Senin, 17 Oktober 2016

Tidak Ada Dana Repatriasi “Tax Amnesty” dari Swiss, Kenapa?

 
 
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Petugas melayani warga yang mengikuti program pengampunan pajak (Tax Amnesty) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat, 30/9/2016.
MALANG, CB – Hingga pekan kedua Oktober, dana repatriasi tax amnesty yang berasal dari Swiss belum juga nampak. Padahal, Swiss adalah negara favorit warga negara Indonesia (WNI) menyimpan harta-hartanya.
Menurut pengamat perpajakan dari Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo, ada kekhawatiran dana yang berasal dari Swiss dicurigai sebagai upaya pencucian uang oleh organisasi internasional Financial Action Task Force (FATF).
“Ternyata memang kita belum selesai dengan FATF. Jadi uang dari Swiss masih dianggap sebagai uang kejahatan. Ini juga belum putus,” ujar Yustinus di Malang, Jakarta Jumat (14/11/2016).
Selama ini, Swiss dikenal sebagai negara tempat penyimpanan uang para WNI sejak masa Orde Baru silam. Oleh karena itu, potensi repatriasi harta sangat besar.
Bahkan berdasarkan informasi yang didapatkan Yustinus, ada satu grup perusahaan yang berencana merepatriasi Rp 150 triliun dananya ke Indonesia.
Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri sudah bertemu dengan FATF saat kunjungan kerja ke Amerika Serikat pekan lalu. Ia menyampaikan komitmen kuat Indonesia untuk bekerja sama dengan FATF dalam rangka membangun transparansi kegiatan transaksi keuangan.
Selain itu, Sri Mulyani juga menyatakan keinginan Indonesia untuk dapat menjadi anggota penuh FATF dalam waktu dekat.
“Katanya (Sri Mulyani) sudah melobi FATF supaya bisa lolos. Kita berharap itu segera jadi,” kata Yustinus.
Sebelumnya, berdasarkan periode pertama tax amnsty, jumlah repatriasi atau dana masuk berdasarkan Surat Pernyataan Harta (SPH) tercatat sebanyak Rp 137 triliun.
Repatriasi dari Singapura sebanyak Rp 79,13 triliun," kata Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Ken Dwijugiasteadi di Jakarta, Senin malam (3/10/2016).
Singapura menduduki peringkat pertama negara asal dana repatriasi, dengan total dana Rp 79,13 triliun atau mencapai 57,71 persen dari total dana repatriasi.
Pada peringkat kedua ada Cayman Island dengan nominal dana repatriasi sebesar Rp 16,50 triliun atau 12,04 persen dari total dana repatriasi.
Berturut-turut setelahnya yaitu Hongkong sebanyak Rp 14,05 triliun (10,25 persen), China sebanyak Rp 3,56 triliun (2,6 persen), serta Virgin Island sebanyak Rp 2,49 triliun (1,82 persen).
Sekadar informasi, dalam program tax amnesty ini, pemerintah menargetkan bisa meraup tebusan sebesar Rp 165 triliun hingga akhir periode program ini di 31 Maret 2017.
Adapun target repatriasi harta WNI yang ada di luar negeri untuk dibawa ke dalam negeri mencapai Rp 1.000 triliun dan deklarasi aset sebesar Rp 4.000 triliun.



Credit  KOMPAS.com






Rusia Akan Terima Pesawat Tempur Siluman PAK FA Tahun Depan

 Rusia Akan Terima Pesawat Tempur Siluman PAK FA Tahun Depan
Komandan Pasukan Luar Angkasa Rusia, Viktor Bondarev mengatakan kepada media bahwa ia berharap pasukannya akan memiliki pesawat generasi kelima PAK FA T-50, pada 2017. Pernyataan ini disampaikan kepada media, pada Jum'at, 14 Oktober 2016. Bondarev melanjutkan bahwa tahun depan, pasukannya akan mencoba pesawat siluman PAK FA, lima pesawat sesuai kontrak. ITAR-TASS/Marina Lystseva

 Rusia Akan Terima Pesawat Tempur Siluman PAK FA Tahun Depan
Pesawat tempur siluman T-50 PAK-FA (Promising Aviation Complex of Frontline Aviation) dibangun sebagai jawaban dari pesawat generasi kelima Amerika Serikat F-22 Raptor. Kantor Berita Rusia TASS menulis bahwa PAK FA adalah intisari dari semua teknologi rancang bangun pesawat tempur Rusia. Hanya sedikit informasi yang diketahui tentang pesawat ini. Kecanggihan dan kemampuan T-50 PAK FA menjadi rahasia yang disimpan rapa. tass.com

 Rusia Akan Terima Pesawat Tempur Siluman PAK FA Tahun Depan
Pesawat generasi kelima PAK FA terbuat dari gabungan beberapa macam serat karbon yang diperkuat polimer. Penggunaan bahan ini untuk pertama kalinya digunakan dalam pembuatan sebuat pesawat. Bahan ini lebih ringan dari alumunium, lebih kuat dibanding titanium, dan empat atau lima kali lebih ringan dari pada baja. PAK FA empat kali lebih ringan dari pada pesawat tempur yang menggunakan bahan baja, karena 70% badan pesawat menggunakan bahan -bahan tradisional. tass.com

 Rusia Akan Terima Pesawat Tempur Siluman PAK FA Tahun Depan
Sukhoi Design Bureau, perancang dan pembuat T-50 PAK FA, mencatat belum pernah ada pesawat dengan jejak radar rendah, visibilitas optikal dan infra merah. Para ahli di Rusia memperkirakan Radar Cross-Section (RCS) PAK FA adalah 0,3-0,4 meter persegi, sementara para ahli Barat memperkirakan RCS pesawat siluman ini tiga kali lebih kecil, sekitar 0,1 meter persegi. RCS PAK FA sebenarnya sangat dirahasiakan. Semakin kecil RCS sebuah pesawat, semakin sulit terdeteksi radar. tass.com

 Rusia Akan Terima Pesawat Tempur Siluman PAK FA Tahun Depan
Pesawat generasi kelima Rusia, T-50 PAK FA dibedakan oleh tingkat intelektualnya yang tinggi. Pesawat siluman ini menggunakan Active Phased Antenna Array buatan Biro Desain Tikhomirov, yang dapat mendeteksi target pada jarak 400 km lebih, melacak 60 target, dan menembak 16 sasaran. Radar PAK FA mampu melacak target dengan RCS minimun 0,01 meter persegi. tass.com

 Rusia Akan Terima Pesawat Tempur Siluman PAK FA Tahun Depan
Ruang mesin yang lebar membuat pengembang dapat meningkatkan thrust vectoring agar pesawat dapat lebih bermanuver dan ruang senjata yang mampu membawa senjata berat atau lebih banyak. PAK FA adalah pesawat tempur yang memiliki kemampuan manuver tinggi dan kontrol yang baik saat pesawat terbang horisontal dan vertikal dengan kecepatan supersonik dan kecepatan rendah. AP/Sukhoi Company Press Service






Credit Tempo.co


Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah


 Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah
Kantor berita Rusia, TASS dan media online Sputnik memberitakan bahwa Armada Utara Rusia yang dipimpin kapal induk Admiral Kuznetsov, dengan persenjataan lengkap dan membawa pesawat tempur serta helikopter, telah meninggalkan pelabuhan Severomorsk menuju Laut Mediterania, pada Sabtu, 15 Oktober 2016. Armada Utara, termasuk kapal perang penjelajah Pyotr Velikiy, Kapal perusak anti kapal selam Severomorsk dan Vice-Admiral Kulakov, dan beberapa kapal pendukung, akan bergabung dalam operasi militer Rusia memerangi ISIS di Suriah. tass.com

 Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah
Kapal induk Rusia dipersenjatai dengan 12 sel peluncur rudal vertikal (VLS) untuk menembakan rudal jelajah anti kapal P-700 Granit (NATO menyebutnya SS-N-19). Rudal Granit dapat mnjangkau target sejauh 600 km dan dapat membawa hulu ledak nuklir. Admiral Kuznetsov juga dilengkapi membawa 192 sel untuk menembakan rudal anti pesawat Kinzhal, delapan sistem pertahanan udara jarak pendek (close-in weapon system/CIWS) Kortik, 256 roket, dan 48.000 putaran amunisi. sputniknews.com


 Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah
Admiral Kuznetsov membawa pesawat tempur superioritas udara Su-33 dan pesawat tempur multi peran MiG-29K. Sputnik melaporkan bahwa Su-33 dilengkapi dengan sistem pentargetan ultra presisi SVP-24, yang terbukti sukses saat digunakan pada operasi militer di Suriah. MiG-29K dirancang untuk memberi perlindungan udara bagi angkatan laut Rusia, dengan kemampuannya menghancurkan target di laut dan darat. Kapal induk Rusia juga membawa helikopter anti kapal selam (ASW) Ka-27/Ka-29 dan helikopter serang dan intai Ka-52K. sputniknews.com

 Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah
Kapal perang penjelajah Pyotr Veliky, adalah kapal perang bertenaga nuklir kelas Kirov. Kapal sepanjang 252 meter ini dipersenjatai dengan 20 rudal permukaan ke permukaan P-700 Granit (SS-N-19 Shipwreck), 16 rudal anti kapal selam Rastrub (SS-N-14 Silex), 10 rudal anti kapal Vodopad (SS-N-16 Stallion), 96 rudal permukaan ke udara Fort (SA-N-6 Grumble), 128 rudal pertahanan udara Kinshal (SA-N-9 Gauntlet), pertahanan anti rudal jarak dekat Osa-M (SA-N-4 Gecko) dengan 40 rudal. Pyotr Veliky juga dilengkapi dengan sistem anti rudal S-300F. theHZ.ru

 Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah
Kapal perusak anti kapal selam Severomorsk (616) dan Admiral Kulakov (626), termasuk kelas Udaloy I, merupakan dua kapal anti kapal selam Armada Utara yang berangkat ke Laut Mediteranian. Sebelum berangkat, kedua perusak ini melakukan latihan menghadapi serangan udara di Laut Barens, pada September 2016. Latihan menggunakan rudal permukaan ke udara atau surface-to-air missile (SAM) 3K95 Kinzhal yang sukses menghancurkan drone target Saman. SKNews.ru

 Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah
Kelas Udaloy I dirancang untuk menghancurkan kapal selam musuh. Perusak ini dipersenjatai dengan rudal anti kapal selam Metel URPK-4 ( (NATO menyebutnya SS-N-14 Silex) . Metel URPK-4 mampu menjangkau kapal selam musuh sejauh 5-50 km, pada kedalaman 20-500 m. SS-N-14 dapat melaju dengan kecepatan 0,95 Mach (1173 km/jam) dan membawa hulu ledak HE (high-explosive) 100 kg atau hulu ledak nuklir 5 kiloton. Udaloy I juga dilengkapi dengan dua meriam 100mm/70cal DP, dan meriam 30 mm AK-630 sebagai CIWS. tass.com





Credit  Tempo.co





Korea Selatan dan Amerika Serikat Latihan Militer Bersama

 Korea Selatan dan Amerika Serikat Latihan Militer Bersama
Kapal induk tenaga nuklir Amerika Serikat, USS Ronald Reagan memasuki Pelabuhan Busan, Korea Selatan, setelah melakukan latihan militer bersama di perairan Semenajung Korea, 16 Oktober 2016. Latihan bersama dilakukan setelah Korea Utara beberapa kali melakukan uji coba rudal balistik. Ha Kyung-min/Newsis via AP
 Korea Selatan dan Amerika Serikat Latihan Militer Bersama
Kru Kapal Induk USS Ronald Reagan, kapal induk tenaga nuklir kelas Nimitz, berjalan menuju pesawat tempur F/A-18 Super Hornet, selama latihan militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Selatan di Laut Barat, Korea Selatan, 14 Oktober 2016. REUTERS/Kim Hong-Ji

 Korea Selatan dan Amerika Serikat Latihan Militer Bersama
Kru kapal induk USS Ronald Reagan memperhatikan pesawat tempur F/A-18 Super Hornet yang akan lepas landas dari kapal induk kelas Nimitz, dalam latihan militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Selatan di Laut Barat, Korea Selatan, 14 Oktober 2016. Kim Hong-Ji/Pool Photo via AP

 Korea Selatan dan Amerika Serikat Latihan Militer Bersama
Kru USS Ronald Reagan memandu pesawat tempur F/A-18 Super Hornet lepas landas dari kapal induk, selama latihan militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Selatan di Laut Barat, Korea Selatan, 14 Oktober 2016. REUTERS/Kim Hong-Ji


 Korea Selatan dan Amerika Serikat Latihan Militer Bersama
Pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat, F/A-18 Super Hornet bersiap mendarat di kapal induk USS Ronald Reagan, dalam latihan militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Selatan di Laut Barat, Korea Selatan, 14 Oktober 2015. Kim Hong-Ji/Pool Photo via AP


 Korea Selatan dan Amerika Serikat Latihan Militer Bersama
Pesawat tempur F/A-18 Super Hornet bersiap mendarat di kapal induk USS Ronald Reagan, dalam latihan militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Selatan di Laut Barat, Korea Selatan, 14 Oktober 2015. Kim Hong-Ji/Pool Photo via AP










Credit tempo.co







USS Zumwalt, Kapal Perusak Terbesar Baru Milik AS


 
USS Zumwalt, Kapal Perusak Terbesar Baru Milik AS
USS Zumwalt, kapal perusak terbesar dan tercanggih milik Angkatan Laut AS. Foto/Istimewa
 
WASHINGTON - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menyambut lahirnya kapal perang terbaru mereka. Kapal yang diberi nama Zumwalt itu adalah kapal perusak terbesar dan paling canggih seharga USD4,5 miliar.

"Jika Batman memiliki kapal perang, itu akan menjadi USS Zumwalt. Selama Presiden kita dan Anda orang Amerika memiliki nafsu tak terpuaskan untuk keamanan, maka saya memiliki nafsu tak terpuaskan untuk hal-hal mempertahankan keamanan itu," kata Komandan Komando Pasifik AS Laksamana Harry Harris seperti dikutip dari Daily Mail, Minggu (16/10/2016).

Menurut sekretaris Angkatan Laut (AL) AS, Ray Mabus, USS Zumwalt adalah lompatan kuantum untuk kapal AL. "Ini yang pertama dari jenis pembuka jalan bagi kelas baru kapal perang, sistem baru yang bisa kita gunakan dan ityu akan memperluas hal yang dapat kita lakukan dan cara kita melakukannya," kata Mabus.

USS Zumwalt memiliki panjang 610 kaki dengan bentuk sudut yang tajam untuk meminimalkan pendeteksian radar. Kapal akan terlihat jauh lebih kecil di radar. Anjungan kapal ini mirip dengan pesawat Star Trek dimana dua kursi dikelilingi oleh hampir 360 monitor video.

Kapal ini cukup tenang di banding kapal lain, yang membuat Zumwalt sulit untuk dideteksi, dilacak dan diserang. Sebuah deckhouse dengan komposit mampu membuatnya tersembunyi dari radar dan sensor lainnya. Zumwalt diperkuat dengan sistem senjata terbaru yang mampu memuntahkan 600 proyektil bertenaga roket dengan target lebih dari 70 mil jauhnya.

Zumwalt mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk, Evolved Sea Sparrow Rudal, rudal standar dari permukaan ke udara dan rudal anti kapal selam dari 80 tabung rudal. Zumwalt juga dilengkapi dengan lambung untuk menusuk gelombang konvensional yang membuatnya bergerak dengan sangat halus. Kapal dengan berat hampir 15 ribu ton ini dilengkapi dengan teknologi canggih dan kemampuan yang memungkinkannya diterjunkan dalam berbagai misi baik defensif maupun ofensif dimana pun dibutuhkan.


Credit  Sindonews







Dabiq Direbut Pasukan Pemberontak, ISIS Siapkan Pertempuran 'Apokaliptik'

 
Dabiq Direbut Pasukan Pemberontak, ISIS Siapkan Pertempuran Apokaliptik
Pasukan pemberontak Suriah berhasil menguasai Dabiq. Insert: ISIS bersumpah akan melakukan pertempuran apokaliptik. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
 
DAMASKUS - Pasukan pemberontak Suriah, pasukan pembebasan Suriah atau FSA, yang didukung oleh militer Turki berhasil merebut kota Dabiq dari ISIS. Keberhasilan ini membuat ISIS bersumpah akan melakukan pertumpuran terakhir, pertempuran apokaliptik atau pertempuran yang penuh dengan kehancuran.

Pemimpin kelompok Sultan Murad, salah satu faksi FSA, Ahmed Osman mengatakan para pemberontak mengambil Dabiq dan daerah tetangganya Soran setelah terlibat bentrokan dengan ISIS pada Minggu pagi. FSA mendapat dukungan dari tank dan pesawat tempur Turki.

"Mitos ISIS tentang pertempuran besar di Dabiq telah berakhir," katanya seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/10/2016).

Dalam propagandanya, ISIS kerap menyebut sebuah ramalan menyatakan Dabiq akan menjadi lokasi pertempuran antara kaum Muslim dan kaum kafir yang akan pertanda menjadi kiamat.

Kekalahan di Dabiq memperpanjang daftar kekalahan yang diderita oleh ISIS. Perlahan tapi pasti kelompok yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi ini mulai kehilangan satu per satu wilayah kekuasaannya di Suriah dan Irak.

Kelompok yang menghentak dunia dengan pernyataannya mendirikan kekhalifahan baru ini kini berkonsentrasi penuh untuk mempertahankan Mosul dari serangan pemerintah Irak. Mosul menjadi basis paling berharga kelompok ekstrimis itu.



Credit  Sindonews


Peserta Perundingan Sepakat Suriah Tentukan Masa Depannya Sendiri

 
Peserta Perundingan Sepakat Suriah Tentukan Masa Depannya Sendiri
Rusia menyatakan peserta perundingan di Swiss sepakat jika Suriah menentukan masa depannya sendiri. Foto/Reuters/Jean-Christophe Bott

MOSKOW - Rusia mengatakan semua peserta dalam pembicaraan Suriah di Lausanne telah menyetujui Suriah harus memutuskan masa depan mereka sendiri melalui dialog inklusif dan bahwa negara harus tetap utuh dan sekuler. Pernyataan itu muncul setelah pertemuan berakhir tanpa terobosan.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan agar perjanjian gencatan senjata Amerika Serikat (AS)-Rusia berhasil dan memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan, oposisi moderat Suriah harus terpisah dari Jabhat Fatah al Sham, sebelumnya dikenal sebagai Nusra depan, dan "kelompok teroris" lainnya.

"Pada saat yang sama, harus dipahami bahwa operasi melawan teroris dari negara Islam dan Front Nusra akan dilanjutkan," kata kementerian itu seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/10/2016).

Pembicaraan mengenai Suriah yang diselenggarakan oleh Sekretaris Negara AS John Kerry di Laussane, Swiis, gagal menyepakati strategi bersama dengan Rusia untuk mengakhiri konflik di Suriah. Perang saudara yang terjadi di Suriah sendiri kini telah memasuk tahun keenam.


Pertemuan di Lausanne dihadiri oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov beserta tujuh menlu dari Iran, Irak, Arab Saudi, Turki, Qatar, Yordania dan Mesir. Pertemuan ini digelar setelah runtuhnya rencana gencatan senjata Rusia-AS yang susah payah dibuat dan diharapkan bisa mengakhiri perang saudara di Suriah.

Negara-negara Barat menuduh Rusia dan Suriah melakukan kekejaman dengan membom rumah sakit, membunuh warga sipil dan mencegah evakuasi medis di kota terbesar Suriah Aleppo, serta menargetkan konvoi bantuan dengan hilangnya sekitar 20 jiwa. Namun, tudingan ini dibantah oleh Suriah dan Rusia dengan mengatakan mereka hanya menargetkan militan.


Credit  Sindonews

Pembicaraan Soal Suriah di Swiss Berakhir Hampa

Pembicaraan Soal Suriah di Swiss Berakhir Hampa
Pembicaraan soal Suriah yang dilakukan Menlu Rusia dan Menlu AS bersama tujuh Menlu dari sejumlah negara gagal menghasilkan terobosan baru. Foto/Reuters/Jean-Christophe Bott
 
LAUSANNE - Rusia dan Amerika Serikat (AS) gagal membuat terobosan dalam pembicaraan terbaru mengenai perang Suriah di Lausanne, Swiss. Kedua negara gagal menyepakati strategi bersama untuk mengakhiri konflik di Suriah yang telah memasuki tahun keenam.

Pertemuan di Lausanne dihadiri oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov beserta tujuh menlu dari Iran, Irak, Arab Saudi, Turki, Qatar, Yordania dan Mesir. Pertemuan ini digelar setelah runtuhnya rencana gencatan senjata Rusia-AS yang susah payah dibuat dan diharapkan bisa mengakhiri perang saudara di Suriah.

Kepada wartawan Kerry mengatakan ada konsensus tentang sejumlah pilihan yang dapat menciptakan gencatan senjata. Meski begitu, Kerry mengakui, ada beberapa ketegangan selama pembicaraan.

"Saya akan menggolongkan ini sebagai contoh dari apa yang kita inginkan, yang merupakan sebuah tukar pikiran dan diskusi yang sangat jujur untuk pertama kali," kata Kerry seperti dikutip dari Reuters, Minggu (16/10/2016).

"Sejumlah ide datang dari sejumlah menteri yang berbeda seperti yang kita harapkan yang mungkin dapat membentuk beberapa pendekatan yang berbeda," tambah Kerry.

Namun pertemuan itu gagal membuahkan sebuah pernyataan bersama atau visi bersama. Mengenai hal ini, Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan para menteri telah membahas beberapa ide menarik tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Credit  Sindonews


Terkait Suriah, Prancis Tidak Akan Kurangi Tekanan kepada Rusia

Terkait Suriah, Prancis Tidak Akan Kurangi Tekanan kepada Rusia
Presiden Prancis, Francois Hollande, menyatakan tidak akan mengurangi tekanan kepada Rusia terkait krisis di Suriah. Foto/Istimewa

PARIS - Presiden Prancis, Francois Hollande mengatakan ia tidak berencana untuk mengurangi tekanan pada Rusia atas dukungannya bagi pemerintah Suriah dalam memerangi pemberontak. Meski begitu, ia tetap siap untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin untuk membahas perang

"Vladimir Putin tidak ingin serius membahas Suriah. Saya siap setiap saat, tapi aku tidak akan mengurangi tekanan," kata Hollande dalam wawancara dengan surat kabar Prancis.

Hollande menambahkan bahwa prioritas mutlak adalah penghentian pemboman, gencatan senjata, bantuan kemanusiaan dan pembukaan negosiasi seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/10/2016).

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin membatalkan rencana kunjungan ke Prancis. Awalnya Putin dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke Prancis pada 19 Oktober mendatang, dan akan melakukan pertemuan dengan Presiden Prancis Francois Hollande.

Keputusan Putin ini datang tidak lama setelah Hollande menuturkan bahwa dia mungkin akan membatalkan pertemuan dengan Putin. Keputusan Hollande ini dilatarbelakangi oleh konflik yang terjadi di Suriah, dimana Prancis tidak senang dengan sikap Rusia yang mendukung rezim Bashar al-Assad.
Credit  Sindonews

Inggris dan AS Siap Jatuhkan Sanksi Tambahan untuk Assad

Inggris dan AS Siap Jatuhkan Sanksi Tambahan untuk Assad
Inggris dan AS tengah mempertimbangkan menjatuhkan sanksi bagi Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya. Foto/Istimewa

LONDON - Inggris dan Amerika Serikat (AS) mengatakan mereka sedang mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dan para pendukungnya. Kedua negara sekutu itu juga meminta Rusia untuk membantu mengakhiri konflik di Suriah.

"Sangat penting bahwa kita menjaga tekanan dan ada banyak langkah-langkah yang kita ajukan, hubungannya dengan sanksi tambahan terhadap rezim Suriah dan pendukung mereka, langkah-langkah untuk membawa mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan perang ke Mahkamah Pidana Internasional," kata Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson kepada wartawan.

"Hal-hal ini akhirnya akan datang untuk menggigit para pelaku kejahatan ini dan mereka harus berpikir tentang hal itu sekarang," kata Johnson, yang juga mengatakan tidak ada nafsu bagi Eropa untuk "pergi berperang" di Suriah seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/10/2016).

Johnson sendiri meragukan pemerintah Assad dan sekutunya, Rusia, akan mampu merebut kembali Aleppo dan memenangkan perang. Ia pun menyerukan Rusia dan Iran untuk menunjukkan kepemimpinannya untuk mengakhiri konflik.

"Terserah mereka untuk menunjukkan rasa belas kasihannya, menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang di kota itu dan mendapatkan gencatan senjata diberlakukan," tambahnya.

Sementara itu Menteri Luar Negeri AS John Kerry menegaskan bahwa AS dan sekutunya sedang mempertimbangkan sanksi tambahan atas Suriah, namun tidak menyebutkan nama Rusia sebagai target.

"Kami sedang mempertimbangkan sanksi tambahan dan kami juga membuat jelas bahwa Presiden (Barack) Obama belum mengambil pilihan dari meja," kata Kerry.

Credit  Sindonews







Kudeta Landa Negeri Khadafi, Pemimpin Libya "Menghilang"

 
Kudeta Landa Negeri Khadafi, Pemimpin Libya Menghilang
Perdana Menteri (PM) Libya, Fayez al-Sarraj, tidak diketahui keberadaannya selama upaya kudeta berlangsung di negara itu sejak Jumat petang. Foto/REUTERS
 
TRIPOLI - Upaya kudeta untuk menggulingkan Pemerintah Libya yang didukung PBB berlangsung di Ibu Kota Tripoli sejak Jumat petang. Perdana Menteri (PM) Libya, Fayez al-Sarraj, yang juga menjabat sebagai presiden sementara negara itu “menghilang” dan nasibnya tak diketahui.

Pemerintah Libya (GNA) menuduh mantan PM Khalifa al-Ghwell, sebagai pemimpin kudeta militer di negeri Moammar Khadafi itu. Pemerintah pada Sabtu (15/10/2016) memerintahkan penangkap semua komplotan kudeta, termasuk pemimpinnya, Ghwell.

Komplotan kudeta dilaporkan telah menduduki sejumlah bangunan penting di negara itu, termasuk Hotel Rixos dan gedung-gedung administrasi pemerintah lainnya. Hingga hari ini, para milisi pendukung kudeta masih menguasai bangunan Hotel Rixos.

Ghwell merupakan PM Libya yang digulingkan pada Maret lalu oleh kubu pemerintah saat ini. Para milisi pendukung kudeta menyiagakan truk pickup yang dipasangi senapan mesin di sekitar Hotel Rixos.

Komplotan kudeta dalam sebuah pernyataan mengklaim bahwa GNA saat ini mengalami kekosongan kepemimpinan. Tidak ada yang tahu keberadaan PM Libya Fayez al-Sarraj, namun laporan media menyebut dia berada di negara tetangga, Tunisia.

Jika semua milisi Tripoli muncul dan mendukung kudeta, maka GNA berada dalam bahaya. Selain didukung PBB sebagai pemerintah sah Libya, GNA juga didukung para diplomat Barat, seperti dari Amerika Serikat (AS), Inggris dan Uni Eropa.

Menurut laporan Guardian, belum ada laporan korban jiwa dalam upaya kudeta di Libya. Selain itu, juga belum ada laporan perihal penangkapan terhadap para pelaku kudeta.


Credit  Sindonews






Korut Kembali Ancam Bakal Serang AS dengan Nuklir

 
Korut Kembali Ancam Bakal Serang AS dengan Nuklir
Korut mengancam akan menyerang AS dengan nuklir jika Washington memobilisasi kekuatan untuk menentang Pyongyang.Foto/Ilustrasi/SINDOnews

PYONGYANG - Korea Utara (Korut) memperingatkan mungkin akan melakukan tes nuklir kembali setelah sempat melakukan uji coba pada 9 September lalu. Korut juga mengatakan siap meluncurkan serangan pendahuluan terhadap Amerika Serikat (AS) jika negara itu memobilisasi kekuatan untuk menentangnya.

"AS memiliki senjata nuklir di lepas pantai kami, menargetkan negara kami, Ibu Kota dan pemimpin terhormat kami, Kim Jong Un," ucap seorang pejabat atas Korut, Lee Yong-pil, mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC News, Senin (17/10/2016).

"Kami tidak akan mundur selama ada ancaman nuklir kepada kami dari AS. Sebuah serangan nuklir preemptive bukanlah apa-apa bagi AS yang memiliki monopoli atas itu. Jika kami melihat bahwa AS akan melakukannya kepada kami, kami akan melakukannya pertama kali. Kami memiliki teknologi itu," tambah Lee, yang merupakan direktur dari Departemen Luar Negeri Institut Studi Amerika.

Yong-pil juga memperingatkan bahwa Korut mungkin akan melakukan uji coba nuklir lanjutan. Hal itu didorong oleh semakin agresifnya latihan gabungan AS dan Korea Selatan (Korsel). Ia pun menyatakan bahwa tidak ada sanksi dari PBB maupun tekanan dari AS yang akan menghentikan Korut untuk membangun gudang senjata.

"Kami harus memiliki senjata nuklir untuk melindungi negara kami, dan itu kebijakan kami untuk memiliki nuklir," katanya.

Pejabat Korut yang lain mengatakan bahwa negara itu telah memiliki kemampuan untuk mencapai daratan AS dengan roket. Hwang Yongnam, yang berwenang untuk berbicara tentang program rudal negara itu, mengatakan Pentagon telah berbohong dengan menyatakan Korut belum bisa mencapai daratan AS dengan senjata.

Sedangkan seorang pejabat senior Korut yang terlibat dalam program luar angkasa, Ri Won-hyok mengatakan kemajuan yang dicapai negaranya bukan hanya senjata. Korut juga telah meluncurkan roket untuk membawa satelit ke ruang angkasa dan tujuan negaranya tidak hanya pergi ke bulan tetapi juga planet-planet lain.

Dia membantah bahwa program roket negara itu telah mendapat bantuan dari Rusia atau Iran. Ia mengklaim jika proyek itu 100 persen buatan Korut.



Credit  Sindonews

Pentagon: Korut Gagal Lakukan Uji Coba Rudal Balistik

Pentagon: Korut Gagal Lakukan Uji Coba Rudal Balistik
Korea Utara gagal melakukan uji coba rudal balistik. Foto/Istimewa

WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) mendeteksi Korea Utara (Korut) melakukan uji coba peluncuran rudal balistik. Namun, uji coba itu berujung pada kegagalan.

Pentagon mengatakan Sistem Komando Strategis AS mendeteksi bahwa rudal Musudan gagal dalam peluncuran yang dilakukan di dekat kota barat laut Kusong, Korut. "Kami sangat mengutuk ini dan tes rudal terbaru Korut lainnya," kata juru bicara Pentagon, Gary Ross.

Uji coba ini adalah yang terbaru dalam serangkaian uji coba yang dilakukan Korut dan melanggar resolusi PBB. AS pun mengungkapkan keprihatinannya dan menyerukan agar badan dunia menjatuhkan sanksi yang lebih tegas kepada Korut.

"Komitmen kami adalah untuk pertahanan sekutu kami, termasuk Republik Korea (Korea Selatan) dan Jepang, dalam menghadapi ancaman ini, akan lebih ketat. Kami tetap siap untuk mempertahankan diri dan sekutu kami dari serangan atau provokasi," kata Ross seperti dikutip dari Reuters, Minggu (16/10/2016).

Ross mengatakan AS menyerukan Korut untuk menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan di wilayah Semenanjung Korea.

Pyongyang sudah berada di bawah sanksi internasional yang berat lebih setelah melakukan uji coba rudal dan nuklir. Meski begitu, Korut tetap melakukan uji coba nuklir kelima pada 9 September lalu.

Credit  Sindonews

Kim Jong-un Peringatkan Inggris Tak Gabung Manuver AS dan Korsel

Kim Jong-un Peringatkan Inggris Tak Gabung Manuver AS dan Korsel
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un peringatkan Inggris tak gabung dalam latihan militer AS dan Korea Selatan. Foto/REUTERS

PYONGYANG - Diktator muda Korea Utara (Korut) Kim Jong-un, memperingatkan Inggris untuk tidak bergabung dalam latihan militer angkatan udara bersama Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel). Korut sebut rencana manuver gabungan itu sebagai tantangan serius yang tak terampuni.

Inggris telah dijadwalkan untuk bergabung dalam latihan Angkatan Udara dengan AS dan Korsel di tengah meningkatnya ketegangan antara Pyongyang dan Seoul. Inggris berencana mengerahkan empat pesawat jet tempur Eurofighter Typhoon, pesawat tanker Voyager dan pesawat angkut C-17 Globemaster untuk latihan gabungan.

Peringatan dari Kim Jong-un itu disampaikan kantor berita milik negara Korut, KCNA, melalui seorang juru bicara.”Ini adalah tantangan serius, tak pernah diampuni untuk perdamaian dan keamanan,” tulis KCNA.

“Inggris harus segera menarik keputusannya untuk ambil bagian dalam latihan militer untuk agresi,” lanjut media Pemerintah Korut itu, yang dikutip Daily Star, Sabtu (15/10/2016).

Reaksi Kim Jong-un ini muncul beberapa pekan setelah Angkatan Udara Korsel mengumumkan akan menggelar latihan militer “Invincible Shield” dengan Inggris dan AS mulai 4 hingga 10 November 2016 mendatang.

Latihan militer gabungan itu sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan Seoul untuk menyerang fasilitas kepemimpinan utama Korut dan mencegat serangan udara yang masukke Korsel.

Pemerintah Inggris belum berkomentar atas peringatan Kim Jong-un. Tak seperti AS, Inggris selama ini tidak terlibat langsung dalam konflik antara Korut dan Korsel.
Credit  Sindonews

Di KTT BRICS, PM India Sebut Pakistan 'Kapal Induk Terorisme'


Di KTT BRICS, PM India Sebut Pakistan 'Kapal Induk Terorisme'  
Perdana Menteri India Narendra Modi membawa kisruh dengan Pakistan di wilayah Kashmir ke Konferensi Tingkat Tinggi BRICS. (Reuters/Adnan Abidi)
 
Jakarta, CB -- Perdana Menteri India Narendra Modi membawa kisruh dengan Pakistan ke Konferensi Tingkat Tinggi BRICS pada Minggu (16/10). Dia mengatakan Pakistan adalah "kapal induk terorisme" di hadapan kepala negara anggota BRICS.

Pernyataan ini disampaikan Modi sesuai dengan keputusannya untuk mengisolir Pakistan di ranah internasional menyusul ketegangan kedua negara di wilayah sengketa Kashmir. Sebelumnya India berusaha membuat Pakistan terkucil di PBB dengan mengatakan bahwa negara pendukung terorisme.

"Di wilayah kami, terorisme menjadi ancaman besar bagi perdamaian, keamanan dan pembangunan," kata Modi dalam KTT BRICS, kelompok negara berkembang yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan, di Goa.

"Tragisnya, kapal induk terorisme adalah negara di sekitar India," lanjut Modi seperti yang dikutip Reuters, tanpa secara langsung menyebut nama Pakistan.

Ketegangan antara kedua negara pemilik senjata nuklir di Asia ini telah tinggi sejak serangan pangkalan militer di Kashmir pada 18 September lalu, menewaskan 19 tentara India.

India mengklaim telah melakukan serangan balasan di dekat perbataan Kashmir yang diklaim Pakistan. Pemerintah Pakistan membantah terlibat dalam serangan ke pangkalan militer India dan mengatakan klaim serangan balasan dari India tidak pernah terjadi.

Menanggapi tudingan India, pemerintah Pakistan menuding Modi telah menyesatkan negara-negara anggota BRICS dan mencoba menutupi kekejaman mereka di Kashmir, saat puluhan orang tewas sejak aksi protes pecah Juli lalu.

"Rakyat Wilayah Pendudukan India di Kashmir menjadi sasaran genosida oleh India karena meminta hak-hak dasar mereka untuk menentukan nasib sendiri," kata Sartaj Aziz, penasihat kebijakan luar negeri Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif.

Pernyataan Modi tidak masuk dalam komunike KTT BRICS di India. Tidak ada komentar dari negara BRICS lainnya.



Credit  CNN Indonesia








Operasi Pembebasan Mosul dari ISIS Dimulai



Operasi Pembebasan Mosul dari ISIS Dimulai  
Operasi untuk membebaskan Mosul dari ISIS dimulai, seperti disiarkan oleh Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi lewat televisi pada Senin pagi. (Reuters/Stringer)
 
Jakarta, CB -- Operasi untuk membebaskan Mosul dari ISIS dimulai, seperti disiarkan oleh Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi lewat televisi pada Senin pagi (17/10).

CNN melansir, pertempuran diperkirakan akan berlangsung selama beberapa minggu bahkan bulan. Jika didasarkan pada apa yang sebelumnya terjadi dalam perebutan Falluja dan Ramadi dari ISIS, maka Mosul diperkirakan akan kacau.

Serangan untuk merebut Mosul sendiri telah dipersiapkan lama. Pasukan AS dan Irak telah menggempur target ISIS di Mosul bahkan selama setahun. Baru-baru ini, AS mengumumkan penurunan 600 pasukan tambahan untuk operasi Mosul.

Puluhan penasihat militer AS dan Inggris terlibat dalam persiapan merebut Mosul, begitu pula sebuah unit artileri AS yang akan memberi perlindungan bagi pasukan di selatan Mosul.

ISIS, di lain pihak, dilaporkan mulai membangun terowongan yang dipersiapkan untuk meninggalkan kota terbesar kedua di Irak tersebut. AS memperkirakan terdapat 3.500 hingga 5.000 militan ISIS di Mosul.

Pertempuran di sekitar Mosul telah berkobar selama beberapa hari terakhir.

Sebelum direbut ISIS, Mosul dihuni oleh lebih dari 2 juta orang. Dan saat ini, masih terdapat sekitar 1 juta warga yang tinggal di kota itu.



Credit  CNN Indonesia

Salah Informasi, Koalisi Saudi Serang Pemakaman di Yaman

 
Salah Informasi, Koalisi Saudi Serang Pemakaman di Yaman  
Ilustrasi serangan udara di Yaman (Reuters/Mohamed al-Sayaghi)
 
Jakarta, CB -- Koalisi serangan udara pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok pemberontak Houthi di Yaman menyerang sebuah pemakaman akibat menerima informasi yang salah dari sejumlah tokoh militer Yaman, bahwa terdapat sejumlah pemimpin Houthi di wilayah yang dihantam serangan udara itu.

Koalisi pimpinan Saudi di Yaman menghadapi berbagai kritik tajam akibat serangan udaranya pada akhir pekan lalu menghantam sebuah acara pemakaman di ibu kota Sanaa, menyebabkan 140 warga tewas, menurut laporan PBB. Sementara Houthi menyebutkan serangan itu menyebabkan 82 orang tewas.

Para pelayat yang tewas dalam serangan itu termasuk sejumlah pejabat politik dan keamanan, yang diduga bergabung dengan Houthi untuk melawan pemerintahan Yaman yang didukung Saudi.

"Sebuah pihak yang terafiliasi dengan Kepala Staf Kepresidenan Yaman memberikan kami informasi yang salah bahwa di daerah tersebut terdapat sejumlah pemimpin Houthi bersejenjata di Sanaa, dan memaksa kami menargetkan wilayah itu secepatnya," bunyi kesimpulan badan penyidik yang menginvestigasi serangan itu, dikutip dari Reuters, Sabtu (15/10).

Tim Peninjauan Insiden Gabungan (JIAT) menyatakan bahwa Pusat operasi serangan udara di Yaman juga gagal memberikan persetujuan soal serangan tersebut dari para komandan, sebuah pelanggaran terhadap protokol yang ada.

JIAT kemudian menyerukan peninjuan kembali aturan soal keterlibatan dan kompensasi untuk keluarga korban. JIAT menyatakan "tindakan yang tepat" harus diambil terkait insiden ini, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Juru bicara JIAT menyebut bahwa tindakan itu termasuk proses peradilan.

"Tentu, publik harus diberitahu soal apa yang menyebabkan kesalahan ini. Mereka memiliki hak untuk melindungi diri mereka, namun jelas bahwa langkah hukum harud diambil, pasukan koalisi memahami hal itu," kata Mansour Ahmed al-Mansour, penasihat hukum JIAT.

"Koalisi menyerukan penyesalan terkait insiden yang tidak disengaja ini dan menghaturkan rasa turut berduka cita bagi para keluarga korban. Insiden ini tidak sejalan dengan tujuan koalisi, yang ingin melindungi warga dan mengembalikan keamanan dan stabilitas di Yaman," bunyi pernyataan koalisi Saudi.

PBB memperkirakan sekitar 10 ribu warga Yaman tewas dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun ini. PBB menuding koalisi serangan udara pimpinan Saudi menyebabkan 60 persen dari total kematian 3.800 warga sipil sejak Maret 2015.

Pertempuran terus berlanjut pada Sabtu (15/10), dengan media Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan rudal ke wilayah kamp militer Saudi di Provinsi Asir




Credit  CNN Indonesia



Israel Bekukan Hubungan dengan UNESCO Terkait Yerusalem


Israel Bekukan Hubungan dengan UNESCO Terkait Yerusalem  
Israel membekukan hubungan dengan UNESCO setelah draft resolusi yang tidak menyebutkan mengapa situs suci di Yerusalem berarti bagi umat Yahudi. (Reuters/Ammar Awad)
 
 
Jakarta, CB -- Israel membekukan hubungan dengan UNESCO, badan PBB soal pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, terkait dengan situs suci di Yerusalem.

Kamis lalu, Dewan Eksekutif UNESCO di Paris meloloskan draf keputusan soal situs suci Yerusalem. Draf itu menyebut soal pentingnya situs itu bagi tiga agama—Kristen, Islam dan Yudaisme—namun tidak membahas soal betapa pentingnya situs bagi umat Kristen dan Yahudi.

Draf tersebut banyak mengkritik aksi Israel di Yerusalem, Tepi Barat dan Gaza. Diusulkan oleh negara-negara Arab, draf itu mendapat tentangan dari Israel dan Amerika Serikat.


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam draf tersebut.

“Menyatakan bahwa Israel tak punya koneksi dengan Kuil Suci dan Tembok Barat seperti menyatakan China tak punya koneksi dengan Tembok Besar China atau bahwa Mesir tak punya koneksi dengan Piramida. Karena keputusan absurd ini memnbuat UNESCO kehilangan sisa legitimasinya,” kata Netanyahu seperti dikutip dari CNN, Jumat (14/10).

Menyusul pemungutan suara oleh UNESCO, Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennet lewat surat menyatakan bahwa Israel akan membekukan semua aktivitas profesional dengan UNESCO.

Mark Toner, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS juga mengkritik draft dari UNESCO.


“Kami sangat khawatir soal resolusi yang dipolitisasi dan berulang ini yang tidak berdampak apa pun terhadap hasil konstruktif di lapangan. Dan kami tak yakin [resolusi] itu harus diadopsi,” kata Toner.

AS sendiri menghentikan sumbangan dana bagi UNESCO pada 2011 setelah badan itu menerima keanggotaan penuh Palestina. Sebelumnya, Washington memberi US$80 juta setahun kepada UNESCO.

Resolusi terbaru UNESCO diajukan oleh negara Arab termasuk Mesir, Aljazair, dan Qatar. Sebanyak 24 negara mendukung resolusi, empat menolak, dan 26 absen.
Pemerintah Palestina di lain pihak menyambut keputusan UNESCO.

“Palestina akan terus mempertahankan hak rakyat kami melalui semua kesempatan legal dan diplomatik yang tersedia, termasuk organisasi PBB,” ujar Kementerian Luar Negeri Palestina dalam pernyataan. "Agenda damai kami tidak akan rusak oleh propaganda, juga toleransi dan kepatuhan kami terhadap hukum internasional tidak akan diubah oleh kesalahan dan sikap sinis."

Wilayah situs suci Yerusalem bagi umat Muslim merupakan lokasi Nabi Muhammad mengalami Isra Miraj, bagi umat Yahudi dan Kristen merupakan fondasi di mana Adam diciptakan serta lokasi Ibrahim akan mengorbankan anaknya Ismail. Bagi Yahudi situs itu juga merupakan situs Kuil Pertama dan Kedua.

Keputusan draft itu akan final sebelum sidang pleno Dewan Eksekutif UNESCO pada Selasa besok: apakah akan diadopsi atau akan diperdebatkan lebih lanjut.




Credit  CNN Indonesia





Dua astronaut Tiongkok jalankan misi Shenzhou-11

 
Beijing (CB) - Dua astronaut Tiogkok Jing Haipeng dan Chen Dong menggunakan wahana ruang angkasa Shenzhou-11, Senin pagi, menuju laboratorium ruang angkasa Tiangong-2 untuk melakukan instalasi dan berbagai uji sains.

Peluncuran Shenzhou-11 dilakukan menggunakan roket Long March-2F dari Pusat Peluncuran satelit Jiuquan, Gurun Gobi pada 7.30 waktu setempat, didahului dengan seremoni pelepasan, termasuk memperkenalkan dua astronot pria tersebut.

Jing Haipeng (50) menjadi komandan dalam misi selama satu bulan tersebut. Penerbangan ke ruang angkasa itu merupakan yang kali ketiga bagi Jing Haipeng. Sebelumnya, dia terbang ke ruang angkasa untuk misi Shenzhou-7 pada 2008 dan Shenzhou-9 pada 2012.

Sementara Chen Dong (38) adalah pilot Angkatan Udara dengan 1.500 jam terbang, yang bergabung sebagai astronot pada Mei 2010 dan lulus untuk menjalankan misi Shenzhou-11 pada Juni 2016.

Wakil Direktur sekaligus juru bicara Badan Ruang Angkasa Tiongkok Wu Ping dalam jumpa wartawan mengatakan sebelum "docking" di Tiangong-2, Shenzhou-11 berkeliling selama dua hari.

"Dua astronot tersebut kemudian menuju Tiangong-2, dan akan menetap selama 30 hari. Ini merupakan waktu menetap terlama kali pertama yang dilakukan oleh astronot Tiongkok," katanya.

Wu ping menambahkan Jing Haipeng dan Chen Dong memiliki tugas utama melakukan berbagai pengujian dan instalasi Tiangong-2 sebagai laboratorium ruang angkasa.

Pada 2017 pesawat kargo ruang angkasa Tiongkok Tianzhou-1akan diluncurkan untuk membawa perbekalan makanan dan bahan bakar. Laboratorium pertama ruang angkasa Tiongkok, Tiangong-1, telah diluncurkan pada September 2011 dan akan berakhir masa edarnya pada tahun depan.



Credit  ANTARA News





Raja terakhir Rwanda Kigeli V meninggal dunia di AS

 
Washington (CB) - Raja terakhir Rwanda Kigeli V meninggal dunia dalam usia 80 tahun pada Minggu pagi (16/10), demikian menurut keterangan di laman resmi miliknya.

Lahir dengan nama lengkap Jean-Baptiste Ndahindurwa di Kamembe, Kigeli V mengasingkan diri pada 1960 setelah terlibat konflik dengan penjajah Belgia. Pada 1961, Kerajaan Rwanda dihapuskan.

Kigeli V mengasingkan diri ke sejumlah negara Afrika sebelum menetap di Washington pada 1922.

Selama di Amerika Serikat, ia memimpin King Kigeli V Foundation untuk membantu para pengungsi Rwanda.

Masih belum jelas apa penyebab kematian Kigeli V.

Menurut laporan majalah lokal Washington pada 2013, Kigeli V tinggal di rumah bersubsidi, menerima bantuan makanan dan sumbangan lain di Oakton, Virginia, dan ia bermurah hati berbagi cokelat kepada anak-anak tetangga.

"Mereka menyebut saya Raja Afrika," ujar Kigeli.

Selama puluhan tahun ia mengungkapkan harapan untuk kembali kampung halamannya di Rwanda, negara mungil di Afrika timur yang merupakan salah satu negara termiskin dunia, sebagai seorang raja.





Credit  ANTARA News





Pengeboman di lift tewaskan komandan pemberontak Ukraina

 
Donetsk (CB) - Komandan militer pemberontak Ukraina Arseny Pavlov tewas, Minggu (16/10), dalam pengeboman di Donetsk, Ukraina timur, menurut keterangan otoritas setempat, menyebut insiden tersebut merupakan deklarasi perang.

Usai mencaplok Semenanjung Crimea dari Ukraina pada 2014, Rusia mendukung pemberontakan pro-Moskow di Ukraina timur yang merenggut hampir 10 ribu korban jiwa.

Pavlov alias ‘Motorola’ memimpin batalion Sparta dan merupakan komandan senior pasukan pemberontak.

Alexander Zakharchenko, perdana menteri daerah separatis Republik Rakyat Donetsk, mengatakan Presiden Ukraina Petro Poroshenko telah melanggar gencatan senjata dan mendeklarasikan perang.

Pavlov tewas akibat ledakan bom yang dipasang di lift sebuah gedung.

Pada Minggu malam, lokasi kejadian dikelilingi oleh truk militer, kendaraan lapis baja dan sekitar 50 personel bersenjata.

Gerilyawan batalion Sparta mengatakan pengawal pribadi Pavlov juga tewas dalam pengeboman tersebut.

"Pengeboman dilakukan oleh pasukan Ukraina atau oleh pihak kami sendiri," menurut pernyataan batalion Sparta, seperti dilaporkan AFP.

Pavlov berpartisipasi dalam berbagai pertempuran sengit melawan pasukan Ukraina di sekitar Bandara Donetsk. Ia berhasil selamat dari upaya pembunuhan pada Juni silam.

Pihak-pihak yang terlibat konflik Ukraina menyepakati perjanjian damai dukungan Jerman dan Prancis pada Februari 2015, tetapi meski perjanjian Minsk berhasil meredakan pertempuran, konflik masih berkecamuk.



Credit  ANTARA News





Presiden Filipina akan angkat persoalan arbitrase, tak akan tawar-menawar

 
Presiden Filipina akan angkat persoalan arbitrase, tak akan tawar-menawar
Presiden Filipina, Rodrigo R. Duterte (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
 
Manila (CB) - Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Minggu, menyatakan bahwa pihaknya akan mengangkat putusan arbitrase atas kontroversi Laut China Selatan saat bertemu pemimpin China dan berjanji tidak akan menyerahkan kedaulatan atau menyimpang dari putusan Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, pada Juli lalu.

Duterte mengungkapkan kunjungannya ke China pada pekan ini untuk menjelaskan titik balik hubungan bilateral, namun dia mengakui ada beberapa perhatian publik tentang pemulihan hubungan yang cepat dan meyakinkan rakyat Filipina bahwa hal itu tidak akan berdampak pada kedaulatan maritim negaranya, lapor Reuters.

Menanggapi komentar yang menyebutkan bahwa dia tidak akan bisa duduk nyaman bersama pemimpin China, Duterte mengatakan keputusan oleh Pengadilan Tetap Arbitrase akan dibicarakan dan parameter keputusan akan dibahas, tapi tidak akan ada upaya pemaksaan.

Keputusan tersebut merupakan pukulan telak atas pengakuan China di sebagian besar wilayah di Laut China Selatan. Beijing telah menolak mengakui kasus tersebut dan mencela sejumlah negara yang menginginkan China mematuhi putusan tersebut.

"Saya tidak akan mengajukan tawaran lagi di mana pun. Kami akan terus menuntut bahwa wilayah itu milik kami," katanya dalam konferensi pers di kediamannya di Kota Davao.

"Keputusan majelis internasional akan menjadi acuan," ujarnya.

Pergerakan sikap presiden yang di luar dugaan tehadap kuatnya keterlibatan China yang terjadi hanya beberapa bulan setelah keputusan arbitrase yang menimbulkan kekhawatiran kawasan atas reaksi Beijing di Laut China Selatan itu menandai perubahan mencolok dalam kebijakan luar negeri setelah Duterte memegang jabatan sebagai Presiden Filipina pada 30 Juni 2016.

Duterte berangkat ke China, Selasa, bersama sedikitnya 200 anggota rombongan dari kalangan pengusaha elit Filipina untuk memperkuat kebijakan aliansi komersial baru. Beberapa pihak mengharapkan pembiayaan perusahaan di Filipina, ekspor pertanian, investasi infrastruktur utama, dan pariwisata menjadi prioritas kunjungan ke China tersebut.

Kunjungan tersebut terjadi di tengah gencarnya komentar anti-Amerika yang disampaikan Duterte mengenai wacana hubungan jangka panjang dengan Amerika Serikat.

Pada saat dia terus mencela dan mencaci maki Washington atas kekhawatiran tentang perang berdarah pada kasus penyalahgunaan narkoba, Duterte menegaskan langkah awal strategis tentang kepatuhan konstitusi yang menjunjung kebijakan luar negeri secara independen.

Dia membicarakan keinginannya untuk mengintensifkan hubungan dagang dan hubungan kerja yang lebih dekat dengan China, namun tidak akan menghindari pembicaraan atas apa yang mereka perselisihkan.

"Tidak ada pemaksaan. Kami akan bicara, kami mungkin akan menguraikan sesuatu dalam keputusan tersebut dan menentukan batas-batas wilayah kami, zona ekonomi khusus," katanya dalam pertemuan dengan wartawan di Davao itu.

"Tidak ada tawar-menawar. Itu wilayah kami dan beberapa di antara kalian menginginkan jawaban atas pertanyaan itu. Tidak ada tawar-menawar," tegas Duterte.

Komentar Duterte itu mungkin dianggap ocehan oleh China, tetapi mungkin tidak ingin mendengar tentang putusan internasional yang sangat merugikan, dan termasuk pembatalan "garis sembilan putus-putus" berbentuk U pada peta dan paspor China.



Credit  ANTARA News








Militer: serangan udara Mesir tewaskan 100 gerilyawan di Sinai Utara

 
Militer: serangan udara Mesir tewaskan 100 gerilyawan di Sinai Utara
Foto dokumen: Asap mengepul di Sinai Utara, Mesir terlihat dari perbatasan selatan Jalur Gaza dengan Mesir. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)
 
Kairo (CB) - Sedikitnya 100 gerilyawan tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Pemerintah Mesir sejak Sabtu pagi (15/10) terhadap sasaran mujahidin di Sinai Utara.

Serangan udara itu adalah pembalasan atas tewasnya 12 personel Angkatan Darat pada Jumat di satu pos pemeriksaan, kata satu sumber keamanan kepada Xinhua.

Pada Sabtu pagi, Angkatan Bersenjata Mesir mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi bahwa militer memburu para penjahat dan anasir teror yang melancarkan serangan pada Jumat.

Serangna udara itu ditujukan kepada tempat persembunyian gerilyawan bersenjata yang terlibat dalam serangan pada Jumat. Semua daerah yang menampung anasis teror serta depot senjata dan amunisi dihancurkan dalam serangan udara tersebut, yang berlangsung selama tiga jam dan terus berlangsung, kata pernyataan itu.

Sedikitnya 40 gerilyawan cedera dalam serangan udara tersebut, tambah sumber itu.

Ia menyatakan serangan udara tersebut telah ditujukan ke tiga tempat yang diduga sebagai pangkalan di Kota Rafah, Sheikh Zuweid dan Al-Arish.

Kobaran api dan asap masih terlihat di sekitar lokasi, tambah sumber tersebut.

Serangan gerilyawan pada Jumat terjadi di Daerah Sinai Utara, 40 kilometer dari Kota Kecil Bid Al-Abd, saat sekelompok gerilyawan menyerang pos pemeriksaan dengan menggunakan senapan dan senjata otomatis, kata beberapa sumber keamanan.

Militer Mesir melancarkan serangan balasan dan menewaskan 15 pelaku teror pada Jumat.

Provinsi Sinai Utara telah menjadi pangkalan bagi serangan anti-keamanan yang menewaskan ratusan polisi dan militer sejak penggulingan pimpinan militer terhadap presiden Mohamed Moursi dari kubu Islam pada 2013. Angkatan Bersenjata melalui kerja sama dengan polisi telah mengumumkan "perang melawan terorisme" dan makin banyak tentara dikerahkan.

Kelompok gerilyawan yang berpusat di Sinai dan setia kepada IS mengaku bertanggung-jawab atas sebagian besar serangan, termasuk serangan pada Jumat, demikian Xinhua melaporkan.


Credit  ANTARA News

Mesir balas ekstremis dengan serangan udara

Kairo (CB) - Militer Mesir melancarkan beberapa serangan udara yang menargetkan sejumlah ektremis di Semenanjung Sinai pad Sabtu, kata pihak militer,  setelah ISIS menewaskan 12 tentara di sebuah pos pemeriksaan.

Sinai utara adalah sebuah benteng bagi para ekstremis Sunni, yang telah menewaskan ratusan tentara dan polisi sejak militer menggulingkan presiden Mohamed Moursi pada 2013.

Serangan yang terjadi pada Jumat memperlihatkan beberapa mortir dan roket ditembakkan ke arah sebuah pos militer di barat El Arish, ibu kota provinsi Sinai utara, menurut para pejabat.

Pihak militer mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi, bahwa pesawat mereka telah lepas landas pada Sabtu dini hari.

Peluncuran pesawat tersebut dimaksudkan untuk melakukan misi pengintaian dan pengeboman di wilayah tersebut yang berlangsung beberapa jam.

Serangan tersebut menargetkan beberapa tempat persembunyian para ekstremis bersenjata yang terlibat dalam serangan pada Jumat, seraya menambahkan bahwa sejumlah ekstremis tewas dan persenjataan mereka dihancurkan.

Pihak militer telah mengerahkan pasukannya ke Semenanjung tersebut dalam beberapa tahun terakhir untuk melawan pemberontakan.

Isis menargetkan warga asing di Mesir, dan mengklaim telah mengebom sebuah pesawat maskapai Rusia tahun lalu, yang membawa turis pulang dari resort di Sinai. Seluruh 244 orang dalam penerbangan tersebut tewas, demikian dikutip dari laporan AFP.


Credit  ANTARA News


Inggris kirim tentara latih militer lawan ISIS di Tunisia


 
Inggris kirim tentara latih militer lawan ISIS di Tunisia
Dokumentasi anggota Organisasi Badr Syiah berlatih sebelum peperangan selanjutnya untuk merebut kembali Mosul di Provinsi Diyala, Irak, Selasa (27/9/2016). Foto diambil 27 September 2016. (REUTERS/Stringer)
 
London (CB) - Inggris mengirim 40 tentara ke Tunisia, untuk melatih pasukan militer setempat dalam melawan dan mencegah penyebaran ISIS dari negara tetangga, Libya, kata Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon, Sabtu.

Pelatihan militer itu akan mengedepankan perencanaan kegiatan, operasi intelijen, pengawasan, dan patroli. Latihan tersebut merupakan misi ketiga yang digelar tentara Inggris sejak 30 orang wisatawan asal Inggris tewas akibat serangan di Tunisia.

Jumlah warga Inggris yang tewas dalam pembantaian di hotel, di kawasan wisata Sousse, di pesisir Laut Mediterania, Juni akhir tahun lalu, dikabarkan paling banyak dibanding korban pengeboman di London pada Juli 2005.

"Kami bermaksud membantu tentara Tunisia melawan teroris Daesh alias ISIS yang membantai warga Inggris tak bersalah di pantai tahun lalu," kata Fallon.

"Pelatihan ini akan membantu tentara Tunisia menguatkan penjagaan di perbatasan dan menghentikan penyebaran Daesh di sepanjang pesisir," kata dia.

Pelatihan itu akan diikuti 200 tentara Tunisia di beberapa lokasi. Sebelumnya dua misi serupa telah digelar pada Februari dan akhir tahun lalu.



Credit  ANTARA News







Markas Partai Republik Dilempar Bom, Ada Tulisan 'Nazi' di Tembok



CB, North Carolina - Kantor Partai Republik di North Carolina dilempar bom tangan dan terbakar. Tak hanya itu, di gedung dekatnya terdapat tulisan "Nazi Republikan" dan "tinggalkan kota". Insiden terjadi pada Sabtu 15 Oktober 2016 malam, waktu setempat.
Dikutip dari NBCNews, Senin (17/10/2016), otoritas Hillsborough mengatakan tak ada orang yang terluka atas insiden yang menimpa markas Partai Republik untuk wilayah Orange County.
Sebuah botol yang mengandung bahan bakar dilempar ke arah kaca depan kantor pusat Partai Republik itu. Akibatnya meledak dan membakar sejumlah furniture dan barang-barang di dalamnya. Api padam karena sistem otomatis pemadaman di kantor tersebut.
Sementara itu, di tembok dekat markas tersebut, terdapat coretan grafiti bertuliskan 'Nazi Republicans, Leave Town or Else' dengan lambang swastika di dekatnya.
Seorang pebisnis yang memiliki kantor dekat markas Republik menemukan kerusakan itu pada Minggu 16 Oktober pagi.
"Aksi menyebalkan itu sudah keterlaluan karena sampai merusak properti," kata Wali Kota Hillsborough, Tom Stevens. Dalam pernyataannya ia mengatakan, "Insiden itu jelas mengancam keamanan komunitas karena kebakaran bisa saja meluas. Dan mencoret-coret dinding dengan pesan kebencian merusak kehormatan dan kesatuan warga sipil."

"Saya percaya saya berbicara atas nama seluruh warga Hillsborough: aksi seperti itu tidak akan dimaafkan oleh kami," lanjut pernyataan wali kota.
Juru bicara Partai Republik di North Carolina, Emily Weeks mengatakan kepada NBCNews bahwa kantor tersebut tidak bisa digunakan. Seluruh material termasuk catatan surat suara kemungkinan juga rusak.
Ia mengatakan sebelumnya markas Grand Old Party (GOP) tersebut tidak pernah mendapatkan ancaman.
Dalam sebuah pernyataan, GOP eksekutif Dallas Woodhouse menyebut insiden itu merupakan kejahatan kebencian dan mengatakan bahwa "semua orang Amerika harus marah" dengan "serangan kekerasan terhadap demokrasi kita."
Tim kampanye Hillary Clinton juga mengutuk insiden itu sebagai "mengerikan dan tidak dapat diterima," menambahkan rasa syukur bahwa tidak ada yang terluka dalam aksi itu.
Kandidat presiden dari Partai Republik Donald Trump menuding mereka yang berada di balik insiden itu sebagai "binatang yang mewakili Hillary Clinton dan Demokrat di North Carolina." (Pihak berwenang belum mengidentifikasi tersangka apapun.)
Mereka "mengebom kantor kami di Orange County karena kita menang," katanya di Twitter.
Namun, sebuah jajak pendapat NBCNews dan Wall Street Journal Marist dilakukan pekan lalu mengatakan Clinton memimpin Trump lebih tinggi empat poin di negara bagian itu. Secara nasional, Clinton memimpin Trump dengan 11 poin, menurut sebuah jajak pendapat NBC News/ WSJ yang dirilis Minggu.
"Keamanan tambahan akan diminta untuk semua kantor GOP dan acara kami di seluruh negara bagian sampai 8 November," tutup Woodhouse.





Credit  Liputan6.com





4 'Sinyal' Ini Tunjukkan Rusia Siap Berperang?




CB, Moskow - Ketegangan politik yang saat ini terjadi antara Amerika Serikat dengan Rusia membuat sejumlah orang khawatir akan pecahnya Perang Dunia III.
Hubungan dua negara superpower itu saat ini berada di titik paling rendah sejak Perang Dingin, menyusul pertentangan sikap antara pihak Gedung Putih dan Kremlin soal konflik Suriah.
Beberapa pihak menilai, sejumlah aktivitas yang terjadi di Rusia akhir-akhir ini menunjukkan bahwa negara tersebut telah memberikan sinyal sedang bersiap-siap untuk perang.
Sejumlah kabar dan spekulasi pun membuat orang-orang khawatir akan ketegangan dua negara itu. Dikutip dari Washington Post, Minggu (16/10/2016) berikut empat kabar tentang yang dinilai sebagai persiapan perang Rusia serta analisis dan konfirmasi sejumlah pihak.
1. Tempat Penampungan Bom Baru
Sebuah poster yang terdapat di kota tetangga Moskow meminta para penduduknya menyumbang 500 rubel atau sekitar Rp 103 ribu untuk membangun sebuah penampungan bom baru. Menurut poster tersebut, Rusia diperkirakan akan mendapat serangan nuklir dari Amerika Serikat dan negara satelitnya.
Namun poster tersebut belum diketahui kebenarannya. Banyak orang menyebut hal itu sebagai hoax yang mungkin bertujuan untuk menipu pensiunan.
2. Jatah Roti Darurat
Gubernur St. Petersburg Rusia disebut-sebut telah menyetujui rencana untuk memastikan ransum roti seberat 300 gram selama 20 hari untuk masing-masing 5 juta warga kota.
Namun hal tersebut dianggap tak lebih dari sebuah aksi publisitas. Komentator Rusia segera menangkap 'gema' dari Perang Dunia II ketika tentara Jerman menduduki sebuah kota--sekarang bernama Leningrad-- selama 900 hari.
"Itu dua kali lebih banyak dari jumlah ransum saat pengepungan Leningrad," ujar analis militer, Alexander Golts di Yezhednevny Zhurnal.
3. Merekrut Tentara Baru
Menurut sejumlah kabar, Pemerintah Rusia menyetujui amandemen undang-undang yang memungkinkan untuk menambah tentara dengan menandatangani cadangan dan veteran selama enam bulan kontrak berbayar.
Namun menurut Golts, hal tersebut tak serta merta menandakan bahwa Rusia bersiap untuk perang. Ia mengatakan, peraturan tersebut hanya terjadi dalam keadaan luar biasa, seperti menanggapi bencana alam atau gangguan dalam negeri.
Tapi dalam hal memelihara atau memulihkan perdamaian dan keamanan, bisa diartikan bahwa mereka melakukannya di suatu tempat di luar Rusia.
"Kemungkinan tidak dapat dikesampingkan bahwa Moskow sedang memikirkan operasi darat besar di Suriah," ujar Golts.
4. Pergerakan Misil
Rusia telah memindahkan misil berkemampuan nuklir ke Kaliningrad, wilayah yang berbatasan dengan negara-negara Baltik. Kabar tersebut sontak membuat sejumlah komentator khawatir akan terjadi perang nuklir.
Namun Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov mengatakan, salah satu misilnya dengan sengaja terpapar satelit mata-mata AS dan bahwa penyebarannya merupakan bagian dari pelatihan reguler.
Menteri Luar Negeri Lithuania, di mana negaranya berbatasan dengan Kaliningrad, menggambarkan langkah itu sebagai taktik negosiasi, meskipun bukan salah satu yang menyenangkan.



Credit  Liputan6.com





Dalam Sepekan, Kapal Perang AS Diserang Rudal 3 Kali





CB, Sanaa - Kapal perang jenis perusak milik Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) kembali menjadi target serangan rudal yang ditembakkan dari wilayah Yaman yang dikuasai pemberontak Houthi. Insiden tersebut merupakan kali ketiga dalam pekan ini.
Seperti dilansir dari Reuters, Minggu (16/10/2016) sejumlah rudal ditembakkan ke USS Mason yang tengah berada di zona perairan internasional di Laut Merah. Namun seorang pejabat militer AS menjelaskan, kapal perang itu berhasil mempertahankan diri dan menghindari hantaman rudal.
Pada Kamis lalu, USS Mason melakukan aksi balasan dengan meluncurkan rudal jelajah yang diarahkan ke tiga lokasi radar pesisir di kawasan yang dikontrol pemberontak Houthi.
Serangan balasan ini telah disetujui oleh Presiden Barack Obama sekaligus menandai aksi militer pertama Washington yang menargetkan pemberontak Houthi di Yaman. Pertanyaan pun mencuat terkait eskalasi serangan lanjutan.
Dalam pernyataan yang disampaikan juru bicara Pentagon, Peter Cook, ia menekankan bahwa tindakan yang diambil USS Mason itu hanya terbatas untuk membalas serangan yang diarahkan ke kapal perang penghancur tersebut. Ia memastikan aksi militer tersebut tidak terkait dengan perang saudara yang terjadi di Yaman.
USS Mason telah tiga kali mendapat serangan rudal. Yang pertama terjadi pada 10 Oktober lalu. Sementara yang kedua terjadi pada 13 Oktober.
Pihak tertuduh, pemberontak Houthi membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka juga memperingatkan akan mempertahankan diri jika diperlukan.
Yaman--negara termiskin di Timur Tengah--saat ini tengah dilanda perang saudara di mana konflik telah memicu kelaparan yang menyebabkan lebih dari 10.000 orang tewas sejak Maret 2015 lalu.
Sejumlah negara diketahui terlibat konflik dalam negeri Yaman, yakni Arab Saudi dan Iran. Sementara sebagai sekutu lama, AS menyokong persenjataan dan memberikan izin bagi koalisi yang dipimpin Arab Saudi untuk mengisi bahan bakar pesawat tempurnya di pangkalan udara mereka.
Di lain pihak, Iran mendukung kelompok pemberontak Houthi. Pekan lalu, Negeri Para Mullah itu mengatakan telah mengerahkan dua kapal perangnya ke Teluk Aden untuk mengamankan kawasan tersebut dari para perompak.



Credit  Liputan6.com