Jumat, 13 Oktober 2017

Ilmuwan Penemu Planet Nibiru Meninggal Misterius, Ada Konspirasi?



Ilmuwan Penemu Planet Nibiru Meninggal Misterius, Ada Konspirasi?
Apakah dunia akan segera kiamat?
CB, California - Dua stargazers (orang yang mempelajari bintang) yang diduga menemukan bukti mitos Planet Nibiru atau Planet X disebut meninggal dalam keadaan misterius. Teori mengejutkan mengatakan kematian tersebut adalah bagian dari perlindungan untuk mencegah kebenaran tentang sistem Planet X atau Nibiru keluar ke publik.
Sebelumnya, dari beberapa laporan media mengabarkan David Meade, penulis Planet X, mengklaim bahwa planet yang juga dikenal sebagai Nibiru itu akan datang pada 2017. Kedatangan ini diprediksi akan menyababkan kiamat.
NASA menegaskan bahwa Nibiru adalah tipuan online belaka dan tidak ada bukti yang nyata. Meski begitu, anggota gerakan Nibiru Cataclysm mengatakan bahwa NASA berusaha menutup fakta ini untuk mencegah kepanikan dan cadangan ruang di bunker bawah tanah hanya dipergunakan untuk elite dunia, menurut laporan dari laman express.co.uk, Selasa, 10 Oktober 2017.
Meade mengklaim bahwa setiap ilmuwan yang mengungkapkan Planet X telah menghilang secara misterius. Meade menjelaskan Robert Harrington yang mengawasi astronom US Naval Observatory yang mengaku menemukan bukti Planet X dan astrofisika Australia Rodney Marks yang bekerja di teleskop Kutub Selatan telah meninggal dalam keadaan misterius.

Harrington percaya bahwa Planet X adalah "planet penyusup" yang melewati tata surya kita. Ia juga mengatakan bahwa planet itu mampu mendukung kehidupan alien. Sebagai kepala Observatorium Angkatan Laut AS, Harrington adalah salah satu astronom terkemuka di Amerika.
Sebelumnya, Harrington mengatakan bahwa pergerakan Planet Uranus, Neptunus, dan bulan mereka menunjuk ke planet besar lain di luar Pluto. Ia kemudian diwawancarai Zecharia Sitchin, orang pertama yang mengklaim adanya Nibiru, pada 1990. Sitchin telah menerjemahkan tulisan yang ditulis oleh budaya Timur Tengah kuno Sumeria.
Sitchin mengatakan bahwa mereka menceritakan sebuah planet raksasa bernama Nibiru yang mengorbit matahari setiap 3.600 tahun. Orang Sumeria menyebut Nibiru yang dihuni oleh ras Anunnaki akan melewati tata surya dan menimbulkan malapetaka.
Dalam wawancaranya, Harrington mengatakan planet itu pastilah sebuah planet yang memiliki massa sekitar tiga sampai lima kali massa bumi. "Ini sangat mampu mendukung bentuk kehidupan dari satu jenis atau jenis lainnya," kata dia.

Data dari wahana Voyager 2 di Neptunus membantah perhitungan Harrington pada 1992. Enam bulan kemudian, pada bulan Januari 1993 Harrington meninggal dunia. Dugaan kematiannya karena kanker, namun banyak orang meragukan penyebab tersebut.
Blogger Marshall Masters mengatakan bahwa sebelum meninggal Harrington mengirimkan laporan tentang penemuannya, namun sayangnya sebelum laporan tersebut dipublikasikan, ia telah meninggal karena kanker esofagus. Penganut Nibiru mengklaim bahwa belahan bumi selatan khususnya sekitar Kutub Selatan adalah tempat terbaik melihat Nibiru.
Ilmuwan lain, Rodney Marks, meninggal di Kutub Selatan saat bekerja di Teleskop Submillimeter Antartika dan Observatorium Jarak Jauh di Stasiun Kutub Selatan Amundsen-Scott. Pria berusia 32 tahun itu dikenal sangat sehat, tapi anehnya ia tiba-tiba sakit dalam 36 jam sebelum ia meninggal dunia.
National Science Foundation (NSF), yang mengelola stasiun, telah mengumumkan bahwa Marks meninggal secara alami. Namun, saat otopsi ditemukan bahwa Marks meninggal karena keracunan etanol dan tidak jelas bagaimana dia mengonsumsinya.

Polisi Selandia Baru mengatakan NSF tidak kooperatif, menolak memberikan rincian laporan internal atau mengatakan siapa yang berada di stasiun saat itu. Dokter stasiun tersebut, Robert Thompson, juga menghilang pada 2006.
Meade mengatakan, Marks menghabiskan sebagian besar waktunya mengumpulkan data tentang kondisi pengamatan dan operasi teleskop inframerah yang sangat besar. "Apakah ia meninggal karena tahu terlalu banyak?" kata Meade. Yang jelas, tak ada yang tahu apakah teori tersebut benar.




Credit  tempo.co