Jakarta, CB -- Mantan pengacara pribadi
Presiden Donald Trump, Michael Cohen, dijatuhi hukuman tiga tahun
penjara karena mendalangi pembayaran rahasia yang melanggar hukum
kampanye sebelum pemilu 2016.
Cohen pun melakukan kejahatan keuangan yang berpotensi menimbulkan risiko hukum dan politik bagi Trump.
Di
ruang sidang, Cohen mengatakan kepada Hakim Distrik AS William Pauley
di Manhattan bahwa kesetiaannya yang buta membawanya untuk menutupi
perilaku Trump.
Hukuman itu membuat Cohen, pengacara yang
pernah mengatakan akan mengambil peluru untuk Trump malu. Cohen
mengatakan dalam pembelaannya pada Agustus bahwa ia disutradarai oleh
Trump untuk melakukan pembayaran uang suap kepada dua wanita yang
mengatakan mereka melakukan hubungan seksual dengan presiden di masa
lalu.
Trump membantah urusan dan keterlibatan dalam pembayaran.
Pauley
menghukum Cohen hingga 36 bulan untuk pembayaran dan dua bulan untuk
kebohongan Cohen ke Kongres tentang proyek Trump Tower yang diusulkan di
Rusia.
Sebagai bagian dari hukuman, hakim memerintahkan Cohen untuk membayar US$500 ribu dan membayar ganti rugi hampir US$1,4 juta.
Jakarta, CB -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin berambisi untuk menuntut pendanaan pembangunan dinding perbatasan AS dengan Meksiko.
Tuntutan ini semakin menjadi karena berkaca dari peristiwa penembakan di Strasbourg, Perancis.
Dilansir dari AFP,
kicauan Trump mengaitkan isu teroris yang muncul meskipun fakta bahwa
tersangka dalam serangan Strasbourg, Prancis adalah penduduk asli kota
tersebut. Namun, memiliki masa lalu kriminal dan pandangan ekstremis.
Seorang
jaksa Prancis mengatakan pria bersenjata itu meneriakkan "Allahu Akbar"
bahasa Arab untuk "Tuhan adalah yang Terbesar" sebelum melepaskan
tembakan di Pasar Natal. Tembakan tersebut menewaskan dua orang,
meninggalkan tiga orang mati otak dan melukai 12 orang lainnya.
"Satu lagi serangan teror yang sangat buruk di Perancis. Kami akan
memperkuat perbatasan kami lebih jauh lagi. Chuck dan Nancy harus
memberi kami suara untuk mendapatkan tambahan Keamanan Perbatasan," ujar
Trump.
Trump bentrok marah dengan Pemimpin Minoritas Senat Chuck
Schumer dan pemimpin DPR Demokrat Nancy Pelosi mengenai pendanaan
dinding dalam pertemuan Oval Office yang disiarkan langsung di televisi.
Menteri
Luar Negeri AS Mike Pompeo juga mengutip serangan Strasbourg untuk
mendukung tembok perbatasan, yang merupakan janji Trump selama kampanye
presiden 2016.
"Setiap kali kami menambah orang di sini yang memiliki risiko
menjadi radikal, kami meningkatkan risiko bagi warga Amerika," kata
Pompeo kepada Fox News.
"Kami harus membangunnya," katanya.
"Kami
harus melakukan semua hal yang perlu dilakukan untuk mengendalikan
aliran orang masuk ke negara kita dengan cara yang sah."
Tentara dari korps Eropa membawa bendera
Eropa di depan Parlemen Eropa saat berlangsungya peringatan menandai 25
tahun penggunaan bendera Eropa di Strasbourg, Senin (9/5). (FOTO
ANTARA/REUTERS/Jean-Marc )
Strasbourg, Prancis (CB) - Menteri Dalam Negeri Prancis
Christophe Castaner mengatakan, Rabu, tiga orang tewas dalam penembakan
di pasar Natal Strasbourg dan 350 personel keamanan memburu pria
bersenjata yang melarikan diri dari tempat kejadian perkara.
"Dia melawan dua kali pasukan keamanan kami," kata Castaner dalam jumpa
pers yang diadakan di kota itu. Serangan tersebut juga menyebabkan 12
orang luka-luka, katanya.
Menurut dia, pria itu berhasil melarikan diri. Keberadaannya sekarang
belum diketahui, dan pasukan komando serta sejumlah helikopter
dikerahkan dalam pemburuan.
Castaner mengatakan Prancis menaikkan tingkat ancaman keamanan dan akan
mendorong perlindungan pasar-pasar, yang diselenggarakan untuk menyambut
Natal di tempat-tempat lain, serta memperkuat kendali di tapal batas.
Kepolisian mengidentifikasi tersangka bernama Cherif Chekatt, 29 tahun,
yang dilahirkan di Strasbourg. Dinas intelijen mengenali dia karena
berisiko terhadap keamanan.
Serangan tersebut terjadi pada pukul 20.00 waktu setempat (pukul 02.00
Rabu dinihari) saat para penjual bersiap-siap menutup tempat mereka
berjualan dan rumah-rumah makan penuh dengan pengunjung di kota itu,
yang terletak di seberang Sungai Rhine dari Jerman.
Jaksa di Kota Paris mengatakan motif dari serangan itu belum diketahui.
Belum ada pihak yang segera mengaku bertanggung jawab, tetapi Site,
kelompok intelijen yang berkedudukan di Amerika Serikat dan memantau
laman-laman kelompok jihad, mengatakan para pendukung ISIS merayakan
serangan tersebut.
Kementerian
Luar Negeri Turki menyatakan, Ankara mengutuk dengan bahasa paling
keras penembakan di pasar Natal di Strasbourg. Foto/Reuters
ANKARA
- Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan, Ankara mengutuk dengan
bahasa paling keras penembakan di pasar Natal di Strasbourg. Aksi
penembakan itu menewaskan Setidaknya tiga orang.
Dalam sebuah
pernyataan, Kemlu Turki menuturkan, pihaknya mengucapkan belasungkawa
kepada pemerintah dan masyarakat Prancis, khususnya keluarga dan kerabat
para korban dalam penembakan itu.
"Kami menyampaikan
belasungkawa kepada Rakyat dan Pemerintah Perancis dan kepada keluarga
orang-orang yang kehilangan nyawa dalam serangan keji ini dan ingin
cepat sembuh bagi mereka yang terluka," kata Kemlu Turki, seperti
dilansir Anadolu Agency pada Rabu (12/12).
Sementara itu,
sebelumnya Polisi Jerman dilaporkan telah menerapkan langkah-langkah
untuk memperketat keamanan di perbatasan dengan Prancis pasca adanya
aksi penembakan tersebut.
Pelaku penembakan yang diketahui
bernama Cherif Chekatt berhasil lolos dari penangkapan polisi dan masih
dalam pelarian. Situasi ini menimbulkan ketakutan akan terjadinya
serangan lanjutan.
Menurut laporan polisi, pria berusia 29 tahun
itu ditembak dan terluka oleh tentara yang menjaga pasar Natal. Namun,
ia tetap berhasil melarikan diri dengan taksi yang dibajak.
Seorang
juru bicara kepolisian Jerman menuturkan, mereka akan memperketat
keamanan di perbatasan hingga situasi kembali normal. "Kami bergantung
pada rekan-rekan di Prancis. Kami akan mempertahankan kendali hingga
situasi teratasi," ucapnya.
Dia lalu menyatakan bahwa pelaku
penembakan dikenal oleh otoritas Prancis sebagai seorang radikal.
Menurut dia, pria itu dipenjara di Jerman pada tahun 2016 dan 2017 atas
tuduhan pencurian dan kemudian dideportasi ke Prancis.
Polisi
Jerman dilaporkan telah menerapakan langkah-langkah untuk memperketat
keamanan di perbatasan dengan Prancis pasca adanya aksi penembakan di
Strasbourg. Foto/Istimewa
BERLIN
- Polisi Jerman dilaporkan telah menerapakan langkah-langkah untuk
memperketat keamanan di perbatasan dengan Prancis pasca adanya aksi
penembakan di pasar Natal di Strasbourg, yang menewaskan tiga orang.
Pelaku
penembakan yang diketahui bernama Cherif Chekatt berhasil lolos dari
penangkapan polisi dan masih dalam pelarian. Situasi ini menimbulkan
ketakutan akan terjadinya serangan lanjutan.
Menurut laporan
polisi, pria berusia 29 tahun itu ditembak dan terluka oleh tentara yang
menjaga pasar Natal. Namun, ia tetap berhasil melarikan diri dengan
taksi yang dibajak.
Seorang juru bicara kepolisian Jerman
menuturkan, mereka akan memperketat keamanan di perbatasan hingga
situasi kembali normal. "Kami bergantung pada rekan-rekan di Prancis.
Kami akan mempertahankan kendali hingga situasi teratasi," ucapnya,
seperti dilansir Sputnik pada Rabu (12/12).
Dia lalu menyatakan
bahwa pelaku penembakan dikenal oleh otoritas Prancis sebagai seorang
radikal. Menurut dia, pria itu dipenjarakan di Jerman pada tahun 2016
dan 2017 atas tuduhan pencurian dan kemudian dideportasi ke Prancis.
Sementara
itu, sebelumnya Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Paris, Prancis
mengimbau kepada seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di
Prancis untuk meningkatkan kewaspadaan paska penembakan itu.
"Penembakan
di kota Strasbourg. WNI di kota tersebut dihimbau untuk waspada dan
ikuti anjuran aparat setempat," kata KBRI Paris melalui akun Twitternya.
Prajurit
Korut dan Korsel melintasi perbatasan untuk memverifikasi penghancuran
pos penjaga di perbatasan kedua negara. Foto/Istimewa
SEOUL
- Untuk pertama kalinya, prajurit Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan
(Korsel) menyeberang ke wilayah masing-masing dengan damai. Mereka
bersiap untuk memverifikasi pembongkaran pos penjaga di zona
demiliterisasi.
Pada bulan November lalu, Korut meledakkan 10 pos penjaga sementara Korsel merobohkan 10 pos menggunakan ekskavator.
Penghancuran
20 pos di sepanjang perbatasan yang dijaga ketat adalah salah satu
langkah yang disepakati pada KTT September antara Presiden Korsel Moon
Jae-in dan Pemimpin Korut Kim Jong-un di Pyongyang, sebagai bagian dari
upaya rekonsiliasi di semenanjung itu.
Kementerian Pertahanan
Seoul mengatakan bahwa para inspektur dari Korsel akan mengunjungi
masing-masing pos penjaga di sisi Korut untuk memverifikasi pembongkaran
dan untuk memastikan bahwa semua senjata api dan pasukan telah ditarik.
Inspektur Korut akan melakukan proses yang sama di bunker Korsel.
"Ini
menandai pertama kalinya sejak perpecahan bahwa para prajurit dari
Utara dan Selatan secara damai melintasi garis demarkasi militer," kata
kementerian itu dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari AFP, Rabu
(12/12/2018).
Presiden Korsel Moon Jae-in melanjutkan kebijakan
untuk membangun hubungan dengan tetangganya yang terisolasi dan
bersenjata nuklir. Kebijakan ini sangat kontras dengan Washington, yang
menegaskan tekanan terhadap Pyongyang harus dipertahankan sampai
denuklirisasi.
Terlepas dari namanya, area di sekitar Zona
Demiliterisasi (DMZ) adalah salah satu tempat paling berbenteng di
dunia, penuh dengan ladang ranjau dan pagar kawat berduri.
Namun
di bawah rencana untuk meredakan ketegangan yang disepakati di
Pyongyang, kedua Korea telah melucuti senjata di desa perbatasan
Panmunjom, dan meninggalkannya diawaki oleh 35 personel tak bersenjata
dari masing-masing pihak.
Secara resmi disebut Daerah Keamanan
Bersama (JSA), kantong itu adalah satu-satunya tempat di sepanjang
perbatasan 250 kilometer tempat para tentara dari kedua Korea dan
Komando yang dipimpin PBB langsung berhadap-hadapan.
Uji
tembak misil SM-3 Amerika Serikat terhadap target rudal balistik di
ruang angkasa Oktober lalu. Uji tembak serupa juga berhasil dilakukan
pada Selasa (11/12/2018). Foto/MDA
WASHINGTON
- Misil SM-3 Block IIA Amerika Serikat (AS), dalam sebuah uji coba,
berhasil menembak jatuh sasaran rudal balistik jarak menengah yang
berada di luar angkasa. Misil yang jatuhkan target itu ditembakkan dari
fasilitas Aegis Ashore yang berbasis di Hawaii, pada hari Selasa.
Tes
ini menandai kesuksesan yang kedua setelah Oktober lalu. Keberhasilan
ini juga menebus dua kegagalan uji coba misil secara berturut-turut
akibat kesalahan pelaut dan motor roket.
Juru bicara Badan
Pertahanan Rudal (MDA), Mark Wright, mengatakan misil yang diluncurkan
dari Hawaii menembak lintasan dari sebuah sensor yang jaraknya cukup
jauh dari Aegis Ashore Missile Defence Test Complex di Pacific Missile
Rang Facility yang berada di Kauai.
Menurut Wrighet, Aegis Ashore
tidak pernah memiliki jalur asli, yang berarti misil yang ditembakkan
dari fasilitas itu berhasil mengunci target yang sepenuhnya dilacak oleh
sensor. Sensor itulah yang menyampaikan data pelacakannya.
Tes misil pencegat ini dirancang untuk menguji kemampuan dalam penerapannya pada sistem tempur Aegis Atago.
Sekadar
diketahui, SM-3 Block IIA adalah misil pengembangan bersama antara AS
dan Jepang. Senjata ini diharapkan melengkapi kedua stasiun Aegis Ashore
AS di Rumania dan Polandia serta stasiun Aegis Ashore masa depan di
Jepang.
Misil tersebut akan menjadi kunci bagi strategi pertahanan rudal jarak pendek dan menengah AS.
Situs
Aegis Ashore di Eropa telah menjadi sumber ketegangan yang signifikan
antara Rusia dan AS, di mana Presiden Rusia Vladimir Putin rutin
mengkritik platform tersebut dan menuduh AS mencoba untuk mengganggu keseimbangan strategis.
Dalam
rilisnya, MDA mengatakan rudal yang jadi target ditembakkan oleh
pesawat C-17 Angkatan Udara AS. "(Jaraknya) ribuan mil sebelah barat
daya dari situs uji Aegis Ashore yang meluncurkan misil pencegat SM-3
Block IIA," kata MDA.
Kepala MDA Letnan Jenderal Sam Greaves
mengatakan tes membuktikan teknologi yang masuk ke kemampuan pertahanan
rudal di Eropa telah berada di jalurnya.
"Tes penerbangan yang sukses hari ini menunjukkan keefektifan dari arsitektur European Phased Adaptive Approach Phase 3," kata Greaves, seperti dikutip Defense News, Rabu (12/12/2018).
"Ini
juga sangat penting bagi masa depan operasi pertahanan rudal
multi-domain dan mendukung tonggak untuk program rudal SM-3 Block IIA,"
ujarnya.
“Sistem ini dirancang untuk membela Amerika Serikat,
pasukan yang dikerahkan, sekutu, dan teman-teman dari ancaman rudal
balistik yang nyata dan terus berkembang. Saya mengucapkan selamat
kepada semua anggota tim, militer, sipil, kontraktor, dan sekutu yang
membantu mewujudkan hal ini."
Kapal
perang Amerika Serikat, USS Chancellorsville, yang mendekati Kepulauan
Paracel, Laut China Selatan, November 2018 lalu. Foto/US Navy/Mass
Communication Specialist Seaman Codie L. Soule
BEIJING
- Seorang pejabat tinggi militer China menyerukan pendekatan yang lebih
agresif terhadap kapal perang Amerika Serikat (AS) yang melakukan
operasi kebebasan navigasi di Laut China Selatan. Petinggi militer itu
menyarankan agar kapal perang Washington diserang jika melanggar
kedaulatan Beijing.
Dai Xu, seorang kolonel senior di Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat dan presiden Institute of Marine Safety and Cooperation, mengatakan Beijing seharusnya tidak mengizinkan kapal perang Amerika untuk menciptakan gangguan.
"Jika
kapal perang AS masuk ke perairan China lagi, saya sarankan dua kapal
perang harus dikirim; satu untuk menghentikannya, dan satu lagi untuk
menabraknya," kata Dai dalam konferensi yang diselenggarakan oleh
tabloid China, Global Times, yang dikutip Business Insider, Selasa (11/12/2018).
Dai
menambahkan bahwa operasi kebebasan navigasi Washington adalah
provokasi terhadap Beijing dan gangguan terhadap kedaulatan negara.
Petinggi
militer itu juga mengklaim bahwa China tidak pernah mengusik operasi AS
di perairan internasional, tetapi Washington seharusnya tidak boleh
masuk ke perairan China.
AS telah meningkatkan operasinya di Laut
China Selatan, di mana beberapa negara, termasuk Filipina, China,
Malaysia, Brunei dan Vietnam memiliki klaim yang saling tumpang tindih.
Konfrontasi
terbaru antara Washington dan Beijing terjadi pada bulan November
ketika angkatan laut China mengirim pasukannya untuk memperingatkan
sebuah kapal perang AS yang berlayar melalui perairan yang
disengketakan.
Kapal perang Angkatan Laut AS, USS Chancellorsville, saat itu melakukan operasi kebebasan navigasi di dekat Kepulauan Paracel.
Menurut laporan dari South China Morning Post,
Komando Teater Selatan China mengklaim bahwa kapal perang AS memasuki
perairan di sekitar Paracel tanpa persetujuan pemerintah China.
Beijing
kemudian mengerahkan pasukan angkatan laut dan udara untuk memantau
kapal USS Chancellorsville dan memperingatkannya agar meninggalkan area
tersebut.
Juru bicara Armada Pasifik AS Nathan Christensesn
mengakui kapal perang AS berlayar di dekat pulau-pulau yang
disengketakan di Laut China Selatan."Untuk menentang klaim maritim yang
berlebihan dan mempertahankan akses ke perairan seperti yang diatur oleh
hukum internasional," katanya.
CB,
BEIJING -- Otoritas Cina dilaporkan telah menahan lebih dari 100
anggota gereja Kristen yang tidak terdaftar dan pendeta ternama mereka,
seiring terus berlanjutnya langkah penertiban yang dilakukan Partai
Komunis Cina terhadap agama yang terorganisasi.
Polisi
Cina dilaporkan telah menggerebek rumah-rumah jemaat Gereja Perjanjian
Hujan Awal (Early Rain Covenant) di kota Chengdu pada Ahad (9/12) malam,
termasuk rumah pemimpinnya yang kritis, pendeta Protestan, Wang Yi.
Harian The South China Morning Post melaporkan
otoritas Cina juga telah memblokir akun media sosial anggota gereja
tersebut selama berlangsungnya penggerebekan, dan memutus saluran
telepon di gereja itu. Gereja Early Rain Covenant mengatakan di halaman Facebooknya
bahwa jumlah jemaat gereja mereka yang ditahan semakin bertambah
pasca-penggerebekan lanjutan yang dilakukan pada Senin dan Selasa pagi,
dan menuduh polisi Cina telah melakukan penyerangan secara fisik kepada
beberapa jamaah dan menginjak kaki mereka.
Pendeta
Wang Yi dan istrinya tetap ditahan, meskipun beberapa pemimpin gereja
senior lainnya telah dibebaskan tetapi masih terus diawasi di rumah
mereka. Enhui Cao, seorang anggota Gereja Early Rain Covenant yang juga
seorang guru di sekolah dasar milik gereja itu, mengatakan kepada ABC
bahwa penggerebekan bisa jadi merupakan bentuk dari kritik terbuka yang
disampaikan Wang terhadap peraturan baru Pemerintah Cina tentang urusan
agama.
Photo: Pihak berwenang di China menertibkan agama-agama diantaranya dengan menyingkirkan salib dari gereja-gereja Kristen. (ABC News)
Peraturan-peraturan
itu, yang mulai diberlakukan pada Februari nanti, mengharuskan gereja
yang dilangsungkan di rumah independen seperti yang dikelola Wang harus
mendaftarkan diri secara resmi. Hal itu untuk mendapat persetujuan atau
ditolak oleh kader partai setempat.
"Sejauh
menyangkut keyakinan, peraturan baru ini jahat; sejauh menyangkut
konstitusi, mereka ilegal; sejauh menyangkut politik, mereka bodoh,"
tulis Wang awal tahun ini.
"Saya bermaksud untuk secara damai menolak legitimasi dan implementasi regulasi ini."
Gereja
Early Rain Covenant mengatakan dalam pengumuman terakhirnya selasa
(11/12) sore ini bahwa mereka tidak tahu berapa lama rekan-rekan mereka
akan ditahan dan tidak tahu apakah mereka diizinkan untuk memberi kabar
terbaru mengenai kondisi mereka.
"Kami seperti domba
di tengah-tengah serigala, sementara polisi menggunakan mesin-mesin
kekerasan dan cara-cara teknis untuk menangkap dan mengancam orang-orang
Kristen yang lembut dan penuh kebajikan," tulis pernyataan itu.
Lebih
dari 200 anggota gereja termasuk Wang juga telah ditahan pada bulan Mei
lalu, ketika polisi menggerebek upacara peringatan yang mereka adakan
untuk mengenang korban gempa bumi Sichuan 2008.
'Perang' Cina melawan agama
Photo: Pendeta ternama dari Gereja Protestan Perjanjian Hujan Awal, wang Yi, termasuk pemimpin yang kritis terhadap Pemerintah China. (Supplied)
Dalam
sebuah khotbah di Early Rain Covenant Church yang diunggah di akun
Facebook mereka dua minggu lalu, Wang mengkritik "perang" yang dilakukan
Cina terhadap agama-agama di negaranya. Dia juga menyinggung sejumlah
kebijakan Pemerintah Cina terhadap di Tibet dan provinsi Xinjiang - dua
topik yang sangat sensitif bagi para pejabat Cina.
Cina telah dituduh menahan hingga 1 juta etnis Uyghurs di "kamp pendidikan ulang" rahasia di Xinjiang.
"Para
penguasa yang mengobarkan perang ini telah memilih sendiri musuh yang
tidak pernah bisa dipenjara, musuh yang tidak pernah bisa dihancurkan,
musuh yang tidak pernah bisa ditundukkan atau dikendalikan - yaitu, jiwa
manusia," kata Wang.
"Karena itu, mereka ditakdirkan untuk kalah dalam perang ini, mereka ditakdirkan gagal."
Kebebasan
individu untuk mempraktikkan agama secara resmi dijamin oleh konstitusi
Cina, tetapi Partai Komunis Cina telah memperketat kontrol pada
organisasi-organisasi keagamaan, untuk memastikan mereka tetap setia
kepada partai. Presiden Cina Xi Jinping juga mengatakan dia menghendaki
agama-agama di Cina menjadi subjek 'sinifikasi', sebuah proses yang
bertujuan untuk memberikan agama asing seperti Islam dan Kristen
"karakteristik Cina".
Seruan ini telah memicu para
pejabat menyingkirkan bahkan membakar salib di gereja-gereja Kristen,
dan menghancurkan kubah maupun simbol-simbol keagamaan lainnya di
masjid. Alkitab juga dilaporkan telah ditarik dari penjualan di toko
buku online dan maupun platform belanja online awal tahun ini.
WASHINGTON
- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo mengumumkan,
negara adidaya itu telah menganggap 10 begara bersalah atas pelanggaran
kebebasan beragama yang berat. Sepuluh negara itu adalah China, Eritrea,
Iran, Myanmar, Korea Utara (Korut), Pakistan, Sudan, Arab Saudi,
Tajikistan dan Turkmenistan.Kesepuluh negara itu dikategorikan
Negara-negara Perhatian Khusus di bawah Undang-Undang Kebebasan Beragama
Internasional 1998. Mereka ditemukan telah terlibat atau mentolerir
pelanggaran kebebasan beragama yang sistematis, berkelanjutan, (dan)
mengerikan.
"Di banyak tempat di seluruh dunia, individu terus
menghadapi pelecehan, penangkapan, atau bahkan kematian karena hanya
menjalani hidup mereka sesuai dengan keyakinan mereka. Amerika Serikat
tidak akan berdiri sebagai penonton dalam menghadapi penindasan semacam
itu," kata Pompeo dalam sebuah pernyataa.
"Melindungi dan
mempromosikan kebebasan beragama internasional adalah prioritas
kebijakan luar negeri tertinggi dari Pemerintahan Trump," imbuhnya
seperti dikutip dari CNN, Rabu (12/12/2018).
"Penyebutan
ini bertujuan untuk meningkatkan kehidupan individu dan keberhasilan
yang lebih luas dari masyarakat mereka. Saya mengakui bahwa beberapa
negara yang ditunjuk bekerja untuk meningkatkan rasa hormat mereka
terhadap kebebasan beragama; Saya menyambut inisiatif tersebut dan
berharap untuk melanjutkan dialog," tukasnya.
Sementara itu Duta
Besar Besar untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback,
mengutip katalog pelanggaran kebebasan beragama yang dilakukan oleh
negara-negara tersebut. Mereka termasuk undang-undang penistaan
Pakistan, khususnya kasus Asia Bibi, kekerasan massal Myanmar terhadap
penduduk Rohingya dan pemenjaraan China terhadap Uighur dan
perlakuannya terhadap orang Kristen dan Buddha.
"China tidak mundur dari penganiayaan agama, tampaknya meluas. Ini jelas sangat mengganggu pemerintah," katanya.
Menurut
Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Buruh Departemen Luar Negeri AS,
pelanggaran berat semacam itu termasuk penyiksaan, perlakuan
merendahkan atau hukuman, penahanan berkepanjangan tanpa tuduhan,
penculikan atau penahanan rahasia, atau penyangkalan mencolok lainnya
terhadap hak untuk hidup, kebebasan, atau keamanan.
Kongres
diberitahu tentang penunjukan itu setiap tahun, dan sanksi guna mengubah
perilakunya dapat dikenakan jika semua cara non-ekonomi telah
digunakan.
Menurut Brownback, sanksi semacam itu adalah
"double-hatted" - yang berarti negara-negara tersebut mendapat sanksi di
bidang lain tetapi juga dianggap sebagai Negara-negara yang menjadi
Perhatian Khusus.
"China, Eritrea, Iran, Myanmar, Korea Utara,
dan Sudan semuanya mendapat sanksi seperti itu, tetapi Arab Saudi,
Pakistan, Tajikistan dan Turkmenistan telah dibebaskan dari sanksi
karena kepentingan nasional," jelas Brownback.
Selain
Negara-negara yang memiliki Perhatian Khusus, Pompeo menempatkan Komoro,
Rusia, dan Uzbekistan pada Daftar Pengawasan Khusus untuk pemerintah
yang telah terlibat atau ditoleransi pelanggaran berat kebebasan
beragama, dan menunjuk Front al-Nusra, al-Qaeda di Jazirah Arab,
al-Qaeda, al-Shabaab, Boko Haram, Houthi, ISIS, ISIS-Khorasan dan
Taliban sebagai "Entitas Perhatian Khusus, menurut pernyataan itu.
Pompeo membuat penunjukkan itu pada akhir November.
Komisi
AS tentang Kebebasan Beragama Internasional, sebuah komisi pemerintah
federal yang independen dan bipartisan yang dibentuk oleh undang-undang
1998, mengatakan penunjukan itu menunjukkan dukungan kuat dan aktif
Amerika untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan di seluruh dunia.
"Kami
sangat bersyukur bahwa, setelah bertahun-tahun mendokumentasikan
pelanggaran kebebasan beragama yang sistematis, berkelanjutan, dan berat
di Pakistan, Departemen Luar Negeri akhirnya menambahkan negara itu ke
daftar pelanggar terburuk dunia untuk pertama kalinya," kata Ketua
Tenzin Dorjee di sebuah pernyataan untuk CNN.
"Kami juga
menyambut baik penambahan baru Rusia sebagai pelanggar berat dalam
Daftar Pengawasan Khusus, tetapi pertanyaan apakah Uzbekistan telah
cukup ditingkatkan untuk dipindahkan ke Daftar Pengamatan Khusus. Pada
bulan April 2018 USCIRF merekomendasikan bahwa kedua negara tersebut
harus ditetapkan sebagai Daftar Perhatian Khusus," tukasnya.
Brownback lantas menjelaskan bahwa Uzbekistan telah membuat perubahan substansial.
Pada
bulan Desember 2017, Pompeo menunjuk China, Eritrea, Iran, Myanmar,
Korut, Sudan, Arab Saudi, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan
sebagai Negara-negara Perhatian Khusus dan menempatkan Pakistan pada
Daftar Pengawasan Khusus untuk pelanggaran berat kebebasan beragama.
Bendera Republik Rakyat Cina dan bendera AS berkibar di tiang
lampu di sepanjang jalan Pennsylvania Avenue dekat Capitol AS selama
kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao, di Washington, DC,
Amerika Serikat, 18 Januari 2011.[REUTERS/Hyungwon Kang]
CB, Jakarta - Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk menerbitkan sebuah peringatan perjalanan ke Cina kepada
seluruh warga negara Amerika Serikat, termasuk para pengusaha. Rencana
penerbitan peringatan itu muncul setelah Kanada menahan Direktur
Keuangan Huawei, Meng Wanzhou, pada 1 Desember lalu.
Peringatan
bepergian yang mungkin diterbitkan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika
Serikat itu, akan memperingatkan masyarakat Amerika Serikat terhadap
risiko yang mungkin akan dilakukan Beijing.
Meng ditahan di Kanada
atas permintaan otoritas Amerika Serikat atas dugaan telah menciderai
sanksi ekonomi Amerika Serikat kepada Iran.
Dikutip dari Reuters, Rabu, 12 Desember 2018, Kementerian Luar Negeri
Amerika Serikat terakhir kali menerbitkan peringatan berpergian pada 22
Januari 2018. Ketika itu, pemerintah memperingatkan kepada masyarakat
Amerika Serikat agar ekstra hati-hati saat di negara itu menyusul
penegakan hukum yang sewenang-wenang dan larangan memiliki
kewarganegaraan ganda Amerika Serikat dan Cina.
Otoritas Cina
mengatakan peringatan bepergian itu mampu menahan warga negara asing
meninggalkan Cina atau yang disebut larangan keluar agar bisa memaksa
mereka menyelesaikan sengketa bisnis, mendesak penyelesaian sesuai
perintah pengadilan atau memfasilitasi investigasi yang dilakukan
pemerintah Cina.
Juru
bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Robert Palladino,
mengatakan pihaknya kemungkinan akan mengulangi peringatan bepergian
yang dikeluarkan pada Januari itu. Sebab saat ini ada potensi bagi
masyarakat Amerika Serikat yang berkunjung dan tinggal di Cina,
menghadapi hukum dengan cara diinterograsi dan ditahan.
Menurut Palladino, pihaknya juga mengkhawatirkan atas munculnya laporan penahanan warga negera Kanada di Cina. Washington telah mendesak Beijing agar mengakhiri segala bentuk penahanan.
HSBC (kiri) dan Standard Chartered Bank. REUTERS/Bobby Yip
CB, Jakarta - Bank asal
Inggris, Standard Chartered dan HSBC dilaporkan tertipu karena telah
memfasilitasi pembayaran proyek infrastruktur telekomunikasi antara Huawei dan
Iran. Bank Standard Chartered dan HSBC merupakan dua diantara beberapa
institusi keuangan yang diduga telah 'disalahgunakan' oleh Huawei,
perusahaan raksasa teknologi asal Cina.
Laporan Wall Street
Journal menyebut Huawei dituduh menggunakan pihak ketiga, yakni sebuah
perusahaan cangkang yang disebut Skycom. Lewat Skycom, Huawei
menyalurkan pembayaran antara Huawei dan Iran. Juru bicara Huawei
menolak berkomentar atas laporan Wall Street Journal itu.
Huawei
Iran merupakan salah satu negara yang dijatuhi embargo ekonomi oleh
Amerika Serikat. Sanksi itu diberlakukan karena Iran dinilai
mengembangkan program nuklir yang diyakini untuk membuat senjata
pemusnah massal.
Dikutip dari cnbc.com, Selasa, 11
Desember 2018, Bank Sentral Inggris telah mengawasi jenis-jenis
transaksi yang dilakukan dua bank itu dengan Huawei. Namun Bank Standard
Chartered dan HSBC menampik telah berbuat kesalahan dalam kasus Huawei
ini.
Sebelum kasus penahanan Direktur keuangan Huawei, Meng
Wanzhou, mencuat pada 1 Desember lalu, Bank Standard Chartered dan HSBC
telah berada di bawah pengawasan regulator global atas sejumlah
kejahatan pencucian uang.
Bank
Standard Chartered menolak berkomentar, namun menegaskan tidak masuk
dalam target investigasi terkait kasus yang sedang membelit Huawei. Hal
serupa juga dilakukan HSBC.
"Kementerian Kehakiman Amerika Serikat
telah mengkonfirmasi HSBC tidak sedang dalam investigasi dalam kasus
ini," kata Stuart Levey, Kepala bidang hukum dari HSBC.
Huawei
diawasi oleh pemerintah Amerika Serikat sejak 2012 atas sejumlah kasus,
diantaranya dugaan mendukung tindakan mata-mata pemerintah Cina,
mencuri kekayaan intelektual dan menciderai sejumlah sanksi, termasuk
embargo ekonomi Amerika Serikat ke Iran.
Kartu polisi rahasia dibutuhkan untuk mengakses kantor Stasi.
CB,
BERLIN -- Kartu identitas milik Vladimir Putin sebagai polisi rahasia
Jerman Timur ditemukan dalan arsip Stasi. Surat kabar Jerman Bild seperti dikutip The Guardian, melaporkan, kartu "Maj Vladimir Putin" ditemukan di antara file-file
personalia era Soviet di Dresden. Putin kala itu menjabat sebagai
perwira Komite Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) atau Committee for
State Security, pada 1980-an.
Terdapat perangko dan validasi kartu hingga 1989. Dengan nomor seri B
217590, kartu ini memiliki tanda tangan Putin di sebelah foto
hitam-putih. Foto itu menunjukkan Putin muda mengenakan dasi.
Kepala
arsip mengatakan, bahwa kartu merupakan persyaratan Putin memasuki
kantor Stasi tanpa hambatan dan membuatnya lebih mudah untuk merekrut
agen. Sebab dia tidak perlu menyebutkan lagi afiliasi KGB-nya. Tidak
jelas apakah kartu itu menunjukkan Putin bekerja langsung untuk Stasi
atau tidak.
Otoritas yang bertanggung jawab atas arsip
Stasi mengatakan, merupakan hal yang biasa bagi agen-agen KGB yang
ditempatkan di Republik Demokratik Jerman diberi akses masuk ke kantor
Stasi.
"Ini memungkinkan perwakilan KGB untuk mengakses kantor regional Kementerian Keamanan Negara (Stasi)," kata pernyataan itu.
"Itu
juga berlaku untuk Vladimir Putin, yang kemudian bekerja di kantor KGB
di Dresden," lanjut pernyataan tersebut seperti dikutip Reuters, Rabu
(12/12).
Kremlin tidak membenarkan ataupun membantah
soal identitas Putin ini. "Pada masa Uni Soviet, KGB dan Stasi adalah
layanan mitra, dan begitu pertukaran ID seharusnya tidak
dikesampingkan," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
Sejumlah
pemimpin Rusia, menghabiskan waktu di Dresden. Sementara, Putin tiba di
kota di Jerman pada pertengahan 1980-an dan bergabung dengan KGB.
Pada
malam 5 Desember 1989, Putin menelpon Rusia ketika banyak orang
bersiap-siap menyerbu kediaman KGB. Tembok Berlin telah jatuh kurang
dari sebulan sebelumnya.
"Moskow diam," katanya, menurut biografi pemimpin Rusia baru-baru ini.
Putin dikatakan telah membujuk beberapa orang dengan gertakan bahwa mereka akan ditembak jika mereka mencoba memasuki kediaman.
Foto-foto
dari arsip Stasi menunjukkan bahwa para pejabat penting Rusia lainnya,
seperti kepala pabrik pertahanan Rostec, Sergey Chemezov, dan kepala
Transneft, Nikolay Tokarev, bertugas di Dresden bersama Putin.
Kendati
demikian, beberapa rincian badan KGB Putin tetap dirahasiakan, termasuk
apakah karyanya dalam kontra intelijen, termasuk pengawasan terhadap
para pembangkang politik di Uni Soviet.
Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CB -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan menutup pemerintahan AS.
Hal ini Trump katakan kepada para pemimpin Demokrat di Gedung Putih
karena mereka menolak untuk mendanai dinding perbatasan Meksiko yang
kontroversial.
Chuck Schumer, senior Demokrat dan Nancy Pelosi
secara blak-blakan mengatakan kepada Trump bahwa dia tidak memiliki
kesempatan untuk mendapatkan US$5 miliar untuk pembangunan dinding.
Mendengar
pernyataan tersebut, Trump langsung jengkel dan menggandakan ancaman
dengan membalas menolak menandatangani RUU pengeluaran federal yang
diperlukan pada 21 Desember.
"Ya, jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan dari satu atau lain cara, saya akan menutup pemerintahan," katanya.
"Saya bangga menutup pemerintah untuk keamanan perbatasan." tambahnya.
Schumer
berpendapat bahwa tidak seharusnya menghentikan pemerintah karena
perselisihan. Pelosi menyarankan bahwa debat tidak seharusnya dilakukan
di depan wartawan.
Namun Trump dengan ide tembok AS-Meksikonya tidak dapat mengendalikan kekesalannya.
Trump mengambil dua kartu memo, dia membacakan angka-angka yang menunjukkan imigrasi ilegal di bagian perbatasan.
Pelosi menangkis bahwa statistik itu tidak benar.
"Apa yang
dilambangkan oleh presiden (dengan) kartu-kartunya di sana, bukanlah
fakta. Kami harus memiliki percakapan berdasarkan bukti tentang apa yang
berhasil dan apa yang telah dihabiskan dan seberapa efektifnya itu,"
kata Pelosi.
Trump mengklaim bahwa tembok itu diperlukan untuk mencegah kejahatan dan penyakit skala besar yang dibawa oleh imigran gelap.
Masalah
ini populer dengan basis politiknya, yang menginginkan kontrol yang
lebih ketat di perbatasan selatan, sebuah magnet bagi orang Amerika
Latin yang miskin yang mencari pekerjaan di Amerika Serikat.
Uni Eropa Tolak Negosiasi Ulang Traktat Perbatasan Irlandia
STRASBOURG
- Uni Eropa (UE) menolak negosiasi ulang traktat Brexit atau protokol
perbatasan Irlandia saat Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May
meminta jaminan terakhir dari UE untuk menyelamatkan kesepakatan itu.
May
sebelumnya telah membatalkan voting di parlemen Inggris untuk
menyetujui atau menolak traktat Brexit tersebut. May menduga jika voting
parlemen tersebut digelar pekan ini maka dia akan kalah.
Kurang
dari empat bulan hingga Inggris dijadwalkan meninggalkan UE pada 29
Maret, May akhirnya menerima bahwa para anggota parlemen Inggris akan
menolak kesepakatan Brexit yang dibawanya.
Namun dia menyatakan
satu-satunya pilihan lain ialah keluar dari UE tanpa kesepakatan atau
mengubah kesepakatan itu agar dapat disetujui parlemen Inggris.
Dalam
upaya menyelamatkan kesepakatannya, May menginginkan dukungan dari PM
Belanda Mark Rutte yang dia temui di Den Haag untuk sarapan pada Selasa
(11/12). Dia kemudian bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel di Berlin.
Pesan dari Eropa jelas, UE akan menegaskan tidak ada rencana untuk
membahas ulang traktat itu.
“Kesepakatan yang kita capai itu
merupakan yang sebaik mungkin. Ini satu-satunya kesepakatan yang
mungkin. Tidak ada ruang untuk negosiasi ulang,” tutur Kepala Komisi
Eropa Jean-Claude Juncker dalam pidato di Parlemen Eropa, Strasbourg.
Isu
paling diperdebatkan ialah “penyokong” Irlandia, jaminan yang akan
mempertahankan Inggris dalam serikat pabean dengan UE jika tidak ada
cara lebih baik untuk menghindari pemeriksaan perbatasan antara Irlandia
Utara dan Irlandia anggota UE.
Para pengkritik May menyatakan
ketentuan itu akan menjadikan Inggris sebagai target aturan UE tanpa
batas. Juncker menyatakan tidak ada satu pihak pun yang ingin penyokong
itu berlaku tapi ketentuan itu tetap menjadi bagian dalam kesepakatan.
“Kita
memiliki tekad bersama untuk melakukan apapun agar tidak dalam situasi
nanti menggunakan penyokong itu, tapi kita harus bersiap. Ini perlu
untuk seluruh koherensi tentang apa yang kita telah sepakati. Ini
diperlukan bagi Inggris dan diperlukan bagi Irlandia. Irlandia tidak
akan pernah dibiarkan sendiri,” papar dia, dilansir Reuters.
Menteri
Urusan Eropa Jerman Michael Roth menjelaskan, UE tidak ingin Inggris
pergi tapi menyatakan, perubahan-perubahan penting pada kesepakatan itu
tidak akan mungkin.
“Tak seorang pun ingin Inggris pregi. Saya
tak dapat membayangkan tempat kita dapat mengubah sesuatu yang penting
dalam kesepakatan penarikan keluar,” tutur dia.
May juga akan
bertemu Juncker dan Presiden Dewan Eropa Donald Tusk. May ingin meminta
jaminan lebih lanjut dan cara memberi wewenang pada parlemen Inggris
tentang penyokong Irlandia itu
Presiden Palestina Mahmoud Abbas berbicara dalam
pertemuan Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina di Ramallah, Ahad
(14/1).
Foto: AP Photo/Majdi Mohammed
Poster-poster bertuliskan Abbas pendukung teroris serta seruan agar Abbas dieksekusi.
CB, RAMALLAH
- Kelompok radikal Yahudi telah memasang poster-poster yang menunjukkan
kebencian terhadap Presiden Palestina Mahmoud Abbas, di pintu masuk
permukiman Yitzhar di dekat Kota Nablus, pada Selasa (11/12).
Poster-poster itu tertulis ungkapan "pendukung teroris" dan seruan terhadap kematian Abbas.
Abbas adalah presiden Otoritas Palestina yang berbasis di
Ramallah. Perundingan perdamaian yang disponsori Amerika Serikat (AS)
antara Otoritas Palestina dan Israel telah runtuh pada 2014, setelah
Israel menolak menghentikan pembangunan permukiman di wilayah pendudukan
Tepi Barat.
Pada Senin (10/12), pasukan Israel dilaporkan telah menyerbu Ramallah dan kantor berita resmi Palestina, Wafa.
Mereka mengklaim tengah mencari tersangka serangan penembakan yang melukai tujuh pemukim Yahudi pada Ahad (9/12) lalu.
Di Kota Betien, di timur Ramallah, penduduk setempat juga mengatakan para pemukim Israel telah melakukan vandalisme "price tag" terhadap beberapa kendaraan milik warga Palestina.
Para
pemukim itu menuliskan slogan rasis anti-Arab pada mobil dan dinding
rumah di daerah itu dan melemparkan batu ke kendaraan yang melintas di
dekat pos pemeriksaan Bet Eil.
Kantor berita Anadolu melaporkan, vandalisme "price tag"
adalah strategi yang digunakan oleh para pemukim Yahudi ekstremis untuk
menyerang warga Palestina dan properti mereka sebagai pembalasan atas
ancaman yang diberikan terhadap ekspansi permukiman Israel.
Tentara Israel melakukan patroli dengan menggunakan jip. (ilustrasi)
Foto: www.electronicintifada.net
Pengawas umum WAFA mengecam penggerudukan tentara Israel ke kantornya.
CB, RAMALLAH -- Pengawas umum kantor berita Palestina WAFA
Ahmad Assaf mengecam penggerudukan dan penggerebekan yang dilakukan
tentara Israel terhadap kantornya. Ia menilai tindakan itu merupakan
kejahatan terhadap media Palestina.
"Kejahatan ini adalah satu lagi dalam serangkaian kejahatan oleh
pasukan pendudukan (Israel) terhadap media resmi (Palestina)," ujar
Assaf dalam sebuah siaran televisi Palestina pada Senin (10/12).
Ia
menegaskan penggerudukan oleh tentara Israel tidak akan membuat seluruh
jajaran redaksi menghentikan pekerjaannya. "Itu tidak akan menghalangi
kami melakukan pekerjaan kami terhadap rakyat kami dan untuk mengungkap
kejahatan penjajah ke dunia," kata Assaf.
Assaf mengatakan
tindakan tentara Israel tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa protes.
Dia berpendapat kejadian tersebut merupakan bukti bahwa Israel tidak
mengacuhkan konvensi internasional, resolusi PBB, dan semua perangkat
hukum yang mengatur kerja jurnalistik di seluruh dunia.
The
Palestinian Journalist Syndicate dan Kementerian Penerangan Palestina
turut mengecam penggerebekan kantor WAFA oleh tentara Israel.
Puluhan
tentara Israel bersenjata lengkap menggerebek kantor WAFA di Ramallah
pada Senin. Mereka bahkan sempat menembakkan gas air mata yang
menyebabkan para karyawan dan wartawan mengalami sesak napas.
Dalam
penggerebakan itu, tentara Israel dilaporkan menyita salinan rekaman
kamera pengawas. Militer Israel belum memberikan komentar tentang alasan
penggerebekan tersebut.
Iran
membenarkan bahwa Teheran baru-baru ini melakukan uji coba rudal
balistik dan memastikan uji coba yang beberapa waktu lalu bukanlah uji
coba rudal terakhir. Foto/Istimewa
TEHERAN
- Seorang komandan senior Iran membenarkan bahwa Teheran baru-baru ini
melakukan uji coba rudal balistik dan memastikan uji coba yang beberapa
waktu lalu bukanlah uji coba rudal terakhir yang dilakukan Iran.
"Kami
akan terus melakukan uji coba rudal kami dan yang terakhir ini sangat
signifikan," kata Lomandan Korps Divisi Garda Revolusi Iran (IRGC),
Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh.
Terkait reaksi Amerika
Serikat (AS), yang mengecam uji coba itu, dia menyebut itu adalah hal
yang bagus bagi Teheran. "Reaksi AS menunjukkan betapa pentingnya hal
ini bagi mereka," ucap Ali Hajizadeh, seperti dilansir Anadolu Agency
pada Selasa (11/12).
Tanpa memberikan rincian tentang jenis rudal yang diuji, dia mengatakan Iran setidaknya menembakan hingga 50 rudal setahun.
Pekan
lalu, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menuduh Teheran melanggar
resolusi Dewan Keamanan PBB 2231 dengan melakukan uji coba tembak rudal
balistik jarak menengah. Resolusi PBB 2231 melarang Iran menguji rudal
balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir.
Teheran
sendiri membela uji coba rudal tersebut, dengan alasan bahwa itu adalah
uji coba rudal konvensional dan bahwa uji coba itu tidak melanggar
resolusi PBB.
Saksi
mata dan media setempat menuturkan, tentara Israel menggeledah sejumlah
rumah dan toko-toko milik warga Palestina di Ramallah. Foto/Istimewa
RAMALLAH
- Tentara Israel dilaporkan menyerbu Ibu Kota Palestina, Ramallah.
Menurut keterangan sejumlah saksi mata, tentara Israel melakukan serbuan
terhadap Ramallah pada hari Senin lalu.
Saksi mata dan media
setempat, seperti dilansir Anadolu Agency pada Selasa (11/12),
menuturkan, tentara Israel menggeledah sejumlah rumah dan toko-toko
milik warga Palestina di Ramallah.
Tentara Israel, menurut
keterangan para saksi juga menyita rekaman kamera pengintai untuk
menyelidiki serangan yang terjadi di Ramallah, yang menyebabkan enam
orang terluka.
Bentrokan meletus antara tentara Israel dan
seorang remaja Palestina setelah serangan itu. "Puluhan warga Palestina
terkena tabung air mata yang ditembakkan oleh tentara Israel," kata
paramedis.
Hukum internasional terus memandang Yerusalem Timur,
bersama dengan seluruh Tepi Barat, sebagai "wilayah pendudukan" dan
menganggap semua konstruksi pemukiman Yahudi di sana menjadi ilegal.
Ilustrasi Kubah Emas di kompleks Masjid Al Aqsa, Kota Yerusalem. (REUTERS/Ronen Zvulun)
Jakarta, CB -- Pemerintah Australia dikabarkan sudah menyetujui akan mengakui Kota Yerusalem
sebagai Ibu Kota Israel, dalam rapat kabinet yang digelar hari ini.
Meski begitu, mereka disebut tidak akan mengumumkan apapun sampai rapat
Dewan Pemerintah Australia (COAG) digelar pada Rabu (12/12) besok.
Mengutip The Australian, kantor berita milik pemerintah Australia, SBS,
melaporkan keputusan ini akan diratifikasi kabinet dalam rapat hari ini
waktu setempat, setelah Komite Keamanan Nasional menyetujui rencana
tersebut pada Senin (10/12) malam lalu.
Meski begitu, Australia
belum berencana memindahkan kedutaan besarnya untuk Israel ke Yerusalem
dalam waktu dekat karena alasan biaya.
Sebagai gantinya, sumber memaparkan pemerintah Australia untuk sementara
waktu berencana membangun kantor kekonsuleran di Yerusalem.
Dikutip dari Arutz Sheva,
Perdana Menteri Scott Morrison dan kabinetnya kemungkinan akan mengakui
Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dalam sebuah rapat malam ini.
Jika
hal itu disetujui, Morrison dikabarkan akan mengumumkan sikap resmi
pemerintah Australia soal status Kota Yerusalem pada Rabu besok.
Jika
hal itu terjadi, Australia akan menjadi negara kelima setelah Amerika
Serikat, Guatemala, Republik Ceko, dan Honduras yang mengakui Yerusalem
sebagai Ibu Kota Israel.
Langkah itu dinilai merusak upaya proses
perdamaian di Timur Tengah, terutama antara Israel-Palestina. Keduanya
sama-sama mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota masa depan negara.
Langkah
ini pertama kali diumumkan Morrison pada Oktober lalu. Saat itu, dia
mengatakan kabinetnya tengah mempertimbangkan rencana memindahkan
kedutaan Australia untuk Israel ke Yerusalem.
Morrison menyatakan pertimbangkan itu muncul lantaran dia menganggap
proses perdamaian antara Israel dan Palestina tak kunjung usai.
Indonesia sebagai negara tetangga menentang sikap Australia.
Sayang sampai berita ini dibuat, pemerintah Australia belum memberikan klarifikasi resmi soal itu.