Jumat, 25 Januari 2019

China pertanyakan konsep Indo-Pasifik ASEAN


China pertanyakan konsep Indo-Pasifik ASEAN
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menjelaskan mengenai hasil kunjungan China Policy Group (CPG) ke China pada Desember 2018 dalam diskusi FPCI di Jakarta, Kamis (24/1/2019). (ANTARA News/Yashinta Difa)




Jakarta (CB) - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengatakan bahwa China mempertanyakan konsep Indo-Pasifik yang diajukan Indonesia untuk diadopsi oleh ASEAN.

"Tanggapan mereka tidak positif, tetapi juga tidak mendukung," kata Dino dalam diskusi yang diselenggarakan FPCI di Jakarta, Kamis (24/1).

Dalam diskusi bertajuk "China after 40 Years of Reforms: Impressions from China Policy Group (CPG) Visit to China" tersebut, Dino memaparkan beberapa poin hasil kunjungannya ke China pada Desember 2018.

China, menurut Dino, tidak menolak konsep Indo-Pasifik yang menekankan pada prinsip keterbukaan, inklusivitas, transparansi, menghormati hukum internasional, dan sentralitas ASEAN, tetapi juga tidak merasa nyaman dengan konsep tersebut.

Konsep Indo-Pasifik pertama dipopulerkan oleh Amerika Serikat untuk menyaingi pengaruh China yang gencar menjalankan proyek-proyek infrastruktur bernilai triliunan dolar AS melalui Belt and Road Initiative (BRI).

Setelah AS, beberapa negara termasuk Indonesia berupaya mengembangkan konsepnya masing-masing mengenai Indo-Pasifik, untuk memastikan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di Asia Tenggara di tengah tarik-menarik konstelasi kekuatan dunia.

"China belum mencerna konsep Indo-Pasifik dengan baik, tetapi mereka mengakui bahwa ini adalah konsep yang penting," ujar Dino.

Tantangan untuk pengembangan konsep Indo-Pasifik saat ini, menurut dia, adalah membentuk fondasi konsep yang inklusif.

Konsep Indo-Pasifik ASEAN tidak boleh mencangkok konsep negara atau blok lain.

"Selain itu, kesetaraan harus menjadi bagian dalam dokumen konsep karena prinsip yang dipegang di kawasan. Kita memperlakukan siapapun sama, tidak pernah memandang rendah siapapun," kata mantan wakil menteri luar negeri RI itu.

Dalam kunjungan ke China bersama dengan CPG, Dino melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri China Kong Xuanyou, Deputi Penelitian Kebijakan pada Departemen Internasional Partai Komunis China (CPC) Huang Yihua, serta sejumlah think-tank, seperti  China Institute of International Studies (CIIS), China Institute of Contemporary International Relations (CICIR), Guangdong University, dan Guangdong Institute for International Strategies (GIIS).

CPG adalah kelompok yang terdiri dari pejabat pemerintah, pakar, dan akademisi, yang terlibat dalam diskusi rutin untuk melacak perkembangan di China dan juga Indonesia.





Credit  antaranews.com







Indonesia dorong DK PBB dukung proses perdamaian Kolombia



Indonesia dorong DK PBB dukung proses perdamaian Kolombia
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan DK PBB yang membahas perkembangan proses perdamaian antara Pemerintah Kolombia dengan Kelompok Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat (23/1). (Kementerian Luar Negeri RI)



Jakarta, 24/1 (CB) - Pemerintah Indonesia mendorong Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk mendukung proses perdamaian Kolombia, seperti disampaikan dalam keterangan tertulis dari Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Kamis.
   
"Indonesia senang dapat mendukung proses perdamaian di Kolombia," kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pertemuan DK PBB yang membahas perkembangan proses perdamaian antara Pemerintah Kolombia dengan Kelompok Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat (23/1).
   
Menlu RI menyampaikan bahwa atas permintaan Pemerintah Kolombia, Menlu RI dan delegasi Indonesia pada 2015 ke Kolombia untuk membagi pengalaman proses perdamaian antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
   
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia sangat senang saat Pemerintah Kolombia dan FARC pada 2016 berhasil menyepakati "the Final Agreement to End the Armed Conflict and Build a Stable and Lasting Peace" mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun.
   
"Indonesia percaya Pemerintah Kolombia memiliki komitmen kuat untuk memajukan proses perdamaian di Kolombia," tutur Menlu Retno.
   
Lebih lanjut Menlu RI menekankan bahwa keberhasilan implementasi perjanjian damai antara Pemerintah Kolombia dan FARC sangat bergantung kepada komitmen seluruh pihak yang terlibat. Dalam upaya mendukung implementasi perjanjian damai Kolombia, Menlu RI menyampaikan kesiapan Indonesia untuk  bekerja sama dengan Kolombia mendukung  program program pascakonflik, khususnya demobilisasi, perlucutan senjata dan reintegrasi (DDR).
   
"Proses reintegrasi dan pembangunan perdamaian pasca-konflik yang efektif adalah kunci dari keberhasilan implementasi perjanjian damai," tegas Menlu Retno.

Dalam konteks itu, Menlu RI mencontohkan program kerja sama "Oil Palm for Peace" yang sedang dilakukan dengan Kolombia. Program tersebut bertujuan mengkonversi lahan koka menjadi komoditas yang produktif seperti minyak kelapa sawit dan karet. "Program Oil Palm for Peace, akan membantu integrasi sosio-ekonomi pasca konflik di Kolombia," ucap Menlu Retno.

Selain proses reintegrasi, Menlu RI juga menekankan pentingnya tantangan-tantangan terhadap keamanan di Kolombia terus dikelola secara tepat, guna mendorong keberhasilan proses perdamaian. "Penegakan hukum juga harus terus memperhatikan hak asasi manusia," ujar Menlu Retno.

Menlu RI juga menegskan perlunya kedua belah pihak menjalankan komitmen yang telah disepakati bersama. Hal itu mengigat kesuksesan proses perdamaian bergantung pada seberapa jauh masing-masing pihak menghormati komitmennya.

Dalam pertemuan itu, Menlu RI menekankan pentingnya  seluruh anggota DK PBB menyatukan pandangan dalam membantu Kolombia menuju perdamaian yang stabil dan abadi. Dukungan DK PBB dan masyarakat internasional diperlukan agar proses perdamaian berjalan mulus.

Penandatanganan kesepakatan damai antara Pemerintah Kolombia dan FARC pada 2016 merupakan sebuah peristiwa bersejarah yang berhasil mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 50 tahun dan salah satu konflik terlama di dunia.

Pemerintah Kolombia kemudian meminta bantuan PBB untuk menjadi pihak ketiga dari perjanjian damai Kolombia untuk mengawal implementasi kesepakatan perjanjian damai.

DK PBB menyambut positif permintaan itu dengan membentuk Tim Verifikasi PBB di Kolombia (UN Verification Mission in Colombia) telah bertugas sejak akhir 2016.





Credit  antaranews.com





Sekjen PBB Minta Venezuela Gelar Dialog Cegah Krisis Politik


Sekjen PBB Minta Venezuela Gelar Dialog Cegah Krisis Politik
Sekjen PBB, Antonio Guterres, meminta Venezuela mengadakan dialog menghindari krisis politik setelah Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden menggantikan Nicolas Maduro. (Reuters/Linus Escandor Ii/Pool)



Jakarta, CB -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, meminta Venezuela segera mengadakan dialog untuk menghindari krisis politik setelah pemimpin oposisi, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara menggantikan Nicolas Maduro.

"Kami harap dialog dapat dilakukan untuk menghindari eskalasi konflik yang akan menimbulkan bencana bagi rakyat Venezuela dan bagi kawasan," katanya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, sebagaimana dikutip AFP, Kamis (24/1).

Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim saat aksi besar-besaran yang menentang pemerintahan Maduro meluas di Venezuela.


Sebagai pemimpin Majelis Nasional, Guaido mengklaim ia memiliki kewenangan untuk mengambil alih pemerintahan Maduro, yang terpilih melalui pemilihan umum tidak sah.


Ia pun mendapat dukungan dari AS, Kanada, dan sejumlah negara Amerika Latin, seperti Brasil, Kolombia, Chile, dan Peru. Sementara itu, sekutu dekat Venezuela, seperti Turki dan Rusia tetap mendukung Maduro.

Di tengah kisruh ini, Guterres berkata, "Pemerintah berdaulat memiliki kemungkinan untuk memutuskan apa pun yang mereka inginkan. Yang kami khawatirkan tentang situasi di Venezuela adalah penderitaan rakyat Venezuela."


Ketidakpercayaan rakyat terhadap Maduro memuncak karena sang presiden tak dapat membawa Venezuela dari kemiskinan, bahkan membuat perekonomian kian terpuruk.

PBB melaporkan sekitar 2,3 juta orang meninggalkan Venezuela sejak 2015, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan inflasi akan mengalami peningkatan secara mengejutkan hingga mencapai 10 juta persen tahun ini.





Credit  cnnindonesia.com




'Kudeta' Venezuela, Kisruh Pemilu Berujung Perebutan Takhta


'Kudeta' Venezuela, Kisruh Pemilu Berujung Perebutan Takhta
Bermula dari tudingan kecurangan dalam pemilu, kepemimpinan Venezuela berakhir dengan perebutan kuasa antara Nicolas Maduro dan Juan Guaido. (Reuters/Carlos Garcia Rawlins)



Jakarta, CB -- Kisruh 'kudeta' kursi kepresidenan Venezuela kian panas setelah Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai pemimpin interim di tengah gelombang protes anti-Nicolas Maduro.

Polemik ini sebenarnya bermula ketika Venezuela menggelar pemilihan umum pada 20 Mei 2018. Saat itu, popularitas Maduro terpuruk di tengah protes masyarakat yang menganggapnya gagal membawa Venezuela keluar dari krisis.

Di bawah pemerintahannya, Venezuela mengalami hiperinflasi hingga 10 juta persen, krisis produksi minyak, tingkat kelaparan dan kriminalitas yang tinggi, hingga berujung pada kemiskinan.


Ia pun disebut menghalalkan segala cara untuk memenangkan pemilu, dimulai dengan pembentukan Majelis Konstituen pada Agustus 2017. Kewenangan majelis tersebut dapat menggantikan parlemen di bawah Majelis Nasional yang saat itu dikuasai oposisi.


Sejumlah kejanggalan pada pilpres itu kemudian mulai menuai kecurigaan berbagai pihak, termasuk tanggal penyelenggaraannya. Awalnya, pemilu dijadwalkan digelar pada Desember 2018, tapi kemudian dipercepat menjadi 22 April hingga 20 Mei 2018.

Sejak Februari 2018, pemimpin koalisi oposisi Venezuela menyatakan akan memboikot pilpres. Mereka percaya pilpres tersebut sudah diatur untuk memenangkan Maduro.

Maduro akhirnya memenangkan pilpres 2018 dengan perolehan 67,7 persen suara dan kembali memegang kekuasaan hingga 2025.


Namun, sejumlah analisis dan jajak pendapat menunjukkan bahwa pemilu tersebut merupakan pilpres dengan angka pemilih terendah di era demokrasi negara tersebut.

Dengan 92 persen suara terhitung, koalisi oposisi Broad Front mengklaim hanya sekitar 30 persen masyarakat Venezuela yang memberikan suaranya dalam pilpres 2018.

Dua kandidat lawan Maduro di pilpres, yakni Henri Falcon dan Javier Bertucci, menolak hasil pilpres tersebut dan menyatakan bahwa proses pemilu tidak sah.

Falcon mengecam pilpres tersebut sebagai pemilu sistematis. Ia menuding pemerintah memberikan imbalan agar masyarakat memilih Maduro, dan pengawas pemilu dilarang mengawasi di banyak tempat pemilihan.

'Kudeta' Venezuela, Kisruh Pemilu Berujung Perebutan Takhta
Nicolas Maduro disebut menghalalkan segala cara untuk memenangkan pemilu. (Miraflores Palace/Handout via Reuters)
Dewan Pemilihan Nasional (CNE), yang bertugas mengawasi pemilihan di Venezuela, diklaim tak bertugas dengan semestinya lantaran dikendalikan oleh simpatisan Maduro.

Negara-negara seperti AS, Australia, hingga organisasi internasional mulai dari Perserikatan Bangsa Bangsa, Uni Eropa, hingga Organisasi Negara Amerika pun meragukan keabsahan pilpres itu.

Meskipun menuai banyak kritik, Maduro tetap disumpah kembali menjadi presiden Venezuela pada 10 Januari 2019.

Semenjak Maduro mengambil sumpah, berbagai aksi protes melawan pemerintahannya menyemut di berbagai penjuru negara.

Sehari setelah Maduro resmi menjadi presiden, Guaido mengadakan demonstrasi di Caracas. Saat itu, Majelis Nasional menyatakan Guaido sebagai sosok presiden interim Venezuela sesuai konstitusi.



Pernyataan tersebut dijawab dengan cibiran Maduro yang menyebut Guaido dengan sebutan 'bocah'. Menteri Kekuatan Populer untuk Layanan Penjara Venezuela, Iris Varela, bahkan mengaku telah menyiapkan sel penjara untuk oposisi tersebut.

Pada 13 Januari, Guaido ditahan oleh Layanan Intelijen Bolivarian (SEBIN) selama 45 menit. Beberapa hari setelah itu, sekelompok mantan tentara dan polisi di Peru mengumumkan dukungan mereka untuk Guaido, diikuti dengan demonstrasi dukungan ribuan warga di Carabobo, Valencia, dan kota-kota lain.

Rentetan protes terus bergulir hingga kini, dengan dukungan dari berbagai pejabat tinggi negara-negara lain, termasuk Presiden AS, Donald Trump, dan wakilnya, Mike Pence.

Setidaknya 13 orang dilaporkan tewas dalam dua hari demonstrasi besar-besaran melawan Maduro, Senin pekan ini. Di hari yang sama, 27 personel militer ditahan otoritas Venezuela karena menyatakan keinginan membelot.

Dalam sebuah video, puluhan tentara itu mengajak masyarakat untuk mendukung mereka dengan menggelar aksi pada Senin (21/1). Para warga pun turun ke jalan, menggelar aksi yang kemudian berujung ricuh.

Demonstrasi ini disebut-sebut sebagai bentrokan paling signifikan antara pemerintah dan oposisi setelah protes sebelumnya yang menewasan 125 orang antara April dan Juli 2017.

Di tengah kisruh ini, pemimpin Majelis Nasional, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai presiden interim Venezuela dan langsung mendapatkan dukungan dari Trump dan sejumlah pemimpin negara Amerika Latin lainnya.

Menurut Trump, Majelis Nasional pimpinan Guiado adalah satu-satunya lembaga pemerintah yang sah pilihan rakyat Venezuela.

Di tengah ketidakjelasan kepemimpinan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta Venezuela menggelar dialog untuk menghindari krisis politik.





Credit  cnnindonesia.com



AS Perintahkan Diplomatnya Tinggalkan Venezuela


AS Perintahkan Diplomatnya Tinggalkan Venezuela
AS memerintahkan diplomatnya untuk meninggalkan Venezuela dengan alasan keamanan. Foto/Istimewa

CB - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) memerintahkan staf di Kedutaan Besar di Venezuela untuk meniggalkan negara itu. Perintah ini keluar satu hari setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan ia memberikan waktu 72 jam bagi diplomat AS untuk keluar dari negara itu.

Awalnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa karena Amerika tidak menganggap Maduro sebagai pemimpin Venezuela yang sah.

"Ia tidak memiliki otoritas hukum untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat atau menyatakan diplomat kami persona non grata," katanya.


Namun, Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa staf dan diplomat yang tidak menduduki jabatan penting untuk operasi akan meninggalkan negara itu dengan alasan keamanan. Kedutaan besar di Caracas akan tetap terbuka seperti dikutip dari Fox News, Jumat (25/1/2019).

Langkah ini dilakukan beberapa hari setelah pemerintahan Trump mengumumkan pihaknya mengakui pemimpin oposisi Venezuela, Juan Gaido, sebagai presiden sementara.


Sebelumnya, Maduro memerintahkan semua diplomat Venezuela pulang dari AS dan mengatakan akan menutup kedutaannya. Dia mengatakan jika pejabat AS memiliki akal, mereka akan menarik keluar diplomat mereka sendiri, daripada menentang perintahnya.

AS dan Venezuela belum pernah bertukar duta besar dalam hampir satu dekade, tetapi mereka telah mempertahankan staf diplomatik.

Wakil Presiden Mike Pence pada hari Selasa, dalam rekaman video yang dikirim ke Venezuela, menyebut Maduro sebagai "seorang diktator tanpa klaim sah atas kekuasaan."


"Dia tidak pernah memenangkan kursi kepresidenan dalam pemilihan yang bebas dan adil, dan telah mempertahankan cengkeramannya dengan memenjarakan siapa pun yang berani menentangnya," kata Pence dalam video itu.

Maduro, yang memulai masa jabatan keduanya sebagai presiden pada 10 Januari setelah pemilihan yang disengketakan, menghadapi meningkatnya permusuhan dari masyarakat internasional. Dia telah berusaha untuk mendapatkan dukungan dari angkatan bersenjata dengan membagikan pos-pos penting kepada para jenderal penting, termasuk satu sebagai kepala monopoli minyak yang merupakan sumber dari hampir semua pendapatan ekspor Venezuela.





Credit  sindonews.com



Maduro Tutup Kedubes dan Seluruh Konsulat Venezuela di AS


Maduro Tutup Kedubes dan Seluruh Konsulat Venezuela di AS
Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto/REUTERS/Miraflores Palace

CARACAS - Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan bahwa dia telah memutuskan untuk menutup kedutaan besar dan seluruh konsulat negaranya di Amerika Serikat (AS). Keputusan itu diambil setelah dia memutuskan hubungan diplomatik kedua negara.

Maduro, seperti dikutip Reuters, Jumat (25/1/2019), juga setuju dengan seruan dialog yang disampaikan oleh Meksiko dan Uruguay terkait krisis politik di Caracas.

Kedutaan Besar Venezuela di Amerika Serikat telah menghentikan layanan konsuler setelah hubungan diplomatik kedua negara terputus.

Nicolas Maduro memutuskan hubungan diplomatik setelah menuduh Washington berusaha melakukan kudeta di Caracas. Sebaliknya, Wasington mendesaknya untuk mengundurkan diri dan mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden interim Venezuela.

Beberapa negara seperti Kanada, Argentina, Brasil, Chili, Kolombia, Kosta Rika, Ekuador, Georgia, Guatemala, Honduras, Panama, Paraguay, dan Peru juga mengikuti langkah Amerika Serikat.

Sementara itu, seorang pejabat tinggi loyalis Maduro mengancam akan memadamkan listrik di kantor-kantor diplomatik AS di Venezuela. Ancaman muncul setelah Washington yang tak mengakui kepemimpinan Maduro menolak pemutusan hubungan diplomatik.

"Mereka mengatakan mereka tidak mengenali Nicolas. Baik. Mungkin listrik akan padam di lingkungan itu, atau gas tidak akan tiba," kata Diosdado Cabello, kepala Majelis Konstituante Venezuela, seperti dikutip Bloomberg.

Cabello merujuk pada lingkungan Valle Arriba di Caracas, di mana Kedutaan Besar AS berada. "Jika tidak ada hubungan diplomatik, tidak ada masalah," katanya.

Presiden Maduro telah mengultimatum semua diplomat AS agar hengkang dari negara Amerika Latin itu. Batas waktu yang diberikan hanya sampai Sabtu sore.

Tetapi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo mengatakan Maduro tidak lagi memiliki wewenang dan para diplomat Amerika akan tetap tinggal di Caracas.

"Kami menyerukan pasukan militer dan keamanan Venezuela untuk terus melindungi kesejahteraan dan keselamatan semua warga negara Venezuela, serta AS dan warga negara asing lainnya di Venezuela. Amerika Serikat akan mengambil tindakan yang tepat untuk meminta pertanggungjawaban siapa pun yang membahayakan keselamatan dan keamanan misi kami serta personelnya," kata Pompeo.





Credit  sindonews.com






Bela Maduro, Putin Kecam Campur Tangan Asing soal Venezuela


Bela Maduro, Putin Kecam Campur Tangan Asing soal Venezuela
Presiden Rusia Vladimir Vladimorvich Putin. Foto/REUTERS

MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin menelepon Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk memberikan dukungannya terkait krisis politik di negara tersebut. Pemimpin Kremlin itu mengatakan campur tangan asing terhadap urusan internal Venezuela merupakan pelanggaran hukum internasional.

"Presiden Putin menyatakan dukungannya kepada Nicolas Maduro," kata Kremlin dalam sebuah pernyataan."Putin mengatakan dia mendukung dialog damai di Venezuela," lanjut Kremlin, yang dilansir Reuters, Jumat (25/1/2019).

Putin dan Maduro juga sepakat untuk melanjutkan kerja sama kedua negara di berbagai bidang.

Krisis politik di negara Amerika Latin itu memanas setelah Amerika Serikat (AS) tidak mengakui hasil pemilu terakhir yang menyebabkan Maduro menjabat lagi sebagai presiden untuk enam tahun ke depan.

Pada hari Rabu pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim. Presiden AS Donald Trump mengakui Guaido sebagai presiden interim.

Argentina, Brasil, Kosta Rika, Ekuador, Guatemala, Chili, Kolombia, Paraguay, dan Peru mengikuti langkah AS. Prancis dan Inggris juga ikut memberikan pengakuan serupa.

London mengklaim bahwa Maduro bukan pemimpin yang sah dari Venezuela. Sedangkan Paris mengatakan bahwa pemilu yang dimenangkan Maduro ilegal. Sementara itu Eropa mendukung pemulihan demokrasi di negara tersebut.

Venezuela telah mengalami periode ketidakstabilan ekonomi dan hiperinflasi berkepanjangan, yang diperburuk oleh tekanan eksternal yang meningkat secara bertahap. Para lawan Maduro menyalahkan krisis ekonomi yang parah itu pada pemerintah sosialis.

AS sendiri telah memperluas sanksi ekonomi terhadap negara kaya minyak tersebut, namun di saat yang bersamaan menyatakan dukungan terhadap rakyat Venezuela. 




Credit  sindonews.com





China Tegaskan Dukungan Terhadap Pemerintah Maduro


China Tegaskan Dukungan Terhadap Pemerintah Maduro
Pemerintah China mengatakan bahwa mereka mendukung upaya pemerintah Venezuela untuk mengamankan kedaulatan nasionalnya. Foto/Reuters

BEIJING - Pemerintah China mengatakan bahwa mereka mendukung upaya pemerintah Venezuela untuk mengamankan kedaulatan nasionalnya. China mengatakan Beijing menganut kebijakan non-intervensi dan mendukung penuh pemerintah yang sah di Venezuela.

Pernyataan itu dikeluarkan sehari setelah Amerika Serikat (AS) mengakui pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido sebagai presiden sementara negara itu. Pengakuan AS atas Guaido menandai eskalasi yang paling signifikan dalam perselisihan yang sedang berlangsung antara Washington dan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

"China selalu mempertahankan prinsip non-campur tangan dalam urusan internal negara-negara lain, menentang intervensi eksternal dalam urusan dalam negeri Venezuela dan menyerukan masyarakat internasional untuk menciptakan kondisi yang baik," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.

Hua, seperti dilansir Anadolu Agency pada Kamis (24/1), kemudian mengatakan bahwa China mendukung upaya yang dilakukan oleh pemerintah Venezuela untuk kedaulatan, kemerdekaan, dan stabilitas nasional.

Selain China, Turki, Rusia, Meksiko dan Bolivia adalah negara lain yang menyampaikan dukungan terhadap pemerintahan Maduro.

Rusia sebelumnya memperingatkan AS terhadap campur tangan militer dalam urusan Venezuela. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov mengatakan jika interfensi militer dilakukan, maka itu akan menjadi bencana.

"Kami memperingatkan ini. Kami percaya bahwa ini akan menjadi skenario bencana yang akan mengguncang fondasi model pembangunan yang kita lihat di wilayah Amerika Latin," kata Ryabkov.








Credit  sindonews.com





Kudeta Venezuela, Rusia Peringatkan AS Tidak Intervensi Militer


Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan Menteri Pertahanan, Vladimir Padrino Lopez. Reuters
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan Menteri Pertahanan, Vladimir Padrino Lopez. Reuters

CB, Jakarta - Rusia memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak melakukan intervensi militer di Venezuela.
Laporan kantor berita Interfax, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan langkah seperti itu akan memicu skenario bencana, seperti dikutip dari Reuters, 24 Januari 2019.

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara pada hari Rabu 23 Januari 2019, dan mengklaim mendapat dukungan Washington dan banyak negara Amerika Latin. Aksi protes yang ia pimpin untuk menggulingkan Nicolas Maduro, yang telah memimpin negara kaya minyak sejak 2013, namun jatuh ke jurang krisis.

Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov. Reuters
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menolak untuk menarik diplomat dari Caracas, dengan alasan pemerintah yang memutuskan hubungan diplomatik dengan AS tidak sah dan mengancam "tindakan balasan" jika ada warga AS yang terancam.

"Kami menyerukan pasukan militer dan keamanan Venezuela untuk terus melindungi kesejahteraan dan kesejahteraan semua warga negara Venezuela, serta AS dan warga negara asing lainnya di Venezuela," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan pada Rabu malam

"AS akan mengambil tindakan yang tepat untuk meminta pertanggungjawaban siapa pun yang membahayakan keselamatan dan keamanan diplomat kami dan personelnya," kata surat edaran Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, dikutip dari Russia Today.

Sergei Ryabkov mengatakan Rusia akan mendukung Venezuela di bawah pemerintahan Nicolas Maduro untuk melindungi kedaulatannya dan prinsip tidak campur tangan dalam urusan dalam negerinya.







Credit  tempo.co




5 Hal Penting Mengenai Forum Ekonomi Dunia di Davos Swiss


Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum kembali digelar dari 22 -- 25 Januari 2019 di Davos, Swiss. moneycontrol
Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum kembali digelar dari 22 -- 25 Januari 2019 di Davos, Swiss. moneycontrol

CBDavos – Forum Ekonomi Dunia atau Forum Davos, Swiss, kembali digelar dan berlangsung pada 22 – 25 Januari 2019. Forum tahunan ini mengusung tema “Globalisasi 4.0: Shaping a New Architecture in the Age of the Fourth Industrial Revolution".


Tema ini menjadi penting karena adanya temuan dari lembaga bantuan kemanusiaan Oxfam bahwa jurang antara masyarakat kaya dan miskin di dunia melebar. Namun, angka kemiskinan ekstrim dunia selama 30 tahun ini telah menurun. Salah satu agenda yang dibahas untuk menangani ketimpangan ini adalah kapitalisme inklusif.


Berikut ini beberapa poin menarik mengenai WEF sepeti dilansir media The Local dari Swiss:
1. Berdiri 1971
Forum Ekonomi Dunia dibentuk pada 1971 di Jenewa oleh pengusaha berorientasi sosial atau entrepreneur social Klaus Schwab. Forum ini bersifat independen dan nirlaba dengan tujuan mengumpulkan para pemimpin politik dan bisnis agar mereka berkolaborasi mencari solusi mengatasi tantangan global.
Menurut laporan tahunan 2017 – 2018, WEF memperoleh pendapatan sekitar 288 juta euro dan digunakan untuk mendukung pengembangan ekonomi digital, edukasi, layanan kesehatan, teknologi informasi, mobilitas, lingkungan hidup, dan energi.

2. Jaringan Global
Ini merupakan pertemuan WEF ke 49. Pertemuan ini dianggap sebagai kekuatan kreatif terdepan untuk mengajak para pemimpin dunia melakukan aktivitas kolaboratif dalam membentuk agenda global, regional dan industri setiap awal tahun.
Sekitar 3000 peserta hadir dari sektor ekonomi, pemerintahan, lembagan donor internasional, akademisi, seni, budaya dan media. Sekitar 22 partisipan merupakan perempuan dan ini naik 1 persen dari 2018.
3. Bintang Acara
Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, menjadi bintang acara pada tahun ini setelah terpilih sebagai Presiden baru-baru ini. Bolsonaro berpidato mengenai “Brasil Baru”, yang ditandai dengan reformasi ekonomi total untuk membuat ekonomi negara itu terbuka bagi investor dalam menumbuhkan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas barang dan jasa, serta mengembangkan teknologi.
Pada saat yang sama, isu penebangan hutan Amazon bakal menjadi sorotan para peserta. Ini karena semakin banyak hutan ditebang bakal semakin mengubah iklim dunia menjadi buruk.

4. Tokoh yang Tidak Hadir
Sejumlah tokoh dunia bakal melewatkan acara penting ini karena sedang menghadapi masalah domestik di negaranya masing-masing. Ini seperti Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sedang berkonflik dengan Kongres dan menutup sebagian pemerintahannya.
Lalu, Perdana Menteri Theresa May, yang juga sedang mengurus isu Brexit atau pemisahan Inggris dari Uni Eropa. Isu ini menjadi kontroversial dengan pro dan kontra hingga saat ini.
Dan, ada Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga tidak hadir karena menghadapi masalah domestik mengenai isu kenaikan harga BBM, yang telah memicu unjuk rasa besar-besaran selama dua bulan terakhir.
5. Kritik
Direktur Eksekutif Internasional Greenpeace, yang merupakan lembaga pemerhati lingkungan global, mendesak isu perubahan iklim menjadi isu utama untuk dibahas para tokoh dunia dari berbagai negara.
“Namun, isu ini hanya menjadi satu dari banyak isu yang dibahas. Elit Davos masih berpura-pura kita semua memiliki waktu untuk memperbaiki krisis iklim. Kita tidak punyak waktu lagi,” kata dia mengenai Davos.





Credit  tempo.co




Kamis, 24 Januari 2019

Citra Satelit Ungkap Pabrik Rudal Balistik Arab Saudi


Citra Satelit Ungkap Pabrik Rudal Balistik Arab Saudi
Citra satelit mengungkap keberadaan pabrik rudal balistik Arab Saudi di pangkalan rudal al-Watah. Foto/Washington Post



WASHINGTON - Menurut para ahli senjata dan analis gambar citra satelit menunjukkan Arab Saudi telah membuat pabrik rudal balistik pertama. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai ambisi militer dan nuklir negara kerajaan itu yang meningkat di bawah pangeran mahkota Mohammad bin Salman (MBS).

Pabrik tersebut diduga berada di dekat pangkalan rudal di al-Watah, barat daya Riyadh. Jika beroperasional, ini memungkinkan Arab Saudi membuat rudal balistiknya sendiri dan memicu kekhawatiran perlombaan senjata dengan saingan regionalnya, Iran.

Arab Saudi saat ini tidak memiliki senjata nuklir, jadi setiap rudal yang diproduksi di pabrik yang terlihat kemungkinan akan dipersenjatai secara konvensional. Tetapi fasilitas pembuatan rudal akan menjadi komponen penting dari setiap program senjata nuklir Saudi, yang secara hipotesis memberikan kemampuan negara kerajaan itu untuk menghasilkan sistem pengiriman yang disukai untuk hulu ledak nuklir.



"Kemungkinan bahwa Arab Saudi akan membangun rudal jarak jauh dan mencari senjata nuklir - kami membayangkan bahwa mereka tidak bisa. Tapi kami mungkin meremehkan keinginan dan kemampuan mereka,” kata pakar senjata nuklir di Middlebury Institute of International Studies di Monterey, Jeffrey Lewis, yang menemukan pabrik itu bersama timnya ketika menganalisis citra satelit dari wilayah tersebut seperti dikutip dari Washington Post, Kamis (24/1/2019).

Dua ahli rudal tambahan yang meninjau gambar satelit yang disodorkan Washington Post, Michael Elleman dari Institut Internasional untuk Studi Strategis dan Joseph S. Bermudez Jr dari Pusat Studi Strategis dan Internasional, sepakat bahwa foto-foto resolusi tinggi dari situs al-Watah tampaknya menggambarkan produksi mesin roket dan fasilitas pengujian, mungkin menggunakan bahan bakar padat.

Meski begitu, citra satelit tersebut tidak bisa mengungkap apakah fasilitas tersebut telah selesai atau secara fungsional mampu membuat rudal. Terlepas dari itu, kompleks itu - yang menurut citra satelit pecah terungkap pada 2013 ketika Raja Salman masih menjadi menteri pertahanan - menyoroti niat negara itu untuk membuat misil canggihnya sendiri setelah bertahun-tahun berupaya membelinya di luar negeri, yang terkadang berhasil.

Keberadaan pangkalan roket strategis Saudi di al-Watah pertama kali diketahui publik pada pertengahan 2013 setelah Jane Weekly Defense menerbitkan citra satelit dari fasilitas militer, yang diduga menampung rudal balistik yang dibeli dari China.

Namun kini pangkalan itu bukan hanya pangkalan rudal lagi. Ada sejumlah fasilitas tambahan yang sama sekali baru dan tampak sangat mirip dengan pabrik produksi mesin roket yang dirancang untuk membuat rudal balistik.

Fasilitas itu termasuk bangunan-bangunan yang cukup tinggi untuk kasing motor rudal untuk berdiri di ujungnya dan diisi bahan bakar. Petunjuk lain adalah penghalang di sekitar salah satu struktur bangunan untuk perlindungan terhadap ledakan. Situs ini juga dihiasi penangkal petir, karena struktur logam yang tinggi dapat menarik serangan petir yang dapat menyalakan propelan.

Namun dari itu semua, apa yang tampak menjadi tempat uji mesin roket menarik perhatian. Pengaturan horizontal ditambah dengan kurangnya pipa atau tangki menunjukkan bahwa fasilitas itu mungkin dirancang untuk memproduksi roket bahan bakar padat.

Pabrik itu lebih kecil daripada negara-negara lain, menunjukkan kapasitasnya mungkin terbatas. Foto-foto satelit terbaru itu juga tidak menunjukkan adanya mobil di tempat parkir, meningkatkan kemungkinan bahwa pabrik tidak atau belum beroperasi. Pabrik itu juga memiliki lebih sedikit penghalang terhadap ledakan, gundukan tanah yang dikenal sebagai berm, daripada fasilitas produksi seruap di negara lain.

Bagaimana Saudi memperoleh teknologi yang diperlukan untuk membangun fasilitas itu tidak jelas. Namun satu pemasok potensial adalah China.

Menurut Lewis, stand uji mesi Saudi terlihat sangat khas China. Sementara sebagian besar negara menguji mesin roket di tempat terbuka, kata Lewis, China sebagian menutup tembakan api dari mesin dan mendinginkan gedung uji dengan air sehingga tidak terbakar. Kompleks uji Saudi tampaknya meniru susunan itu, katanya, dengan parit untuk air di sebelah dudukan dan apa yang tampak sebagai limpasan air.

Cina telah menjual rudal balistik ke Arab Saudi di masa lalu dan telah membantu memasok kemampuan produksi rudal balistik ke negara lain. Pada 1990-an, Pakistan diam-diam membangun pabrik rudal jarak menengah menggunakan blueprint dan peralatan yang dipasok oleh China. Pabrik di Pakistan telah lama menarik perhatian para pejabat tinggi Saudi.

Apa keterlibatan, jika ada, China atau Pakistan dalam membangun fasilitas Saudi tidak jelas. Juga tidak jelas rudal balistik macam apa yang diproduksi atau dipersiapkan Arab Saudi untuk diproduksi.

Kedutaan China dan Pakistan di Washington tidak menanggapi permintaan komentar.

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington juga menolak untuk mengomentari sifat fasilitas di pangkalan rudal tersebut. Sementara Pentagon, Departemen Luar Negeri dan CIA juga menolak berkomentar. 







Credit  sindonews.com






Suriah akan Segera Gunakan Sistem Anti-Rudal S-300


Sistem Rudal S-300 buatan Rusia.
Sistem Rudal S-300 buatan Rusia.
Foto: AP

Sistem S-300 akan digunakan untuk melindungi Damaskus dan sekitarnya.



CB, DAMASKUS -- Surat kabar Rusia Kommersant melaporkan Suriah siap menggunakan sistem anti-rudal S-300 pada Maret. Dilansir dari Middle East Monitor, Rabu (23/10), sistem anti-rudal S-300 akan digunakan setelah proses pelatihan menggunakan sistem tersebut selesai.

Kommersant melaporkan pada Maret nanti kemungkinan S-300 akan digunakan untuk melindungi Damaskus dan daerah sekitarnya. Anggota komite pertahanan dan keamanan Dewan Federasi Rusia, Franz Klintsevich mengatakan kru Suriah saat ini masih menjalani pelatihan.

"Pesawat tempur Israel sekarang menyerang Suriah karena mereka masih berada di luar jangkauan sistem pertahanan udara, tapi setelah S-300 digunakan, tidak ada yang dapat melarikan diri dari mereka," kata Klintsevich, di Kommersant.


photo

Sistem rudal pertahanan udara s-300 buatan Rusia.



Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan pertahanan udara Suriah berhasil menghalau serangan udara Israel di bandara Damaskus. Mereka juga mengumumkan melakukan beberapa instalasi pada Senin (20/1) lalu.

Pada November 2018, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan mereka sedang melatih personel militer Suriah untuk menggunakan sistem pertahanan udara S-300. Hal itu memperingatkan apa yang mereka sebut sebagai 'pihak asing' yang melakukan provokasi militer di Suriah.

Kelompok advokasi hak asasi manusia di Suriah, yakin The Syrian Observatory for Human Right mengatakan sebanyak 21 orang tewas dalam serangan udara Israel di Suriah. Menurut Syrian Observation, mereka yang tewas antara lain enam orang anggota pasukan pemerintah Suriah, 12 anggota Garda Revolusi Iran dan tiga orang lainnya dari negara lain.

Kelompok itu mengatakan serangan udara Israel Senin lalu menjadi serangan yang paling keji dan berdampak luas. Menjadi serangan yang paling menghancurkan bagi Iran di Suriah.





Credit  republika.co.id




Ribuan Orang Keluar dari Pertahanan Terakhir ISIS di Suriah



Ribuan Orang Keluar dari Pertahanan Terakhir ISIS di Suriah
Ilustrasi situasi di Suriah. (Delil SOULEIMAN/AFP)



Jakarta, CB -- Hampir 5.000 orang dilaporkan meninggalkan benteng pertahanan terakhir ISIS di Deir Ezzor, Suriah timur, sejak awal pekan ini, ketika posisi kelompok militan itu kian terdesak karena berbagai gempuran.

"Sekitar 4.900 orang, yang kebanyakan perempuan dan anak-anak termasuk 470 jihadis, sejak Senin meninggalkan basis terakhir ISIS di provinsi Deir Ezzor, termasuk 3.500 yang meninggalkan daerah itu pada hari Selasa," ujar Rami Abdel Rahman, Kepala Syrian Observatory for Human Rights, kepada AFP, Selasa (22/1).

Rahman menjelaskan bahwa mayoritas warga sipil yang dievakuasi itu merupakan anggota keluarga para militan. Mereka dievakuasi dengan puluhan truk sewaan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), aliansi Kurdi yang didukung AS untuk menggempur ISIS.


Sejak September lalu, SDF menggencarkan serangan untuk mengusir ISIS dari Deir Ezzor. Dalam beberapa minggu terakhir, SDF berhasil merebut beberapa desa bagian timur dari ISIS, termasuk Hajin, Al-Shaafa, dan Sousa.


Observatory melaporkan bahwa akibat gempuran-gempuran tersebut, wilayah kekuasaan ISIS di Deir Ezzor kini hanya seluas 10 kilometer persegi.

Pada hari Selasa, "SDF bergerak, tanpa ada perlawanan dari ISIS, ke daerah Baghouz, yang terakhir kali masih berada di tangan para jihadis," kata Rahman.


Dengan demikian, menurut Rahman, SDF "sekarang mengendalikan setengah" wilayah Baghouz.

Secara keseluruhan, hampir 27 ribu orang sudah meninggalkan daerah yang sebelumnya dikuasai oleh ISIS sejak awal Desember, termasuk hampir 1.800 militan yang menyerah.

ISIS mengokupasi sebagian besar wilayah Suriah dan negara tetangganya Irak pada 2014, menyatakan "kekhalifahan" di daerah-daerah yang berada di bawah kendali mereka.


Sejak saat itu, mereka terus kehilangan wilayah kekuasaannya karena berbagai serangan, baik dari pemerintah setempat maupun koalisi pimpinan AS.

Namun, pasukan Kurdi yang melakukan sebagian besar pertempuran melawan ISIS sedang mengalami kesulitan karena pada Desember lalu Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan penarikan pasukan AS sepenuhnya dari Suriah.

Sejak perang Suriah pecah pada 2011, lebih dari 360 ribu orang tewas, sementara jutaan lainnya terlantar akibat pergerakan perlawanan terhadap pemerintah tersebut.





Credit  cnnindonesia.com




Macron: Solusi Perdamaian Israel-Palestina Terancam


Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Foto: AP Photo/Thibault Camus

Pendudukan Israel yang terus meningkat mendorong terjadinya kekerasan.



CB, PARIS -- Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan, solusi perdamaian antara Israel dan Palestina kemungkinan berada dalam bahaya karena pendudukan Israel terus meningkat. Menurut Macron, kondisi itu ibarat memberi 'makan' pada kekerasan.

"Dengan peningkatan pendudukan yang bertahap oleh Israel, solusi antara Palestina dan Israel ini sedang terancam," kata dia dalam konferensi pers bersama Presiden Israel Reuven Rivlin di Paris, Prancis, dilansir dari Anadolu Agency, Kamis (24/1).

Macron mengaku sudah berdiskusi dengan Presiden Israel soal keamanan. Dalam diskusi itu, dia tidak memiliki perspektif yang sama dengan Israel mengenai kesepakatan nuklir Iran.

Namun, Macron menekankan bahwa keamanan Israel adalah salah satu topik penting dalam agenda Prancis karena berkaitan dengan kegiatan balistik yang dilancarkan Iran. Bahkan menurutnya dialog dengan Israel harus terus dilakukan.

"Dialog dengan Israel harus dipertahankan untuk mendapatkan kontrol lebih besar atas kegiatan balistik Iran," katanya.



Macron juga menegaskan solusi untuk krisis Suriah yang sedang berlangsung itu harus ditemukan di bawah naungan Persatuan Bangsa-Bangsa.

Di sisi lain, Presiden Rivlin mengakui bahwa kegiatan balistik yang dilakukan Iran memang menimbulkan ancaman regional dan tentunya juga berpengaruh besar pada stabilitas Timur Tengah. "Kegiatan balistik Iran mengancam regional padahal stabilitas di Timur Tengah sangat penting bagi Israel," tutur dia.





Credit  republika.co.id







Serangan Udara Tewaskan Dalang Serangan Pangkalan Militer Afghanistan


Serangan Udara Tewaskan Dalang Serangan Pangkalan Militer Afghanistan
Afghanistan klaim serangan udara tewaskan dalang serangan mematikan di pangkalan militernya. Foto/Ilustrasi/Istimewa

KABUL - Badan intelijen Afghanistan mengatakan bahwa dalam serangan berdarah di pangkalan militer beberapa hari lalu tewas dalam serangan udara. Namun penduduk dan pejabat di daerah itu mengatakan serangan udara itu sebenarnya menargetkan kelompok pemburu di puncak bukit.

Dalam serangan pada hari Senin, Taliban menggunakan Humvee lapis baja yang direbutnya dari pasukan Afghanistan, mengemasnya dengan bahan peledak dan membawanya ke pangkalan intelijen Afghanistan untuk diledakkan. Setidaknya 40 personel intelijen tewas dan 60 lainnya terluka.

Badan intelijen Aghanistan, Direktorat Keamanan Nasional, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukannya telah melacak dalang serangan itu, seorang pria yang mereka identifikasi sebagai Komandan Noman. Badan itu mengatakan telah menargetkan dia dan tujuh lainnya yang digambarkan sebagai teroris pada hari Selasa dengan serangan udara di Maidan Shahr, di pusat Provinsi Wardak.

"Dia menjadi sasaran di ibukota provinsi," pernyataan itu menambahkan seperti dikutip dari New York Times, Kamis (24/1/2019).

Badan itu tidak mengatakan siapa yang melakukan serangan tersebut, meskipun pasukan Afghanistan sering mengandalkan militer Amerika untuk melakukan serangan udara. Seorang juru bicara militer Amerika di Afghanistan mengatakan bahwa pasukan Amerika Serikat telah melakukan serangan di Wardak, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Tetapi klaim pemerintah segera menjadi kontradiksi.

Sharifullah Hotak, seorang anggota dewan provinsi Wardak, mengatakan telah terjadi serangan di provinsi itu pada hari Selasa tetapi korbannya adalah semua warga sipil dan Komandan Noman tidak ada di antara mereka.

"Enam warga sipil tewas dan satu lagi cedera dalam serangan udara drone," kata Hotak.

"Aku bisa menunjukkan mayat-mayat orang yang terbunuh, lihat apakah kamu bisa menemukan Komandan Noman di antara mereka," imbuhnya.

Menurut Akhtar Mohammad Khan Tahiri, kepala dewan provinsi, ada tradisi berburu di pegunungan selama musim dingin di Wardak, dan orang-orang inilah yang menjadi sasaran.

"Orang-orang ini semua warga sipil dan mereka ada di sana untuk berburu," katanya. "Situasinya lebih buruk di provinsi itu - baik Taliban dan pemerintah membunuh warga sipil," sambungnya.

Daftar korban tewas yang diberikan oleh pejabat yang berbeda di Wardak termasuk seorang remaja, Bashir Ahmadi, yang dibunuh bersama dengan ayahnya, Qasim.

"Dia adalah orang sederhana yang ingin membawa makanan untuk kelima anaknya," kata Adil Ahmadi, sepupu Qasim. "Mereka ada di sana untuk berburu kelinci karena ini musim dingin dan tidak ada yang bisa dilakukan," jelasnya.

Adil Ahmadi, yang mengatakan dia berada di lembah di bawah gunung ketika serangan terjadi, mendaki gunung setelah serangan itu untuk menemukan mayat-mayat "hancur." Dia mengatakan Bashir adalah anak tertua dari lima anak Qasim, dan yang termuda dari yang tersisa adalah 6 tahun.

Selain perselisihan tentang siapa yang terbunuh, laporan itu juga tidak memiliki kesamaan terkait waktu penyerangan, meskipun orang-orang di wilayah itu sepakat bahwa hanya satu serangan yang terjadi pada hari Selasa. Badan intelijen Afghanistan mengatakan serangan itu dilakukan pada malam hari, militer Amerika mengatakan serangan terjadi pada sore hari, dan pejabat setempat mengatakan itu terjadi sebelum tengah hari.

Serangan hari Senin di pangkalan intelijen di Provinsi Wardak adalah salah satu yang paling mematikan terhadap dinas intelijen Afghanistan dalam perang selama 17 tahun dengan Taliban. 



Credit  sindonews.com



India Bangun Pangkalan Ketiga di Kepulauan Strategis



India Bangun Pangkalan Ketiga di Kepulauan Strategis
India Bangun Pangkalan Ketiga di Kepulauan Strategis. (Reuters).

NEW DELHI - Angkatan Laut India akan membuka pangkalan udara ketiga di Kepulauan Andaman dan Nicobar pada hari ini untuk memantau kapal perang serta kapal selam China yang masuk Samudra Hindia melalui Selat Malaka.

India semakin khawatir dengan kehadiran angkatan laut China di beberapa negara tetangga dan jaringan pelabuhan komersial yang dibangun mulai dari Sri Lanka hingga Pakistan. Menurut India, berbagai hal itu bisa menjadi pos terluar angkatan laut China.Militer India telah memanfaatkan Andaman yang terletak dekat pintu masuk ke Selat Malaka untuk menghadapi tantangan China, dengan mengerahkan kapal serta pesawat di sana sejak Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi menjabat pada 2014 yang menjanjikan kebijakan lebih tegas terhadap Beijing. Kepala Staf Angkatan Laut India Laksamana Sunil Lanba akan mengawasi pangkalan baru yang disebut INS Kohassa itu.

Pangkalan itu terletak 300 km utara ibu kota kepulauan, Port Blair. Fasilitas itu merupakan ketiga di kepulauan itu dan akan memiliki landasan pacu 1.000 meter untuk helikopter dan pesawat pengintai Dornier. ”Namun, rencana untuk landasan adalah diperpanjang hingga 3.000 meter untuk mendukung pesawat tempur dan pesawat pengintai jarak jauh,” kata Juru Bicara Angkatan Laut India Kapten DK Sharma dilansir Reuters. 

Sekitar 120.000 kapal melintas Samudra Hindia setiap tahun dan hampir 70.000 kapal melintasi Selat Malaka. ”Hal yang ditekankan ialah ekspansi kehadiran China. Jika kita harus benar-benar memantau kehadiran China, kita perlu memiliki perlengkapan cukup di Kepulauan Andaman,” kata mantan komodor angkatan laut, Anil Jai Singh.

”Jika anda memiliki pangkalan udara, anda dapat menjangkau wilayah lebih luas,” tutur Singh yang memperkirakan angkatan laut akan secara permanen mengerahkan lebih banyak kapal ke kepulauan itu pada fase pembangunan selanjutnya. 

Satu kapal selam China singgah di Pelabuhan Colombo, Sri Lanka, pada 2014, yang memicu alarm di New Delhi sehingga pemerintahan Modi mengangkat isu itu pada otoritas Sri Lanka. India dan China telah bersaing pengaruh di kawasan, dengan New Delhi berupaya melawan langkah diplomasi Beijing di wilayah itu. Pekan ini, para pejabat pertahanan India akan menggelar perundingan dengan Menteri Pertahanan Maladewa Mariya Ahmed Didi.







Credit  sindonews.com






Persenjataan Modern, Cina Masih Bingung Adaptasi Senjata Canggih


Pasukan Tiongkok berbaris di tempat latihan Tsugol, sekitar 250 kilometer (156 mil) selatan-timur Kota Chita, selama latihan militer Vostok-2018 di Siberia Timur, Rusia, Kamis, 13 September 2018. Rusia akan melakukan latihan militer terbesar dalam sejarah dengan melibatkan 300 ribu orang dan diikuti tentara Cina. (AP Photo/Sergei Grits)
Pasukan Tiongkok berbaris di tempat latihan Tsugol, sekitar 250 kilometer (156 mil) selatan-timur Kota Chita, selama latihan militer Vostok-2018 di Siberia Timur, Rusia, Kamis, 13 September 2018. Rusia akan melakukan latihan militer terbesar dalam sejarah dengan melibatkan 300 ribu orang dan diikuti tentara Cina. (AP Photo/Sergei Grits)

CB, Jakarta - Meskipun Cina mengembangkan banyak persenjataan baru berteknologi tinggi, namun militer Cina mengaku bingung mengoperasikan senjata modern salah satunya tank canggih mereka.
Selama latihan perang tahun lalu, sebuah brigade gabungan elit Cina dari 81st Group Army Tentara Pembebasan Rakyat Cina kalah, meskipun menggunakan senjata canggih terutama tank tempur utama mereka Tank Type 099A, menurut laporan kantor berita CCTV, dikutip Business Insider, 23 Januari 2019.

Menurut Direktur Defense Intelligence Agency (DIA), Letjen Robert Ashley, mengatakan Cina menuju sistem persenjataan canggih di dunia dalam tinjauan kekuatan tempur terakhir Cina."Dalam sejumlah sektor, militer Cina mulai memimpin di dunia," kata Robert.
Selain tinjauan DIA terhadap kemajuan Cina dalam kemampuan anti-satelit, alat serang presisi, atau senjata hipersonik, Cina tampak sangat bangga dengan pencapaian seperti tank tempur Tipe 099A, pesawat tempur siluman J-20, dan rudal berpemandu Tipe 055. kapal perusak, senjata yang meningkatkan kemampuan berperang tentara Cina di angkatan udara dan angkatan laut.
Namun militer Cina tampaknya masih berusaha mencari tahu apa arti perkembangan ini bagi perang modern.

Tank tempur utama Cina Type 99.[Military Watch Magazine]
Dalam wawancara dengan CCTV, dua perwira senior merenungkan mengapa pasukan Cina bersenjatakan tank-tank baru kalah dalam simulasi perang tahun lalu.
"Kami mengoperasikan Tank Tipe 099A terlalu buru-buru dekat ke garis depan, yang tidak mengoptimalkan penggunaan kemampuan tempur tank," papar Xu Chengbiao, seorang komandan batalion.

"Kami hanya mempelajari kemampuan tank yang lebih tua, tetapi belum sepenuhnya memahami (tank) yang baru," Zhao Jianxin, seorang komandan batalion kedua.Seorang pakar militer yang berbasis di Beijing mengatakan kepada Global Times bahwa senjata saja tidak dapat memenangkan perang.
David Axe, seorang editor tentang pertahanan di The National Interest, berpendapat bahwa laporan media Cina mengindikasikan bahwa Cina berjuang dengan doktrin militer yang tidak sebanding karena kurangnya pengalaman tempur negara tersebut. Militer Cina belum berperang sejak akhir 1970-an.

Sebuah tank Cina diterjunkan di tempat latihan Tsugol, sekitar 250 kilometer (156 mil) tenggara Kota Chita, selama latihan militer Vostok-2018 di Siberia Timur, Rusia, Kamis, 13 September 2018. Latihan selama seminggu bersama militer Cina dan Mongolia ini diberi nama Vostok-2018 dan digelar di Siberia timur pada 11 September. (AP Photo/Sergei Grits)



Cina lebih fokus pada angkatan laut, angkatan udara, kekuatan roket, dan kekuatan pendukung strategis daripada di angkatan darat, yang mengalami pengurangan besar dalam personel. Pergeseran ini, menurut beberapa pengamat, menyoroti minat pada proyeksi kekuasaan atas pertahanan dalam negeri.

Seiring dengan meningkatnya kemampuan perang militer Cina, mungkin perlu menyesuaikan doktrin militernya dengan teknologi yang muncul untuk memaksimalkan kemampuan, tetapi proses itu mungkin membutuhkan waktu.Militer Cina sedang mengalami perombakan modernisasi besar-besaran dengan harapan mencapai tujuan Presiden Cina Xi Jinping untuk membangun militer kelas dunia yang dapat berperang dan memenangkan perang abad ini.





Credit  tempo.co






Xi Jinping Ingatkan Pejabat Top Waspada Ancaman Stabilitas Cina


Presiden Xi Jinping menyerahkan bendera militer Pasukan Pembebasan Rakyat Cina kepada Komandan Pasukan Roket, Wei Fenghe, pada Januari 2016. The Standard - Hongkong
Presiden Xi Jinping menyerahkan bendera militer Pasukan Pembebasan Rakyat Cina kepada Komandan Pasukan Roket, Wei Fenghe, pada Januari 2016. The Standard - Hongkong

CB, Jakarta - Presiden Xi Jinping mengingatkan seluruh pejabat top Cina militer dan sipil untuk waspada terhadap segala resiko dan segera mengambil langkah pencegahan yang dapat membahayakan stabilitas dan reformasi Cina.
Xi menyerukan hal tersebut pada ratusan pejabat dari seluruh provinsi dan daerah otonom yang dipanggil ke Beijing untuk sesi studi Partai Komunis tentang pengendalian risiko pada Senin, 21 Januari 2019.

Dalam pidato pembukaan, Xi mengatakan kepada gubernur, menteri, dan jenderal senior bahwa meskipun ekonomi Cina secara umum bekerja dengan baik, pertahanan tetap harus dijaga untuk mengantisipasi potensi gangguan di masa depan.
"Kita harus menjaga kewaspadaan lebih tinggi. Kita harus tetap waspada terhadap insiden yang tidak terduga juga mengambil langkah-langkah untuk mencegah ancaman yang sangat mungkin terjadi tetapi tidak kita sadari," kata Xi seperti dikutip kantor berita negara Xinhua.
Dalam pidatonya, Xi meminta seluruh pejabat untuk memperhatikan pengendalian risiko yang dihadapi Beijing di bidang politik, ekonomi, ideologi, dan teknologi.

Xi menyoroti pentingnya sains dalam keamanan nasional. Ia menyerukan lebih banyak lagi inovasi dan teknologi dari Cina. Seruannya ini datang karena dorongan inovasi Beijing telah berada di bawah pengawasan ketat oleh Barat dalam beberapa tahun terakhir. Adanya tuduhan spionase dan penipuan di perusahaan Huawei merupakan salah satunya.
Chen Daoying, seorang ilmuwan politik yang berbasis di Shanghai, Cina mengatakan fokus sesi studi ini menggarisbawahi tantangan Beijing setelah peristiwa yang telah mempengaruhi stabilitas di Cina selama setahun terakhir.
"Beijing menunjukkan citra negara adikuasa selama kongres partai ke 19 dan kepercayaan terhadap Beijing telah jatuh dari puncaknya ke titik terendah dalam setahun terakhir," kata Chen seperti dilansir South China Morning Post.

Selama dua kali kongres partai dalam satu dekade pada tahun 2017, Xi bersumpah untuk menghadirkan solusi Cina dan kebijaksanaan Cina kepada dunia. Hal ini dipandang dapat menjadi tantangan untuk Barat. Namun, ide tersebut berubah dengan cepat setelah perang dagang dengan AS pada bulan Juli 2018.
Menurut Chen, partai perlu mendapatkan dukungan untuk pertemuan Kongres Rakyat Nasional mendatang pada Maret 2019 sekaligus menjaga stabilitas negara.
Puluhan pejabat provinsi menyusun ulang jadwal pertemuan kongres tahunan mereka demi menghadiri sesi studi bersama Presiden Xi Jinping. Sesi ini diharapkan akan berlangsung selama empat hari.





Credit  tempo.co




Cina Pangkas 50 Persen Personel Angkatan Darat, Xi Penuhi Janji



Pasukan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) berbaris dalam formasi parade militer untuk memperingati ulang tahun ke 90 berdirinya PLA di Basis pelatihan Zhurihe di Wilayah Otonomi Mongolia, Cina, 30 Juli 2017. AP
Pasukan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) berbaris dalam formasi parade militer untuk memperingati ulang tahun ke 90 berdirinya PLA di Basis pelatihan Zhurihe di Wilayah Otonomi Mongolia, Cina, 30 Juli 2017. AP

CB, Jakarta - Cina memangkas lebih dari 50 persen dari total pasukan angkatan darat dan meningkatkan secara signifikan jumlah pasukan angkatan laut, angkatan udara, dan unit strategis baru demi perubahan transformasi desain Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat atau PLA yang disuarakan presiden Xi Jingping tahun 2015.
Cina melakukan perubahan terbesar dalam sejarah PLA dengan tujuan membawa PLA menjadi pasukan modern yang komprehensif.

"Data baru ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah PLA, yakni jumlah pasukan angkatan darah sekarang berkurang lebih dari 50 persen dari total jumlah pasukan PLA, hampir setengah dari unit non-kombatan kami telah dibuat mubazir, dan jumlah staf di PLA juga telah dikurangi 30 persen," ujar media pemerintah Cina, seperti dikutip dari South China Morning Post, Senin, 21 Januari 2019.
Sedangkan jumlah pasukan 4 angkatan lain yang berada di bawah PLA: angkatan laut, angkatan udara, pasukan roket, dan pasukan pendukung strategis yang bertanggung jawab untuk perang siber, kini bertambah lebih dari setengah jumlah angkatan darat. Selama ini jumlah pasukan angkatan darat mendominasi unit di PLA.
Saat ini, militer Cina memiliki 5 cabang independen termasuk angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, pasukan roket sebagai operator rudal strategis dan taktis, dan pasukan pendukung strategis yang bertanggung jawab untuk perang siber, antariksa, dan perang elektronik.


Presiden Cina, Xi Jiping, menginspeksi latihan perang Angkatan Laut PLA di Laut Cina Selatan, Kamis, 12 April 2018. CNN -- Xinhua

Menurut analis militer berkantor di Shanghai, Ni Lexiong, keseluruhan perubahan strategis ini, dari pasukan pertahanan yang berbasis di darat kini menuju pada pasukan yang membuat Beijing lebih fleksibel menggunakan kekuatannya untuk melindungi perbatasan negara dan melindungi kepentingannya di luar negeri.Ni mengatakan, perubahan ini juga memberikan arti bahwa angkatan laut, angkatan udara, dan unit rudal kini dapat memainkan peran lebih besar dalam peristiwa konflik dengan menggempur pasukan musuh melewati perbatasan Cina.

Perang modern, ujarnya, menempatkan penekanan lebih besar pada udara, perang siber, dan luar angkasa, sehingga mengurangi pentingnya pasukan darat.
Angkatan darat Cina didirikan tahun 1927 sebagai Pasukan Merah Cina yang menjadi kunci kemenangan Partai Komunis Cina dalam perang saudara tahun 1949. Pasukan angkatan darat sejak itu menjadi dominan antara tahun 1950 hingga 2005.


PLA tidak memiliki angkatan laut hingga tahun 1949 dan begitu pula Pasukan Roket PLA pertama kali dikenal sebagai Korps Artileri Kedua. Angkatan laut PLA didirikan tahun 1966.Dan tahun 2013, PLA memiliki pasukan sebesar 2,3 juta personel dengan komposisi, 235 ribu personal angkatan laut dan 398 ribu personel angkatan udara.
Proses pengurangan jumlah pasukan di PLA pertama kali diumumkan presiden Xi Jinping pada tahun 2015. Xi mengatakan jumlah personal PLA akan di kurang sekitar 300 ribu personil. Saat ini Cina memiliki 2,3 juta prajurit, baik perempuan maupun pria yang menjadikan PLA sebagai pasukan bersenjata terbesar di dunia.





Credit  tempo.co




Singapura: Pembelian F-35 Tak Picu Lonjakan Besar Belanja Pertahanan


Singapura: Pembelian F-35 Tak Picu Lonjakan Besar Belanja Pertahanan
Pesawat jet tempur siluman F-35B produksi Lockheed Martin Amerika Serikat. Foto/REUTERS

SINGAPURA - Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen mengatakan tidak akan ada lonjakan besar dalam pengeluaran pertahanan untuk anggaran tahun ini. Komentarnya itu muncul setelah kementerian memutuskan akan membeli sejumlah kecil pesawat jet tempur siluman F-35 Lockheed Martin Amerika Serikat (AS) untuk mengganti F-16 yang uzur.

Dia mengatakan bahwa penggantian jet tempur bagian dari keseluruhan rencana modernisasi Angkatan Bersenjata Singapura dan akan dilakukan dalam batasan anggaran pertahanan.

"Kami tahu bagaimana merentangkannya dan jika kami berencana sudah lama, kami akan dapat melakukannya," kata Ng di sela-sela acara Programme for Active Living di Bishan pada hari Minggu (20/1/2019).

"Jadi, itu selalu merupakan investasi yang signifikan dalam pertahanan, tetapi kami tidak melihat lonjakan besar dalam pengeluaran pertahanan untuk anggaran tahun ini," ujarnya.

Sekadar diketahui jet tempur F-35A yang bisa take-off dan landing konvensional harganya USD89,2 juta. Sedangkan model F-35B yang bisa landing vertikal harganya USD115,5 juta.

Mengutip Channel News Asia, Singapura sangat tertarik untuk membeli model F-35B, yang dapat lepas landas dari landasan pacu yang lebih pendek dan mendarat seperti helikopter.

Pada hari Minggu, Ng juga menyinggung sengketa maritim dan wilayah udara antara Singapura dan Malaysia.

"Pengambilan yang paling penting dari beberapa minggu terakhir sejak kapal pemerintah Malaysia memasuki perairan teritorial Singapura kami di Tuas, serta situasi di Seletar dan masalah tentang wilayah udara, adalah; Kami telah menghindari datang ke pukulan. Itu selalu lebih baik untuk menyelesaikan perbedaan pendapat melalui pembicaraan damai, negosiasi dan diskusi," ujarnya.

Ng menambahkan bahwa kedua pihak telah membuat kemajuan dan para menteri dan pejabat dari kedua negara sudah saling berbicara.

"Pada saat yang sama, agen keamanan kami (SAF, the Home Team) selalu waspada," katanya. "Kami menonton dengan sangat hati-hati. Kami tahu apa yang sedang terjadi. Kami dapat merespons dengan sangat cepat," katanya.

Singapura dan Malaysia telah terlibat dalam perselisihan mengenai kebijakan Singapura mengenai prosedur baru Sistem Pendaratan Instrumen untuk Bandara Seletar, yang menurut Malaysia akan menghambat pembangunan gedung-gedung tinggi di Pasir Gudang Johor, di sebelah utara bandara. Singapura tidak setuju dengan penilaian itu.

Perselisihan lainnya tentang masalah maritim yang dipicu oleh keputusan sepihak Malaysia untuk memperpanjang batas pelabuhan Johor Baru pada bulan Oktober.




Credit  sindonews.com