Jumat, 02 November 2018

Serangan Jantung Aborijin Ungkap Kesenjangan di Australia



Suku aborijin, ilustrasi
Suku aborijin, ilustrasi
Kematian akibat serangan jantung dua kali lebih banyak dialami warga aborijin.



CB, CANBERRA -- Warga aborijin dan penduduk pulau-pulau Selat Torres di Australia dua kali lebih banyak alami kematian akibat serangan jantung dibandingkan penduduk nonpribumi. Bahkan di daerah tertentu jumlahnya tiga kali lipat.


Hal itu merupakan laporan Yayasan Jantung Australia yang mengutip data jumlah pasien rumah sakit di negara itu. Kondisi itu mengungkap perbedaan mencolok kondisi kesehatan pasien jantung antara penduduk asli dan nonpribumi.

Salah satu pasien bernama Trevor Riley (44 tahun), mengalami serangan jantung pekan lalu di kampungnya yang terpencil, Minyerri, 450 kilometer dari Kota Darwin. Dia merasakan gejala sakit di lengannya dan segera melapor ke klinik kesehatan setempat. Dia langsung diterbangkan ke Rumah Sakit Royal Darwin.


Itu merupakan komplikasi jantung serius kedua yang dialami Riley, setelah katup aortanya diganti pada usia 40 di Adelaide.


"Saya alami koma selama 27 hari dan pasangan saya tak henti-hentinya berdoa seperti malaikat di atas saya," ujarnya.


"Saya tersadar dari tidur dan selamat. Tapi sekarang kembali ke rumah sakit, tidak tahu apa yang terjadi denganku," kata Riley.


Sebagai pria aborijin, Riley tiga kali lebih mungkin alami penyakit jantung dibandingkan pria non-aborijin. Northern Territory (NT) dan Australia Barat mencatat kesenjangan terbesar dalam penbandingan rawat inap antara kedua kelompok masyarakat ini.


"Di tingkat nasional, kita tahu kesenjangan kesehatan jantung antara penduduk asli dan nonpribumi Australia. Namun data baru ini menyadarkan kita betapa besarnya kesenjangan di sejumlah wilayah Australia," kata Jane Potter dari Yayasan Jantung.


Di NT, katanya, perempuan aborijin enam kali lebih banyak dirawat di rumah sakit karena gagal jantung dibandingkan perempuan nonpribumi.


Seorang kardiolog di Darwin, Marcus Ilton, mengaku kaget dengan usia pasien aborijin yang sangat muda dan banyak di antaranya alami penyakit jantung rematik sejak kecil. Dia menangani remaja usia 18 tahun yang mengalami kehamilan pertamanya dan sudah menjalani operasi katup.


"Sekarang katupnya sudah diperbaiki namun belum berfungsi dengan baik sehingga risiko kehamilannya semakin sulit," katanya.


Penyakit jantung rematik, kata Ilton, perlu mendapat perhatian. Di sisi lain penyakit itu juga mempengaruhi usia 20 dan 30 tahun.


"Kita melihat kejadian orang usia 20 dan 30 tahun yang main bola dan mengalami serangan jantung," katanya.


Menurut Jane Potter dari Yayasan Jantung, data terbaru ini perlu jadi masukan bagi pemerintah untuk menutup kesenjangan.


"Hal ini menggarisbawahi kaitan antara penyakit jantung dan keterbelakangan sosial ekonomi," ujarnya.


"Kesehatan jantung yang baik terkait dengan pendapatan yang baik, perumahan yang layak, pekerjaan yang stabil, akses makanan sehat yang terjangkau," katanya.





Credit  republika.co.id