Kamis, 21 Februari 2019

Hong Kong Ajak Indonesia Ambil Peluang Bisnis di 2 Mega Proyek



irektur Jenderal Kantor Ekonomi dan Perdagangan Hong Kong atau HKETO di Jakarta, Law Kin-wai membuka resepsi perayaan Tahun Baru Imlek 2019. [HKETO]
irektur Jenderal Kantor Ekonomi dan Perdagangan Hong Kong atau HKETO di Jakarta, Law Kin-wai membuka resepsi perayaan Tahun Baru Imlek 2019. [HKETO]

CB, Jakarta - Direktur Jenderal Kantor Ekonomi dan Perdagangan Hong Kong atau HKETO di Jakarta, Law Kin-wai mengajak sektor bisnis, pengusaha, dan profesional Indonesia untuk mengambil peluang besar pada program Belt and Road Initiative dan proyek Guangdong-Hong Kong- Macau Bay Area.
Dalam pidato di acara resepsi perayaan Tahun Baru Imlek dengan berbagai kalangan di Jakarta, Selasa malam, 19 Februari 2019, Law menjelaskan program The Belt anda Road Initiative menyediakan berbagai pendorong dalam berbagai sektor, termasuk perbankan, asurani, pembangunan properti, periklanan, pelabuhan dan lostik, serta juga dengan pelatihan profesional.

Law berharap Indonesia dapat mmanfaatkan program ini. Sebaliknya, investasi Hong Kong di Indonesia menempati urutan terbesar ke 4.
"Saya percaya bahwa Indonesia dan Cina, termasuk Hong Kong akan membangun ikatan lebih kuat dalam investasi, ekonomi, perdagangan, budaya, pendidikan dan turisme," kata Law.

Sementara, untuk proyek pembangunan Greater Bay Area di 3 wilayah yakni Guangdo, Hong Kong, dan Macao juga dianggap berpotensi besar untuk bisnis, baik lokal maupun asing."Kami mendorong teman-teman Indonesia kami untuk mengekplor potensi di Greater Bay Area," kata Law.

Law juga menyinggung tentang proses pembahasan kesepakatan Perdagangan Bebas antara Hong Kong dan ASEAN yang sudah ditahap akhir, yakni ratifikasi bagi setiap anggota ASEAN dan selanjutnya segera dituangkan dalam peraturan presiden masing-masing negara.

Menurut Law, dengan adanya legalitas dari Kesepakatan Perdagangan Bebas, memunculkan peluang bisnis baru dan perdagangan yang lebih besar serta aliran investasi ke Hong Kong dan ASEAN, tentu saja termasuk Indonesia.




Credit  tempo.co