Selasa, 31 Oktober 2017

Berantas Sisa ISIS, Duterte Rekrut 10 Batalion Militer Baru


Berantas Sisa ISIS, Duterte Rekrut 10 Batalion Militer Baru
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, memerintahkan panglima militer negaranya merekrut dan memimpin 10 batalion baru demi memberangus militan ISIS yang dikhawatirkan masih tersisa di Marawi. (Reuters/Erik De Castro)


Jakarta, CB -- Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, memerintahkan panglima militer negaranya, Rey Leonardo Guerrero, untuk merekrut dan memimpin 10 batalion baru demi memberangus militan ISIS yang dikhawatirkan masih tersisa di Marawi.

"Kami diinstruksikan untuk mengatur puluhan batalion tambahan. Kami benar-benar berniat menekan dan mempertahankan usaha mengalahkan semua [militan] dan menyelesaikan resolusi konflik bersenjata di negara ini," ucap Guerrero, Minggu (29/10).

Langkah ini dilakukan menyusul peringatan Duterte kepada angkatan bersenjatanya untuk tetap waspada ancaman teror meski militer telah menaklukkan ISIS setelah bertarung selama lima bulan di Marawi.



Duterte pun sudah mendeklarasikan Marawi bebas dari cengkraman ISIS pada 17 Oktober lalu, tak lama setelah militer membunuh Isnilon Hapilon, pemimpin Abu Sayyaf yang disebut-sebut sebagai "emir" ISIS di Asia Tenggara.


Omarkhayam Maute, salah satu pemimpin kelompok pemberontak Maute yang berbaiat kepada ISIS, juga dilaporkan tewas dalam operasi itu. Konflik lima bulan yang sudah menewaskan 1.100 orang, termasuk 165 anggota angkatan bersenjata, pun dinyatakan usai.

Selain ISIS, Guerrero juga diinstruksikan presiden untuk memberantas sejumlah kelompok pemberontak lain, seperti Tentara Rakyat Baru yang memiliki sekitar 4.000 personel.



Pemerintah juga telah bernegosiasi dengan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan meminta kelompok separatis tersebut membantu militer memberangus kelompok pemberontak kecil lainnya yang berbaiat kepada ISIS di negara itu.

MILF sendiri sebelumnya juga melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Namun, mereka akhirnya melaksanakan perundingan damai dengan pemerintah.

Perundingan itu sempat terhenti karena Filipina berkonsentrasi memberantas sejumlah serangan teror. Kini, Guerrero memastikan bahwa perundingan damai itu akan tetap berlanjut.

"Kami juga telah memiliki jadwal serta target yang jelas dan saya berniat memenuhi itu. Militer memiliki program jangka panjang dan itu semua akan berjalan tanpa bergantung siapa pemimpinnya," ujar Guerrero, sebagaimana dikutip Reuters.




Credit  cnnindonesia.com