Jumat, 26 Mei 2017

Bentrok dengan Militan, Duterte Umumkan Darurat Militer


Bentrok dengan Militan, Duterte Umumkan Darurat Militer 
Bentrok dengan militan afiliasi ISIS pecah di Pulau Mindanao, Filipina. Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer. (REUTERS/Lean Daval Jr)



Jakarta, CB -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer untuk kawasan Pulau Mindanao pada Selasa (23/5) setelah terjadi pertempuran sengit antara tentara nasional dengan militan yang berafiliasi kepada ISIS di kota Marawi.

Menurut Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana, sebanyak tiga anggota pasukan keamanan tewas dan 12 lainnya cedera saat bentrokan meletus di tempat persembunyian 15 orang pemberontak.

Lorenzana berbicara di Moskow saat menemani Duterte dalam kunjungan kenegaraan.


Duterte membatalkan pertemuan pada Rabu (24/5) esok dengan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev. Namun Duterte akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa depan, seperti yang diberitakan kantor berita Rusia, TASS.

Terkait dengan kondisi darurat militer, Pemerintah Filipina meminta penduduk Mindanao untuk tetap berada di rumah mereka bila keamanan terjamin.

Pihak militer juga mengatakan 500 tentara bala bantuan sedang dalam perjalanan. Namun bala bantuan tersebut terhadang oleh kepungan pemberontak yang memblokade akses menuju lokasi kejadian.


Militan tersebut tergolong dalam kelompok Maute yang telah berbaiat kepada ISIS. Serangan militer melawan Maute terjadi beberapa hari sebelumnya di Provinsi Lanao del Sur.

“Ada penembak jitu Maute di sekeliling lokasi tersebut, sehingga pasukan masih bertahan dan bala bantuan segera bergabung,” kata Lorenzana.

Kebakaran terjadi di Marawi namun pihak militer dan pemerintah kota setempat mengatakan situasi telah terkendali.


Dalam wawancara dengan televisi lokal, saksi mengatakan adu tembak terjadi secara sporadis di sekitar kota. Beberapa bangunan terbakar, termasuk sebuah gereja.

“(Duterte) telah mengumumkan darurat militer untuk seluruh Pulau Mindanao” kata juru bicara kepresidenan Ernesto Abella kepada wartawan di Moskow.

“Ini berdasarkan pertimbangan perlawanan dan pemberontakan atas segala yang telah terjadi,” katanya.

Abella menambahkan darurat militer ini akan berlangsung selama 60 hari ke depan seperti yang diatur dalam Undang-undang.

Brigadir Jenderal Rolando Bautista, komandan Divisi Infanteri Pertama Filipina, mengatakan pasukan keamanan berusaha untuk menemukan para militan tersebut.

“Berdasarkan penilaian kami, saat ini sekitar 100 orang yang terbagi dalam 10 kelompok pada beberapa lokasi berbeda,” kata Bautista seperti diberitakan media ANC.

“Karena mereka berbaiat kepada ISIS sehingga mereka harus menunjukkan kepada ISIS bahwa mereka adalah kekuatan yang patut diperhitungkan,” katanya.





Credit  CNN Indonesia