Jumat, 14 September 2018

Berubah Lagi, Spanyol Lanjutkan Penjualan 400 Bom ke Saudi


Berubah Lagi, Spanyol Lanjutkan Penjualan 400 Bom ke Saudi
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (kiri) bersalaman dengan Menteri Pertahanan Spanyol Maria Dolores Cospedal pada 12 April 2018. Foto/REUTERS/File Photo

MADRID - Pemerintah Spanyol mengubah kebijakannya hanya dalam hitungan hari. Negara itu melanjutkan penjualan 400 bom yang dipandu laser ke Arab Saudi setelah sebelumnya membatalkannya.

Beberapa hari lalu kesepakatan senilai 9,2 juta Euro dihentikan pihak Madrid di tengah kekhawatiran atas penggunaan senjata tersebut dalam perang di Yaman.

Menteri Luar Negeri Spanyol Josep Borrell pada hari Kamis mengumumkan perubahan kebijakan. Dia mengatakan, pemerintah telah meninjau kontrak dan merasa harus menghormatinya.

Keputusan itu muncul setelah para pekerja di galangan kapal Navantia milik negara di Spanyol selatan berunjuk rasa. Mereka berpendapat bahwa membatalkan kontrak akan menyebabkan pemerintah Saudi mundur dari kesepakatan pembelian lima kapal perang senilai 1,8 miliar Euro.



“Setelah satu minggu kerja intensif oleh berbagai kementerian, termasuk kementerian luar negeri, keputusannya adalah bahwa bom ini akan dikirimkan untuk menghormati kontrak dari 2015, yang dibuat oleh pemerintah sebelumnya dan di mana tidak ada ketidakberesan yang terdeteksi yang akan menghentikannya," kata Borrell kepada radio Onda Cero.


Menteri Borrel mengatakan kontrak telah ditinjau secara menyeluruh oleh berbagai kementerian dan diperiksa tiga kali oleh komisi antardepartemen yang mengawasi penjualan senjata.

Ditanya apakah pemerintah Saudi telah menyarankan pembelian kapal perang itu tergantung pada kesepakatan bom, Borrell mengatakan; “Arab Saudi melihat kesepakatan persenjataannya sebagai bagian dari hubungan keseluruhannya."

“Kementerian pertahanan dan kementerian luar negeri telah membicarakan hal ini dan menganalisanya selama seminggu. Dan saya pikir kami telah sampai pada kesimpulan bahwa kontrak ini harus dihormati," ujarnya, seperti dikutip The Guardian, Jumat (14/9/2018).

Amnesty International dan ahli PBB telah mengkritik penjualan senjata ke Arab Saudi, negara yang memimpin Koalisi Arab yang memerangi pemberontak Houthi Yaman.

Ditanya apakah pemerintah Spanyol menerima jaminan bahwa bom yang dijual itu tidak akan digunakan terhadap warga sipil di Yaman, Borrell bersikeras bahwa bom tersebut adalah senjata presisi yang akurat untuk jangkauan dalam satu meter dari targetnya.

"Itu berarti bahwa dengan senjata semacam ini Anda tidak akan mendapatkan pemboman yang Anda dapatkan dengan senjata yang kurang canggih yang dijatuhkan secara acak dan yang menyebabkan jenis tragedi yang kita semua kutuk," katanya. 

Borrell mengatakan pengumuman pekan lalu bahwa kesepakatan itu dihentikan karena ada kebingungan di internal kementerian pertahanan.

"(Kementerian) telah memeriksa semua kontrak dan berpikir telah menemukan sesuatu yang perlu dilihat dalam hal ini," katanya. “Itu bukan penjualan senjata oleh bisnis atau produsen, tetapi bagian dari stok milik angkatan udara kami sendiri. Itu pasti menonjol dan berarti kontrak itu dilihat. Tetapi itu semua informasi yang saya miliki."



Credit  sindonews.com