Senin, 11 Februari 2019

Krisis Venezuela, AS dan Rusia Adu Resolusi di DK PBB



Krisis Politik Venezuela
Krisis Politik Venezuela
Foto: Republika

AS ingin agar bantuan kemanusiaan buat rakyat Venezuela bisa masuk.



CB, NEWYORK -- Amerika Serikat menyerahkan rancangan resolusi tentang Venezuela ke Dewan Keamanan PBB. Rusia yang selama ini mendukung Presiden Nicolas Maduro tak tinggal diam dan membuat proposal saingan.


Seperti dilansir Aljazirah, Senin (11/2), resolusi AS meminta agar bantuan internasional dapat dikirimkan dan Venezuela segera melakukan pemilihan umum.

"Sangat khawatir dengan kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan yang dilakukan pasukan keamanan Venezuela terhadap pengunjuk rasa yang tak bersenjata dan damai," isi rancangan resolusi AS tersebut.

AS juga mengungkapkan dukungan mereka kepada badan legislatif Venezuela, National Assembly sebagai satu-satu institusi demokrasi di Venezuela. AS meminta masyarakat internasional untuk mengakui ketua oposisi dan ketua National Assembly Juan Guaido sebagai presiden sementara.


Rusia pun memberikan resolusi alternatif yang mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap intergritas wilayah dan independensi politik Venezuela.  Rancangan resolusi Rusia itu mengkritik semua bentuk intervensi terhadap yuridiksi domestik Venezuela.


Sementara itu belum ada tanggal pasti kapan pemungutan suara terhadap rancangan AS dilakukan. Sampai saat ini proses negosiasi masih terus dilakukan. Rusia kemungkinan besar akan memveto resolusi AS.



Di Caracas, militer Venezuela disebut semakin terpecah. Direktur Rumah Sakit Militer di Maracaibo, Kolonel Ruben Paz Jimenez mengumumkan dukungnya terhadap Guaido.


Dalam video yang dibagikan di media sosial petinggi militer itu mengatakan '90 persen' rekannya di militer tidak akan senang dengan situasi yang terjadi.

Jimenez juga meminta pasukan militer untuk membiarkan bantuan kemanusiaan masuk ke Venezuela. Pekan lalu jenderal Angkatan Udara Venezuela juga menyatakan dukungnya kepada Guaido.

Bantuan kemanusiaan AS sudah ditiba di Cucuta, kota perbatasan Kolombia dengan Venezuela. Tapi Presiden Nicolas Maduro melarang bantuan kemanusiaan itu masuk ke dalam negaranya. Walaupun hiperinflansi dan kelaparan merebak di mana-mana.

"Venezuela tidak akan membiarkan pertunjukan bantuan kemanusiaan karena kami tidak mengemis kepada siapa pun, Venezuela tidak menderita krisis kemanusiaan yang dibuat Washington selama empat tahun terakhir hanya untuk menjustifikasi intervensi mereka ke negara kami," kata Maduro.

Maduro menyalahkan sanksi AS yang menyebabkan Venezuela kekurangan makan dan obat-obatan. Padahal sanksi AS hanya mengincar perusahaan minyak Venezuela PDVSA, agar Maduro tidak dapat menggunakan uang dari perusahaan itu untuk mempertahankan kekuasaannya.  "Bebaskan uang yang telah diblokir dan diasingkan, ini permainan yang mengerikan," kata Maduro.

Maduro mengatakan tawaran bantuan kemanusiaan menjadi pesan untuk mempermalukan rakyat Venezuela.


Pada Jumat (8/2) Guaido mengatakan ia siap untuk mengambil langkah yang diperlukan termasuk memberikan otoritas kepada militer AS melakukan intervensi untuk mengusir Maduro dan meringankan krisis kemanusiaan di Venezuela.





Credit  republika.co.id