Ilustrasi. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CB -- Setelah melalui negosiasi
panjang selama 13 tahun, Australia dan Indonesia sepakat merampungkan
Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komperhensif (IA-CEPA) akhir tahun ini.
Perdana
menteri Australia, Scott Morrison, bahkan dijadwalkan menandai lawatan
perdana kenegaraannya ke Indonesia pada Jumat (31/8) mendatang untuk
mendeklarasikan negosiasi perjanjian IA-CEPA telah selesai bersama
Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.
"Saat ini masih negosiasi
final IA-CEPA. Jika selesai tepat waktu, kedua pemimpin akan
mendeklarasikan bahwa negosiasi perjanjian itu telah rampung saat
bertemu Jumat pekan ini," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI,
Arrmanatha Nasir, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (29/8).
Menurut Arrmanatha, keinginan kedua pemimpin untuk merampungan
perjanjian ini menunjukkan komitmen RI-Australia untuk mempromosikan
keterbukaan hubungan antar-negara melalui perdagangan dan ekonomi.
"RI-Australia ingin beri contoh karena kita percaya hasil
dari IA-CEPA merupakan win-win solution yang bisa meningkatkan
kontribusi negara terhadap kesejahteraan warga kedua negara, bahkan
kawasan," tutur Arrmanatha.
Meski begitu, perjanjian kerja sama bilateral itu belum bisa berlaku efektif sampai ditandatangani kedua negara.
Arrmanatha
mengatakan kedua negara masih butuh waktu beberapa bulan ke depan untuk
menyusun teks legal perjanjian IA-CEPA sebelum bisa ditandatangani dan
diberlakukan.
Gagasan IA-CEPA pertama kali digagas pada 2005 lalu oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan perdana menteri Australia saat itu, John Howard.
Direktur
Asia Timur dan Pasifik Kemlu RI, Edi Yusup, mengatakan negosiasi
IA-CEPA memakan waktu panjang lantaran perjanjian ini tak hanya menyoal
perdagangan bebas, tapi juga kerja sama ekonomi secara lebih spesifik.
Berdasarkan
data Kementerian Perdagangan RI, cakupan utama IA-CEPA meliputi trade
in goods, Trade in Services, investasi, E-Commerce, kebijakan
kompetitif, kerja sama ekonomi, dan kerangka ketentuan dan kelembagaan
kerja sama.
Selain itu, IA-CEPA juga melibatkan kerja sama pembangunan kapasitas dalam bidang ekonomi antara kedua negara.
"IA-CEPA
tidak seperti Free Trade Agreement, ini meliputi kerja sama ekonomi dan
kebijakan bersama, salah satunya, dalam IA-CEPA kedua negara sepakat
menjadikan RI sebagai basis pengembangan produk yang bisa meningkatkan
ekspor kedua negara," kata Edi.
Menurut Edi, perjanjian IA-CEPA
banyak menguntungkan Indonesia, salah satunya memperluas pasar bagi
produk dalam negeri. Kesepakatan IA-CEPA juga memudahkan investor
Australia menanamkan modalnya di Indonesia.
Selain membahas
IA-CEPA, Morrison dan Jokowi juga akan mendeklarasikan kesepakatan kedua
negara untuk meningkatkan level kerja sama menjadi kemitraan strategis
komperhensif, dari semula kemitraan komperhensif yang telah berjalan
sejak 2005 lalu.
Dengan level baru kemitraan ini, pejabat senior kedua negara akan lebih rutin dan sering menggelar pertemuan.
"Kalau
dulu ketika kemitraan masih statusnya komperhensif saja pertemuan rutin
mungkin hanya antara para menteri luar negeri saja, tapi dengan
kemitraan baru ini akan ada pertemuan rutin antara menteri-menteri
lainnya dari kedua negara seperti pertemuan antara menteri pertahanan,
menteri perekonomian, dan lainnya," ucap Edi.
Dalam lawatan
perdana ke Jakarta nanti, Morrison juga membawa sejumlah menteri. Selain
kerja sama ekonomi, RI-Australia sepakat meneken nota kesepahaman (MoU)
mengenai kerja sama transportasi, ekonomi kreatif, dan keamanan siber.
"Penandatanganan
ketiga Mou itu akan disaksikan PM Morrison dan Presiden Jokowi. Untuk
lebih spesifiknya harus merujuk pada kementerian terkait," katanya.
Tak
hanya bertemu Jokowi, Morrison juga dijadwalkan datang ke forum bisnis
RI-Australia pada Sabtu (1/9)yang akan dihadiri sekitar 200 pengusaha
kedua negara
Credit
cnnindonesia.com