![Arah baru Tiongkok: Tiongkok mencanangkan tahun 2015 sebagai "Tahun Kerjasama Maritim ASEAN-Tiongkok." Deklarasi ini berlawanan dengan tindakan agresif pada tahun 2014 yang menuai protes, seperti protes di Vietnam ketika memperingati 40 tahun pendudukan Tiongkok atas Kepulauan Paracel di Laut Tiongkok Selatan. [AFP]](http://apdforum.com/shared/images/2015/01/23/china-asean-cooperationAP.jpg)
Arah
baru Tiongkok: Tiongkok mencanangkan tahun 2015 sebagai "Tahun
Kerjasama Maritim ASEAN-Tiongkok." Deklarasi ini berlawanan dengan
tindakan agresif pada tahun 2014 yang menuai protes, seperti protes di
Vietnam ketika memperingati 40 tahun pendudukan Tiongkok atas Kepulauan
Paracel di Laut Tiongkok Selatan. [AFP]
Tiongkok mencanangkan tahun 2015 sebagai "Tahun Kerjasama
Maritim ASEAN-Tiongkok" dan menggelontorkan dana besar-besaran untuk
membiayai proyek-proyek infrastruktur besar bagi 10 negara Perhimpunan
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara [ASEAN].
Hal ini terjadi bahkan sementara diteruskannya reklamasi wilayah oleh Tiongkok dan sengketa dengan
Vietnam dan Filipina, mengancam strategi itu.
Beijing meluncurkan prakarsa itu setelah pertemuan ke-17 para pemimpin negara-negara ASEAN dan Tiongkok di ibukota Myanmar, Nay Pyi Taw, yang dihadiri oleh Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang.
Setelah pertemuan di bulan November itu, ASEAN menegaskan
kembali pentingnya menjaga perdamaian, stabilitas dan keamanan maritim
di kawasan itu, kantor berita resmi Tiongkok Xinhua melaporkan.
"ASEAN sepakat untuk mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun
Kerjasama Maritim ASEAN-Tiongkok, dalam rangka menyambut rencana
komprehensif Tiongkok untuk memanfaatkan Dana Kerjasama Maritim
ASEAN-Tiongkok untuk memberikan dukungan keuangan bagi kerja sama mereka
di bidang konektivitas maritim, ilmu dan teknologi kelautan, serta
penelitian ilmiah kelautan, SAR, penanggulangan bencana dan keselamatan
navigasi," kata laporan Xinhua.
Skala inisiatif sangat besar
Beijing setuju untuk menyalurkan $40 milyar untuk mulai membangun Jalur Ekonomi Jalan Sutra dan Jalan Sutra Maritim Abad 21.
Kesepuluh negara ASEAN ini memiliki populasi gabungan sekitar 600 juta
orang dan merupakan salah satu kawasan di bumi yang paling cepat
berkembang serta dinamis secara ekonomi .
Tiongkok berencana untuk mempercepat pembangunan ekonomi di
seluruh Asia Tenggara dan sekaligus mengembangkan pengaruh bisnis dan
strategisnya di seluruh kawasan itu.
Strategi Jalan Sutra Maritim Beijing akan berjalan paralel
dengan suatu program investasi besar-besaran lainnya di seluruh Eurasia
darat, melalui bekas republik Soviet di Asia Tengah. Program ini akan
melibatkan jaringan rel berkecepatan tinggi, jaringan pipa, pelabuhan,
kabel serat optik dan telekomunikasi canggih yang menghubungkan Rusia,
Iran, Turki, dan Samudra Hindia, dan membentang ke Eropa hingga Venesia,
Rotterdam dan Berlin,
Asia Times Online melaporkan.
Investasi Jalan Sutra Maritim sebesar $20 milyar yang dijanjikan
pada KTT ASEAN-Tiongkok di Nay Pyi Taw adalah "tambahan dari $3 milyar
untuk Dana Kerjasama Investasi ASEAN-Tiongkok, yang mendanai investasi
infrastruktur dan energi di negara-negara anggota ASEAN, dan $480 juta
untuk membantu mengentaskan kemiskinan di Asia Tenggara,"
The Diplomat melaporkan.
Tiongkok menjanjikan perlakuan istimewa kepada investor ASEAN di
bawah perjanjian perdagangan bebas ASEAN-Tiongkok yang diperluas,
The Diplomat melaporkan.
Dukungan keuangan untuk meyakinkan negara-negara tetangga
"Dukungan keuangan ini merupakan bagian dari rencana untuk
meyakinkan negara-negara anggota ASEAN bahwa kebangkitan Tiongkok
bermanfaat bagi tetangganya dan bagi kawasan itu secara keseluruhan,"
lapor
The Diplomat.
Ralph Winnie, direktur program Tiongkok di Eurasian Business Coalition di Washington, DC, sependapat dengan penilaian ini.
"ASEAN merupakan wilayah yang benar-benar penting bagi
pertumbuhan ekonomi dan stabilitas serta kemakmuran berkelanjutan
Tiongkok," katanya kepada Asia Pacific Defense Forum [APDF]. "Presiden Xi Jinping
menyadari hal ini. Dia tahu, adalah penting untuk menjaga hubungan baik
dengan negara-negara besar di kawasan itu, khususnya Indonesia, untuk
melanjutkan kondisi yang menguntungkan bagi perluasan investasi Tiongkok
di negara-negara ini dan peningkatan pembelian minyak, gas dan bahan
baku.
"Visi Xi akan kemitraan 'Rencana Marshall' dengan negara-negara
ASEAN juga penting untuk mencapai tujuannya, yaitu menjadikan Tiongkok
sebagai kekuatan utama di Asia," kata Winnie. "Xi tahu bahwa ancaman
kekerasan dan taktik intimidasi akan sangat kontra-produktif. Dia tahu
Tiongkok harus membangun dirinya sebagai pemimpin yang konstruktif di
kawasan tersebut dan sebagai pemangku kepentingan yang bertanggung jawab
dalam menanggulangi berbagai tantangan yang dihadapi Asia Tenggara."
Aksi 2014 menciptakan konflik dengan tetangga
Tiongkok meluncurkan suatu ekspansi maritim jenis lainnya pada
tahun 2014. Negara ini memulai program raksasa memperluas berbagai pulau
kecil dan terumbu karang di daerah yang disengketakan di Laut Tiongkok Selatan,
untuk membuat pelabuhan utama, lapangan udara dan pemukiman, dan untuk
membangun kedaulatan atas 90 persen laut, kendati adanya klaim yang
bertentangan dari negara-negara anggota ASEAN, yakni Vietnam, Filipina
dan Indonesia.
Menghadapi perselisihan diplomatik yang bermusuhan akibat
kebijakan ini, "Tiongkok mencoba untuk membelokkan fokus dari sengketa
teritorial ke bidang-bidang yang berpotensi kerja sama" seperti "Tahun
Kerjasama Maritim ASEAN-Tiongkok," tulis
The Diplomat. "Tiongkok
ingin membuktikan kepada negara-negara di Asia Tenggara bahwa
peningkatan kecakapan maritim negeri itu dapat bermanfaat bagi kawasan
tersebut."
Sumet Ongkittikul, direktur riset untuk Kebijakan Transportasi
dan Logistik dari Institut Pengembangan Pembangunan Thailand, mengatakan
dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh Xinhua bahwa "perdagangan
regional telah berkembang pesat di Asia, terutama setelah Wilayah
Perdagangan Bebas ASEAN didirikan pada tahun 1992. Perdagangan bilateral
antara ASEAN dan Tiongkok tumbuh lima kali lipat dari $78 milyar pada
tahun 2003 menjadi $443,6 milyar pada tahun 2013," kantor berita ini
melaporkan.
Filipina terus menentang tindakan Tiongkok
Pada tanggal 21 Januari, para pejabat Filipina menuduh Tiongkok
memperluas pekerjaan reklamasi di perairan yang disengketakan di Laut
Tiongkok Selatan, sementara Amerika Serikat sekali lagi menghimbau agar
menahan diri dalam sengketa teritorial, Agence France-Presse melaporkan.
"Kegiatan Tiongkok di Laut Filipina Barat [Laut Tiongkok
Selatan] terus menjadi perhatian serius, yang berawal dari laporan
meningkatnya pembangunan reklamasi," ujar Wakil Menteri Pertahanan
Filipina Pio Lorenzo Batino kepada wartawan.
Batino menolak untuk menjelaskan lebih jauh tentang kemajuan
reklamasi, dan hanya mengatakan: "Ini sangat serius. Pembangunan ini
telah berkembang."
Filipina tahun lalu menuduh Tiongkok meledakkan pasir dan batu
untuk mereklamasi daerah-daerah di sekitar terumbu karang di laut.
Dilaporkan bahwa fasilitas yang sedang dibangun mencakup landasan udara.
Filipina pada Maret 2014 mengajukan permohonan resmi kepada PBB
menentang klaim Tiongkok.
Credit
APDForum