Rabu, 28 November 2018

China Ancam Balas AS Jika Beri Sanksi Soal Muslim Uighur


China Ancam Balas AS Jika Beri Sanksi Soal Muslim Uighur
Laporan Kongres AS menyatakan setidaknya satu juta mayoritas Muslim Uighur telah dipenjara di pusat pendidikan yang sangat besar di provinsi Xinjiang, China barat. Foto/Istimewa

WASHINGTON - China akan memberikan pembalasan terhadap Amerika Serikat (AS) jika Washington menjatuhkan sanksi kepada Beijing atas pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang. Ancaman itu dilontarkan oleh Duta Besar China untuk AS Cui Tiankai.

Laporan Kongres AS menyatakan setidaknya satu juta mayoritas Muslim Uighur telah dipenjara di pusat pendidikan yang sangat besar di provinsi Xinjiang, China barat.

Pemerintahan Trump semakin vokal tentang nasib kaum Uighur dan kelompok bipartisan anggota parlemen AS telah menyerukan sanksi terhadap Beijing atas perlakuannya kepada kelompok minoritas.

Namun berbicara kepada Reuters, Cui mengklaim pemerintah China berusaha "mendidik kembali" teroris dan mengeluh bahwa Beijing ditahan dengan standar ganda.

"Bisakah Anda bayangkan (jika) beberapa pejabat Amerika yang bertanggung jawab atas perang melawan ISIS akan dijatuhi sanksi?" kata Cui seperti dikutip dari CNN, Rabu (28/11/2018).

Ia lantas membandingkan militer AS yang memerangi ekstremis Islam di Timur Tengah dengan reaksi China di Xinjiang. Ia mengatakan sementara Washington membunuh para teroris, Beijing berusaha membantu mereka.

"Kami mencoba untuk mendidik kembali sebagian besar dari mereka, mencoba mengubahnya menjadi orang normal (yang) dapat kembali ke kehidupan normal," ujarnya.

Setelah 11 September 2001, serangan teroris di New York dan Washington, AS memenjarakan lebih dari 20 orang Uighur tanpa pengadilan di fasilitas penahanan Teluk Guantanamo, menyusul penangkapan mereka di Pakistan dan Afghanistan.

Tiga tahanan Uighur terakhir di Guantanamo tidak dibebaskan sampai Desember 2013, hampir 12 tahun setelah mereka pertama kali ditahan.

Cui mengatakan jika ada sanksi terhadap pejabat China akan ada tanggapan proporsional dari Beijing.

"Jika tindakan seperti itu diambil, kami harus membalas," tegas Cui tanpa merinci tindakan spesifik yang mungkin diambil China.

Pemerintah China telah berulang kali membantah menahan etnis Uighur di kamp-kamp di Xinjiang. Sebaliknya malah mengklaim kamp-kamp itu adalah pusat pelatihan "pendidikan kejuruan" sukarela.

Tetapi mantan narapidana Uighur menceritakan kisah yang berbeda, mengatakan mereka dipaksa untuk mengulang propaganda Partai Komunis setiap hari, berterima kasih dan memuji Presiden China Xi Jinping, sementara yang lain mengklaim mereka disiksa di kamp-kamp.

Pada hari Senin, sebuah kelompok yang terdiri dari 270 akademisi yang peduli di seluruh dunia merilis sebuah pernyataan yang secara keras mengutuk tindakan Beijing di Xinjiang. Mereka mengatakan para tahanan dipaksa untuk menanggung "kekurangan gizi dan tekanan psikologis yang parah."

"Mereka yang tidak sepenuhnya berpartisipasi dalam pendidikan ulang politik sering menjadi sasaran pemukulan, kurungan isolasi, dan bentuk-bentuk pelanggaran agama dan psikologis. Ada banyak laporan tentang kematian di kamp-kamp tersebut, terutama di kalangan orang tua dan lemah," bunyi pernyataan itu. 




Credit  sindonews.com