Kamis, 21 Maret 2019

Erdogan Samakan Teroris Brenton Tarrant dengan ISIS



Erdogan Samakan Teroris Brenton Tarrant dengan ISIS
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto/REUTERS


ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyamakan Brenton Tarrant, teroris pembantai 50 orang di dua masjid Selandia Baru, dengan kelompok Islamic State atau ISIS. Menurutnya, keduanya memiliki kesamaan dalam hal ideologi.

Pendapat Presiden Turki itu muncul dalam kolom opininya di surat kabar Washington Post edisi Selasa lalu.

Menurut Erdogan, Tarrant dan ISIS memiliki tujuan sama, yakni menaklukkan Istanbul. Dia menulis ISIS pernah menyerukan pengikutnya untuk menaklukkan Istanbul. Sedangkan Tarrant, dalam manifestonya bersumpah menjadikan kota Turki itu kembali dikuasai Kristen.

"Setelah serangan Selandia Baru, pihak berwenang Turki menemukan bahwa Brenton Harrison Tarrant, yang diduga sebagai pria bersenjata, telah mengunjungi Turki dua kali pada 2016 dan menghabiskan waktu di berbagai bagian negara ini," tulis Erdogan dalam kolomnya, dikutip International Business Times, Kamis (21/3/2019).

"Selain itu, kami menetapkan bahwa Tarrant melakukan perjalanan ke sejumlah tempat lain, termasuk Maroko, Israel dan Kroasia. Badan intelijen dan penegak hukum Turki, bekerja sama dengan Selandia Baru dan yang lainnya, melanjutkan upaya mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi dan untuk mencegah serangan masa depan," lanjut dia.

Erdogan mengecam ekstremis kulit putih dengan mengatakan bahwa penyerang dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, berusaha untuk melegitimasi pandangannya yang memutarbalikkan dan mendistorsi sejarah dunia dan kepercayaan Kristen. "Dia berusaha menanam benih kebencian di antara sesama manusia," tulis Erdogan.

"Jika ada, apa yang terjadi di Selandia Baru adalah produk beracun dari kebodohan dan kebencian," imbuh dia.

"Sama sekali tidak ada perbedaan antara pembunuh yang membunuh orang tak berdosa di Selandia Baru dan mereka yang telah melakukan teroris di Turki, Prancis, Indonesia dan di tempat lain," paparnya.

Erdogan juga menyalahkan Eropa dan bagian lain dari dunia Barat karena diam terhadap Islamofobia dan xenophobia. 

"Sebagai akibat dari pembantaian Christchurch, Barat memiliki tanggung jawab tertentu. Masyarakat dan pemerintah Barat harus menolak normalisasi rasisme, xenophobia dan Islamofobia, yang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sangat penting untuk menetapkan bahwa ideologi yang melenceng seperti itu, seperti anti-Semitisme, sama dengan kejahatan terhadap kemanusiaan," tulis dia.

“Kami tidak bisa membiarkan ini lagi. Jika dunia ingin mencegah serangan di masa depan yang serupa dengan yang terjadi di Selandia Baru, itu harus dimulai dengan menetapkan bahwa apa yang terjadi adalah produk dari kampanye kotor terkoordinasi," sambung Erdogan.

Pemimpin Turki itu telah mengabaikan kritik yang meluas dengan tetap menunjukkan cuplikan video yang direkam oleh penembak di Selandia Baru. Erdogan menggunakan rekaman video itu untuk mengecam apa yang disebutnya sebagai peningkatan kebencian dan prasangka terhadap Islam.

Erdogan juga mengecam Selandia Baru dan Australia karena mengirim pasukan ke Turki dalam kampanye Perang Dunia I Gallipoli, dan mengklaim motif mereka berorientasi pada Islam.

Pada hari Rabu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengutuk komentar yang dibuat oleh Erdogan. Menurutnya, komentar pemimpin Turki itu ceroboh dan sangat ofensif.

"Pernyataan Presiden Turki Erdogan dibuat bahwa saya menganggap sangat ofensif kepada Australia dan sangat ceroboh dalam lingkungan yang sangat sensitif ini," kata Morrison, setelah memanggil duta besar Turki dan menolak alasan yang ditawarkan.

"Saya mengharapkan, dan saya telah meminta, agar komentar ini diklarifikasi, untuk ditarik. Saya berharap itu terjadi," kata Morrison.


Credit  sindonews.com