CB – Badan Tenaga Nuklir Nasional atau Batan
menegaskan bahwa tidak ada laporan mengenai ilmuwan asal Indonesia
bergabung dalam proyek senjata nuklir Korea Utara.
Kepala Batan,
Djarot Sulistio Wisnubroto, mengatakan, lembaganya tetap memantau adanya
informasi tersebut serta memberikan perhatian khusus terkait uji coba
bom hidrogen yang dilakukan Korea Utara beberapa waktu lalu.
"Sampai sekarang belum ada laporan, dan saya berharap jangan sampai
ada (ilmuwan nuklir Indonesia bergabung di Korut)," kata pria lulusan
Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Rabu, 27 September
2017.
Djarot pun sudah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri
Retno LP Marsudi dalam menyikapi tindakan nekad negeri paling tertutup
di dunia tersebut.
"Apa yang dilakukan (Korut) itu (uji coba bom
hidrogen) adalah tindakan ‘gila’. Kita juga sudah menyatakan pendapat
resmi atas apa yang sudah dilakukan Korut," dia menegaskan.
Bom
hidrogen merupakan versi yang lebih maju dari bom atom dan tingkat
kesulitannya sangat tinggi. Selain itu, bom hidrogen memiliki perbedaan
secara kimia.
Bom ini berbeda dengan bom eksplosif yang digunakan
teroris internasional yang kerap digunakan di Indonesia atau negara
lain. Dampak dari ledakan bom hidrogen pun ribuan kali lebih dahsyat
ketimbang bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, saat Perang Dunia
II.
CB – "Amerika Serikat telah menghina
Korea Utara. Pemimpin Agung (Kim Jong-un) sedang mempertimbangkan
mengujicoba bom hidrogen di Samudera Pasifik. Ini bisa jadi ledakan yang
paling kuat di Pasifik.”
Itulah pernyataan resmi Menteri
Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong-ho, dalam Sidang Tahunan Perserikatan
Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.
Pernyataan Ri ini sebagai tanggapan atas ancaman Presiden AS Donald
John Trump untuk menghancurkan Korea Utara secara total dan menyebut
Jong-un sebagai 'Manusia Rudal'.
Andaikata Korea Utara benar-benar meledakkan bom hidrogen di Samudera Pasifik, apa yang akan terjadi?
Profesor
Matematika Terapan dari NYU, Oliver Bühler, mengatakan, ledakan di
bawah air atau ledakan di atas tanah akibat uji coba bom hidrogen akan
menciptakan ombak dan getaran.
"Keduanya sangat kuat.
Pascaledakan, ombak atau getaran memancar keluar dan membawa energi ke
atmosfer sebesar 140 kiloton. Ini lebih tinggi dari bom yang dijatuhkan
di Hiroshima dan Nagasaki, yang masing-masing membawa 15 dan 21 kiloton
energi," kata Bühler, seperti dikutip Motherboard, Rabu, 27 September 2017.
Kendati
demikian, Bühler memastikan ombak tidak akan menyebabkan tsunami.
Sebab, usai ledakan ombak akan cepat memecah atau menyebar.
Akan
tetapi, partikel radioaktif akan semakin berisiko ketika berada di dekat
tanah atau air. Ledakan nuklir dapat menyedot kotoran, puing, air, dan
bahan lainnya serta menciptakan dampak radioaktif yang lebih luas.
Material
ini kemudian naik hingga atmosfer dan akan menyebar sejauh ratusan
kilometer. Ia juga meyakini bahwa dampak terbesar dari uji coba nuklir
bagi manusia adalah psikologis.
"Ketika Anda 'melempar' radiasi ke
mana saja, maka orang-orang segera mengubah kebiasaan hidup mereka,"
paparnya. Mulai dari tidak memakan makanan dari laut seperti ikan atau
bertamasya ke pantai sembari berenang.
"Hal-hal ini mungkin tidak
didukung oleh sains, tapi jelas menimbulkan kepanikan. Apalagi
kejadiannya berada di wilayah penduduk padat," tutur dia.
Intinya,
Bühler bersama sejumlah ilmuwan, menekankan betapa sulitnya memprediksi
konsekuensi jangka panjang dari hasil pengujian detonasi nuklir.
Meski
hingga kini belum terungkap di mana lokasi sesungguhnya uji coba
tersebut, pernyataan Ri memberi kesan bahwa Pyongyang tengah menyiapkan
ledakan yang melampaui uji coba yang pernah dilakukan oleh AS.
Menteri Pertahanan AS Jim Mattis (REUTERS/Adnan Abidi)
Kabul - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Jim Mattis
melakukan kunjungan mendadak ke Kabul, Afghanistan. Sedikitnya enam
roket mendarat di dekat Bandara Internasional Kabul setelah pesawat yang
membawa Mattis mendarat.
Dituturkan juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Najib Danish, kepada AFP,
Rabu (27/9/2017), sejumlah roket diluncurkan dan jatuh di dekat bagian
militer di kompleks Bandara Kabul pada Rabu (27/9) waktu setempat.
Danish menyatakan, tidak ada korban jiwa akibat roket itu.
Kepolisian
setempat telah mengisolasi lokasi tersebut. Penyelidikan tengah
dilakukan untuk mencari tahu lokasi persis asal roket diluncurkan. Tidak
ada penerbangan yang dibatalkan atau ditunda akibat serangan roket ini.
Situasi dekat Bandara Kabul usai serangan roket Foto: REUTERS/Mohammad Ismail
Secara terpisah, kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan roket itu. Melalui sayap media mereka, AMAQ, seperti dilansir Reuters, ISIS menyebut 'sejumlah penyusup' menggunakan beberapa roket SPG-9 dan mortir dalam serangan itu.
Serangan
roket ini terjadi beberapa jam setelah Mattis tiba di Kabul. Mattis
dilaporkan tidak berada di bandara saat serangan roket terjadi. Mattis
menjadi anggota kabinet pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang
mengunjungi Afghanistan.
Kunjungan mendadak Mattis di Kabul ini
dilakukan setelah Trump mengumumkan strategi baru untuk Afghanistan.
Trump berjanji meningkatkan operasi militer terhadap Taliban di
Afghanistan.
Situasi dekat Bandara Kabul usai serangan roket Foto: REUTERS/Mohammad Ismail
Mattis
mengatakan AS akan mengirimkan 3 ribu tentara tambahan ke Afghanistan,
untuk membantu melatihkan tentara Afghanistan yang bertempur melawan
Taliban dan kelompok militan lainnya. Diketahui saat ini ada 8.400
tentara AS di Afghanistan, yang kebanyakan menjadi penasihat militer
bagi pasukan bersenjata negara tersebut.
Bangkok - Mantan Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, dijatuhi vonis 5 tahun penjara secara in-absentia dalam kasus subsidi beras. Yingluck melarikan diri ke luar negeri sejak 25 Agustus lalu.
Seperti dilansir Reuters dan AFP,
Rabu (27/9/2017), pembacaan putusan untuk kasus subsidi beras yang
menjerat Yingluck seharusnya digelar pada 25 Agustus, namun adik mantan
Perdana Menteri Thaksin Shinawatra itu tidak hadir.
Ketidakhadiran
Yingluck saat itu mengejutkan ratusan pendukungnya yang telah menunggu
di pengadilan. Sejumlah ajudan menyebut Yingluck kabur keluar dari
Thailand karena khawatir dijatuhi vonis berat.
Sidang pembacaan putusan akhirnya digelar oleh Mahkamah Agung Thailand pada Rabu (27/9) secara in-absentia,
atau tanpa dihadiri terdakwa. Dalam putusan pengadilan, Yingluck
dinyatakan bersalah atas dakwaan melakukan kelalaian dalam pelaksanaan
kebijakan subsidi beras yang gagal.
"Pengadilan menyatakan
terdakwa bersalah atas dakwaan yang dijeratkan... pengadilan menjatuhkan
vonis 5 tahun terhadapnya dan pengadilan juga sepakat secara bulat
bahwa vonis itu tidak ditunda pelaksanaannya," tegas hakim yang
membacakan putusan pengadilan.
Keberadaan Yingluck masih belum diketahui pasti. Bulan lalu, Reuters melaporkan Yingluck berada di Dubai, Uni Emirat Arab. Sang kakak, Thaksin, dilaporkan memiliki rumah di Dubai.
Yingluck
menjabat PM Thailand setelah memenangkan pemilu tahun 2011. Dia
memperkenalkan kebijakan subsidi beras yang populer di kalangan petani,
namun disebut memicu kerugian negara hingga miliaran dolar Amerika.
Pemerintahan Yingluck dikudeta oleh militer Thailand tahun 2014.
Berdasarkan jumlah penduduk, Korea Utara berada di peringkat ke-52 namun memiliki kekuatan militer keempat terbesar di dunia.
Di tengah retorika
saling ancam antara Korea Utara dan Amerika Serikat, tidak jelas
bagaimana pendapat warga Korea Utara atas perang kata-kata itu karena
rezim Kim Jong-un mencengkeram kehidupan warga, antara lain dengan
menutup akses untuk informasi dari luar.
Negara itu terisolasi
dan sekaligus tertinggal di Abad ke-21 ini. Tak mudah mendapatkan
data-data dari Korea Utara dan sering kali hanya berupa perkiraan untuk
mencerminkan kehidupan di sana.
BBC menurunkan sembilan informasi grafis untuk membandingkan kondisi di Korea Utara dan Selatan.
Kim Il-sung mendirikan Korea Utara pada tahun 1948
dan dinasti keluarganya kemudian memerintah dengan peralihan kekuasaan
dari ayah ke anak laki-laki.
Dalam periode yang sama, Korea
Selatan sudah menjalani revolusi, beberapa kudeta, maupun pemilihan
umum. Total 12 presiden sudah memimpin Korea Selatan dalam 19 periode
pemerintahan.
Tiga juta telepon genggam mungkin banyak namun di
sebuah negara dengan 25 juta jiwa, artinya hanya sekitar satu telepon
genggam untuk setiap 10 orang di Korea Utara. Sebagian pemilik telepon
genggam kemungkinan berada di ibu kota Pyongyang.
Sementara di
Korea Selatan dengan penduduk 51 juta jiwa, malah lebih banyak pelanggan
telepon genggam daripada jumlah total penduduk.
Pasar perusahaan
jasa telepon genggam Koryolink berkembang di Korea Utara walau amat
terbatas. Perusahaan itu didirikan berdasarkan kemitraan dengan
perusahaan telekomunikasi asal Mesir, Orascom.
Koryolink sempat menjadi satu-satunya operator, namun belakangan Korea Utara mendirikan satu perusahaan lain, Byol.
Selain
terbatasnya telepon genggam, sebagian besar warga Korea Utara hanya
boleh menggunakan layanan internet negara, yang diawasi dengan ketat.
Mungkin terdengar sebagai mitos, namun beberapa
penelitian memperlihatkan bahwa secara rata-rata pria Korea Utara lebih
pendek dibandingkan pria Korea Selatan.
Profesor Daniel
Schwekendiek dari Universitas Sungkyunkwan di Seoul meneliti tinggi para
pengungsi Korea Utara yang menerobos ke Korea Selatan dan menemukan
perbedaan sekitar 3cm hingga 8cm.
Schwekendiek menyatakan bahwa
perbedaan tinggi itu tidak bisa dikaitkan dengan faktor genetika karena
kedua warga berasal dari 'keluarga yang sama'.
Dia juga menolak pandangan bahwa para pengungsi kecenderungannya lebih miskin sehingga lebih pendek.
Diperkirakan kekurangan pangan menjadi penyebab utama kenapa orang di Korea Utara lebih pendek dibanding orang Korea Selatan.
Gambar-gambar dari ibu kota Korea Utara, Pyongyang,
sering kali menghadirkan jalan yang lebar, licin, dan lenggang namun di
luar ibu kota situasinya berbeda.
Korea Utara memiliki jalan
sepanjang 25.554km berdasarkan data pada tahun 2006 namun hanya sekitar
3% yang beraspal atau hanya 724km.
Diperkirakan hanya 11 dari
1.000 orang Korea Utara yang memiliki mobil, yang artinya adalah antrean
panjang di halte bus bagi orang yang ingin bepergian.
Korea Utara mengandalkan batubara untuk menopang
perekonomiannya namun sulit menghitung nilainya secara akurat karena
data berasal dari negara-negara penerima batubara tersebut.
Sebagian
besar batubara asal Korea Utara diekspor ke Cina, yang sudah
memperlakukan larangan impor mulai Februari 2017. Namun beberapa
pengamat meragukan pelaksanaan larangan impor itu di lapangan.
"Ada
beberapa orang yang menelusuri jalur kapal dan melihat kapal-kapal
Korea Utara merapat di beberapa pelabuhan batubara di Cina setelah
larangan diterapkan. Saya yakin Cina mengurangi impor batubara namun
tidak menghentikan sama sekali," kata Kent Boydston, peneliti di
Peterson Institute for International Economics.
Hingga tahun 1973, Korea Utara dan Selatan amat seimbang jika dilihat dari perekonomian.
Namun
setelah itu, Korea Selatan meroket menjadi salah satu negara produsen
penting di dunia, dengan perusahaan seperti Samsung dan Hyundai menjadi
merek global.
Sementara Korut tampaknya mandek pada tahun 1980-an dengan sistem perekonomian terpusat yang kaku.
Walau merupakan negara yang berada di peringkat
ke-52 dari jumlah penduduk, Korea utara memiliki kekuatan militer
keempat terbesar di dunia.
Anggaran militer diperkirakan mencapai
25% dari GDP dan hampir setiap warga Korea Utara mengikuti latihan
milter dalam berbagai bentuk.
Serangkaian bencana kelaparan pada akhir 1990-an menyebabkan turunnya
tingkat harapan hidup di Korea Utara, namun sebenarnya tanpa bencana
itupun, usia rata-rata warga Korea Utara lebih singkat hampir 12 tahun.
Kekurangan pangan yang berkelanjutan merupakan salah satu faktor yang membuat tingkat harapan hidup di Korea Utara lebih rendah.
Tahun 2017, tingkat kelahiran di Korea Seatan mencapai yang terendah
walau selama satu dekade berupaya untuk mendongkrak tingkat kelahiran.
Pemerintah
Seoul sudah menyalurkan anggaran sebesar US$70 miliar atau sekitar
Rp936 triliun untuk bonus bagi kelahiran bayi, perpanjangan cuti
kelahiran, dan layanan kesehatan bagi kesuburan.
Drone untuk layanan taksi terbang terlihat di Dubai, Uni Emirat Arab, Senin 25 September 2017. Kredit: Reuters
CB, Jakarta - Dubai melakukan uji terbang drone
pada hari Senin, 25 September 2017, untuk layanan taksi terbang tak
berawak pertama di dunia. Ini merupakan sebuah rencana ambisius kota Uni
Emirat Arab untuk memimpin dunia Arab dalam inovasi.
Taksi terbang yang dikembangkan oleh perusahaan drone Jerman
Volocopter menyerupai kabin helikopter dua kursi yang berada di bawah
sebuah ring besar yang dilengkapi 18 baling-baling.
Drone itu tidak berpenumpang untuk uji coba perdananya dalam sebuah
acara yang dirancang untuk Putra Mahkota Dubai Sheikh Hamdan bin
Mohammed.
Dirancang untuk terbang tanpa kontrol jarak jauh dan dengan durasi
penerbangan maksimum 30 menit, drone ini dilengkapi dengan banyak
pengaman jika terjadi masalah, seperti baterai cadangan, rotor dan,
untuk skenario terburuk, beberapa parasut.
Volocopter bersaing dengan lebih dari selusin perusahaan Eropa dan AS
yang didanai dengan baik. Masing-masing memiliki visi terinspirasi
fiksi ilmiah untuk menciptakan bentuk baru transportasi perkotaan yang
merupakan persilangan antara mobil listrik tanpa sopir dan pesawat yang
lepas landas dan mendarat secara vertikal untuk jarak pendek.
Pesertanya termasuk raksasa kedirgantaraan Airbus, yang bermaksud
untuk meluncurkan taksi terbang pada tahun 2020; Kitty Hawk, perusahaan
yang didukung oleh pendiri Google Larry Page; dan Uber, yang bekerja
sama dengan mitranya dalam strategi taksi terbangnya.
"Implementasinya dilakukan dengan menggunakan ponsel cerdas Anda,
sebuah aplikasi, dan memerintahkan Volocopter ke voloport berikutnya di
dekat Anda. Volocopter akan datang dan secara otonom menjemput Anda dan
membawa Anda ke tempat tujuan Anda," kata CEO Florian Reuter.
"Drone ini sudah mampu terbang berdasarkan jalur GPS hari ini, dan
kami akan menerapkan kemampuan indra penuh, juga menangani hambatan yang
tidak diketahui di jalan," tambahnya. Ia mengatakan bahwa pengembang
bermaksud untuk memulai taksi ini dalam waktu lima tahun.
Dalam penerbangan uji coba hari Senin, drone itu melayang naik
sekitar 200 meter dan berputar sekitar lima menit melewati hamparan
pasir yang mengepul dari pantai Teluk.
Sheikh Hamdan dan rombongannya bertepuk tangan dari lokasinya saat drone taksi terbang itu turun.
CB, Jakarta - Misteri
antariksa yang mungkin belum terkuak selama ini adalah bagaimana jika
bulan terbuat dari emas? Pertanyaan tersebut muncul di Quora,
sebuah situs pertukaran pengetahuan yang mengumpulkan
pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya pada topik-topik tertentu. Corey
Powell, seorang penulis buku dan editor sains di laman berita Aeon mencoba menjawab permasalah tersebut. Jika bulan terbuat dari emas Kepadatan
emas yang tinggi akan menyebabkan massa bulan emas tujuh kali lebih
tinggi dari bulan kita saat ini. Bulan emas akan menyebabkan gravitasi
yang lebih tinggi. Jika memiliki radius yang tetap sama, gravitasi
permukaan akan meningkat secara linier dengan massa permukaan. Tingkat
gravitasinya permukaan bulan emas juga akan lebih besar dari gravitasi
permukaan bumi (sekitar 11 meter per detik). Kecepatan bulan akan lebih tinggi Kecepatan
tersebut meningkat sebagai akar kuadrat massa. Tidak akan ada manusia
yang bisa mendarat di bulan dalam 45 tahun karena akan sangat sulit dan
memakan biayar mahal. Pemandangan langit malam akan sangat indah Jika
bulan yang sebenarnya diganti dengan bulan emas, pemandangan bulan
dilangit akan tampak indah. Semua jenis kawah, batu, dan debu
dipermukaan bulan yang terbuat dari emas akan membuat refleksi berkilau
yang tersebar di seluruh bulan. Refleksi ini akan berlawanan dengan
bayangan matahari yang memantul dari permukaan emas bulan.
Bulan emas kira-kira akan delapan kali lebih terang di langit.
Refleksi sinar matahari yang berkilau bersinar seperti berlian di
langit, menciptakan bayangan tajam. Bulan Emas akan dramatis, bahkan di
siang hari. Berpengaruh pada pasang-surut laut Selain
itu, bulan emas akan menyebabkan kekuatan pasang surut air meningkat
secara linier dengan massa bulan. Pasang surut akan menjadi lima kali
lebih kuat dari pasang surut saat ini. Setiap pesisir bumi akan
mengalami banjir harian yang kuat. Kota-kota pesisir dan pantai di
seluruh dunia dipastikan akan hancur di bawah bulan emas. Daerah dengan
dataran rendah dan memiliki pantai yang luas akan berada dalam masalah.
Pasang-surut
bulan juga berhubungan dengan gempa bumi dan aktivitas gunung berapi.
Bulan emas hanya akan terlihat bagus di fisiknya saja, namun dampak yang
disebabkan sangat merugikan kehidupan di bumi.
Salah satu kapal Ottoman yang tenggelam di kedalaman 300
meter di bawah Laut Hitam yang ditemukan tim Proyek Arkeologi Maritim
Laut Hitam. (Daily Mail)
CB, Jakarta - Penemuan
60 kapal Romawi kuno di Laut Hitam ternyata menarik perhatian ilmuwan
Indonesia, terutama di bidang arkeologi maritim. Salah satunya adalah
Shinatria Adhityatama, ilmuwan arkeologi maritim dari Pusat Penelitian
Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).
Menurut pria yang karib
disapa Adit ini, Indonesia sebetulnya bisa melakukan hal yang sama.
"Banyak situs bawah laut di Nusantara yang belum tergali," kata dia,
saat dihubungi, Selasa, 26 September 2017. Proyek Arkeologi Maritim Laut
Hitam, menemukan 60 kapal Romawi, Bizantium, dan Ottoman kuno dari yang
berumur 2.500 tahun di dasar Laut Hitam, Bulgaria, Kamis, 22 September
2017.
Mulanya, puluhan kapal kuno yang tersebar di bagian bawah
Laut Hitam ini ditemukan saat penelitian tentang perubahan iklim,
terutama dampak perubahan tingkat air laut setelah siklus glasial
terbaru dan di paparan yang tenggelam. Laporan awal tersebut kemudian
ditindaklanjuti dengan pembentukan tim proyek Arkeologi Maritim Laut
Hitam, proyek arkeologi maritim terbesar yang pernah dilakakukan.
Menurut
laporan yang dirilis, Kamis, 22 September 2017, kapal tertua yang
ditemukan berusia hampir 2.500 tahun atau sekitar 400 atau 500 sebelum
Masehi. Jon Adams, arkeolog dari University of Southampton yang memimpin
ekspedisi tersebut, mengatakan kumpulan kapal tersebut merupakan bukti
arkeologi maritim terbesar yang pernah ditemukan. "Kami sedang
mengangkat 'museum' dari bawah laut," ujar Adams, seperti dikutip dari
NBC News, Senin, 25 September 2017.
Adit mengatakan, fitur geologi serupa, yakni ada di antara Paparan
Sunda dan Paparan Sahul. Sekadar informasi, Paparan Sunda pada zaman es
terakhir (75-10 ribu tahun lalu), menyatukan Pulau Sumatera, Jawa,
Kalimantan, dan daratan Asia Tenggara. Sedangkan Paparan Sahul
menyatukan Australia dan Papua. "Bisa saja dalam proses penelitian
paparan yang tenggelam itu kita menemukan kapal tenggelam yang umurnya
tua," ujar Shinatria.
Menurut dia, memang penelitian seperti itu
akan memakan biaya besar dan tenaga. Namun, hal itu bisa diatasi dengan
kerja sama bersama lembaga riset atau perguruan tinggi internasional.
Adit
menilai, temuan kapal Romawi kuno dan kapal era Ottoman akan memiliki
nilai sejarah yang tinggi. "Misalnya, bisa mengungkap pola pelayaran dan
perdagangan maritim saat itu," kata dia.
Proyek Arkeologi Maritim
Laut Hitam (Black Sea MAP) melibatkan sebuah tim internasional yang
dipimpin oleh University of Southampton. Ekspedisi tersebut telah
menjelajahi perairan 1.800 meter (5.900 kaki) di bawah permukaan Laut
Hitam sejak 2015 dengan menggunakan kapal lepas pantai yang dilengkapi
beberapa peralatan bawah laut paling maju di dunia.
Ed Parker, CEO
Black MAP mengatakan, "kapal-kapal yang ditemukan hanya terlihat di
mural dan mosaik sampai saat ini." Bangkai kapal ditemukan dengan
menggunakan teknik pemindaian laser robot, teknik akustik dan
fotogrametri. Sebagian besar kapal yang ditemukan berusia sekitar 1.300
tahun, namun yang tertua berasal dari abad 400-500 SM.
Banyak
kapal Romawi kuno tersebut menampilkan fitur struktural, perlengkapan
dan peralatan yang hanya dikenal dari gambar atau deskripsi tertulis
namun belum pernah terlihat sampai sekarang. "Kondisi bangkai kapal di
bawah sedimen ini sangat mengejutkan, struktural kayunya terlihat bagus
seperti baru," kata Jon menambahkan.
Jakarta - Tahun ini, tingkat es laut di Antartika
mengalami penurunan drastis. Menurut para ahli, tingkat penurunan es
tersebut tidak ada kaitannya dengan perubahan iklim, sebagaimana
dilaporkan The Guardian.
Berdasarkan kejadian tersebut, lebih dari 60 ahli meteorologi dan
ilmuwan seluruh dunia mengadakan pertemuan selama seminggu di Hobart,
Tasmania, untuk memahami perubahan es di benua beku itu.
Dr Jan Lieser dari Antarctic Climate and Ecosystems Cooperative
Research Centre, mengatakan telah terjadi peningkatan variabilitas es
laut Antartika selama beberapa tahun terakhir.
Pada bulan Maret lalu, terdapat laporan mengenai turunnya cakupan
es menjadi 2,075 juta kilometer persegi, terendah sejak pengamatan
satelit tahun 1979. Sedangkan rekor tertinggi dipecahkan tiga tahun
sebelumnya dengan cakupan lebih dari 20 juta kilometer persegi es.
Lieser mengatakan, suhu permukaan laut yang meningkat dapat menjadi
penyebab mencairnya es, namun juga dapat membantu es untuk membeku
kembali.
"Suhu yang meningkat mengurangi permukaan es laut tapi ada juga
mekanisme lain," katanya. "Peningkatan suhu meningkatkan lelehan di
bawah dataran - yang meningkatkan keseimbangan air tawar samudera. Air
segar lebih mudah membeku di permukaan, yang akan kembali meningkatkan
es."
The International Ice Charting Working Group Tasmanian melakukan
pertemuan untuk memetakan dan meramalkan perubahan suhu tersebut dengan
lebih baik, untuk membantu pelayaran di kutub.
Perubahan tingkat es laut di Antartika menyebabkan meningkatnya
jumlah turis dan kapal penelitian mengunjungi benua beku tersebut.
Manajer operasi Divisi Antartika Australia, Robb Clifton, mengatakan
jumlah dan lokasi es laut berperan besar dalam perencanaan perjalanan
musim panas.
Ketua kelompok kerja dan direktur Institut Meteorologi Denmark,
Marianne Thyrring, mengatakan, diperlukan lebih banyak data dari Antartika untuk mengidentifikasi kejadian ini.
Retakan Gletser di Pine Island Glacier, Antartika. (gizmodo.com)
CB, Jakarta - Gunung es baru seluas 100 mil (160 kilometer), sekitar panjang jarak Jakarta-Bandung, muncul dari Pine Island Glacier di Antartika.
Penampakan gunung es tersebut diambil dari gambar satelit pada akhir
pekan ini. Fenomena ini berpengaruh pada kenaikan permukaan air laut di
masa depan.
Pine Island Glacier (PIG) adalah gletser yang paling
cepat mencair di Antartika. Gletser ini bertanggungjawab atas seperempat
es yang hilang di Benua Antartika dan menghasilkan 45 miliar ton es
setiap tahunnya.
Gambar satelit yang diambil pada 23-24 September
itu menunjukan celah perairan terbuka alias retakan yang muncul di
antara lapisan dan gunung es. Panjang retakan tersebut ukurannya
mencapai 103 mil persegi atau 267 kilometer persegi.
Pada hari
Sabtu, spesialis observasi satelit Stef Lhermitte di Delft University of
Technology di Belanda memposting gambar Satelit Sentinel1 tentang
gunung es PIG yang baru. Daerah luasan PIG mencakup sekitar 10 persen es
dari Antartika barat. Ini merupakan fitur geologi penting yang
menyebabkan kenaikan permukaan air laut.
Kejadian
tersebut merupakan ice calving (pemunculan es) terbesar ketiga dalam
empat tahun terakhir setelah sebelumnya pada 2013 seluas 252 mil persegi
(652 kilometer persegi) dan 2015 dengan 225 mil persegi (582 kilometer
persegi). Ice calving merupakan pemecahan potongan es dari tepi gletser
yang disebabkan oleh gletser yang berkembang.
Christopher A.
Shuman, seorang ilmuwan riset di Laboratorium Ilmu Cryospheric di NASA
Goddard Space Flight Center, seperti dilansir laman berita Gizmodo,
mengkonfirmasi kejadian ini. Shuman mengatakan bahwa kejadian ini
bukanlah pertanda bagus dan menyebabkan kerugian yang sama besarnya pada
2013.
Shuman menegaskan bahwa perpecahan itu terbentuk di tengah
gletser dan memanjang ke arah tepinya. "Ini berarti perpecahan terbentu
hingga ke dalam, kemungkinan karena penggalian air laut terhadap dasar
gletser," ujarnya.
Hal itu menjelaskan menipisnya PIG hingga empat
kali lipat sejak pertengahan 1990-an. Jika tingkat penipisan ini terus
berlanjut, seluruh batang utama gletser bisa mengapung dalam waktu
sekitar 100 tahun.
Jakarta - PT PLN (Persero) bekerjasama dengan perusahaan
pengembang energi terbarukan asal Uni Emirat Arab (UEA), Masdar,
berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di
Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat.
PLTS dibuat terapung di
atas waduk agar biaya investasinya murah dan tidak memerlukan pembebasan
lahan. PLTS terapung tersebut direncanakan memiliki kapasitas 200
Megawatt (MW).
"Iya, kita fokus di EBT. di Jawa Khususnya. Kan
udah murah ya, kita pengin Cirata 200 MW PLTS," kata Direktur Utama PLN
Sofyan Basir di Hotel JW Marriot, Jakarta Selatan, Selasa (26/9/2017).
Selain itu, PLN juga berencana membangun pembangkit listrik tenaga
bayu/angin (PLTB) alias kebun angin di Sukabumi, Jawa Barat. PLTB ini
rencananya memiliki kapasitas 150 MW.
"Mau bikin (pembangkit tenaga) angin di Sukabumi Selatan 150 MW," ujar Sofyan.
Selain
itu, PLN juga telah menandatangani kontrak jual beli listrik (Power
Purchase Agreement/PPA) dengan 64 pengembang energi terbarukan dari
Amerika Serikat (AS), China, hingga Arab Saudi.
"Banyak, ada 64 berbagai negara, Skandinavia, Denmark, Amerika, China, Singapura, Arab ada, Iran juga ada," tambah Sofyan.
Pihaknya
akan terus berupaya melakukan percepatan penggunaan EBT agar dapat
mencapai target 23% dalam porsi energi di tahun 2025 mendatang.
"Kita terus berkembang, tidak kita tahan sampai kita dapat 23% di 2025," ujar Sofyan.
London - Pedagang perhiasan asal Inggris, Graff, membeli berlian
terbesar di dunia yang ukurannya sebesar bola tenis, dengan harga US$ 53
juta atau sekitar Rp 705 miliar.
Berlian tersebut dibeli dari
penambang asal Kanada, yaitu Lucara Diamond. Berlian 1.019 karat ini
ditemukan di tambang Karowe, Botswana, pada akhir 2015.
"Kami
merasa terhormat bisa menjadi pemilik baru dari berlian yang mengagumkan
ini," kata Chairman Graff, Laurence Graff, dilansir dari AFP, Rabu (27/9/2017).
"Batu ini akan memberikan cerita tersendiri, dan akan memberitahu bagaimana dia akan dipotong nanti," kata Laurence.
Menurut
CEO Lucara, William Lamb, berlian bernama Lededi La Rona ini merupakan
barang langka. Lesedi La Rona berarti cahaya kami dalam bahasa Botswana.
Batu ini bisa dipotong kecil atau dibiarkan seperti bentuknya sekarang
untuk koleksi pribadi.
Para warga Rohingya saat melarikan diri dari wilayah Rakhine, Myanmar untuk mengindari kekerasan. Foto/Amnesty International
NEW YORK
- Pemerintah Myanmar tersinggung dengan laporan yang menyebut
militernya melakukan pembersihan etnis atau genosida terhadap minoritas
muslim Rohingya. Di forum Majelis Umum PBB di New York, Myanmar
menyampaikan keberatannya.
Duta Besar Myanmar untuk PBB Hau Do
Suan mengatakan bahwa pihkanya keberatan ”dengan ketentuan yang paling
kuat” kepada negara-negara yang telah menggunakan kata-kata genosida
untuk menggambarkan situasi di negara bagian Rakhine.
Hau Do Suan
menggunakan ”hak jawab”-nya pada akhir pertemuan enam hari para
pemimpin dunia di Majelis Umum PBB pada hari Senin. Dalam pidatonya,
diplomat Myanmar ini mengatakan tuduhan genosida atau pembersihan etnis
adalah ucapan yang tidak bertanggung jawab dan tuduhan yang tidak
berdasar.
“Tidak ada pembersihan etnis. Tidak ada genosida,” sangkal Hau Do Suan, seperti dikutip AP, Selasa (26/9/2017). “Kami akan melakukan segalanya untuk mencegah pembersihan dan genosida etnis,” lanjut dia.
Kekerasan terbaru pecah di Rakhine sejak 25 Agustus 2017 lalu. Awalnya, kelompok ARSA atau Arakan Rohingya Salvation Army meluncurkan serangan terhadap sekitar 30 pos polisi yang menewaskan 12 petugas.
Serangan
itulah yang memicu operasi militer terhadap warga etnis Rohingya yang
oleh PBB digambarkan sebagai langkah pembersihan etnis muslim Rohingya.
Lebih
dari 430.000 warga Rohingya telah melarikan diri dari Rakhine ke
Bangladesh dalam waktu kurang dari sebulan. Mereka telah menceritakan
kisah-kisah tentara Myanmar yang bekerja sama dengan gerombolan
bersenjata untuk membantai warga sipil dan membakar seluruh desa.
Para wanita Rohingya melaporkan banyaknya tindak pemerkosaan yang dilakukan militer Myanmar. Foto : Amnesty
COX?S BAZAR
- Para dokter Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan para
pengungsi perempuan Rohingya menjadi korban pemerkosaan massal yang
dilakukan tentara Myanmar. Pemerkosaan ini dilakukan secara sistematis
yang bertujuan mengusir warga etnis Rohingya.
Reuters berbicara
dengan delapan pekerja kesehatan di Cox’s Bazar, Bangladesh, yang
merawat lebih dari 25 perempuan korban pemerkosaan sejak Agustus lalu.
Mereka mengungkapkan para korban pemerkosaan juga menceritakan kalau
tentara Myanmar bertindak kejam memerkosa para perempuan Rohingya.
Kemudian,para
dokter di klinik yang dikelola Organisasi Internasional untuk Migrasi
(IOM) di Leda, Bangladesh, juga merawat ratusan perempuan Rohingya
korban pemerkosaan. "Tentara Myanmar sepertinya melakukan tindakan
agresif terhadap terhadap perempuan," ujar Niranta Kumar, koordinator
kesehatan klinik di Leda, Bangladesh.
Para dokter di Leda menunjukkan dokumen medis kepada Reuters tentang
seorang perempuan berusia 20 tahun yang diperkosa tentara di Myanmar.
Perempuan itu dirawat sejak 10 September lalu. "Tentara menarik
rambutnya dan menggunakan senapan untuk memukulnya sebelum akhirnya
diperkosa," demikian bunyi laporan medis tersebut.
Dokter juga
menemukan banyak luka di bagian organ intim korban pemerkosaan. "Itu
menunjukkan kalau perempuan Rohingya dipaksa dan diperlakukan tidak
manusiawi," ujar petugas medis IOM Tasnuba Nourin.
Kemudian, lima
perempuan pengungsi Rohingya yang baru datang juga melaporkan diri
sebagai korban pemerkosaan. Mereka mengalami luka fisik yang dialami
banyak korban lainnya.
Di klinik milik Pemerintah Bangladesh yang
didukung lembaga PBB di Ukhia juga merawat 19 perempuan korban
pemerkosaan. "Bukti pemerkosaan adalah luka gigitan, luka di organ
intim, dan pengakuan pengungsi," ujar Misbah Uddin Ahmed, dokter yang
bertugas di klinik. Dia menuding kalau pelaku pemerkosaan adalah tentara
Myanmar.
Sementara itu, Myanmar membantah tudingan tersebut.
Mereka menganggap tuduhan tersebut sebagai upaya untuk memojokkan upaya.
Juru bicara pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi mengungkapkan,
otoritas akan menginvestigasi tuduhan tersebut. "Korban pemerkosaan
seharusnya datang ke kita," ucapnya. Dia akan menjamin keamanan para
korban. "Kita akan menyelidiki dan kita akan bertindak," janjinya.
Suu
Kyi sendiri tidak berkomentar mengenai sejumlah tuduhan pemerkosaan
yang dilakukan prajurit terhadap perempuan Rohingya. Kekerasan seksual
menjadi ancaman perempuan Rohingya menyusul kekerasan yang berlangsung
sejak 25 Agustus lalu. Itu juga menjadi penyebab warga Rohingya memilih
untuk mengungsi untuk menghindari tindakan keji tersebut.
Sementara
itu, kepala badan pengungsi PBB Filippo Grandi mengaku terkejut dengan
"kekerasan yang mengerikan" terhadap pengungsi Rohingya. Dia
mengungkapkan penderitaan pengungsi semakih parah ketika kebutuhan hidup
mereka juga tidak terpenuhi.
"Saya begitu terkejut dengan
ketakutan yang dialami para pengungsi," ungkap Grandi, Ketua Komisioner
Tinggi PBB untuk Pengungsi. Dia menemui pengungsi di kamp pengungsi
Kutapalong, Bangladesh. "Orang tua terbunuh, keluarga terpisah, banyak
korban terluka, trauma perempuan yang diperkosa," ungkap Grandi. Dia
mengungkapkan banyak cerita kekerasan yang telah terjadi. "Butuh waktu
lama untuk menyembuhkan luka dibandingkan memenuhi kebutuhan hidup
mereka," ujarnya.
Banyaknya jumlah pengungsi menyebabkan ratusan ribu pengungsi Rohingya
harus tinggal di kamp pengungsian yang sangat memprihatinkan. Lembaga
kemanusiaan juga harus berjuang keras untuk memberikan bantuan makanan
dan membangun tenda pengungsian. Para pekerja kesehatan juga harus
mencegah penyebaran penyakit.
Pejabat senior PBB memperkirakan
dibutuhkan dana senilai USD200 juta untuk para pengungsi Rohongya selama
enam bulan ke depan. Para pekerja kemanusiaan mengkhawatirkan krisis
kemanusiaan yang lebih parah akan terjadi di Rakhine. Pasalnya, Myanmar
membatasi akses kemanusiaan ke wilayah konflik tersebut.
Rohingya
merupakan etnis minoritas di Myanmar yang tidak mendapatkan status
kewarganegaraan. Ketegangan yang terjadi selama beberapa dekade
menyebabkan mereka semakin terpinggirkan. Konflik kekerasan yang semakin
parah menyebabkan mereka memilih mengungsi ke wilayah perbatasan
Bangladesh.
Pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi dikritik
dunia internasional karena tidak melindungi etnis Rohingya. Dia dianggap
tidak memiliki kekuasaan untuk menekan militer. Grandi sebelumnya
pernah menyerukan kepada Myanmar agar memberikan status kewarganegaraan
terhadap warga Rohingya. Namun, upaya itu diabaikan Myanmar dan para
pengungsi. Menurut para pengungsi, meski mendapatkan status
kewarganegaraan, kekerasan tetap berlanjut.
Myanmar: Wanita Rohingya yang Diperkosa Tentara Harusnya Laporan kepada Kami
Pemerintah
Myanmar menyatakan, setiap wanita Rohingya yang menjadi korban
pemerkosaan oleh tentara harusnya melaporkan diri kepada pemerintah.
Foto/Reuters
YANGON
- Pemerintah Myanmar menyatakan, setiap wanita Rohingya yang menjadi
korban pemerkosaan oleh tentara harusnya melaporkan diri kepada
pemerintah. Myanmar mengatakan, mereka akan memberikan perlindungan
kepada para korban tersebut.
Juru bicara pemimpin de-factor
Myanmar Aung San Suu Kyi, Zaw Htay menuturkan, pihaknya akan melakukan
penyelidikan penuh atas laporan pemerkosaan tersebut, dan kesaksian dari
para korban sangat dibutuhkan dalam proses penyelidikan.
"Korban-korban
pemerkosaan itu harus mendatangi kami. Kami akan memberikan keamanan
penuh kepada mereka, kami akan menyelidiki dan kami akan mengambil
tindakan," kata Htay, seperti dilansir Channel News Asia pada Minggu
(24/9).
Pernyataan Htay ini muncul tidak lama setelah adanya
laporan dari dokter dan petugas kesehatan PBB yang bertugas di kamp
pengungsian Rohingya di PBB. Mereka menuturkan telah melihat puluhan
wanita pengungsi Rohingya dengan luka-luka yang sesuai dengan serangan
seksual dengan kekerasan.
Petugas kesehatan dan perlindungan di
distrik Cox's Bazar di Bangladesh, di mana terdapat kamp pengungsi
Rohingya, mengatakan bahwa mereka telah merawat lebih dari 25 korban
pemerkosaan sejak akhir Agustus.
Petugas medis mengatakan bahwa
mereka tidak berusaha untuk menetapkan secara pasti apa yang terjadi
pada pasien mereka, namun telah melihat pola yang pasti atas kekerasan
seksual, di mana para wanita etnis Rohingya menuturkan tentara Myanmar
adalah pelakunya.
Sekjen
PBB, Antonio Gutteres menyatakan kekhawatiran akan adanya dampak buruk
dari referendum kemedekaan yang digelar pemerintah Kurdi Irak atau KRG.
Foto/Reuters
NEW YORK
- Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Gutteres menyatakan kekhawatiran
akan adanya dampak buruk dari referendum kemedekaan yang digelar
pemerintah Kurdi Irak atau KRG. Dalam referendum yang berlangsung
kemarin itu, diketahui lebih dari 70 persen warga Kurdi ingin merdeka
dari Irak.
Gutters menuturkan, dia khawatir referendum itu akan
membuat situasi di kawasan semakin tidak stabil. Dia kemudian
menegaskan, persatuan Irak adalah salah satu syarat bagi stabilitas
kawasan.
"Guterres menghormati kedaulatan, integritas teritorial
dan kesatuan Irak dan merekomendasikan agar semua masalah yang ada untuk
diselesaikan melalui dialog terstruktur dan kompromi yang membangun,"
kata juru bicaranya Gutters, Stephane Dujarric, seperti dilansir Anadolu
Agency pada Selasa (26/9).
Sementara itu, Presiden Turki Recep
Tayyip Erdogan mengecam pemungutan suara referendum kemerdekaan Kurdi
Irak. Dia membenarkan bahwa tentaranya sudah berada di perbatasan
Irak-Turki. ”Siap untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,”
ujarnya.
Pemimpin Ankara ini sudah memperingatkan bahwa
referendum kemerdekaan Pemerintah Otonom Kurdi dapat berakibat
konsekuensi yang meluas untuk wilayah tersebut, termasuk aksi militer
Turki dan blokade pipa minyak.
Dia menambahkan bahwa segala yang
berkaitan dengan Irak dan Suriah yang menimbulkan ancaman bagi Turki,
maka pihaknya akan menggunakan semua opsi.
Dubes Arab Saudi untuk RI, Osama bin Mohammed Abdullah al Shuabi. FOTO/Victor Maulana/SINDONEWS
JAKARTA
- Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah al
Shuabi menyebut hubungan antara Saudi dan Indonesia sangatlah baik. Dia
menggambarkan hubungan kedua negara layaknya saudara dekat.
Berbicara
saat menyampaikan sambutan di peringatan hari jadi Saudi yang ke-97,
Osama menuturkan, Riyadh dan Jakarta memiliki hubungan yang sangat erat
dalam berbagai bidang.
"Pada level formal, hubungan kita dengan
saudara-saudara kita di Pemerintah Indonesia dalam kondisi yang sangat
baik. Disamping itu, kedua negara juga merupakan anggota penting G-20,
sebuah forum internasional bagi ekonomi terbesar di dunia," ungkapnya
pada Selasa (26/9).
Terkait dengan hari jadi Saudi, Osama
menyatakan peringatan ini memiliki makna penting bagi rakyat negeri kaya
minyak tersebut. Ini dikarenakan hari tersebut menandakan penyatuan
sebagian besar wilayah jazirah Arab.
"Sesungguhnya, hari nasional
bagi Arab Saudi bukanlah hari kemerdekaan, melainkan hari uniletarisasi
umat dan Jazirah Arab, saat Kerajaan Arab Saudi mempresentasikan 90%
dari luas wilayahnya yang belum pernah dijajah oleh asing. Namun yang
terjadi adalah perpecahan antara dua kekuatan yang saling berperang,"
ujarnya.
Saudi terbentuk saat raja pertama mereka, Raja Abdulaziz
Bin Abdulrahman al Saud meluncurkan kampanye pada 1920 untuk
mempersatukan wilayahnya. Dari sanalah bangkit sebuah negara bernama
Arab Saudi dan semenjak itu menjadi salah satu motor ekonomi terkuat di
Timur Tengah.
Ilustrasi militer Korea Utara. (Reuters/Damir Sagolj)
Jakarta, CB --
China memperingatkan tidak akan ada pihak yang diuntungkan
seandainya terjadi pertempuran di Semenanjung Korea. Hal ini diutarakan
menyusul tudingan Korea Utara yang menyebut Amerika Serikat telah
menyatakan perang melalui komentar Presiden Donald Trump.
"Tidak
akan ada pemenang jika perang terjadi di Semenanjung Korea. Perang hanya
akan berdampak lebih buruk bagi kawasan dan negara-negara di
sekitarnya," ucap juru bicara menteri luar negeri China, Lu Kang, Selasa
(26/9).
Komentar itu diutarakan Beijing menyusul silih ancam dan
penghinaan yang terus memanas antara Washington dan Pyongyang dalam
sepekan terakhir.
Menlu Korut Ri Yong Ho menuduh AS telah
mendeklarasikan perang melalui pernyataan Trump di Twitter. Ia merujuk
pada kicauan orang nomor satu di Amerika itu yang mengatakan bahwa rezim
Kim Jong-un tidak akan bertahan lama.
Ri bahkan memperingatkan
bahwa Korut siap menembak jatuh setiap jet tempur AS, tak lama setelah
pesawat pengebom Amerika terbang di lepas pantai negara terisolasi itu.
Dalam
Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Trump bahkan
mengancam akan menghancurkan Korut dan menyebut Kim Jong-un sebagai
"manusia roket" yang sedang mencoba bunuh diri dengan terus meluncurkan
provokasinya.
Beijing terus menekankan agar seluruh pihak menahan diri dan
menghentikan seluruh retorika dan provokasi yang hanya akan memperkeruh
suasana.
China, sebagai sekutu terdekat Korut, juga mendesak
dialog dan perundingan damai untuk menyelesaikan krisis di Semenanjung
Korea.
Pemerintahan Kim Jong-un menyebut Donald Trump telah mendeklarasikan perang. (KCNA via REUTERS)
"Beijing berharap Washington dan Pyongyang menyadari bahwa superioritas
membabi-buta dan provokasi hanya akan meningkatkan risiko konfrontasi
dan mempersempit peluang manuver kebijakan [dialog] untuk menyelesaikan
konflik," kata Lu Kang.
Berbeda dengan Trump yang berapi-api
menghadapi Kim Jong-un, dalam kesempatan berbeda, Menteri Pertahanan AS
James Mattis justru mengatakan bahwa AS menginginkan solusi diplomatik
untuk menyelesaikan krisisnya dengan Korut.
"Kami tetap mempertahankan kapabilitas [militer] untuk menghadapi
ancaman Korut. Namun untuk mendukung para diplomat, kami menyimpan [opsi
militer] selama solusi diplomatik masih memungkinkan," kata Mattis di
New Delhi, India, seperti dikutip AFP.
"Tujuan kita adalah untuk
menyelesaikan konflik secara diplomatik dan saya yakin Presiden Trump
sudah sangat jelas mengenai isu ini," paparnya menambahkan.
Konflik semenanjung Korea, China yakin takkan ada yang menang
Pemimpin
Korea Utara Kim Jong Un menyaksikan peluncuran rudal Hwasong-12 dalam
foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea
Utara (KCNA), Sabtu (16/9/2017). (KCNA via REUTERS )
Beijing (CB) - China memperingatkan tidak akan ada
pemenang dalam konflik di semenanjung Korea setelah Korea Utara menuding
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menabuh genderang perang
dengan negara itu.
Beijing kembali menyerukan pelaksanaan
perundingan damai setelah pemimpin AS dan Korea Utara saling melontarkan
retorika yang mengkhawatirkan dalam beberapa hari terakhir menyusul uji
coba senjata nuklir keenam Pyongyang awal bulan ini.
China
berharap Washington dan Pyongyang menyadari bahwa "menunjukkan
superioritas secara membabi-buta dengan kata-kata dan saling
memprovokasi hanya akan meningkatkan risiko konfrontasi dan mempersempit
ruang manuver kebijakan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri
Tiongkok Lu Kang.
"Perang di semenanjung Korea tidak akan
menghasilkan pemenang dan akan kian parah bagi kawasan dan negara-negara
di kawasan," ujar Lu dalam konferensi pers.
Trump melontarkan
pernyataan di Twitter akhir pekan lalu bahwa rezim Korea Utara akan
binasa jika mereka tetap menimbulkan ancaman.
Menteri Luar
Negeri Korea Utara Ri Yong-ho menuding Trump menabuh genderang perang,
dan memperingatkan bahwa negaranya siap menembak jatuh pesawat tempur
AS.
Menteri Pertahanan AS James Mattis berusaha meredakan
ketegangan dengan menyatakan pada Selasa bahwa Washington menginginkan
solusi diplomatik atas krisis di semenanjung Korea, demikian AFP.
Pemimpin
Korea Utara Kim Jong-un mengekspresikan kegembiraannya saat tes rudal
Hwasong-14 sukses beberapa bulan lalu. Foto/KCNA/REUTERS
WASHINGTON
- Seorang mantan jenderal Amerika Serikat (AS) mengatakan, jika perang
pecah di Semenanjung Korea, sekitar 20.000 orang di Korea Selatan
(Korsel) akan terbunuh setiap harinya. Menurutnya, angka perkiraan ini
berasal dari Pentagon.
Rob Givens, pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Udara AS, mengatakan kepada Los Angeles Times pada hari Senin bahwa jika perang terjadi di Korea, maka situasinya tidak sama seperti invasi di Irak, Afghanistan dan Libya.
Dia
mencontohkan, invasi di Libya yang berhasil menyingkirkan Muammar
Gaddafi, pasukan AS bisa “santai” karena yang bekerja keras adalah
pasukan oposisi Libya.
”Ini tidak akan menyerupai konflik
tersebut,” kata Givens. Menurut Givens, perkiraan internal Pentagon
menyebutkan korban tewas sekitar 20.000 per hari di Korsel. Angka itu
tidak termasuk korban yang ditimbulkan pada populasi Korea Utara (Korut)
antara 27 sampai 28 juta orang.
Komentar
mantan jenderal Pentagon ini munculnya hampir bersamaan dengan
pernyataan Menteri luar Negeri Korut Ri Yong-ho yang menuduh AS sebagai
pihak pertama yang menyatakan perang terhadap Pyongyang.
Menurut
Ri, konsekuensi dari deklarasi perang itu adalah hak Pyongyang untuk
menembak jatuh pesawat pembom strategis Washington, bahkan jika tak
berada di wilayah udara Korut.
Presiden AS Donald Trump, lanjut
Ri, telah secara efektif mengumumkan perang terhadap Pyongyang, yang
berarti bahwa semua opsi ada di meja untuk kepemimpinan negaranya.
”Seluruh
dunia harus ingat dengan jelas bahwa AS yang pertama kali mengumumkan
perang terhadap negara kami,” katanya seperti dikutip Reuters, Selasa (26/9/2017).
”Sejak
AS mengumumkan perang terhadap negara kami, kami memiliki hak untuk
melakukan penanggulangan, termasuk hak untuk menembak jatuh (pesawat)
pembom strategis AS bahkan ketika mereka tidak berada di dalam wilayah
udara negara kami,” papar Ri.
Sementara itu, manuver dua pesawat pembom B-1B AS di lepas pantai Korut
pada Sabtu lalu diketahui atas mandat Presiden Korsel Moon Jae-in.
”Moon
menerima pengarahan tentang rencana tersebut selama berada di New York,
di mana pejabat Korsel dan AS mencapai kesepakatan mengenai status
operasi tersebut untuk mengirim (pesawat) pembom ke (dekat Korea)
Utara,” kata seorang pejabat dari Gedung Biru atau kantor presiden
Korsel kepada The Korea Times, dalam kondisi anonim.
Pentagon
sendiri menyatakan manuver pesawat pembom AS di dekat Korut sebagai
pesan kuat bagi rezim Kim Jong-un atas perilaku sembrono Pyongyang,
termasuk rentetan uji coba rudal dan senjata nuklir.
”Jelas Korea Utara adalah ancaman,” kata juru bicara Departemen Pertahanan AS Letnan Kolonel Christopher Logan pada hari Senin.
Korut menyatakan bisa menembak jet pengebom AS B-1B yang dikerahkan ke Semenanjung Korea pekan lalu. (Reuters/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CB --
Korea Utara menyatakan bisa menembak jet Amerika Serikat menyusul
kelanjutan silih ancam antara kedua negara dan pengerahan dua pesawat
pengebom B-1B Lancer ke Semenanjung Korea pekan lalu. Analis menyebut
ancaman itu bisa saja direalisasikan, meski ada beberapa kendala.
Pada
1969 silam, Korut sempat menembak jatuh pesawat pengintai AS yang
terbang di ruang udara internasional, menewaskan 31 orang awak yang
dibawanya. Pesawat yang tidak bersenjata itu ditembak dua jet tempur
Mig-21 sekitar 90 mil laut dari pesisir Korea Utara.
Walau
kejadian serupa bisa saja terulang, para analis menyebut Korut tidak
akan lagi menggunakan jet tempur untuk menjatuhkan lawannya dan itu pun
tidak bisa begitu saja dilakukan.
"Korea Utara mempunyai salah
satu sistem pertahanan udara paling padat di dunia, mulai dari peluru
kendali jarak dekat dan senjata anti-pesawat hingga rudal jarak jauh,"
kata Lance Gatling, analis pertahanan dan Presiden Nexial Research Inc
di Jepang, Selasa (26/9).
Rudal anti-pesawat paling canggih yang
dimiliki Korut dalam gudang persenjataannya adalah KN-06. Senjata itu
adalah pengembangan domestik dari SAM S-300 Rusia yang "mempunyai
kemampuan sangat baik," kata Gatling kepada The Telegraph.
Detail
kapabilitas sistem itu masih belum diketahui karena sejauh ini baru dua
uji coba yang terdeteksi. Walau demikian, media pemerintah Korut
menyatakan gangguan pada persenjataan itu telah dibenahi dan kini bisa
dikerahkan di seluruh penjuru negeri.
"Jelas rudal-rudal ini bisa terbang hingga ke ruang udara internasional
di timur pesisir, walau mesti digarisbawahi bahwa patroli di ruang udara
internasional tidak melanggar hukum; menembakkan rudal ke ruang udara
internasional adalah tindakan perang, dan akan diperlakukan sebagai
ajakan berperang," kata Gatling.
Di sisi lain, pertahanan yang
ada pada jet pengebom B-1B dirahasiakan oleh militer AS. Namun,
diketahui pesawat itu, beserta para pengawalnya, dilengkapi dengan
berbagai sistem yang didesain untuk mengganggu rudal.
Serangan
apapun bakal terdeteksi secara instan, kata Gatling, dan jet tempur
yang mengawalnya bakal siap mengeliminasi radar pemandu rudal di
daratan.
Pilihan untuk mencegat jet tempur AS dengan pesawat pun
terbatas. "Ada banyak masalah dengan Angkatan Udara Korea Utara," kata
Gatling, merujuk pada teknologi terbaru Korut yang berasal dari era
1980-an seperti Mig-29.
"Mereka mempunyai banyak pesawat canggih, tapi pilot mereka hanya
terbang untuk beberapa jam setiap tahunnya karena kelangkaan bahan bakar
dan mereka tidak bisa menguji coba rudal karena mereka hanya punya
sedikit.
"Jadi peralatan mereka kuno, awak mereka tidak terlatih
dan mereka akan sangat tertinggal dalam konfrontasi apapun dengan
pasukan garis depan AS."
Di luar semua itu, tidak akan ada pihak yang diuntungkan jika militer AS melakukan serangan terlebih dulu ke Korea Utara.
Dengan
waktu yang sangat sempit untuk mengevakuasi, jutaan warga tak bersalah
akan terjebak di antara pertempuran jika Amerika dan para sekutunya
memulai serangan lebih awal. Kedua pihak pastinya bakal menderita banyak
korban.
Jerry Hendrix, mantan kapten Angkatan Laut AS, mengatakan operasi
militer semacam itu akan melibatkan serangan cepat yang
multi-dimensional.
Meski ia tidak mendapatkan penjelasan mengenai kemungkinan serangan AS secara spesifik, ia mengatakan kepada CNN bahwa
operasi ini kemungkinan besar bakal melibatkan sejumlah strategi yang
bertujuan untuk menetralisir pertahanan Korea Utara dan kemampuannya
melakukan serangan balasan.
Untuk mengatasi kemampuan rudal
darat-ke-udara Korut yang mumpuni, Amerika kemungkinan akan menggunakan
pesawat tempur siluman seperti F-22, F-35 dan pesawat pengebom B-2 untuk
membantu F-15 atau F-16 Korea Selatan dan Jepang, ujarnya.
Pesawat tanpa awak pun kemungkinan bisa digunakan untuk membatasi risiko terhadap para pilot.
AS kemungkinan akan mengerahkan pesawat tambahan ke kawasan jika akan
melakukan serangan, sembari mempertahankan dua pangkalan udara di Korea
Selatan--Osan dengan F-16 dan A-10 serta Kunsan dengan F-16.
Dua
pesawat pembom B-1B Amerika Serikat (AS) dengan kawalan jet-jet tempur
saat bermanuver di atas Semenanjung Korea. Foto/REUTERS
SEOUL
- Korea Utara (Korut) memobilisasi rombongan pesawat tempur dan
memperkuat sistem pertahanan pesisirnya setelah pekan lalu pesawat
pembom B-1B Amerika Serikat (AS) bermanuver di Semenanjung Korea.
Aktivitas militer Pyongyang ini diungkap intelijen Korea Selatan (AS)
yang melakukan pemantauan.
Pada hari Sabtu, 23 September, AS
menerbangkan pesawat pembom B-1B Lancer dari Pangkalan Angkatan Udara
Anderson di Guam. Pesawat pembom canggih ini dikawal oleh pesawat tempur
F-15 yang terbang dari pangkalan AS di Jepang.
Meski manuver
pesawat B-1B Pentagon itu berlangsung di sepanjang wilayah udara
internasional, namun lokasinya berada di dekat wilayah Korut. Pyongyang
sendiri memiliki sistem radar yang mampu mendeteksi pesawat asing dalam
kisaran 600km, namun diragukan Korsel.
Dinas Intelijen Nasional
Korea Selatan (NIS) dalam sebuah briefing di parlemen mengatakan bahwa
Pyongyang terlihat menyesuaikan kembali sistem persenjataannya.
Lee
Cheol-woo, Kepala Komite Intelijen Parlemen Korsel, mengatakan
penyesuaian itu disebabkan oleh fakta bahwa Korea Utara tidak memiliki
sistem pendeteksi pesawat asing, termasuk penerbangan terbaru pesawat
pembom AS.
”Kami (anggota parlemen) mendengar (dari NIS) bahwa
saat penerbangan mendekati tengah malam, Korut mungkin tidak
mengantisipasi hal itu sama sekali, atau Korut mungkin tidak dapat
mengambil tindakan karena tidak memiliki (kemampun) atau sistem yang
tidak dapat mendeteksi dengan jelas,” kata Lee, seperti dilansir IB Times, Selasa (26/9/2017).
Pengungkapan
intelijen tersebut terjadi di tengah ancaman Korut yang akan menembak
jatuh pesawat pembom Washington. Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho
kepada wartawan di New York pada hari Senin, mengklaim bahwa AS telah
mengumumkan perang terhadap Pyongyang sehingga menjadi hak negaranya
untuk menembak jatuh pesawat pembom Pentagon termasuk jika tidak berada
di wilayah udara Korut.
Namun, Gedung Putih telah menolak klaim
diplomat Pyongyang itu. Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menyebut
klaim tersebut tidak masuk akal.
“Tidaklah pantas bagi sebuah
negara untuk menembak jatuh pesawat negara lain saat melintasi (wilayah
udara) perairan internasional. Tujuan kami masih sama. Kami terus
mencari denuklirisasi damai semenanjung Korea,” ujar Sanders.
Antisipasi Jet Pengebom AS, Korut Kerahkan Pesawat Militer
Ilustrasi jet tempur. (Reuters/Maxim Shemetov)
Jakarta, CB --
Korea Utara dilaporkan menyiagakan pertahanan dengan mengerahkan sejumlah pesawat militer ke sekitar pantai timurnya.
Badan
Intelijen Korea Selatan melaporkan pergerakan ini dilakukan Pyongyang
setelah pesawat pengebom dan sejumlah jet tempur milik Amerika Serikat
terbang di wilayah udara internasional di lepas pantai Korut pada akhir
pekan lalu.
Dikutip Reuters, kantor berita Yonhap
melaporkan Korut tetap tidak segera mengetahui dan merespons pergerakan
tersebut, meski AS tampak sengaja mengirim sinyal dengan
mempublikasikan patroli angkatan udaranya itu.
Padahal, Korut
diketahui memiliki sistem radar yang mampu mendeteksi pergerakan benda
asing dengan jangkauan hingga 600 kilometer.
Pentagon mengatakan
manuver pesawat itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa AS memiliki banyak
opsi, termasuk kapabilitas militer skala penuh, untuk menghadapi
ancaman Korut.
Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri Ri Yong Ho
mengatakan Korut bisa meluncurkan aksi balasan termasuk menembak jatuh
pesawat-pesawat AS tersebut.
"Kami bahkan bisa menembak mereka [jet tempur AS] saat tidak berada di
dalam wilayah udara kami," kata Ri kepada wartawan di sela Sidang Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.
Ri bahkan menganggap
Presiden Donald trump telah mendeklarasikan perang melalui kicauan yang
menyebut rezim Kim Jong-un tidak akan bertahan lama.
"Seluruh
dunia harus tahu dan mengingat dengan jelas bahwa AS lah yang pertama
kali mendeklarasikan perang terhadap kami [Korut]. Pertanyaan mengenai
siapa yang tidak akan lama lagi bertahan akan terjawab," ucap Ri.
Ketegangan
di Semenanjung Korea semakin tak bisa dihindari setelah Korut
meluncurkan uji coba nuklir keenamnya pada 3 September lalu. Tensi
antara AS dan Korut pun semakin memanas setelah pemimpin kedua negara
terus melontarkan ancaman dan penghinaan terhadap satu sama lain dalam
beberapa hari terakhir.
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Trump mengancam akan menghancurkan
Korut dan menyebut Kim Jong-un sebagai "manusia roket" yang sedang bunuh
diri dengan terus meluncurkan provokasinya.
Menanggapi
pernyataan itu, Kim Jong-un menyerang balik Trump dengan menyebutnya
sebagai "orang tua gila." Korut juga memperingatkan bahwa AS akan
membayar segala ancamannya kepada Korut "dengan mahal."