Kasus kematian karena campak terus meningkat selama beberapa pekan terakhir.
CB, MANILA
-- Pemerintah Filipina mendeklarasikan wabah campak di beberapa wilayah
termasuk ibukota Manila. Pada 26 Januari lalu Departemen Kesehatan
Bidang Epidemiologi mencatat 1.813 kasus campak dan 26 kematian. Ada
kenaikan sebesar 74 persen dari tahun 2018.
Campak
bisa sangat berbahaya bagi anak kecil dan bayi. Kenaikan kasus campak
ini meningkatkan kekhawatiran untuk 2,4 juta anak yang belum divaksin.
Orang tua di Filipina enggan untuk mengimunisasi anak-anak mereka di
pusat-pusat kesehatan pemerintah, setelah ada komplikasi terkait dengan
vaksin dengue, Dengvaxia.
Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Filipina
Dokter Gundo Weiler, mengatakan tingkat imunisasi jauh di bawah target
95 persen dan menurun. Pada 2016, rata-rata angkanya sekitar 75 persen
tapi turun jauh pada tahun 2017.
"Dalam
skenario ini kami memiliki sekumpulan anak-anak yang tumbuh dari waktu
ke waktu tanpa terlindungi dan rentan terhadap campak," kata Weiler,
seperti dilansir BBC, Kamis (7/2).
Campak
adalah penyakit yang dapat menular melalui udara dan menyebar dengan
mudah melalui batuk dan bersin. Gejala awalnya biasanya demam, batuk,
pilek dan mata meradang. Beberapa hari kemudian ruam merah muncul di
wajah dan tubuh.
Menteri Kesehatan Filipina Francisco Duque mengatakan bronchopneumonia dari komplikasi campak dapat mematikan. Ia mendorong para orang tua untuk mengimunisasi anak mereka.
"Orang tua harusnya tidak menunggu komplikasi terjadi karena sudah terlalu terlambat," katanya.
Duque
mengatakan deklarasi wabah campak ini karena Kementerian Kesehatan
Filipina melihat kasus kematian karena campak terus meningkat selama
beberapa pekan terakhir. Mereka juga meningkatkan pengawasan terhadap
kasus-kasus baru dan memperingatkan para ibu serta pengasuh bayi untuk
lebih waspada.
Pemerintah Filipina awalnya hanya
mendeklarasikan wabah campak di Manila dan Luzon. Tapi Kementeri
Kesehatan Filipina menambah beberapa wilayah lainnya. Media-media
Filipina mengkritik kerja pemerintah karena wabah campak ini bisa
terjadi.
"Wabah penyakit apapun di wilayah tertentu
dapat dilihat sebagai kegagalan kebijakan pemerintah di bidang
kesehatan publik," tulis ABC-CBN News.
Menurut
mereka pemerintah harus memetakan dan mengidentifikasi wilayah yang
rentan terhadap penyakit tertentu. Kegagalan kebijakan ini menurut ABC-CBN News dapat terlihat dalam wabah campak yang sebenarnya dapat dicegah.
ABC-CBN
News mengatakan Duque menyudutkan Kepala Kantor Pengacara Publik (PAO)
Persida Acosta yang menurutnya telah membuat warga takut terhadap
Dengavaxia. Sementara itu dilansir di Inquirer, Menteri Kehakiman
Filipina Menardo Guevarra mengatakan seharusnya Acosta tidak perlu
disudutkan atas wabah campak ini.
"Kepala PAO
Acosta hanya melakukan pekerjaannya dan tidak berniat untuk
menakut-nakuti publik tentang dampak negatif vaksin secara umum," kata
Guevarra dalam pernyataannya.
Acosta sudah
mengajukan tuntutan kriminal terhadap mantan pejabat dan pejabat
kementerian kesehatan. Tuntutan ini diajukan setelah beberapa anak
meninggal dunia usia diinokulasi vaksin Dengvaxia yang kontroversial.
Tim
forensik PAO melakukan pemeriksaan forensik terhadap beberapa anak dan
seorang dokter pemerintah yang meninggal dunia setelah diberi vaksin
Dengvaxia. PAO berpendapat ada kelalaian pemerintah dalam menyaring
calon penerima vaksin.
Perusahaan pembuat vaksin
Sanofi Pasteur sendiri sudah menyatakan penerima vaksin yang belum
terjangkit dengue akan memiliki risiko yang lebih tinggi terkena
penyakit mematikan. Guevarra mengatakan ia sudah memerintahkan panel
Kementerian Kehakiman untuk menyelesaikan kasus terkait Dengvaxia.
"Saya sudah meminta panel penyelidiK Dengvaxia untuk menyelesaikan kasus tersebut pada bulan ini," kata Guevarra.
Ia
mengatakan dengan dukungan Presiden Rodrigo Duterte, kementeriannya
akan meluncurkan berbagai kampanye untuk mensosialisikan keharusan
vaksin untuk mencegah penyakit seperti flu dan campak. Tuntutan
Dengvaxia itu diajukan oleh Volunteers Against Crime and Corruption
(VACC).
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memeriksa pemuatan bom
hidrogen yang akan dimuat di rudal balistik antar benua (ICBM) baru, 3
September 2017. Korea Utara mengembangkan bom hidrogen atau bom H yang
dapat dijadikan hulu ledak dalam rudal balistik antarbenua atau ICBM.
KCNA via AP
CB, Jakarta - Panel ahli PBB mengungkap bahwa program rudal balistik nuklir Korea Utara tetap utuh dan Pyongyang menggunakan bandara dan fasilitas lain untuk menyembunyikan senjata nuklirnya.
Dikutip
dari Channel News Asia, 6 Februari 2019, panel mengatakan dalam sebuah
laporan yang dirilis pada Selasa bahwa sanksi terhadap Korea Utara
"tidak efektif" dengan Pyongyang mengakuisisi pengiriman ilegal produk
minyak, menjual batu bara yang dilarang dan melanggar embargo senjata.
Menurut
laporan CNN, panel para ahli yang menyusun laporan dibentuk setelah
beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB yang bertujuan menekan Pyongyang
untuk menghentikan uji coba nuklir dan peluncuran rudal. Laporan itu
disampaikan kepada komite sanksi Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan
15 orang pada hari Jumat, kata sumber itu kepada CNN.
"Program rudal balistik nuklir dan balistik Republik Demokratik
Rakyat Korea tetap utuh," kata laporan itu. "Panel menemukan bahwa DPRK
menggunakan fasilitas sipil, termasuk bandara untuk perakitan rudal
balistik dan pengujian dengan tujuan antisipasi tuntutan "pelucutan"
secara efektif."
Foto
dari satelit Digital Globe menemukan markas rudal milik Korea Utara di
Sakkanmol, 29 Maret 2018. CSIS/Beyond Parallel/DigitalGlobe 2018/Handout
via REUTERS.
Laporan rahasia itu dikirim ke Dewan
Keamanan PBB ketika Presiden Donald Trump mempersiapkan KTT kedua bulan
ini dengan pemimpin Kim Jong Un bahwa Amerika Serikat berharap akan
menghasilkan kemajuan nyata dalam membongkar program senjata Pyongyang.
Tetapi
Korea Utara telah menggunakan transfer ilegal minyak, bahan bakar dan
batubara menggunakan jaringan kapal di laut untuk menghindari
langkah-langkah yang bertujuan merampas pendapatan Pyongyang untuk
membangun program senjatanya.
"Pelanggaran-pelanggaran
ini membuat sanksi PBB terbaru tidak efektif dengan mengabaikan batas
atas impor produk minyak dan minyak mentah oleh DPRK serta larangan
batubara yang diberlakukan pada tahun 2017," kata laporan.Resolusi
sanksi PBB telah menetapkan batas tertinggi untuk Korea Utara empat
juta barel minyak mentah per tahun dan 500.000 barel produk minyak.
"Panel
menemukan bahwa pelabuhan dan bandara DPRK digunakan untuk pelanggaran
yang merajalela dari resolusi mulai dari impor minyak ilegal dan ekspor
batu bara ke penyelundupan uang tunai besar-besaran oleh warga negara
DPRK," ungkap laporan.
Korea
Utara memilik Rudala Balistik Antar Benua atau ICBM yang sudah
operasional, yaitu Taepodong 2. Rudal balistik ini mampu menghancurkan
target sejauh 4.000-15.000 km. Taepodong dapat membawa hulu ledak
konvensional atau nuklir. AFP/Ed Jones
Korea Utara terus
melanggar embargo senjata dan berusaha memasok senjata ringan ke Suriah,
pemberontak Houthi di Yaman, Libya dan Sudan.
"Sanksi finansial tetap merupakan langkah yang paling tidak diterapkan dan secara aktif menghindari rezim sanksi," kata panel.
Lembaga
keuangan Korea Utara beroperasi di setidaknya lima negara meskipun ada
pembatasan yang diberlakukan oleh PBB sementara diplomatnya membantu
negara mereka menghindari sanksi dengan mengendalikan rekening bank di
beberapa negara.Temuan panel itu sejalan dengan penilaian
intelijen AS bahwa Korea Utara tidak mungkin membatalkan program
senjatanya tetapi mungkin menawarkan untuk mengurangi kegiatannya untuk
memenangkan bantuan sanksi.
Pekan lalu, Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coats mengatakan para pemimpin Korea Utara melihat kemampuan senjata nuklir sebagai "penting bagi kelangsungan rezim" Korea Utara.
A Norwegian Air Shuttle plane is seen on
the tarmac of the Arlanda airport, outside Stockholm, Sweden February
7, 2019. TT News Agency/Jonas Ekstromer via REUTERS ATTENTION EDITORS -
THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. SWEDEN OUT. NO COMMERCIAL OR
EDITORIAL SALES IN SWEDEN. (REUTERS/TT NEWS AGENCY)
Stockholm (CB) - Sebuah pesawat maskapai Norwegia, Air
Shuttle, dengan 169 penumpang di dalamnya kembali ke Bandara Arlanda di
luar Stockholm dan dievakuasi pada Kamis (7/2) setelah mendapat ancaman
bom, kata Kepolisian Swedia.
Kepolisian mengatakan ada ancaman bom terhadap pesawat tertentu yang kini mendarat di Arlanda.
"Ketika evakuasi selesai, pesawat akan digeledah oleh satuan penjinak bom nasional," kata Juru Bicara Kepolisian Towe Hagg.
Televisi Swedia mengatakan pesawat itu mengangkut beberapa anggota tim
renang Swedia yang berangkat ke Prancis untuk mengikuti perlombaan dan
kamp pelatihan.
"Semua orang duduk dengan tenang dan menunggu kapan kami bisa turun dari
pesawat," kata perenang gaya bebas Isak Eliasson seperti dikutip SVT.
Otoritas Norwegia mengatakan ada ancaman terhadap pesawat dengan nomor
penerbangan DY4321 yang terbang dari Arlanda menuju Nice di Prancis.
Kanselir Jerman Angela Merkel dan
Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri sebuah diskusi dengan
penduduk di Aachen, Jerman, Selasa (22/1/2019). (REUTERS/WOLFGANG
RATTAY)
Paris (CB) - Prancis dan Jerman pada Rabu akan mengumumkan
kontrak pertama selama dua tahun bernilai 65 juta euro (sekitar satu
triliun rupiah), yang didanai secara setara oleh keduanya, untuk
merancang jet tempur masa depan, menurut sumber di militer Prancis.
Dassault Aviation dan Airbus yang akan membangun jet, yang diharapkan
akan menggantikan Rafale dari Dassault dan Eurofighter dari Jerman pada
2024, akan mulai mengerjakan konsep dan perancangan, menurut sumber
tersebut.
Kedua perusahaan diperkirakan akan mendemonstrasikan pesawat dan mesinnya pada pertengahan 2019.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Markel
pertama kali mengumumkan rencana tersebut pada Juli 2017 untuk Sistem
Pesawat Tempur Masa depan (FCAS), yang akan meliputi jet tempur dan
senjata terkait, termasuk `drone` (pesawat nirawak).
Setelah hampir dua tahun persiapan kedua perusahaan, kesepakatan pada
Rabu dan penandatanganan kontrak akan membuka jalan sesungguhnya bagi
dimulainya program tersebut.
Airbus dan Dassault telah menunggu penandatanganan pertama kontrak-kontrak untuk mengawali pelaksanaan proyek baru tersebut.
Perusahaan mesin pesawat Safran dari Prancis dan MTU Aero dari Jerman
diharapkan membentuk satuan tugas bersama untuk mengembangkan mesin
pesawat baru sedangkan perusahaan elektronik Prancis Thales dan pembuat
roket Eropa MBDA juga akan ikut serta dalam proyek.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly dan Menteri
Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen akan memimpin upacara
penandatanganan yang berlangsung di Safran, di barat daya Prancis, Rabu.
Jerman melepaskan kendala terbesar untuk mencapai kemajuan dalam proyek
itu pekan lalu ketika negara itu tunduk pada permintaan Prancis serta
mengeluarkan pesawat siluman F-35 buatan Lockheed Martin dari tender
multimiliar euro untuk menggantikan jet tempur tua Tornado, yang bisa
mengangkut senjata nuklir AS.
Prancis dan Jerman akan menambahkan Spanyol sebagai mitra penuh dalam
program tersebut pada musim panas, kata beberapa sumber kepada Reuters
pada Desember.
Inggris, yang akan meninggalkan Uni Eropa pada Maret, memperlihatkan
program pembangunan pesawat saingannya, yang disebut Tempest, dalam
pameran dirgantara Farnborough pada Juli.
Presiden Rusia Vladimir Vladimorvich Putin. Foto/REUTERS
MOSKOW
- Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan negaranya harus
membuat rudal hipersonik berhulu ledak nuklir dan rudal jelajah Kalibr
berbasis darat terbaru. Keputusan itu sebagai "respons cermin" terhadap
tindakan Amerika Serikat (AS) yang mulai memproduksi bom nuklir baru
setelah menarik diri dari Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces
(INF) 1987.
Misil hipersonik baru yang diminta Kremlin untuk
diproduksi adalah misil berbasis darat dengan jangkauan tembak 500km.
Pembuatan diminta dimulai tahun 2020 dan tahun 2021 harus sudah siap
dioperasikan.
Pada hari Jumat lalu AS mengonfirmasi telah
menangguhkan keikutsertaannya dalam Traktat INF yang telah bertahan
selama beberapa dekade. Perjanjian kontrol senjata rudal dan nuklir yang
diteken AS dan Uni Soviet dan kemudian dilanjutkan oleh Rusia itu
berisi larangan memiliki dan menguji coba rudal jarak menengah yang
diluncurkan dari darat dengan jangkauan 310-3.400 mil.
Pemerintah
Washington menuduh misil 9M729 Moskow bertentangan dengan perjanjian
era Perang Dingin tersebut dan meminta untuk dihancurkan. Namun, Moskow
membantah dan menuntut bukti atas tuduhan itu.
Pada hari
berikutnya setelah AS menangguhkan kepatuhannya dari Perjanjian INF,
Presiden Rusia Vladimir Putin bereaksi dengan mengikuti langkah serupa
sepeti yang dilakukan pemerintah Trump.
Putin mengatakan Rusia
akan memberikan "respons cermin" terhadap AS dengan terlibat dalam
penelitian dan pengembangan untuk teknologi rudal nuklir terbaru.
Kendati demikian, dia menjamin Moskow tidak akan terlibat dalam
perlombaan senjata yang mahal.
Shoigu, sebagaimana dikutip kantor berita RIA,
mengatakan pada Selasa (5/2/2019) bahwa mengingat Perjanjian INF itu
tidak lagi diperhatikan, maka menjadi penting bagi Moskow untuk
meningkatkan jangkauan sistem rudal daratnya dalam dua tahun ke depan.
"Pada
2019-2020, kita harus mengembangkan versi kompleks Kalibr berbasis laut
dengan rudal jelajah jarak jauh, yang terbukti efektif di Suriah.
Selama periode yang sama, kita harus membuat kompleks rudal darat dengan
misil hipersonik jarak jauh," kata Shoigu.
Keluarga rudal Kalibr berbeda dalam ukuran, platform peluncuran, jangkauan, dan kecepatan. Namun, semuanya dapat membawa hulu ledak konvensional atau pun nuklir.
Angela
Kane, seorang peneliti senior di Pusat Perlucutan Senjata dan
Non-Proliferasi Wina, mengatakan AS "mematikan" perjanjian kontrol
senjata nuklir bilateral itu karena pihaknya memandang perjanjian itu
sebagai sesuatu yang membatasinya ketika bersaing dengan rival lain yang
muncul.
"Saya menduga di sini, tetapi saya memperkirakan bahwa
AS ingin mengembangkan rudal yang juga dapat diarahkan terhadap China
atau negara-negara lain seperti Iran atau Korea Utara," katanya pada
panel berjudul "Nuclear Brinkmanship" di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari lalu.
Kane menambahkan bahwa tanpa Perjanjian INF 1987, banyak rudal nuklir dapat dikerahkan ke wilayah mana pun di seluruh
Rudal
balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III Amerika Serikat saat diuji
coba 6 November 2018 di Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg. Foto/Tech.
Sgt. Jim Araos, 30th Space Wing Public Affairs
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) bersiap untuk menguji coba sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III
setelah uji coba terakhir dilakukan tiga bulan lalu. Senjata itu
diperkirakan akan meluncur Selasa malam atau Rabu (6/2/2019) pagi dini
hari waktu setempat dari Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg utara.
Misil
yang proses peluncurannya berlangsung tiga tahap tersebut dijadwalkan
akan keluar dari silo bawah tanah antara Selasa pukul 23.01 malam hingga
Rabu pukul 05.01 dini hari.
Setelah diluncurkan, militer akan
melacak hulu ledak tiruan pada misil itu saat terbang 4.200 mil menuju
target yang telah ditentukan di Atol Kwajalein, Samudra Pasifik tengah.
Kendati
demikian, tes ICBM Minuteman III dapat ditunda jika ada masalah teknis
atau cuaca yang tidak menguntungkan di Vandenberg atau pun di downrange.
Angkatan
Udara AS rutin melakukan uji coba rudal balistik antarbenua beberapa
kali setahun dari pangkalan Vandenberg untuk mengumpulkan informasi
tentang akurasi dan keandalan sistem senjata.
"Pengujian
perkembangan memberikan data berharga kepada Komando Serangan Global
Angkatan Udara, dan secara holistik menguji sistem, prosedur, dan
penerbang dari perencanaan misi awal hingga tahap akhir penempatan
senjata," kata perwakilan dari Pangkalan Angkatan Udara (AFB)
Vandenberg.
Pihak Komando Serangan Global Angkatan Udara
mengatakan uji coba ICBM Minuteman III telah dijadwalkan berbulan-bulan
atau bertahun-tahun sebelumnya, dan bukanlah reaksi terhadap insiden
atau isu di dunia nyata.
Angkatan Udara Amerika memiliki total
400 unit rudal Minuteman III dalam keadaan siaga di dekat Minot dan di
F.E. Warren AFB, Wyoming dan Malmstrom AFB, Montana.
Tes senjata
yang dijadwalkan ini akan menjadi peluncuran ketiga pada 2019 dari
Vandenberg, namun menjadi yang pertama untuk program ICBM Komando
Serangan Global.
Uji rudal yang dijadwalkan ini hanya berselang
beberapa hari setelah administrasi Donald Trump menangguhkan Perjanjian
Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF) 1987. Wakil Direktur Nuclear Age
Peace Foundation, Rick Wayman, mengatakan Perjanjian INF 1987 merupakan
salah satu perjanjian pengendalian senjata paling penting yang pernah
dicapai antara Amerika Serikat dan Rusia.
"Minggu
yang sama, kedua negara ini sekarang tampaknya akan menguji peluncuran
ICBM. Ketika ICBM tidak akan melanggar Perjanjian INF, itu
mengkhawatirkan bahwa ketegangan luar biasa ini akan datang ke kepala
dengan tes rudal berkemampuan nuklir utama hanya berjam-jam atau
berhari-hari," ujar Wayman kepada Noozhawk.
AS dan Rusia merupakan pemilik lebih dari 90 persen dari sekitar 14.500 senjata nuklir di dunia.
"Angkatan
Udara selalu berusaha untuk menjelaskan tes ICBM sebagai rutin dan
terputus dari peristiwa geopolitik saat ini. Tetapi tidak ada yang rutin
untuk melatih pemusnahan jutaan orang," kata Wayman.
"Keputusan
Presiden Trump yang ceroboh untuk membakar Perjanjian INF telah
menempatkan kita pada risiko bencana nuklir yang bahkan lebih tinggi,
dan pengujian ICBM yang terus dilakukan Amerika Serikat harus dilihat
dengan cara ini," imbuh dia.
Pendukung anti Brexit Steve Bray
berunjuk rasa diluar Downing Street di London, Inggris, Selasa (22/1).
ANTARA FOTO/REUTERS/Toby Melville/cfo/19
London (CB) - Para menteri Inggris secara diam-diam
mengadakan pertemuan untuk membahas rencana menunda Brexit (pemisahan
Inggris dari Uni Eropa) sekitar enam pekan, harian The Telegraph
melaporkan, Selasa (5/2).
Penundaan itu akan memundurkan Brexit menjadi 24 Mei. Saat ini, Inggris
berencana meninggalkan Uni Eropa (EU) pada 29 Maret 2019.
Para menteri berharap EU akan menyetujui "masa tenggang" dua bulan
setelah 29 Maret, kalau-kalau kesepakatan yang diajukan Perdana Menteri
Theresa May lolos di parlemen, untuk menambah waktu bagi pembuatan
undang-undang, menurut laporan The Telegraph.
May akan menuju Brussel pada Kamis untuk meminta para pemimpin EU
menerima perubahan-perubahan yang mengikat secara hukum atas pengaturan
perbatasan Irlandia dalam kesepakatan pemisahan Inggris atau menghadapi
kemungkinan kekacauan karena tidak ada kesepakatan soal Brexit.
London dan Brussel mempermasalahkan apakah kesepakatan Brexit yang
sekarang sudah ditutup pada November bisa diubah, sehingga memberi
peluang kemungkinan penangguhan untuk Brexit, detik-detik penentuan
apakah sepakat atau tidak sepakat soal Inggris keluar dari EU.
FILE PHOTO: Houthi militants patrol a
street where pro-Houthi protesters demonstrated against the Saudi-led
coalition in Hodeidah, Yemen December 10, 2018. Picture taken December
10, 2018. REUTERS/Abduljabbar Zeyad/File Photo (REUTERS/ABDULJABBAR
ZEYAD)
Dubai (CB) - Amnesty International pada Rabu menuduh Uni
Emirat Arab (UAE) mengalihkan pasokan persenjataan dari negara-negara
Barat dan negara-negara lain ke "para gerilyawan tak bertanggung jawab
yang diduga melakukan kejahatan perang" di Yaman.
UAE dan Arab Saudi memimpin koalisi militer, yang juga meliputi pasukan
setempat dari berbagai faksi di Yaman, untuk mengembalikan kekuasaan
pemerintah yang diakui secara internasional. Pemerintahan tersebut
didepak pada 2014 oleh kelompok Al Houthi, yang terkait dengan Iran.
"Pasukan Emirat menerima persenjataan senilai miliaran dolar dari
negara-negara Barat dan negara-negara lain, namun mengalihkannya kepada
gerilyawan yang tidak jelas di Yaman dan diketahui melakukan kejahatan
perang," kata Amnesty dalam sebuah pernyataan.
"Penyebarluasan kekuatan tempur ini menjadi faktor utama bencana bagi
ribuan warga sipil Yaman yang telah tewas, sementara jutaan lainnya
berada diambang kelaparan akibat dampak langsung dari peperangan ini,"
kata organisasi hak asasi manusia (HAM) itu.
Kantor Media Pemerintah UAE masih belum memberikan tanggapan terkait pernyataan Amnesty tersebut.
UAE telah melatih dan mempersenjatai ribuan pejuang Yaman, sebagian
besar di provinsi-provinsi di wilayah selatan dan pesisir barat, sebagai
bagian dari pasukan yang memerangi Al Houthi.
Al Houthi kini mengusai sebagai besar wilayah perkotaan, termasuk Ibu Kota Sanaa dan pelabuhan utama Hodeidah.
Negara-negara Barat yang sebagian besar menyediakan persenjataan dan
intelijen bagi koalisi, telah menekankan agar perang hampir empat tahun
di negara itu diakhiri setelah pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal
Khashoggi.
Peristiwa pembunuhan itu membuat mereka meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas Arab Saudi di kawasan.
Sejumlah organisasi HAM menuduh kedua pihak yang bertikai kemungkinan
melakukan kejahatan perang, termasuk kekerasan terhadap para tahanan.
Tuduhan itu ditepis kedua pihak.
Amnesty menyerukan kepada berbagai negara untuk menghentikan penjualan
sejatan ke pihak-pihak yang bertikai sampai "tidak ada lagi risiko
besar" bahwa persenjataan itu kemungkinan digunakan untuk melanggar
kemanusiaan atau hukum HAM.
Konflik di Yaman secara luas dianggap sebagai perang antara Muslim Suni
Arab Saudi dan Muslim Syiah Iran, yang dihasut oleh suatu pihak
berpengaruh.
Al Houthi membantah tuduhan bahwa Iran memasok mereka dengan
persenjataan dan mengatakan bahwa revolusi mereka menentang korupsi.
Drone bawah air Rusia, Poseidon, diklaim mampu menyelam sampai kedalaman 1 km dan kecepatannya tembus 200 km/jam. Foto/Istimewa
MOSKOW - Poseidon, drone bawah air terbaru Rusia,
dilaporkan dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan hingga 200
km/jam. Drone ini juga mampu menyelam sedalam 1 km untuk menembus
pertahanan apa pun.
"Kendaraan bawah air tak berawak (UUV) bisa
menembus segala tindakan penanggulangan perang kapal selam dan sistem
pertahanan musuh lainnya karena sistem kontrol sepenuhnya otonom," ujar
sumber di dalam militer Rusia mengungkapkan kepada kantor berita TASS.
Sumber tersebut juga memberikan sedikit banyak senjata rahasia dan fitur yang dirahasiakan.
Dikatakannya,
Poseidon akan dapat menyelam di lebih dari 1 km dan pada kedalaman
seperti itu mesin dapat mendorongnya hingga 200 km jam.
"Secara
keseluruhan, kemampuan intelektual dan daya dorong akan membuat
kendaraan itu tak terkalahkan dan memastikan bahwa itu mengenai
sasaran," imbuh sumber itu seperti disitir RT dari TASS, Selasa
(5/2/2019).
Torpedo rahasia akan dibawa oleh kapal selam berbahan bakar nuklir milik Angkatan Laut Rusia itu.
Sementara
kecepatan dan kedalaman maksimum penyelaman Poseidon mungkin tampak
mengejutkan bagi publik, teknologi yang dikembangkan di zaman Soviet
dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana hal itu menjadi mungkin.
Sebagai
contoh, kapal selam bertenaga nuklir Rusia K-278 Komsomolets pernah
mencapai rekor kedalaman selam 1.027 meter di Laut Norwegia, Mikhail
Khodarenok, seorang pakar militer Rusia mengatakan kepada RT.
"Pada 800 meter dia bisa menembakkan torpedo tiruan melalui tabungnya," katanya.
Demikian
juga, ada torpedo ultra-cepat yang mulai beroperasi pada Angkatan Laut
Soviet di tahun 1977. Dijuluki 'Shkval' (Squall), senjata anti-kapal itu
dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan 200 knot atau 370km/jam di
bawah air karena mesin roket berbahan bakar padat.
"Jika
banyak dari ini telah dilakukan sejak lama, maka mengapa fitur ini
tidak dapat direproduksi hari ini, terutama mengingat fakta bahwa semua
teknologi, biro desain, pengembang dan tradisi telah dipertahankan?"
tanyanya.
"Sangat mungkin bahwa Poseidon bisa menyelam lebih
dalam dan bergerak lebih cepat dari yang diketahui publik," ujarnya
memprediksi.
Menurutnya segala sesuatu yang tersedia di sumber
terbuka adalah untuk menyembunyikan fitur kinerja sebenarnya dari UUV.
Menurutnya ini adalah "praktik umum."
Jakarta, CB -- Amerika Serikat berupaya membujukUni Eropa untuk melarang penggunaan infrastruktur 5G buatan Huaweidan produsen Chinalainnya. Dalam sebuah pernyataan pada Selasa (6/2), AS menjadikan Uni Eropa sebagai sekutu utama pelarangan tersebut.
Tindakan
ini dilakukan sebagai langkah lanjutan pertemuan Komisi Uni Eropa
dengan pemerintah Belgia di Brussel. Pemerintah AS sebelumnya juga telah
mengajukan permintaan serupa kepada Prancis, Jerman, dan beberapa
negara Eropa lainnya.
"Kami mengatakan Anda harus sangat, sangat
berhati-hati dan kami mendesak mereka (Uni Eropa) untuk tidak
terburu-buru menandatangani kontrak dengan pemasok yang tidak dipercaya
dari negara-negara seperti China," kata pejabat AS yang namanya tidak
diungkap.
Mengutip Reuters, AS beralasan jika perangkat China menimbulkan risiko keamanan sehingga Uni Eropa harus mengeluarkan larangan.
"Menggunakan
perangkat buatan Huawei atau ZTE memiliki serangkaian konsekuensi untuk
keamanan nasional.. Kami adalah sekutu dengan hampir semua anggota Uni
Eropa, termasuk untuk urusan keamanan," ucap pejabat itu.
AS
menyatakan telah melarang penggunaan perangkat Huawei pada layanan
pemerintah dan perusahaan swasta. Sementara AS nampak memanfaatkan
langkah Uni Eropa yang masih belum menentukan sikap atas isu keamanan
produk China.
Langkah AS merespons upaya Uni Eropa yang tengah mempertimbangkan
proposal soal larangan penggunaan infrastruktur Huawei. Jerman
menyatakan khawatir dengan isu spionase melalui perangkat asal China.
Sebaliknya,
Prancis justru menyatakan pihaknya belum mengambil sikap untuk melarang
penggunaan produk Huawei lantaran tidak memiliki semua informasi
layaknya AS.
"Kami mengambil keputusan berdasarkan apa yang kami
ketahui. Pada tahap ini, kami belum memutuskan untuk melarang Huawei di
Prancis," kata seorang pejabat Prancis baru-baru ini.
Pesawat jet tempur multirole Rafale Angkatan Udara Prancis. Foto/REUTERS
PARIS - Angkatan Udara Prancis melakukan simulasi serangan nuklir yang melibatkan sebuah jet tempur multirole
Rafale pada hari Selasa. Misi langka ini dilakukan di saat Amerika
Serikat dan Rusia sedang bersitegang setelah keduanya sama-sama
menangguhkan kepatuhannya terhadap Perjanjian Intermediate-Range Nuclear
Forces (INF) 1987.
Juru bicara Angkatan Udara Prancis Kolonel Cyrille Duvivier kepada Reuters
yang dilansir Rabu (6/2/2019) mengatakan simulasi berlangsung selama 11
jam. Simulasi mencakup semua fase misi serangan nuklir, termasuk adegan
pengisian bahan bakar hingga penembakan rudal layaknya seperti dalam
serangan nyata.
"Serangan nyata ini dijadwalkan dalam kehidupan
sistem senjata," kata Kolonel Duvivier. "Itu dilakukan secara berkala,
tetapi tetap langka karena rudal yang sebenarnya, tanpa hulu ledak,
ditembakkan," ujarnya.
Mantan
Menteri Luar Negeri Prancis Hubert Vedrine mendesak Moskow dan
Washington untuk membuat perjanjian baru untuk menggantikan Perjanjian
INF 1987.
Pada hari Jumat lalu AS mengonfirmasi telah
menangguhkan keikutsertaannya dalam Traktat INF yang telah bertahan
selama beberapa dekade. Perjanjian kontrol senjata rudal dan nuklir yang
diteken AS dan Uni Soviet dan kemudian dilanjutkan oleh Rusia itu
berisi larangan memiliki dan menguji coba rudal jarak menengah yang
diluncurkan dari darat dengan jangkauan 310-3.400 mil.
Pemerintah
Washington menuduh misil 9M729 Moskow bertentangan dengan perjanjian
era Perang Dingin tersebut dan meminta untuk dihancurkan. Namun, Moskow
membantah dan menuntut bukti atas tuduhan itu.
Pada hari
berikutnya setelah AS menangguhkan kepatuhannya dari Perjanjian INF,
Presiden Rusia Vladimir Putin bereaksi dengan mengikuti langkah serupa
sepeti yang dilakukan pemerintah Trump.
Putin mengatakan Rusia
akan memberikan "respons cermin" terhadap AS dengan terlibat dalam
penelitian dan pengembangan untuk teknologi rudal nuklir terbaru.
Kendati demikian, dia menjamin Moskow tidak akan terlibat dalam
perlombaan senjata yang mahal.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei
Shoigu mengatakan negaranya harus membuat rudal hipersonik berhulu ledak
nuklir dan rudal jelajah Kalibr berbasis darat terbaru. Keputusan itu
sebagai "respons cermin" terhadap tindakan AS yang mulai memproduksi bom
nuklir baru setelah menarik diri dari Perjanjian INF 1987.
Misil
hipersonik baru yang diminta Kremlin untuk diproduksi adalah misil
berbasis darat dengan jangkauan tembak 500km. Pembuatan diminta dimulai
tahun 2020 dan tahun 2021 harus sudah siap dioperasikan.
Shoigu, sebagaimana dikutip kantor berita RIA,
mengatakan pada Selasa (5/2/2019) bahwa mengingat Perjanjian INF itu
tidak lagi diperhatikan, maka menjadi penting bagi Moskow untuk
meningkatkan jangkauan sistem rudal daratnya dalam dua tahun ke depan.
"Pada
2019-2020, kita harus mengembangkan versi kompleks Kalibr berbasis laut
dengan rudal jelajah jarak jauh, yang terbukti efektif di Suriah.
Selama periode yang sama, kita harus membuat kompleks rudal darat dengan
misil hipersonik jarak jauh," kata Shoigu.
Keluarga rudal Kalibr
berbeda dalam ukuran, platform peluncuran, jangkauan, dan kecepatan.
Namun, semuanya dapat membawa hulu ledak konvensional atau pun nuklir.
Kendaraan
lapis baja Oshkosh buatan Amerika Serikat saat dioperasikan kelompok
Brigade Abu al-Abbas di Taiz, Yaman. Foto/Al Jazeera
WASHINGTON
- Arab Saudi dan mitra koalisinya di Yaman, Uni Emirat Arab (UEA)
dituduh memberikan senjata buatan Amerika Serikat (AS) kepada
kelompok-kelompok yang terkait dengan al-Qaeda. Kelompok milisi yang
komandannya pernah melayani cabang ISIS di Yaman juga disebut ikut
menerima senjata tersebu.
Tuduhan itu muncul dari laporan investigasi CNN. Tuduhan itu menguatkan laporan serupa yang pernah diterbitkan Al Jazeera. Bedanya, laporan CNN
menyebut senjata-senjata AS juga telah jatuh ke tangan pemberontak
Houthi yang sejatinya sedang diperangi koalisi pimpinan Arab Saudi.
Arab
Saudi dan UEA mulai terlibat perang di Yaman pada 2015. Koalisi Arab
tersebut melakukan intervensi militer atas permintaan pemerintah
Presiden Yaman Abd Rabbo Mansour Hadi yang nyaris digulingkan kelompok
Houthi.
Menurut CNN,
yang mengutip komandan dan analis setempat, Koalisi Arb menggunakan
senjata buatan AS sebagai bentuk mata uang untuk membeli loyalitas
milisi atau suku. "Untuk mendukung aktor bersenjata terpilih, dan
memengaruhi lanskap politik yang kompleks," bunyi laporan tersebut, yang
dikutip Rabu (6/2/2019).
Menurut Pentagon, kedua monarki Teluk melanggar ketentuan perjanjian senjata dengan Washington. Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan kepada CNN bahwa ada penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap masalah ini.
Mengutip situasi di kota Taiz yang sedang bergejolak, CNN mengatakan bahwa al-Qaeda telah membentuk aliansi menguntungkan dengan milisi pro-Saudi yang mereka perjuangkan bersama.
Sebagai
contoh, kelompok milisi Brigade Abu al-Abbas memiliki kendaraan lapis
baja Oshkosh buatan AS yang diarak di kota itu dalam unjuk kekuatan
tahun 2015.
Abu al-Abbas, pendiri milisi, diberi sanksi oleh AS pada tahun 2017 karena diduga mendanai al-Qaeda dan cabang ISIS di Yaman.
"Koalisi masih mendukung saya," kata al-Abbas dalam sebuah wawancara pada bulan Desember dengan Washington Post. "Jika saya benar-benar seorang teroris, mereka akan membawa saya untuk diinterogasi."
Laporan CNN menambahkan, kelompok al-Abbas masih menikmati dukungan dari koalisi yang dipimpin Saudi.
"Amerika
Serikat belum mengizinkan Kerajaan Arab Saudi atau Uni Emirat Arab
untuk mentransfer kembali peralatan apa pun ke pihak-pihak di Yaman,"
kata juru bicara Pentagon Johnny Michael kepada CNN.
"Pemerintah
AS tidak dapat mengomentari investigasi yang tertunda dari klaim
pelanggaran penggunaan (senjata) dari artikel dan layanan pertahanan,"
imbuh Michael.
AS sejauh ini merupakan pemasok senjata terbesar
untuk Arab Saudi dan UEA. Dukungan Washington sangat penting bagi perang
berkelanjutan di Yaman oleh koalisi yang dipimpin Saudi. Baik Saudi
maupun UEA belum mengomentari laporan investigasi soal transfer senjata
buatan AS ke para kelompok militan di Yaman.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio
Guterres mengungkapkan ada laporan yang menyebut “adanya peningkatan
dalam penggunaan tentara bayaran,” kantor berita Associated Press
melaporkan via VOA.
Tentara bayaran itu tidak saja bertempur secara ilegal dalam
peperangan, tapi juga secara ilegal mengeksploitasi sumber daya alam dan
sekarang juga ‘membiayai’ kejahatan transnasional terorganisasi,
terorisme dan ekstremisme kekerasan, kata Guterres.
Senin (4/2), Guterres mengatakan menyerukan dukungan yang lebih luas
terhadap perjanjian regional dan internasional menentang penggunaan
tentara bayaran. Dia juga menyerukan upaya penuntutan terhadap tentara
bayaran dan memperkuat usaha mencegah anak-anak muda khususnya untuk
menjadi anggota tentara bayaran.
Menteri Luar Negeri Rwanda Richard Sezibera mengatakan “sekarang
kita menyaksikan meningkatnya serangan siber dan spionase industri yang
dilakukan oleh kelompok-kelompok tentara bayaran di dalam negeri
sendiri.”
Sezibera mengatakan di hadapan Dewan Keamanan PBB bahwa tentara
bayaran terus tumbuh dan berinovasi sebab itu PBB dan Uni Afrika mesti
menanggapinya.
Jakarta, CB -- Pengguna layanan pertukaran mata uang digital atau cryptocurrency QuadrigaCX
mengeluhkan tidak bisa mengakses dana mereka. Alasannya bukan karena
layanan tersebut menjadi korban peretasan, namun sang pendiri Gerald
Cotten dilaporkan meninggal dunia.
Cotten dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit komplikasi saat sedang di India awal Desember lalu.
Kematiannya menyisakan krisis lantaran Cotten menggunakan perangkat fisik yang tidak terhubung dengan internet atau 'cold storage' untuk menyimpan dana.
'Cold storage'
digunakan untuk melindungi dana pengguna dari tangan usil peretas.
Sementara Cotten menjadi satu-satunya orang yang memiliki kendali atas
akun dan password menyimpan Bitcoin senilai US$145 juta atau sekitar Rp2
miliar dan sejumlah aset digital lainnya.
Sementara untuk dana yang bisa diakses untuk transfer tersimpan dalam
'hot wallet' dengan nominal lebih kecil dibandignkan yang ada di 'cold storage'.
Quadriga juga memiliki uang sekitar US$53 juta, namun tetap tidak cukup
untuk menutupi aset milik lebih dari 100 ribu penggunanya.
Jennifer Robertson, istri Cotten mengatakan QuadrigaCX mengajukan perlindungan kreditor lantaran tak bisa mengakses dana di 'cold storage'.
"Selama
beberapa pekan terakhir kami berusaha mengatasi masalah likuiditas,
termasuk mencari cara untuk mengakses 'cold storage'. Sayangnya upaya
ini belum berhasil karena tidak ada yang tahu kata sandi dan akses
pemulihannya," ucap Robertson dalam pernyataannya seperti dilansir CNN.
QuadrigaCX
dilaporkan juga sudah merekrut seorang ahli untuk membobol laptop dan
perangkat lainnya namun belum berhasil memecahkan kode enkripsinya.
CB, JAKARTA
-- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap dua kapal
perikanan asing (KIA) berbendera Malaysia pada Sabtu (2/2) di perairan
Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) Selat Malaka.
Penangkapan
tersebut dilakukan langsung oleh Kapal Pengawas Perikanan (KP) Hiu 012
di bawah kendali Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan
Perikanan (PSDKP). Plt Direktur Jendral PSDKP, Nilanto Perbowo
mengungkapkan, penangkapan dilakukan pada siang hari sekitar pukul 12.00
WIB.
“Penangkapan ini dalam operasi KP Hiu 012 untuk memberantas
kegiatan penangakan ikan secara ilegal di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Republik Indonesia (WPP-RI),” kata Nilanto dalam pernyataan resmi
diterima Republika.co.id, Selasa (5/2) malam.
Lebih
detail, kapal pertama yang berhasil ditangkap yaitu KM KHF 1980
berukuran 63.74 gross tonne (GT) dengan alat tangkap jenis trawl. Kapal dinakhodai oleh warga negara Thailand serta lima orang anak buah kapal yang juga berkewarganegaraan Thailand.
Adapun kapal kedua yakni KM KHF 2598 berukuran 64.19 GT dengan alat tangkap trawl. Diketahui, nakhoda kapal berkewarganegaraan Thailand bersama empat anak buah kapal dengan asal yang sama.
Nilanto
menegaskan, kedua kapal itu ditagkap lantaran tidak memiliki dokumen
perizinan yang sah. Khususnya untuk melakukan penangkapan ikan di
WPP-RI. Selain itu, alat tangkap trawl juga dilarang oleh Pemerintah
Indonesia.
“Kedua tersebut telah dikawal menuju
Pangkalan PSDKP Lampulo untuk proses hukum oleh penyidik pegawai negeri
sipil perikanan,” ujar Nilanto.
Menurut dia, dua
kapal itu diduga melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009
dengan ancaman hukuman penjara paling lama enam tahun serta denda paling
banyak Rp 20 miliar.
Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna Hamonangan Laoly
menekan MLA dengan pihak Konfederasi Swiss. Foto/Istimewa
JAKARTA
- Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Konfederasi Swiss
menadatangani Mutual Legal Assistance (MLA) atau Perjanjian Bantuan
Hukum Timbal Balik dalam Masalah Pidana. Perjanjian berisi 39 pasal,
yang antara lain mengatur bantuan hukum tentang pelacakan, pembekuan,
penyitaan hingga perampasan aset hasil tindak kejahatan.
MLA
diteken Bernerhof Bern, Senin (4/2/2019). Penandatangan dari pihak
Indonesia dilakukan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
(Menkumham), Yasonna Hamonangan Laoly.
"Perjanjian MLA RI-Swiss
merupakan capaian kerja sama bantuan timbal balik pidana yang luar
biasa, dan menjadi sejarah keberhasilan diplomasi yang sangat penting,
mengingat Swiss merupakan financial center terbesar di Eropa,” kata Yasonna dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (5/2/2019).
Bagi
Indonesia, perjanjian ini merupakan MLA yang ke-10. Sebelumnya,
Indonesia meneken MLA dengan ASEAN, Australia, Hong Kong, China, Korea
Selatan, India, Vietnam, Uni Emirat Arab, dan Iran. Sedangkan bagi
Swiss, perjanjian ini merupakan MLA ke-14 dengan negara-negara
non-Eropa.
"Perjanjian ini merupakan salah satu upaya pemerintah
Indonesia untuk memastikan warga negara atau badan hukum Indonesia
mematuhi peraturan perpajakan dan tidak melakukan kejahatan penggelapan
pajak atau kejahatan perpajakan lainnya,” kata Yasonna.
Cakupan perjanjian tersebut luas. Perjanjian dengan Swiss ini untuk mendukung proses hukum pidana di negara peminta.
MLA
antara Indonesia dan Swiss dirintis melalui berbagai diplomasi,
termasuk perundingan dua kali putaran yang dipimpin Direktur Otoritas
Pusat dan Hukum Internasional Cahyo Rahadian Muzhar yang saat ini
menjabat sebagai Dirjen Administrasi Hukum Umum (AHU).
Perundingan
putaran pertama dilakukan di Bali pada tahun 2015. Sedangkan putaran
kedua berlangsung tahun 2017 di Bern, Swiss. Perundingan kedua digelar
untuk merampungkan pembahasan pasal-pasal yang belum disepakati pada
perundingan pertama.
Yasonna berharap Dewan Perwkilan Rakyat
(DPR) mendukung penuh MLA yang telah diteken tersebut dengan cara segera
meratifikasi. Dukungan parlemen akan bisa bermanfaat bagi para penegak
hukum, dan instansi terkait lainnya untuk menjalankan ketentuan dalam
perjanjian tersebut.
CB, Jakarta - Facebook telah mencopot akun 4 kelompok pemberontak bersenjata Myanmar
dan menyebut keempatnya sebagai organisasi berbahaya. Sebelumnya,
raksasa media sosial AS ini telah mencopot dan memblokir ratusan akun,
halaman dan organisasi yang merupakan jaringan militer Myanmar.
Keempat
kelompok pemberontak itu adalah The Arakan Army, The Myanmar Democratic
Alliance Army, Kachin Independence Army, dan Ta'ang National Liberation
Army.
Facebook
bertindak setelah mendapat kritik karena tidak berupaya mencegah
kekerasan dalam konten dan kebencian yang disebarkan di platformnya,
saat konflik menajam di Myanmar.
"Dalam upaya mencegah dan membuat gangguan secara offline, kami tidak
membolehkan organisasi-organisasi ini atau individu-individu yang
menyampaikan misi kekerasan atau terlibat dalam kekerasan muncul di
Facebook," ujar Facebook dalam pernyataannya seperti dikutip dari
Channel News Asia, Selasa, 5 Februari 2019.
Keempat
kelompok pemberontak ini telah berjuang demi mendapatkan otonomi
melalui berbagai konflik sejak Myanmar merdeka dari Inggris tahun 1948.
Keempat kelompok pemberontak yang disebut Facebook belum menandatangani
kesepakatan gencatan senjata dengan pemerintah. Mereka juga kerap
bentrok dengan pasukan bersenjata Myanmar dalam beberapa tahun terakhir.
Kachin
Independence Army menguasai wilayah utara Myanmar. Arakan Army telah
terlibat pertarungan di wilayah barat sejak Desember lalu yang
mengakibatkan 5.000 meninggalkan rumah mereka.
Serangan Arakan Army pada Januari lalu telah menewaskan 13 polisi perbatasan Myanmar.
Juru
bicara Ta'ang National Liberation Army, Mong Aik Kyaw membenarkan
halaman akun Facebooknya sudah dicopot. Namun menolak untuk menanggapi
alasan Facebook tersebut. Sedangkan 3 kelompok pemberontak lainnya tidak
memberikan tanggapan.
Facebook menyatakan peristiwa tersebut jadi bukti jelas bahwa keempat kelompok pemberontak Myanmar bertanggung
jawab atas berbagai serangan terhadap warga sipil dan terlibat
kekerasan di Myanmar, sehingga dilarang menggunakan layanan Facebook
untuk memanasi situasi di lapangan.
CB, Jakarta - Penasihat Negara Myanmar
Aung San Suu Kyi mengatakan anggota parlemen bertanggung jawab untuk
mengubah konstitusi sekarang setelah sebuah proposal amandemen telah
disetujui untuk meninjau kembali piagam konstitusi.
Suu Kyi mengatakan, selain memberlakukan undang-undang, perubahan piagam adalah mandat yang sangat penting dari parlemen.
"Anggota
parlemen tidak hanya bertanggung jawab atas hukum yang berkaitan dengan
rakyat tetapi juga amandemen konstitusi," kata Suu Kyi, dikutip dari
Myanmar Times, 6 Februari 2019.
Suu Kyi membuat komentar dua hari setelah Amyotha Hluttaw (Majelis
Tinggi) Aung Kyi Nyunt mengajukan proposal mendesak untuk membentuk
komite amandemen konstitusi.
Usulan itu adalah inisiatif pertama
untuk mendorong perubahan piagam sejak Partai Liga Nasional untuk
Demokrasi (NLD) yang berkuasa mulai berkuasa pada 2016.
Amandemen
dari piagam militer 2008 yang dirancang oleh militer adalah di antara
janji-janji pemilihan NLD yang tetap tidak terpenuhi. Banyak yang
melihat isi konstitusi tidak demokratis, terutama ketentuan yang
mengalokasikan 25 persen kursi parlemen untuk militer.
Pada acara
yang sama Jumat lalu, Presiden U Win Myint mengingatkan legislator untuk
tidak bertentangan dengan ketentuan piagam dalam melaksanakan proyek
dengan pemerintah daerah atau negara bagian.
Dia mendesak mereka untuk menghormati cabang eksekutif dan yudisial pemerintah untuk menjaga sistem checks and balances yang sehat.
Komite
parlemen gabungan untuk merancang amandemen Konstitusi Militer Myanmar
tampaknya akan terbentuk setelah mayoritas kuat anggota parlemen yang
bergabung dalam debat proposal di Parlemen pada Selasa mendukung gagasan
tersebut.
Dikutip dari The Irrawaddy, Dalam langkah pertama oleh
Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) untuk mengubah piagam
militer-drafter sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2016, anggota
parlemen partai U Aung Kyi Nyunt mengajukan proposal minggu lalu untuk
membentuk komite ad hoc "secepat mungkin".
Pembuat undang-undang
yang ditunjuk militer legislatif keberatan keras, mengklaim langkah itu
melanggar aturan konstitusional. Anggota parlemen militer, yang dijamin
25 persen kursi di Parlemen oleh Konstitusi, muncul hingga debat Selasa
tentang proposal tetapi menolak untuk berpartisipasi.
Tiga
puluh anggota parlemen bergabung dalam perdebatan, dengan 12 dari NLD,
11 dari lima partai etnis minoritas, lima dari Partai Solidaritas dan
Pembangunan (USDP) dan satu dari Partai Persatuan Demokrasi Nasional.
Semua kecuali lima dari USDP yang didukung militer berbicara mendukung
komite dan menawarkan saran tentang bentuk apa yang harus diambil.
Konstitusi Myanmar telah dikritik karena tidak demokratis baik di
dalam maupun di luar negeri untuk artikel yang menempatkan militer di
luar kendali pemerintah sipil dan yang membatasi hak-hak etnis minoritas
termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri.
NLD telah mendorong
amandemen konstitusi sejak 2013. Dalam jajak pendapat nasional pada saat
itu, 97 persen responden di 267 kota di seluruh negeri mengatakan
mereka ingin Konstitusi Myanmar diubah.
Dalam debat hari Selasa,
Daw Htu May, dari Arakan League for Democracy, mengatakan ia menyambut
baik pembentukan komite reformasi karena "krisis konstitusi adalah
krisis Myanmar" dan menyerukan sebuah badan inklusif.
Aung San Suu Kyi membuka KTT Investasi Myanmar 2019 di Nay Pyi Taw, ibukota Myanmar. [MYANMAR TIMES]
U
Sai Tun Aye, dari Liga Nasionalitas Demokrasi Shan, mengatakan
reformasi konstitusi diperlukan untuk menangani masalah-masalah seperti
desentralisasi, yang pada gilirannya dapat membantu etnis minoritas
mencapai penentuan nasib sendiri yang lebih besar.
U Maung Myint
dari USDP "secara serius" keberatan, menggemakan keluhan militer dari
minggu lalu bahwa aturan konstitusional dilanggar.
Mengutip Bab 12
Konstitusi, USDP dan militer mengatakan setiap amandemen yang diusulkan
harus diajukan sebagai RUU sebelum diajukan ke Parlemen untuk dibahas.
"Panitia harus dibentuk setelah kita memiliki RUU. Sekarang terbalik urutan prosedurnya," kata U Maung Myint.
Namun,
U Aung Kyi Nyunt, yang mengusulkan komite, dan Ketua U T Khun Myat
mengatakan proposal itu tidak ada hubungannya dengan penyusunan RUU.
"Pembentukan
komite adalah langkah pertama untuk menyusun rancangan undang-undang
untuk mengubah Konstitusi," kata U T Khun Myat.
Parlemen, tempat
partai NLD Aung San Suu Kyi memiliki lebih dari setengah kursi, akan
memberikan suara pada pembentukan komite penyusun amandemen konstitusi Myanmar pada hari Rabu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto/REUTERS
TEL AVIV
- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan melakukan perjalanan
ke Moskow akhir bulan ini untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden
Rusia Vladimir Putin. Jika terealisasi, itu akan menjadi pertemuan
formal perdana sejak Moskow menyalahkan Tel Aviv atas jatuhnya pesawat
militer Rusia di Suriah tahun lalu.
Netanyahu mengatakan dia akan
terbang ke Moskow pada 21 Februari 2019 untuk pembicaraan yang
difokuskan pada upaya Iran untuk membangun kehadiran militernya di
Suriah.
Dia membuat pengumuman itu selama konferensi pers dengan Presiden Austria Alexander Van der Bellen.
Kantor
Netanyahu mengatakan para pemimpin Israel dan Rusia juga akan membahas
masalah regional dan meningkatkan koordinasi keamanan antara militer
kedua negara di Suriah.
Moskow belum mengonfirmasi soal rencana
pertemuan Putin dengan Netanyahu. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov
mengumumkan ada pertemuan tiga pihak antara Putin, Presiden Iran Hassan
Rouhani dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 14 Februari di
Sochi. Peskov mengatakan topik pertemuan ketiga pemimpin itu masih soal
krisis Suriah.
Netanyahu telah berkali-kali bertemu dengan Putin
sejak intervensi militer Rusia di Suriah dimulai tahun 2015. Kontak
keduanya terhenti sejak insiden jatuhnya pesawat mata-mata militer
Moskow, September 2018.
Israel mengatakan pihaknya telah
melakukan ratusan serangan udara selama waktu itu terhadap target yang
terkait Iran sebagai bagian dari kampanye untuk mencegah Teheran
membangun kehadiran militernya di Suriah.
"Dalam banyak hal kami
telah memblokir kemajuan itu, tetapi kami berkomitmen untuk terus
memblokirnya, terus-menerus mencegah Iran menciptakan front
perang melawan kami di sini di seberang Dataran Tinggi Golan," kata
Netanyahu dalam konferensi pers dengan Van der Bellen, dikutip Haaretz, Rabu (6/2/2019).
Pada
bulan September, sistem pertahanan udara S-200 Suriah secara tak
sengaja menembak jatuh sebuah pesawat mata-mata militer Rusia ketika
sistem pertahanan itu merespons serangan jet-jet tempur Israel di
Latakia. Insiden jatuhnya pesawat Moskow itu menewaskan 15 tentara
Rusia.
Rusia, yang bersekutu dengan Damaskus, menyalahkan militer
Israel atas insiden itu. Namun, Tel Aviv menolak disalahkan. Sebagai
respons, Moskow kemudian memasok sistem pertahanan udara S-300 kepada
militer Suriah.
Pasukan Iran saat parade militer besar-besaran. Foto/REUTERS/File Photo
TEHERAN
- Iran membanggakan diri sebagai negara yang tidak lagi ketergantungan
pada Amerika Serikat (AS) dan berubah jadi kekuatan utama di Asia Barat
Daya. Negara para Mullah itu juga bangga dengan anggaran pertahanan USD8
miliar (Rp111,6 triliun) melawan musuh-musuh regionalnya yang anggaran
pertahanannya rata-rata USD100 miliar (Rp1.395 triliun).
Kepala
Staf Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Mohammad Baqeri menyampaikan
kebanggan itu saat berbicara di Universitas Teknik Aeronautika Shahid
Sattari pada hari Selasa (5/2/2019). Acara di kampus itu didedikasikan
untuk perayaan ulang tahun ke-40 Revolusi Islam Iran.
Baqeri menggambarkan peristiwa revolusioner tahun 1979 sebagai "keajaiban Ilahi".
"Pada
titik mana pun dalam sejarah, musuh-musuh revolusi melakukan apa pun
yang mereka miliki," tetapi tidak berhasil," kata Baqeri, yang disiarkan
stasiun televisi setempat.
"Ini adalah kehormatan besar bagi
bangsa Iran bahwa hari ini telah berubah menjadi kekuatan utama di Asia
Barat Daya setelah mengalami dua abad penghinaan," ujar Baqeri, merujuk
pada "era kelam" di bawah rezim Shah Pahlavi yang didukung AS.
Menurut
Baqeri, Iran berutang kepada pasukan bersenjatanya terkait keamanan
negara. Berkat pasukan militer, kata dia, negara menikmati stabilitas
meski berada di kawasan paling tidak aman di dunia.
Dia juga
membanggakan industri militer Iran yang memungkinkan negara itu untuk
melawan musuh-musuh regional seperti Arab Saudi Saudi, Uni Emirat Arab
dan Israel, yang rata-rata menghabiskan USD100 miliar per tahun untuk
belanja militer.
Komandan militer tersebut juga meledek AS karena
anggaran militernya yang besar. "Setiap tahun, lebih dari USD700 miliar
(Rp9.768 triliun) dihabiskan oleh Angkatan Bersenjata AS, yang tidak
memiliki perencanaan yang tepat," katanya, dikutip Sputnik, Rabu (6/2/2019).
Baqeri
mengatakan dengan anggaran pertahanan sekitar USD8 miliar per tahun,
Iran mampu memproduksi hampir 90 persen perangkat keras militernya di
dalam negeri.
Pada hari Sabtu lalu, militer Teheran meluncurkan
rudal jelajah baru yang dinamai Hoveyzeh. Misil itu diklaim memiliki
jangkauan lebih dari 1.350km, dan kemampuan terbang di ketinggian rendah
untuk mencegah intersepsi.
Situs intelijen militer Israel, DEBKAfile,
memperingatkan bahwa rudal yang dapat mencapai wilayah Israel, mungkin
tidak dapat dicegat atau diintersepsi oleh sistem pertahanan rudal
Israel atau pun AS.