Rabu, 30 Januari 2019

Sekutu Rusia dengan Venezuela di Ujung Tanduk


Sekutu Rusia dengan Venezuela di Ujung Tanduk
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin via REUTERS)



Jakarta, CB -- Pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro lagi di ujung tanduk dan Rusia berisiko kehilangan sekutu terbesarnya itu di Amerika Latin. 

Maduro kini dalam tekanan dari politikus yang sudah memproklamirkan dirinya sebagai Presiden Venezuela terbaru, Juan Guaido. Guaido didukung negara-negara barat yang mengakuinya sebagai pemimpin sah Venezuela, salah satunya Amerika Serikat (AS).




Sekutu Rusia dengan Venezuela di Ujung Tanduk
Juan Guaido dan Nicolas Maduro. (Foto: Yuri CORTEZ and Federico PARRA / AFP)
Pada Selasa (29/1), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bersumpah bahwa pihaknya bakal "melakukan apapun" buat melindungi sekutunya.


Dilansir dari AFP, analis menjelaskan ada kemungkinan Rusia bakal kehilangan Venezuela sebagai sekutu utama. Bila itu kejadian maka pengaruh Rusia akan pudar karena rekanan lainnya di Amerika Latin tinggal sedikit.

"Venezuela secara praktis adalah hal terakhir yang dimiliki Vladimir Putin di Amerika Latin," ucap Vladimir Rouvinski, spesialis hubungan internasional Rusia dari Universitas Icesi di Kolombia.

Rusia dikatakan menggambarkan Venezuela sebagai "alternatif" superpower di halaman belakang Washington. Saat ini hubungan Rusia dengan Brasil, Ekuador, dan Argentina, juga mulai sulit karena pergantian kepemimpinan.

Rusia memasok Venezuela dengan tank dan senjata Kalashnikov serta berinvestasi pada aset utama negara itu, yaitu sumber daya minyak. Bulan lalu Maduro mengumumkan dalam kunjungannya ke Moskow bahwa Rusia akan menginvestasikan US$6 miliar pada sektor minyak dan pertambangan.

Sekarang Rusia "berisiko bahwa semua hubungan yang telah lama matang ... akan berubah menjadi tidak bernilai," kata Nikolai Petrov, profesor di sekolah tinggi ekonomi Moskow.




Credit  cnnindonesia.com