Jumat, 26 Mei 2017

Tantang China di Laut China Selatan, Ini Penjelasan AS


Tantang China di Laut China Selatan, Ini Penjelasan AS
Kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke, USS Dewey, melintasi Laut China Selatan. Foto/Kryzentia Weiermann/Courtesy Angkatan Laut AS/Handout via REUTERS


WASHINGTON - Kapal perang Amerika Serikat (AS) melakukan "latihan manuver" saat berlayar dalam jarak 12 mil laut dari sebuah pulau buatan yang dibangun oleh China di Laut Cina Selatan. Pejabat AS mengatakan hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa Beijing tidak berhak atas laut teritorial di sekitarnya.



"USS Dewey terlibat dalam operasi normal dengan melakukan latihan manuver di dalam 12 mil laut di Mischief Reef," kata seorang pejabat, yang tidak bersedia disebut namanya.

"Tindakan kapal tersebut menunjukkan bahwa Mischief Reef tidak berhak atas laut teritorialnya sendiri terlepas dari apakah pulau buatan telah dibangun di atasnya," jelasnya lagi seperti dikutip dari Reuters, Jumat (26/5/2017).

Sementara juru bicara Pentagon, Komandan Gary Ross mengatakan, kebebasan operasi navigasi tidak spesifik untuk satu negara dan Departemen Pertahanan akan merilis ringkasan operasi ini dalam sebuah laporan tahunan.

"Kami melanjutkan FONOPS reguler, seperti yang telah kami lakukan secara rutin di masa lalu dan akan terus berlanjut di masa depan," kata Ross, menggunakan akronim untuk operasi kebebasan navigasi.

Namun, Pentagon belum mengkonfirmasi operasi terbaru.

China mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan dan Washington telah mengkritik pembangunan pulau dan pembangunan fasilitas militer di sana. AS khawatir China akan menggunakan pulau-pulau buatan untuk membatasi kebebasan di laut dan memperluas jangkauan strategis Beijing.

Pemerintahan AS dibawah Presiden Donald Trump bersumpah untuk melakukan operasi Laut China Selatan yang lebih tegas. Presiden AS sebelumnya, Barack Obama, menuai kritik karena berpotensi memperkuat klaim China.

Meski begitu, ini adalah operasi kebebasan navigasi pertama sejak Oktoberlalu  dan sejak Trump mulai menjabat pada bulan Januari. Operasi ini berlangsung jelang kunjungan Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, ke Singapura minggu depan untuk membahas keamanan dengan mitra regionalnya.

Beijing mengatakan dua kapal perang rudal berpemandu China telah memperingatkan kapal AS untuk meninggalkan perairan dan bahwa mereka telah mengajukan "representasi yang tegas" dengan AS.

Klaim China di Laut Cina Selatan, yang mempunyai nilai pemasukan sekitar USD5 triliun setahun dari kapal perdagangan yag melaluinya, mendapat tantangan dari Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam. 




Credit  sindonews.com