Orator
bebicara saat aksi Majelis Pembela Tanah Suci, melakukan unjuk rasa di
depan Kedutaan Besar Republik Iran, Jakarta, 14 Apri 2015. Dalam aksi
damai tersebut mereka mengecam dan mendesak Iran untuk menghentikan
penyebaran revolusi radikalismenya ke seluruh negara-negara Islam.
TEMPO/Imam Sukamto
CB,
Seattle, AS - Indonesia,
negeri yang memiliki jumlah penduduk Islam terbesar se-dunia, dianggap
menjadi model bagi negara lain dalam mengembangkan demokrasi. Ini karena
mayoritas kalangan Islam Indonesia adalah kalangan yang mendukung
nilai-nilai demokrasi dan pluralisme. Pendapat itu muncul dalam
simposium bertema: “Approaches to Religious Violence, Radicalism, and
Deradicalization: Perspectives from the US and Indonesia” di University
of Washington, Seattle, Amerika Serikat, Selasa (18/10). Simposium
menghadirkan antropolog dan professor kajian wilayah Asia dari
University of Puget Sound
Gareth Barkin. Ikut berbicara dalam acara ini adalah Mark Smith,
pengajar Ilmu Politik UW dan James Wellman, pakar bidang perbandingan
agama, juga dari University of Washington.
Dalam acara itu,
pakar dari Indonesia juga tampil berbicara. Mereka adalah Ketua Program
Middle Eastern and Islamic Studies UC-Riverside Muhammad Ali, Tonny
Pariela professor sosiologi Universitas Pattimura, dan Muhammad Wildan,
pengajar dan peneliti mengenai politik Islam dari UIN Sunan Kalijaga.
Acara ini terselenggara atas kerjasama Konsulat Jenderal RI San
Francisco dan University of Washington.
Konsul Jenderal RI Ardi
Hermawan saat membuka acara menyatakan Indonesia merupakan model bagi
dunia internasional. “Umat Islam Indonesia mayoritas adalah Islam
moderat, demokratis”. Simposium ini adalah rangkaian dari simposium
bertema serupa di beberapa kampus di Amerika. Sabtu lalu (15/10), acara
ini juga berlangsung di Portland State University, Oregon (baca:
Seminar di Portland: Indonesia Contoh Sukses Deradikalisasi).
Pada
pembahasan di dua sesi simposium yang dihadiri oleh 102 peserta ini,
para pembicara menyampaikan bahwa penanganan kelompok teroris di
Indonesia telah berjalan dengan sukses. Ini antara lain karena a
Indonesia tidak memiliki pemerintahan yang represif. “Indonesia juga
berhasil melakukan pendekatan de-radikalisasi yang tepat untuk menekan
kelompok radikal di tingkat akar rumput,” ujar Muhammad Ali.
Sedangkan
Tonny Pariela dan Muhammad Wildan memaparkan sejumlah hasil penelitian,
pengamatan dan temuan di lapangan yang menunjukkan bahwa Islam di
Indonesia adalah Islam yang mencintai perdamaian dan sama sekali tidak
bertentangan dengan demokrasi.
“Memang ada sekelompok kecil masyarakat di Indonesia yang belum
percaya dengan demokrasi, namun cepat atau lambat semua akan sepakat
bahwa demokrasi merupakan model politik terbaik bagi semua negara, tidak
terkecuali Indonesia,” demikian kata Wildan.
Para pembicara sepakat bahwa sekolah dan perguruan tinggi memegang
peranan penting untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai
demokrasi. Sekolah juga bisa berperan mencegah tumbuhnya benih-benih
ekstrimisme di kalangan generasi muda.
Credit
TEMPO.CO
Seminar di Portland: Indonesia Contoh Sukses Deradikalisasi
Puluhan
ribu warga Sukoharjo yang didominasi pelajar SLTA dan orgnisasi masa
berkumpul di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, 29 Juli 2016. Dengan
dipimpin oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mereka mendeklarasikan
anti radikalisme dan mengecam praktik bom bunuh diri di Mapolresta Solo
jelang Lebaran lalu. Acara deklarasi tersebut juga dicatat oleh Museum
Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori peserta terbanyak yaitu 26.955
orang. Bram Selo Agung/Tempo
CB, San Fransisco - Indonesia bisa menjadi
contoh keberhasilan melakukan upaya deradikalisasi bagi negara-negara
lain. Upaya ini akan terus dilakukan, termasuk dengan memperkuat program
deradikalisasi di tingkat akar rumput. Kesimpulan itu mengemuka dalam
seminar “Deradicalizing Radicalization: Learning from Interfaith
Peacebuilding in Indonesia and The United States” yang berlangsung di
Portland State University, negara bagian Oregon, Amerika Serikat, Sabtu,
15 Oktober 2016.
Dalam seminar yang diselenggarakan oleh
Konsulat Jenderal Republik Indonesia San Francisco berkerjasama dengan
Portland State University (PSU) ini, Roger Paget, Indonesianis dari
Lewis and Clark College, Portland, Oregon, mengatakan negara-negara lain
sudah sepantasnya mencontoh Indonesia. “Indonesia sukses meredam
aksi-aksi teror yang saat ini banyak dipengaruhi ISIS” kata Paget.
Selain Paget, akademisi Amerika yang hadir adalah Amanda Byron, ahli
resolusi konflik, studi perdamaian dan genosida, serta Harry Anastasiou,
pakar hubungan internasional–keduanya dari Portland State University.
Ada pun akademisi Indonesia yang berbicara adalah Tonny Pariela dari
Universitas Pattimura di Ambon dan Muhammad Wildan dari UIN Sunan
Kalijaga di Yogyakarta.
Pariela menyampaikan bagaimana konflik
komunal masyarakat di Ambon pada 1999 hingga 2001 silam merupakan
konflik berdarah yang terburuk di Maluku, serta bagaimana pemerintah dan
masyarakat lokal dapat menyelesaikan melalui konsep deradikalisasi yang
menggunakan kearifan lokal.
Sedangkan Wildan mengungkapkan
berbagai aksi radikalisme di Indonesia yang dipengaruhi ISIS. Wildan
menjelaskan bagaimana pola rekrutmen pemuda-pemuda di Indonesia agar
bersimpati terhadap ISIS, dan bagaimana kelompok madani dan pemerintah
Indonesia menggunakan berbagai pendekatan untuk meredamnya. “Saat ini,
Indonesia sudah memasuki era Post-Islamism atau Islam yang menjunjung
tinggi demokrasi,” kata dia.
Adapun Paget, Byron, dan
Anastasiou masing-masing menampilkan berbagai perspektif mengenai konsep
radikalisasi yang terjadi di Amerika. Mereka mengakui keberhasilan
Indonesia dalam melakukan deradikalisasi ketika menanggulangi paham
radikal dan ekstrem.
Seminar di perguruan tinggi negeri di Portland ini mengamini penting dan efektifnya pendekatan
soft approach
dalam meredam benih-benih radikalisme di generasi muda, baik di
Indonesia, Amerika, maupun negara-negara lainnya. Hal inilah yang
menyebabkan konsep deradikalisasi yang dipopulerkan oleh Indonesia
menjadi semakin relevan dalam menciptakan keamanan dan perdamaian dunia.
Dalam kesempatan yang sama, Konsul Jenderal Indonesia untuk San
Fransisco Ardi Hermawan menyampaikan bahwa seminar ini penting sebagai
medium berbagi konsep deradikalisasi Indonesia kepada kaum intelektual
di Amerika. “Forum ini menjadi penting karena Indonesia dan Amerika
saling belajar bagaimana pemerintah masing-masing negara mengatasi aksi
kekerasan sehingga perlu melibatkan sekolah, perguruan tinggi, maupun
pemimpin agama di tingkat akar rumput,” ujar Ardi.
Credit
TEMPO.CO