Minggu, 29 April 2018

Jalankan Program Rudal Balistik, AS Serukan Sanksi Baru untuk Iran



Jalankan Program Rudal Balistik, AS Serukan Sanksi Baru untuk Iran
AS mendesak negara lain untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran terkait program rudal balistiknya. Foto/Istimewa

RIYADH - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menyerukan sanksi baru terhadap Iran atas program rudalnya. Ini adalah sebuah langkah yang dapat mengakhiri kesepakatan nuklir.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah tiba di Arab Saudi sebagai bagian kunjungannya ke Timur Tengah. AS tengah mengumpulkan dukungan untuk sanksi baru terhadap Iran.

Kunjungan ke Riyadh, Yerusalem dan Amman hanya dua hari setelah Pompeo dilantik dilakukan ketika Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk memutuskan apakah akan menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran yang masih didukung oleh kekuatan Eropa.

"Kami mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk memberikan sanksi kepada individu dan entitas yang terkait dengan program rudal Iran, dan itu juga telah menjadi bagian besar dari diskusi dengan orang Eropa," ujar Brian Hook, penasihat kebijakan senior yang ikut bepergian dengan Pompeo, seperti dikutip dari News.com.au, Minggu (29/4/2018).

Lebih jauh Hook menuding Iran telah menyuplai rudal balistik kepada kelompok pemberontak Yaman, Houthi. Rudal-rudal tersebut ditembakkan secara serentak ke Arab Saudi dan sebelumnya menewaskan seorang pria.

"Rudal-rudal Iran memperpanjang perang dan penderitaan di Timur Tengah, mereka mengancam keamanan dan kepentingan ekonomi kami serta mereka terutama mengancam Arab Saudi dan Israel," ujarnya.

Kesepakatan 2015 yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan bantuan sanksi tidak mencakup program rudal.

Trump menyebutnya sebagai "kesepakatan terburuk" dan mengancam akan memberlakukan kembali sanksi kecuali Inggris, Prancis dan Jerman setuju untuk memperbaikinya. Melanjutkan sanksi kemungkinan akan membunuh kesepakatan.

Rusia, Cina, Jerman, Inggris dan Perancis, yang semuanya mencapai kesepakatan dengan Iran dan AS, melihat kesepakatan itu sebagai cara terbaik untuk menghentikan Iran mengembangkan bom nuklir.

Berbicara setelah pertemuan menteri luar negeri NATO di Brussels pada hari Jumat, Pompeo mengatakan Trump belum mengambil keputusan apakah akan membatalkan kesepakatan itu tetapi tidak mungkin untuk tetap melakukannya tanpa perubahan substansial.

"Belum ada keputusan, jadi tim itu bekerja dan saya yakin kami akan memiliki banyak percakapan untuk menyampaikan apa yang telah diperjelas oleh presiden," kata Pompeo dalam konferensi pers.

Awal pekan ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Trump untuk tidak meninggalkan kesepakatan, meskipun dia kemudian mengakui bahwa Trump kemungkinan akan mundur dari kesepakatan tersebut.

Pemerintahan Trump juga sedang mengkaji peran AS dalam memerangi ISIS pada konflik Suriah selama tujuh tahun. Trump telah meminta negara-negara Teluk untuk menyediakan dana dan pasukan untuk menstabilkan wilayah yang pernah dikuasai oleh kelompok di Suriah.

Di Riyadh, Pompeo disambut oleh Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir. Dia berharap bisa bertemu dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman dan Raja Salman selama kunjungan itu.


Credit  sindonews.com