
Pengungsi
Rohingya tiba di pantai setelah melewati perbatasan dari Myanmar, di
Teknaf, Bangladesh, Minggu (15/10/2017). (REUTERS/Jorge Silva)
Washington (CB) – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex
Tillerson, mengatakan, Rabu (18/10), Washington menganggap militer
Myanmar bertanggung jawab atas krisis pengungsi Rohingya. Ia membuat
perbedaan antara rezim sipil Aung San Suu Kyi dengan militer negara
tersebut.
Setelah kembali mengadopsi sistem pemerintahan yang
dipilih rakyat, Myanmar kini memiliki pemerintah ganda karena militer
masih memegang kekuasaan yang besar dalam ranah keamanan dan di Negara
Bagian Rakhine, lokasi pembersihan etnis seperti dilaporkan oleh PBB.
“Kami sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa warga Rohingya di Myanmar,” ujar Tillerson.
“Saya
telah berdialog dengan Aung San Suu Kyi dari pemerintah sipil, seperti
yang Anda ketahui ini merupakan pemerintah berbagi kekuasaan.”
“Kami
menganggap kepemimpinan militer bertanggung jawab atas peristiwa yang
kini terjadi,” ujar Tillerson, seraya mengatakan dunia tidak akan
berdiam diri dan “hanya menonton kekejaman.”
Dalam tujuh pekan terakhir, lebih dari setengah juta warga Rohingya mengungsi dari Rakhine, Myanmar ke Bangladesh.
Nasib
yang menimpa warga Rohingya mengejutkan dunia. Para pengungsi mengaku
tentara dan warga Buddha Myanmar membantai dan memperkosa warga sipil
sebelum membakar desa-desa mereka.
Credit
antaranews.com
AS: Militer Myanmar Bertanggung Jawab atas Krisis Rohingya
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex
Tillerson, mengatakan bahwa pemimpin militer Myanmar bertanggung jawab
atas krisis Rohingya. (Reuters/Yuri Gripas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri
Amerika Serikat, Rex Tillerson, mengatakan bahwa pemimpin militer
Myanmar bertanggung jawab atas krisis Rohingya.
"Kami benar-benar
menganggap pimpinan militer bertanggung jawab atas apa yang terjadi,"
ujar Tillerson yang kemudian mengatakan bahwa AS "luar biasa prihatin"
dengan situasi ini.
Meski demikian, Tillerson tak menjelaskan AS
akan mengambil tindakan terhadap pemimpin militer Myanmar atas kekerasan
yang sudah menyebabkan lebih dari 500 ribu Rohingya kabur ke Bangladesh
tersebut.
Akhirnya, 43 anggota parlemen AS pun mendesak pemerintahan Trump
untuk memberlakukan kembali larangan bepergian terhadap sejumlah
pemimpin militer Myanmar.
Mereka juga mendesak pemerintah mempersiapkan sanksi terhadap para
pemimpin militer Myanmar yang bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan
ini.
Desakan itu disampaikan melalui secarik surat kepada
Tillerson. Atas nama sejumlah anggota Partai Republik dan Demokrat di
Dewan Perwakilan, mereka menyebut "otoritas Myanmar menyangkal apa yang
terjadi" dan mendesak Washington "mengambil langkah tegas."
Isu
Rohingya ini kembali menjadi perhatian setelah bentrokan antara kelompok
bersenjata dan militer Myanmar di Rakhine pecah pada 25 Agustus lalu.
Bentrokan
itu dipicu oleh serangan kelompok bersenjata Pasukan Pembela Rohingya
Arakan (ARSA) ke sejumlah pos polisi dan satu pangkalan militer di
Rakhine.
Sejak
saat itu, militer Myanmar melakukan operasi pembersihan. Alih-alih
menangkap kelompok bersenjata, aparat yang dibantu dengan warga lokal
diduga mengusir paksa etnis Rohingya dengan menyiksa, membakar rumah,
hingga membunuh mereka.
Akibat konflik ini, 1.000 orang terutama
Rohingya tewas, sementara lebih dari 500 ribu lainnya kabur ke
Bangladesh. PBB menganggap tragedi kemanusiaan ini sebagai upaya
pembersihan etnis secara sistematis.
"Seseorang, jika laporan ini
benar, akan bertanggung jawab atas itu. Semua keputusan ada di tangan
pimpinan militer Myanmar. Peran apa yang ingin mereka mainkan di masa
depan Myanmar?" kata Tillerson.
Credit
cnnindonesia.com