Dubes RI untuk Filipina Sinyo Harry
Sarundajang akan mengirimkan nota keberatan kepada pemerintah Filipina.
(CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)

Jakarta, CB -- Duta Besar Indonesia untuk FIlipina, Sinyo Harry Sarundajang menegaskan dugaan keterlibatan Warga Negara Indonesia (WNI) sebagai pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja di Pulau Jolo, Mindanao Filipina masih belum jelas.
Hal
itu ia sampaikan untuk merespons pernyataan Mendagri Filipina Eduardo
Ano yang meyakini pasangan suami istri (pasutri) asal Indonesia menjadi
pelaku bom bunuh diri di gereja di Pulau Jolo, Mindanao, Filipina
beberapa waktu lalu.
Sinyo menyatakan pihak Kepolisian Nasional
FIlipina (PNP) sendiri belum dapat melampirkan bukti yang kuat seperti
pemeriksaan DNA maupun rekaman CCTV yang menunjukkan pelaku pengeboman
merupakan WNI.
"PNP belum mengeluarkan hasil uji DNA serta
gambar resmi hasil rekaman CCTV di lokasi ledakan, yang menyatakan bahwa
kedua pelaku sebagaimana dinyatakan oleh Secretary Ano adalah WNI,"
kata Sinyo dalam keterangan tertulis, Selasa (5/2).
Mantan Gubernur Sulawesi Utara itu menyatakan data DNA dan CCTV itu
sangat diperlukan untuk membuktikan tuduhan Ano soal dugaan pelaku
pengeboman merupakan warga WNI.
Ia menilai pernyataan Ano itu tak
memiliki basis data yang valid. Bahkan, kata dia, Intelijen Filipina
(NICA) sendiri menyatakan masih terus melakukan investigasi terkait
pelaku pengeboman itu.
Bom Gereja Filipina. (Armed Forces Of The Philippines/Handout via REUTERS)
|
"Intelijen Filipina mengakui bahwa pihaknya belum mengetahui dasar
penyampaian informasi yang diberikan oleh Mendagri Ano tentang
keterlibatan WNI pada bom bunuh diri," ungkapnya.
Lebih lanjut,
Sinyo mengeluhkan sikap Pemerintah Filipina yang kerap menuding WNI
terlibat dalam aksi bom bunuh diri di negara berjuluk 'Lumbung Padi' itu
tanpa adanya bukti yang kuat.
Ia bahkan mencatat sudah dua kali pemerintah Filipina melontarkan
tuduhan tersebut. Pertama, kata dia, WNI dituduh terlibat pada peledakan
Bom di Kota Lamitan pada 31 Juli 2018 dan Bom jelang tahun baru 2019 di
Cotabato CIty.
"Namun hasil investigasi menunjukkan tidak ada
keterlibatan WNI dalam dua pemboman tersebut sebagaimana pernyataan
aparat [Filipina] seperti pemberitaan di media," kata dia.
Guna
merespon hal itu, Sinyo menyatakan Badan Intelijen Filipina (NICA)
berencana membuka investigasi gabungan dengan pemerintah RI secara
informal untuk mendalami kasus tersebut.
Tak hanya itu, KBRI Manila berencana akan mengirimkan nota verbal
kepada Pemerintah Filipina untuk menyatakan keberatan dan meminta
klarifikasi langsung terkait tuduhan tersebut.
"Akan mengirimkan
nota verbal untuk meminta klarifikasi kepada pemerintah Filipina serta
menyatakan keberatan karena tak adanya notifikasi dari pemerintah
Filipina mengenai dugaan keterlibatan WNI pada peristiwa serangan di
Jolo," kata dia.
Credit
cnnindonesia.com