Selasa, 01 November 2016

Jet Siluman J-20 Buka Pameran Dirgantara Terbesar China

 
Jet Siluman J-20 Buka Pameran Dirgantara Terbesar China J-20 adalah jet tempur yang mampu menghindari tangkapan radar, bermesin ganda, yang diproduksi oleh Chengdu Aerospace Corporation. (China Daily/via Reuters)
 
Jakarta, CB -- China memamerkan jet tempur siluman Chengdu J-20 untuk pertama kalinya di hadapan publik pada Selasa (1/11), dalam gelaran akbar bertajuk Airshow China. Pameran yang digelar di Kota Zhuha itu dihadiri oleh puluhan produsen dan pembeli pesawat.

Dua pesawat jet yang disebut-sebut sebagai tandingan jet tempur siluman Amerika Serikat itu terlihat terbang di angkasa, melintasi para petinggi dan eksekutif industi penerbangan, serta ratusan pengunjung yang memadati arena.

Penonton dibuat tercengang dengan raungan mesin dan manuver yang dilakukan oleh kedua jet tersebut dalam pertunjukkan yang berlangsung selama enam puluh detik itu.

"Ini benar-benar merupakan kemajuan besar dalam kemampuan tempur China," ujar Bradley Perrett dari Aviation Week, seperti dikutip Reuters.

J-20 adalah jet tempur produksi Chengdu Aerospace Corporation yang mampu menghindari tangkapan radar dan bermesin ganda.

Jet yang dirakit untuk menandingi jet tempur siluman Raptor F-22 milik Amerika Serikat itu pertama kali uji terbang pada 11 Januari 2011 dan diprediksi beroperasi pada 2018.

Namun, beberapa pakar menganggap terlalu dini untuk menyandingkan J-20 dengan F-22 Raptor buatan perusahaan AS, Lockheed Martin, yang memiliki spesifikasi penghindar radar tersebut.

Di sisi lain, seorang insinyur penerbangan yang menonton pertunjukan tersebut, Cao Qingfeng, mengatakan bahwa J-20 sangat menawan. Menurut Cao, pertunjukan itu memperlihatkan semakin kuatnya industri pesawat China.

"Ini menunjukkan kini mereka percaya diri untuk tampil di hadapan publik," katanya.

Melalui perhelatan ini, China disebut-sebut ingin menunjukkan ambisi mengembangkan pertahanan dan penerbangan sipilnya. China berambisi untuk mengambil alih pasar penerbangan dari tangan AS dalam jangka waktu satu dekade ke depan.





Credit  CNN Indonesia