Senin, 18 Maret 2019

Pasukan Koalisi AS-Kurdi Kesulitan Rebut Basis Terakhir ISIS


Pasukan Koalisi AS-Kurdi Kesulitan Rebut Basis Terakhir ISIS
Ilustrasi serangan pasukan koalisi AS-Kurdi terhadap basis ISIS di Desa Baghouz, Suriah. (Delil SOULEIMAN / AFP)




Jakarta, CB -- Menaklukkan basis pertahanan terakhir kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ternyata tidak semudah yang dikira. Meski Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim mereka berhasil merebut seratus persen wilayah kekuasaan ISIS, tetapi kenyataan di lapangan memperlihatkan ribuan militan masih bertahan dari serangan pasukan koalisi AS-Kurdi.

Seperti dilansir Associated Press, Minggu (17/3), Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengakui agak kesulitan menembus basis pertahanan terakhir ISIS di Desa Baghouz, Provinsi Deir al Zour, Suriah. Menurut juru bicara SDF, Kino Gabriel, para militan meninggalkan sejumlah jebakan berupa ranjau untuk menghambat laju serdadu koalisi.

"Kami menghadapi sejumlah kesulitan dalam operasi militer ini," kata Kino.


Menurut Kino, meski sudah berkali-kali digempur, ribuan militan ISIS masih bertahan di Desa Baghouz. Di sana bercampur antara militan dan anak istri mereka.

Kondisi itu, menurut Kino, menyulitkan pasukan koalisi untuk menggunakan kekuatan penuh untuk menggempur ISIS.

"Kami khawatir melukai anak-anak dan para perempuan yang masih ada di desa," ujar Kino.

Di samping itu, Kino menyatakan militan ISIS juga membangun terowongan yang saling terhubung untuk membuat serangan kejutan kepada pasukan koalisi. Dari sana militan ISIS juga melakukan serangan bom bunuh diri.

Ranjau yang ditinggalkan juga berdaya ledak besar dan diduga bom rakitan dari hulu ledak.

Bahkan luas wilayah kekuasaan terakhir ISIS itu diperkirakan masih sama dibandingkan beberapa pekan lalu. Yakni sekitar 250 kilometer. Hal ini memperlihatkan perkembangan operasi militer untuk menaklukkan ISIS belum berdampak signifikan, meski gencar disebut tak lama lagi kelompok itu bakal habis.





Credit  cnnindonesia.com


16 meninggal dalam serangan di pangkalan militer Mali


16 meninggal dalam serangan di pangkalan militer Mali
Tentara Prancis meninggalan Hotel Radisson di Bamako, Mali, beberapa jam setelah teror Al Qaida ke hotel mewah ini, Jumat 20 November 2015. (Reuters)




Bamako, Mali (CB) - Sekelompok orang bersenjata semalam menyerang dan sempat menguasai pangkalan militer Mali, menewaskan 16 tentara dan merusak lima kendaraan di daerah Mopti, Mali tengah, menurut dua anggota dewan kota di kawasan tempat serangan terjadi, Minggu.

Markas militer tersebut terletak di desa Dioura, kata wali kota dari kota terdekat Kareri, Youssouf Coulibaly melalui telepon kepada Reuters. Mali tengah dalam beberapa tahun terakhir sempat dikuasai para pegaris keras Al Qaida.

"Saya saat ini berada di dalam markas, ada banyak  jenazah. Sejauh ini kami hitung ada 16," katanya.

Juru bicara tentara, Kolonel Diarran Kone, membenarkan serangan tersebut  terjadi namun tidak memberi penjelasan lebih lanjut.

Kekerasan oleh kelompok garis keras semakin memburuk setiap tahun sejak pertama kali merebak di Mali pada 2012. Pada tahun itu, kaum garis keras jaringan pemberontak Tuareg mengambil alih kekuasaan di utara dan dan merangsek ke Ibu Kota Bamako, sampai pasukan gabungan pimpinan Prancis mendesak mundur mereka pada tahun berikutnya.

Kelompok-kelompok terkait Al Qaida dan IS menggunakan Mali tengah sebagai landasan untuk melancarkan serangan yang jumlahnya semakin meningkat di sepanjang wilayah Sahel, khususnya di negara negara tetangga Niger dan Burkina Faso, meskipun ada 4.500 pasukan Prancis di sana.

Mali tengah merupakan tempat keberadaan Front Pembebasan Macina pimpinan seorang kathib Salafiyah dan pemimpin militan, Amadou Koufa. Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly mengatakan pada November bahwa Koufa telah terbunuh dalam penggerebekan oleh pasukan Prancis.

Namun pada akhir bulan lalu, Koufa muncul dalam video propaganda baru yang mengejek pasukan Prancis dan Mali.




Credit  antaranews.com





Empat tewas dalam ledakan kereta di Baluchistan Pakistan


Empat tewas dalam ledakan kereta di Baluchistan Pakistan

Ilustrasi - Pakistan (REUTERS/Akhtar Soomro/Files)




Quetta, Pakistan (CB) - Empat orang tewas dan 10 lainnya cedera di Pakistan, Minggu saat sebuah bom meledak di kereta yang tengah melaju di daerah kaya sumber daya alam, Baluchitta, tempat para pemberontak memerangi pasukan keamanan selama bertahun-tahun.

Belum segera ada yang mengaku bertanggungjawab, namun kelompok sempalan suku Baluch, yang memperjuangkan tindakan yang mereka sebut eksploitasi yang tidak adil atas gas dan sumber-sumber lain di provinsi mereka, pada masa lalu pernah melakukan serangan terhadap kereta api.

"Empat orang, seorang remaja putri dan ibunya dan dua orang lain terbunuh dalam ledakan," kata Irfan Bashir, kepala polisi di distrik Naseerabad, tempat ledakan terjadi, kepada Reuters.

Ledakan membuat enam rangkaian kereta anjlok, saat sedang melintas dari Peshawar di barat daya menuju Baluchistan, Ibu Kota Provinsi Quetta.

Kejadian ini merupakan serangan kedua dalam dua pekan di kawasan tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam serangan sebelumnya, kata perwira polisi yang lain.

Baluchistan merupakan tempat penting bagi proyek-proyek energi dan transportasi yang merupakan bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan China, yang telah membawa investasi sebesar 57 miliar dolar ke Pakistan.

Kekerasan di provinsi tersebut yang berbatasan dengan Afghanistan dan Iran telah memicu kekhawatiran akan keamanan penanaman modal, khususnya yang terkait dengan jalur energi yang akan melayani dari China bagian barat menuju pelabuhan Gwadar di Pakistan selatan.




Credit  antaranews.com


Angka Penjualan Senjata di Selandia Baru Melonjak


Teror Masjid Christchurch. Suasana di depan masjid Al Noor di Jalan Deans, Christchurch, Sabtu (16/3), sehari usai insiden teror yang menewaskan 49 orang.
Teror Masjid Christchurch. Suasana di depan masjid Al Noor di Jalan Deans, Christchurch, Sabtu (16/3), sehari usai insiden teror yang menewaskan 49 orang.
Foto: EPA


Rencana pengetatan aturan kepemilikan senjata memicu 'pembelian panik' oleh warga.





CB, WELLINGTON -- Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern berjanji untuk memperketat undang-undang senjata pascaserangan teror masjid di Kota Christchurch. Pernyataan itu kemudian mengakibatkan lonjakan angka penjualan senjata di negara tersebut.


Seperti Newsroom.co.nz, pemilik toko senjata daring maupun luring menginformasikan adanya lonjakan penjualan di gerai mereka pada Sabtu (16/3) pagi. Termasuk, toko senjata Gun City cabang Christchurch yang sibuk melayani pelanggan.

Mereka mengunggah daring fenomena "pembelian panik" itu. Orang-orang menyerbu toko untuk membeli senjata api. Kiwi Gun Blog merilis di halaman grup Facebook tentang angka bagus dari penjualan senjata semi-otomatis dan amunisi.

Hal itu senada dengan pemilik toko senjata Auckland yang mencatat peningkatan signifikan angka penjualan senjata semi-otomatis. Namun, dia enggan memberitahukan harga dan berapa banyak stok yang tersisa di toko.

Pelaku teror Christchurch juga menggunakan senjata semi-otomatis saat menembaki Muslim yang beribadah di dua masjid, pada Jumat (15/3). Saat diamankan polisi, tersangka utama Brenton Tarrant memiliki dua senjata di dalam mobil dan sebuah alat peledak.

PM Jacinda Ardern mengatakan, Tarrant memiliki total lima senjata api. Fakta bahwa dia bisa mendapat akses kepada sejumlah tipe senjata itu menunjukkan hukum senjata di Selandia Baru belum sesuai dan ideal.

Masih timbul pertanyaan tentang bagaimana wujud tanggung jawab atas serangan teror Christchurch. Belum diketahui seperti apa cara pemerintah memperketat lisensi senjata atau membatasi akses senjata yang dimodifikasi secara ilegal.

Pakar senjata mengatakan, senapan yang digunakan Tarrant di masjid pertama adalah senjata semi-otomatis Mossberg 930. Senjata itu memiliki silinder tujuh putaran. Saat pria itu kehabisan amunisi, dia beralih ke AR15.

Sebagai informasi, AR15 adalah senapan olahraga semi-otomatis, dan di antara senjata api yang saat ini paling laris terjual. Menurut situs senjata daring, AR15 sering digunakan untuk berburu rusa dan menembak sasaran kompetitif.

Kedua jenis senjata yang digunakan tersangka bisa didapatkan oleh pemilik lisensi regular kategori A tanpa persyaratan tambahan lain. Walau senjata Tarrant legal dengan lisensi, tapi senapan AR15-nya ilegal karena dimodifikasi dengan mesin besar.

Sesuai pedoman Arms Act pada 1992, senapan semi-otomatis AR15 hanya memiliki kapasitas tujuh putaran. Faktanya, senapan Tarrant memiliki silinder 30 putaran, 40 putaran, dan 60 putaran.

Bagiannya seperti didapatkan dari penjual senjata lokal. Untuk mendapatkan lisensi senjata di Selandia Baru, seseorang harus berusia lebih dari 16 tahun, lulus pemeriksaan latar belakang, dan memiliki dua sanak (saudara atau pasangan).

Menurut polisi, Tarrant tidak memiliki sejarah kriminal dan tidak dikenal polisi di Selandia Baru atau Australia.  Laman Newsroom.co.nz melaporkan, sebelum insiden ini dia tidak masuk dalam daftar polisi atau daftar teroris.

Pria asal Australia itu sesekali datang ke Selandia Baru. Saat bertandang pada November 2017, dia memperoleh lisensi senjata dasar kategori A. Sebulan kemudian, dia mendaftar ke pengecer senjata daring populer tapi tidak membeli apa pun.


Credit  republika.co.id




5 Fakta Penembakan Salat Jumat di Masjid Selandia Baru



5 Fakta Penembakan Salat Jumat di Masjid Selandia Baru
Brenton Tarrant, pelaku penembakan jamaah salat Jumat di Masjid Al-Noor, Selandia Baru. Foto/REUTERS


CHRISTCHURCH - Sebanyak empat orang ditahan setelah lebih dari 40 orang tewas dan 20 lainnya luka serius dalam penembakan di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru. Penembakan terjadi saat salat Jumat berlangsung siang tadi.

Polisi Selandia Baru mengatakan banyak korban jiwa berjatuhan setelah apa yang mereka gambarkan sebagai "serangkaian peristiwa tragis" di wilayah Canterbury pada hari Jumat.

Ada lima fakta yang perlu diketahui dalam kasus penembakan di dua masjid di Selandia Baru ini. Berikut rincian fakta-fakta tersebut.

1. Yang Terjadi di Christchurch

Petugas polisi pertama kali menanggapi laporan adanya penembakan di Christchurch tengah sekitar pukul 13.40 siang waktu setempat.

Dua penembakan terjadi di dua masjid secara terpisah di kota itu, yakni satu di Masjid Al-Noor di Deans Avenue dan satu lagi di Masjid Mosque, Linwood Avenue (nama masjid memang Masjid Mosque).

Polisi mengatakan mereka juga menjinakkan sejumlah alat peledak improvisasi yang ditemukan di kendaraan setelah penembakan.

Semua sekolah dan gedung dewan di-lockdown dan anggota masyarakat diberitahu untuk tidak keluar rumah. Status lockdown saat ini telah dicabut.

2. Penembakan Di-Livestreaming-kan oleh Pelaku

Polisi Selandia Baru telah memperingatkan ada rekaman yang sangat mengerikan terkait dengan penembakan di Christchurch dan mendesak agar tidak dibagikan di media sosial.

Video itu hasil livestreaming di Facebook oleh pelaku penembakan bernama Brenton Tarrant, 28, pria kelahiran Australia. Dia menyiarkan langsung aksinya saat menembaki jamaah salat Jumat di dalam Masjid Al-Noor.


Pihak Facebook menyatakan telah menghapus video dan menonaktifkan akun Facebook Brenton Tarrant.

3. Para Tersangka


Tiga pria dan satu wanita dipastikan berada dalam tahanan polisi dengan status tersangka. Satu dari empat orang yang ditahan adalah Brenton Tarrant, 28, pria kelahiran Australia. Tarrant, seorang pria kulit putih mengenakan pakaian ala militer saat melepaskan tembakan di Masjid Al-Noor.

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern menyebut insiden itu sebagai serangan teroris. Dia mengatakan para tersangka memiliki pandangan ekstremis, tetapi tidak ada dalam daftar pantau polisi.

Tarrant meninggalkan manifesto anti-imigran setebal 74 halaman, tempat dia menjelaskan siapa dirinya dan alasan tindakannya.

Tarrant memang lahir di Australia. Namun, dia mengaku sebagai orang Skotlandia, Irlandia dan Inggris sebelum akhirnya pindah ke Selandia Baru untuk sementara waktu dan untuk merencanakan dan berlatih yang kemudian memutuskan untuk melakukan serangan.

"Saya telah membaca tulisan-tulisan Dylann Roof dan banyak lainnya, tetapi hanya benar-benar mengambil inspirasi sejati dari Knight Justiciar Breivik," tulis dia, mengacu pada para pelaku pembantaian massal yang dimotivasi rasisme.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengonfirmasi bahwa Tarrant memang warga kelahiran Australia. "Saya dapat mengonfirmasi bahwa orang yang ditahan adalah warga negara kelahiran Australia," katanya kepada wartawan di Sydney.

"Sebagai anggota keluarga dengan sepupu warga Selandia Baru, kami berduka, kami terkejut, kami marah, dan kami berdiri di sini dan mengutuk serangan yang terjadi hari ini oleh seorang teroris ekstremis, sayap kanan, dan keras," kata Morrison.


4. Para Korban

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern telah mengonfirmasi 40 orang tewas dan 20 lainnya luka-luka serius dalam serangan hari ini. Laporan terbaru, korban tewas bertambah menjadi sekitar 49 orang.

Komisi Tinggi Malaysia di Selandia Baru mengatakan seorang warga negara Malaysia terluka dalam salah satu penembakan di masjid, dan saat ini menerima perawatan.


Sedangkan Kedutaan Indonesia di Wellington menyatakan dua warga Indonesia, seorang ayah dan anaknya terluka akibat penembakan di salah satu masjid.

Tim kriket Bangladesh juga tiba untuk salat Jumat ketika penembakan terjadi. Namun, semua anggota tim selamat.

5. Hari Tergelap Selandia Baru


Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan penembakan terhadap dua masjid yang mematikan di Christchurch telah menjerumuskan negaranya ke dalam salah satu "hari tergelap".

"Jelas, apa yang terjadi di sini adalah tindakan kekerasan yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya," kata Ardern dalam pidatonya.

"Banyak dari mereka yang akan terkena dampak langsung penembakan ini mungkin adalah migran yang ke Selandia Baru, mereka bahkan mungkin menjadi pengungsi di sini," kata Ardern.

"Mereka telah memilih untuk menjadikan Selandia Baru sebagai rumah mereka, dan itu adalah rumah mereka. Mereka adalah kita. Orang yang telah melanggengkan kekerasan terhadap kita ini bukan (kita)," paparnya, dikutip Telegraph. "Mereka seharusnya berada di lingkungan yang aman."



Credit  sindonews.com




Politisi Australia Salahkan Muslim atas Penembakan Selandia Baru


Politisi Australia Salahkan Muslim atas Penembakan Selandia Baru
Senator Queensland, Australia, Fraser Anning, menyalahkan imigran Muslim atas serangaan teroris di dua masjid di Selandia Baru. Foto/Facebook/Senator Fraser Anning

CANBERRA - Seorang politisi Australia menuai kecaman keras karena menyalahkan imigran Muslim dalam serangan teroris di dua masjid di Selandia Baru. Sebanyak 49 orang tewas dalam penembakan massal ketika salat Jumat berlangsung.

Senator Queensland, Australia, Fraser Anning merilis pernyataan media pada Jumat sore, beberapa jam setelah serangan teroris di dua masjid di kota Christchurch terjadi. Di dalamnya, Anning awalnya menentang segala bentuk kekerasan dan mengutuk tindakan pria bersenjata itu.

Namun, di kalimat selanjutnya dia menyalahkan imigran Muslim sebagai pemicu penembakan berdarah itu. 

"Ketika jenis kekerasan yang main hakim sendiri tidak pernah bisa dibenarkan, yang disoroti adalah meningkatnya ketakutan dalam komunitas kami, baik di Australia dan Selandia Baru, akan meningkatnya kehadiran Muslim," katanya.

Anning mengklaim pelaku sesungguhnya yang membunuh 49 orang dan melukai lebih dari 40 orang lainnya, termasuk anak-anak, adalah kebijakan imigrasi Selandia Baru.

Empat tersangka telah ditahan sehubungan dengan serangan itu, termasuk tersangka utama Brenton Harrison Tarrant, 28, pria Australia. Tarrant telah dibawa ke pengadilan Sabtu (16/3/2019), di mana dia didakwa melakukan pembunuhan.

"Pernyataan Senator Australia Fraser Anning tentang teroris Kristen #ChristchurchAttack; para korban pantas dibunuh karena mereka adalah Muslim. ICYMI, ia membela 'solusi akhir' untuk imigran non-kulit putih," kecam Alfons Lopez Tena, mantan anggota parlemen Catalan yang juga seorang penulis, via akun Twitter @alfonslopeztena.

Mantan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull via akun @TurnbullMalcolm berkomentar; "Mereka yang menjajakan kebencian rasial dan agama mungkin tidak mengambil senjata atau pisau sendiri, tetapi mereka terlalu sering menginspirasi orang-orang yang melakukannya. Ekstremisme kekerasan dimulai dengan ekstremisme dan ujaran kebencian."

"Komentar Fraser Anning hari ini hina. Dia memalukan Senat dan yang lebih buruk dengan menyebarkan kebencian dan membuat orang Australia saling bermusuhan, dia melakukan apa yang diinginkan para teroris," lanjut Turnbull. 


Perdana Menteri Australia Scott Morrison via akun @ScottMorrisonMP ikut mengecam Senator Anning. "Pernyataan Senator Fraser Anning menyalahkan serangan mematikan oleh teroris ekstremis sayap kanan di Selandia Baru pada (kebijakan) imigrasi adalah menjijikkan. Pandangan itu tidak punya tempat di Australia, apalagi Parlemen Australia," kecam Morisson.

Jurnalis televisi, Moeed Pirzada, via akun @MoeedNj berkomentar;"Inilah seorang lelaki, Senator Fraser Anning, yang secara terbuka membenarkan terorisme dan pembantaian (terhadap) kaum Muslim atas nama imigrasi; jika ada Mullah Muslim yang akan melakukannya, ia akan segera menemukan dirinya atau pemerintahnya dalam kesulitan; Dimanakah lokasi PBB?."

Menyadari pernyataannya menuai kecaman, Anning kemudian mengkritik para politisi sayap kiri dan media yang katanya terlalu buru-buru menyalahkan undang-undang senjata atau mereka yang memiliki pandangan nasionalis."Ini semua omong kosong klise," katanya.


"Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalan-jalan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum fanatik Muslim untuk bermigrasi ke Selandia Baru," ujarnya.


Credit  sindonews.com




PM Inggris di bawah tekanan untuk golkan Brexit


PM Inggris di bawah tekanan untuk golkan Brexit

Pengunjuk rasa pendukung Brexit mengangkat sebuah poster diluar Houses of Parliament di London, Inggris, Kamis (14/3/2019). (REUTERS/DYLAN MARTINEZ)




London (CB) - Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Theresa May pada Minggu bergelut untuk mendapatkan dukungan dari parlemen bagi kesepakatan pemisahan Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

May berupaya membujuk kalangan peragu Brexit dengan melancarkan ancaman maupun janji-janji guna menghindarkan kemungkinan ada gerakan apa pun untuk mendepaknya.

Setelah penundaan Brexit didukung oleh parlemen, May masih punya waktu tiga hari untuk mendapatkan persetujuan bagi kesepakatan Brexit jika ia ingin menemui para pemimpin Uni Eropa pada Kamis. Pada hari itu, ia sudah harus membawa suatu tawaran kepada para pemimpin tersebut agar mendapat imbalan berupa lebih banyak waktu untuk menunda.

Pemimpin oposisi utama Partai Buruh Jeremy Corbyn meningkatkan tekanannya terhadap sang perdana menteri. Corbyn mengatakan ia bisa mengupayakan agar pemungutan suara soal kepercayaan terhadap pemerintahan May digelar jika May kembali gagal mendapatkan persetujuan dari parlemen bagi kesepakatan yang diusungnya.

Hampir tiga tahun sejak Inggris memutuskan untuk berpisah dari Uni Eropa, negara itu belum semakin jelas soal bagaimana dan kapan akan meninggalkan Uni Eropa. Inggris memiliki beberapa kemungkinan, dari pemisahan tanpa kesepakatan hingga bahwa Brexit sama sekali tidak akan terjadi.

May sudah mengeluarkan peringatan bahwa jika parlemen kembali menentang kesepakatan yang disiapkannya untuk ketiga kalinya, Inggris bisa menghadapi penundaan yang panjang dan kemungkinan perlu mengambil bagian dalam pemilihan Eropa pada bulan Mei. Peringatan itu tampaknya cukup mendapat perhatian.

Namun menteri keuangan di kabinet May, Philip Hammond, menganggap sikap May belum jelas.

Banyak pendukung Brexit pada Partai Konservatif pimpinan May mengatakan bahwa kesepakatan dengan Partai Buruh Demokratik Irlandia Utara (DUP) akan menjadi kunci soal apakah mereka akan mendukung kesepakatan yang disiapkan May. DUP adalah partai yang menopang pemerintahan minoritas PM May di parlemen.

May membutuhkan 75 anggota parlemen untuk mengubah sikap mereka setelah kesepakatan yang dibawanya digilas pertama kali pada Januari oleh 230 anggota parlemen dan kemudian oleh 149 anggota pada 12 Maret.




Credit  antaranews.com



Kotak Hitam Ungkap Insiden Ethiopian Airlines Mirip Lion Air


Kotak Hitam Ungkap Insiden Ethiopian Airlines Mirip Lion Air
Lokasi kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines ET302 di Ethiopia. (REUTERS/Tiksa Negeri)



Jakarta, CB -- Data-data yang diperoleh dari kotak hitam pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan maskapai Ethiopian Airlines yang jatuh pada 10 Maret lalu disebut ada kemiripan dengan insiden Lion Air JT610 pada 29 Oktober 2018. Hal itu diketahui dari hasil analisis awal yang disampaikan Kementerian Perhubungan Ethiopia.

"Ada kesamaan dengan kasus yang dialami Indonesia (Lion Air). Ada persamaan di antara dua kecelakaan itu," kata juru bicara Kementerian Perhubungan Ethiopia, Muse Yiheyis, seperti dilansir Reuters, Senin (18/3).

"Data penerbangan berhasil dipulihkan. Tim dari Amerika Serikat dan Ethiopia sudah memvalidasi. Menteri Perhubungan berterima kasih kepada pemerintah Prancis. Kami akan memberikan informasi lanjutan dalam tiga atau empat hari ke depan," ujar Muse.

Menurut Menteri Perhubungan Ethiopia, Dagmawit Moges, hasil kesimpulan awal dari pembacaan data di kotak hitam akan diungkap dalam 30 hari. Dia menyatakan data kecelakaan Lion Air akan dibandingkan dengan insiden Ethiopian Airlines.


"Akan jadi bahan studi dalam penyelidikan," kata Dagmawit, seperti dilansir AFP.

Akan tetapi, Dewan Keselamatan Perhubungan Nasional (NTSB) dan Otoritas Penerbangan AS (FAA) membantah telah melakukan validasi data kotak hitam itu. Dari data penerbangan yang dilansir situs FlightRadar24, kedua pesawat itu sempat mengalami kendala dalam mempertahankan ketinggian jelajah sebelum jatuh.

Banyak pihak mencurigai sistem anti-stall (MCAS) yang ditambahkan di 737 MAX 8. Perangkat itu secara otomatis memerintahkan hidung pesawat menurun ketika pesawat dianggap dalam situasi stall.

Dalam kasus Lion Air, pilot mengalami kesulitan mengendalikan pesawat ketika mengaktifkan mode autopilot. Perangkat MCAS terus menerus mengarahkan hidung pesawat menukik tak berapa lama usai lepas landas.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines jatuh tak jauh dari di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, saat hendak menuju Nairobi, Kenya, 10 Maret 2019.

Pesawat itu mengangkut 157 penumpang dari 32 negara dan seluruhnya dipastikan tewas dalam kecelakaan itu.

Hasil penyelidikan sementara, pilot Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan 302 itu sempat meminta untuk kembali, setelah beberapa menit lepas landas dari bandara Bole di Addis Ababa pada pukul 08.38 pagi waktu setempat.



Credit  cnnindonesia.com


Giliran Argentina Larang Boeing 737 MAX 8 Keluar Masuk


Giliran Argentina Larang Boeing 737 MAX 8 Keluar Masuk
Ilustrasi. (Joe Raedle/Getty Images/AFP).



Jakarta, CB -- Daftar negara yang menutup wilayah udaranya untuk Boeing 737 MAX 8 terbang semakin panjang. Setelah Singapura, China, Thailand, India, dan Fiji, kini giliran Argentina yang melarang pesawat pabrikan Amerika Serikat (AS) tersebut keluar masuk negaranya.

Keputusan Argentina tersebut menyusul langkah serupa yang diambil oleh negara-negara lainnya setelah dua kecelakaan fatal yang melibatkan Boeing 737 MAX 8.

Yakni, kecelakaan terbang yang dialami Lion Air dan menelan korban jiwa 189 orang, dan Ethiopian Airlines yang menghilangkan 157 nyawa. 

Administrasi Penerbangan Sipil Nasional Argentina (ANAC) memang belum berkomentar. Publikasi resmi akan diumumkan besok, Senin (18/3).


Mengutip Reuters, Minggu (18/3), ANAC mengusulkan untuk menghentikan sementara operasional seluruh maskapai yang menerbangkan Boeing 737 MAX 8, termasuk juga MAX 9 di seluruh wilayah udara Argentina.

"Mengusulkan menghentikan operasional Boeing 737 MAX dan MAX 9 segera di wilayah Argentina dan berakhir sampai penyelidikan kecelakaan terbaru terbit," tulis ANAC. 

Pada Rabu (13/3) lalu, Pemerintah Meksiko, Panama, dan Kolombia turut menghentikan operasi pesawat Boeing 737 MAX. Sehari sebelumnya, Australia memutuskan melarang penggunaan burung besi Boeing.





Credit  cnnindonesia.com





Jumat, 15 Maret 2019

Penembak Masjid di Christchurch Dinyatakan Teroris, 40 Tewas



Penembak Masjid di Christchurch Dinyatakan Teroris, 40 Tewas
Brenton Tarrant, pelaku penembakan jamaah salat Jumat di Masjid Al-Noor, Selandia Baru. Foto/Heavy.com



CHRISTCHURCH - Penembakan terhadap jamaah salat Jumat di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, menewaskan sekitar 40 orang dan puluhan orang lainnya terluka. Perdana Menteri Jacinda Ardern menyatakan penembakan itu sebagai serangan teroris.

"Ini serangan teroris," kata PM Ardern, dikutip The Guardian. "Banyak yang terkena dampak langsung dari penembakan ini mungkin adalah migran yang ke Selandia Baru, mereka bahkan mungkin menjadi pengungsi di sini. Mereka adalah kita," katanya.

Ardern mengutuk keras orang-orang yang melanggengkan kekerasan di negaranya. Hal senada disampaikan PM Australia Scott Morrisoan. "(Serangan) teroris ekstrem sayap kanan," ujarnya, merujuk pada para pelaku penembakan.

Ada tiga hingga empat orang dinyatakan sebagai tersangka. Salah satunya, pria kelahiran Australia bernama Brenton Tarrant, 28.

Polisi Selandia Baru telah menjinakkan beberapa alat peledak improvisasi yang ditemukan terpasang pada kendaraan di Christchurch setelah penembakan massal di dua masjid yang menewaskan 40 orang.

Saksi mata Ahmad al-Mahmoud mengatakan salah satu penembak memasuki masjid Masjid Al-Noor sekitar 10 menit setelah salat Jumat dimulai. Pelaku, kata dia, melepaskan puluhan hingga ratusan putaran tembakan.

Penembakan kedua terjadi di Masjid Linwood, di mana seorang saksi mata mengatakan mereka melihat seorang lelaki meninggalkan masjid dengan mengenakan perlengkapan kamuflase dan helm sepeda motor. Ada juga laporan yang belum dikonfirmasi bahwa sebuah bom ditemukan di dekat Strickland Ave.

Seorang Muslim setempat dilaporkan mengusir orang-orang bersenjata dari masjid Linwood yang menembakkan dua tembakan ke arah mereka ketika mereka pergi.

Empat tersangka saat ini ditahan, termasuk seorang wanita. Sejumlah fasilitas umum tetap dalam kondisi lockdown

PM Ardern telah mengonfirmasi bahwa tidak ada dari para tersangka yang ada dalam daftar pengawasan keamanan.


Credit  sindonews.com



Penembak Masjid Selandia Baru: Ini untuk Memerangi Penjajah


Penembak Masjid Selandia Baru: Ini untuk Memerangi Penjajah
Brenton Tarrant, pelaku penembakan jamaah salat Jumat di Masjid Al-Noor, Selandia Baru. Foto/Heavy.com

CHRISTCHURCH - Pelaku penembakan terhadap jamaah salat Jumat di Masjid Al-Noor, Selandia Baru mengidentifikasi dirinya bernama Brenton Tarrant, 28, kelahiran Australia. Dia mengatakan serangan itu untuk memerangi "penjajah di tanah orang kulit putih".

Dalam manifesto setebal 73 halaman, yang diyakini ditulis olehnya, Tarrant mengatakan tingkat kelahiran di Eropa menurun. Hal itu dia klaim memicu migrasi massal dan tingkat kesuburan dari para imigran akan meningkatkan populasi.

Dia menamai para imigran sebagai "white genocide (genosida putih)". Tarrant menulis manifestonya dengan judul "The Great Replacement: Towards A New Society".

"Kita harus menghancurkan imigran dan mendeportasi para penyerbu yang sudah hidup di tanah kita. Ini bukan hanya masalah kesejahteraan kita, tetapi kelangsungan hidup rakyat kita," tulis dia.

Manifesto dimulai dengan puisi penyair Welsh, Dylan Thomas, "Jangan bersikap lembut pada malam yang baik itu".

"Untuk sebagian besar dari semua menunjukkan kepada penjajah bahwa tanah kami tidak akan pernah menjadi tanah mereka, tanah air kami adalah milik kami dan bahwa selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kami dan mereka tidak akan pernah menggantikan orang-orang kami," lanjut manifesto Tarrant.

"Untuk membalas dendam pada penjajah atas ratusan ribu kematian yang disebabkan oleh penjajah asing di tanah Eropa sepanjang sejarah," tulis Tarrant.

"Untuk menghasut kekerasan, pembalasan dan pemisahan lebih lanjut antara orang-orang Eropa dan penjajah yang saat ini menduduki tanah Eropa," sambung manifesto tersebut, dikutip The Star, Jumat (15/3/2019).

"Untuk secara langsung mengurangi tingkat imigrasi ke tanah Eropa dengan mengintimidasi dan secara fisik menghapus penjajah itu sendiri." 

Tarrant mengatakan dia adalah pekerja paruh waktu asal Australia berusia 28 tahun. Dia bekerja sebagai "pencabut kebab".

"Saya hanya orang kulit putih biasa, dari keluarga biasa yang memutuskan untuk mengambil sikap untuk memastikan masa depan bagi rakyat saya," tulis dia.

Sambil menyatakan bahwa dia bukan anggota langsung dari kelompok atau gerakan politik apa pun, Tarrant juga mengklaim dia mewakili jutaan orang Eropa dan etnis-nasionalis lainnya yang ingin hidup damai di antara rakyat mereka sendiri.

Tarrant juga menyiarkan langsung insiden penembakan di sebuah masjid di Christchurch, di mana dia menembak beberapa Muslim yang sedang salat Jumat.

"Kita harus memastikan keberadaan rakyat kita, dan masa depan untuk anak-anak kulit putih," tulisnya.


Credit  sindonews.com



Indonesia kecam aksi penembakan di masjid di Selandia Baru

Indonesia kecam aksi penembakan di masjid di Selandia Baru
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. (ANTARA/Fransiska Ninditya)



... kami mengecam aksi penembakan yang dilakukan di masjid diChristchurch saat umat Islam sedang melakukan ibadah...


Jakarta (CB) - Kementerian Luar Negeri mengecam aksi penembakan massal yang terjadi di satu masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang terjadi pada Jumat, 15 Maret 2019, pukul 13:40 waktu setempat.

"Fakta ada aksi penembakan di masjid saat ibadah itu tindakan yang patut dikecam. Untuk itu, kami mengecam aksi penembakan yang dilakukan di masjid di Christchurch saat umat Islam sedang melakukan ibadah," kata Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, di Jakarta, Jumat.

Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban, seperti disampaikan dalam keterangan tertulis dari Kementerian Luar Negeri.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington terus memantau perkembangan situasi dan telah mengirimkan tim ke Christchurch untuk berkoordinasi dengan otoritas keamanan, rumah sakit dan Perhimpunan Pelajar Indonesia setempat.

Menurut pihak Kementerian Luar Negeri, hingga saat ini tidak ada informasi mengenai WNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri, terdapat 331 orang WNI di kota Christchurch, termasuk 134 mahasiswa. Jarak dari Wellington ke Christchurch mencapai 440 kilometer.



Credit  antaranews.com



Pelaku Siarkan Langsung Penembakan di Masjid Selandia Baru


Pelaku Siarkan Langsung Penembakan di Masjid Selandia Baru
Pelaku penembakan di salah satu masjid di Selandia Baru dilaporkan menyiarkan langsung aksinya saat melepaskan tembakan secara membabi buta pada Jumat (15/3). (Reuters/SNPA/Martin Hunter)




Jakarta, CB -- Pelaku penembakan di salah satu masjid di Christchurch, Selandia Baru, dilaporkan menyiarkan langsung aksinya saat melepaskan tembakan secara membabi buta pada Jumat (15/3) melalui Facebook Live.

Sejumlah media lokal melaporkan bahwa aksi tersebut mulai disiarkan ketika sang pelaku penembakan berkendara menuju Masjid Al Noor di Dean's Road, kemudian memarkirkan mobilnya.

Pria itu kemudian mengambil dua pistol dan berjalan ke arah masjid. Begitu tiba di dalam, ia mulai melepaskan tembakan secara membabi buta.


Dalam video itu terlihat beberapa orang mengerang di lantai masjid. Sejumlah orang lainnya terlihat terkapar tak berdaya.

Setelah lima menit beraksi, pelaku kembali ke mobil untuk mengganti senjata. Ia lantas masuk lagi ke dalam masjid dan menembaki orang yang terlihat masih hidup.

Reuters belum dapat mengonfirmasi keabsahan video yang kemudian viral di jagad maya tersebut.

Namun, sejumlah saksi mata mengatakan kepada Reuters bahwa mereka melihat pria berpakaian bergaya militer dan membawa senapan otomatis menembaki orang di Masjid Al Noor.

Enam warga negara Indonesia dilaporkan berada di Masjid Al Noor ketika penembakan terjadi. Tiga di antaranya berhasil kabur dan bersembunyi di rumah warga, sementara yang lainnya belum dapat dihubungi.

Belum tuntas kepanikan warga akibat penembakan di Masjid Al Noor, kejadian serupa dilaporkan terjadi di masjid lainnya di Linwood, yang juga berada di wilayah Chirstchurch.

Komisioner kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, mengatakan bahwa beberapa orang tewas di dua lokasi kejadian. Namun, ia belum dapat memastikan jumlah pasti korban tewas dan terluka.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengutuk aksi penembakan massal ini dan menyatakan duka mendalam bagi keluarga korban.

"Ini adalah salah satu hari paling kelam bagi Selandia Baru," kata Ardern.



Credit  cnnindonesia.com



Ilmuwan Rusia Klaim Sudah Ciptakan 'Mesin Waktu'



Ilmuwan Rusia Klaim Sudah Ciptakan Mesin Waktu
Peter Capaldi (Dr Who) dan Jenna Coleman (Clara Oswald) mengunjungi Sydney jelang seri baru Dr Who. Foto ilustrasi/AAP/Nikki Short


MOSKOW - TARDIS (Time And Relative Dimension In Space) merupakan sebuah mesin waktu dalam serial televisi Doctor Who. Namun, para ilmuwan di Rusia mengklaim sudah menciptakan "mesin waktu" dalam kehidupan nyata.

Mesin waktu—hasil eksperimen dalam fisika kuantum—sejatinya menentang hukum termodinamika kedua, yang mengatur arah waktu dari masa lalu ke masa depan.

Para ahli di Moscow Institute of Physics & Technology (MIPT) telah melaporkan temuan dalam apa yang dianggap sebagai terobosan besar di lapangan. Mereka menyebutnya sebagai "mesin waktu" yang terdiri dari komputer kuantum dasar yang terbuat dari elektron "qubit" yang dapat dimodifikasi.

Fisikawan mengamati qubit yang bergeser mundur dalam waktu dari keadaan kacau ke keadaan tertata.

Efeknya disamakan dengan rak bola biliar yang pecah dan tersebar di sekitar meja dan kemudian berjalan secara terbalik untuk kembali ke keadaan semula dalam segitiga.

"Kami, secara buatan, telah menciptakan keadaan yang berevolusi ke arah yang berlawanan dengan panah termodinamika waktu," kata Dr Gordey Lesovik, peneliti utama dan kepala Laboratorium Fisika Informasi Quantum di MIPT, dikutip LeicesterLive, Kamis (14/3/2019).

"Mesin waktu" itu terdiri dari komputer kuantum dasar yang terbuat dari elektron "qubit". Itu adalah unit informasi yang dijelaskan oleh "satu", "nol", atau "superposisi" campuran keduanya.

Dalam percobaan pertama, qubit menjadi pola perubahan nol dan satu yang semakin kompleks, yang menciptakan kekacauan.

Program lain kemudian memodifikasi keadaan komputer untuk berevolusi "mundur" dari kekacauan ke keadaan tertata. 

Qubit-qubit tersebut kemudian bekerja dengan cara yang berlawanan, dari kompleks ke sederhana, dan karenanya keadaan tertata dipulihkan.

Para ilmuwan senang menemukan tingkat keberhasilan awal untuk "pembalikan waktu" sebesar 85 persen. Namun, untuk sementara, percobaan membuat gelombang di dunia fisika itu tidak mungkin untuk membuat TARDIS ke kehidupan nyata dalam waktu dekat.


Credit  sindonews.com





Eks Pejabat Militer India Sebut Jet Rafale Bisa Kalahkan Pakistan




Pilot Angkatan Udara India, Abhinandan Varthaman, tertangkap mliter Pakistan setelah pesawat MIG-21 Bison tertembak jatuh F-16. 92newshd
Pilot Angkatan Udara India, Abhinandan Varthaman, tertangkap mliter Pakistan setelah pesawat MIG-21 Bison tertembak jatuh F-16. 92newshd

CBNew Delhi – Bekas kepala staf angkatan udara India, Marsekal A. Y. Tipnis, mengatakan negaranya bisa mengalahkan jet tempur Pakistan jika telah mengoperasikan jet tempur buatan Prancis, Rafale.

India telah memulai pemesanan 36 jet tempur Rafale pada 2016. Namun, pengiriman jet tempur ini terhambat karena ada masalah pembayaran.
Tokoh oposisi Rahul Gandhi bahkan menuding PM India, Narendra Modi, terlibat korupsi dana pembelian jet tempur senilai US$8.7 miliar atau sekitar Rp124 triliun.

“Tujuan dari 24 jet tempur Pakistan adalah untuk menyerang Srinagar, pangkalan udara Awantipora. Jika India memiliki jet tempur Rafale saat itu, pilot angkatan udara dapat menghancurkan setidaknya 12 jet tempur Pakistan. Rafale akan menaikkan semangat pasukan,” kata Tipnis dalam sebuah forum seminar mengenai keamanan di New Delhi, India, pada Rabu, 13 Maret 2019.

Tipnis mengatakan ini terkait insiden pertempuran udara pada 27 Februari 2019 antara jet tempur MiG-21 Bison milik India dan Pakistan, yang diduga menggunakan F-26.

Pesawat tempur India menjatuhkan bom di wilayah Pakistan.[Aljazeera]


Pakistan mengklaim menembak jatuh dua jet tempur India dengan satu jet tempur mendarat di wilayah Kashmir yang dikontrol Islamabad. Satu pilot India berhasil ditahan dan kemudian dikembalikan ke New Delhi seperti dilansir Aljazeera.

Ini terjadi pasca serangan bom bunuh diri kelompok milisi ke pasukan paramiliter India di Kashmir, yang menewaskan sekitar 40 orang pada pertengahan Februari 2019. India menuding milisi itu berada di wilayah Pakistan dan mendapat perlindungan.
Baru-baru ini, dokumen mengenai kesepakatan pembelian jet tempur Rafale bocor ke publik setelah diberitakan oleh media The Hindu. Pemerintah India menuding media sengaja mempublikasikan informasi sensitif terkait kemampuan tempur jet Rafale.



Credit  tempo.co


Senat AS Tolak Keadaan Darurat Nasional, Trump: Veto!



Senat AS Tolak Keadaan Darurat Nasional, Trump: Veto!
Presiden AS Donald Trump. Foto/Istimewa


WASHINGTON - Senat Amerika Serikat (AS) akhirnya meloloskan resolusi untuk mengakhiri deklarasi darurat nasional Presiden Donald Trump di perbatasan selatan negara itu. Trump pun bereaksi dengan menyatakan akan memveto keputusan tersebut.

"Veto," cuit Trump sesaat setelah Senat AS sepakat untuk mengakhiri keadaan darurat nasional melalui voting seperti dilansir dari Reuters, Jumat (15/3/2019).

Dalam cuitannya, Trump mengatakan bahwa dukungan suara yang diberikan oleh senator Republik untuk resolusi Ketua DPR Partai Demokrat Nancy Pelosi adalah sebuah kejahatan dan mendukung kebijakan membuka perbatasan Partai Demokrat.

Selama dua tahun masa jabatannya, Kongres yang dipimpin oleh Partai Republik sebagian besar mengakomodasi Trump yang belum pernah menggunakan hak vetonya.

Trump mendeklarasikan keadaan darurat nasional pada 15 Februari lalu guna mewujudkan keinginannya untuk membangun tembok perbatasan. Dengan deklarasi darurat, Trump mencari cara alternatif untuk mendapatkan dana miliaran dolar untuk pembangunan tembok di perbatasan setelah Kongres menolak untuk memberikan dana.

Trump membutuhkan dana miliaran dolar untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko, tetapi Kongres menolak untuk menyediakan sepenuhnya. Kebuntuan menyebabkan penutupan sebagian pemerintah AS selama 35 hari yang berakhir pada bulan Januari lalu.


Pembangunan tembok perbatasan menjadi kunci kampanye Trump dalam pemilu presiden pada 2016 lalu. Kala itu, Trump mengatakan Meksiko akan membayarnya. Namun pada kenyataannya, Meksiko menolaknya.

Lewat voting, Senat AS meloloskan resolusi untuk mengakhiri keadaan darurat nasional dengan suara 59-41. Dalam prosesnya, keputusan ini ditandai dengan pembelotan 12 anggota Partai Republik. 




Credit  sindonews.com




Pentagon Bakal Tes Dua Rudal Jelajah Baru 1000 - 4000 Kilometer





Raytheon sedang mengembangkan rudal SM-3 Blok IIA, yang menjadi bagian dari proyek gabungan antara Amerika Serikat dan Jepang. Kedua negara ini berencana untuk memasang dua lapisan sistem pertahanan udara  untuk menghadapi ancaman rudal balistik antar benua Korea Utara atau negara lain. raytheon.com
Raytheon sedang mengembangkan rudal SM-3 Blok IIA, yang menjadi bagian dari proyek gabungan antara Amerika Serikat dan Jepang. Kedua negara ini berencana untuk memasang dua lapisan sistem pertahanan udara untuk menghadapi ancaman rudal balistik antar benua Korea Utara atau negara lain. raytheon.com

CBWashington – Pentagon bakal memulai pengetesan dua jenis rudal baru, yang telah dilarang uji cobanya selama lebih 30 tahun oleh sebuah perjanjian kontrol senjata, pada 2019.

Ini menyusul rencana kedua negara untuk mengakhiri Perjanjian Rudal Nuklir Jarak Menengah atau Intermediate Range Nuclear Forces Treaty.
Perjanjian ini, yang diteken kedua negara sejak 1987, melarang uji coba dan produksi rudal berjarak tembak 500 – 5.500 kilometer.

Saat ini, AS berencana untuk menarik diri secara penuh dari perjanjian kontrol senjata itu pada Agustus 2019.
“Sebuah rudal jelajah baru bakal diuji coba pada Agustus dan rudal balistik dengan jarak lebih jauh bakal diuji coba pada November 2019,” begitu penjelasan seorang pejabat Pentago kepada media seperti dilansir media The Hill dan dikutip Sputnik News pada Kamis, 14 Maret 2019.

Pejabat Pentagon, seperti dilansir media Global News dari Kanada, mengatakan satu rudal bakal memiliki jangkauan tembak hingga 1000 kilometer. Rudal yang mampu terbang rendah ini bakal siap beroperasi dalam 18 bulan saja.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri), dan Presiden Rusia, Vladimir Putin (kanan), berbincang di istana kepresidenan Finlandia untuk memulai pertemuan empat mata dalam KTT AS -- Rusia pertama, Senin, 16 Juli 2018.
Sedangkan satu rudal balistik bakal memiliki jarak tembak 3000 – 4000 kilometer. Rudal ini bakal beroperasi dalam lima tahun. Kedua rudal tidak dilengkapi dengan hulu ledak nuklir.

Rudal jelajah ini mengingatkan kembali senjata AS yang dipasang di Inggris dan beberapa negara sekutu NATO pada 1980an. Ada juga rudal Pershing 2 yang berbasis darat. Ini sebagai respon atas pengerahan rudal SS-20 milik Uni Sovyet, yang menarget Eropa Barat. Dengan ditandatanganinya perjanjian INF Treaty ini, semua rudal itu dihancurkan.

Sistem pertahanan antirudal Rusia "Nudol".[plymouth.ac.uk]
Ada kemungkinan jenis rudal baru AS ini bakal dipasang di Guam, yang cukup dekat untuk menyasar Cina dan Rusia.

Tokoh DPR dari Partai Demokrat mengkritik kebijakan Trump menarik diri dari kesepakatan kontrol senjata dengan Rusia. “Rusia melanggar INF Treaty selama bertahun-tahun. Tapi bukannya memfokuskan pendapat dunia melawan Rusia, pemerintahan Trump memutuskan untuk menarik AS dari kesepakatan itu,” kata Adam Smith, Ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR dari Partai Demokrat. “Bukannya menghukum Rusia, pemerintah malah memutuskan untuk ikut terbenam ke level Rusia,” kata dia.
Direktur Eksekutif Asosiasi Kontrol Senjata, Daryl Kimball, mengatakan pengakhiri perjanjian kontrol senjata akan memprovokasi terjadinya destabilisasi wilayah dan memicu perlombaan rudal.





Credit  tempo.co



Tel Aviv Dihantam Dua Roket, Israel Bombardir Gaza



Tel Aviv Dihantam Dua Roket, Israel Bombardir Gaza
Pesawat jet tempur F-15C Israel. Foto/REUTERS/Baz Ratner/File Photo



GAZA - Pesawat-pesawat tempur Israel membombardir basis Hamas di selatan dan utara Jalur Gaza, Jumat (15/3/2019) pagi. Pemboman ini diklaim sebagai pembalasan atas serangan dua roket dari Gaza yang menghantam Tel Aviv semalam.

Para saksi mata Palestina mengatakan ledakan terdengar di Jalur Gaza ketika pesawat-pesawat Israel melakukan pemboman. Salah satu ledakan terjadi di Khan Younis, sisi selatan Jalur Gaza.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa mereka menyerang target "teroris". "Kami baru saja mulai menyerang situs-situs teror di Gaza. Detailnya silakan diikuti," tulis militer tersebut di Twitter melalui akun resminya, @IDF.

Serangan dua roket ke Tel Aviv tidak menimbulkan korban jiwa. Serangan itu memicu sirene meraung-raung.

Laporan awal dari media setempat mengatakan sistem pertahanan Iron Dome Israel menembak jatuh salah satu roket, dan satunya lagi menghantam area terbuka. Namun, tak lama kemudian IDF menolak laporan tersebut. Menurut IDF, tak ada roket yang ditembak jatuh oleh Iron Dome.

Sebelum serangan udara dimulai, pemerintah Israel telah menyerukan diplomat Qatar dan Mesir untuk meninggalkan Gaza sesegera mungkin. Hamas, gerakan Islamis yang mengendalikan Gaza, dilaporkan telah melakukan evakuasi massal dan mengumumkan keadaan darurat.

Media Israel melaporkan bukan Hamas, tapi bahwa Jihad Islam yang bertanggung jawab atas serangan dua roket ke Tel Aviv. Namun, kelompok Jihad Islam dengan cepat menyangkal bertanggung jawab. Begitu pula dengan Hamas yang mengaku tidak tahu siapa yang menembakkan kedua roket. Hamas sendiri menyatakan tidak tertarik pada eskalasi.

Meski tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap Tel Aviv, Menteri Pendidikan Israel dan anggota kabinet keamanan Naftali Bennett mengatakan kepada Russia Today bahwa dia yakin Hamas tetap memikul tanggung jawab atas insiden itu.

“Hamas telah menembakkan roket ke bagian selatan Israel selama kurang lebih satu tahun ini dan sekarang mereka menembakkan dua roket ke daerah Tel Aviv. Sudah waktunya untuk mengalahkan Hamas, saatnya untuk mendemiliterisasi Jalur Gaza," katanya. 


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan pertemuan darurat dengan para pemimpin keamanannya di markas IDF di Tel Aviv setelah serangan dua roket. Para petinggi militer dilaporkan menyetujui respons "kuat, tetapi terukur".

Sementara itu, dalam langkah yang sangat langka, Hamas dilaporkan menawarkan bantuannya kepada Israel dalam menemukan para pelaku serangan roket.

Insiden hari Kamis malam adalah yang pertama kalinya sejak perang 2014 ketika roket dari Gaza terbang mendekati Tel Aviv.

Credit  sindonews.com



Tentara Israel Tahan Jurnalis dan Aktivis Palestina


Tentara Israel yang sedang berjaga (ilustrasi)
Tentara Israel yang sedang berjaga (ilustrasi)
Foto: Anadolu agency

Israel tahan jurnalis dan aktivis Palestina saat mendokumentasikan kekerasan.

CB, HEBRON -- Pasukan tentara Israel melakukan penahanan terhadap jurnalis dan aktivis asal Palestina pada Rabu (13/3). Penahanan itu dilakukan saat mereka berada di Al Shuhada, Hebron, Tepi Barat.

Jurnalis Amer Al Shaludi dan aktivis pembela Hak Asasi Manusia (HAM), Zeidan Al Shabarati diketahui ditangkap setelah mencoba mendokumentasikan kekerasan yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina. Mereka dilaporkan ditahan selama lebih dari satu jam.

Berdasarkan laporan dari aktivis pembela HAM asal Palestina, Badie Dwik, Shaludi dan Sharabati mendokumentasikan aksi tentara Israel yang sedang menembakkan gas air mata serta melempar granat ke arah warga Palestina. Selain ditahan, ponsel dan kamera keduanya juga disita.

Selain itu, tentara Israel juga menutup pos pemeriksaan militer untuk mencegah warga Palestina masuk.




Credit  republika.co.id



150 pemukim Yahudi serbu kompleks Masjid Al-Aqsha


150 pemukim Yahudi serbu kompleks Masjid Al-Aqsha

Seorang pemukim Yahudi melaksanakan ibadah pagi sebelum beberapa mulai pindah dari daerah Ulpana pemukiman Beit El dekat kota Tepi Barat, Ramallah, Selasa (26/6). Pemukim mulai pindah dari apartemen mereka yang menurut Mahkamah Agung Israel dibangun secara ilegal diatas tanah milik warga Palestina, usai mencapai kesepakatan dengan pemerintah untuk pindah secara damai. (REUTERS/Baz Ratner)




Al-Quds (CB) -  Sebanyak 150 pemukim Yahudi pada Kamis masuk secara paksa ke dalam Kompleks Masjid Al-Aqsha, yang sering menjadi tempat bentrokan di Al-Quds (Jerusalem) Timur, yang diduduki Israel, kata seorang pejabat Palestina.

"Sebanyak 150 pemukim Yahudi --yang didukung oleh sedikitnya 30 polisi-- telah masuk secara paksa ke dalam kompleks masjid tersebut sejak pagi," kata Firas Ad-Dibs, Juru Bicara Lembaga Waqaf Agama di Al-Quds --lembaga Jordania yang bertugas mengawasi tempat suci Muslim dan Kristen di kota tersebut-- kepada Kantor Berita Turki, Anadolu.

Setelah memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha melalui Gerbang Al-Mugharbah, pemukim Yahudi itu terus melakukan perjalanan di kompleks tersebut, kata Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam. Mereka berjalan di halaman Masjid Kubbah Shakhrah (Dome of the Rock) dan Al-Qibali, kata pejabat itu.

Menurut Ad-Dibs, sejumlah pemukim Yahudi berusaha melakukan upacara agama Yahudi sebelum meninggalkan tempat tersebut melalui Gerbang As-Silsila,

Peningkatan ketegangan belakangan ini terjadi sehari setelah pemerintah Israel untuk sementara menutup Kompleks Masjid Al-Aqsha buat orang Palestina yang ingin beribadah, sehingga makin meningkatkan ketegangan di tempat suci tersebut --yang menjadi tempat bentrokan.

Ketegangan meningkat terus di Al-Quds sejak Februari, ketika polisi Israel menutup sebentar Gerbang Ar-Rahmah (Golden Gate), sehingga memicu kemarahan rakyat Palestina.

Dalam beberapa pekan sesudahnya, pemerintah Israel telah melarang banyak orang Palestina --termasuk tokoh agama-- memasuki Masjid Al-Aqsha, tempat suci ketiga umat Muslim setelah Mekkah dan Madinah.

Israel menduduki Al-Quds Timur, tempat Masjid Al-Aqsha berada, selama Perang Arab-Israel 1967. Israel kemudian mencaplok seluruh kota itu pada 1980, dalam tindakan yang tak pernah diakui oleh masyarakat internasional.



Credit  antaranews.com