Selasa, 31 Oktober 2017

AS, Jepang, dan Korsel Rundingkan Korut


Nuklir Korea Utara.
Nuklir Korea Utara.


CB, HAWAII -- Pejabat senior pertahanan Amerika Serikat (AS), Korea Selatan (Korsel), dan Jepang menggelar perundingan trilateral di markas Komando Pasifik AS di Hawaii, Ahad (29/10). Pejabat pertahanan dari ketiga membahas tentang krisis dan pengembangan senjata oleh Korea Utara (Korut).
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS Joseph Dunford. Ia bersama pejabat-pejabat militer dari Korsel dan Jepang saling bertukar pandangan mengenai uji coba rudal balistik serta rudal jarak jauh oleh Pyongyang.

"Bersama-sama mereka meminta Korut menahan diri dari provokasi yang tidak bertanggung jawab yang dapat memperburuk ketegangan regional serta agar menjauh dari jalur yang rusak dan ceroboh," kata markas Komando Pasifik AS dalam sebuah pernyataan.

Pada 11 Oktober lalu, Menteri Luar Negeri Korea Utara (Korut) Ri Yong-ho menuding Presiden AS Donald Trump telah menyalakan sumbu perang terhadap negaranya. Ia menilai, perselisihan dan perseteruan antara Korut dengan AS memang tak bisa lagi diselesaikan dengan kata-kata.

Ri Yong-ho menyoroti pernyataan Trump ketika berpidato di Majelis Umum PBB pada September lalu. Kala itu, Trump dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tak akan segan untuk mengahncurkan Korut bila berani menyerang AS atau sekutunya, yakni Jepang dan Korsel.

"Dengan pernyataannya yang berani dan gila di PBB, Trump, bisa Anda katakan, telah menyalakan sumbu perang melawan kita," ujar Ri Yong-ho seperti dilaporkan laman The Independent.

Menurutnya, dialog memang tak mungkin lagi dapat menyelesaikan masalah antara Korut dan AS. "Kita harus menyelesaikan skor akhir hanya dengan hujan api, bukan dengan kata-kata," ucap Ri Yong-ho menjelaskan.

Walaupun telah dijatuh sanksi bertubi-tubi oleh Dewan Keamanan PBB, Korut menyatakan tak akan menghentikan program nuklir dan rudalnya. Mereka mengklaim pembangunan rudal dan nuklir dilakukan untuk kepentingan pertahanan dalam merespons ancaman agresi AS.




Credit  REPUBLIKA.CO.ID