Selasa, 27 November 2018

Ukraina Desak Pulangkan 3 Kapal dan Tentara yang Ditangkap Rusia


Ukraina Desak Pulangkan 3 Kapal dan Tentara yang Ditangkap Rusia
Kawasan pantai Crimea di Kerch, Laut Hitam, tempat bentrok kapal-kapal militer Rusia dan Ukraina. Foto/REUTERS/Pavel Rebrov

KIEV - Kiev menuntut agar Moskow memulangkan tiga kapal Angkatan Laut dan para tentara Ukraina yang ditangkap atas tuduhan melanggar perbatasan wilayah Rusia di pantai Crimea. Desakan disampaikan Kementerian Luar Negeri Ukraina, Senin (26/11/2018).

Penangkapan itu terjadi setelah kapal perang Moskow menembaki kapal-kapal militer Kiev yang menerobos pantai Crimea di Kerch, Laut Hitam, pada hari Minggu.

Tiga pelaut Kiev yang ditangkap terluka. Menurut Moskow, ketiganya telah dirawat dan kondisinya tidak mengancam kehidupan mereka.

"Ukraina menuntut pemberian bantuan medis yang mendesak kepada mereka yang terluka dan untuk memastikan mereka kembali ke rumahnya dengan segera dan aman. Ukraina juga menuntut untuk pemulangan kapal-kapal angkatan laut yang tertangkap dan untuk mengompensasi kerusakan yang ditimbulkan," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Sputnik.

Kiev minta sekutu-sekutunya untuk memberikan bantuan militer. "Ukraina mendesak sekutu dan mitra untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah agresor, yaitu dengan menerapkan sanksi baru dan memperkuat (sanksi) yang ada, serta memberi Ukraina bantuan militer untuk melindungi integritas teritorial dan kedaulatannya dalam batas-batas yang diakui secara internasional," imbuh kementerian tersebut.

Sementara itu, seorang juru bicara untuk Direktorat Perbatasan Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia untuk Crimea, Anton Lozovoy, mengatakan bahwa kapal-kapal militer Kiev yang disita awalnya sedang konvoi ke pelabuhan Kerch. 

FSB melaporkan tiga kapal yang disita; Berdyansk, Nikopol dan Yana Kapu, adalah kapal-kapal yang melanggar perbatasan negara Rusia. Menurut FSB, kapal-kapal itu mengabaikan seruan untuk menghentikan operasi dan justru membuat manuver berbahaya. 





Credit  sindonews.com