Kamis, 10 November 2016

Kontroversi Melengangkan Jalan Trump ke Gedung Putih



Kontroversi Melengangkan Jalan Trump ke Gedung Putih Berbagai skandal dan kontroversi yang mewarnai kampanye Donald Trump selama lebih dari setahun terakhir ternyata tak menghalanginya meraup mayoritas suara. (Reuters/Andrew Kelly)
 
Jakarta, CB -- Donald Trump berhasil meraup mayoritas suara dan keluar sebagai pemenang dalam pemilihan umum presiden, Selasa (9/11). Konglomerat asal New York ini terbukti mampu merebut hati mayoritas pemilih AS dan mengejutkan dunia, meski ia sama sekali tak memiliki pengalaman di dunia politik.

Sebelum masa kampanye pencalonan presiden AS dimulai, publik hanya mengenal Trump sebagai sosok taipan yang memiliki beragam bisnis properti, mulai dari real-estate, hotel, kasino, hingga sejumlah fasilitas mewah lainnya, yang tersebar tak hanya di AS tapi juga di negara lain.

Hingga pada Juni 2015, ketika ia memutuskan mencalonkan diri sebagai presiden menggantikan petahana Barack Obama, publik dunia banyak melihat sisi lain dari mantan bintang televisi itu. Sadar sebagai orang yang tak memiliki pengalaman politik, Trump menawarkan berbagai janji yang populis, meski cenderung konservatif dan kontroversial.

Saat itu, publik bahkan tak yakin Trump akan memenangkan pertarungan menjadi calon presiden dari Partai Republik. Trump selalu dianggap sebagai sosok yang hanya ikut meramaikan bursa bakal capres, sebab harus berhadapan dengan nama-nama besar lain yang lebih potensial, seperti Jeb Bush, Marco Rubio, Ted Cruz, atau bahkan Carly Fiorina.

Ternyata, Trump dapat melibas 16 kandidat capres AS lain dan resmi mewakili Republik dalam pertarungan kursi Gedung Putih.

Pencalonan Trump sebagai capres AS membawanya meraih beberapa rekor pemilihan dalam konvesi nasional Partai Republik. Namun, sikap ambisius dan lidahnya yang terkesan ceplas-ceplos tak jarang mengantarkan dirinya bahkan citra Partai Republik dalam kondisi buruk.

Program Kontroversial

Selama masa kampanye, tak jarang komentar Trump dan perilakunya menimbulkan kontroversi publik AS bahkan internasional. Trump juga sempat disebut sebagai calon presiden AS terburuk sepanjang masa.

Semenjak keputusan Trump memutuskan mendaftarkan diri menjadi kandidat capres AS, terhitung setidaknya Trump telah menghina sekitar 282 orang melalui perkataan dalam akun Twitter resminya.

Tak hanya menghina rivalnya, pria berusia 70 tahun ini juga meluncurkan kritikan pedas kepada sejumlah negara lain, seperti China, Meksiko, Jepang dan Korsel. Trump menilai China dan Meksiko telah merebut lapangan pekerjaan AS, sementara Jepang dan Korsel seharusnya "membayar uang keamanan kepada AS, karena selalu meminta perlindungan."

Pria kelahiran 14 Juni 1946 itu menyebutkan Amerika bagai negara yang sudah mati akibat kepentingan bisnis yang jahat dan korupsi para politikusnya. Trump berkoar, hanya dia yang dapat mengembalikan kekuatan dan kehebatan AS.

Salah satu programnya yang kontroversial yaitu komentar Trump yang ingin membangun tembok pembatas di perbatasan Meksiko-AS untuk mencegah para imigran masuk. Trump juga menganggap imigran Meksiko sebagai kriminal dan pemerkosa.

Celotehan Trump lainnya yang membuat publik terkejut adalah komentar mengenai warga Muslim di AS. Trump sempat menyatakan akan melarang Muslim untuk masuk ke AS dan mengatakan, "Islam membenci kami."

Bahkan, dalam debat capres terakhir, Trump mengatakan bahwa pemerintah AS seharusnya menyebut terorisme dengan "teroris Islam radikal", istilah yang tak pernah digunakan oleh pemerintah Barack Obama.

Serangan Skandal

Tak hanya kontroversi yang ia ucapkan, kampanye Trump juga diwarnai oleh berbagai skandal yang membuat citranya buruk di mata publik.

Pada Oktober lalu, Trump terjerat skandal dugaan pelecehan terhadap wanita yang terekam dalam sebuah rekaman suara dan membuatnya semakin tersungkur jauh dari Clinton dalam sebagian survei pemilu nasional.

Dalam rekaman itu, Alumni Universitas Fordham ini mengaku kerap memegang dan mencium wanita tanpa meminta izin terlebih dahulu. Walaupun rekaman percakapan itu sudah secara gamblang menunjukan "perilakunya", Trump tetap membantah tidak pernah melakukan pelecehan terhadap wanita.

Tak lama setelah rekaman itu beredar, lebih dari 10 wanita yang mengaku pernah dilecehkan Trump angkat bicara kepada media. Namun, Trump justru menuduh mereka berbohong dan mengancam akan menuntut mereka.

Berbagai skandal dan kontroversi Trump ternyata tak menghalanginya meraup mayoritas dukungan pemilih AS. Trump berhasil meraup 289 electoral votes, jauh meninggalkan Clinton dengan 218 electoral votes. Hasil ini mampu melenggangkan Trump ke Gedung Putih.




Credit  CNN Indonesia



Jalan Trump Menuju Gedung Putih


Jalan Trump Menuju Gedung Putih






Credit  CNN Indonesia