Senin, 25 Februari 2019

Militer Venezuela Tembak Mati Warga yang Perjuangkan Bantuan


Militer Venezuela Tembak Mati Warga yang Perjuangkan Bantuan
Militer Venezuela menembak mati dua orang di antara massa yang mencoba menghalangi penutupan perbatasan dengan Brasil agar bantuan asing dapat masuk. (Ivan De Jesus Yanez via Reuters)




Jakarta, CB -- Militer Venezuela menembak mati dua orang di antara massa yang mencoba menghalangi penutupan perbatasan dengan Brasil agar bantuan asing dapat masuk ke negaranya.

Reuters melaporkan bahwa bentrokan ini bermula ketika warga Desa Kumarakapay yang terletak di dekat perbatasan dengan Brasil, mengadang konvoi militer.

Mereka menduga konvoi tersebut berupaya menghalangi bantuan asing yang masuk lewat perbatasan Brasil.


Tentara kemudian malah masuk ke dalam desa dan melepaskan tembakan, merenggut dua nyawa warga desa dan melukai sejumlah orang lainnya.

"Saya katakan kepada mereka untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk. Mereka malah menyerang kami. Mereka menembaki orang tak bersalah yang sedang bekerja di rumahnya," ujar seorang pemimpin desa, Richard Fernandez.

Juru bicara pemerintah daerah setempat mengatakan bahwa tujuh dari 15 orang yang terluka kemudian dilarikan ke rumah sakit di Kota Boa Vista menggunakan ambulans.

Membela tindakan militer, seorang tangan kanan Presiden Nicolas Maduro, Diosdado Cabello, mengatakan bahwa para warga yang berupaya menghalangi konvoi tersebut adalah "kelompok kekerasan bergerak atas perintah oposisi."

Januari lalu, pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, memproklamirkan diri sebagai presiden interim di tengah demonstrasi besar-besaran anti-Maduro.

Guaido mengatakan bahwa ada sekitar 300 ribu warga Venezuela terancam meninggal akibat krisis ekonomi di negaranya yang sedang mengalami hiperinflasi.

Ia juga sudah memperingatkan militer, yang masih setia kepada Maduro, agar tidak memblokade bantuan kemanusiaan. Ia menyebut pemblokiran akses bantuan kemanusiaan ini "hampir seperti genosida."

Namun, Maduro mengatakan bahwa negaranya tidak membutuhkan bantuan asing. Ia menganggap bantuan AS hanya salah satu pintu masuk untuk intervensi.





Credit  cnnindonesia.com