Kamis, 03 Januari 2019

Bagaimana Sang Populis Latin Jair Bolsonaro Membenahi Brasil?


Presiden baru Brasil Jair Bolsonaro dan istrinya Michelle Bolsonaro, melambai kepada para pendukung saat mereka melewati setelah upacara pelantikannya, di Brasilia, Brasil 1 Januari 2019. REUTERS/Ricardo Moraes
Presiden baru Brasil Jair Bolsonaro dan istrinya Michelle Bolsonaro, melambai kepada para pendukung saat mereka melewati setelah upacara pelantikannya, di Brasilia, Brasil 1 Januari 2019. REUTERS/Ricardo Moraes

CB, Jakarta - Tepat di hari pertama tahun 2019, Presiden Brasil yang baru, Jair Bolsonaro, resmi dilantik. Peralihan kekuasaan dari sosialisme ke tangan populis sayap kanan, menandakan bagaimana populisme di Brasil mulai bangkit.
"Ini adalah awal kebebasan Brasil dari sosialisme, politik pembenaran dan kesemerawutan birokrasi," kata Bolsonaro, mantan kapten pasukan terjun payung yang kini berusia 63 tahun, selama pidato yang berapi-api, dikutip dari Reuters, 2 Januari 2019.

Sebelum kemunculannya, Brasil memang dilanda kekacuan politik akibat skandal korupsi, krisis ekonomi dan kekerasan yang semakin gawat.

Presiden yang akan keluar Michel Temer dan istrinya Marcela Temer menunggu Presiden baru Brasil Jair Bolsonaro di Istana Planalto, di Brasilia, Brasil 1 Januari 2019. REUTERS/Ueslei Marcelino
Jair Bolsonaro bersumpah untuk membasmi korupsi dan menuntaskan tugas pemerintahan sosialis yang belum rampung. Namun simpatisan Donald Trump dan pendukung kediktatoran militer ini mengkhawatirkan banyak publik yang anti-populis, meskipun Bolsonaro berjanji akan mematuhi prinsip ekonomi.
Selama pelantikan, 3.000 polisi berpatroli dengan total 10 ribu personil gabungan. Tank, pesawat tempur dan bahkan rudal anti-pesawat dipasang. Jurnalis yang ingin meliput, menurut laporan NBC News, bahkan harus datang 7 jam lebih awal sebelum acara dimulai.
Keamanan tingkat tinggi ini atas permintaan Bolsonaro sendiri. Permintaan ini tampak dimaklumi karena Bolsonaro pernah ditikam di bagian perut selama kampanye pilpres pada September kemarin.

Calon presiden Brazil, Jair Bolsonaro, meringis tepat setelah ditikam di perut selama kampanye di Juiz de Fora, Brazil, Kamis, 6 September 2018. (AP Photo / Raysa Leite)
Bolsonaro tidak banyak menyampaikan pernyataan yang moderat sejak terpilih pada Oktober, di mana kaum progresif dan liberal mengecam sikap yang mereka katakan anti-homoseksual, seksis dan rasis.
Di sisi ekonomi, pemimpin baru berjanji untuk membuka pasar asing bagi Brasil dan memberlakukan reformasi untuk mengurangi defisit anggaran yang menguap, menempatkan rekening pemerintah di jalur yang berkelanjutan, menurut laporan Reuters.

Bolsonaro berencana untuk mengubah haluan Brasil di dunia internasional, menjauh dari sekutu negara-negara berkembang dan lebih dekat dengan kebijakan para pemimpin Barat, khususnya Presiden AS Donald Trump, salah satunya adalah janji untuk memindahkan kedubes Brasil ke Yerusalem. Tidak mengejutkan karena retorika Bolsonaro membuatnya mendapat julukan Donald Trump dari negeri tropis, atau Trump dari Amerika Latin.Bolsonaro juga mengatakan akan memprioritaskan perang melawan kejahatan yang semakin naik, di mana lebih dari 63.000 orang terbunuh tahun lalu. Kelompok-kelompok hak asasi manusia khawatir pembelaannya terhadap kekerasan polisi dapat melindungi para petugas dari penyelidikan atas pelanggaran HAM dan mengarah pada pembunuhan di luar hukum.


Para pemimpin asing terkemuka yang menghadiri pelantikan Bolsonaro adalah pemimpin sayap kanan, mulai dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban.
Presiden Kiri Nicolas Maduro dari Venezuela dan Daniel Ortega dari Nikaragua, yang dianggap sebagai diktator oleh Bolsonaro, tidak diundang oleh tim Bolsonaro setelah kementerian luar negeri mengirimi mereka undangan. Amerika Serikat diwakili oleh Menlu Mike Pompeo, meskipun Trump mentweet ucapan selamat kepadanya.
"USA bersama Anda!" kicau Trump pada Selasa di Twitter setelah memuji pidato pengukuhan Bolsonaro.
Tujuh dari 22 menteri Kabinet Bolsonaro adalah mantan personel militer, melebihi jumlah pemerintahan mana pun selama kediktatoran Brasil 1964-1985. Hal itu memicu kekhawatiran di antara lawannya untuk kembali ke pemerintahan otokratis, tetapi Bolsonaro menegaskan dia akan menghormati konstitusi negara. Wakil presiden Bolsonaro adalah pensiunan jenderal, Hamilton Mourao.

Partai Liberal dan Sosial Jair Bolsonaro akan memiliki 52 kursi di majelis rendah beranggotakan 513 anggota, blok terbesar kedua di belakang Partai Buruh Brasil.Dalam sebuah wawancara dengan Record TV menjelang pelantikannya, Bolsonaro mengecam birokrasi Brasil yang buruk sehingga menyebabkan berbisnis menjadi sulit dan mahal. Dia berjanji membabat habis birokrasi Brasil.
"Mesin pemerintah sangat berat," katanya. "Ada ratusan badan pengatur birokrasi di seluruh Brasil, juga para regulator. ... Kita harus mengurai kekacauan."

Calon presiden Brazil, Jair Bolsonaro, berbicara dengan wartawan di Kongres Nasional di Brasilia, Brasil 4 September 2018. [REUTERS / Adriano Machado]
Sumpah Bolsonaro untuk mengikuti contoh Donald Trump dan menarik Brasil keluar dari perjanjian perubahan iklim Paris telah mengkhawatirkan para aktivis lingkungan. Jair Bolsonari tetap ingin membangun bendungan pembangkit listrik tenaga air di Amazon dan membuka diri untuk mengeruk tambang di wilayah masyarakat pribumi Brasil.
Pengusaha Brasil sangat ingin melihat Bolsonaro mengadopsi tim ekonom ortodoks yang dipimpin oleh bankir investasi Paulo Guedes, yang telah berjanji untuk mengambil tindakan cepat dalam mengendalikan defisit anggaran Brasil yang tidak berkelanjutan.

Guedes berencana untuk menjual sebanyak mungkin perusahaan negara dalam upaya privatisasi yang ia perkirakan dapat menghasilkan hingga 1 triliun real Brasil atau Rp 3,7 triliun.
Rencana ini akan membantu memulihkan ketertiban keuangan pemerintah. Namun, langkah utama rencana Jair Bolsonaro untuk mengurangi defisit dan menghentikan kenaikan utang publik Brasil adalah perbaikan sistem jaminan sosial yang mahal.






Credit  tempo.co