CB, RIYAD — Jaksa Agung Arab Saudi mengatakan
setidaknya 100 miliar dolar AS telah disalahgunakan melalui korupsi
sistemik dan penggelapan dalam beberapa dekade terakhir.
Dilansir dari BBC, Kamis (9/11), Sheikh Saud al-Mojeb
mengatakan, 201 orang ditahan untuk diinterogasi sebagai bagian dari
upaya antikorupsi yang dimulai Sabtu malam.
Dia tidak merinci nama-nama yang ditahan, tapi mereka dilaporkan termasuk pangeran senior, menteri dan pengusaha berpengaruh. "Bukti untuk melakukan kesalahan ini sangat kuat," kata Sheikh Mojeb.
Dia juga menekankan aktivitas komersial normal di kerajaan tidak terpengaruh oleh tindakan korupsi ini karena yang dibekukan adalah rekening pribadi tersangka korupsi.
Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan penyelidikan oleh komite antikorupsi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman berjalan sangat cepat.
Dia mengumumkan 208 orang telah dipanggil untuk diinterogasi sejauh ini, dan tujuh di antaranya telah dibebaskan tanpa tuduhan.
"Potensi skala praktik korupsi yang telah ditemukan sangat besar. Berdasarkan penyelidikan kami selama tiga tahun terakhir, kami memperkirakan bahwa setidaknya 100 miliar dolar AS telah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan sistematis selama beberapa dekade,"kata jaksa agung.
Sheikh Mojeb menambahkan komite tersebut memiliki mandat hukum yang jelas untuk melanjutkan penyelidikan ke tahap berikutnya.
"Ada banyak spekulasi di seluruh dunia mengenai identitas individu yang bersangkutan dan rincian dakwaan terhadap mereka," tambahnya.
Menurutnya, untuk memastikan agar individu yang ditahan terus menikmati hak legal penuh yang diberikan di bawah hukum Saudi, maka pihak kerajaan tidak akan mengungkapkan rincian nama-nama lagi mulai saat ini.
Di antara nama yang dilaporkan ditahan adalah investor miliarder Pangeran Alwaleed bin Talal; Pangeran Miteb bin Abdullah, putra almarhum raja yang diberhentikan dari jabatannya sebagai kepala Garda Nasional pada Sabtu; dan saudaranya Pangeran Turki bin Abdullah, mantan gubernur provinsi Riyadh.
Dia tidak merinci nama-nama yang ditahan, tapi mereka dilaporkan termasuk pangeran senior, menteri dan pengusaha berpengaruh. "Bukti untuk melakukan kesalahan ini sangat kuat," kata Sheikh Mojeb.
Dia juga menekankan aktivitas komersial normal di kerajaan tidak terpengaruh oleh tindakan korupsi ini karena yang dibekukan adalah rekening pribadi tersangka korupsi.
Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan penyelidikan oleh komite antikorupsi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman berjalan sangat cepat.
Dia mengumumkan 208 orang telah dipanggil untuk diinterogasi sejauh ini, dan tujuh di antaranya telah dibebaskan tanpa tuduhan.
"Potensi skala praktik korupsi yang telah ditemukan sangat besar. Berdasarkan penyelidikan kami selama tiga tahun terakhir, kami memperkirakan bahwa setidaknya 100 miliar dolar AS telah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan sistematis selama beberapa dekade,"kata jaksa agung.
Sheikh Mojeb menambahkan komite tersebut memiliki mandat hukum yang jelas untuk melanjutkan penyelidikan ke tahap berikutnya.
"Ada banyak spekulasi di seluruh dunia mengenai identitas individu yang bersangkutan dan rincian dakwaan terhadap mereka," tambahnya.
Menurutnya, untuk memastikan agar individu yang ditahan terus menikmati hak legal penuh yang diberikan di bawah hukum Saudi, maka pihak kerajaan tidak akan mengungkapkan rincian nama-nama lagi mulai saat ini.
Di antara nama yang dilaporkan ditahan adalah investor miliarder Pangeran Alwaleed bin Talal; Pangeran Miteb bin Abdullah, putra almarhum raja yang diberhentikan dari jabatannya sebagai kepala Garda Nasional pada Sabtu; dan saudaranya Pangeran Turki bin Abdullah, mantan gubernur provinsi Riyadh.
Credit REPUBLIKA.CO.ID
Uang yang Dikorupsi Besar-besaran di Saudi Capai Rp1.350 Triliun
RIYADH
- Jumlah angka finansial yang disalahgunakan dari berbagai jenis
korupsi secara besar-besaran dan selama beberapa dekade di Arab Saudi
mencapai sekitar USD100 miliar atau lebih dari Rp1.350 triliun.
Data itu dibeberkan Jaksa Agung Arab Saudi Sheikh Saud al-Moaajeb. Menurutnya, sudah 208 orang yang ditangkap terkait penyelidikan dugaan korupsi. Dari jumlah itu, tujuh orang di antaranya dibebaskan karena tak cukup bukti.
”Berdasarkan penyelidikan kami selama tiga tahun terakhir, kami memperkirakan bahwa setidaknya USD100 miliar telah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan sistematis selama beberapa dekade,” kata al-Moaajeb, dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari kantor berita negara Saudi, SPA, Jumat (10/11/2017).
”Potensi skala praktik korupsi yang telah ditemukan sangat besar,” ujar al-Moaajeb, yang juga anggota Komite Tertinggi Pemberantasan Korupsi Arab Saudi.
Al-Moaajeb menegaskan bahwa aktivitas komersial dari ratusan orang yang ditangkap belum terpengaruh oleh penyelidikan. ”Perusahaan dan bank (pihak yang bersangkutan) bebas melanjutkan transaksi seperti biasa,” katanya.
Jaksa Agung menekankan bahwa hanya rekening bank pribadi yang bersangkutan yang dibekukan. Menurut laporan AP, diperkirakan 1.700 rekening bank telah terpengaruh oleh penyelidikan.
Tindakan keras terhadap korupsi di Saudi ini terjadi setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salmandiberi kontrol atas Komite Tertinggi Pemberantasan Korupsi yang baru saja dibentuk. Sejak Sabtu pekan lalu, sudah 11 pangeran, empat menteri senior, belasan mantan menteri, banyak pejabat dan pengusaha ditangkap atas tuduhan korupsi atau penyimpangan keuangan.
Langkah tersebut, yang secara luas dianggap sebagai upaya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan sebelum putra mahkota mengambil alih takhkta setiap saat. Langkah itu dipuju Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
”Saya sangat percaya diri pada Raja Salman dan Putra Mahkota Arab Saudi, mereka tahu persis apa yang mereka lakukan,” tulis Trump di Twitter.
Sementara itu, Raja Salman telah menunjuk sekitar 30 hakim pada tingkat yang berbeda di Kementerian Kehakiman Saudi. Dalam sebuah perintah Kerajaan, dia juga mempromosikan 26 hakim lainnya.
Data itu dibeberkan Jaksa Agung Arab Saudi Sheikh Saud al-Moaajeb. Menurutnya, sudah 208 orang yang ditangkap terkait penyelidikan dugaan korupsi. Dari jumlah itu, tujuh orang di antaranya dibebaskan karena tak cukup bukti.
”Berdasarkan penyelidikan kami selama tiga tahun terakhir, kami memperkirakan bahwa setidaknya USD100 miliar telah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan sistematis selama beberapa dekade,” kata al-Moaajeb, dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari kantor berita negara Saudi, SPA, Jumat (10/11/2017).
”Potensi skala praktik korupsi yang telah ditemukan sangat besar,” ujar al-Moaajeb, yang juga anggota Komite Tertinggi Pemberantasan Korupsi Arab Saudi.
Al-Moaajeb menegaskan bahwa aktivitas komersial dari ratusan orang yang ditangkap belum terpengaruh oleh penyelidikan. ”Perusahaan dan bank (pihak yang bersangkutan) bebas melanjutkan transaksi seperti biasa,” katanya.
Jaksa Agung menekankan bahwa hanya rekening bank pribadi yang bersangkutan yang dibekukan. Menurut laporan AP, diperkirakan 1.700 rekening bank telah terpengaruh oleh penyelidikan.
Tindakan keras terhadap korupsi di Saudi ini terjadi setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salmandiberi kontrol atas Komite Tertinggi Pemberantasan Korupsi yang baru saja dibentuk. Sejak Sabtu pekan lalu, sudah 11 pangeran, empat menteri senior, belasan mantan menteri, banyak pejabat dan pengusaha ditangkap atas tuduhan korupsi atau penyimpangan keuangan.
Langkah tersebut, yang secara luas dianggap sebagai upaya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan sebelum putra mahkota mengambil alih takhkta setiap saat. Langkah itu dipuju Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
”Saya sangat percaya diri pada Raja Salman dan Putra Mahkota Arab Saudi, mereka tahu persis apa yang mereka lakukan,” tulis Trump di Twitter.
Sementara itu, Raja Salman telah menunjuk sekitar 30 hakim pada tingkat yang berbeda di Kementerian Kehakiman Saudi. Dalam sebuah perintah Kerajaan, dia juga mempromosikan 26 hakim lainnya.
Credit sindonews.com
Saudi Lacak Kekayaan Pangeran dan Menteri ke Uni Emirat Arab
Pangeran Alwaleed Bin Talal Bin Abdulaziz Al Saud.
CB, ABU DHABI -- Bank Sentral Uni Emirat Arab
(UEA), pada Kamis (9/11), meminta bank-bank di negaranya memberikan
rincinan rekening milik pejabat dan pangeran Arab Saudi yang ditahan
akibat kasus korupsi. Ini diyakini sebagai langkah awal untuk membekukan
aset serta kekayaan mereka oleh Arab Saudi.
UEA diketahui sebagai salah satu tempat utama bagi pejabat atau miliarder Saudi memarkirkan uang dan kekayaannya. Selain membuka rekening bank, mereka kerap membeli apartemen dan vila mewah di Dubai. Tak jarang pula yang berinvestasi di pasar saham.
Sejak Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz membentuk komite antikorupsi yang dikepalai Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pekan lalu, sejumlah menteri, mantan menteri, dan pangeran Arab Saudi telah dibekuk karena terlibat korupsi. Seluruh aset dan kekayaan mereka pun diburu untuk dibekukan.
Para bankir di Saudi meyakini bahwa para pejabat dan pangeran yang terlibat korupsi tidak hanya menimbun kekayaannya di dalam negeri saja, tapi juga mengirimnya ke luar negeri, seperti Swiss, Inggris, termasuk pula UEA.
Berkaitan atau tidak, Bank Sentral UEA, tiba-tiba meminta bank-bank di negaranya untuk memberikan rincian rekening milik 19 pejabat Saudi yang kini telah ditahan komite antikorupsi. Bankir komersial mengatakan Bank Sentral UEA tidak menjelaskan mengapa mereka menginginkan informasi rekening tersebut. Namun mereka meyakini tindakan ini dilakukan atas perintah Saudi.
Para bankir komersial UEA mengatakan bahwa mereka tidak diminta untuk membekukan rekening milik warga Saudi di institusinya masing-masing. Tapi mereka meyakini, permintaan informasi oleh Bank Sentral UEA mungkin merupakan awal dari tindakan tersebut. Kendati demikian pejabat Bank Sentral UEA belum memberikan komentar terkait hal ini.
Korupsi selama bertahun-tahun di Saudi dilaporkan telah menyedot kekayaan negara sebesar 800 miliar dolar AS. Sadar bahwa negaranya tak bisa bergantung terus menerus pada komoditas minyak, Saudi mulai berbenah dan mereformasi sistem perekonomiannya.
Langkah pertama dilakukan dengan membentuk komite antikorupsi yang dikepalai Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.Setelah resmi dibentuk, komite tersebut segera menangkap dan menahan 11 pangeran, empat menteri, serta puluhan mantan menteri karena diyakini terlibat kasus korupsi.
Aset serta kekayaan mereka dilacak untuk dibekukan. Pejabat Saudi di Riyadh mengatakan telah terdapat sekitar 1.700 rekening di bank domestik yang dibekukan sebagai tindak lanjut atas penangkapan pangeran, menteri,dan mantan menteri di negaranya.
Credit REPUBLIKA.CO.ID


Ibrahim
al-Assaf ditangkap atas dugaan korupsi perluasan Masjidil Haram.
Ibrahim al-Assaf yang juga direksi perusahaan minyak Saudi Aramco diduga
melakukan penggelapan dan mendapat keuntungan dari proyek perluasan
Masjidil Haram di Mekkah. Terkait proyek perluasan ini, Ibrahim al-Assaf
diduga memanfaatkan posisinya untuk mendapat keuntungan dalam transaksi
tanah. Namun belum ada detail lebih lanjut mengenai kasusnya.
Mantan
Gubernur Riyadh Pangeran Turki bin Abdullah dituduh melakukan korupsi
proyek Metro di Riyadh. Pangeran Turki dianggap telah memberikan kontrak
kepada perusahannya sendiri. Tak disebutkan berapa besar proyek
tersebut.
Pangeran
Miteb bin Abdullah yang juga Menteri Garda Nasional ditangkap oleh
Komite Anti-Korupsi Saudi karena diduga terlibat korupsi pengadaan
Walkie-Talkie senilai USD10 miliar (sekitar Rp135,2 triliun). Pangeran
Miteb diduga memberikan kontrak palsu kepada perusahaannya sendiri untuk
menggarap proyek tersebut. Selain itu, Pangeran Miteb juga diduga
terlibat dalam kongkalikong pengadaan perlengkapan militer antipeluru
senilai miliaran riyal. Miteb dianggap telah melakukan penggelapan dan
mempekerjakan karyawan 'hantu'.
Pangeran
Fahd adalah lulusan Staf Angkatan Laut AS dan Komando College. Dia
memegang gelar master dalam ilmu militer. Dia memiliki aktivitas bisnis
saat bertugas di pos ini. Dia menjadi komandan angkatan laut di Royal
Saudi Navy pada April 2002. Pada 20 April 2013, dia ditunjuk sebagai
wakil Menteri Pertahanan. Namun pada 17 Agustus 2013 dia digantikan oleh
Salman bin Sultan, putra almarhum Pangeran Sultan.
Turki
bin Nasser menjadi kepala operasi staf udara, proyek perisai perdamaian
dan proyek hawk perdamaian pada 1994. Dirinya kemudian menjabat sebagai
wakil komandan di Royal Saudi Air Force pada 1996. Setelah meninggalkan
angkatan udara, Turki bin Nasser dijadikan kepala presidensi
meteorologi dan lingkungan. The Guardian melaporkan Turki bin Nasser
memiliki hampir 200 mobil klasik, sebuah jet bisnis pribadi Boeing 20
juta pound, sebuah kapal pesiar besar, sebuah rumah mewah di Beverly
Hills dan beberapa rumah di berbagai kota seperti Barcelona, Riyadh,
Dharan dan London. Rumahnya di London adalah di Sussex Square, dekat
kawasan elite Hyde Park.
Adel
bin Muhammad Fakeih adalah seorang insinyur dan mantan Wali Kota
Jeddah. Jabatan yang pernah didudukinya antara lain Menteri Tenaga Kerja
(2010-2015), Menteri Kesehatan (2014) dan pada April 2015 diangkat
sebagai Menteri Ekonomi. Di luar pemerintahan, Fakieh adalah ketua Al
Jazeera Bank dan anggota dewan direksi Perdagangan dan Industri Kamar
Dagang di Jeddah. Dia menjabat sebagai anggota komisi berbagai
organisasi. Dalam laporannya situs marcopolis.net pada 2015 memasukkan
nama Fakeih sebagai salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Arab
Saudi. Kekayaan Fakieh ditaksir mencapai USD470 juta.
Khalid
al-Tuwaijri adalah Ketua Pengadilan Royal Arab Saudi di bawah Raja
Abdullah dan merupakan pemimpin tertinggi non-pangeran hingga
dilengserkan di era kekuasaan Raja Salman pada 2015. Raja Abdullah
menunjuknya sebagai Kepala Pengadilan Kerajaan pada 9 Oktober 2005.
Seiring waktu, ia juga menjadi Kepala Garda Kerajaan dan beberapa posisi
pengadilan lainnya. Di mata para penentangnya, al-Tuwaijiri dituduh
berusaha "menghancurkan negara dan menjalankan "proyek westernisasi" di
Arab Saudi.
Amr
Al-Dabbagh adalah seorang pengusaha, mantan menteri, dan penulis. Dia
adalah ketua dan CEO Grup Al-Dabbagh yang berbasis di Jeddah. Al-Dabbagh
adalah pendiri Yayasan Bintang, sebuah nirlaba yang ditujukan untuk
membantu anak-anak kurang beruntung, serta manajer di Philanthropy
University, Massive Open Online Course (MOOC) yang menjalin kerja sama
dengan Haas School of Business di University of California, Berkeley.
Mengutip
Al Jazeera, Komandan Angkatan Laut Arab Saudi Abdullah al-Sultan
digantikan oleh Fahad al-Ghali. Namun tidak ada alasan jelas soal
penyebab penggantiannya.
Bakr
bin Laden adalah anak dari pendiri SBG, Sheikh Mohammed bin Laden
Sayyid. Ayah Bakr memiliki sejumlah anak yang salah satunya Osama bin
Laden. SBG merupakan perusahaan konstruksi multinasional yang
'bermarkas' di Jeddah. SBG juga mengerjakan sejumlah proyek strategis
pemerintah. Pada 11 September 2015, terjadi kecelakaan crane proyek SBG
di Masjidil Haram, Mekkah. Sebanyak 118 orang tewas dan 400 lainnya
mengalami luka-luka. Akhir Oktober 2017 lalu Pengadilan Arab Saudi
memutuskan SBG sebagai penanggung jawab crane yang jatuh di Mekah dua
tahun lalu, tak perlu membayar ganti rugi terhadap korban karena
dianggap sebagai bencana alam.
Mohammad
al-Tobaishi adalah mantan kepala protokol di Royal Court. Saat ini
dirinya memimpin Valia Investments Inc, sebuah perusahaan modal ventura.
Seorang
pengusaha Arab Saudi dan ketua Middle East Broadcasting Centre (MBC).
Dia adalah pemilik saluran TV komersial pertama yang sukses di Timur
Tengah. Dia sebelumnya menolak untuk menjual stasiun TV MBC-nya ke putra
mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman.
Saoud al-Daweesh adalah mantan CEO Saudi Telecom Company SJSC (7010.SE) pada 2009. Namun pada 2012, Saoud mengundurkan diri.
Miliarder
Saudi yang memiliki kekayaan bersih per April 2016 diperkirakan
mencapai USD2,1 miliar. Dia adalah ketua dan pendiri Grup Dallah al
Baraka (DBHC), salah satu konglomerat terbesar di Timur Tengah. Dia juga
ketua Dewan Umum Bank Syariah dan Kamar Dagang Jeddah.
Miliarder
keturunan Etiopia dan Arab Saudi. Pada 2016 oleh Forbes kekayaan
bersihnya ditaksir sekitar USD10,9 miliar. Dia juga tercatat sebagai
orang terkaya di Ethiopia, warga negara Arab Saudi terkaya kedua di
dunia dan orang kulit hitam terkaya kedua di dunia. Kekayaannya berasal
dari bisnis real estate dan minyak. Dia adalah investor asing individual
terbesar di Ethiopia dan investor besar di Swedia.








