Minggu, 29 April 2018

Arab Saudi Tembak Jatuh Empat Rudal Houthi



Arab Saudi Tembak Jatuh Empat Rudal Houthi
Arab Saudi berhasil menembak jatuh empat rudal balistik Houthi. Foto/Ilustrasi/Istimewa

RIYADH - Arab Saudi menembak jatuh empat rudal yang ditembakkan dari Yaman selatan yang ditujukan ke kota Jizan, Sabtu (28/4/2018). Rudal-rudal tersebut ditembakkan beberapa jam setelah serangan di Sanaa menewaskan puluhan pemberontak Houthi

Meskipun koalisi Arab melaporkan tidak ada korban, seorang pejabat lokal mengatakan satu orang tewas dalam serangan itu. Juru bicara pertahanan sipil Jizan, Kolonel Yahya Abdullah al-Qahtani mengatakan, seorang warga Arab Saudi telah terbunuh oleh pecahan rudal seperti dikutip dari laman Al Araby, Minggu (29/4/2018).

Televisi Houthi, al-Masirah, membenarkan serangan tersebut. Dalam laporannya al-Masirah menyebut mereka telah menembakkan delapan rudal ke Jizan.

Sehari sebelumnya, pasukan pertahanan Saudi mengatakan mereka telah menjatuhkan rudal di wilayah yang sama.

Serangan itu terjadi ketika pemakaman umum diadakan di Sanaa untuk seorang pejabat terkemuka Houthi. Saleh al-Sammad adalah salah satu kepala politik Houthi dan seorang tokoh senior dalam kelompok tersebut.

Dia telah menyebut tahun 2018 "tahun keunggulan balistik" dan membela kebijakan Houthis menembakkan rudal ke Sapai Arabia. Dia tewas dalam serangan udara oleh Arab Saudi dan sekutunya minggu lalu.

Kelompok Houthi menjadi semakin berani dalam serangan mereka terhadap Arab Saudi, termasuk upaya menyerang Ibu Kota Riyadh.

Pada bulan Maret, seorang buruh Mesir menjadi korban tewas pertama yang diketahui akibat serangan rudal pemberontak di Ibu Kota Saudi.

Arab Saudi menuduh saingannya Iran menyelundupkan rudal ke Houthi, tuduhan yang dibantah oleh Teheran.

Arab Saudi sejak Maret 2015 memimpin koalisi negara-negara Arab yang berjuang untuk menggulingkan kelompok Houthis di Yaman dan mengembalikan pemerintahan Yaman yang diakui internasional.

Hampir 10.000 orang telah tewas dalam konflik itu, dalam apa yang disebut PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.




Credit   sindonews.com