Senin, 03 Desember 2018

Lima Kejadian Menarik di KTT G20


Lima Kejadian Menarik di KTT G20
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)


Jakarta, CB -- Pemimpin global memperdebatkan ancaman-ancaman pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berlangsung di Argentina. Mereka membahas ancaman di KTT G20, antara lain perselisihan mengenai perang dagang dan perubahan iklim global.

Namun ternyata, fakta yang terjadi dalam KTT G20 tersebut tidak seburuk yang diperkirakan. Dikutip AFP, berikut adalah lima momen pada hari pertama KTT G20 pada Jumat, (30/11) waktu setempat yang menyita perhatian dunia:

Jabat Tangan MBS, Putin, dan Macron


Semua mata tengah tertuju pada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di tengah kasus pembunuhan kolumnis Washington Post Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi, di Istanbul, Turki. Namun demikian, MBS berhasil berbaur dengan pemimpin negara lain.

Bahkan sang pangeran sempat berjabat tangan dan tertawa dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sementara MBS tengah menghadapi isu miring terkait pembunuhan Khashoggi, Putin juga tengah menjadi sorotan atas penembakan tiga kapal perang Ukraina oleh Rusia.

Pemandangan lain yang cukup menarik adalah percakapan MBS dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, seperti yang didokumentasikan oleh asisten pangeran.

Sang pangeran terdengar berkata dalam bahasa Inggris kepada pemimpin Prancis, "Jangan khawatir," ujarnya. Macron menjawab, "Saya khawatir. Saya sudah khawatir." Macron pun tampak memberi tahu sang pangeran, "Anda tidak pernah mendengarkan saya," yang dijawab oleh Pangeran MBS, "Saya akan mendengarkan, tentu saja."

Diplomasi Lewat Sketsa ala Putin

Dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Rusia Vladimir Putin tampak menggambar sebuah sketsa peta Selat Kerch. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang staf delegasi Prancis.

Lewat sketsa itu, Putin menjelaskan bahwa kapal Ukraina yang dikuasai angkatan lautnya pada hari Minggu telah memasuki perairan Rusia. Putin menjelaskan itu sekaligus untuk memperkuat posisi Rusia yang sedang tersudut karena menyerang kapal tersebut.


"Putin mengeluarkan selembar kertas dan membuat sketsa laut dan selat, ia mencoba menjelaskan rute yang diambil kapal Ukraina melalui wilayah laut netral kemudian memasuki wilayah teritorial (Rusia)," kata staff delegasi itu.

NAFTA Baru Terbentuk

Di bawah ancaman perang dagang yang memburuk dalam KTT G20, AS, Kanada dan Meksiko malah dapat menunjukkan keberhasilan yang gemilang pada hari pertama. Mereka menandatangani perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang baru dan lebih baik.

Kendati demikian, anggota blok perdagangan itu tidak dapat menyepakati nama perjanjian dagang bebas yang baru itu.

AS bersikeras memakai nama USMCA (Perjanjian AS-Meksiko-Kanada), sementara Meksiko menyebutnya TMEC, dan Kanada memutar inisialnya menjadi CUSMA. Upaya masing-masing negara memberi nama usai kesepakatan baru itu nampaknya tidak memberi pertanda baik bagi perjanjian baru.

Air Mata Presiden Argentina

Presiden Argentina Mauricio Macri yang kelelahan selaku tuan rumah KTT G20 tampak emosional saat pertunjukan musikal di Teatro Colon di Buenos Aires. Orang nomor satu di Argentina itu menitikkan air mata saat para penari di atas panggung menyudahi pertunjukan mereka dengan nyanyian berirama "Argentina, Argentina" disertai tampilan kekayaan budaya Argentina.

Istrinya, Juliana Awada dan Kanselir Jerman Angela Merkel memberinya tepukan menghibur. Sebelumnya, puluhan ribu pengunjuk rasa Argentina turun ke jalanan menentang pemerintah Macri. Mereka mengatakan Macri telah menghabiskan jutaan dolar untuk menjadi tuan rumah G20, sedangkaan negaranya tersandung krisis ekonomi.

Trump pernah menjadi pemenang

Setelah kemenangan Donald Trump pada pemilihan Presiden AS tahu 2016, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dengan cepat membangun hubungan hangat dengan taipan real estate itu. Akan tetapi pujian Abe pada pertemuan terbaru mereka membuat bingung.

"Saya ingin mengucapkan selamat atas kemenangan bersejarah Anda dalam pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat," kata Abe kepada Trump.

Seperti diketahui, Partai Republik yang mengusung Trump kehilangan 40 kursi di House of Representatives AS pada 6 November 2018 silam. Kontrol kursi beralih ke pesaingnya Partai Demokrat. Hal ini dikhawatirkan menodai agenda legislatif Donald Trump.



Credit  cnnindonesia.com