Foto: Maikel Jefriando-detikFinance
Jakarta - Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan memulai bisnis atau
ease of doing business
Indonesia di 2017 meningkat. Menurut data Bank Dunia, peringkat
kemudahan memulai bisnis di Indonesia untuk 2017 naik 15 poin ke level
91 dari posisi 106 tahun ini.
Tapi, Presiden Joko Widodo
(Jokowi) belum puas atas hasil tersebut. Sebelumnya, Jokowi menargetkan
peringkat kemudahan memulai bisnis di Indonesia pada 2017 nanti berada
di posisi 40.
Demikianlah disampaikan oleh Sekretaris Kabinet
Pramono Anung dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu
(26/10/2016).
"Di 2016 ini kenaikannya sangat signifikan
dibanding seluruh negara yang ada. Kita dianggap sebagai negara yang
cepat karena peringkatnya tertinggi. Tapi sekali lagi bapak presiden
tetap belum puas," jelas Pramono.
Pemerintah, kata Pramono akan terus mengejar agar peringkat kemudahan berbisnis di dalam negeri mencapai level yang lebih baik.
"Pada
prinsipnya, Presiden masih terus mengejar kepada Menko perekonomian,
Menkeu, BKPM dan menteri terkait untuk lebih memperbaiki hal ini. Karena
belum mencapai sesuai arget yang diinginkan Presiden," paparnya.
Credit
detikFinance
Jokowi Belum Puas Soal Peringkat Kemudahan Bisnis RI, Ini Respons Kepala BKPM
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum puas dengan ranking kemudahan berusaha atau
ease of doing business yang dirilis oleh Bank Dunia. Walaupun sudah ada peningkatan peringkat yang cukup signifikan, dari peringkat 106 ke 91.
Kepala
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong, memaklumi
ketidakpuasan Presiden Jokowi, karena target yang ditetapkan sebelumnya
adalah peringkat 40.
"Kita memang masih jauh sekali. Saya kira
saat ini kita baru 5-10% dari yang seharusnya kita kerjakan," ujar
Thomas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (26/10/2016).
Menurut
Thomas, melakukan perubahan dari sebuah tatanan yang sudah lama berjalan
itu memang sulit. Maka dari itu, Bank Dunia sekalipun menempatkan
Indonesia sebagai negara dengan perubahan paling besar di antara banyak
negara lainnya.
"Ini lonjakan terbanyak dalam sejarah indeks EoDB (
Ease of Doing Business)
itu. Nggak pernah ada lonjakan 15 peringkat dalam 1 tahun, saya kira
ini mencerminkan kerja nyata dan upaya-upaya deregulasi dari
pemerintah," paparnya.
Terkait dengan target peringkat ke 40,
Thomas menilai seluruh lini pemerintahan harus mampu bekerja lebih keras
lagi dan terkoordinasi. Baik sesama Kementerian Lembaga maupun dengan
pemerintah dan daerah.
"Ya kita harus genjot habis-habisan untuk mengejar ke situ," tegas Thomas.
Credit
detikFinance
Peringkat Kemudahan Bisnis RI Naik, Darmin: Negara Lain Lebih Cepat
Foto: Maikel Jefriando-detikFinance
Jakarta - Kemudahan berusaha atau
ease of doing business
di Indonesia mengalami perbaikan yang cukup signifikan dalam setahun
terakhir. Namun Bank Dunia mencatat Indonesia hanya mampu naik 15
peringkat dari sebelumnya.
Alasannya memang karena negara lain juga melakukan perbaikan yang lebih cepat.
"Karena
kita membaik, orang (negara) lain membaiknya lebih cepat lagi," kata
Menko Perekonomian, Darmin Nasution, dalam konferensi pers di Kantor
Presiden, Jakarta, Rabu (26/10/2016).
Menurut data Bank Dunia,
peringkat kemudahan untuk memulai bisnis di Indonesia pada 2017 berada
di level 91. Naik 15 poin dari sebelumnya 106 di 2016.
Darmin menuturkan bahwa Indonesia masuk ke dalam 10 negara dengan perbaikan terbesar.
"Ada sejumlah negara yang mereka sebut sebagai top
reformer, yang melakukan
reform atau perbaikan yang paling tinggi. Itu mereka me-
list ada 10 negara. Kita termasuk di antara yang paling tinggi diantara top
reformer tersebut," terang Darmin.
Perbaikan
yang dilakukan terjadi pada 7 indikator utama dari total 10 indikator.
Sebanyak 3 indikator lainnya mengalami penurunan, yaitu permohonan izin
konstruksi, perlindungan investor minoritas dan penyelesaian kepailitan.
"Indonesia
berhasil melakukan perbaikan dari 7 dari total 10 indikator yang ada.
Walaupun kenaikannya masing-masing-masing beda. Bahkan ada yang sedikit
turun," pungkasnya.
Darmin menekankan, perbaikan tersebut membuktikan bahwa komitmen Pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.
"Kemajuan
yang dicapai saat ini merupakan cerminan komitmen pemerintah Indonesia
untuk menciptakan iklim usaha lebih kompetitif dengan mempermudah
memulai dan menjalankan usaha," tandasnya.
Credit
detikFinance
Peringkat Kemudahan Berusaha RI Naik, Sri Mulyani: Karena Penyederhanaan Izin
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau
ease of doing business
Indonesia di 2017 meningkat. Menurut data Bank Dunia, peringkat
kemudahan memulai bisnis di Indonesia untuk 2017 naik 15 tingkat ke
posisi 91 dari sebelumnya di posisi 106.
Menteri Keuangan Sri
Mulyani pun menanggapi positif hal tersebut. Menurutnya hal ini karena
berbagai upaya penyederhanaan izin yang dilakukan pemerintah.
"Bagus
karena berbagai perizinan dan berbagai reformasi yang dibuat
pemerintah," ujar Sri Mulyani, usai rapat paripurna, di DPR, Jakarta
Pusat, Rabu (26/10/2016).
Dengan semakin mudahnya perizinan, diharapkan banyak investor yang percaya dan berminat untuk berinvestasi di Indonesia.
"Insya Allah itu akan memberikan
confidence dan menarik lebih banyak kepercayaan," kata Sri.
"Seperti
hari ini tingkat kemudahan berbisnis kita positif kan bisa berharap
bahwa sektor swasta melakukan peranan yang positif (investasi) menjadi
pertumbuhan ekonomi. Jadi seimbang antara fiskal dengan non fiskal kalau
dari sisi pertumbuhannya," imbuhnya.
Saat ini pemerintah sedang
berupaya melakukan beberapa penyederhanaan izin dan regulasi. Salah
satunya mengatur untuk kemudahan berinvestasi bagi pengusaha.
Credit
detikFinance