Jumat, 19 Februari 2016

Benda Bersejarah Milik Indonesia yang Berada di Belanda

Patung Ken Dedes (foto: singosarikingdom.weebly.com)
Patung Ken Dedes (foto: singosarikingdom.weebly.com)
JAKARTA - Selama menjajah bangsa Indonesia, Belanda ternyata tidak hanya gemar eksploitasi manusia dan kekayaan alam negeri ini. Para serdadu negeri kincir angin itu juga mencuri benda-benda bersejarah warisan nenek moyang nusantara.
Banyak sekali benda-benda bersejarah yang diangkut ke Belanda di masa penjajahan dahulu. Pemerintah RI sebenarnya telah berulangkali meminta agar benda-benda bersejarah itu dikembalikan.
Namun, apesnya tidak semua berhasil dipulangkan ke Tanah Air. Berikut sejumlah benda bersejarah milik bangsa Indonesia yang tersimpan rapi di museum-museum negeri Belanda sebagaimana dikutip dari boombastis.com.
Patung Ken Dedes
Ken Dedes adalah putri Empu Purwa, seorang pendeta Buddha Mahayana. Ia pernah diculik dan diperistri Bupati Tumapel, Tunggul Ametung. Namun, dalam perkembangannya, Tunggul Ametung tewas di tangan pemuda desa bernama Ken Arok dengan sebilah keris karya Empu Gandring.
Suatu ketika, seorang pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda, D Monnerean menemukan patung Ken Dedes di antara reruntuhan Candi Singosari pada tahun 1819 silam. Namun, ihwal posisi tempat ditemukannya patung tersebut hingga kini masih misterius.
Patung tersebut sempat diboyong pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi koleksi kebanggaan salah satu museum di Kota Leiden. Upaya untuk memulangkan benda ini sudah berkali-kali dicoba pemerintah Indonesia. Patung tersebut akhirnya dikembalikan Belanda ke tangan Indonesia pada tahun 1978.
Prasasti Sangsang
Prasasti ialah salah satu benda bersejarah paling berharga bagi bangsa Indonesia. Banyak sekali prasasti yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan, tidak sedikit dari prasasti penting itu yang ternyata diangkut kolonial Belanda ke negerinya di masa penjajahan dulu.

Prasasti Sangsang (foto: wordpress.com)
Di antara prasasti itu yakni Prasati Sangsang dan Wujakana yang ada di Museum Tropen. Prasasti Guntur tersimpan rapi di Rotterdam, serta sekitar enam buah lagi berada di Museum Kota Leiden.
Patung Ganesha dan Anusapati
Selain patung Ken Dedes yang akhirnya dikembalikan itu, ternyata Belanda juga menyimpan beberapa artefak lain yang tak kalah pentingnya bagi Indonesia. Benda penting tersebut adalah Patung Ganesha dan juga Anusapati.
 
Patung Ganesha (foto:ist)
Kedua benda ini diambil di tempat yang berbeda. Patung Ganesha diambil di dekat Candi Singasari, sedangkan patung Anusapati di Candi Kidal. Meskipun berbeda lokasi, keduanya masih berada di Malang.
Patung Anusapati dan Ganesha tersimpan rapi di sebuah museum yang ada di Kota Leiden, Belanda. Dua obyek bersejarah yang gagal dipulangkan pemerintah RI tersebut menjadi salah satu primadona di museum itu.


Keris dan Senjata Lain Milik Para Raja
Keris juga menjadi benda bersejarah peninggalan zaman dahulu di tanah Jawa. Bahkan keris biasanya dimiliki oleh para raja maupun orang-orang besar zaman dulu.

Keris Singo Barong (foto: wordpress.com)
Di Belanda dapat ditemukan koleksi keris yang asli milik Indonesia. Adalah Keris Singo Barong yang diduga milik pembesar kerajaan Mataram yang berhasil digondol pemerintah kolonial Belanda ke negerinya.
Naskah Kuno Keraton Kasunanan Surakarta
Pemerintah Kota Solo sekira dua tahun silam mengungkapkan harapannya agar Belanda sudi mengembalikan beberapa peninggalan penting Keraton Kasunanan Surakarta yang di antaranya ialah naskah kuno. Pasalnya, naskah penting itu berisi jejak-jejak para leluhur di masa lalu.

Naskah Kuno Kasunanan Surakarta (surakarta.go.id)
Naskah kuno itu kini tersimpan rapi di salah satu museum di Belanda. Selain naskah kuno, ada juga sebuah mobil kuno milik sang raja yang konon disebut sebagai mobil pertama di Indonesia.





Credit  Okezone




Potret Dunia Riset Indonesia

Ilustrasi: Shutterstock
Ilustrasi: Shutterstock
JAKARTA - Pemerintah terus mendorong dunia penelitian Tanah Air agar kian meningkatkan daya saing di kancah dunia. Potret dunia riset di Indonesia sendiri dihiasi berbagai masalah, mulai dari minimnya dana dan fasilitas hingga kurangnya apresiasi industri.
Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemristekdikti, Dr Muhammad Dimyati menjelaskan, banyak karya inovasi anak bangsa masih menggunakan teknologi asing.
"Sebanyak 58 persen peneliti masih menggunakan sumber teknologi utama dari luar negeri. Untuk itu Presiden berharap bisa menekankan penelitian tersebut pada pemanfaatannya di masyarakat, bukan hanya dari sisi ingin meneliti," papar Dimyati di Gedung Dikti Jakarta, Juamt (19/2/2016).
Selain itu, kata Dimyati, masih banyak penelitian yang dilakukan pihak asing tidak terdaftar di lembaga riset atau perguruan tinggi Indonesia. Dia bercerita, dalam sebuah kunjungan ke Bali, ternyata ada sejumlah peneliti asing sedang meneliti kera di kebun binatang. Namun setelah ditelusuri ke kampus, ternyata peneliti itu tidak terdaftar bersama mereka.
"Harus kita tertibkan, karena dikhawatirkan beberapa sampel yang dimiliki Indonesia akan dibawa ke luar negeri. Itu pernah terjadi beberapa kali," ujarnya.
Di sisi lain, tidak semua penelitian bisa dihilirisasi ke arah industri. Dimyati menyebut, hanya sekira delapan persen hasil riset yang pada akhirnya menjalani proses tersebut.
"Di Amerika saja total ada 100 ribu penelitian yang masuk, namun hanya 250 yang berhasil dan masuk ke skala besar," tandasnya.


Credit  Okezone