Selasa, 31 Oktober 2017

WFP: makanan jadi "senjata perang" di Yaman


WFP: makanan jadi
Sejumlah perempuan mengambil air minum dari keran umum saat terjadi wabah kolera di Sanaa, Yaman, Jumat (13/10/2017). (REUTERS/Mohamed al-Sayaghi/djo/17)



Riyadh, Arab Saudi (CB) - Di luar serangan udara, baku tembak dan blokade pelabuhan, makanan kini menjadi bagian dari "senjata perang" di Yaman, kata Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), karena jutaan orang menghadapi bencana kelaparan yang akan datang.

"Yaman di ambang kelaparan. Kolera memperparah krisis pangan dramatis. Makanan digunakan sebagai senjata perang," kata pejabat WFP Elisabeth Rasmussen dalam konferensi mengenai bantuan untuk Yaman yang diselenggarakan oleh Arab Saudi pada Minggu.

Konflik Yaman sudah merenggut lebih dari 8.650 korban jiwa sejak 2015, saat koalisi militer pimpinan Arab Saudi bergabung dalam perang pemerintah melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran dan sekutu mereka, mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Lama menjadi negara termiskin di dunia Arab, konflik di Yaman menyebabkan tujuh juta orang berisiko kelaparan dan sekitar 17 juta orang -- 60 persen dari keseluruhan populasi -- menghadapi kerawanan pangan menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sebanyak 2.100 orang sudah meninggal karena kolera sejak April karena rumah sakit kesulitan mendapatkan pasokan kebutuhan pokok di tengah blokade di pelabuhan-pelabuhan dan bandara internasional utama negara tersebut.

Kedua pihak dalam konflik itu dituduh gagal melindungi warga sipil dalam situasi yang disebut PBB sebagai "krisis kemanusiaan terbesar di dunia".

Koalisi pimpinan Saudi, yang menguasai wilayah udara Yaman dan beberapa pelabuhan, bulan ini dimasukkan ke dalam daftar hitam PBB karena "pembunuhan dan membuat anak-anak cacat".

Sementara jalanan di dalam ibu kota Yaman dikendalikan oleh Houthi dan bekas presiden Saleh, perjalanan menuju bandara Sanaa berada di bawah kendali koalisi dan membatasi pemilihan penerbangan untuk bantuan.

Kelompok-kelompok bantuan sudah memperingatkan bahwa penutupan bandara internasional Sanaa menghambat pengiriman pasokan barang-barang yang sangat dibutuhkan, yang sekarang harus diangkut melalui pelabuhan Laut Merah, Hodeida.

"Semua pihak yang berkonflik harus memberikan akses kemanusiaan yang aman, tanpa hambatan, dan berlanjut bagi orang-orang yang membutuhkan, melalui semua pelabuhan, bandara khususnya melalui pelabuhan Hodeida dan bandara Sanaa serta lewat darat," kata Mark Lowcock, wakil sekretaris jenderal PBB urusan kemanusiaan.

"Orang-orang yang memiliki kewenangan di Sanaa  biasanya menolak memberi akses ke personel badan-badan kemanusiaan untuk masuk ke negara itu," kata Lowcock sebagaimana dikutip kantor berita AFP.




Credit  antaranews.com