Jumat, 14 September 2018

Menlu Turki: Milisi Kurdi Bantu Assad di Idlib


Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu saat berbicara di Konferensi Keamanan di Muenchen, Jerman, Ahad (19/2).
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu saat berbicara di Konferensi Keamanan di Muenchen, Jerman, Ahad (19/2).
Foto: Matthias Balk/dpa via AP

Turki menentang tindakan Presiden Assad yang menggelar operasi militer di Idlib



CB, ISTANBUL -- Dalam suratnya kepada New York Times Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan ada kemungkinan kelompok pemberontak Turki milisi YPG Kurdi membantu pemerintah Suriah dalam melancarkan operasi militer mereka ke Provinsi Idlib. Cavusoglu menuduh pemerintah Amerika membantu kelompok pemberontak tersebut.

"Laporan baru menunjukan kelompok teroris YPG yang bekerja dari Suriah telah menerima senjata dan bantuan dari pembayar pajak Amerika, membentuk aliansi dengan Assad dan mengirim tentara sebagai bagian kesepakatan pada bulan Juli lalu untuk membantunya merebut Idlib dari para pemberontak," kata Cavusoglu dalam surat tersebut, Jumat (14/9).

Baik Turki maupun Amerika Serikat sama-sama menentang tindakan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang menggelar operasi militer di Idblib. Mereka telah memperingatkan pemerintah Suriah serangan tersebut dapat mengganggu stabilitas kawasan dan menewaskan penduduk sipil.

Tapi Turki dan Amerika berbeda pendapat tentang YPG. Kelompok milisi tersebut salah satu sekutu kuat Amerika melawan ISIS. Di sisi lain Turki melihat YPG sebagai kelompok teroris dan perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdi yang telah memberontak kepada pemerintah Turki sejak tahun 1980-an.

Sebelumnya Turki telah menegaskan bersama dua sekutu Suriah, yakni Rusia dan Iran tengah berusaha membangun stabilitas di Idlib. Mereka juga terus menentang upaya pemerintah Suriah merebut satu-satunya wilayah yang masih dikuasai oleh pemberontak tersebut dengan kekerasan.

Presiden Turki Tayyip Erdogan bertemu dengan para pemimpin Iran dan Rusia pekan lalu di Teheran, Iran. Tapi ia gagal membujuk kedua negara tersebut untuk meminta Suriah melakukan gencatan senjata di Idlib.





Credit  republika.co.id