Presiden Venezuela, Nicolas Maduro (kanan) dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (kiri). Reuters
CB, Ankara – Pemerintah Turki melaporkan nilai ekspor ke Venezuela pada 2018 meningkat nyaris tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Berdasarkan
data dari Asosiasi Eksportir Aegean, nilai ekspor Turki ke Venezuela
tercatat sebesar US$120.8 juta atau sekita Rp1.7 triliun.
Sementara ekspor pada 2017 hanya tercatat US$37.4 juta atau sekitar Rp526 miliar. Ini kenaikan sekitar 223 persen.
“Kita membantu Venezuela seperti yang kita lakukan terhadap Qatar
saat mengalami embargo oleh negara tetangga,” kata Mustafa Terci, kepala
sub divisi Sereal dan Minyak dari Asosiasi Eksportir Aegean seperti
dilansir Anadolu pada Rabu, 13 Februari 2019 waktu setempat.
Sejumlah
produk yang diekspor ke Venezuela seperti pasta, minyak bunga matahari,
tepung gandum, dan red lentil. Hubungan Presiden Turki, Recep Tayyip
Erdogan, dan mitranya dari Venezuela, Nicolas Maduro, cukup dekat dan
berimbas pada perdagangan kedua negara. Menurut Terci, kondisi ekonomi
Venezuela saat ini membuat negara itu membutuhkan banyak makanan.
Presiden
Venezuela Nicolas Maduro menyentuh batangan emas ketika dia berbicara
selama pertemuan dengan para menteri yang bertanggung jawab atas sektor
ekonomi di Istana Miraflores di Caracas, Venezuela 22 Maret
2018.[REUTERS / Marco Bello]
Tren
kenaikan ekspor Turki ini masih berlangsung pada awal 2019. Ekspor ke
Venezuela tercatat tumbuh 411 persen menjadi US$8.96 juta pada Januari
2019 dibandingkan periode sama 2018. Terci memprediksi ekspor ke
Venezuela bisa mencapai sekitar US$200 juta atau sekitar Rp2.8 triliun.
Secara terpisah, Reuters melansir hubungan dagang Venezuela
dan Turki meningkat sejak tahun lalu setelah Presiden Nicolas Maduro
bertemu dengan Erdogan di Ankara. Kedua negara bersepakat perusahaan
Turki bakal membeli banyak emas dari Venezuela, yang hasilnya akan
digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan pokoh masyarakat negara
sosialis yang sedang menderita krisis ekonomi ini.
Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau. (REUTERS/Chris Wattie)
Jakarta, CB -- Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau,
terkejut setelah Menteri Urusan Veteran, Jody Wilson-Raybould (47),
mengundurkan diri. Kini pemerintahannya menghadapi krisis politik karena
mantan menterinya itu disebut menolak terlibat menyalahgunakan wewenang
ketika menjabat sebagai Menteri Kehakiman.
Seperti dilansir Reuters,
Rabu (13/2), Raybould mengirimkan sepucuk surat kepada Trudeau yang
berisi dia dengan berat hari mundur dari kabinet berat tanpa memberikan
alasan.
Jody dilaporkan membantu perusahaan konstruksi
SNC-Lavalin Group Inc., menghindari kasus dugaan korupsi yang melibatkan
sejumlah pejabat di Kanada.
Surat kabar Globe dan Mail melaporkan staf kepresidenan Trudeau
mencoba menekan Jody untuk mengatur kesepakatan agar perusahaan itu
lolos dari denda. Namun, Trudeau membantah laporan tersebut. Jody sempat
mengabaikan tekanan tersebut, dan menyebabkan dia digeser menjadi
Menteri Urusan Veteran pada Januari lalu.
Jody diangkat sebagai
Menteri Kehakiman ketika Trudeau berkuasa pada November 2015. Dia dan
menjadi salah satu politikus paling menonjol.
"Terus terang, saya terkejut dan kecewa dengan keputusannya untuk mundur," ucap Trudeau.
"Jika
ada yang merasa berbeda, mereka memiliki kewajiban untuk
menyampaikannya kepada saya. Tidak ada seorang pun, termasuk Jody,
melakukan hal tersebut," tambah Trudeau.
Pengunduran diri Jody tersebut dapat merusak citra kelompok liberal
yang akan bersaing dalam pemilihan umum pada Oktober mendatang. Hal ini
juga menjadi pukulan kedua bagi Trudeau. Hasil jajak pendapat
menunjukkan kelompok liberal yang dipimpin Trudeau unggul tipis dari
pihak oposisi konservatif.
Komisaris Etika Independen, Mario
Dion, mengatakan dia sedang menyelidiki dugaan penyalahgunaan wewenang
yang dilakukan oleh pejabat terkait kasus itu.
"Penyimpangan
etika Trudeau dan penanganannya terhadap skandal terbaru ini telah
membuat pemerintahannya kacau," kata pemimpin kelompok konservatif,
Andrew Scheer.
Pada 2017, Trudeau meminta maaf setelah Komisi Etika mengatakan dia
telah melanggar undang-undang konflik kepentingan karena menerima
liburan di pulau Bahama milik Aga Khan, seorang pemimpin agama Ismaili.
Ketegangan terjadi antara partai pemerintah dengan dengan nasionalis Catalan.
CB,
MADRID -- Pemerintah Spanyol harus mengumumkan pemilihan umum cepat
jika mereka gagal meloloskan rancangan anggaran yang mereka ajukan dalam
pemungutan suara di badan legislatif. Isu anggaran ini sudah
membahayakan pemerintah Spanyol sejak pekan lalu ketika partai
nasionalis Catalan mengumumkan tidak akan mendukung anggaran tersebut.
Penolakan partai nasionalis Catalan ini diumumkan setelah pemerintah
Spanyol menolak menegosiasikan kemerdekaan mereka. Ketegangan antara
partai berkuasa Spanish Socialist Party (PSOE) dan nasionalis Catalan
berdasarkan persidangan 12 pemimpin Catalan yang ditahan sejak 2017
lalu.
Para pemimpin Catalonia termasuk mantan Wakil
Presiden Wilayah Oriol Junqueras dan sembilan mantan menterinya
menghadapi tuntutan 25 tahun penjara atas tuduhan pemberontakan. Para
pemimpin separatis Catalan berharap dapat mengadakan negosiasi dengan
PSOE tentang memutuskan nasib mereka sendiri.
Salah
satunya kemungkinan mengadakan referendum. Tapi Menteri Keuangan
Spanyol Maria Jesus Montero sudah mengatakan tidak ada negosiasi tentang
hal tersebut. "Tidak mau atau mampu untuk bernegosiasi di luar tembok
konstitusi," kata Maria Dilansir di Aljazirah Rabu (13/2) .
Konstitusi
Spanyol melarang wilayah mana pun untuk memisahkan diri. Seorang
pramuniaga di sebuah restoran di dekat Stasiun Atocha di Madrid, Xose do
Covelo mengatakan ia mengetahui persidangan para pemimpin Catalan
tersebut akan berdampak sesuatu di masa depan.
Covelo
sendiri tidak memiliki pendapat pribadi tentang upaya Catalonia
memisahkan diri. "Bagi saya ini seperti permainan, kami tidak tahu jika
perdana menteri akan tetap bertahan atau harus pergi begitu juga
Katalonia," kata Covelo.
Pemerintah Spanyol menilai
referendum kemerdekaan yang digelar Catalonia pada tahun 2017 ilegal. Di
bulan yang sama wilayah yang bergejolak itu menyatakan memisahkan diri
dari Spanyol. Akhirnya otonomi mereka dicabut oleh pemerintah pusat dan
pemerintah Spanyol menggelar pemilihan umum pada bulan Desember 2017
dengan harapan dapat meletakkan pemimpin pro-Spanyol di pemerintahan
Catalonia.
Partai serikat buruh dari kelompok sayap kanan
memenangkan pemilihan umum itu. Tapi kelompok separatis berhasil
mempertahankan kekuasan mereka di pemerintahan Catalonia.
PSOE
memiliki 84 dari 350 kursi di badan legislatif Spanyol, Congress of
Deputies. Jumlah tersebut masih belum cukup menempatkan PSOE menjadi
partai mayoritas. Sementara partai kiri-tengah yang berkoalisi dengan
partai sayap kiri yang dipimpin Podemos memiliki 67 kursi.
Perdana
Menteri Spanyol Pedro Sanchez dari PSOE berkuasa sejak Juni 2018. Ia
menggantikan Mariano Rajoy yang diturunkan dalam mosi tidak percaya.
Suara mosi percaya PSOE datang dari partai-partai pro-kemerdekaan di
wilayah Basque dan Catalonia seperti Catalan Republic Left dan Catalan
European Democratic Party, yang memiliki 17 kursi.
Pada
hari Senin (11/2) lalu partai-partai pro-kemerdekaan mengancam tidak
akan mendukung anggaran yang diajukan pemerintah. Kecuali jika Sachez
memberikan Catalonia untuk menentukan nasib mereka sendiri.
Media-media
Spanyol melaporkan jika anggaran ini tidak berhasil diloloskan Sanchez
akan mengadakan pemilihan umum pada pertengahan April. Dengan harapan
dapat memobilisir pemilih sayap-kanan.
Koalisi partai
yang berkuasa telah memperkuat sistem kesejahteraan Spanyol. Sesuatu
yang dihancurkan oleh langkah penghematan yang dilakukan People's Party
(PP), yang berkuasa dari tahun 2011 sampai 2018
Pemimpin separatis Catalonia di ruang sidang.[CNN]
CB, Jakarta - Setahun lalu parlemen regional Catalonia memilih untuk mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol menyusul referendum yang memerdekan diri dari Spanyol.
Sejak
itu, politisi dan aktivis Catalan pro kemerdekaan telah ditahan dalam
penahanan pra persidangan atas tuduhan pemberontakan, ketidaktaatan, dan
penggelapan dana publik karena dugaan peran mereka dalam referendum dan
deklarasi kemerdekaan berikutnya dari Spanyol.
Yang
lainnya, seperti mantan Presiden Catalan Carles Puigdemont, telah
melarikan diri dari Spanyol untuk menghindari tuduhan dan melobi
kemerdekaan Catalonia di Uni Eropa.
Presiden Catalonia, Carles Puigdemont. REUTERS
Dua
belas terdakwa diadili di hadapan Mahkamah Agung Spanyol pada hari
Selasa di Madrid atas dugaan peran mereka dalam acara yang mengarah pada
deklarasi Oktober 2017.
Para terdakwa menghadapi total gabungan sekitar 200 tahun penjara jika mereka diberikan hukuman maksimal.
Sebagian
besar politisi yang diadili dari dua partai politik: Partai Kiri
Republik Catalan (ERC) dan Partai Demokrat Katalan Eropa (PDeCAT).
Para
pemimpin Majelis Nasional Catalan (ANC) dan Omnium Cultural (OC), dua
organisasi masyarakat sipil pro kemerdekaan, juga akan diadili, dan
berikut tokoh yang diadili, seperti dikutip dari Aljazeera, 13 Februari
2019.
Oriol Junqueras
Oriol Junqueras,
mantan wakil presiden, adalah anggota berpangkat tertinggi dari
pemerintahan Catalan sebelumnya yang diadili di hadapan Mahkamah Agung
Spanyol. Dia menghadapi tuduhan pemberontakan dan penggelapan dan
dituduh mendorong referendum meskipun memahami "risiko besar" kekerasan
yang terkait dengan itu.
Junqueras, mantan guru sejarah, wali
kota, dan anggota Parlemen Eropa, masih memimpin ERC dari penjara,
memberinya pengaruh politik yang cukup besar dalam politik nasional
Spanyol.
Kejaksaan Agung Spanyol meminta hukuman penjara 25 tahun, sedangkan Jaksa Agung Spanyol menuntut 12 tahun.
Joaquim Forn
Joaquim
Forn, mantan menteri dalam negeri Catalan yang mengawasi pelaksanaan
perintah jaksa agung di Catalonia, juga didakwa dengan pemberontakan dan
penggelapan.
Dakwaannya juga menyatakan bahwa dia memahami risiko kekerasan yang terkait dengan referendum tetapi memilih untuk maju terus.
Forn
memiliki sejarah politik yang panjang di Barcelona, menjabat sebagai
anggota dewan kota sejak 1999 dan wakil wali kota pertama dari 2011
hingga 2015.
Kantor Kejaksaan Agung Spanyol meminta hukuman penjara 16 tahun, sedangkan Jaksa Agung Spanyol menuntut hukuman 11 tahun.
Jordi Sanchez dan Jordi Cuixart
Jordis bersaudara adalah pemimpin masyarakat sipil pro kemerdekaan.
Sanchez dari ANC dan Cuixart dari OC. Keduanya membantu mengorganisir
protes pro kemerdekaan besar pada hari-hari sebelum referendum 1 Oktober
2017, dan didakwa dengan hasutan dan pemberontakan.
Mereka pada
awalnya dituduh dihasut oleh jaksa agung pada bulan September, dan
hukuman penjara mereka diperintahkan pada 16 Oktober 2017 oleh hakim
Spanyol Carmen Lamela.
Mereka menghadapi tuduhan mendorong
kekerasan terhadap polisi nasional Spanyol selama protes, tetapi banyak
media melaporkan video dari dua pria yang naik di atas mobil untuk
meminta demonstran tetap damai.
Kelompok-kelompok HAM, termasuk Amnesty International, telah meminta pembebasan mereka.
Kantor
Kejaksaan Agung Spanyol meminta hukuman penjara 17 tahun untuk
keduanya, sedangkan Jaksa Agung Spanyol menuntut delapan tahun.
Carme Forcadell
Carme
Forcadell, mantan presiden parlemen Catalan, didakwa dengan
pemberontakan dan dituduh memberikan suara untuk kemerdekaan sebelum
deklarasi kemerdekaan.
Kantor Kejaksaan Agung Spanyol meminta hukuman penjara 17 tahun, sedangkan Jaksa Agung Spanyol menuntut 10 tahun.
Raul Romeva
Raul Romeva, seorang politisi Katalan, mantan MEP, ekonom dan analis, adalah kepala urusan luar negeri di bawah Puigdemont.
Hakim
Mahkamah Agung Pablo Llarena menuduh Romeva mencoba menciptakan
"struktur negara [Catalan]" yang independen dari Spanyol dan berusaha
mempromosikan penerimaan negara Catalan dalam perannya dalam Komite
Parlemen Eropa untuk Urusan Luar Negeri.
Romeva mengatakan kepada
kantor berita Reuters bahwa penjara "melihat persidangan sebagai
kesempatan untuk menyampaikan pendapat publik dan masyarakat di
Catalonia, Spanyol dan jelas di tingkat internasional."
Kantor
Kejaksaan Agung Spanyol meminta hukuman penjara 16 tahun untuk Romeva,
sementara Jaksa Agung Spanyol menuntut hukuman 11 tahun.
Dolors Bassa
Dolors
Bassa adalah seorang pendidik dan anggota serikat pekerja yang memulai
karir politiknya pada 2007. Dia terpilih sebagai anggota parlemen
Catalonia pada 2015 dan menjabat sebagai penasihat tenaga kerja, urusan
sosial dan keluarga di bawah Puigdemont.
Bassa didakwa dengan
pemberontakan dan penggelapan karena menggunakan pelayanannya untuk
menanggung sebagian biaya yang berkaitan dengan referendum kemerdekaan.
Kantor Kejaksaan Agung Spanyol meminta hukuman penjara 16 tahun, sedangkan Jaksa Agung Spanyol menuntut Bassa selama 11 tahun.
Carles Mundo
Carles Mundo, seorang pengacara, mantan penasihat hukum di bawah
Puigdemont dan anggota ERC, dipenjara bersama dengan Junqueras pada
November 2017 setelah deklarasi kemerdekaan. Dia didakwa dengan
penggelapan dan membelot.
Dia dibebaskan dengan jaminan pada bulan
Desember 2017 setelah memenangkan pemilihan kembali dalam pemungutan
suara regional yang disebut oleh pemerintah Spanyol. Mundo membuat
pengumuman mengejutkan bahwa ia akan meninggalkan politik pada Januari
2018, tak lama setelah ia dibebaskan.
Baik Kantor Jaksa Agung Spanyol dan Pengacara Umum Spanyol meminta 7 tahun untuk Mundo. Jordi Turull
Jordi
Turull, seorang pengacara dan anggota PDeCAT yang karier politiknya
dimulai pada 1987, telah menjadi wakil di parlemen Catalan sejak 2004
ketika ia terpilih sebagai penasihat dan juru bicara kepresidenan oleh
Puigdemont pada 2017.
Dia didakwa dengan pemberontakan dan penggelapan.
Llarena menuduh Turull mendorong mobilisasi mendukung referendum dan merancang dan mengelola iklan referendum.
Kantor Kejaksaan Agung Spanyol meminta hukuman penjara 16 tahun, sedangkan Jaksa Agung Spanyol menuntut hukuman 11 tahun.
Josep Rull
Rull,
seorang anggota PDeCAT dan anggota parlemen selama 20 tahun, adalah
penasihat untuk wilayah dan keberlanjutan di bawah Puigdemont. Dia
dituduh melakukan pemberontakan dan penggelapan.
Rull dituduh
memainkan peran "signifikan" dalam gerakan kemerdekaan sejak 2015, serta
menghentikan polisi nasional Spanyol dari melakukan upaya untuk
menghentikan referendum kemerdekaan.
Dia telah berada dalam
penahanan pra persidangan sejak Maret 2018. Kantor Kejaksaan Agung
Spanyol meminta hukuman penjara 16 tahun, sedangkan Jaksa Agung Spanyol
menuntut 11 tahun.
Orang-orang
melambaikan bendera estelada di Barcelona, Spanyol, 27 Oktober 2017.
Parlemen daerah Catalonia mengeluarkan sebuah mosi untuk mendirikan
sebuah Republik Catalan yang independen. AP Meritxell Borras
Meritxell
Borras adalah tokoh terkemuka dalam politik Catalan. Dia telah aktif
dalam politik lokal sejak 1995 dan merupakan putri Jacint Borras, salah
satu pendiri Konvergensi Demokratik Catalonia (CDC) yang pro kemerdekaan
yang sekarang sudah tidak berfungsi.
CDC tengah adalah partai
separatis terkemuka sampai para anggotanya memilih untuk membubarkan dan
mereformasi pada tahun 2016, sebagian karena banyak skandal korupsi.
Banyak mantan anggotanya bergabung dengan PDeCAT
Borras, yang
adalah penasihat hubungan pemerintah dan kelembagaan di bawah
Puigdemont, telah didakwa dengan ketidaktaatan dan penggelapan. Kantor
Kejaksaan Agung Spanyol dan Pengacara Umum Spanyol telah meminta hukuman
tujuh tahun.
Santi Vila
Santi
Vila adalah anggota lama CDC dan kemudian PDeCAT. Dia adalah penasihat
bisnis dan budaya pada saat referendum kemerdekaan dan telah dituduh
melakukan penggelapan dan ketidaktaatan sehubungan dengan dugaan
keterlibatannya.
Vila membayar uang jaminan 50.000 euro (Rp 795
juta) pada November 2017 dan mengundurkan diri dari PDeCAT pada Juni
2018. Kantor Kejaksaan Agung Spanyol dan Pengacara Umum Spanyol telah
meminta hukuman tujuh tahun atas keterlibatannya dalam pro kemederdekaan
Catalonia.
CB, Jakarta - Rusia bersiap memisahkan diri dari platform
internet World Wide Web setelah Majelis Rendah Parlemen meloloskan
rancangan undang-undang yang menjamin keamanan internet Rusia.
Dikutip
dari Russia Today, 13 Februari 2019, RUU ini akan menggantikan WWW
dengan Runet, segmen internet Rusia yang dapat beroperasi secara
independen dari seluruh dunia jika terjadi kerusakan global atau
pemutusan internet yang disengaja.
Langkah-langkah
untuk memastikan stabilitas internet termasuk penciptaan sistem DNS
nasional yang menyimpan semua nama domain dan nomor IP yang sesuai.
Undang-undang itu, yang oleh beberapa media Rusia disamakan dengan
"tirai besi" online meloloskan tiga bacaan pertamanya di majelis rendah
dengan 450 kursi parlemen, menurut laporan Reuters.
RUU tersebut
berupaya untuk merutekan lalu lintas web Rusia dan data melalui
titik-titik yang dikendalikan oleh otoritas negara dan mengusulkan
pembangunan DNS nasional untuk memungkinkan Internet untuk terus
berfungsi bahkan jika negara itu terputus dari infrastruktur asing.
Ilustrasi wanita sedang browsing internet. Pixabay.com
Kelompok
hak asasi manusia Agora mengatakan awal bulan ini bahwa undang-undang
tersebut adalah salah satu dari beberapa rancangan undang-undang baru
yang disusun pada bulan Desember yang berisiko mengancam kebebasan
internet.
Uni Rusia Industrialis dan Pengusaha mengatakan RUU itu
lebih berisiko terhadap berfungsinya segmen Internet Rusia daripada
dugaan ancaman dari negara-negara asing yang ingin ditentang oleh RUU
tersebut.
RUU itu juga mengusulkan pemasangan peralatan jaringan
yang akan dapat mengidentifikasi sumber lalu lintas web dan juga
memblokir konten yang dilarang.
Undang-undang, yang masih bisa
diamandemen, tetapi diyakini akan lolos, merupakan bagian dari upaya
para pejabat untuk meningkatkan "kedaulatan" Rusia atas sektor
Internetnya.
Rusia
melihat kembali pada tahun 2012, Presiden AS saat itu Barack Obama
menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan dia untuk
mengendalikan semua komunikasi di wilayah Amerika, termasuk yang penting
untuk operasi normal internet.
Badan
Keamanan Nasional AS pernah memadamkan internet selama tiga hari di
Suriah pada November 2012, kata pengungkap fakta Edward Snowden kepada
majalah Wired. Peretas NSA secara tidak sengaja 'memblokir' salah satu
router inti saat mencoba memasang spyware di atasnya.
Undang-undang
baru ini dirancang sebagai tanggapan terhadap strategi siber AS yang
menuduh Rusia, bersama dengan Cina, Iran dan Korea Utara, menggunakan
alat siber untuk merusak ekonomi dan demokrasi. Ini juga mengancam
konsekuensi mengerikan bagi siapa pun yang melakukan aktivitas siber
terhadap AS.
Sistem otonom akan memastikan bahwa Rusia
tidak menghadapi penghentian total internet jika hubungan dengan Barat
benar-benar runtuh dan AS melangkah lebih jauh dengan memotong alamat IP
Rusia dari World Wide Web.
Presiden
Venezuela Nicolas Maduro akan menyeret pemimpin oposisi Juan Guaido
karena dianggap telah melakukan kudeta. Foto/Ilustrasi/SINDOnews/Ian
CARACAS
- Para pemimpin kelompok oposisi Venezuela telah bertindak melawan
kepentingan rakyat dan menyebabkan kerusakan pada negara. Demikian
dikatakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro kepada stasiun televisi
Lebanon, al Mayadeen.
"Juan Guaido dan para pendukungnya cepat
atau lambat akan dibawa ke pengadilan dan akan memikul tanggung jawab
atas upaya untuk merebut kekuasaan," kata Maduro seperti dilansir dari TASS, Kamis (14/2/2019).
Dia menambahkan bahwa krisis di Venezuela diorganisir oleh Amerika Serikat.
"Mereka
(pemimpin oposisi) adalah boneka yang melayani pemerintahan ekstremis
Donald Trump yang ingin menjajah Venezuela," kata presiden berusia 56
tahun itu.
"Apa yang disebut intervensi kemanusiaan yang
dibicarakan AS bertujuan menaklukkan negara kita dan merebut sumber daya
alamnya," imbuhnya.
Pada 23 Januari lalu Ketua Majelis Nasional
Venezuela, sebutan untuk parlemen negara itu, Juan Guaido menyatakan
dirinya sebagai penjabat presiden. Presiden Venezuela Nicolas Maduro
menggambarkannya sebagai upaya kudeta dan mengumumkan pemutusan hubungan
diplomatik dengan Amerika Serikat.
Guaido kemudian diakui
sebagai presiden sementara oleh negara-negara Grup Lima (kecuali
Meksiko), serta oleh Albania, Georgia, Amerika Serikat, dan Organisasi
Negara-negara Amerika. Beberapa negara Uni Eropa (UE) maju dengan
dukungan untuk parlemen Venezuela dan menyatakan harapan untuk pemilihan
baru guna menyelesaikan krisis.
Maduro
sendiri didukung oleh Rusia, Bolivia, Iran, Kuba, Nikaragua, El
Salvador, dan Turki. Sementara Belarus dan China menyerukan untuk
menyelesaikan semua masalah dengan cara damai dan menentang campur
tangan dari luar.
Sedangkan Sekretaris Jenderal PBB menyerukan dialog untuk menyelesaikan krisis di negara yang kaya akan minyak itu.
Jakarta, CB -- Oposisi Venezuela
berupaya mengambil alih sumber pendapatan terbesar negara dengan
menunjuk dewan direksi baru Citgo, anak perusahaan minyak yang berbasis
di Amerika Serikat, PDVSA.
"Direksi
yang baru akan berisi warga Venezuela yang berkualifikasi, yang bebas
korupsi, dan tak memiliki afiliasi partisan," ujar pemimpin oposisi yang
mendeklarasikan diri sebagai presiden interim Venezuela, Juan Guaido,
Rabu (13/2).
Guaido kemudian menjelaskan bahwa ia sudah menunjuk
enam orang untuk mengisi posisi puncak direksi Citgo. Namun, ia tak
mengelaborasi lebih lanjut mengenai nasib anggota direksi sebelumnya.
"Dengan keputusan ini, kami hanya ingin melindungi aset kita. Kami
menghindari kehancuran dan kerugian bisnis," tutur Guaido sebagaimana
dikutip AFP.
Ekspor minyak menyumbang 96 persen
pendapatan Venezuela dengan pelanggan terbesar AS, yang membeli setengah
juta barel setiap harinya.
Sebelumnya, AS menjatuhkan sanksi
menyeluruh atas PDVSA sebagai cara untuk membendung aliran dana bagi
Presiden Nicolas Maduro yang didesak rakyat untuk mundur sejak Januari
lalu.
Selain
untuk menekan Maduro, AS menjatuhkan sanksi ini sebagai bentuk dukungan
mereka bagi Guaido yang mendeklarasikan diri sebagai presiden interim
pada 21 Januari lalu, saat demonstrasi anti-Maduro besar-besaran meluas
di Venezuela.
Rakyat mengaku muak dengan Maduro karena korup dan tak berhasil membawa Venezuela keluar dari keterpurukan.
Di
bawah kepemimpinan Maduro, warga Venezuela harus berjuang mati-matian
untuk mendapatkan kebutuhan dasar di tengah hiperinflasi yang membuat
gaji dan tabungan mereka tak berharga.
Presiden Donald Trump menyebut Presiden
Nicolas Maduro membuat kesalahan buruk dengan memblokade bantuan Amerika
Serikat ke Venezuela. (Reuters/Joshua Roberts)
Jakarta, CB -- Presiden Donald Trump menyebut Presiden Nicolas Maduro membuat kesalahan buruk dengan memblokade bantuan Amerika Serikat ke Venezuela.
"Saya
pikir dia membuat kesalahan yang buruk dengan tak mengizinkan
(bantuan). Kami mencoba memberikan makanan ke orang yang kelaparan. Ada
orang kelaparan di Venezuela," ujar Trump, Rabu (13/2).
Sebagaimana dilansir AFP, hingga kini bantuan yang dikirim AS melalui Kolombia masih menumpuk terbengkalai karena Maduro menutup perbatasan.
Maduro menolak bantuan kemanusiaan dari AS. Menurutnya, bantuan itu
hanya "pertunjukan politik" dan merupakan dalih untuk menginvasi.
Namun,
rakyat Venezuela sendiri kini sedang menderita. Di bawah kepemimpinan
Maduro, warga Venezuela harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan
kebutuhan dasar di tengah hiperinflasi yang membuat gaji dan tabungan
mereka tak berharga.
Pemimpin oposisi mendeklarasikan diri
sebagai presiden interim Venezuela, Juan Guaido, memperkirakan ada
ratusan ribu warga yang kini kelaparan.
"Ada hampir 300 ribu
warga Venezuela akan meninggal jika bantuan tidak masuk. Ada sekitar dua
juta orang dalam risiko kesehatan," tuturnya.
Ia pun berjanji akan membawa masuk bantuan internasional ke Venezuela paling lambat pada 23 Februari.
Sebelumnya, Guaido juga sudah mengumumkan pusat penampungan bantuan baru setelah Maduro memblokade perbatasan negaranya.
Duta
Besar Guaido untuk Brasil, Maria Teresa Belandria, mengatakan bahwa
pusat bantuan itu akan dibangun di Roraima, di dekat perbatasan tenggara
Venezuela.
Namun,
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino, mengumumkan bahwa
angkatan bersenjata akan dikerahkan "untuk menunjukkan kehadiran di
sepanjang perbatasan."
Guaido sendiri sudah memperingatkan militer, yang masih setia kepada Maduro, agar tidak memblokade bantuan kemanusiaan.
Ia
menyebut pemblokiran akses bantuan kemanusiaan ini "hampir seperti
genosida" dan militer kemungkinan bertanggung jawab atas kematian 40
demonstran dalam unjuk rasa anti-Maduro sejak 21 Januari lalu.
Presiden
Chili, Sebastian Pinera berspekulasi bahwa Nicolas Maduro, akan
digulingkan atau akan mundur dari jabatannya dalam waktu beberapa hari
ke depan. Foto/Reuters
SANTIAGO
- Presiden Chili, Sebastian Pinera berspekulasi bahwa mitranya dari
Venezuela, Nicolas Maduro, akan digulingkan atau akan mundur dari
jabatannya dalam waktu beberapa hari ke depan.
"Dalam beberapa
hari, kediktatoran Maduro akan lenyap. Rakyat Venezuela telah membuka
pintu menuju kebebasan dan demokrasi, dengan keberanian dan
kebahagiaan," kata Pinera dalam sebuah pernyataan di akun Twitternya.
"Sekarang
mereka harus bergerak maju menuju negara yang bebas dan makmur yang
hidup dalam damai. Semua negara demokrasi di seluruh dunia berbagi
kebahagiaan ini," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Kamis
(14/2).
Sebelum
Pinera, pada awal Februari, Presiden Kolombia, Ivan Duque menyuarakan
keyakinan bahwa Maduro, yang telah lama berselisih dengannya, akan
segera dicopot dari jabatannya.
Sementara itu, Perwakilan Khusus
Amerika Serikat (AS) untuk Venezuela, Elliott Abrams menyarankan bahwa
Maduro harus meninggalkan negara itu, dan teman-temannya seperti Kuba
atau Rusia akan dengan senang hati menerima dia.
Rusia siap menjadi fasilitator pembicaraan intra Venezuela dan mengingatkan AS untuk tidak ikut campur. Foto/Istimewa
MOSKOW - Rusia mengatakan bahwa pihaknya siap memfasilitasi dimulainya dialog antara pemerintah Venezuela dan oposisi. Rusia pun memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak campur tangan dalam urusan internal Caracas.
"Kami
telah mempertahankan kontak yang sangat penting dengan pemerintah
negara ini dan siap untuk menyediakan layanan yang baik untuk
memfasilitasi proses menemukan jalan keluar dari situasi ini," ujar
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, seperti disitir Reuters dari kantor berita TASS, Rabu (13/2/2019).
Dia
juga mengatakan Rusia telah membuat beberapa proposal ke Venezuela
untuk menyelesaikan krisisnya tetapi tidak memberikan rincian.
Pada
hari Selasa, para pendukung oposisi kembali ke jalan-jalan nasional
untuk menjaga tekanan kepada Maduro dan menuntut agar ia mengizinkan
bantuan kemanusiaan ke Venezuela, di mana kekurangan makanan dan
obat-obatan banyak terjadi.
Sementara itu Menteri Luar Negeri
Rusia Sergei Lavrov mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo
dalam panggilan telepon pada Selasa malam bahwa Washington tidak
melakukan intervensi, termasuk militer, dalam urusan internal Venezuela.
Lavrov juga mengatakan Rusia siap untuk konsultasi mengenai situasi di Venezuela sesuai dengan piagam PBB.
Di
PBB, AS mendorong Dewan Keamanan untuk secara resmi menyerukan
pemilihan presiden yang bebas, adil dan kredibel di Venezuela dengan
pengamat internasional, kata para diplomat pada hari Sabtu, sebuah
langkah yang mendorong Rusia untuk mengusulkan rancangan resolusi
saingan.
Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia
menggambarkan rancangan resolusi AS "sama sekali tidak seimbang." Ketika
ditanya apakah ia akan menempatkan rancangan resolusi Rusia untuk
pemungutan suara, ia berkata: "Kami baru saja membahasnya."
Juga
tidak jelas apakah atau kapan rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB
dapat diberikan suara. Resolusi dewan membutuhkan sembilan suara dan
tidak ada veto oleh Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia atau China
untuk disahkan.
Duta
Besar Prancis untuk Rusia, Sylvie Bermann mengatakan, pembahasan
mengenai kemungkinan untuk menarik pasukan dari Suriah sedang
berlangsung di Paris. Foto/Istimewa
MOSKOW
- Duta Besar Prancis untuk Rusia, Sylvie Bermann mengatakan, pembahasan
mengenai kemungkinan mengikuti langkah Amerika Serikat (AS) untuk
menarik pasukan dari Suriah saat ini sedang berlangsung di Paris.
"Potensi
penarikan pasukan Prancis dari Suriah saat ini sedang dibahas. Masalah
ini sedang dibahas," kata Bermann dalam sebuah pernyataan, seperti
dilansir Sputnik pada Selasa (12/2).
Dia menuturkan, pembahasan
mengenai penarikan pasukan ini muncul tidak lama setelah Presiden AS,
Donald Trump mengumumkan akan menarik pasukan pada Desember lalu. Di
mana, menurut Bermann keputusan ini benar-benar mengejutkan Paris.
"Ya,
seperti semua orang, kami terkejut ketika AS mengatakan telah menarik
tentaranya dari Suriah. Sejak saat itu, kami telah melakukan kontak
terus-menerus dengan kepemimpinan AS, tetapi Prancis juga telah memikul
tanggung jawab tertentu sebagai bagian dari koalisi," ucapnya.
"Apa
yang kami temukan agak meyakinkan adalah bahwa ini adalah tentang
penarikan pasukan secara bertahap dan terencana," sambung diplomat
senior Prancis tersebut.
Sebelumnya,
pada Januari, Presiden Prancis Emmanuel Macron sempat mengatakan bahwa
Prancis akan terus terlibat secara militer di Timur Tengah dalam koalisi
internasional sepanjang 2019. Sebab menurutnya, pertempuran melawan
ISIS belum berakhir.
Pernyataan itu muncul setelah serangan bom
bunuh diri yang diklaim oleh militan ISIS yang menewaskan sedikitnya 16
orang, termasuk dua anggota pasukan AS.
Eropa menawarkan partisipasi terbatas di Polandia.
CB,
WARSAWA -- Pemerintah Donald Trump menggelar pertemuan membahas Timur
Tengah di Warsawa, Polandia pada pekan ini. Aljazirah melaporkan Rusia sebagai sekutu Iran menolak datang ke pertemuan yang membahas Timur Tengah itu.
Pada
Senin (11/2) Menteri Luar Negeri Lebanon Gebran Bassil mengaku juga
tidak akan datang dalam pertemuan itu. Sementara itu pejabat Palestina
menyebut pertemuan ini hanya sebagai konferensi AS-Israel. "Konspirasi
yang bertujuan untuk menghilangkan Palestina," kata pejabat Palestina.
Polandia
pun kabarnya sudah menolak untuk mengadakan pertemuan yang bertujuan
menyebarkan propaganda anti-Iran tersebut. Karena mereka tetap ingin
mempertahankan dukung kepada perjanjian nuklir Iran 2015.
"(Tapi)
Polandia sudah kehilangan kendali atas pesan umum konferensi ini yang
diambil alih AS, Israel dan Arab Saudi," kata mantan duta besar Polandia
untuk Afghanistan Piotr Lukasiewicz.
Eropa hanya
menawarkan kepersetaan terbatasan. Keengganan negara-negara besar Eropa
ini menandakan kemarahan mereka atas kebijakan unilateral AS di Iran dan
Suriah.
Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt akan meninggalkan pertemuan Warsawa lebih awal karena ada urusan British Exit
(Brexit). Sementara Prancis hanya mengirimkan pegawai sipil mereka dan
Jerman mengirimkan menteri luar negeri junior. Kepala bidang luar negeri
Uni Eropa Federica Mogherini akan memboikot pertemuan tersebut.
Awalnya,
dalam pertemuan ini AS ingin menekan negara-negara Uni Eropa untuk
bersedia mengadopsi kebijakan yang lebih agresif terhadap Iran. Namun
sepertinya hal itu tak akan terwujud.
Diplomat-diplomat
Eropa yakin AS tetap tak akan menurunkan retorika anti-Iran mereka.
Sejauh ini, Uni Eropa sangat mendukung perjanjian anti nuklir Iran yang
disepakati pada 2015. Walaupun mereka juga mengkritik program
pengembangan rudal balistik Iran.
"Kami tidak akan
memberikan keringanan atau pengecualian atas sanksi kami terhadap rezim
Iran di masa depan, entah itu sanksi minyak atau yang lainnya," kata
Utusan Khusus AS untuk Iran Brian Hook, seperti dilansir di the Guardian, Rabu (13/2).
Kehadiran
negara-negara Teluk Arab dan juga Perdana Menteri Israel Benjamin
Netanyahu di Polandia menekankan permusuhan mereka terhadap Iran.
Salah
satu diplomat mengatakan pertemuan ini akan menjadi pertemuan pertama
antara negara-negara Arab dengan Israel sejak konferensi perdamaian
Madrid tahun 1991.
Selain Lebanon dan Turki, negara Arab yang tidak akan menghadiri pertemuan tersebut yakni Qatar dan Turki.
Dua belas faksi Palestina menggelar diskusi selama tiga hari di Moskow.
CB,
MOSKOW -- Para pemimpin 12 faksi politik Palestina melakukan
pembicaraan di Rusia. Pada kesempatan tersebut mereka menyampaikan
penolakannya terhadap rencana perdamaian Timur Tengah Amerika Serikat
(AS) atau dikenal dengan istilah "Deal of the Century".
Para
pemimpin dari 12 faksi politik Palestina itu melakukan diskusi selama
tiga hari di Moskow. Perwakilan Fatah Azzam al-Ahmad mengatakan, semua
perwakilan menyatakan kepada bahwa Palestina menolak Deal of the
Century.
Menurut dia, Deal of the Century adalah sebuah
jebakan AS. "Jika skenario itu dilakukan, bahkan langit di atas
Palestina akan ditempati," ujar al-Ahmad dalam sebuah konferensi pers
yang digelar di Moskow pada Rabu (13/2), dikutip laman Anadolu Agency.
"Rencana
AS menyerukan negara Palestina di Jalur Gaza dan di beberapa bagian
Semenanjung Sinai (di Mesir), tapi tanpa perbatasan dengan negara lain
selain Israel," kata dia menambahkan.
Dengan
wilayah yang diblokade seluruhnya oleh Israel, al-Ahmad menilai
nantinya Palestina tidak akan bisa mandiri. Tanpa bandara dan diblokir
dari semua sisi oleh Israel, hal ini akan membangun sebuah ghetto (kamp konsentrasi) Palestina.
Di
sisi lain, al-Ahmad meyakini Deal of the Century tidak lagi menyematkan
tentang status Yerusalem yang telah diakui sebagai ibu kota Israel oleh
AS. Padahal Palestina mendambakan Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa
depannya.
Anggota terkemuka Hamas Mousa Abu Marzouk juga
menyatakan penolakannya terhadap Deal of the Century. "Kami tidak bisa
membiarkan Jalur Gaza terisolasi. Kami menolak solusi Amerika untuk
masalah ini, yang mereka sebut sebagai Deal of the Century," katanya.
Sementara
pembicaraan antarfaksi Palestina di sana berakhir tanpa adanya
penandatangan kesepakatan. Para perwakilan menutup konferensi pers
dengan seruan mendesak rekonsiliasi nasional. Sebab hanya Palestina yang
bersatu yang dapat menentang konspirasi AS-Israel tersebut.
AS
diketahui telah menyiapkan kerangka perdamaian baru untuk Palestina dan
Israel yang dikenal dengan Deal of the Century. AS disebut akan
memperkenalkan kerangka perdamaian itu tahun ini.
Namun
Palestina telah menyangsikan kerangka tersebut. Sebab AS disebut tak
lagi mencantumkan masalah Yerusalem dan status pengungsi Palestina di
dalamnya.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al Saud. Foto/Istimewa
JEDDAH
- Raja Salman mengatakan kepada Presiden Palestina, Mahmoud Abbas,
bahwa Arab Saudi berkomitmen pada negara Palestina yang merdeka dengan
Yerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya. Hal itu dikatakan Raja Salman
sebelum konferensi tentang perdamaian dan keamanan Timur Tengah yang
digagas oleh Amerika Serikat (AS).
"Arab Saudi secara permanen
berpihak pada Palestina dan hak rakyatnya untuk negara merdeka dengan
Yerusalem Timur yang diduduki sebagai ibukotanya," kutip Al Jazeera dari Saudi Press Agency, Rabu (13/2/2019).
Pernyataan
itu muncul saat AS diperkirakan akan menawarkan petunjuk proposal untuk
perdamaian antara Israel dan Palestina pada sebuah konferensi di Ibu
Kota Polandia, Warsawa.
Menurut kantor berita resmi Palestina Wafa, Abbas memberi tahu Raja Saudi tentang perkembangan terakhir di wilayah Palestina
"Abbas
dan Raja Saudi membahas proses politik sehubungan dengan berlanjutnya
pelanggaran Israel terhadap rakyat Palestina, tanah, dan situs-situs
suci, serta upaya untuk melewati disebut 'kesepakatan abad ini'," tulis
Wafa.
Sementara itu, Harian Israel Haaretz melaporkan, kepala
intelijen Otoritas Palestina Majed Faraj bertemu para pejabat Saudi
untuk membahas rencana perdamaian Timur Tengah yang diusulkan AS dan
konsekuensinya.
Surat kabar itu menambahkan bahwa Otoritas
Palestina bekerja untuk memastikan bahwa negara-negara Arab dan Islam
tidak akan mendukung kesepakatan itu.
Pemerintahan
Trump menghadapi tugas yang sulit dalam menjual kesepakatan apa pun
kepada Otoritas Palestina, yang tetap marah atas keputusannya mengakui
Yerusalem - yang diklaim oleh kedua bangsa - sebagai Ibu Kota Israel
pada 2017.
Pemerintah Palestina - yang menyebut konferensi
Warsawa sebagai "konspirasi Amerika" - telah menolak pembicaraan dengan
AS hingga memulai apa yang disebutnya kebijakan yang lebih seimbang.
Jakarta, CB -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan belum bisa memastikan kunjungan Pangeran Mohammed bin Salman (MbS). Namun, ia mengaku telah membicarakan rencana kunjungan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi itu ke Indonesia dengan Duta Besar Saudi Esam A. Abid Althagafi.
"Memang
ada rencana (kunjungan). Tapi kita sedang terus komunikasi. Jadi pada
titik ini saya belum bisa mengonfirmasikan," kata Retno di Kompleks
Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/2).
Meskipun demikian,
Retno mengaku tetap berkomunikasi dengan pihak Saudi untuk memastikan
kunjungan MbS tersebut. Retno menyatakan belum bisa memberikan
konfirmasi terkait kedatangan penerus takhta kerajaan Saudi itu.
"Komunikasi ada. Tetapi kita belum waktunya untuk menyampaikan konfirmasi," ujarnya.
Sebelumnya
Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel,
menyatakan MbS akan mengunjungi Indonesia pekan depan. Meski begitu,
Agus enggan menjelaskan agenda detil MbS selama berada di Jakarta nanti.
"Iya (minggu depan)," ucap Agus saat dikonfirmasi CNNIndonesia.commelalui pesan instan pada Rabu (13/2).
Agus tak menyebutkan berapa lama penerus takhta kerajaan Saudi itu akan melawat ke Indonesia.
"Untuk agenda detilnya bisa cek Kementerian Luar Negeri RI," kata Agus.
Sejumlah
media asing memberitakan Pangeran Mohammed akan melakukan lawatan ke
sejumlah negara di Asia seperti India, Pakistan, China Malaysia, hingga
Indonesia mulai pekan ini.
Agenda utama kunjungan itu dilaporkan
untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan investasi Saudi dengan
negara-negara sahabat di Asia. Kunjungan kenegaraan ini merupakan yang
pertama dilakukan Pangeran Mohammed ke Asia Tenggara.
Di sisi
lain, Pangeran Mohammed disebut-sebut bertanggung jawab atas pembunuhan
wartawan, Jamal Khashoggi pada 2 Oktober 2018 lalu.
Khashoggi merupakan wartawan pengkritik Pangeran Mohammed dan Raja
Salman, yang tewas di konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Badan Intelijen
Amerika Serikat (CIA) menyimpulkan Pangeran Mohammed yang memerintahkan
pembunuhan Khashoggi. Dia juga disebut pernah berniat menembak mati
Khashoggi jauh sebelum peristiwa itu terjadi.
Meski sempat
membantah, Saudi akhirnya mengaku bahwa koresponden surat kabar The
Washington Post itu tewas di dalam konsulatnya di Istanbul.
Saudi
juga mengaku jasad Khashoggi telah dimusnahkan. Meski begitu, mereka
berkeras membantah kerajaan terlibat konspirasi pembunuhan itu.
Arsip Foto - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (REUTERS/Pavel Golovkin/Pool/Fi)
Jakarta (CB) - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman
akan melakukan kunjungan ke Indonesia pada pertengahan atau pekan
ketiga Februari 2019 dalam rangkaian lawatannya ke beberapa negara.
Sumber diplomatik Antara di Jakarta, Rabu, mengonfirmasi rencana
kunjungan tersebut dan menyebut bahwa Pangeran Mohammed diperkirakan
tiba di Indonesia pada 19 Februari 2019.
Dalam kunjungan itu, Putra Mahkota Arab Saudi akan melakukan pertemuan
dengan Presiden Joko Widodo yang dilanjutkan dengan jamuan makan siang.
Setelah itu, Mohammed akan bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Dilansir dari kantor berita Reuters, Rabu, Putra Mahkota Arab Saudi
Mohammed bin Salman diperkirakan akan mengumumkan investasi di sektor
energi dan infrastruktur saat melakukan kunjungan ke India dan Pakistan
dalam beberapa hari ke depan.
Pangeran Mohammed diperkirakan akan mengumumkan langkah itu sebagai
bagian dari upayanya untuk menggenjot perekonomian Arab Saudi selain
mengekspor minyak.
Selain India dan Pakistan, Pangeran Mohammed juga dijadwalkan
mengunjungi China, Malaysia dan Indonesia dalam lawatan yang akan
menjadi kunjungan pertamanya ke kawasan.
Tahun lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla telah melakukan pertemuan
bilateral dengan Pangeran Mohammed di sela-sela kunjungan mereka
menghadiri KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, November 2018.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin negara itu, salah satunya,
membicarakan pembangunan kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah. Arab
Saudi menanamkan modal senilai Rp86 triliun atau 6 miliar dolar AS pada
pembangunan kilang itu.
Selain upaya percepatan pembangunan kilang minyak di Cilacap, Putra
Mahkota Arab Saudi juga meminta kerja sama terkait proyek itu, yakni
pemberian pelatihan tenaga kerja dan pertukaran teknologi.
Anggota Kerajaan Thailand, Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana Barnavadi. (AFP Photo/Mike Clarke)
Jakarta, CB -- Komisi Pemilihan Umum
Thailand menyatakan bakal mencari cara untuk membubarkan Partai Thai
Raksa Chart yang sempat mengusung Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana
Barnavadi (67) sebagai calon perdana menteri. Menurut mereka, partai
itu melanggar undang-undang karena mencalonkan keluarga kerajaan.
"Maka
dari itu, kami sepakat akan mendaftarkan gugatan kepada Mahkamah
Konstitusi karena bertentangan dengan monarki konstitusional," demikian
pernyataan KPU Thailand, seperti dilansir Reuters, Rabu (13/2).
Partai
Thai Raksa Chart membantah mereka melanggar aturan pemilu. Namun,
Mahkamah Konstitusi Thailand menyatakan bakal memutuskan hal itu pada
Kamis (14/2) besok.
Partai Thai Raksa Chart dibentuk oleh para pendukung mantan perdana
menteri Thaksin Shinawatra. Mereka melakukan itu sebagai upaya
berjaga-jaga jika partai utama mereka, Pheu Thai, dibubarkan oleh
pemerintah militer sebelum pemilihan umum.
Pada Senin (11/2)
lalu, KPU Thailand memutuskan mencoret Putri Ubolratana dari daftar
bakal calon perdana menteri. Keputusan ini mengakhiri polemik yang
menghangat di Negeri Gajah Putih soal keterlibatan keluarga kerajaan
dalam politik.
Partai Thai Raksa Chart mengusung Ubolratana untuk
bersaing dengan petahana yang merupakan mantan panglima angkatan
bersenjata, Prayut Chan o Cha. Pemilihan umum di Negeri Gajah Putih
dijadwalkan berlangsung pada 24 Maret mendatang.
Pemilu ini
adalah janji angkatan bersenjata Thailand, setelah melakukan kudeta pada
2014 silam. Pencalonan Ubolratana sempat menuai perdebatan karena
sebagai keluarga kerajaan mereka terikat etika yaitu dilarang berpolitik
praktis. Di sisi lain, aturan undang-undang menyatakan melarang
menghina, mengancam, atau mencemooh keluarga kerajaan. Apalagi, Thailand
sudah menganut sistem pemerintahan monarki konstitusional sejak 1932.
Raja Maha Vajiralongkorn juga menyatakan keberatan atas pencalonan sang kakak sebagai perdana menteri.
Wakil Indonesia untuk Komisi HAM
Antarpemerintah ASEAN (AICHR) Yuyun Wahyuningrum ditemui usai menjadi
panelis diskusi di Jakarta, Rabu (23/1/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)
Jakarta (CB) - Komisi HAM Antar-Pemerintah ASEAN (AICHR)
mengecam penangkapan jurnalis dan Pemimpin Redaksi Rappler Maria Ressa
di Filipina.
Kecaman itu disampaikan Wakil Indonesia di Komisi HAM Antar-Pemerintah
ASEAN (AICHR) Yuyun Wahyuningrum yang menyatakan ketidaksetujuan dan
keprihatinan atas penangkapan Maria Ressa, pemimpin redaksi Rappler,
situs berita yang kritis terhadap pemerintah Filipina.
"Tindakan tersebut bertentangan dengan Pasal 23 Deklarasi HAM ASEAN yang
menjamin kebebasan bependapat dan berekspresi," ujar Yuyun Wahyuningrum
saat dihubungi ANTARA News di Jakarta, Rabu malam.
Pasal 23, lanjut Wahyuningrum berbunyi: Setiap orang mempunyai hak untuk
menyatakan pendapat dan berekspresi, termasuk kebebasan untuk
mempertahankan pendapat tanpa gangguan dan untuk mencari, menerima dan
memberikan informasi, baik secara lisan, tulisan, atau melalui cara lain
yang dipilih oleh orang tersebut.
"Filipina adalah salah satu yang menandatangani Deklarasi HAM ASEAN.
Saat itu, Presiden Filipina Benigno S. Aquino III menandatangani
deklarasi tersebut," kata dia.
Dengan demikian, lanjut Yuyun, penangkapan Maria Ressa melanggar komitmen yang disepakati sendiri oleh Filipina.
Sebelumnya dilaporkan bahwa Maria Ressa, pemimpin redaksi Rappler, situs
berita yang kritis terhadap pemerintah Filipina, ditangkap di kantor
pusatnya di Manila, Rabu sore waktu setempat.
Ressa ditangkap dengan tuduhan melakukan cyber-libel atau fitnah-siber terkait pemberitaan seorang pebisnis yang diduga memiliki koneksi dengan mantan hakim.
Tuduhan itu, menurut Ressa, sebenarnya adalah usaha pemerintah Rodrigo Duterte untuk membungkam media.
Fitnah-siber menjadi yang terbaru dari serangkaian tuduhan beragam yang ditujukan kepada jurnalis senior Filipina itu.
Editor in Chief Rappler, Maria Ressa. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Jakarta, CB -- Sejumlah anggota Biro Investigasi Filipina menangkap jurnalis sekaligus kepala kantor berita Rappler,
Maria Ressa. Dia ditetapkan sebagai tersangka delik fitnah digital,
tetapi di mata kalangan pegiat hak asasi dan sejawat pewarta hal itu
dianggap sebagai bentuk persekusi yang dilakukan pemerintah.
Seperti dilansir AFP,
Rabu (13/2), aparat menangkap Ressa di kantornya di Ibu Kota Manila.
Ini adalah perkara baru yang disangkakan kepadanya, setelah dugaan
penggelapan pajak.
"Dia ditangkap dan dibacakan hak-haknya. Saya
janji akan mengajukan pembebasan dengan jaminan malam ini juga," kata
sesama pendiri Rappler, Beth Frondoso.
Ressa dibawa pergi dari kantornya dengan pengawalan ketat aparat
Filipina, dan juga menjadi sorotan media massa setempat. Perempuan yang
masuk dalam daftar orang-orang berpengaruh pada 2018 versi majalah Time
itu tidak memberikan pernyataan apapun.
Terkait penangkapan itu,
Persatuan Wartawan Filipina menyatakan kecewa dengan sikap pemerintah di
bawah kepemimpinan Presiden Rodrigo Duterte. Mereka menyebut pemerintah
hanya mencari-cari alasan untuk membungkam media massa.
"Penahanan
Ressa adalah bentuk manipulasi delik fitnah digital dan jelas merupakan
aksi persekusi yang tidak tahu malu yang dilakukan oleh pemerintah yang
bermental perundung. Sekarang mereka menggunakan cara-cara konyol untuk
membungkam media massa," demikian pernyataan Persatuan Wartawan
Filipina.
Aparat menyatakan kasus ini bermula dari berita yang
terbit di Rappler, yang ditulis mantan jurnalis mereka, Reynaldo Santos,
Jr., tujuh tahun lalu. Saat itu, Santos mengulas soal dugaan hubungan
antara seorang pengusaha dan hakim Filipina yang diduga melanggar hukum.
Pada 2017 lalu, sang pengusaha keberatan dengan artikel itu tetapi
ditolak oleh penyelidik. Namun, kasus itu ternyata diserahkan kepada
kejaksaan Filipina.
Duterte selama ini menekan sejumlah kantor berita yang keras mengkritiknya. Seperti ABS-CBN, Daily Inquirer, dan Rappler.
Cara
Duterte membuat gentar media massa adalah dengan mengancam bakal
memperkarakan pemiliknya dengan tuduhan menggelapkan pajak, atau menolak
perpanjangan izin terbit dan siar. Ressa dan Rappler adalah salah satu
media yang keras mengkritik kebijakan perang narkoba Duterte, yang sudah
menelan ribuan nyawa.
Sejumlah pengkritik Duterte kini
dipenjara, termasuk Senator Leila de Lima. Lima dibui karena kasus
narkoba, tetapi dia membantahnya dan menyatakan perkara itu direkayasa.
Pemerintah Filipina menuding Rappler Holdings Corp., Ressa, dan
akuntan mereka tidak membayar pajak saham pada 2015 sebesar US$3 juta.
Sistem hukum di negara itu dikenal bobrok dan lamban, bahkan perkara
kecil saja butuh waktu bertahun-tahun untuk disidangkan.
Ian Wright, kepala eksekutif Federasi Makanan dan Minuman,
memperingatkan perusahaan menghadapi 'kepunahan' jika Brexit
gagal.[Mirror/Manchester Evening News WS]
CB, Jakarta - Inggris terancam krisis pangan jika Brexit
gagal mencapai kesepakatan. Sedikitnya seperempat perusahaan makanan
terancam tutup hanya enam minggu setelah Brexit gagal sepakat, ungkap
seorang kepala industri makanan.
Dikutip dari Mirror.co.uk, 13
Februari 2019, Federasi Makanan dan Minuman Inggris memperingatkan
ancaman krisis pangan terburuk sejak 1939.
Prospek Brexit tanpa
kesepakatan telah meningkat karena pembicaraan tetap menemui jalan buntu
menjelang 45 hari sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa.
"Fakta sederhananya adalah ini adalah ancaman terbesar yang dihadapi
para anggota dan bisnis kami sejak 1939," kata Ian Wright, kepala
eksekutif Federasi Makanan dan Minuman Inggris."Banyak bisnis terancam
punah."
"Tidak ada kesepakatan, Brexit akan menimbulkan keprihatinan besar bagi satu dari 10 bisnis kami."
Wright
memperingatkan pemeriksaan tambahan dapat menciptakan kekacauan untuk
truk di pelabuhan seperti Dover dan otoritas tidak dapat mengatasinya.
"Seperti
satu dari empat pengekspor makanan, dihadapkan dengan gangguan yang
pemerintah harapkan akan terjadi di pelabuhan, diprediksi dapat gulung
tikar dalam waktu enam minggu," katanya."...dan kurasa orang tidak
menganggap ancaman ini cukup serius."
"Ini benar-benar menakutkan dan saya tidak berpikir perencanaan apa pun dapat membuat kita siap untuk ini," tambahnya.
Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara selama debat tentang Brexit-nya.
Peringatan
itu datang ketika Theresa May memohon anggota parlemen untuk menyetujui
proposal Brexit untuk terakhir kali sebelum 29 Maret.
Pertikaian
di menit terakhir semacam itu akan memaksa anggota parlemen Partai
Buruh yang goyah untuk membuat pilihan antara kesepakatan May atau Brexit tanpa kesepakatan sama sekali. Dengan 45 hari tersisa, May diperkirakan akan memohon lebih banyak waktu.
Perdana
Menteri akan menjelaskan negosiasi antara Uni Eropa dan Irlandia
mengenai klausul "backstop", yang bisa menjebak Inggris dalam aturan bea
cukai UE, untuk menjaga perbatasan Irlandia dengan Inggris tetap
terbuka setelah Brexit.