akibat adanya
perlindungan dari masyarakat internasional.
Aktivis
lainnya, Firas Abdullah, pun menuding Suriah dan Rusia sebagai dalang
penyerangan yang menggunakan senjata kimia terhadap ratusan ribu orang.
Serangan ini juga telah menuai kecaman dunia internasional termasuk
Turki dan Arab Saudi.
Seperti diketahui, pada 24
Februari lalu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi
2401 yang isinya menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah,
terutama di Ghouta Timur. Ini untuk memungkinkan pengiriman bantuan
kemanusiaan.
Namun Suriah tidak mematuhinya lalu
pada Maret lalu meluncurkan serangan darat dengan dukungan kekuatan
udara Rusia untuk mengambil-alih wilayah Ghouta Timur yang dipegang oleh
kelompok oposisi. Kawasan permukiman bagi sekitar 400 ribu warga sipil,
di pinggiran kota tetap menjadi target pengepungan rezim pemerintahan
Suriah.
Komisi Penyelidikan PBB pun telah merilis
laporan yang isinya menyatakan bahwa rezim Assad telah melakukan
kejahatan perang di Ghouta Timur, di antaranya karena menggunakan
senjata kimia terhadap warga sipil.
CB, Jakarta - Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, pada Ahad 8 April 2018, menyampaikan desakannya terhadap Taliban di Afganistan agar terlibat dalam proses perdamaian bersama pemerintah Kabul.
Keterangan
tersebut disampaikan Yildirim ketika melakukan konferensi pers bersama
pejabat tinggi Afganistan Abdullah Abdullah di Kabul, Ahad.
Sejumlah
pemuda Afganistan bermain musik dan menikmati secangkir teh saat piknik
di era 1960an. Rezim Taliban menguasai Afganistan sejak tahun 1994
hingga 2001. Dailymail.co.uk/Dr Bill Podlich
Yildirim disambut langsung oleh Abdullah Abdullah atas kedatangannya
di Istana Qasr-e-Safaidar di Ibu Kota Kabul. Menurut Yildirim di depan
awak media, dia memuji langkah berani pemerintah Afganistan mengajak
Taliban duduk bersama membicarakan masalah perdamaian.
"Proses
perdamaian adalah jalan bagi Afganistan untuk memecahkan masalah teror.
Ini adalah langkah yang sangat berarti," kata Yildirim. "Kami berharap
Taliban mengambil kesempatan bersejarah. Saatnya meninggalkan masa lalu
dan membangun masa depan," tambahnya seperti dikutip kantor berita Anadolu. Senjata Taliban yang diduga dipasok oleh Rusia. Cnn.com
Pada
kesempatan tersebut, Yildirim juga menggarisbawahi pentingnya
perjalanan Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbas ke Kabul
baru-baru ini.
Dia tegaskan sikap Turki yang
akan melanjutkan dukungannya terhadap Afganistan dalam memerangi
terorisme dan juga meningkatkan kerja sama bilateral dalam segala
bidang, termasuk perdagangan dan pertahanan.
CB, Bonn - Mantan Presiden Catalonia, Carles Puigdemont,
menyerukan dialog dengan pemerintah Spanyol. Dia melakukan ini segera
setelah dibebaskan dengan jaminan oleh pengadilan Jerman.
Puigdemont
diperbolehkan mendapat jaminan setelah hakim Jerman memutuskan dia
tidak dapat diekstradisi atas tuduhan "pemberontakan" yang diminta oleh
Spanyol. Seperti dilansir media DW, setelah dibebaskan pada
Jumat, 6 April 2018, Puigedemont meminta Spanyol membatalkan upaya untuk
mengadili para pemimpin separatis Barcelona.
Saat
menyapa pendukungnya di luar gedung pengadilan, Puigdemont menyerukan
pembebasan segera semua koleganya di penjara-penjara Spanyol.
"Ini memalukan bagi Eropa untuk memiliki tahanan politik," kata Puigdemont seperti dilansir Reuters pada 6 April 2018. "Akhirnya waktu untuk dialog telah tiba."
Dia ditangkap di Jerman bagian utara pada bulan lalu ketika melakukan perjalanan dari Denmark menuju Belgia.
Hakim
pada hari Kamis menolak permintaan Spanyol untuk mengekstradisi
Puigdemont untuk menghadapi tuduhan pemberontakan. Spanyol menilai
kegiatan referendum untuk kemerdekaan Catalonia yang digagas Puigdemont
cs tidak sah secara konstitusi.
Menurut Pengadilan Jerman,
Puigdemont, yang melarikan diri dari Spanyol lima bulan lalu setelah
Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy membubarkan pemerintahannya, tidak
menimbulkan risiko penerbangan yang serius.
Pengadilan Jerman menetapkan jaminan sebesar 75.000 euro dan Puigdemont harus tetap di Jerman karena dikenai wajib lapor setiap minggunya ke polisi. Menurut media DW, Dia juga dikatakan masih mungkin diekstradisi dengan tuduhan, misalnya, menyalahgunakan dana pemerintah selama berkuasa.
Pangeran mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden
Perancis Emmanuel Macron. Foto/REUTERS/Amir Levy dan AP Photo/Christophe
Ena
CB, Jakarta - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, tiba di Prancis, Ahad, 8 April 2018, untuk kunjungan selama dua hari.
Selain
untuk membalas kunjungan Presiden Emmanuel Macron pada November 2017,
kunjungan ini dimanfaatkan oleh Mohammed bin Salman guna melakukan kerja
sama di berbagai bidang termasuk ekonomi, politik, dan perdagangan.
Pemegang takhta Kerajaan Arab Saudi itu juga akan mengadakan pembicaraan
khusus tentang Iran.
Pangeran mahkota Saudi Mohammed bin Salman berbicara dengan Emmanuel Macron di Perancis. dw.com
"Krisis Yaman, Suriah, Qatar, dan kesepakatan nuklir Iran dengan
negara superkuat akan menjadi agenda khusus Mohammed bin Salman dengan
Macron," tulis Al Jazeera mengutip keterangan para pengamat, Ahad, 8 April.
Sejumlah
pengamat mengatakan Putra Mahkota berusia 32 tahun itu sengaja mendekat
ke Amerika Serikat ketika Macron meningkatkan hubungan dengan Iran dan
bersumpah mempertahankan kesepakatan nuklir dengan negeri Mullah
tersebut.
Beberapa negara Barat dan diplomat Arab menggambarkan
pertemuan Macron dengan para pemimpin Arab Saudi pada November 2017
berlangsung tegang.
Presiden
Donald Trump menyambut kedatangan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed
bin Salman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 20 Maret 2018.
REUTERS/Jonathan Ernst
Menurut tiga pejabat di Arab Saudi,
pada pertemuan tersebut, Mohammed bin Salman mengancam akan mengekang
hubungan dengan Prancis jika Macron tidak mengubah keinginannya
berdialog dengan Iran, negeri yang menjadi rival Riyadh di Timur Tengah.
Macron,
kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengingatkan
kembali Mohammed bin Salman soal posisi Prancis di dunia sebagai sebuah
kekuatan nuklir, anggota tetap Dewan Keamanan dan Prancis bebas
melakukan apa saja yang diinginkan. Pertemuan dengan Macron pada Ahad
ini diharapkan dapat mencairkan hubungan Arab Saudi dan Prancis.
Presiden Amerika Serikat Donald John Trump (kiri) dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Foto/REUTERS
WASHINGTON
- Pemerintah Korea Utara (Korut) telah melakukan kontak dengan Amerika
Serikat (AS) untuk mengonfirmasi bahwa Kim Jong-un siap melucuti senjata
nuklir. Persiapan itu akan dibahas dengan Presiden Donald Trump.
Menurut laporan AP, Senin (9/4/2018), konfirmasi datang langsung dari Pyongyang, bukan dari negara-negara ketiga seperti Korea Selatan.
Administrasi
Trump telah lama mengatakan bahwa jika Korea Utara tidak siap untuk
membahas perlucutan program senjata nuklirnya, maka tidak ada alasan
bagi kedua negara untuk mengadakan negosiasi.
Trump sendiri
membuat kejutan pada bulan lalu ketika dia menerima tawaran yang tidak
biasa dari Kim Jong-un untuk mengadakan pertemuan. Korea Utara telah
menyampaikan undangan itu kepada delegasi yang berkunjung dari Korea
Selatan, yang pada gilirannya melakukan perjalanan ke Washington dan
menyampaikan pesan itu kepada Trump.
Presiden Trump mengatakan
"ya" untuk pertemuan di sebuah tempat, meskipun AS belum mendengar
langsung dari Korea Utara tentang niat baik Kim Jong-un. AS kemudian
mendengar dari negara lain termasuk China, di mana Kim melakukan
kunjungan langka baru-baru ini, bahwa Korea Utara serius dengan tawaran
itu.
Namun, pemerintah Korea Utara belum secara terbuka berbicara
tentang rencana pertemuannya dengan Trump. Kurangnya kontak yang
diketahui antara Pyongyang dan Washington tentang pertemuan itu telah
memicu spekulasi lebih lanjut tentang keseriusan tawaran Kim.
"AS
telah menegaskan bahwa Kim Jong-un bersedia untuk membahas
denuklirisasi Semenanjung Korea," kata seorang pejabat administrasi
Trump. Seorang pejabat kedua di pemerintah AS juga mengonfirmasi bahwa
ada kontak langsung antara pejabat Amerika dan Korea Utara.
Kapan
dan bagaimana kontak dua pemerintah itu tetap rahasia. Soal lokasi
pertemuan Kim Jong-un dan Trump juga masih dirahasiakan.
Sebelum
dipecat sebagai menteri luar negeri AS, Rex Tillerson pernah mengatakan
bahwa setidaknya ada dua atau tiga saluran komunikasi antara para
pejabat AS dan Korea Utara.
Laporan adanya kontak antara
Pyongyang dan Washington itu muncul saat John Bolton resmi menjabat
sebagai Penasihat Keamanan Nasional Trump yang baru. Pengganti posisi
Jenderal HR McMaster ini terkenal dengan pandangan hawkish tentang Korea
Utara, di mana dia pernah menganjurkan serangan militer pre-emptive terhadap rezim Pyongyang.
Dalam
pertemuan itu Fachir dan Ri Yong Ho membahas berbagai isu bilateral dan
juga kawasan, termasuk di dalamnya mengenai situasi di Semenanjung
Korea. Foto/Kemlu RI
JAKARTA
- Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, A.M. Fachir dilaporkan melakukan
pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara (Korut), Ri Yong Ho.
Keduanya bertemu di sela-sela pertemuan pertemuan tingkat Menteri
Gerakan Non-Blok (GNB) di Azerbaijan.
Mengutip dari Twitter resmi
Kementerian Luar Negeri Indonesia, dalam pertemuan itu Fachir dan Ri
membahas berbagai isu bilateral dan juga kawasan, termasuk di dalamnya
mengenai situasi di Semenanjung Korea.
"Menlu Korut jelaskan
kemajuan proses dialog antar-Korea dan meminta dukungan Indonesia," kata
Kemlu RI, seperti dikutip Sindonews pada Minggu (8/4).
"Wamenlu
Fachir sampaikan pandangan positif terhadap kemajuan di Semenanjung
Korea sekaligus harapan agar proses dialog di antara kedua Korea dapat
berjalan baik," sambungnya.
Korut dan Korea Selatan (Korsel)
dilaporkan akan melakukan pertemuan pada akhir April ini. Pertemuan itu
dijadwalkan akan dilakukan dalam format pertemuan tingkat tinggi, di
mana Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin Korut Kim Jong-un akan
menghadiri pertemuan itu.
Pertemuan itu sendiri rencananya akan
digelar di sebuah desa di dekat perbatasan kedua negara, atau yang
dikenal dengan nama Zona Demiliterasi. Jika terlaksana, maka pertemuan
ini akan menjadi pertemuan pertama pemimpin kedua negara dalam kurun
waktu satu dekade terakhir.
Wamenlu
RI, A.M. Fachir mendesak negara-negara anggota GNB untuk memperkuat
dukungan kepada masyrakat Palestina dan penguatan tekanan pada Israel.
Foto/Kemlu RI
BAKU
- Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, A.M. Fachir mendesak
negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) untuk memperkuat dukungan
kepada masyrakat Palestina dan penguatan tekanan pada Israel.
Berbicara
saat pertemuan tingkat Menteri GNB di Baku, Azerbaijan, Fachir
menyatakan perdamaian antara Israel dan Palestina hanya bisa tercapai
jika kedua negara mendapat dukungan yang seimbang dari dunia
internasional. Oleh karena itu, dia mendesak GNB untuk memperkuat
dukungan bagi Palestina.
“Perdamaian hanya dapat dicapai jika
pihak-pihak yang terlibat memiliki tingkat dukungan yang sama.
Diperlukan dukungan kuat untuk rakyat Palestina dan proses perdamaian,
serta tekanan kuat terhadap Israel," ucap Fachir, seperti dikutip
Sindonews dari laman resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Minggu
(8/4).
Dia kemudian meminta penegasan komitmen untuk mendukung
negara dan rakyat Palestina dan menyampaikan bahwa dukungan yang semakin
kuat diperlukan di semua tahapan dalam upaya kemerdekaan Palestina.
Fachir
menekankan perlunya kebersamaan GNB, termasuk dalam upaya internasional
untuk pengakuan negara Palestina, mulai dari upaya internasional
seperti pengakuan keberadaan negara Palestina serta mendukungnya
bergabung pada organisasi dan traktat internasional dan juga pemberian
pelatihan di berbagai bidang dan dukungan ekonomi untuk rakyat
Palestina.
Dirinya juga menekankan perlunya terus lakukan tekanan
internasional terhadap Israel dengan mengecam penggunaan kekuatan yang
berlebihan oleh tentara Israel, dan dengan mempromosikan hak asasi
manusia dan hukum humaniter.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk
Arab Saudi untuk menambahkan bahwa dorongan dan tekankan tersebut harus
didasarkan pada proses internasional yang kredibel yang bertujuan untuk
mengakhiri pendudukan, serta membuka jalan untuk mewujudkan solusi dua
negara sesuai dengan resolusi Majelis Umum PBB no. 66/225 dan resolusi Dewan Keamanan PBB no. 2334.
Phnompenh (CB) - Jepang menandatangani perjanjian hibah dan
pinjaman dengan Kamboja senilai lebih dari 900 miliar rupiah pada
Minggu, meskipun masyarakat antarbangsa mengkhawatirkan penumpasan oleh
Perdana Menteri Hun Sen terhadap penentang pemerintah menjelang
pemilihan umum pada Juli.
Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono dan timpalan Kamboja-nya, Prak
Sokhonn, menandatangani perjanjian hibah 4,6 juta dolar (Rp46 miliar
lebih) dan pinjaman 86 juta dolar (sekitar 860 miliar rupiah) untuk
pembangunan ekonomi dan tenaga listrik di ibukota Kamboja, Phnompenh.
Oposisi utama Partai Penyelamatan Bangsa Kamboja (CNRP) dibubarkan pada
November atas permintaan pemerintah, mendorong beberapa negara Barat
mengutuk tindakan keras itu, memotong bantuan, dan memberlakukan
larangan visa pada beberapa anggota partai berkuasa.
Kelompok hak asasi manusia dan anggota oposisi mendesak Tokyo untuk
mengambil sikap lebih kuat terhadap Hun Sen, tapi Jepang menyatakan akan
terus mendukung pemilihan umum dan tidak akan mencampuri yang
dikatakannya urusan dalam negeri Kamboja.
Hun Sen pada Minggu memuji Jepang atas bantuan keuangannya, tapi mengecam para penentang.
"Sementara Jepang, teman, memberikan bantuan kepada Kamboja, beberapa
orang jahat meracuni berita itu seburuk yang mereka lakukan," kata Hun
Sen di Facebook-nya.
Dalam pertemuan dengan Hun Sen pada Minggu, menteri luar negeri Kono
menyatakan Jepang akan membantu Kamboja untuk menjadi negara
berpenghasilan menengah ke atas pada 2030, kata pembantu Hun Sen, Eang
Sophalleth.
Dalam pernyataan baru-baru ini kepada Reuters, Kentaro Sonoura,
penasihat Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, mendesak pesaing politik
Kamboja mengadakan pembicaraan untuk mengakhiri kemelut politik.
Sejumlah pengungsi muslim Rohingya tidur diatas lantai beralaskan kain plastik di Palong Khali, Bangladesh, Selasa (17/10).
Foto: AP/Dar Yasin
Sebanyak 4.000 paket bantuan didistribusikan setiap pekan.
CB,
DHAKA -- Delegasi dari Turki yang terdiri dari para deputi dan pejabat
dari Otoritas Manajemen Bencana dan Keadaan Darurat (AFAD) baru-baru ini
mengunjungi kamp-kamp di Bangladesh yang menampung warga Muslim
Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di provinsi Arakan, Myanmar.
Sejumlah deputi Turki yang berkunjung ke Cox's Bazar itu di antaranya
Wakil AKP Konya Husnuye Erdogan, Deputi Tekirdag Ayse Dogan, Deputi
Nevsehir Mustafa Acikgoz, Deputi Hatay Haci Bayram Turkoglu dan Deputi
Totten Ismail Kayseri, serta Ketua AFAD Mehmet Gulluoglu dan Wakil
Presiden Ismail Palakoglu.
Dalam kegiatan itu, tempat yang
pertama dikunjung oleh komite tersebut adalah Rumah Sakit Sahra, yang
didirikan oleh AFAD. Di tempat itu, Deputi Tamer, yang juga seorang
dokter, merawat seorang anak dan memberinya pengobatan.
Selanjutnya,
mereka membantu mendistribusikan paket bantuan makanan dari Bulan Sabit
Merah Turki di Kamp Kutapong 2, yang juga disebut "Bukit Turki". Selain
itu, delegasi tersebut juga mengunjungi Pusat Bantuan Migrasi dan
Repatriasi untuk mempelajari tentang kebutuhan warga kamp dari kepala
pusat tersebut, Muhammed Abul Kalam. Pada kesempatan itu, Kalam
menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Turki.
"Kami akan melakukan lebih dari yang terbaik dengan kerja sama dan bantuan anda," kata Gulluoglu, dilansir di World Bulletin, Ahad (8/4).
Menurut
pejabat AFAD, sebanyak 4.000 paket bantuan didistribusikan setiap
pekan. Sementara sebanyak 600 paket makanan dibagikan pada hari
kunjungan tersebut.
Deputy Turkoglu mengatakan, Turki akan
terus memberikan bantuan. Menurut Deputi Erdogan, jumlah pengungsi telah
melampaui satu juta dan Bangladesh tidak dapat menanggung beban itu
sendirian.
"Karena itu, seluruh dunia harus membantu
Bangladesh. Turki melakukan bagiannya di Bangladesh seperti halnya di
manapun. Karena Turki, kami berdiri bersama saudara-saudara Muslim
kami," kata Erdogan.
Anak-anak pengungsi Rohingya
membersihkan diri dan mencuci baju di kali dekat tenda penungsian mereka
di Madhuchara, Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh, Sabtu (23/12).
Wabah penyakit rentan menyerang pengungsi Rohingya karena kamp
pengungsian yang padat dan gaya hidup mereka yang tidak sehat. ANTARA
FOTO/Monalisa/bean/Spt/17.
Yangon (CB) - Myanmar tidak siap memulangkan pengungsi
Rohingya, kata pejabat paling senior PBB yang mengunjungi negeri itu
tahun ini, setelah Myanmar dituduh menghasut pembersihan etnis dan
memaksa hampir 700 riru orang kabur ke Bangladesh.
"Berdasarkan yang saya lihat dan dengarkan dari orang-orang yang tidak
mendapatkan akses ke pelayanan kesehatan, kekhawatiran mengenai
perlindungan, kondisi penelantaran yang terus berlanjut, maka tidak
kondusif untuk kembali," kata Ursula Mueller, Asisten Sekjen PBB Urusan
Kemanusiaan, yang berada enam hari di Myanmar.
Pemerintah Myanmar sudah menjanjikan sebaik-baiknya dalam memastikan
repatriasi di bawah kesepakatan dengan Bangladesh November tahun lalu
itu akan berlangsung adil, bermartabat dan aman.
Sejauh ini Myanmar sudah memverifikasi ribuan pengungsi Rohingya untuk
repatriasi dan mereka akan menjadi rombongan pertama yang kembali ke
Myanmar jika kondisi sudah nyaman untuk mereka, kata seorang pejabat
Myanmar bulan lalu.
Mueller mendapatkan akses ke Myanmar dengan dibolehkan mengunjungi
daerah-daerah Rakhine yang paling terdampak, dan bertemu dengan menteri
pertahanan dan hubungan perbatasan yang dikendalikan tentara, selain
juga bertemu dengan pemimpin de-facto Aung San Suu Kyi dan tokoh sipil
lainnya.
Eksodus Rohingya dipicu oleh bumi hangus militer Myanmar pada 25 Agustus
di Rakhine. Rohingya dibunuh, dibakar, dijarah dan diperkosa sebagai
respon militer atas serangan militan Rohingya ke pos keamanan.
"Saya meminta (pemerintah Myanmar) untuk mengakhiri kekerasan dan
pemulangan pengungsi dari (kamp pengungsi) Cox's Bazar haruslah secara
sukarela, dengan cara bermartabat," kata Mueller kepada Reuters dalam
wawancara di Yangon.
Myanmar selama ini bersikukuh bahwa pasukannya hanya melakukan operasi
militer yang sah terhadap kelompok yang disebutnya teroris.
Sebelumnya pemerintah Bangladesh sudah mengungkapkan keraguan mereka
atas itikad baik Myanmar dalam memulangkan pengungsi Rohingya.
Ketika ditanya apakah Mueller yakin kepada jaminan pemerintah Myanmar
bahwa Rohingya dibolehkan kembali ke rumah mereka setelah tinggal
sementara di kamp sementara, Mueller menjawab, "Saya sungguh
mengkhawatirkan situasinya."
Sebagian dari masalah itu, menurut Human Rights Watch, Myanmar telah
membuldoser paling sedikit 55 desa yang sudah dikosongkan selama
kekerasan.
"Saya telah menyaksikan daerah-daerah di mana desa-desa dibakar dan
dibuldoser. Saya tidak melihat atau mendengar ada persiapan apa pun
untuk orang-orang yang akan kembali ke tempat asal mereka," kata
Mueller.
Pemerintah Myanmar selalu berkilah pembuldoseran itu dilakukan untuk meratakan jalan bagi pemukiman kembali pengungsi.
Mueller menyatakan bahwa dia juga mencuatkan isu kepada kalangan pejabat
Myanmar mengenai akses bantuan kemanusiaan yang terbatas, sampai kepada
orang-orang yang rentan di negara itu.
Mueller mendesak pemerintah Myanmar memberikan akses kepada badan-badan bantuan, demikian Reuters.
Tim
medis memberikan pertolongan kepada salah seorang demosntran yang
menjadi korban kekerasan tentara Israel di Jalur Gaza. Foto/Istimewa
YERUSALEM
- Kelompok perlawanban Palestina, Hamas, mengutuk Amerika Serikat (AS)
karena memveto resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB. Badan beranggotakan 15
negara itu menyerukan penyelidikan atas tindakan kekerasan Israel di
Jalur Gaza.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan dengan
memblokir resolusi, AS terlibat dalam serangan Israel terhadap warga
sipil tak bersenjata di Gaza.
"Dengan memblokir kecaman Dewan
Keamanan PBB pada hari Jumat atas tindakan Israel terhadap demonstran
sipil di Gaza, AS mengambil bagian dalam serangan terhadap warga kami,"
ujar Qassem seperti dikutip dari Middle East Monitor, Minggu (8/4/2018).
AS
untuk minggu kedua berturut-turut memblokir pernyataan DK PBB yang
mendukung hak Palestina untuk melakukan demonstrasi secara damai. DK PBB
juga mendukung seruan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk
melakukan penyelidikan independen terhadap protes mematikan di Gaza.
Washington
adalah satu-satunya anggota DK PBB yang menolak pernyataan mengutuk
reaksi Israel terhadap demonstrasi ‘March for Return’.
Qassem juga menuduh AS mendorong pendudukan untuk melanjutkan kejahatannya.
Kementerian
Luar Negeri Palestina telah meminta masyarakat internasional untuk
menemukan formula baru yang akan menolak hak AS guna memveto resolusi DK
PBB menuntut pembentukan komisi penyelidikan independen terhadap
peristiwa di Gaza.
"Jika gagal melakukannya, Dewan Keamanan akan
menjadi tidak berdaya dan kehilangan kredibilitas," kementerian itu
mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Kementerian Luar Negeri
Palestina juga mengutuk AS karena memveto resolusi Dewan Keamanan untuk
kedua kalinya dan mencatat bahwa Washington telah menutup-nutupi
pembantaian Palestina oleh pasukan Israel.
AS telah menolak
permintaan DK PBB untuk penyelidikan independen dan transparan terhadap
insiden kekerasan di Jalur Gawa. Puluhan warga Palestina telah menjadi
martir oleh penggunaan kekuatan Israel yang tidak proporsional sejak 30
Maret.
Hamas Kecam Keputusan AS Veto Resolusi DK PBB Soal Gaza
Hamas,
mengutuk Amerika Serikat (AS) karena memveto resolusi Dewan Keamanan
(DK) PBB yang menyerukan penyelidikan atas tindakan keras Israel di
Jalur Gaza. Foto/Istimewa
GAZA
- Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengutuk Amerika Serikat (AS)
karena memveto resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang menyerukan
penyelidikan atas tindakan keras Israel di Jalur Gaza.
Juru
bicara Hamas, Hazem Qassem mengatakan dengan memblokir resolusi, AS
secara tidak langsung telah terlibat dalam serangan yang dilakukan
Israel terhadap warga sipil tak bersenjata di Gaza.
"Dengan
memblokir kecaman DK atas tindakan Israel terhadap demonstran sipil di
Gaza, AS telah mengambil bagian dalam serangan terhadap orang-orang
kami," kata Qassem dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Anadolu
Agency pada Minggu (8/4).
Qassem dalam pernyataannya juga
menyebut bahwa AS telah mendorong Israel untuk melanjutkan kejahatannya
terhadap warga Palestina.
Seperti diketahui, AS untuk minggu
kedua berturut-turut memblokir pernyataan DK yang mendukung hak
Palestina dan mendukung seruan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres
untuk melakukan penyelidikan independen terhadap protes mematikan di
Gaza.
Washington adalah satu-satunya anggota DK PBB yang menolak
pernyataan yang mengutuk tindakan Israel terhadap demonstrasi yang
dilakukan warga Palestina yahg dimulai pada akhi Maret lalu itu.
AS tolak seruan penyelidikan eskalasi kekerasan di perbatasan Gaza-Israel
CB,
WASHINGTON -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali memblokir
pernyataan Dewan Keamanan PBB yang menyerukan dilakukannya penyelidikan
terkait eskalasi kekerasan di perbatasan Gaza-Israel. AS telah melakukan
hal serupa pekan lalu.
Pernyataan yang diusulkan Kuwait sebagai wakil negara-negara Arab di
Dewan Keamanan PBB menyatakan kesedihan mendalam atas tewasnya warga
Palestina, yang berunjuk rasa di perbatasan Gaza-Israel. Dalam
pernyataan tersebut, Dewan Keamanan PBB pun didesak menggelar
penyelidikan internal yang transparan terhadap insiden terkait.
Namun
AS kembali memblokir pernyataan yang menyerukan dilakukannya
penyelidikan terhadap Israel. Pekan lalu, AS melakukan hal serupa
setelah 15 warga Palestina di perbatasan Gaza tewas diserang pasukan
keamanan Israel.
Kelompok Hamas mengecam tindakan AS yang
kembali memblokir seruan penyelidikan terkait kekerasan yang dialami
warga Palestina di perbatasan Gaza-Israel. "Dengan memblokir kecaman
Dewan Keamanan pada Jumat (6/4) atas tindakan Israel terhadap demonstran
sipil di Gaza, AS telah mengambil bagian dalam serangan terhadap rakyat
kami,” ujar juru bicara Hamas Hazem Qassem, dikutip laman Anadolu.
Dalam
aksi demonstrasi lanjutan di perbatasan Gaza-Israel pada Jumat lalu,
sembilan warga Palestina, termasuk seorang jurnalis foto Palestina
bernama Yaser Murtaja, tewas ditembak pasukan Israel. Peristiwa ini
mengundang perhatian serius dunia, termasuk Uni Eropa.
Uni
Eropa, pada Sabtu (7/4), telah merilis pernyataan terkait insiden
terbaru di perbatasan Gaza-Israel. "Kemarin, setidaknya sembilan warga
Palestina, termasuk seorang wartawan mengenakan jaket 'pers' tewas di
Gaza dan ratusan lainnya luka-luka oleh tembakan langsung Israel. Ini
menimbulkan pertanyaan serius tentang penggunaan kekuatan yang
proporsional yang harus ditangani," kata Uni Eropa dalam pernyataannya,
dikutip laman Haaretz.
Sejak akhir Maret lalu,
ribuan warga Palestina di Gaza menggelar aksi demonstrasi di dekat pagar
perbatasan Israel. Aksi ini digelar guna menuntut Israel mengembalikan
tanah-tanah yang direbutnya saat perang Arab-Israel tahun 1948 kepada
para pengungsi Palestina.
Namun aksi tersebut direspons
secara represif oleh pasukan keamanan Israel. Mereka takragu menyerang,
bahkan menembak mati warga Palestina yang berpartisipasi dalam aksi itu.
Menurut
Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 31 warga Palestina telah
tewas oleh pasukan Israel sejak aksi dimulai pada akhir Maret lalu.
Sedangkan lebih dari1.400 orang lainnya mengalami luka-luka.
Aksi
demonstrasi di perbatasan Gaza-Israel sendiri rencananya akan dilakukan
selama beberapa pekan. Aksi puncak akan digelar pada 15 Mei mendatang
ketika Israel memperingati hari kelahirannya.
Uni
Eropa (UE) akan mencoba melakukan klarifikasi atas laporan pengunaan
kekuatan yang dilakukan Israel terhadap demonstran Palestina di Gaza.
Foto/Reuters
BRUSSELS
- Uni Eropa (UE) akan mencoba melakukan klarifikasi atas laporan
pengunaan kekuatan yang dilakukan Israel terhadap demonstran Palestina
di Gaza. Lebih dari 30 orang dilaporkan tewas akibat serangan yang
dilancarkan Israel terhadap demonstran Palestina dalam kurun waktu
sepekan terakhir.
UE juga dilaporkan akan melakukan klarifikasi
atas laporan militer Israel bahwa orang Palestina melempari mereka
dengan batu dan menembaki posisi mereka dan berusaha menaiki pagar untuk
menyeberang ke Israel.
"Ini menimbulkan pertanyaan serius
tentang penggunaan kekuatan secara proporsional yang harus segera
ditangani," Layanan Aksi Eksternal Eropa mengatakan dalam sebuah
pernyataan, seperti dilansir Al Arabiya pada Minggu (8/4).
"Laporan
oleh Pasukan Pertahanan Israel tentang pelemparan batu dan bom molotov
terhadap posisi mereka dan upaya untuk menyeberangi pagar ke Israel juga
harus diklarifikasi," sambungnya.
Setidaknya sembilan warga
Palestina tewas, termasuk di dalamnya seorang jurnalis dalam aksi
demonstrasi terbaru yang berlangsung Jumat lalu. Selain sembilan korban
tewas, sedikitnya 491 orang terluka oleh tembakan Israel.
Mereka
berada di antara ribuan pengunjuk rasa yang mendekati pagar perbatasan
di sekitar Gaza. Demonstran membakar ban dan melemparkan batu ke pasukan
Israel, yang menanggapi dengan gas air mata dan peluru tajam.
Pemerintah
Mesir mengeluarkan kecaman keras atas serangan terbaru yang dilakukan
Israel terhadap demonstran Palestina. Foto/Reuters
KAIRO
- Pemerintah Mesir mengeluarkan kecaman keras atas serangan terbaru
yang dilakukan Israel terhadap demonstran Palestina. Serangan yang
dilakukan Israel pada Jumat lalu itu diketahui menewaskan sejumlah
demonstran Palestina dan juga menewaskan seorang jurnalis yang sedang
meliput aksi demonstrasi tersebut.
"Mesir mengutuk penggunaan
kekuatan berlebihan yang digunakan pasukan Israel terhadap warga sipil
tak berdosa yang berkumpul di tanah Palestina yang diduduki," kata
Kementerian Luar Negeri Mesir dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir
Anadolu Agency pada Minggu (8/4).
"Kami menentang pembunuhan
terhadap orang-orang, yang menuntut hak-hak hukum mereka, dan menyerukan
upaya serius untuk memastikan bahwa hak-hak rakyat Palestina, termasuk
mendirikan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu
Kotanya terpenuhi," sambungnya.
Hal senada juga disampaukan oleh
Komisi Urusan Arab di Parlemen Mesir. Dalam sebuah pernyataan mereka
menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk bertindak guna
menghentikan serangan di Palestina dan menjatuhkan sanksi terhadap
Israel.
"Perlawanan dari orang-orang yang tanahnya diduduki
adalah hak yang dijamin oleh konvensi internasional, namun perlawanan
damai dari Palestina dijawab kembali dengan peluru tajam dan tembakan,"
kata pernyataan itu.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina,
sejak 30 Maret ketika demonstrasi damai dimulai, 31 warga Palestina
telah menjadi martir oleh penembak jitu Israel.
Paris (CB) – Reporter Tanpa Batas, Sabtu waktu setempat,
menuduh tentara Israel melakukan "penembakan yang disengaja" terhadap
wartawan di Gaza setelah sepekan pertumpahan darah di perbatasan.
Sembilan orang tewas dalam kerusuhan terakhir, termasuk Yasser Murtaja,
seorang jurnalis dari agensi Ain Media yang bermarkas di Gaza, yang
tewas akibat luka setelah ditembak, kata Kementerian Kesehatan di Gaza
seperti dilansir AFP.
Sedikitnya 491 orang juga terluka oleh tembakan Israel ketika ribuan
demonstran mendekati pagar perbatasan di sekitar Gaza pada Jumat kedua
berturut-turut, membakar ban dan melemparkan batu ke arah pasukan
Israel.
Tidak ada warga Israel yang terluka.
"Fotografer Palestina Yasser Mourtaja mengenakan rompi dengan tanda
'Press': dia jelas korban dari penembakan yang disengaja," kata
Christophe Deloire, Sekretaris Jenderal Reporter Tanpa Batas (RSF) via
Twitter.
"RSF benar-benar mengecam penembakan yang disengaja terhadap wartawan oleh tentara Israel."
Murtaja (30), ditembak ketika mengambil foto unjuk rasa Khan Younis di
selatan wilayah itu. Para saksi mengungkapkan dia dekat dengan bagian
depan unjuk rasa ketika terkena tembakan.
Foto AFP yang diambil setelah dia terluka menunjukkan Murtaja mengenakan rompi pers saat menerima perawatan.
Foto yang diambil kelompok antipemerintah Suriah
Edlib Media Center yang telah diautentifikasi menunjukkan dokter
menangani seorang anak menyusul dugaan serangan kimia di Kota Khan
Sheikhoun, Idlib, Suriah, 4 April 2017.
Foto: Edlib Media Center, via AP
Serangan kimia Suriah dinilai telah melanggar hukum humaniter internasional
CB,
ANKARA -- Prancis meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) menggelar pertemuan darurat untuk membahas serangan kimia terbaru
yang dilakukan rezim pemerintahan Suriah di wilayah Ghouta Timur.
Pasalnya, 70 warga sipil tewas akibat serangan kimia yang dilancarkan
pasukan Suriah di bawah kendali Presiden Bashar al-Assad.
Menteri
Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian mengutuk keras pasukan Suriah
yang mengepung Kota Douma di Ghouta Timur dan mengebom daerah tersebut
hingga mengakibatkan adanya korban dari warga sipil dalam waktu 24 jam.
Tindakan pasukan Suriah ini dilakukan pada Sabtu (8/4) kemarin waktu
setempat dan menewaskan 70 warga sipil.
Kantor Berita Turki Anadolu pada Senin (9/4) ini melaporkan,
lembaga pertahanan sipil White Helmets mencatat adanya penggunaan gas
beracun dalam serangan yang terjadi di Kota Douma itu. Le Drian juga
prihatin dan geram atas serangan kimia Suriah. Sebab, serangan ini telah
melanggar hukum humaniter internasional.
Otoritas
Perancis menyatakan, penggunaan senjata kimia merupakan kejahatan perang
dan pelanggaran terhadap rezim nonproliferasi internasional. Mereka
menegaskan bakal memikul tanggung jawab dengan melakukan perlawanan
terhadap proliferasi kimia.
Seperti diketahui, pada
24 Februari lalu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi
Resolusi 2401 yang isinya menyerukan gencatan senjata selama sebulan di
Suriah, terutama di Ghouta Timur. Ini untuk memungkinkan pengiriman
bantuan kemanusiaan.
Namun Suriah tidak mematuhinya
lalu pada Maret lalu meluncurkan serangan darat dengan dukungan kekuatan
udara Rusia untuk mengambil-alih wilayah Ghouta Timur yang dipegang
oleh kelompok oposisi. Kawasan permukiman bagi sekitar 400 ribu warga
sipil, di pinggiran kota tetap menjadi target pengepungan rezim
pemerintahan Suriah.
Komisi Penyelidikan PBB pun
telah merilis laporan yang isinya menyatakan bahwa rezim Assad telah
melakukan kejahatan perang di Ghouta Timur, di antaranya karena
menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil.
Seorang
gadis cilik di Douma, Suriah, dilaporkan jadi korban serangan kimia
oleh pasukan rezim Assad. Foto/White Helmets/Reuters TV via REUTERS
WASHINGTON
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump mengancam akan
melancarkan tindakan militer terhadap rezim Bashar al-Assad di Suriah
atas tuduhan serangan senjata kimia di Douma. Rusia dengan cepat
melontarkan peringatan keras terhadap Washington jika nekat menyerang
Damaskus.
Trump mengatakan Assad akan "membayar mahal" karena
memubunuh banyak warga sipil dengan serangan senjata kimia. Pemimpin
Amerika ini juga menyalahkan Iran dan Presiden Rusia Vladimir Putin
karena mendukung Assad yang dia sebut "binatang".
"Banyak yang
mati, termasuk wanita dan anak-anak, dalam serangan kimia yang tidak ada
artinya di Suriah. Area kekejaman berada di titik pengepungan dan
dikelilingi oleh tentara Suriah, membuatnya benar-benar tidak dapat
diakses dunia luar," tulis Trump melalui akun Twitter @realDonaldTrump, yang dilansir Reuters, Senin (9/4/2018).
"Presiden
Putin, Rusia dan Iran bertanggung jawab karena mendukung binatang
Assad. Besar harga yang harus dibayar," lanjut Trump.
Pemerintah
Assad membantah pasukannya meluncurkan serangan kimia. Rusia, sebagai
sekutu terkuat Assad, menyebutnya sebagai laporan palsu.
Ancaman
serangan militer Trump mengingatkan kejadian tahun lalu, di mana pasukan
AS atas perintah Trump untuk pertama kalinya menggempur basis Angkatan
Udara Suriah dengan beberapa rudal jelajah Tomahawk. Serangan itu
diklaim sebagai balasan karena Assad dituding membunuh para warga sipil
dengan bom gas sarin.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri
Rusia memperingatkan AS jika nekat meluncurkan serangan militer terhadap
rezim Suriah hanya dengan "alasan yang dibuat-buat".
"konsekuensi yang mengerikan jika ada campur tangan militer," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Kementerian
tersebut mengecam laporan terbaru tentang serangan kimia terhadap
puluhan warga sipil di kota Douma yang yang dikuasai para militan.
"Laporan itu adalah contoh lain dari rangkaian terus-menerus berita
palsu tentang penggunaan klorin dan agen kimia lainnya oleh pasukan
pemerintah," imbuh Kementerian Luar Negeri Rusia membela Assad.
sumber
laporan itu, menurut Rusia, adalah kelompok "pertahanan sipil" yang
terkenal jahat, yakni White Helmets, yang telah berulang kali dituduh
memiliki hubungan dengan teroris, serta kelompok-kelompok lain yang
berbasis di AS dan Inggris.
Rusia jauh hari sudah memperingatkan
tentang "serangan kimia dengan bendera palsu" yang bertujuan untuk
memfitnah Assad. Pelaku serangan, menurut Moskow, adalah pihak-pihak
yang tidak tertarik pada penyelesaian politik dari krisis Suriah.
"Tujuan
dari spekulasi tak berdasar ini adalah untuk melindungi para teroris
dan oposisi radikal yang menolak untuk terlibat dalam penyelesaian
(proses) politik, serta untuk membenarkan potensi serangan militer dari
luar," imbuh pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti dikutip Russia Today.
"Setiap
campur tangan militer di Suriah yang dilakukan di bawah dalih yang
dibuat-buat atau dibuat-buat, benar-benar tidak dapat diterima dan dapat
menyebabkan konsekuensi yang mengerikan."
Beberapa bayi memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Desa Shifunieh, Ghouta Timur, Suriah
Foto: Mohammed Badra/EPA-EFE
Douma jadi wilayah terakhir yang dikuasai oposisi di Suriah timur
CB,
JAKARTA -- Serangan gas beracun terjadi di Douma, salah satu wilayah di
Ghouta Timur, Suriah, Sabtu (7/4). Setidaknya 70 orang dilaporkan tewas
dalam kejadian ini, menurut laporan dari petugas medis.
Diperkirakan
jumlah korban akan terus meningkat. Sebelumnya, kelompok sukarelawan
medis bernama White Helmets mengatakan serangan gas beracun membuat
sekitar 150 orang tewas, seiring penemuan jenazah di Douma.
Douma menjadi wilayah terakhir yang dikuasai oleh kelompok
oposisi di Ghouta Timur. Tak sedikit yang menyakini bahwa serangan gas
beracun kali ini diluncurkan oleh Pemerintah Suriah bersama dengan
Rusia.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS)
mengatakan telah memantau laporan yang menyebutkan bahwa rezim
Pemerintah Suriah yang dipimpin oleh Presiden Bashar Al Assad harus
bertanggung jawab. Selama ini, sejumlah serangan yang melibatkan gas
kimia dan beracun kerap dialamtkan terhadap pasukan pemerintah yang
bekerjasama dengan Rusia.
Rusia pada akhirnya
memikul tanggung jawab atas serangan brutal di Suriah yang tak terhitung
jumlahnya dengan menggunakan senjata kimia, ujar pernyataan Departemen
Luar Negeri AS, dilansir BBC, Ahad (8/4).
Laporan
dari salah satu media pro oposisi Suriah menyebutkan serangan gas
beracun di Douma telah membuat lebih dari seribu orang terkena dampak
kesehatan. Diduga gas beracun diluncurkan dengan menggunakan bom barel
yang dijatuhkan dari atas helikopter. Gas tersebut diyakini sebagai
sarin, salah satu agen saraf beracun.
Rusia menampik tuduhan jadi dalang di balik
serangan senjata kimia mematikan di Douma, Suriah, Sabtu (7/4). (AFP
PHOTO / Aaref WATAD)
Jakarta, CB -- Rusia menampik tuduhan
jadi dalang di balik serangan senjata kimia mematikan di Douma, Suriah,
Sabtu (7/4). Pernyataan ini disampaikan layanan berita Interfax mengutip
dari Kementerian Pertahanan Rusia.
"Kami jelas membantah
tuduhan ini," kata Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko, kepala pusat
perdamaian dan rekonsiliasi Rusia di Suriah, dikutip dari Reuters.
"Dengan ini kami mengumumkan bahwa kami siap mengirim spesialis
bidang radiasi, pertahanan kimia dan biologi dari Rusia untuk
mengumpulkan informasi, segera setelah Douma dibebaskan dari militan.
Ini akan mengonfirmasi tuduhan dari pernyataan tersebut."
Sebelumnya, kelompok aktivis Suriah melaporkan terjadinya
serangan brutal di reruntuhan kota Douma yang dikuasai pemberontak di
Ghouta Timur, Sabtu (8/4). Serangan ini menyebabkan puluhan warga sipil
tewas dan 500 orang lainnya luka-luka.
Kelompok-kelompok aktivis
tersebut mengatakan bahwa serangan dengan gas beracun dalam bom barel
yang dijatuhkan helikopter di Douma menyebabkan orang mati lemas dan
tersedak.
Rusia Bantah Terjadi Serangan Senjata Kimia di Douma
Korban dugaan serangan kimia Suriah.
Foto: Edlib Media Center, via AP
Rusia siap kirim ahli radiasi dan biologi buktikan tidak ada serangan kimia di Douma.
CB, MOSKOW -- Pemerintah Rusia, pada Ahad (8/4), menepis laporan tentang serangan senjata kimia di Douma, Suriah yang dikuasai kelompok pemberontak. Setidaknya 49 orang telah dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
"Kami jelas membantah informasi ini (serangan senjata kimia di
Douma)," ujar Kepala Pusat Perdamaian dan Rekonsiliasi Rusia di Suriah
Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko.
Ia mengatakan akan
membuktikan informasi terkait serangan senjata kimia di Douma adalah
keliru dan menyesatkan. "Kami dengan ini mengumumkan kami siap mengirim
ahli Rusia dalam bidang radiasi, pertahanan kimia, dan biologi untuk
mengumpulkan informasi, segera setelah Douma dibebaskan dari milisi. Ini
akan mengonfirmasi sifat palsu dari laporan ini," kata Yevtushenko.
Serangan
gas beracun terjadi di Douma, salah satu wilayah di Ghouta Timur,
Suriah, Sabtu (7/4) malam waktu setempat. Serangan ini seketika
menewaskan puluhan orang. Pemerintah Suriah disebut bertanggung jawab
atas serangan terbaru di Douma. Namun Damaskus telah membantah tegas
tuduhan tersebut.
Ini bukan pertama kali pemerintah Suriah
dituding menggunakan senjata kimia. Pada Januari lalu, beredar laporan
yang menyatakan pemerintah Suriah masih memanfaatkan senjata kimia untuk
menyerang Ghouta Timur. Suriah dan sekutunya Rusia membantah hal
tersebut.
Amerika Serikat (AS) menuding Rusia menghalangi
dan mencegah badan investigasi PBB menyelidiki penggunaan senjata kimia
di Suriah. AS menilai tindakan Rusia jelas telah mengirim pesan
berbahaya kepada dunia.
"Ketika Rusia membunuh Mekanisme
Investigasi Bersama (MIB), mereka mengirim pesan berbahaya kepada dunia,
yang tidak hanya mengatakan penggunaan senjata kimiadapat diterima,
tapi juga mereka yang menggunakan senjata kimia tidak perlu
diidentifikasi atau bertanggung jawab," ujar Duta Besar AS untuk PBB
Nikki Haley pada Januari lalu.
Haley menegaskan, AS akan
terus mendukung upaya penyelidikan penggunaan senjata kimia di Suriah.
"AS tidak akan pernah berhenti memperjuangkan anak-anak, wanita, dan
pria Suriah yang tidak bersalah dan telah menjadi korban pemerintahan
merekasendiri dan mereka terus mendukungnya," katanya.
Pada
Agustus 2015, Dewan Keamanan PBB membentuk MIB. Hal ini dilakukan
setelah terbitnya laporan tentang penggunaan senjata kimia di Suriah.
Dalam laporan akhir tahun lalu, MIB menyalahkan rezim pemerintah Suriah
atas serangan senjata kimia yang terjadi di Khan Sheikhoun. Dalam
peristiwa tersebut, sedikitnya 100 warga Suriah, termasuk anak-anak,
tewas akibat menghirup gas beracun.
Laporan tentang
penggunaan senjata kimia di Suriah memang terus bermunculan. Hal ini
dipicu sebuah serangan pada Agustus 2013 di Ghouta Timur, dekat
Damaskus. Kala itu, serangan yang diyakini memanfaatkan senjata kimia
menewaskan lebih dari 1.400 orang.
Serangan terjadi setelah runtuhnya gencatan senjata.
CB,
DAMASKUS -- Para aktivis, petugas penyelamat dan tenaga medis Suriah
mengungkapkan pada Ahad (8/4) serangan gas beracun di kota yang dikuasai
pemberontak telah menewaskan sedikitnya 40 orang. Tuduhan tersebut
dibantah rezim Suriah.
Serangan yang diduga dilancarkan di kota Douma, dekat ibu kota, itu
terjadi pada Sabtu (7/4) malam. Serangan terjadi setelah runtuhnya
gencatan senjata.
Syrian Observatory for Human Rights
menyebutkan setidaknya 80 orang tewas di kota Douma pada Sabtu (7/4).
Ini termasuk sekitar 40 orang yang meninggal karena mati lemas.
Penanggap
pertama yang terkait dengan oposisi, yang dikenal sebagai White
Helmets, juga melaporkan serangan itu. White Helmets mengatakan seluruh
keluarga ditemukan mati lemas di rumah dan tempat tinggal mereka.
Laporan
itu melaporkan korban tewas akibat mati lemas lebih dari 40. Syrian
American Medical Society, sebuah organisasi bantuan, mengatakan 41 orang
terbunuh dan ratusan lainnya terluka. Laporan tersebut tidak dapat
diverifikasi secara independen.
Pasukan pemerintah Suriah
melanjutkan serangan mereka terhadap kota Douma yang dikuasai
pemberontak pada Jumat (6/4) sore. Setelah gencatan senjata selama 10
hari runtuh karena ketidaksepakatan mengenai evakuasi pejuang oposisi.
Serangan
dilanjutkan beberapa hari setelah ratusan pejuang oposisi dan keluarga
mereka meninggalkan Douma menuju daerah yang dikuasai pemberontak di
Suriah utara. Douma adalah benteng pemberontak terakhir di Ghouta timur.
Serangan
gas yang diduga terjadi di Douma ini terjadi hampir tepat setahun
setelah serangan kimia di kota Suriah Khan Sheikhoun di Irak utara dan
menewaskan puluhan orang. Serangan itu mendorong Presiden Amerika
Serikat (AS) Donald Trump untuk memerintahkan serangan rudal ke
pangkalan udara Suriah.
Pemerintah Suriah dan sekutunya,
Rusia, membantah terlibat dalam dugaan serangan gas. Douma berada di
pinggiran Damaskus yang dikenal sebagai Ghouta timur.Sebuah serangan
kimia di Ghouta timur pada 2013 yang secara luas disalahkan pada pasukan
pemerintah menewaskan ratusan orang. Serangan itu mendorong AS untuk
mengancam aksi militer sebelum kemudian mundur.
Suriah
terus membantah pernah menggunakan senjata kimia selama perang sipil
selama tujuh tahun tersebut. Suriah juga mengatakan mereka telah
menghapuskan senjata kimia di bawah perjanjian 2013 yang ditengahi oleh
AS dan Rusia setelah serangan di Ghouta timur.
500 Orang Dilaporkan Luka Karna Serangan Gas Klorin di Ghouta
ilustrasi Suriah (AFP PHOTO / Abdulmonam EASSA)
Jakarta, CB -- Kelompok aktivis Suriah
melaporkan terjadinya serangan brutal di reruntuhan kota Douma yang
dikuasai pemberontak di Ghouta Timur, Suriah, Sabtu (8/4).
Serangan ini menyebabkan puluhan warga sipil tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Kelompok-kelompok
aktivis tersebut mengatakan bahwa serangan dengan gas beracun dalam bom
barel yang dijatuhkan oleh helikopter di atas Douma menyebabkan orang
mati lemas dan tersedak.
Kantor berita pemerintah Suriah, SANA mengutip sebuah 'sumber resmi'
membantah tuduhan tersebut. Mereka mengatakan bahwa laporan tersebut
adalah sebuah upaya untuk menghalangi kemajuan militer.
SANA, mengutip sumber yang sama, menulis bahwa tentara Arab Suriah
tak perlu menggunakan bahan kimia apapun seperti yang diklaim oleh
afiliasi media teroris.
Gambar grafis tentang penyerangan
tersebut menunjukkan bahwa orang-orang, termasuk anak-anak banyak yang
tewas dan terluka. Beberapa di antaranya terlihat mengeluarkan ludah
atau busa di pusat medis darurat.
Mengutip CNN,
seorang petugas berwenang dari Union of Medical Care and Relief
Organizations (UOSSM) mengungkapkan bahwa para dokter di Ghouta Timur
melihat pasien kejang dan beberapa terlihat lumpuh, tak responsif.
Hanya saja, gambar ini belum bisa dipastikan keasliannya.
UOSSM,
mengutip para dokter dan aktivis lapangan merilis pernyataan yang
mengatakan bahwa serangan besar-besaran dengan gas atau bahan kimia
tersebut menyebabkan 25 orang terbunuh dan 500 orang lainnya terluka.
Mengutip AFP, serangan ini diduga dilakukan dengan menggunakan gas klorin beracun.
Cuplikan video demonstrasi jet tempur generasi keenam AS, F-X, yang menembakkan senjata laser. Foto/AFRL/YouTube
WASHINGTON
- Laboratorium Penelitian Angkatan Udara (AFRL) Amerika Serikat (AS)
telah merilis sebuah video pada akhir Maret 2018 tentang jet siluman
canggih yang diklaim sebagai jet tempur generasi keenam. Pamer video itu
sebagai upaya untuk mengenalkan inisiatif "Sains dan Teknologi 2030"
dari laboratorium itu.
Jet tempur generasi keenam yang
ditampilkan di video itu dikenal sebagai F-X. Pesawat tersebut
menembakkan senjata laser berenergi tinggi yang memotong separuh pesawat
tempur.
Kendati demikian, kemampuan sebenarnya dari jet tempur
generasi keenam itu belum jelas. Beberapa pihak berspekulasi bahwa F-X
bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan hipersonik, dapat beralih di
antara pesawat berawak dan tak berawak, dan banyak spekulasi lainnya.
Pihak AFRL menolak berkomentar ketika Business Insider bertanya tentang kapabilitas dari jet tempur generasi keenam yang memang belum secara resmi diakui oleh Pentagon.
Richard
Aboulafia, seorang ahli penerbangan militer di Teal Group, mengulas F-X
yang diklaim sebagai jet tempur generasi keenam Amerika.
"Ini akan kurang tentang kendaraan udara, dan lebih banyak tentang sistem yang menyertainya," kata Aboulafia kepada Business Insider.
"Senjata-senjata itu, drone yang ramah (loyal wingman),
sensor tempel—semuanya seperti itu," ujarnya. Menurutnya, F-X tidak
mungkin akan memiliki muatan yang berat karena akan mengurangi kemampuan
silumannya.
"Jelas, (jet tempur) generasi berikutnya observability-nya rendah," kata Aboulafia. "Dan pasti kembali ke supercruise, yang kami miliki di F-22, tetapi tidak dimiliki F-35."
"Mungkin
akan kembali ke penekanan pada kinematika, kemampuan untuk meluncurkan
rudal dengan kecepatan ekstra di belakangnya," imbuh Aboulafia.
"Tapi, apa yang mungkin paling penting adalah apa yang Anda sebut hyperconnectivity," sambung Aboulafia. "Jadi, bukan saja Anda menerima data real-time instan dari sensor tempel, tetapi juga menyatu di depan Anda, sehingga pilot dapat bekerja dengan loyal wingman—pada dasarnya pesawat tanpa awak yang dapat melakukan penawaran pada Anda di medan perang," paparnya.
Aboulafia
mengatakan bahwa pengembangan pesawat ini harus terus-menerus
berkomunikasi tentang apa yang mungkin perlu diganti atau diperbaiki.
"Semua ini sangat tidak dapat dihindarkan (dengan) peluang rendah untuk
macet, (dan) kemungkinan intersepsi yang rendah. Musuh akan mencoba
memacetkan semuanya," katanya. Potensi Kerugian Laser
Menurut Aboulafia, tidak semua teknologi baru yang digunakan untuk pesawat tempur generasi keenam akan bermanfaat bagi pesawat.
"Adapun
soal laser berenergi tinggi, itu bisa dibayangkan," kata
Aboulafia."Tetapi pergi ke tempat itu telah memakan waktu sangat lama
dan mungkin akan terus memakan waktu yang sangat lama," paparnya mengacu
pada efektivitas pengembangan senjata laser untuk jet tempur.
Aboulafia menyoroti potensi bahaya dari senjata semacam itu. “Berapa
kisaran dari objek ini?," dia bertanya secara retoris. "Saya tidak tahu,
tetapi setelah Anda menembakannya, lebih baik Anda berhati-hati."
"Sebuah rudal air-to-air
yang benar-benar baik bisa mencapai 30, 40, 50 mil," kata Aboulafia.
“Anda melakukannya dengan laser, (dan) mungkin ada berbagai macam
komplikasi karena apa pun yang ada di jalurnya mungkin terhantam,"
paparnya.
Aboulafia mengaku tidak mendukung sistem tanpa awak pada jet tempur siluman.
"Saya
selalu membenci ide itu. Kendaraan tempur tanpa awak yang sempurna
adalah rudal," kata Aboulafia. "Jika Anda memiliki aset yang ingin Anda
lestarikan, maka memiliki seorang pilot di kokpit adalah kebijakan
jaminan yang paling efektif soal biaya, jika Anda melakukan sesuatu yang
melibatkan penetrasi jarak jauh seperti pembom, secara opsional tanpa
awak membuat semua di dunia mendapat kesempatan yang sangat bagus, itu
adalah perjalanan satu arah," terang dia.
"Tapi sebuah jet
tempur? Mengapa Anda tidak menggunakan banyak rudal? Dengan kata lain,
jika Anda berbicara tentang aset senilai USD100 juta, memiliki seseorang
di dalamnya adalah cara yang baik untuk melestarikannya," katanya.
Meskipun
demikian, Aboulafia mengatakan bahwa laser dan sistem tanpa awak ada
pada daftar kemungkinan pada pengembangan jet tempur siluman generasi
berikutnya.
Aboulafia berharap pesawat tempur generasi keenam
dapat terbang antara Mach 2.2 (2.695 km/jam) hingga Mach 2.5 (3.062
km/jam). "Anda akan melihat pesawat terbang ini pada sekitar akhir
2020-an dan mulai beroperasi pada pertengahan 2030-an," ujarnya, yang
dilansir Minggu (8/4/2018).
Sejumlah rudal dan personel militer Rusia saat parade militer tahun lalu. Foto/Sputnik/Maksim Blinov
MOSKOW
- Parade militer Rusia akan digelar di Red Square pada 28 Maret 2018.
Moskow menjanjikan pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya
dengan memamerkan persenjataan termutakhir mulai dari jet tempur Su-57
hingga kendaraan tempur lapis baja BMPT Terminator.
Para demiliter tahun ini didedikasikan untuk memperingati 72 tahun kemenangan negara itu dalam Perang Patriotik Besar.
Lebih
dari 10.000 tentara, lebih dari 120 kendaraan dan lebih dari 70
pesawat, termasuk lebih dari setengah lusin peralatan tempur yang belum
pernah terlihat sebelumnya telah disiapkan untuk tampil di Red Square.
Panglima
Angkatan Darat Rusia Kolonel Jenderal Oleg Salyukov membocorkan
peralatan tempur canggih yang akan dipamerkan tersebut dalam sebuah
wawancara dengan Krasnaya Zvezda, surat kabar resmi kementerian pertahanan setempat, yang dikutip Minggu (8/4/2018).
Menurutnya, kendaraan lapis baja BMPT Terminator, sistem rudal surface-to-air
Tor-M2, kendaraan Typhoon-K MRAP, skema mobilitas infanteri kendaraan
Garda Nasional GAZ Tigr, truk Ural-432009 6x6, dan kendaraan MRAP Patrul
juga akan ditampilkan.
Peralatan militer lainnya yang disiapkan
antara lain kendaraan lapis baja pengangkut personel militer Rakushka,
kendaraan tempur infanteri BMP-3, Msta-S self-propelled howitzer, sistem rudal anti-pesawat Buk-M2, Pantsir-S1, sistem rudal taktis Iskander-M, dan sistem rudal balistik antar benua mobile, tank armata, Boomerang dan Kurganets IFVs dan lain-lain.
Khusus
untuk pesawat tempur yang akan ditampilkan jumlahnya mencapai lebih
dari 70 unit, termasuk sepasang jet tempur siluman generasi kelima
Su-57. Momen itu akan menjadi penampilan kedua jet tempur Su-57 setelah
beberapa waktu lalu terlihat bermanuver di wilayah udara Suriah.
Parade
militer tak hanya digelar 28 Maret, tapi juga pada April dan Mei. Rusia
dan republik lain dari bekas Uni Soviet bisanya merayakan Hari
Kemenangan (Victory Day) pada 9 Mei untuk menandai kemenangan Sekutu
atas Nazi Jerman pada 9 Mei 1945.
Rostec
percaya sanksi baru Amerika Serikat terhadap perusahaan senjata Moskow
untuk mendepak Rusia dari pasar senjata dunia. Foto/Sputnik/Evgeny
Biyatov
MOSKOW
- Rostec, perusahaan teknologi milik negara Rusia, percaya ada tujuan
jelek dari Amerika Serikat (AS) saat menjatuhkan sanksi sepihak terhadap
perusahaan pertahanan utama Moskow. Menurut perusahaan itu, tindakan
Washington sebagai persaingan tak sehat untuk menendang Rusia dari pasar
senjata dunia.
Rosoboronexport, perusahaan pertahanan utama
Moskow telah ditargetkan oleh serangkaian sanksi terbaru Amerika
Serikat."Pembatasan AS telah mengungkap tujuan sebenarnya dari sanksi
ini," kata pihak Rostec kepada media Moskow.
"Semua tuduhan
Washington terhadap Moskow hanya sebuah alasan untuk mendorong Rusia
keluar dari pasar senjata global," lanjut Rostec, seperti dikutip Russia Today, Minggu (8/4/2018)."Langkah AS sebagai persaingan tidak sehat."
Rosoboronexport,
yang dikendalikan oleh Rostec, selama ini terlibat dalam perdagangan
teknologi dan senjata militer dunia. Perusahaan ini ikut andil dalam
prestasi Moskow sebagai ekportir senjata terbesar kedua dunia setelah
AS.
Seperti diketahui, pada hari Jumat, Departemen Keuangan AS
memberlakukan sanksi terbaru terhadap Moskow atas berbagai tuduhan,
termasuk serangan racun saraf Novichok terhadap mantan agen ganda Sergei
Skripal di Salisbury, Inggris.
Total ada 24 tokoh dan pejabat
Rusia serta 14 entitas yang masuk dalam daftar target sanksi Washington.
Selain Rosoboronexport, sanksi Washington juga menargetkan beberapa
perusahaan energi utama Rusia, seperti En + atau Eurosibenergo, serta
kelompok industri yang beragam.
Beberapa pengusaha dan pejabat
tinggi Rusia, termasuk Menteri Dalam Negeri Vladimir Kolokoltsev dan
mantan kepala FSB Nikolay Patrushev tak luput dari sanksi baru
Washington.
Tindakan AS ini dilakukan di saat ekspor senjata
Rusia tumbuh untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Pada bulan Oktober
2017, lebih dari tiga puluh perusahaan, termasuk Rostec sendiri,
dimasukkan dalam daftar target sanksi Washington.
AS selama ini
juga prihatin dengan fakta bahwa Rusia berhasil menembus pasar sekutu
dekat dan pembeli utama senjata utama Washington, khususnya di Timur
Tengah. Persenjataan Rusia telah menarik perhatian Bahrain, Mesir,
Maroko, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Tunisia.
Arab Saudi, yang
sejauh ini pembeli terbesar senjata AS, telah menyegel berbagai kontrak
senjata dengan Rusia pada Oktober 2017 setelah Raja Salman bin
Abdulaziz al-Saud mengunjungi Moskow.
Kesepakatan itu termasuk
pembelian sistem rudal anti-pesawat S-400, rudal anti-tank, sistem
senjata api berat, peluncur granat, serta senapan serbu Kalashnikov
AK-103. Kontrak dengan Arab Saudi itu bernilai lebih dari USD3 miliar.
Pada
2017, Uni Emirat Arab (UEA) berencana membeli lebih dari satu skuadron
jet tempur Su-35. Rusia dan UAE juga berencana mengembangkan pesawat
tempur ringan berbasis jet MiG-29.
Pada Januari 2018, Duta Besar
Qatar untuk Rusia, Fahad bin Mohammed Al-Attiyah, mengatakan bahwa
negaranya berada pada tahap lanjut negosiasi pembelian sistem rudal
anti-pesawat S-400 Rusia. Diplomat itu juga memuji perjanjian kerja sama
militer yang ditandatangani oleh Doha dan Moskow pada Oktober 2017.
Turki yang merupakan sekutu AS di keanggotaan NATO juga membeli sistem
rudal S-400 dari Moskow. Presiden Vladimir Putin yang baru-baru ini
berkunjung ke Ankara sepakat memajukan pengiriman unit sistem rudal
S-400 dari 2020 menjadi Juli 2019.
Helikopter Apache AH-64E milik militer Amerika Serikat. Foto/US Air Force/File Photo
WASHINGTON
- Dua tentara Amerika Serikat (AS) tewas dalam kecelakaan helikopter
militer di fasilitas pelatihan Fort Campbell di negara bagian Kentucky.
Insiden ini menambah daftar rentetan kecelakaan pesawat militer termasuk
jet tempur F-16 dalam beberapa hari terakhir yang juga memakan korban
jiwa.
Otoritas militer AS di Fort Campbell dalam sebuah
pernyataan hari Sabtu waktu setempat mengonfirmasi bahwa helikopter
militer jenis Apache jatuh di area pelatihan.
"Pada sekitar 21.50
Jumat malam, dua tentara dari 101 Aviat Aviation Brigade (Divisi
Airborne ke-101) tewas dalam kecelakaan helikopter Apache AH-64E di area
pelatihan lokal di Fort Campbell. Nama korban tidak akan dirilis sampai
24 jam setelah pemberitahuan keluarga terdekat selesai," bunyi
pernyataan militer.
"Ini adalah hari kesedihan bagi Fort Campbell
dan Airborne ke-101," imbuh Brigadir Jenderal Todd Royar, wakil
komandan jenderal Divisi Airborne ke-101.
Investigasi untuk mengetahui penyebab kecelakaan maut ini sedang diluncurkan.
Ketua
Komite Layanan Bersenjata Parlemen AS, Mac Thornberry, menyebut
kematian dua tentara dalam kecelakaan helikopter Apache di Kentucky
sangat memilukan, terlebih hanya berselang beberapa hari dari rentetan insiden serupa.
"Berduka
atas hilangnya para pria dan wanita kami yang berseragam,"
katanya."Kematian tragis pasukan yang tewas dalam kecelakaan penerbangan
selama sebulan terakhir sangat memilukan," ujarnya.
"Apa yang
telah terbukti bagi saya untuk beberapa waktu sekarang menjadi jelas
bagi rakyat Amerika. Kesiapan militer kita berada pada titik krisis,"
katanya.
Komentar Thornberry muncul setelah serangkaian
kecelakaan udara militer AS dalam beberapa hari terakhir. Total sudah
ada tujuh anggota layanan militer AS tewas dalam rentetan kecelakaan
pesawat jet tempur dan helikopter militer.
Dia menekankan kepada Pentagon untuk menjadikan rentetan kasus kecelakaan ini sebagai prioritas tertinggi.
"Kongres
memberikan suara untuk memberi pasukan kami dana yang mereka butuhkan
untuk mulai mengubah krisis ini," katanya, seperti dikutip CNN,
Minggu (8/4/2018). "Tidak ada prioritas yang lebih tinggi untuk
Departemen Pertahanan ketimbang memastikan bahwa pesawat kami aman dan
pilot mendapatkan pelatihan yang mereka butuhkan."
Arab Saudi berhasil menghancurkan rudal balistik milisi Houthi di atas wilayah Najran. Foto/Istimewa
RIYADH
- Pasukan pertahanan udara Arab Saudi kembali berhasil menggalkan
serangan rudal kelompok pemberontak Yaman, Houthi. Pasukan Saudi
berhasil menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan milisi Houthi
dari Yaman di atas wilayah Najran.
Serangan ini terjadi hanya
berselang dua minggu dari serangan yang sama. Saat itu, milisi Houthi
menghujani Saudi dengan tujuh rudal yang kesemuanya berhasil digagalkan.
Ini merupakan serangan rudal keempat kalinya yang dilakukan milisi Houthi dari Yaman dalam lima bulan terakhir.
Sementara
itu puluhan milisi Houthi tewas pada Jumat kemarin dalam serangan
pasukan koalisi dan pertempuran di Bayda, Yaman tengah. Selain itu 13
milisi Houthi lainnya ditangkap seperti dikutip dari laman Al Arabiya, Sabtu (7/4/2018).
Di
sisi lain, pasukan tentara Yaman dengan dukungan dari pesawat koalisi
Arab mampu membebaskan gunung Mas'udah di Qanya timur, Bayda.
Pasukan
koalisi Arab pimpinan Arab Saudi saat ini mengintensifkan serangan
udara dengan menargetkan situs dan depot senjata milik Houthi di
berbagai bagian provinsi Bayda.
Menurut sumber-sumber di
lapangan, serangan tersebut menyebabkan tewasnya sejumlah anggota
milisi, termasuk pemimpin Houthi yang disebut "Abu Qusay."
Tentara Yaman terus bergerak maju dengan mengendalikan sejumlah situs di mana milisi Houthi berbasis di Qanya.
Pengadilan Jerman meniali mengekstradisi
Puigdemont merupakan tindakan ilegal dengan alasan dia tidak secara
pribadi terlibat dalam kekerasan selama referendum. (REUTERS/Ivan
Alvarado).
Jakarta, CB -- Pengadilan Jerman menolak
untuk mengekstradisi mantan Presiden Catalonia Carles Puigdemont atas
tuduhan pemberontakan. Keputusan ini menjadi pukulan besar bagi Spanyol
dan pemerintah Perdana Menteri Mariano Rajoy.
"Konsekuensinya sangat besar," kata Josep Ramoneda, seorang filsuf Katalan dan analis politik.
"Ini kemunduran serius bagi peradilan dan khususnya bagi Rajoy, dan dorongan untuk gerakan pro-kemerdekaan," ujar Josep dikutip AFP, Sabtu (7/4).
Spanyol bulan lalu mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk
Puigdemont atas tuduhan pemberontakan, pelanggaran, dan penyalahgunaan
dana publik untuk perannya dalam upaya pemisahan diri Catalonia yang
gagal Oktober lalu.
Puigdemont, yang telah tinggal di pengasingan
di Belgia sejak saat itu, kemudian ditangkap ketika ia melakukan
perjalanan ke Jerman.
Kemudian pada hari Kamis, pengadilan Jerman
membebaskannya dengan jaminan dan mengumumkan bahwa mereka tidak akan
mengirimnya kembali ke Spanyol atas tuduhan pemberontakan.
Para hakim menilai, mengekstradisi
Puigdemont merupakan tindakan ilegal. Pengadilan beralasan Puigdemont
tidak secara pribadi terlibat dalam kekerasan selama referendum
kemerdekaan Catalan.
Hal itu membuat tindakan Puigdemont tidak
dapat dihukum berdasarkan hukum Jerman. Para hakim mengatakan dalam
sebuah pernyataan, menolak argumen jaksa bahwa tuduhan pemberontakan di
Spanyol cukup mirip dengan undang-undang pengkhianatan Jerman.
Adapun
penangkapan Puigdemont di Jerman menimbulkan demonstrasi di Catalonia,
Minggu malam lalu. Mereka menentang penangkapan Puigdemont dalam aksi
yang berujung pada bentrokan dengan polisi.
Di luar kantor pemerintahan pusat, polisi antihuru-hara memukuli
demonstran yang mengibarkan bendera Catalonia. Sekitar 100 orang terluka
di seluruh penjuru wilayah, termasuk 23 anggota kepolisian Spanyol.
Sementara itu, sembilan warga ditangkap.
Gelombang protes itu
menyusul keputusan Mahkamah Agung Spanyol pada Jumat, yang menyatakan 25
pemimpin Catalan, termasuk Puigdemont, akan disidang atas dugaan
pemberontakan, penggelapan atau penentangan terhadap pemerintah, terkait
referendum kemerdekaan Oktober lalu.