Kamis, 27 September 2018

Trump Ingin Solusi Dua Negara untuk Konflik Israel-Palestina



Presiden AS Donald Trump.
Presiden AS Donald Trump.
Foto: AP Photo/Andrew Harnik

Trump mengaku akan mengungkap rencana perdamaian tiga bulan lagi.



CB, NEW YORK -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Rabu (26/9) dia menginginkan solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Pemerintah Trump pernah mengatakan akan mendukung solusi dua negara jika kedua belah pihak menyetujuinya.

Trump, dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Majelis Umum PBB, mengaku akan mengungkap rencana perdamaian dalam dua hingga tiga bulan ke depan. "Saya suka solusi dua negara. Itulah yang menurut saya paling berhasil. Itu yang saya rasakan," kata Trump.

Trump mengatakan kesepakatan yang dibentuk harus adil bagi kedua belah pihak. "Israel mendapat chip pertama dan itu yang besar," ujar Trump soal langkah AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Netanyahu mengatakan setiap negara Palestina di masa depan harus didemiliterisasi dan mengakui Israel sebagai negara orang-orang Yahudi. Namun menurut Palestina, kondisi ini menandakan Israel tidak tulus dalam proses perdamaian.

Sekutu AS di dunia Arab adalah pendukung kuat solusi dua negara. Pada konferensi pers di New York, Rabu, Trump mengatakan dia akan terbuka untuk solusi satu negara jika hal tersebut adalah pilihan pihak itu sendiri.

"Jika Israel dan Palestina menginginkan satu negara, itu tidak masalah bagi saya. Jika mereka menginginkan dua negara, itu tidak masalah bagi saya. Saya senang jika mereka bahagia," katanya.

Trump mengaku ingin memperoleh kesepakatan soal konflik Israel-Palestina sebelum akhir masa jabatannya pada awal 2021. "Saya tidak ingin melakukannya dalam masa jabatan kedua saya. Kami akan melakukan hal-hal lain dalam masa jabatan kedua saya. Saya pikir banyak kemajuan telah dibuat," tambah Trump.

Media Israel melaporkan Netanyahu mengaku tidak terkejut soal pilihan Trump terkait solusi dua negara atas perdamaian dengan Palestina. Yerusalem adalah salah satu masalah utama dalam konflik Israel-Palestina.


Kedua pihak mengklaimnya sebagai ibu kota masing-masing negara. Langkah Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel membuat marah orang-orang Palestina. Sejak saat itu mereka memboikot upaya perdamaian Washington yang dipimpin oleh menantu dan penasehat Trump, Jared Kushner.

Palestina ingin mendirikan negara di Tepi Barat dan Jalur Gaza dan Yerusalem Timur. Israel merebut wilayah-wilayah itu dalam perang Timur Tengah 1967 dan mencaplok Yerusalem Timur dalam sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional. Israel menganggap semua kota sebagai modal abadi dan tak terpisahkan.

"Solusi dua negara berarti bagi kami adalah memiliki negara Palestina di perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Ini adalah satu-satunya cara mencapai perdamaian," kata Nabil Abu Rdainah, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Rdainah mengatakan Palestina ingin menyelesaikan semua masalah inti konflik Israel-Palestina. Menurut resolusi PBB, hal ini meliputi perbatasan, permukiman, pengungsi, keamanan dan status Yerusalem.

Rdainah, berbicara di Ramallah di Tepi Barat yang diduduki. Ia mengatakan Abbas akan membuat posisi Palestina jelas dalam pidatonya kepada Majelis Umum PBB pada  Kamis.



Credit  republika.co.id