Ribuan warga Yaman melontarkan kemarahan
kepada Arab Saudi dan AS dalam upacara pemakaman massal anak-anak korban
serangan koalisi Saudi. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CB -- Ribuan warga Yaman melontarkan kemarahanya kepada Arab Saudi dan Amerika Serikat dalam
upacara pemakaman massal untuk anak-anak yang tewas sepulang piknik
karena busnya dihantam serangan udara koalisi pimpinan Saudi, Senin
(13/8).
Komite Internasional Palang Merah memastikan 51 orang
tewas 40 di antaranya anak-anak, akibat serangan udara ke sebuah bus
yang sedang melintas di Pasar Dahyan, Provinsi Saada, Yaman Utara, Kamis
(9/8).
Pemakaman massal diadakan di Ibu Kota Saada, markas
pemberontak Houthi dengan gambar yang disiarkan di Stasiun Televisi
Al-Masirah. Peti-peti itu ditutupi dengan tirai hijau. Sekitar 50
kendaraan membawa peti mati tersebut.
Warga berdatangan sambil mengangkat foto anak-anak dan meneriakkan ucapan-ucapan yang menentang Arab Saudi dan Amerika Serikat.
"Amerika membunuh anak-anak Yaman," tulis di salah satu foto seperti dilansir kantor berita
AFP.Kepala
Dewan Revolusioner Pemberontak, Mohammed Ali Al-Houthi mengambil bagian
dalam pemakaman dan mengecam serangan itu sebagai kejahatan yang
dilakukan oleh AS dan sekutunya terhadap anak-anak di Yaman.
Kementerian
Kesehatan Houthi mengklaim 51 orang tewas dalam serangan itu dan 40
diantaranya anak-anak. Serangan itu juga menyebabkan 59 orang luka-luka,
56 anak-anak.
Koalisi pimpinan Arab Saudi telah mengambil bagian
dalam konflik Yaman sejak 2015 untuk mendukung pemerintahan Presiden
Yaman, Abedrabbo Mansour Hadi dalam perjuangannya melawan kaum Houthi.
Anwar
Gargash, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), meratapi sisi
perang dan menyebutkan peran penyelidikan koalisi terhadap serangan itu.
"Dalam
perang ini kami telah melihat warga sipil ditembak, dibom, dibunuh, dan
sayangnya, ini benar-benar bagian dari konfrontasi apa pun," kata dia.
Berdasarkan laporan dari
AFP,
perang di Yaman menyebabkan hampir 10.000 orang tewas. Hal ini sesuai
dengan yang digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di
dunia.
Utusan PBB ke Yaman, Martin Griffiths, telah mengundang
pihak yang bertikai untuk melakukan pembicaraan pada 6 September di
Jenewa.
Foto: REUTERS/Naif Rahma Sisa-sisa bus piknik yang dihantam serangan udara koalisi Saudi di Saada.
|
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Putra Mahkota Arab Saudi,
Pangeran Mohammed bin Salman sudah melakukan pembicaraan melalui
telepon, pada Senin (13/8).
Namun, menurut Laporan Departemen
Luar Negeri di pembicaraan itu, Pompeo tidak menyebutkan serangan udara
akibat Koalisi Pimpinan Arab Saudi yang menghantam bus sekolah di Yaman
dan menewaskan puluhan anak-anak tersebut.
Dilansir dari
CNN,
Pompeo berterima kasih kepada Putra Mahkota untuk dukungan Arab Saudi
terhadap kebutuhan stabilisasi mendesak di Suriah, kemudian
keterlibatannya dengan pemerintah Irak, dan tawarannya untuk membantu
Irak mengatasi kekurangan air dan listrik.
Juru bicara Departemen
Luar Negeri AS, Heather Nauert membahas pemboman itu hanya setelah dia
ditanya oleh wartawan pada pekan lalu.
Dirinya mengatakan bahwa
AS pasti prihatin oleh laporan serangan yang mematikan, tetapi dia tidak
bisa mengkonfirmasi semua rincian karena mereka tidak ada di sana.
"Kami menyerukan koalisi yang dipimpin Saudi untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan atas insiden itu," kata dia.
Juru
bicara Pentagon, Letnan Rebecca Rebarich mengatakan bahwa seorang
jenderal bintang tiga AS sedang menekan Arab Saudi untuk melakukan
penyelidikan transparan terhadap serangan bus sekolah di Yaman dan
memberitahukan hasilnya kepada publik, pada Senin (13/8).
"Seorang
jenderal bintang tiga sedang menyesuaikan kunjungannya yang dijadwalkan
ke Arab Saudi untuk membahas insiden serangan tersebut dan melihat
langsung ke lokasi," kata dia.
Credit
cnnindonesia.com