Rabu, 13 Februari 2019

Pompeo: Putin Ancaman Bagi Demokrasi di Seluruh Dunia


Pompeo: Putin Ancaman Bagi Demokrasi di Seluruh Dunia
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan ancaman bagi demokrasi di seluruh dunia. Foto/Istimewa

 

BRATISLAVA - Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan ancaman bagi demokrasi di seluruh dunia dan China memanipulasi sistem politik di Eropa. Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo.

Pernyataan itu dilayangkan diplomat top AS saat melanjutkan kunjungannya ke Eropa Tengah yang bertujuan untuk membatasi pengaruh Rusia dan China yang tumbuh di wilayah tersebut.

Pompeo, dalam tur lima negara, mengatakan kepada audiensi di Slovakia bahwa tiga dekade setelah jatuhnya Tirai Besi pada tahun 1989 mereka harus menyadari "agresi Rusia" yang merusak kebebasan mereka.

"Vladimir Putin berniat merusak demokrasi di seluruh dunia, jangan membuat kesalahan tentang itu. Kita harus sangat jujur ​​tentang itu," kata Pompeo kepada mahasiswa jurnalisme di Ibu Kota Slovakia, Bratislava.

"Namun, Rusia bukan satu-satunya negara yang berupaya mengikis kedaulatan dan kebebasan di Eropa," imbuhnya seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu (13/2/2019).

Pompeo mengatakan ia telah menyinggung kebutuhan untuk berjaga-jaga terhadap ekonomi Cina dan upaya-upaya lain untuk menciptakan ketergantungan dan memanipulasi sistem politik Anda dengan para pejabat Slovakia .

"Ini nyata, disengaja dan mereka mencoba melakukan hal-hal yang merusak kedaulatanmu," katanya.

Pompeo berada di Slovakia pada kunjungan kedua dari tur Eropa yang dimulai di Hongaria, sebelum mendarat di Polandia pada hari Selasa.

Pompeo berusaha untuk menyoroti peran AS dalam jatuhnya komunisme tiga dekade lalu pada saat Putin menemukan audiensi yang semakin luas di bekas Blok Timur.

Presiden Donald Trump telah menyuarakan kekaguman terhadap Putin tetapi pemerintah AS yang lebih luas tetap curiga terhadap pemimpin Rusia dan berusaha mencari alternatif bagi negara-negara Eropa untuk ekspor energi Rusia. 





Credit  sindonews.com




Keluarga Militan Asing ISIS Lari dari Benteng Terakhir


Keluarga Militan Asing ISIS Lari dari Benteng Terakhir
Ilustrasi (REUTERS/Erik De Castro)



Jakarta, CB -- Puluhan keluarga dari pejuang ISIS asing melarikan diri dari benteng pertahanan terakhir ISIS di timur Suriah, Selasa (12/2). Pejuang yang berasal dari Irak, Turki, dan Rusia Mereka menyelamatkan diri setelah posisi para jihadis mulai goyah diserang oleh tentara gabungan SDF (The Syrian Democratic Forces) yang didukung Amerika Serikat.

Komandan lapangan dari pasukan yang dipimpin orang Kurdi menyebut mereka telah mendesak pasukan jihadis hingga ke kantung terdalam mereka. Menurutnya, para gerilyawan asing pun tengah membuat keputusan akhir mereka.

SDF yang menguasai seperempat Suriah telah melakukan serangan untuk merebut kantong-kantong pertahanan jihadis dengan bantuan serangan udara oleh AS. Ratusan warga sipil mengungsi dalam dua hari terakhir. 



Namun, SDF menyebut sebanyak 400 hingga 600 militan masih bertahan. Beberapa diantaranya adalah orang asing dan emir, termasuk para istri dan anak-anak para militan.

"Kami mendapat perlawanan sengit dari para pejuang Daesh," jelas komandan lapangan Adnan Afrin kepada Reuters di luar salah kota terakhir ISIS, Baghouz.

"Kebanyakan adalah orang asing, Irak, Eropa, dan banyak orang Turki. Kami menyadap dari walkie-talkie mereka," jelasnya.


Menurutnya, saat ini para pejuang jihad saat ini hanya menguasai seperempat kilometer dari desa tersebut.

Juru bicara pasukan koalisi, Kolonel Sean Ryan menyebut masih terlalu dini untuk menyebut kapan serangan ini akan berakhir. "Pejuang ISIS terus mengadakan serangan balasan," jelasnya lewat surel, Selasa (12/2).

Menteri Luar Negeri Suriah mendorong PBB untuk, "menghentikan tindakan kriminal ini... dan mengakhiri serangan agresif dan kehadiran AS dan tentara asing lain yang tidak resmi."





Credit  cnnindonesia.com




WNI yang Menjadi Salah Satu Petinggi ISIS Tewas di Suriah


WNI yang Menjadi Salah Satu Petinggi ISIS Tewas di Suriah
Ilustrasi ISIS. (Laudy Gracivia)


Jakarta, CB -- Seorang warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Muhammad Saifuddin alias Abu Walid, meninggal dalam pertempuran sengit dengan pasukan koalisi Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Kurdi. Dia dilaporkan tewas di Provinsi Deir al-Zour pada 29 Januari, yang menjadi pertahanan terakhir ISIS.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, Saifuddin meninggal dalam pertempuran bersama seorang temannya yang juga militan ISIS, Mohammed Karim Yusop Faiz.

"Dia meninggal karena terkena serpihan akibat tembakan tank angkatan bersenjata Suriah dalam pertempuran," kata Dedi.


Seperti dilansir Associated Press, Selasa (12/2), kabar tewasnya Saifuddin dibenarkan oleh pihak keluarga. Kakak mendiang, Muinudinillah Basri, menyatakan mereka mendapatkan gambar jasad Saifuddin yang dikirim melalui aplikasi pesan singkat.




"Ada foto jenazahnya dan saya mengenalinya," kata Basri.

Pemerintah Amerika Serikat pada Agustus 2018 menyatakan mendiang Saifuddin beserta dua orang lainnya, Mohammad Rafi Udin (warga Malaysia) dan Mohammed Reza Lahaman Kiram (warga Filipina), masuk dalam daftar teroris dunia.

Mendiang Saifuddin beberapa kali muncul dalam rekaman video ISIS. Tiga tahun lalu, dia disebut sebagai salah satu dari tiga algojo yang mengeksekusi tiga warga asing, termasuk seorang jurnalis asal Jepang, Kenji Goto.

Basri menyatakan dia tidak pernah mendapat kabar dari adiknya, sejak Saifuddin pergi dari Indonesia bersama anak istrinya ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS sekitar empat tahun lalu. Dia menyatakan adiknya menjadi radikal ketika pecah kerusuhan di Ambon pada 1999 hingga 2001. Saifuddin pergi ke Ambon bersama saudara kembarnya, yang tewas dalam kerusuhan.

Setelah peristiwa Bom Bali I pada 2002, Saifuddin disebut pergi ke selatan Filipina bersama dengan dua militan senior. Dia lantas bergabung dengan kelompok bersenjata setempat.



Aparat Filipina berhasil menangkap Saifuddin pada 2007 ketika dia hendak kembali ke Indonesia. Dia dipenjara selama sembilan tahun karena mencoba menyelundupkan senjata dan bahan peledak.

Setelah bebas pada 2013, Saifuddin kemudian menikahi seorang janda pelaku bom bunuh diri. Dia kemudian menghilang dan aktivitasnya tidak diketahui aparat. Namun, dia mendadak muncul dalam video propaganda ISIS yang meminta kaum Muslim di Indonesia bergabung dengan ISIS dan berperang di Suriah dan selatan Filipina.

Menurut salah satu mantan narapidana terorisme, Sofyan Tsauri, Saifuddin adalah satu-satunya orang Indonesia dengan kedudukan paling tinggi di ISIS. Bahkan menurut dia, pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, memintanya untuk memimpin para militan dari Asia Tenggara.

Polri menyatakan Saifuddin pula yang membiayai keberangkatan seorang tersangka terorisme, Harry Kuncoro, yang berhasil ditangkap ketika hendak menuju Suriah. Harry dibekuk di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Januari lalu.

Menurut Polri, Harry divonis bersalah dalam tindak pidana terorisme karena melindungi Umar Patek, yang saat ini menjadi narapidana, dan menyimpan senjata api. Dia baru bebas setelah menerima grasi pada 2018.

Setelah bebas, Harry lantas mengontak Saifuddin melalui aplikasi Telegram. Dari percakapan itu, Saifuddin yang mengirimkan dana sebesar US$2,100 (sekitar Rp30 juta) untuk mengurus dokumen dan biaya perjalanan. Dia bisa membuat paspor berbekal kartu tanda pengenal palsu.



Saifuddin juga memberi saran supaya Harry pergi ke Suriah melalui provinsi Khurasan di Iran. Sebab, ada seorang militan asal Indonesia yang tinggal di sana.





Credit  cnnindonesia.com









70 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Udara Koalisi AS


70 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Udara Koalisi AS
Serangan udara koalisi AS tewaskan 70 warga sipil di Suriah timur. Foto/Ilustrasi/Istimewa

 

DAMASKUS - Sebanyak 70 warga sipil tewas dan terluka akibat serangan udara pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) di Suriah timur. Demikian laporan stastiun televisi pemerintah Suriah.

Serangan udara tersebut menargetkan sebuah kamp untuk orang-orang terlantar di pedesaan timur Deir al-Zour seperti dilansir dari Xinhua, Selasa (12/2/2019).

Koalisi pimpinan AS baru-baru ini semakin intensif melakukan serangan udara di wilayah sungai Efrat timur yang dikuasai ISIS.

Pada hari Sabtu, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS memulai tahap akhir serangan terhadap IS di wilayah sungai Efrat timur di Suriah timur.

Menyusul evakuasi lebih dari 20.000 warga sipil dari kota Baghouz di pedesaan timur Deir al-Zour, SDF mulai Sabtu malam melakukan operasi terhadap sisa kantong yang dipegang ISIS di wilayah timur Eufrat, menurut Mustafa Balli, kepala kantor media SDF.

Balli mengatakan bahwa pertempuran itu bertujuan untuk menghilangkan militan ISIS terakhir di kota Baghouz.

Setelah kehilangan empat km persegi, ISIS masih mengendalikan sekitar 4.000 km persegi di gurun Suriah di Suriah timur.

SDF yang didukung AS telah melakukan serangan besar-besaran untuk menendang ISIS dari wilayah timur Eufrat sejak September lalu. SDF, dengan bantuan AS, berhasil mengalahkan ISIS di banyak area yang telah dikontrolnya di wilayah Eufrat timur.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, SOHR, mengatakan lebih dari 37.000 warga sipil, termasuk puluhan militan ISIS, telah melarikan diri dari wilayah kantong yang dikuasai ISIS ke daerah-daerah yang dikendalikan oleh SDF di daerah Eufrat timur sejak Desember lalu. 




Credit  sindonews.com




Rusia Tegaskan Tidak Memberikan Teknologi Rudal ke Iran dan Korut


Rusia Tegaskan Tidak Memberikan Teknologi Rudal ke Iran dan Korut
Rusia menegaskan tidak memberikan teknologi rudal kepada Iran dan Korut. Foto/Ilustrasi/Istimewa

MOSKOW - Rusia tidak memasok teknologi rudal ke Iran yang memiliki hak untuk mengembangkan dan mengujinya sendiri. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Departemen Nonproliferasi dan Pengendalian Senjata Kementerian Luar Negeri Rusia Vladimir Ermakov.

"Sampai 2023, Dewan Keamanan PBB memiliki pembatasan pengiriman produk-produk rudal ke Iran. Rusia, tentu saja, dipandu oleh mereka," ujarnya seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (12/2/2019).

"Namun dokumen Dewan Keamanan PBB tidak melarang Iran untuk secara independen mengembangkan, memproduksi, menguji dan meluncurkan pesawat ruang angkasa atau rudal balistik," imbuh Yermakov.

Dalam kesempatan itu, Yermakov juga menegaskan bahwa Rusia tidak pernah berbagi teknologi rudal balistik dengan Korea Utara (Korut).

"Rusia secara ketat mengamati rezim sanksi yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara, termasuk bagian misilnya, karena kita tentu tidak tertarik pada munculnya satu negara lagi dengan senjata pemusnah massal dan cara pengiriman mereka di perbatasan kita," ujar Yermakov.

Diplomat itu juga menekankan bahwa Rusia tidak pernah mengirim sistem rudal taktis modern ke Korut.

Sebelumnya, sejumlah negara, termasuk Jerman dan Prancis - penandatangan Rencana Aksi Komprehensif 2015, yang umumnya dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran - mengecam peluncuran satelit Iran. Keduanya menuduh Iran menggunakan teknologi rudal balistik dan melanggar Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Mei lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Washington akan menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) 2015, yang biasa disebut sebagai perjanjian nuklir Iran, dan akan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran. 




Credit  sindonews.com




Trump keberatan terhadap upaya akhiri dukungan AS bagi Saudi


Trump keberatan terhadap upaya akhiri dukungan AS bagi Saudi
Negara-negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa di Markas PBB di New York City, New York, Amerika Serikat, 21 Desember 2018, melakukan pemungutan suara atas resolusi soal keamanan Yaman. (REUTERS/Carlo Allegri)





Washington (CB) - Pemerintahan Trump mengancam pada Senin untuk memveto usaha di Kongres Amerika Serikat guna mengakhiri dukungan militer AS bagi koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang di Yaman.

Para anggota Kongres dari Partai Demokrat dan Republik memberlakukan kembali resolusi kekuatan perang dua pekan lalu sebagai cara untuk mengirim pesan kuat kepada Riyadh mengenai bencana kemanusiaan di Yaman dan mengutuk pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi.

Pemerintahan Trump mengatakan resolusi tersebut tak tepat karena pasukan AS telah menyediakan pengisian bahan bakar pesawat dan dukungan lain dalam konflik Yaman, bukan pasukan tempur. Juga dikatakan, langkah itu akan merusak hubungan di kawasan dan melukai kemampuan AS mencegah penyebaran ekstrimisme, menurut Reuters.

Gedung Putih telah membuat marah banyak anggota Kongres, termasuk sebagian dari anggota Partai Republik, partai yang sama dengan Presiden Donald Trump, karena gagal menyediakan laporan dengan tenggat waktu Jumat mengenai pembunuhan Khashoggi tahun lalu di konsulat Saudi di Turki.

Khashoggi adalah kolumnis untuk the Washington Post dan telah memiliki izin tinggal di AS.

"Sulit untuk merasakan kasih sayang atau kewajiban kepada satu rezim yang telah melakukan tindakan seperti itu," kata Ed Perlmutter, wakil dari Demokrat, ketika sidang dengar pendapat di parlemen mengenai resolusi tersebut pada Senin.

Pihak Saudi, yang dipandang Trump sebagai mitra regional yang penting, memimpin koalisi yang memerangi pemberontak Houthi dukungan Iran di Yaman. Perang itu telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan jutaan orang di berada di jurang kelaparan.

AS telah mendukung kampanye udara pimpinan Saudi dengan dukungan penyediaan bahan bakar di udara, intelejen dan bantuan lain.

Pihak Demokrat memandang resolusi kekuatan perang itu sebagai cara menyatakan hak konstitusi Kongres guna memberi wewenang bagi penggunaan kekuatan militer dalam konflik-konflik luar negeri. Para penentang langkah itu dari Republik, menyuarakan Trump, berpendapat bahwa dukungan bagi pihak Saudi merupakan perjanjian keamanan.




Credit  antaranews.com





Senator AS Gagas Aturan Cegah Saudi Kembangkan Senjata Nuklir


Senator AS Gagas Aturan Cegah Saudi Kembangkan Senjata Nuklir
Sejumlah senator AS, termasuk Jeff Merkley, mengajukan aturan yang menjamin segala kesepakatan teknologi dengan Arab Saudi akan mencegah negara kerajaan itu membuat senjata nuklir. (Win McNamee/Getty Images/AFP) 


Jakarta, CB -- Sejumlah senator Amerika Serikat dari Partai Republik dan Partai Demokrat mengajukan aturan yang menjamin segala kesepakatan teknologi dengan Arab Saudi akan mencegah negara kerajaan itu membuat senjata nuklir.

Sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (12/2), di bawah rancangan resolusi itu, semua kesepakatan kerja sama nuklir antara perusahaan di AS dan Saudi harus mencegah pengayaan uranium atau pemrosesan kembali plutonium yang dibuat di reaktor.

"Jika Arab Saudi ingin menyentuh teknologi nuklir, sangat penting memastikan standar non-proliferasi. Amerika tidak boleh mendukung pengembangan senjata nuklir bagi aktor buruk di panggung dunia," kata Jeff Merkley, salah satu penggagas resolusi dari Partai Demokrat.


Belum diketahui apakah mayoritas Senat akan mendukung resolusi yang tak mengikat pemerintahan AS ini.


Namun, jika mendapatkan dukungan signifikan, aturan ini akan menyiratkan kekhawatiran Kongres atas kampanye pengeboman Saudi di Yaman, juga pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat perwakilan Riyadh di Istanbul.

Saudi memang menyatakan ingin dapat memproduksi bahan bakar nuklir sendiri, tapi memastikan bahwa mereka tak tertarik mengubah teknologi itu untuk kepentingan militer.



Meski demikian, Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), tahun lalu mengatakan bahwa negaranya akan mengembangkan senjata nuklir jika Iran melakukan hal serupa.

Saudi pun menolak menandatangani kesepakatan dengan AS yang dapat mencegah mereka memperkaya uranium.

Tahun lalu, Saudi memasukkan AS dalam daftar negara yang dipertimbangkan untuk proyek pembangunan tenaga nuklir. Pemenang tender ini akan diumumkan pada 2019.

Perusahaan pengembang reaktor asal AS, Westinghouse, mengisyaratkan bahwa mereka akan menjual teknologi nuklir ke Saudi di bawah kesepakatan apa pun.

Sementara itu, Chris Crane, presiden perusahaan operator tenaga nuklir terbesar di AS, Exelon Corp, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump mendukung upaya swasta untuk menjamin persaingan ekspor tenaga nuklir negaranya dengan Prancis, China, dan Rusia.





Credit  cnnindonesia.com






Iran Siap Selesaikan Perselisihan dengan Saudi


Ilustrasi Saudi vs Iran.
Ilustrasi Saudi vs Iran.
Foto: Republika/Mardiah

Iran bantah ingin menguasai wilayah negara-negara tetangga.





CB, TEHERAN -- Pemerintah Iran siap menyelesaikan perselisihan dengan negara-negara Timur Tengah. Itikad baik itu secara khusus ditujukan kepada Arab Saudi dan sekutunya yang telah berseteru dengan Teheran dalam beberapa tahun terakhir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi mengatakan, menjalin hubungan negara-negara tetangga merupakan prioritas utama dalam kebijakan luar negeri Iran. Ia mengklaim telah berupaya mengembangkan ikatan persahabatan dengan pemerintah di sekitarnya.

"Tapi kami menghadapi beberapa negara di antara (tetangga) di wilayah selatan yang memiliki masalah dan berada di bawah pengaruh pihak-pihak tertentu yang mencoba melemahkan Iran," kata Qassemi saat diwawancara Fars News Agency yang diterbitkan pada Selasa (12/2), dikutip laman Iran Front Page.

Menurut dia, Iran telah cukup menunjukkan kesabaran dalam menghadapi langkah-langkah provokatif terhadapnya. Kendati demikian, Qassemi menyatakan hal itu tak menyurutkan niat Iran untuk menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangganya.  "Iran siap menyelesaikan perbedaan dengan beberapa negara di kawasan di belakang meja perundingan secara damai," ujarnya.



Qassemi juga membantah, negaranya berusaha menguasai wilayah negara-negara tetangga. "Iran tidak mengincar tanah dari negara-negara tetangga dan itu adalah negara merdeka yang mengembangkan kebijakannya di Teheran," ucapnya.

Kemudian terkait Saudi, ia mengapresiasi para pejabat negara tersebut yang lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan di kawasan, termasuk terhadap Iran.


"Kami berharap bahwa kondisi baru Arab Saudi akan mengarah pada interaksi serius di antara negara-negara kawasan, karena kami ingin melihat semua negara kawasan dapat menjalankan kebijakan mereka dengan kemerdekaan penuh," kata Qassemi.

Kendati demikian, Qassemi menilai iktikad baik Iran itu bergantung pada kemauan negara-negara tetangganya, termasuk Saudi. Iran tidak bisa disalahkan dan bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan setiap kali negara-negara itu melakukan upaya untuk meningkatkan hubungan. 




Credit  republika.co.id




Lavrov: Rusia akan Hadang Resolusi DK AS soal Venezuela


Lavrov: Rusia akan Hadang Resolusi DK AS soal Venezuela
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, Dewan Keamanan (DK) PBB tidak mungkin menerima rancangan resolusi Amerika Serikat (AS) tentang Venezuela. Foto/Reuters

MOSKOW - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, Dewan Keamanan (DK) PBB tidak mungkin menerima rancangan resolusi Amerika Serikat (AS) tentang Venezuela. Rusia, lanjut Lavrov, akan memastikan hal itu terjadi.

"DK PBB tidak akan pernah menerima keputusan seperti itu, seperti yang Anda pahami," kata Lavrov dalam konferensi pers di Moskow, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (12/2).

"Ini adalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa rancangan resolusi Amerika, pada kenyataannya, bertujuan untuk menutupi provokasi yang dimaksud dengan pengiriman bantuan kemanusiaan sebagai cara untuk mengacaukan situasi di Venezuela, dan bahkan mendapatkan dalih untuk intervensi militer," sambungnya.

Diplomat senior Rusia itu kemudian mencatat bahwa resolusi Rusia tentang Venezuela di DK PBB bertujuan untuk mendukung upaya dalam membangun dialog nasional di negara Amerika Latin tersebut.

"Sejak awal, kami telah mendukung inisiatif oleh Meksiko dan Uruguay, yang berbicara untuk penciptaan kondisi sedini mungkin untuk dialog nasional dengan partisipasi semua kekuatan politik di Venezuela," kata Lavrov.

Lavrov juga mengatakan bahwa Presiden Venezuela, Nicolas Maduro telah menyatakan kesiapan untuk mengadakan pembicaraan dengan oposisi, tetapi oposisi karena tekanan dari perwakilan AS. Lebih jauh, Lavrov menggambarkan AS telah kehilangan semua rasa malu sehubungan dengan krisis Venezuela yang sedang berlangsung. 



Credit  sindonews.com





Selandia Baru Bantah Ada Keretakan Hubungan Dengan Cina


Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (kiri) dan pasangannya Clarke Gayford tiba di Sydney hari Kamis (1/3).
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (kiri) dan pasangannya Clarke Gayford tiba di Sydney hari Kamis (1/3).
Foto: Rick Rycroft/AAP


Hubungan Selandia Baru dengan Cina adalah hubungan yang kompleks




CB, WELLINGTON -- Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengakui, hubungan diplomatik antara negaranya dengan Cina mengalami kompleksitas. Namun, Ardern menepis adanya kekhwatiran keretakan hubungan dagang dengan Cina, yang merupakan mitra terbesar bagi Selandia Baru.

"Hubungan kami dengan Cina adalah hubungan yang kompleks, kadang-kadang juga menghadapi tantangan," ujar Ardern dalam sebuah wawancara kepada TVNZ, Selasa (12/2).

Sebelumnya, Cina telah menunda kampanye program Pariwisata Cina-Selandia Baru 2019 di Wellington yang semestinya diluncurkan pada pekan depan. Di sisi lain, rencana Ardern untuk mengunjungi Beijing sejak akhir 2018 juga masih tertunda. Ardern mengatakan, dirinya masih mencari waktu yang tepat untuk berkunjung ke Beijing.

"Undangan kunjungan saya ke Beijing tidak berubah, hanya saja kami belum menemukan tanggal yang sesuai," kata Ardern.

Hubungan antara Cina dan Selandia Baru mulai menegang, karena adanya kekhawatiran tentang pengaruh Beijing yang semakin besar di Pasifik Selatan. Selain itu, Selandia Baru juga telah menolak tawaran raksasa telekomunikasi Cina, Huawei untuk membangun jaringan 5G.

Ardern menepis bahwa penolakan tawaran Huawei tersebut berdampak pada hubunga diplomatik kedua negara. Menurutnya, keputusan untuk membangun jaringan 5G harus sesuai dengan peraturan yang berlaku demi keamanan data.

"Keputusan membangun jaringan 5G harus sesuai dengan aturan, dan ada prosesnya. Keputusan apapun yang kita buat adalah demi kepentingan perlindungan data, dan keamanan Selandia Baru," ujar Ardern.

Diketahui, Huawei menghadapi pengawasan internasional, karena diduga menjadi alat mata-mata atau pengintai bagi Pemerintah Cina. Adapun, Huawei telah menyangkal tuduhan tersebut. Namun, beberapa negara barat mulai membatasi akses Huawei ke pasar mereka.

Di sisi lain, Pemimpi oposisi Partai Nasional, Simon Bridges menyalahkan Ardern dan wakilnya, Winston Peters karena terus memperburuk hubungan diplomatik dengan Cina. Menurutnya, ketegangan antara Cina dan Selandia Baru merupakan yang terburuk dari sebelumnya.

Sementara laporan media setempat menyebutkan, penerbangan Air New Zealand belum lama ini ditolak masuk ke Cina. Beberapa pihak berpendapat, hal tersebut merupakan akibat dari hubungan kedua negara yang semakin memburuk. Namun, pemerintah dan otoritas Cina mengklaim, Air New Zealand ditolak masuk ke Cina karena masalah administrasi.

Tahun lalu, Selandia Baru mengeluarkan pernyataan kebijakan pertahanan, di mana Ardern mengatakan pengaruh Cina di Pasifik Selatan sangat kuat dan dapat merusak stabilitas regional. Ketika itu, Ardern juga menyinggung tentang ketegangan di Laut Cina Selatan. Pernyataan tersebut memicu keluhan dari Cina.




Credit  republika.co.id





Penarikan Duta Besar, Mendagri Italia Siap Dialog dengan Prancis


Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini. Sumber: thetimes.co.uk
Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini. Sumber: thetimes.co.uk

CB, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini siap melakukan pertemuan dengan pemerintah Prancis pada pekan ini. Pertemuan itu untuk membahas sikap Paris yang menarik duta besarnya dari Roma, Italia, dengan alasan untuk berkonsultasi.
Dikutip dari rt.com, Selasa, 12 Februari 2019, hubungan bilateral Italia dan Prancis memburuk setelah pada akhir pekan lalu Paris menarik duta besarnya untuk Italia. Kondisi ini terburuk setelah meletupnya perang dunia II.


Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyampaikan pidato yang disiarkan oleh stasiun televisi di Prancis terkait referendum Kaledonia Baru pada Minggu, 4 November 2018. Sumber: LUDOVIC MARIN/AGENCE FRANCE-PRESSE/GETTY IMAGES/wsj.com








Penarikan duta besar ini sebagai bagian dari bentuk protes Paris karena Salvini dan Wakil Perdana Menteri Italia Luigi Di Maio diduga telah menemui Kelompok Rompi Kuning yang melakukan unjuk rasa memprotes kondisi ekonomi di Prancis. Banyak dari unjuk rasa yang dilakukan kelompok ini berujung ricuh.
"Saya siap menyambut Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner di kota Roma atau Paris, bahkan jika pertemuan dilakukan pekan ini. Saya rasa memperbaiki hubungan adalah hal yang mendasar, lebih cepat - lebih baik," kata Salvini, Senin, 11 Februari 2019, waktu Italia.
Dikutip dari dailystar.com.lb, Selasa, 12 Februari 2019, Salvini dan Di Maio telah membuat sejumlah serangan terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron. Puncak kekesalan Paris pada Selasa pekan lalu, 5 Februari 2019, saat Wakil Perdana Menteri Di Mario melakukan pertemuan dengan demonstran Rompi Kuning. Walhasil, dua hari setelah pertemuan dilakukan, Macron menarik duta besarnya untuk Italia hingga percikan ketegangan pun tak terhindarkan antar dua negara yang mendirikan Uni Eropa. 





Credit  tempo.co



Presiden Duterte Ingin Ganti Nama Filipina Jadi Maharlika


Rodrigo Duterte.[CBCPNews]
Rodrigo Duterte.[CBCPNews]

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Senin, 11 Februari 2019, mencetuskan gagasan mengubah nama Filipina menjadi Maharlika. Nama Maharlika dinilai lebih cocok untuk identitas Filipina yang berada di kawasan Malay atau Melayu.  

“Kata Filipina ditemukan oleh penjelajah asal Portugal bernama Ferdinand Magellan yang menggunakan mata uang Spanyol bergambar Raja Philip. Tidak apa-apa, mari kita ubah menjadi Maharlika,” kata Duterte dalam sebuah pidatonya saat menyerahkan sejumlah sertifikat tanah di Maguindanao, Filipina.


Keluarga awak kapal angkatan laut Filipina melambaikan bendera negara mereka untuk menyambut kapal barunya yang bernama BRP Davao del Sur di Pelabuhan Selatan Manila, Filipina, 10 Mei 2017. Angkatan Laut Filipina menyambut datangnya kapal amfibi kedua buatan Indonesia sebagai bagian dari program modernisasi militer. (AP Photo)





Dikutip dari news.abs-cbn.com, Selasa, 12 Februari 2019, Filipina berasal dari nama Raja Spanyol yang pada abad ke-16 dipimpin oleh Raja Philip II. Pada masa itu, Filipina menjadi jajahan Spanyol. Penjelajah asal Spanyol Ruy Lopez de Villalobos adalah salah satu tokoh yang mencetuskan nama Las Islas Filipinas bagi Kepulauan Filipina.

Namun mantan anggota Senat Eddie Ilarde mengajukan proposal rancangan undang-undang 195 ke parlemen untuk mengubah nama Filipina menjadi Maharlika yang memiliki arti dibuat dengan mulia. Nama Maharlika menurut sejarah juga memiliki sejumlah arti yakni orang bebas, pangeran atau bangsawan.   

Menurut tim penyidik Amerika Serikat, mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos, juga pernah menggunakan kata Maharlika saat perang dunia II untuk memalsukan catatan militer negaranya.
Marcos mengklaim telah memerintahkan sekelompok gerilyawan yang dikenal Unit Maharlika, tetapi New York Times dalam pemberitaannya menyebut pada 1945 dan 1948 sejumlah perwira Angkatan Darat Filipina menolak permintaan Marcos untuk pengakuan resmi unit tersebut dan menyebut klaim Marcos terdistorsi, dibesar-besarkan, curang, kontradiktif, dan absurd. Tim penyidik di militer Filipina akhirnya menyimpulkan Unit Maharlika adalah fiktif.




Credit  tempo.co




Thailand bekukan izin TV yang terkait mantan PM Thaksin

Thailand bekukan izin TV yang terkait mantan PM Thaksin

Pengunjuk rasa anti pemerintah berkumpul dekat sebuah kertas karton yang mengejek Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-o-cha sebagai Pinokio dalam unjuk rasa menuntut pemerintahan militer mengadakan pemilihan umum pada bulan November di Bangkok, Thailand, Selasa (22/5/2018). (REUTERS/Athit Perawongmetha)



Bangkok (CB) - Badan regulator telekomunikasi Thailand, Selasa, membekukan izin operasional stasiun TV yang memiliki hubungan dengan mantan perdana menteri terguling Thaksin Shinawatra, beberapa pekan menjelang pemilihan umum.

Badan regulator itu membekukan izin tersebut dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional.

Program "Tonight Thailand" dan "Wake Up News" di Voice TV menyebarkan informasi yang memicu kebingungan publik serta perpecahan, kata Komisi Telekomunikasi dan Penyiaran Nasional (NBTC) tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, demikian Reuters melaporkan.

"NBTC memerintahkan Voice TV untuk memperbaiki diri dengan membekukan izin operasional selama 15 hari," kata Komisioner NBTC Perapong Manakit.


Pemilu 24 Maret mendatang akan mempertemukan kalangan promiliter dan loyalis Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dengan gerakan rakyat yang dipimpin Thaksin dan para pendukungnya.

Pemilu itu menjadi pemilu pertama sejak kudeta militer pada 2014 dan digelar di tengah kekhawatiran upaya penumpasan yang dilakukan junta terhadap lawan-lawannya.

Voice TV dimiliki oleh dua anak Thaksin, yang digulingkan dalam kudeta pada 2006. Sejak 2008, Thaksin tinggal dalam pengasingan untuk menghindari dakwaan korupsi yang menurutnya bermotif politik.

Sekretaris Jenderal NBTC Takorn Tantasith mengatakan pelanggaran itu menentang undang-undang penyiaran, khususnya bagian yang berfokus pada keamanan nasional serta keamanan dan ketertiban.

Beberapa episode yang disebutkan dalam salinan perintah NBTC, yang ditayangkan Voice TV, menampilkan wawancara dengan dua calon perdana menteri dari Partai Pheu Thai naungan Thaksin.

Voice TV pernah dua kali ditutup, yaitu dua hari menjelang kudeta 2014, yang menggulingkan adik Thaksin, mantan perdana menteri Yingluck Shinawatra, serta pada 2017.

Pemimpin ekeskutif Voice TV Mekin Petchplai menyebut perintah itu tidak adil dan mengatakan pihaknya akan melakukan banding dan ganti rugi senilai lebih dari 100 juta bath (seikitar Rp44,8 miliar).

"Saat negara ini bersiap menggelar pemilu dalam beberapa pekan ke depan, (hal ini) harus dihentikan karena rakyat membutuhkan berita imbang yang berkualitas untuk menentukan suara mereka," kata Mekin.




Credit  antaranews.com






Putri Ubolratana Rajakanya Didiskualifikasi dari Pemilu Thailand


Komisi Pemilihan Umum Thailand memutuskan mendiskualifikasi Ubolratana Rajaka, 67 tahun sebagai calon Perdana Menteri Thailand. Sumber: Otago Daily Times
Komisi Pemilihan Umum Thailand memutuskan mendiskualifikasi Ubolratana Rajaka, 67 tahun sebagai calon Perdana Menteri Thailand. Sumber: Otago Daily Times

CB, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum Thailand memutuskan mendiskualifikasi Putri Ubolratana Rajakanya, 67 tahun sebagai calon Perdana Menteri Thailand. Ubolratana adalah kakak Raja Thailand Maha Vajiralongkorn.
Dikutip dari Reuters, Senin, 11 Februari 2019, keputusan Komisi Pemilihan Umum Thailand itu mengakhiri kontroversi pencalonan Putri Ubolratana. Komisi Pemilihan Umum menyebut pencalonan Putri Ubolratana tidak patut.

Dikutip dari Reuters, Senin, 11 Februari 2019, Komisi Pemilihan Umum Thailand telah menerbitkan nama-nama partai dan kandidat perdana menteri yang mereka usung, tetapi nama Putri Ubolratana tidak tercantum dalam daftar itu. Komisi Pemilihan Umum Thailand menyatakan anggota keluarga kerajaan tidak boleh berpolitik sehingga mereka tidak bisa memegang jabatan politik apapun. Pernyataan itu sama dengan yang disampaikan Raja Vajiralongkorn pada Jumat kemarin, 8 Februari 2019.

Sebelumnya, Putri Ubolratana telah menerima pencalonan dari Partai Thai Raksa Chart untuk maju sebagai perdana menteri. Putri Ubolratana menanggalkan gelar kebangsawanannya setelah menikahi laki-laki warga negara Amerika Serikat dan mulai merintis karir sebagai aktris di sejumlah drama TV dan film laga.

Meski sudah tak lagi menyandang gelar kebangsawanan, tindakan Putri Ubolratana dinilai melanggar tradisi kerajaan selama puluhan tahun yang tidak terjun ke politik. Raja Vajiralongkorn mengatakan tidak pantas anggota keluarga kerajaan memasuki dunia politik.
Thailand telah menjadi sebuah negara Kerajaan sejak 1932. Kendati begitu, keluarga kerjaan telah dikenal luas memiliki pengaruh dan jutaan masyarakat Thailand setia pada kerajaan. 




Credit  tempo.co





Militer Myanmar DIlaporkan Tembaki Desa-Desa di Rakhine


Muslim Rohingya tiba di Desa Thae Chaung, Sittwe, negara bagian Rakhine, Myanmar, Rabu (21/11).
Muslim Rohingya tiba di Desa Thae Chaung, Sittwe, negara bagian Rakhine, Myanmar, Rabu (21/11).
Foto: Nyunt Win/EPA EFE

Penembakan desa yang berpenghuni tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.



CB, LONDON – Amnesty International menyampaikan laporan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah menembaki desa-desa dan mencegah warga sipil mengakses makanan dan bantuan kemanusiaan di negara bagian Rakhine barat sejak awal 2019.


Pasukan keamanan juga disebut menggunakan undang-undang yang represif untuk menahan warga sipil.

"Operasi-operasi terbaru ini adalah satu lagi pengingat bahwa militer Myanmar beroperasi tanpa memperhatikan hak asasi manusia," kata Direktur Crisis Response Amnesty International, Tirana Hassan, dilansir Anadolu Agency, Selasa (12/2).


Hassan mengatakan, menembaki desa-desa berpenghuni dan menahan persediaan makanan tidak dapat dibenarkan dalam situasu apapun.


Pihaknya juga menerima laporan bahwa divisi tentara yang terlibat aksi kekejaman terhadap Rohingya Agustus-September 2017 lalu telah dikerahkan ke Negara Bagian Rakhine dalam beberapa pekan terakhir.


"Terlepas dari kecaman internasional atas kekejaman militer Myanmar, semua bukti menunjukkan bahwa mereka dengan berani melakukan pelanggaran yang lebih serius," kata Hassan.


Masih menurut laporan itu, pelanggaran ini terjadi setelah misi pencarian fakta PBB menyerukan penyelidikan pidana dan penuntutan kepada pejabat senior Myanmar di bawah hukum internasional atas kejahatan terhadap penduduk Rohingya di Rakhine, dan terhadap etnis minoritas di Kachin dan negara-negara bagian utara Shan.


Laporan itu mengungkapkan, kelompok etnis Rakhine bersenjata yang dikenal sebagai Tentara Arakan melakukan serangan terkoordinasi pada empat pos polisi di negara bagian Rakhine utara. Mereka dilaporkan membunuh 13 petugas polisi pada 4 Januari 2019.


"Dan pemerintah sipil Myanmar menginstruksikan militer untuk meluncurkan sebuah operasi untuk 'menghancurkan' Tentara Arakan, yang oleh juru bicara pemerintah disebut sebagai 'organisasi teroris'," katanya.


Tentara Arakan adalah kelompok Buddha bersenjata yang menginginkan lebih banyak otonomi bagi etnis minoritas Buddha Rakhine.


Mereka telah berperang melawan militer sebagai bagian dari aliansi kelompok-kelompok bersenjata di Myanmar utara dan.


Tentara Arakan ini telah mengalihkan perhatiannya ke negara-negara Chin dan Rakhine dalam beberapa tahun terakhir, dan sudah terjadi bentrokan secara sporadis dengan pasukan keamanan di sana. Hingga kemudian, tentara Myanmar memindahkan banyak aset dan pasukan ke wilayah tersebut.




Credit  republika.co.id




Turki Kembali Memburu Ribuan Pengikut Fethullah Gulen


Turki Kembali Memburu Ribuan Pengikut Fethullah Gulen
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (REUTERS/Tumay Berkin)



Jakarta, CB -- Pemerintah Turki yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan, masih memburu orang-orang yang diduga pengikut cendekiawan Fethullah Gulen, yang dituduh menjadi dalang kudeta yang gagal tiga tahun lalu. Kini mereka kembali menerbitkan surat perintah penahanan bagi 1,112 orang terkait hal itu.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (12/2), operasi penangkapan besar-besaran ini dilakukan terhadap orang-orang yang diduga terhubung dengan Gulen. Kegiatan itu tidak cuma terpusat di Ibu Kota Ankara, tetapi juga di 76 provinsi lainnya.

Sampai saat ini pemerintah Turki diperkirakan sudah menangkap 150 ribu warga sipil dan tentara yang disebut terlibat dalam jejaring Gulen. Mereka dianggap sebagai bagian dari upaya kudeta yang gagal.



Sedangkan 77 ribu orang saat ini ditahan dan sedang menunggu persidangan terkait tindakan makar itu. Proses penangkapan juga terus terjadi di seluruh Turki.

Kelompok oposisi menuduh Erdogan menggunakan taktik ini untuk mencemarkan nama baik para pengkritik dan memberangus lawan politiknya. Sedangkan pemerintah Turki berdalih hal itu dilakukan untuk menumpas kelompok yang diduga membahayakan negara.

Kepolisian Turki terus mengusut pihak-pihak yang diduga pendukung Gulen sejak Juli 2016 usai upaya kudeta. Akibat kejadian itu 250 orang tewas.


Aparat Turki juga membekuk 55 orang lainnya yang diduga menggunakan aplikasi Bylock. Turki telah melarang penggunaan Bylock setelah kudeta gagal tersebut dilakukan. Hal ini karena pemerintah menuduh pengikut Gulen menggunakan aplikasi tersebut untuk berkomunikasi pada 15 Juli 2016 malam saat upaya kudeta berlangsung.

Gulen kini dianggap musuh negara. Turki sudah berupaya mengekstradisinya selama dua dasawarsa.

Gulen saat ini bermukim di Pennyslvania, Amerika Serikat, sejak meninggalkan Turki pada 1990. Pemerintah Turki mengklaim Biro Penyelidik Federal AS (FBI) memiliki bukti organisasi Gulen yang dikenal sebagai FETO, telah melanggar undang-undang AS, seperti melakukan penggelapan pajak, visa dan beberapa kegiatan ilegal lainnya. FETO dicap sebagai kelompok teroris oleh pemerintahan Turki.


Permintaan ekstradisi telah diajukan Turki di masa pemerintahan Barrack Obama sebelum digantikan oleh Donald Trump. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda dari AS bakal memulangkan Gulen.





Credit  cnnindonesia.com





Ancam Iran, Netanyahu Sebut Rudal Israel Bisa Terbang Jauh


Ancam Iran, Netanyahu Sebut Rudal Israel Bisa Terbang Jauh
PM Benjamin Netanyahu kembali melontarkan ancaman kepada rival kuatnya di kawasan, Iran, dengan mengatakan bahwa peluru kendali Israel bisa terbang sangat jauh. (Reuters/Ronen Zvulun)



Jakarta, CB -- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali melontarkan ancaman kepada rival kuatnya di kawasan, Iran, dengan mengatakan bahwa peluru kendali Israel bisa terbang sangat jauh.

"Rudal yang kalian lihat di belakang saya bisa terbang sangat jauh, melawan musuh mana pun, termasuk proksi Iran di kawasan kami," ujar Netanyahu dalam kunjungan kerjanya ke pangkalan angkatan laut di Haifa, sebagaimana dilansir AFP, Selasa (12/2).

Melanjutkan pernyataannya, Netanyahu berkata, "Kami terus bekerja sesuai pemahaman kami dan kebutuhan untuk mencegah Iran dan proksinya meluas ke perbatasan utara kami dan kawasan kami secara umum."



Netanyahu sudah berulang kali bersumpah bahwa Israel tak akan membiarkan Iran dan sekutunya, Hizbullah, memperluas pengaruhnya di Suriah, di mana Teheran mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad melawan pemberontak dan kelompok teror.


Israel pun melancarkan ratusan serangan udara di target-target Iran dan Hizbullah di Suriah selama beberapa tahun belakangan.

Serangan rudal terakhir ke Suriah dilancarkan pada Selasa (12/2) ke dekat bangunan rumah sakit yang sudah hancur dan sebuah pos observasi tentara.

"Kami beroperasi setiap hari, termasuk kemarin, melawan Iran. Setiap saat, melawan Iran dan semua upaya mereka untuk memperluas pengaruh di area ini," kata Netanyahu seperti dikutip Reuters.

Pada Rabu (13/2), Netanyahu dijadwalkan menghadiri konferensi gagasan Amerika Serikat dan Polandia yang berfokus pada "menggoyahkan pengaruh" Iran di Timur Tengah.

Namun, dengan konfirmasi kehadiran pejabat negara yang sedikit, Polandia dan AS mengubah fokus acara tersebut menjadi pencarian jalan untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan di Timur Tengah.





Credit  cnnindonesia.com




Berdalih Perangi Iran, Netanyahu Konfirmasi Israel Serang Suriah


Berdalih Perangi Iran, Netanyahu Konfirmasi Israel Serang Suriah
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengkonfirmasi serangan terbaru Israel terhadap Suriah. Foto/Ilustrasi/Istimewa

 

YERUSALEM - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengkonfirmasi jika pasukan Israel telah melakukan serangan di Suriah pada Selasa (12/2/2019) kemarin. Dalam pernyataaannya, Netanyahu lagi-lagi menyatakan jika serangan tersebut ditujukan kepada Iran.

Pernyataan ini muncul sehari setelah tentara Suriah mengatakan sebuah pesawat tanpa awak Israel menembakkan rudal di dekat rumah sakit yang hancur dan sebuah pos pengamatan militer.

"Kami beroperasi setiap hari, termasuk kemarin, melawan Iran. Setiap saat. Melawan Iran dan menentang upayanya untuk mempertahankan diri di daerah itu," Netanyahu mengatakan kepada wartawan sebelum terbang ke Polandia untuk konferensi Timur Tengah.

Israel berusaha untuk melawan pengaruh Iran di Suriah. Negeri Mullah itu menjadi sekutu dekat Presiden Suriah Bashar al-Assad, selain Rusia, dalam perang saudara yang telah berlangsung selama 8 tahun.

Menurut tentara Suriah serangan udara Israel terjadi di provinsi Quneitra selatan. Serangan itu hanya menyebabkan kerusakan material.

Israel semakin terbuka dalam melakukan serangan udara di Suriah jelang pemilu yang akan dihelat pada bulan April nanti.

Netanyahu mengatakan dalam beberapa pekan terakhir bahwa Israel telah melakukan ratusan serangan di Suriah selama beberapa tahun terakhir dan akan meningkatkan serangannya menyusul rencana penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari negara itu.





Credit  sindonews.com






Pejabat Rusia bahas perujukan antarfaksi Palestina


Pejabat Rusia bahas perujukan antarfaksi Palestina

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov (REUTERS/Denis Balibouse)




Moskow (CB) - Azzam Al-Ahmad, anggota Komite Sentral Fatah dan Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, bertemu di Moskow dengan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov guna membahas perujukan antarfaksi Palestina sebelum pertemuan faksi Palestina di Rusia.

Rusia mengundang semua faksi politik Palestina, terutama Fatah dan HAMAS, untuk membicarakan perujukan dan mengakhiri perpecahan mereka. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung selama satu pekan mulai Rabu.

Al-Ahmad berterima kasih kepada Rusia karena mendukung perjuangan Palestina bagi kemerdekaan dan hak asasi rakyat Palestina, serta bantuannya dalam membawa semua faksi Palestina untuk secara bersama membicarakan perujukan.

Ia juga berterima kasih kepada Rusia karena menolak ikut dalam Konferensi Warsawa mendatang tentangTimur Tengah --yang diserukan oleh Amerika Serikat, demikian laporan Kantor Berita Palestina, WAFA --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. Palestina memboikot pertemuan itu.

Bogdanov, yang juga adalah utusan presiden Rusia untuk Timur Tengah, mengatakan dalam pertemuan dengan Al-Ahmad bahwa Rusia mendukung posisi Presiden Mahmoud Abbas dan kepemimpinanya untuk perdamaian. Ia menekankan pentingnya untuk mengakhiri perpecahan yang didasari program politik PLO.

Ia juga menekankan bahwa Rusia siap melakukan semua upaya yang bisa dilakukan untuk menemukan penyelesaian yang adil bagi masalah Palestina dengan dasar solusi dua-negara dan resolusi internasional.




Credit  antaranews.com



Rusia Sebut Uni Eropa Terapkan Standar Ganda terhadap Iran


Rusia Sebut Uni Eropa Terapkan Standar Ganda terhadap Iran
Foto/Ilustrasi/Istimewa

 

MOSKOW - Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, Uni Eropa (UE) atas standar ganda-nya terhadap Iran.

"Uni Eropa harus mengatasi dua pendekatannya ketika mereka berusaha untuk tidak mengganggu Amerika, dan melakukan sesuatu agar Iran melihat upaya nyata, dan untuk membuat pilihan yang tepat dengan memutuskan mendukung kerja sama nyata," kata Ryabkov seperti disitir dari Xinhua, Selasa (12/2/2019).

Berbicara kepada wartawan setelah acara di kedutaan besar Iran di Moskow, Ryabkov mengatakan bahwa UE dan sejumlah anggotanya telah menerapkan sanksi terhadap Iran terhadap aturan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Dia mengatakan bahwa tuntutan negara-negara Eropa untuk mengurangi atau menutup program rudal Iran dihasilkan dari keinginan mereka untuk menyenangkan Amerika.

"Rusia mendapati hal itu tidak dapat diterima dan akan menjelaskan kekeliruan dan bahaya dari pendekatan semacam ini pada pertemuan Komisi Gabungan Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) yang diharapkan dilakukan pada bulan Maret," tuturnya.

Komisi itu membatasi kegiatan nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi terhadap Negeri Mullah itu.

Sementara itu, Ryabkov mengingatkat bahwa negara-negara Eropa telah mengambil langkah-langkah tertentu untuk menciptakan kondisi bagi kerja sama ekonomi yang normal dengan Iran, termasuk mekanisme INSTEX.

Pekan lalu, UE mengumumkan pengaturan INSTEX (Instrumen untuk Mendukung Pertukaran Perdagangan) oleh Inggris, Jerman dan Prancis untuk mengamankan perdagangan dengan Iran dan melancarkan sanksi anti-Iran oleh Amerika Serikat (AS) setelah Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015 pada Mei lalu.

"Posisi kami, jika dideskripsikan secara ringkas dan singkat, dapat direduksi menjadi frasa bahwa sesuatu lebih baik daripada tidak sama sekali," jelas Ryabkov.

Di sisi lain, ia mencatat bahwa penulis mekanisme ini tidak dapat memastikan pembukaannya untuk negara ketiga, pertama-tama, untuk Rusia dan lainnya yang tertarik dalam kerja sama hukum dengan Iran.

"Rusia akan mencari partisipasi penuh dalam kegiatan mekanisme ini dan melanjutkan upaya yang relevan dalam kontak langsung dengan negara-negara yang terkait," Ryabkov menambahkan. 





Credit  sindonews.com