Patroli itu menyebar di sejumlah titik di Suriah Utara.
CB,
IDLIB -- Angkatan bersenjata Turki dan Rusia diketahui mulai melakukan
patroli independen yang terkoordinasi pertama di Suriah Utara, Selasa
(26/3) waktu setempat. Hal itu disampaikan oleh pihak Kementerian
Pertahanan Turki. Selain itu, ditegaskan pula tentang upaya gencatan
senjata di wilayah Tal Rifaat, Suriah.
"Dalam
kerangka perjanjian sebelumnya, Angkatan Bersenjata Turki dan Angkatan
Bersenjata Rusia melakukan patroli independen, namun tetap terkoordinasi
pertama untuk mencapai gencatan senjata, memberikan stabilitas di
wilayah Tal Rifat, dan mencegah serangan terhadap elemen kami," demikian
pernyataan kementerian tersebut melalui Twitter resminya, Selasa
(26/3).
Tal
Rifaat dikendalikan terutama oleh pasukan pimpinan Kurdi. Wilayah itu
terletak 20 kilometer sebelah timur Afrin, yang sudah terlebih dahulu
berada di bawah kendali pasukan Turki. Sebelumnya, Ankara telah berhasil
dengan operasi militer 'Operation Olive Branch terhadap milisi YPG pada
2018.
Turki menganggap YPG sebagai perpanjangan
dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang berupaya membentuk negara Kurdi
independen. Bagi Ankara, mereka adalah pemberontak bersenjata sehak
tahun 1970-an.
Laman Daily Sabah
menuliskan, rute patroli meliputi enam titik yakni Kafr Lusin dan
Al-Dana, distrik utara Idlib; Kota Atarib di sebelah barat kota Aleppo;
dan kota Qammari, Qanater dan Al-Eiss di barat daya kota Aleppo. Dalam
kerangka perjanjian Astana, Turki saat ini memegang 12 titik pengamatan
gencatan senjata di zona de-eskalasi Idlib sementara Rusia memiliki 10
titik.
Sebuah perjanjian dimulai pada Desember 2016 oleh
Turki, Rusia dan Iran. Ketiga negara meletakkan dasar bagi kerja sama
tripartit mereka pada penyelesaian damai di Suriah yang dikenal sebagai
perjanjian Astana. Turki dan Rusia juga menandatangani perjanjian Sochi
pada September tahun lalu untuk mengurangi ketegangan dan menghindari
konflik baru di provinsi Idlib.
Pada awal Maret,
Angkatan bersenjata Turki telah memulai patroli di kota Idlib, Suriah
Barat Laut. Patroli di zona de-eskalasi Idlib didasarkan pada Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) Sochi pada 14 Februari 2019 dari negara-negara
penjamin seperti Turki, Rusia, dan Iran.
Warga Suriah turun ke jalan memprotes keputusan AS mengakui Dataran Tinggi Golan wilayah Israel. Foto/Istimewa
QUNEITRA
- Puluhan warga Suriah pada hari Selasa waktu setempat berkumpul di
kota al-Baath, Quneitra selatan, untuk memprotes pengakuan Amerika
Serikat (AS) atas Dataran Tinggi Golan Suriah sebagai bagian dari
Israel.
Mengibarkan bendera Suriah, para warga meneriakkan
slogan-slogan yang menekankan bahwa Dataran Tinggi Golan adalah bagian
dari wilayah Suriah dan membawa spanduk bertuliskan "Kita semua untuk
Golan" dan "Golan adalah daerah Suriah."
Kemarahan itu datang terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel.
Israel
merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah selama perang tahun 1967 dan
mencaplok wilayah itu pada 1981, tindakan yang tidak pernah diakui oleh
dunia internasional.
Seorang demonstran, Bilal Sulaiman (40), mengatakan bahwa Trump tidak memiliki hak untuk memberikan tanah Suriah kepada Israel.
"Golan
adalah wilayah Suriah, tidak hanya di atas kertas tetapi dengan
orang-orangnya, tanahnya, bebatuan dan air. Ini adalah tanah Suriah dan
ini adalah identitasnya," katanya sembari memegang bendera Suriah
seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (27/3/2019).
Mengenakan
pakaian tradisional rakyat Golan dan Quneitra, Jawdat al-Tawil (60),
mengatakan orang-orang Suriah sepenuhnya menolak pengumuman Trump.
"Kami,
orang-orang Golan, adalah warga Suriah dan kami menolak keputusan Trump
dan kami bahkan tidak mengakui keputusan seperti itu karena Golan
adalah daerah Suriah dan semua yang ada di dalamnya adalah Suriah," ujar
al-Tawil.
Sementara itu, kepala Dewan Quneitra Shehadeh al-Muri mengatakan Dataran Tinggi Golan milik rakyat Suriah.
"Tanah ini memiliki pemilik dan tidak terkait dengan cara apa pun dengan
entitas Zionis (Israel). Itu dibentengi oleh rakyatnya dan suatu hari
nanti pasti akan dibebaskan," ucapnya.
Quneitra berbatasan dengan
Dataran Tinggi Golan dan ada persimpangan antara Quneitra dan Dataran
Tinggi Golan yang dijalankan oleh Pasukan Pengamat PBB, UNDOF.
Persimpangan itu telah ditutup selama bertahun-tahun selama krisis Suriah tetapi dibuka kembali pada Oktober tahun lalu.
Penyeberangan
Quneitra adalah satu-satunya penyeberangan bagi warga Suriah di Dataran
Tinggi Golan yang diduduki Israel untuk memasuki Suriah, tetapi
orang-orang di pihak Suriah tidak diizinkan memasuki Dataran Tinggi
Golan.
Siswa-siswa Suriah dari Dataran Tinggi Golan menggunakan persimpangan sebelum krisis Suriah untuk belajar di Suriah.
Juga, ada pernikahan antara warga Suriah di Golan dan Quneitra di masa lalu.
Pasukan
UNDOF pertama kali dikerahkan antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan
pada tahun 1974 untuk memisahkan pasukan Suriah dan Israel setelah
negara Zionis itu menduduki Dataran Tinggi Golan selama perang 1967.
Sehari
sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Suriah mengutuk pengakuan Trump
atas Dataran Tinggi Golan Suriah sebagai wilayah Israel.
Kementerian
itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa langkah Trump adalah
pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan Suriah, menambahkan bahwa
pemerintah Suriah sepenuhnya menolak keputusan itu dan Dataran Tinggi
Golan akan selalu tetap sebagai wilayah Suriah.
"Trump tidak memiliki hak hukum untuk melegitimasi pendudukan tanah orang lain dengan paksa," kata kementerian itu.
Mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan telah menjadi
tuntutan baru-baru ini oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,
yang terjadi beberapa bulan setelah pemerintahan Trump memindahkan
kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke kota Yerusalem yang diperebutkan.
Hanaa Ahmad Ali Bahr, seorang gadis cilik yang menderita
malnutrisi digendong ayahnya di sebuah kota kumuh di Hodeidah, Yaman,
Senin, 25 Maret 2019. Perang brutal di negara Yaman memasuki tahun
kelimanya pekan ini tanpa terlihat tanda-tanda akan berakhir.
REUTERS/Abduljabbar Zeyad
CB, Jakarta - Yaman menderita kerugian US$ 50 miliar atau Rp 708 triliun sejak perang Yaman pecah pada wal 2015 silam.
Menteri
Perencanaan dan Kerja Sama Internasional Yaman, Najib Al Awaj,
mengungkapkan hal ini saat pidato dalam acara rekonstruksi dan pemulihan
ekonomi untuk 2019-2020, di Aden, dikutip dari Middle East Monitor, 26
Maret 2019.
Seminar tersebut dihadiri oleh Kepala Delegasi UE
untuk Yaman, Antonia Calvo, perwakilan dari Pusat Bantuan Kemanusiaan
King Salman, Bulan Sabit Merah Emirates dan pihak donor lainnya.
Al Awaj juga menambahkan bahwa ratusan ribu karyawan sektor swasta kehilangan pekerjaan sebagai akibat dari penurunan produksi.
"Penurunan
produksi menyebabkan warga kehilangan sekitar dua pertiga dari
pendapatan mereka karena inflasi tinggi, devaluasi mata uang nasional,
dan peningkatan tingkat kemiskinan hingga sekitar 78 persen dari
populasi. Juga, sekitar 60 persen populasi menderita kekurangan
makanan," katanya.
Dalam
foto 25 Agustus 2018 ini, bayi yang kekurangan gizi, Zahra, digendong
oleh ibunya, di desa al-Mashraqah, Aslam, Haji, Yaman. Perang saudara
Yaman telah menghancurkan kemampuan negara yang sudah rapuh itu untuk
memberi makan penduduknya. Sekitar 2,9 juta wanita dan anak-anak
mengalami kekurangan gizi akut, 400.000 anak lainnya berjuang untuk
hidup dari kelaparan. (Foto AP / Hammadi Issa)
Al
Awaj menjelaskan ada penurunan tajam pada sistem layanan kebutuhan
dasar, terutama air minum, kesehatan, listrik, dan pendidikan. Selain
itu, 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk sekitar 3
juta orang terlantar di dalam negeri.
Gulftimes
melaporkan, mengutip data yang dipaparkan Al Awaj, bahwa ada
peningkatan tingkat kemiskinan hingga sekitar 78 persen dari populasi
dan sekitar 60 persen populasi kekurangan makanan.
Selama hampir lima tahun, Yaman dilanda
perang saudara antara pasukan pro pemerintah dan militan Houthi, yang
telah mengendalikan provinsi, termasuk ibu kota Sana'a, sejak September
2014.
Pemandangan Desa Praia Nova Village, salah satu yang terkena dampa topan Idai paling parah d Beira, Mozambik, Ahad (17/3).
Foto: Josh Estey/CARE via AP
Ratusan orang tewas akibat hantaman Topan Idai.
CB,
BEIRA -- Agen kemanusiaan PBB, OCHA menyebutkan, sekitar 1,85 juta
orang terdampak Topan Idai di Mozambik, pada Selasa (26/3). Saat ini,
para pekerja bantuan juga berlomba untuk membantu meringankan bencana
mematikan ini.
"Beberapa akan berada dalam situasi kritis dan mengancam kehidupan.
Beberapa lainnya sedih karena akan kehilangan mata pencaharian mereka,"
kata koordinator OCHA Sebastian Rhodes Stampa.
Angka
tersebut hanya untuk korban bencana di Mozambik. Sedangkan, negara
lainnya juga terkena dampak dari badai ini, yakni Zimbabwe dan Malawi.
Hingga Senin, setidaknya 686 orang telah dilaporkan tewas akibat badai
Idai.
Adapun
Topan Idai terjadi pada 14 Maret di dekat kota pelabuhan Beira, membawa
angin kencang dan hujan. Dua sungai besar, Buzi dan Pungue hancur
tepinya yang merendam seluruh desa dan membuat banyak korban tewas.
Di
Mozambik, jumlah yang tewas mencapai hingga 447 jiwa. Sedangkan, korban
terluka hingga 1.500 orang. Rumah rusak dan hancur sebanyak 1.500 unit
dan tanaman yang rusak mencapai 500 ribu hektare.
Sedangkan,
pada 16 Maret, badai menghantam Zimbabwe timur, tempat itu meratakan
rumah-rumah dan membanjiri komunitas di Distrik Chimanimani serta
Chipinge. Menurut pemerintah, jumlah korban tewas yakni 179 orang dan
329 orang masih hilang.
Agen migrasi AS menetapkan
jumlah korban jiwa hingga 259 orang. Kemudian jumlah yang terluka
mencapai 200 orang. Keluarga yang dipindahkan mencapai 16 ribu rumah
tangga.
Sebelum badai menerjang terjadi hujan lebat dan
banjir ke Distrik Chikwawa dan Nsanje di Sungai Shire yang lebih rendah
di selatan Malawi. Hujan terus berlanjut setelah badai melanda yang
menambah kesengsaraan puluhan ribu orang.
Jumlah orang yang
tewas mencapai 60 orang dan mereka yang terluka hingga 672 jiwa. Korban
yang terpengaruh dari bencana ini yakni 868.895 orang.
ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Taiwan. Sumber: Brookings Institution/Reuters
CB, Jakarta - Anggota
senat Amerika Serikat dari Partai Republik dan Partai Demokrat sepakat
merancang undang-undang yang akan meningkatkan hubungan bilateral
Amerika Serikat dengan Taiwan. Rencana senat Amerika Serikat ini, dikhawatirkan akan membuat ketegangan dengan Cina.
Dikutip
dari reuters.com, Rabu, 27 Maret 2019, anggota senat Bob Menendez, yang
berasal dari Partai Demokrat dan berpengaruh di Komite Hubungan Luar
Negeri, bersama Tom Cotton anggota senat Partai Republik dan Ted Cruz
serta senat dari partai Demokrat Catherine Cortez Masto dan Chris Coons,
kompak mengajukan rancangan undang-undang Taiwan.
Michael
McCaul politikus Partai Republik di Komite Hubungan Luar Negeri
berencana memperkenalkan langkah-langkah untuk mendukung rancangan
undang-undang ini ke DPR. Melalui rancangan undang-undang ini, maka
Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan diberikan mandat untuk
mengevaluasi hubungan Amerika Serikat dengan Taiwan, berkoordinasi
dengan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat untuk melakukan latihan
militer gabungan dengan Taiwan dan dukungan bagi penjualan senjata ke
Taiwan.
"Legislasi ini akan memperdalam keamanan Amerika Serikat - Taiwan,
ekonomi dan hubungan di bidang budaya. Pada saat yang sama, mengirimkan
sebuah pesan kalau sikap agresif Cina ke Taiwan tidak akan ditoleransi,"
kata Cotton.
Agar
rancangan undang-undang ini bisa berkekuatan hukum, maka rancangan
undang-undang ini harus disahkan oleh Senat dan DPR serta
ditanda-tangani oleh Presiden Trump. Rangkaian proses ini kemungkinan
akan membuat Beijing kecewa dan mengancam kesepakatan perang dagang
antara kedua negara dengan menaikkan tarif impor.
Taiwan adalah
salah satu wilayah Cina yang berkembang paling pesat. Beijing sebelumnya
sudah kecewa dengan Amerika Serikat yang melakukan patroli di Laut Cina
Selatan, sebuah wilayah laut yang masih dipersengketakan oleh Cina dan
sejumlah negara ASEAN.
Washington tidak memiliki hubungan resmi dengan Taiwan. Hubungan keduanya hanya diikat oleh hukum untuk memperkuat Taiwan dan
memasok senjata ke wilayah itu. Catatan Pentagon memperlihatkan,
Washington sejak 2010 sudah menjual senjata lebih dari US$15 miliar atau
Rp 213 triliun ke Taiwan.
Korban tewas dalam serangan terhadap penduduk Muslim di sebuah desa di Mali tengah jadi 157. Foto/Istimewa
BAMAKO
- Seorang juru bicara pemerintah Mali mengatakan korban tewas dalam
serangan terhadap penduduk desa di Mali tengah pada hari Sabtu oleh
orang-orang bersenjata tak dikenal telah meningkat menjadi 157. Ia juga
membenarkan serangan tersebut sebagai salah satu kekejaman terbaru di
negara yang dilanda oleh kekerasan etnis itu.
Serangan tersebut
terjadi ketika misi Dewan Keamanan PBB mengunjungi negara penghasil emas
Afrika Barat itu untuk mencari solusi bagi kekerasan yang telah
menewaskan ratusan warga sipil tahun lalu dan menyebar ke seluruh
wilayah Sahel di Afrika Barat.
Seorang pejabat dari kota terdekat
mengatakan pada hari Sabtu bahwa orang-orang bersenjata, berpakaian
tradisional seperti suku pemburu Donzo, menyerang desa-desa yang dihuni
oleh suku penggembala Fulani. Banyak dari mereka mencurigai suku Fulani
menyembunyikan para ekstrimis Islam, tuduhan yang disangkal oleh Fulani.
Serangan
itu terjadi kurang dari seminggu setelah serangan mematikan oleh
jihadis pada sebuah pos tentara yang menewaskan sedikitnya 23 tentara,
juga di wilayah tengah Mali. Serangan itu diklaim oleh kelompok yang
berafiliasi dengan al-Qaeda.
"Jumlah korban tewas resmi adalah 157," kata juru bicara pemerintah Amadou Kotia seperti dikutip dari Reuters, Rabu (27/3/2019).
Para
pejabat pada hari Sabtu mengatakan bahwa sekitar 134 telah terbunuh,
meskipun mereka memperkirakan jumlah itu akan meningkat.
Kelompok-kelompok
jihad yang terkait dengan al-Qaeda dan Negara Islam (ISIS) telah
mengeksploitasi persaingan etnis seperti yang terjadi antara Fulani dan
Donzo di Mali dan tetangganya, Burkina Faso dan Niger dalam beberapa
tahun terakhir. Itu dilakukan untuk meningkatkan rekrutmen dan membuat
sebagian besar wilayah hampir tidak dapat dikendalikan.
Pasukan Prancis melakukan intervensi di Mali, bekas koloninya pada 2013
untuk mendorong mundur gerakan kelompok-kelompok ekstrimis itu dari
gurun utara. Tetapi gerilyawan sejak itu telah berkumpul kembali dan
memperluas kehadiran mereka ke Mali tengah dan negara-negara tetangga.
Sekitar
4.500 tentara Prancis tetap bermarkas di Sahel yang lebih luas,
kebanyakan dari mereka di Mali. Amerika Serikat (AS) juga memiliki
ratusan tentara di wilayah tersebut.
Pengadilan Spanyol mengeluarkan surat perintah penangkapan pelaku penyerangan Kedubes Korut. Foto/Ilustrasi/Istimewa
MADRID
- Hakim Pengadilan Nasional Spanyol, Jose de la Mata, mengeluarkan
surat perintah penangkapan internasional untuk dua tersangka pelaku
serangan terhadap kedutaan Korea Utara (Korut) di Madrid pada Februari
lalu. Hal itu dikatakan dinas pers pengadilan.
Tujuh anggota geng
beranggotakan 10 orang yang menyerang kedutaan Korut pada 22 Februari
telah diadili. Hakim menuntut mereka dengan penahanan ilegal, perampokan
dengan kekerasan dan intimidasi, dan keanggotaan dalam geng kriminal di
antara tuntutan kejahatan lainnya.
"Dua surat perintah
penangkapan internasional telah dikeluarkan, termasuk satu untuk
pemimpin geng," pejabat itu menjelaskan seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (27/3/2019).
Hakim Spanyol membenarkan bahwa semua penyerang yang terlibat dalam insiden itu saat ini berada di luar negeri.
Menurut
dokumen pengadilan, para penyerang bertindak atas inisiatif mereka
sendiri dan menyatakan bahwa mereka adalah anggota gerakan hak asasi
manusia untuk pembebasan Korut.
Pada 22 Februari, anggota geng
menjebol kedutaan besar Korut di Madrid, memborgol karyawan kedutaan dan
memukuli mereka sementara Charge d'Affaires sementara Yu Sok-so dibawa
ke sebuah ruangan untuk diinterogasi.
Para
penyerang dilaporkan mencoba mendapatkan beberapa informasi tentang
mantan Duta Besar Korut untuk Spanyol Kim Hyok-chol, yang merupakan
salah satu tokoh penting yang mempromosikan KTT kedua antara Presiden AS
Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un.
Para penyerang
dilaporkan mengambil beberapa komputer dan dokumen dari gedung kedutaan.
Yu Sok-so memberi tahu polisi Spanyol bahwa mereka adalah warga negara
Korea Selatan (Korsel).
MAINZ
- Polisi di Jerman mengevakuasi beberapa bangunan di enam kota pada
hari Selasa (26/3/2019) setelah sebuah ancaman bom dikirimkan ke email
seorang pejabat. Namun, setelah menggeledah bangunan, polisi di
setidaknya empat kota mengatakan mereka tidak menemukan sesuatu yang
mencurigakan.
"Para pejabat di Kaiserslautern, Chemnitz,
Rendsburg, Augsburg, Gottingen dan Neunkirchen menerima ancaman bom ke
kotak masuk email umum mereka," kata polisi seperti dikutip dari NBC
News.
Di Gottingen, para pejabat menggeledah bangunan dan membuka
kembali jalan-jalan di daerah itu sekitar dua jam kemudian. Balai kota
tetap ditutup untuk hari itu, polisi mengumumkan dalam sebuah tweet.
Ancaman
di kota barat daya Kaiserslautern menyebabkan evakuasi dari sebuah
bangunan setinggi 21 lantai di mana lebih dari 1.000 orang bekerja.
Polisi menggeledah bangunan tetapi tidak menemukan apa pun. Polisi
mengatakan dalam sebuah tweet bahwa mereka sedang menyelidiki email
tersebut berkoordinasi dengan kota-kota lain yang menerima ancaman.
Di
Augsburg, Jerman selatan, balai kota dan gedung administrasi terdekat
tempat sekitar 500 orang bekerja dievakuasi. Polisi kemudian mengatakan
bahwa tidak ada barang mencurigakan yang ditemukan.
Di
Neunkirchen, juga di barat daya Jerman, polisi mengevakuasi beberapa
bangunan milik kompleks balai kota, tetapi tidak menemukan apa pun
setelah memeriksa bangunan.
"Ada
kemungkinan bahwa email ancaman di berbagai kota di Jerman telah
dikirim oleh satu orang, tetapi penyelidikan masih berlangsung," kata
juru bicara kepolisian kepada NBC News.
Otoritas Federal
mengatakan kepada NBC News bahwa mereka mengetahui email-email itu dan
mengoordinasikan pertukaran informasi antara berbagai departemen
kepolisian, yang bertanggung jawab untuk menyelidiki ancaman-ancaman
itu.
Bangunan balai kota berlantai dua di kota Chemnitz, Jerman
timur juga dievakuasi setelah ancaman bom dikirim ke kotak masuk email
umum kota, kata polisi kepada NBC News. Polisi menggeledah gedung.
Di kota Rendsburg, Jerman utara, balai kota setempat juga dievakuasi pagi ini setelah menerima email, kata polisi.
Harian
Bild Jerman mengutip seorang polisi mengatakan tingkat ancaman tidak
berubah. Pada bulan Januari, pengadilan di tiga kota Jerman menerima
ancaman bom tetapi tidak ada ledakan yang terjadi.
Kardinal Pell dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena pelanggaran seksual.
Puluhan
organisasi berita dan jurnalis Australia menghadapi kemungkinan
"hukuman penjara" atau denda atas tuduhan penghinaan terhadap
pengadilan. Ini terkait liputan mereka terhadap kasus Kardinal George
Pell dalam dakwaan pelecehan seksual terhadap anak.
Poin utama:
• Fairfax Media, the Herald and Weekly Times termasuk di antara yang disebutkan dalam dokumen pengadilan itu
• Pengadilan telah memerintahkan penghentian atas rincian persidangan dan putusan bersalah terhadap Pell
• Putusan itu menyebutkan kemungkinan masa tahanan atau denda bagi mereka yang dihukum karena melanggar perintah penghentian
Sebanyak
36 kantor berita dan individu telah dipanggil ke sidang Mahkamah Agung
pada 15 April. Mereka menghadapi tuduhan bahwa melanggar perintah
penghentian ketika menerbitkan materi tentang persidangan Kardinal Pell
tahun lalu.
Di antara yang disebutkan dalam dokumen
yang diajukan oleh Departemen Penuntutan Publik Victoria pada hari Jumat
(22/3/2019) adalah editor The Age -Alex Lavelle, editor Herald Sun
-Damon Johnston, pembawa acara 2GB -Ray Hadley, dan presenter Channel
Nine -Deborah Knight.
Hakim Ketua Pengadilan Wilayah
Victoria, Peter Kidd, memerintahkan agar semua bukti dan vonis dalam
persidangan Pell tahun lalu tidak dipublikasikan. Perintah
itu dibuat untuk melindungi proses pengadilan kedua yang direncanakan
untuk pelanggaran tidak terkait, yang kemudian dibatalkan.
Ketika
juri menyampaikan putusannya, hal itu dimuat di situs berita
internasional, di mana pengadilan tidak memiliki yurisdiksi. Tetapi sejumlah media lokal dituduh mencemooh aturan penghentian tersebut.
Beberapa
surat kabar utama Australia meliput putusan itu dalam artikel yang
tidak menyebut nama Pell dan mengabaikan rincian penting lainnya.
Mereka
termasuk The Age, yang melaporkan "seorang tokoh yang sangat terkenal
dihukum pada Selasa karena kejahatan serius, tetapi kami tak bisa
melaporkan identitas mereka karena perintah penghentian".
ABC
menerima surat awal tentang liputan itu dari program RN Breakfast,
dalam sebuah segmen tentang halaman depan surat kabar, tetapi itu tak
termasuk dalam daftar orang-orang yang dipanggil untuk sidang bulan
depan.
Memicu skandal
Direktur
Penuntutan Publik (DPP) Australia berpendapat bahwa publikasi oleh 34
dari 36 pihak yang disebutkan "memiliki kecenderungan untuk mengganggu
administrasi peradilan dalam penuntutan Pell".
Mereka juga dituduh "membantu dan mendukung penghinaan media di luar negeri".
Photo: Deborah Knight dan Ray Hadley berada di antara mereka yang dipanggil. (Channel Nine/2GB)
Enam belas responden juga dituduh memiliki "efek skandal pengadilan" dalam publikasi yang kritis terhadap pengadilan.
Dua
minggu lalu, Kardinal Pell dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena
pelanggaran seksual historis terhadap dua anggota paduan suara di
Katedral St Patrick di Melbourne pada pertengahan 1990-an, ketika Pell
menjadi Uskup Agung Melbourne.
News
Corp Australasia mengatakan pihaknya akan "membela semua tuduhan"
dengan penuh semangat dan "mendukung editor serta jurnalis kami" dengan
teguh.
Seorang juru bicara Nine mengatakan
perusahaannya dan karyawan yang disebutkan namanya membantah tuduhan
itu, tetapi tidak akan berkomentar lebih lanjut karena masalah tersebut
sudah masuk ke pengadilan.
Macquarie Media juga menolak berkomentar.
Sebanyak 36 badan atau individu media yang dipermasalahkan:
- The Herald and Weekly Times Pty Ltd
- Damon Johnston
- Charis Chang
- News Life Media Pty Ltd
- Queensland Newspapers Pty Ltd
- Sam Weir
- The Geelong Advertiser Pty Ltd
- Andrew Piva
- Nationwide News Pty Ltd
- Ben English
- Lachlan Hastings
- Advertiser Newspapers Pty Ltd
- Michael Owen-Brown
- Fairfax Media Limited
- The Age Company Pty Ltd
- Alex Lavelle
- Ben Woodhead
- Patrick O'Neil
- Michael Bachelard
- Fairfax Media Publications Pty Ltd
- Lisa Davies
- Michael Stutchbury
- Patrick Durkin
- Danielle Cronin
- Franziska Rimrod
- Mamamia.com.au
- Jessica Chambers
- Allure Media Pty Ltd
- Simon Thomsen
- Macquarie Media Limited
- Chris Smith
- Ray Hadley
- Nine Entertainment Co Pty Ltd
- Lara Vella
- Christine Ahern
- Deborah Knight
Hari solidaritas hijab di Dunedin, Selandia Baru
untuk membuat muslimah nyaman usai penembakan di masjid Christchurch,
Kamis (21/3).
Foto: RNZ/Tess Brunton
Petisi Muslim Christchurch meminta dana lebih baik untuk etnis Uighur.
CB, CHRISTCHURCH
– Jaringan wanita Muslim Christchurch meminta Pemerintah Selandia Baru
mengembalikan dana sumbangan dari Cina untuk korban terorisme di
Christchurch.
Alasannya, jaringan wanita Muslim
beranggapan sumbangan sekitar 2 juta dolar Amerika Serikat (AS) itu
lebih baik diberikan pada etnis Uighur dan minoritas Muslim di negara
tersebut.
Seperti dilansir di Newshub pada Selasa (26/3), saat
terjadi aksi terorisme pada 15 Maret lalu, Wali Kota Auckland, Phil Goff
menghadiri acara makan malam untuk delegasi dari Teochew International
Federation, termasuk Cina.
Dalam acara tersebut,
para delegasi berjanji menyumbangkan hampir 500 ribu dolar AS kepada
para koran. Jumlah sumbangan terus bertambah hingga mencapai 2,1 juta
dolar AS.
Salah satu donatur adalah pengusaha
kontroversial Zhang Yikun yang terkenal karena keterlibatannya dalam
perselisihan antara politikus Selandia Baru, Jami-Lee Ross dan Partai
Nasional.
Goff memberikan donasi itu pada Yayasan Christchurch, Our People, Our City.
Goff menyebut sumbangan itu sebagai gerakan kepedulian kepada masyarakat Christchurch dan komunitas Muslim di Selandia Baru.
Namun,
Jaringan Kepemimpinan Khadija menyerukan agar sumbangan dikembalikan
dan diberikan pada etnis Uighur dan minoritas Muslim yang teraniaya di
Cina.
Dalam
sebuah petisi yang ditujukan kepada Perdana Menteri (PM), Anggota
Parlemen, Wali Kota Goff, dan Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru
(FIANZ), jaringan tersebut beranggapan sumbangan dapat digunakan lebih
efektif di tempat lain untuk memerangi Islamofobia.
“Meskipun
sikap itu sangat menyentuh hati, kami menyerukan permintaan yang sangat
spesifik tentang bagaimana sumbangan ini harus digunakan,” potongan
kalimat dalam petisi itu.
Organisasi itu beranggapan sumbangan yang terhimpun untuk para korban melalui situs crowdfunding Launch Good and Givealittle,
bantuan keuangan dari Pemerintah, sumbangan Teochew, seharusnya
digunakan untuk membantu warga Uighur yang kebanyakan adalah Muslim.
"Banyak
orang di komunitas Muslim yang ingin mengatasi masalah umat Islam
Uighur dan mengambil sikap menentang Islamofobia," tulis petisi jaringan
itu.
Organisasi tersebut sadar, sumbangan itu
bukan uang dari pemerintah Cina. Namun, mereka menegaskan bantuan paling
berarti adalah menghentikan penganiayaan terhadap orang-orang yang
mempraktikkan agama Islam di seluruh dunia.
Petisi
itu juga menuding Pemerintah Selandia Baru menutup mata terhadap
ketidakadilan di Cina lantaran hubungan historis dan bisnis dengan
Negeri Tirai Bambu itu.
Perdana Menteri (PM)
Selandia Baru Jacinda Ardern akan melakukan perjalanan ke Cina pada
Ahad, bertemu dengan pemimpin Xi Jinping di tengah spekulasi hubungan
yang memburuk.
Namun, Ardern belum mengonfirmasi apakah akan mengangkat masalah orang-orang Uighur dalam pertemuan itu.
Secara
terpisah, sebelumnya Human Rights Watch mengatakan etnis Uighur menjadi
sasaran pengawasan ketat dari pemerintah Tiongkok. Sekitar satu juta
orang ditahan di kamp “pendidikan ulang” di negara tersebut.
Pentagon membantah opsi militer untuk menyelesaikan krisis di Venezuela. Foto/Istimewa
WASHINGTON
- Amerika Serikat (AS) tidak berusaha untuk menyelesaikan krisis
Venezuela secara militer. Hal itu dikatakan oleh penjabat Menteri
Pertahanan AS Patrick Shanahan dalam sidang kongres pada 26 Maret.
"Bukan
itu pemahaman saya", kata Shanahan ketika ditanya apakah pemerintahan
Trump bermaksud untuk mencapai resolusi militer dari krisis di Venezuela
seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (27/3/2019).
Sebelumnya
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa ia belum mengesampingkan
potensi penggunaan kekuatan militer untuk melengserkan Presiden
Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan jika perlu.
"Semua
opsi ada di atas meja," katanya saat berbicara pada konferensi pers
bersama dengan Presiden Brasil Jair Bolsonaro di Rose Garden Gedung
Putih.
Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih berat
kepada Venezuela jika Maduro bersikukuh menolak untuk melepaskan
kekuasaanya.
Gejolak
politik di negara Amerika Latin telah berlangsung sejak Januari, ketika
pemimpin oposisi Juan Guaido, yang didukung oleh Amerika Serikat,
menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela setelah
membantah terpilihnya kembali Presiden Nicolas Maduro Mei lalu.
Washington segera mengakui Guaido, meminta Maduro untuk mundur, dan
menyita aset minyak Venezuela bernilai miliaran dolar.
Ilustrasi demonstrasi di Venezuela. (REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)
Jakarta, CB -- Pemerintah Amerika Serikat mencurigai niat Rusia yang mengirim dua pesawat dan sejumlah orang yang diduga adalah tentara serta beberapa perangkat ke Venezuela.
Mereka menuduh Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, justru mengingkari
janji dengan melibatkan pihak luar dalam menangani krisis politik di
negara itu.
"AS mengecam pengerahan pesawat dan prajurit Rusia ke
Caracas, yang merupakan kontradiksi Nicolas Maduro dan Rusia untuk
tidak mencampuri urusan Venezuela dan ini malah meningkatkan ketegangan
situasi," demikian pernyataan seorang juru bicara Kementerian Luar
Negeri AS, seperti dilansir Reuters, Selasa (26/3).
Menteri
Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyatakan sudah mengontak Menteri Luar
Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dan menyatakan mereka tidak akan tinggal
diam melihat situasi di Venezuela.
Lavrov menuduh AS
merencanakan kudeta untuk menggulingkan Maduro. Pernyataan Lavrov itu
disampaikan sehari setelah Rusia dilaporkan menurunkan sedikitnya
seratus personel militernya ke Venezuela, termasuk Kepala Staf Pasukan
Lapangan, Vasily Tonkoshkurov. Rusia juga mengerahkan 35 ton peralatan
menggunakan pesawat kargo Antonov AN-124 ke Caracas.
Menurut seorang juru bicara Komando Selatan Angkatan Bersenjata AS,
Armando Hernandez, keberadaan tentara Rusia di Venezuela sama saja
menghambat aspirasi warga setempat yang mengharapkan demokrasi.
"Rezim
saat ini dibantu dan didukung oleh negara-negara seperti Kuba dan
Rusia, untuk terus menekan pelaku demokrasi di Venezuela," kata
Hernandez.
Menurut sumber di Kementerian Penerangan Venezuela,
kehadiran sejumlah prajurit Rusia hanya untuk membantu perawatan alat
utama sistem persenjataan yang dibeli dari negara itu.
Sedangkan
Menteri Luar Negeri Venezuela, Jorge Arreaza, menyatakan negara asing
tidak bisa mengatur dengan siapa mereka harus bekerja sama.
"Sinisme
memang bagian dari Amerika Serikat. Dengan anggaran pertahanan ratusan
miliar dolar, mereka mencoba ikut campur terkait kerja sama teknis
antara Rusia dan Venezuela," cuit Arreaza melalui akun Twitter.
Sejak Venezuela masuk dalam pusaran krisis, Maduro mencari bantuan kepada China, Kuba, dan Rusia.
Krisis
Venezuela terus memburuk terutama setelah pemimpin oposisi, Juan
Guaido, mendeklarasikan diri sebagai presiden interim pada Januari lalu.
Deklarasi itu dilakukan Guaido selaku Ketua Majelis Nasional Venezuela,
sebagai bentuk penentangan terhadap kepemimpinan Maduro.
Langkah Guaido itu langsung didukung sedikitnya 50 negara, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro
berpartisipasi dalam sebuah konferensi video dengan anggota pemerintahan
dan anggota komando tinggi militer di Karakas, Venezuela, Jumat
(15/3/2019). ANTARA FOTO/Miraflores Palace/Handout via REUTERS/cfo
(REUTERS/HANDOUT)
Washington (CB) - Kontingen militer Rusia yang tiba di Venezuela selama akhir pekan menuai kecaman Amerika Serikat.
Pengerahan tersebut diyakini menyelundupkan pasukan khusus, termasuk
"personel keamanan siber", kata pejabat AS kepada Reuters, Selasa.
Pejabat, yang meminta namanya dirahasiakan, mengatakan Amerika Serikat
masih mengevaluasi pengerahan pasukan Rusia, yang Washington sebut
sebagai "eskalasi sembrono" dalam situasi di Venezuela.
Dua pesawat angkatan udara Rusia yang mengangkut hampir 100 pasukan
mendarat di luar Karakas pada Sabtu, menurut laporan media setempat.
Mereka datang dua bulan setelah pemerintahan Trump mencabut dukungan
bagi Presiden Nicolas Maduro.
Pemerintahan Trump mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai
presiden Venezuela yang sah dan meminta Maduro untuk mundur dari kursi
kepresidenan. Rusia melihat sikap tersebut sebagai kudeta dukungan AS
terhadap pemerintah sosialis Venezuela.
Penafsiran AS, bahwa kontingen Rusia beranggotakan ahli keamanan siber
dan ahli-ahli "bidang terkait", menunjukkan bahwa kontingen tersebut
kemungkinan bermaksud membantu loyalis Maduro melakukan pengawasan serta
perlindungan infrastruktur siber pemerintah.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro
berpartisipasi dalam sebuah konferensi video dengan anggota pemerintahan
dan anggota komando tinggi militer di Caracas, Venezuela, Jumat
(15/3/2019). (REUTERS/HANDOUT)
"Bagaimana saya bisa tahu, jika tak ada
listrik dan tak ada Internet?" demikian pertanyaan seorang asisten
dokter gigi Yolanda Gonzalez (50). Ia sedang menunggu bus di dekat plaza
Caracas. "Pasokan listrik akan bertambah parah, lihat saja!"
Caracas
(CB) - Venezuela membatalkan pekerjaan dan kegiatan
belajar-mengajar pada Selasa, saat pemadaman listrik kedua secara luas
bulan ini membuat jalanan nyaris kosong di Caracas dan warga Ibu Kota
Venezuela bertanya-tanya berapa lama listrik padam.
Venezuela telah dirundung krisis politik dan ekonomi yang makin dalam.
Pemerintah Sosialis di bawah Presiden Nicolas Maduro, yang menyalahkan
Amerika Serikat dan oposisi sebagai penyebab listrik padam sebelumnya,
sekarang menuduh "serangan" terhadap sistem kelistrikan sebagai penyebab
pemadaman yang pertama terjadi pada Senin (25/3).
Pemadaman listrik tersebut mengguncang kegiatan usaha, menjerumuskan
bandar udara utama di Caracas ke dalam kegelapan dan membuat pelaju
terdampar di Caracas.
Listrik padam itu terjadi di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat
sehubungan dengan kedatangan pesawat militer Rusia pada akhir pekan,
yang membuat Washington menuduh Moskow "meningkatkan ketegangan" di
Venezuela.
Rusia, yang memiliki penanaman modal besar di sektor energi di
Venezuela, negara anggota OPEC, tetap menjadi sekutu kuat
Presiden Maduro, kata Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa
malam. Sementara itu Amerika Serikat dan kebanyakan negara lain Barat
telah mengesahkan pemimpin oposisi Juan Guaido.
Dengan mengutip undang-undang dasar, Guaido pada Januari mengumumkan
diri sebagai presiden sementara. Ia mengatakan terpilihnya kembali
Maduro tahun lalu adalah kecurangan. Sementara itu Maduro mengatakan
Guaido adalah boneka AS yang berusaha memimpin kudeta terhadap dia dan
telah menuding sanksi yang diberlakukan oleh Washington sebagai penyebab
memburuknya kesulitan ekonomi.
Pasokan listrik pulih untuk sebagian besar wilayah negeri itu pada Senin malam, tapi padam lagi selama malam hari.
Banyak orang di jalanan Caracas pergi ke tempat kerja karena mereka
tidak mengetahui pemerintah meliburkan kerja, yang diumumkan oleh kantor
pers presiden di dalam cuitan pada pukul 04.00 waktu setempat (15.00
WIB).
"Bagaimana saya bisa tahu, jika tak ada listrik dan tak ada Internet?"
demikian pertanyaan seorang asisten dokter gigi Yolanda Gonzalez (50).
Ia sedang menunggu bus di dekat plaza Caracas. "Pasokan listrik akan
bertambah parah, lihat saja!"
Menteri Penerangan Jorge Rodriguez pada Senin mengatakan pemadaman yang
mulai terjadi pada siang hari adalah akibat dari serangan terhadap
pembangkit listrik tenaga air utama Venezuela di Bendungan Guri,
sehingga mempengaruhi tiga saluran utama.
Rodriguez tak secara terbuka menuduh pemadaman listrik pada Senin pada
kelompok atau individu tertentu. Tapi ia mengatakan, "Keinginan kelompok
sayap-kanan Venezuela ialah menyerang, menyebarkan kecemasan dan
penderitaan, untuk merebut kekuasaan dan mencuri semua sumber daya
kita."
Negara tersebut mengalami pemadaman listrik paling buruk mulai 7 Maret.
Selama hampir satu pekan, kondisi itu membuat jutaan orang berjuang
untuk memperoleh makanan dan air dan rumah sakit tak memiliki listrik
untuk merawat orang sakit. Penjarahan di Negara Bagian Zulia di
Venezuela Barat menghancurkan ratusan tempat usaha.
Banyak ahli listrik mengatakan pemadaman tersebut adalah akibat dari
pemeliharaan yang tidak memadai dan ketiakmampuan penanganan pembangkit
listrik sejak mendiang presiden Hugo Chavez menasionalkan sektor listrik
pada 2007.
Rusia, yang telah memperingatkan Washington agar tidak melakukan campur
tangan militer di Venezuela, pada Selasa tak bersedia mengomentari
kedatangan pesawatnya atau menanggapi tuduhan dari Departemen Luar
Negeri AS.
Wakil Presiden Partai Sosialis Venezuela Diaodado Cabello menegaskan dua
pesawat telah terbang ke negeri itu dari Rusia selama akhir pekan, tapi
ia tidak menjelaskan alasan atau mengatakan apakah pesawat tersebut
membawa tentara.
Pada 2017, Presiden AS Donald Trump mengatakan "pilihan militer"
tersedia berkaitan dengan Venezuela, sehingga memicu reaksi keras dari
para pemimpin regional --yang khawatir tentara AS akan dikerahkan ke
negara Amerika Latin tersebut.
Proses pemakaman korban penembakan di Christchurch, Selandia Baru. (REUTERS/Jorge Silva)
Jakarta, CB -- Australia mengancam akan memenjarakan bos perusahaan teknologi dan media sosial yang gagal memblokir konten atau materi terkait penembakan di dua masjid Christchurch, Selandia Baru, pada platform mereka.
Peringatan
itu diutarakan Jaksa Agung Australia, Christian Porter, setelah bertemu
dengan sejumlah petinggi perusahaan teknologi termasuk Facebook,
Twitter, dan Google pada Selasa (26/3).
Porter mengatakan tanggapan dari para petinggi perusahaan teknologi itu "benar-benar mengecewakan" dalam pertemuan tersebut.
"Isu
utama yang sebenarnya kami ingin diskusikan adalah bagaimana Anda
(perusahaan) merespons situasi seperti itu lebih cepat lagi atau bahkan
mencegah agar siaran langsung dan penyebaran konten-konten seperti itu
tidak terjadi. Dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak terlalu
memuaskan," papar Porter di Canberra.
Porter mengatakan Australia mempertimbangkan kemungkinan untuk memberi
sanksi penjara bagi para petinggi yang dinilai lalai dalam undang-undang
baru yang tengah digodok pemerintah.
Dia memperingatkan undang-undang tersebut memiliki "jangkauan ekstra-teritorial" di mana pun perusahaan itu berada.
Meski
begitu, ahli keamanan dunia maya dari Universitas New South Wales,
Nigel Phair, meragukan kemampuan UU tersebut untuk menjerat perusahaan
teknologi yang sebagian besar berbasis di luar Australia.
Pertemuan
itu juga dihadiri Perdana Menteri, Scott Morrison, yang ingin
mengetahui rencana setiap perusahaan untuk menjaga platform mereka
digunakan sebagai "senjata" para teroris dan kelompok ekstremis.
"Platform
media sosial bisa mengirimkan iklan kepada Anda dalam waktu setengah
detik. Mereka harus dapat menarik seluruh konten dan material yang
berbau terorisme dan sejenisnya yang juga sangat berbahaya dalam waktu
yang sama," ucap Morrison sebelum pertemuan berlangsung di Canberra
seperti dikutip AFP.
"Mereka juga harus bisa menerapkan
kapasitas besar mereka untuk menghadapi tantangan nyata ini demi menjaga
keamanan warga Australia."
Facebook menyatakan telah menghapus
sedikitnya 1,5 juta video yang sempat beredar terkait penembakan
Christchurch "dengan cepat".
Sebelumnya, rekaman video selama 17
menit marak beredar di media sosial tak lama setelah penembakan terjadi.
Video itu memperlihatkan Brenton Tarrant, pelaku penembakan,
melancarkan terornya.
Tarrant, warga Australia, menyiarkan aksi kejamnya itu secara langsung
melalui Facebook Live. Ia juga sempat mengunggah sejumlah manifesto
berisikan motivasinya melakukan penembakan itu di akun Twitternya.
Walaupun
saat ini cuplikan video Tarrant tersebut telah ditarik seluruh media
sosial dan portal berita, sejumlah ahli menganggap rekaman-rekaman itu
bisa diunduh dengan mudah oleh pengguna internet bahkan beberapa jam
setelah kejadian berlangsung.
Dua warga duduk bersebelahan di
Quneitra, dekat Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, di Suriah,
26/3/2019. (REUTERS/OMAR SANADIKI)
Ramallah, Palestina (CB) - Pemerintah sementara Palestina di
bawah Perdana Menteri Rami Hamdallah, Selasa, mengutuk serangan Israel
terhadap Jalur Gaza, dan menekankan bahwa serangan itu merupakan perang
terbuka berlanjut oleh Israel melawan rakyat Palestina di daerah kantung
yang terkepung tersebut.
Juru Bicara Pemerintah Palestina Yousef al-Mahmoud dalam satu pernyataan
mengingatkan masyarakat internasional agar tak berdiam diri mengenai
serangan udara Israel ke Jalur Gaza. Ia menekankan bahwa daerah kantung
Palestina itu telah dikepung selama 12 tahun.
Ia mendesak masyarakat internasional agar melakukan tindakan segera untuk melindungi hukum yang berlaku.
Pesawat tempur Israel menyerang sedikitnya 15 sasaran di dalam Jalur
Gaza termasuk menghancurkan kantor pemimpin politik HAMAS Ismail
Haniyeh, yang dikatakan militer Israel "telah berfungsi sebagai kantor
bagi banyak pertemuan militer".
Haniyeh mengeluarkan satu pernyataan yang memperingatkan Israel mengenai
pembalasan besar. Ia mengatakan rakyat Palestina "takkan menyerah" dan
faksi militannya "akan mencegah musuh jika musuh melewati garis merah".
Sementara itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang
mempersingkat kunjungan empat-hari ke AS untuk pulang guna mengadakan
pertemuan keamanan darurat, pada Selasa pagi saat ia naik pesawat untuk
kembali ke Tel Aviv berikrar negaranya takkan ragu memasuki Jalur Gaza
dan melakukan "semua tindakan yang perlu".
Netanyahu sebelumnya, dalam pertemuan di Gedung Putih, telah
memperingatkan bahwa Israel "takkan menoleransi" penembakan roket dari
Jalur Gaza.
Presiden AS Donald Trump menandatangani pengumuman kontroversial yang
mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, yang diduduki
Israel.
Keputusan Trump untuk mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi
Golan itu bertentangan dengan kebijakan AS selama beberapa dasawarsa dan
konsensus internasional mengenai daerah tersebut, sehingga meningkatkan
ketegangan di Timur Tengah.
Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah selama Perang Timur
Tengah 1967. Pencaplokan de facto Israel telah dinyatakan tidak sah oleh
PBB dan tidak diakui oleh lembaga internasional seperti Uni Eropa.
Warga Palestina memeriksa bangunan yang
hancur setelah serangan udara Israel di Kota Gaza, Selasa (26/3/2019).
ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammed Salem?/djo
Kota Gaza, Palestina (CB) - Menteri Urusan Perumahan dan
Pekerjaan Umum Mufid Al-Hasayneh mengatakan agresi terhadap Jalur Gaza
mengakibatkan kerusakan total sebanyak 30 rumah, dan membuat 500 rumah
lagi rusak sebagian.
Hasayneh mengatakan di dalam satu pernyataan pada Selasa malam bahwa
staf insinyur dan pekerja teknisi di kementerian tersebut telah mulai
bekerja sejak dini hari untuk memastikan kerusakan yang disebabkan oleh
agresi tersebut dan membuka kembali jalan yang tertimbun puing.
Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Palestina, WAFA --yang dipantau
Antara di Jakarta, Rabu pagi, ia menegaskan bahwa kementeriannya
melancarkan segala upaya yang mungkin melalui kerja sama dengan lembaga
dan badan internasional guna meringankan penderitaan warga dan
menyelesaikan proyek pembangunan kembali.
Ilustrasi keluarga militan ISIS di Suriah. (Delil SOULEIMAN / AFP)
Jakarta, CB -- Lebih dari 9.000 anggota keluarga pejuang ISIS dilaporkan masih berada di kamp penampungan Al-Hol, timur laut Suriah, menyusul kekalahan kelompok teroris pimpinan Abu Bakr Al Baghdadi itu di Timur Tengah.
Juru bicara pasukan Kurdi, Luqman Ahmi, mengatakan sedikitnya 6.500 orang yang ada di kamp tersebut merupakan anak-anak.
Ahmi
menuturkan jumlah itu didapat sepekan lalu sebelum Pasukan Demokratik
Suriah (SDF) mengumumkan kekalahan ISIS di Desa Baghouz, pada Sabtu
pekan lalu.
Dikutip AFP, puluhan ribu orang
melarikan diri dari Baghouz dan wilayah-wilayah lainnya yang masih
dikuasai ISIS dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagian besar militan dan pejuang ISIS telah dimusnahkan dan sisanya
ditahan. Lusinan militan ISIS juga berbondong-bondong menyerahkan diri
kepada pasukan koalisi AS sejak akhir pekan lalu.
Menurut SDF,
sebanyak 66 ribu orang meninggalkan wilayah ISIS sejak Januari lalu,
termasuk 5.000 pejuangnya dan 24 ribu keluarga mereka.
Sebagian
dari mereka berhasil kabur, sementara beberapa pejuang teroris asing
memilih untuk bertahan sampai mati atau menyerahkan diri kepada pasukan
koalisi AS.
Seorang wartawan AFP melihat lusinan orang
yang sebagian besar merupakan pria keluar dari kamp-kamp teroris yang
hancur di desa-desa terpencil di Baghouz yang berbatasan dengan Irak.
"Mereka
adalah pejuang ISIS yang keluar dari terowongan dan menyerah hari ini.
Beberapa lainnya masih mungkin bersembunyi di dalam," papar juru biara
pasukan Kurdi lainnya, Jiaker Amed.
Beberapa dari para militan itu memiliki perawakan berjanggut tebal dan
mengenakan kaftan wol panjang seperti jubah berwarna gelap.
Sementara
itu, kaum perempuan dan anak-anak diangkut dengan truk ke sejumlah kamp
yang dikuasai pasukan Kurdi dan koalisi Amerika Serikat lainnya.
Seorang
pejabat urusan luar negeri Kurdi, Abdel Karim Omar, memperingatkan
anggota ISIS termasuk keluarganya ini masih menimbulkan ancaman.
"Ada
ribuan pejuang, anak-anak, dan perempuan, dari setidaknya 54 negara,
tidak termasuk Irak dan Suriah, yang merupakan bahaya serius dan bahaya
bagi kami juga bagi masyarakat internasional," Omar.
"Jumlahnya meningkat secara besar-besaran selama 20 hari terakhir terutama dari operasi di Baghouz."
Selain
itu, Omar juga memperingatkan meski kekhalifahan ISIS telah kalah,
sel-sel tidur kelompok itu masih menyimpan bahaya yang signifikan.
SDF
memastikan akan terus melakukan operasi untuk menyisir dan membersihkan
daerah sisa-sisa ISIS untuk memastikan keamanan jangka panjang di
wilayah tersebut.
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dalam taklimat bersama Kepala Kebijakan Luar Negeri EU Federica Mogherini. (Anadolu)
Kabul, Afghanistan (CB) - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa
(EU) pada Selasa, selama kunjungannya ke Ibu Kota Afghanistan, Kabul,
menyampaikan dukungan penuh organisasi regional itu buat proses
perdamaian milik Afghanistan.
Federica Mogherini bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Arg (Istana Presiden Afghanistan).
Dalam taklimat bersama dengan Ghani, Mogherini mengumumkan EU siap
menjadi penjamin kesepakatan perdamaian di negara yang dicabik perang
tersebut, kata Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di
Jakarta, Selasa malam. Wanita pejabat itu menegaskan kerangka kerja
konstitusional harus ditegakkan untuk mewujudkan perdamaian yang
berkelanjutan.
"Yang pertama dan utama, proses tersebut milik rakyat Afghanistan dan
lembaga Afghanistan dan tak ada langkah mundur ketika sampai pada
demokrasi, susunan lembaga dan terutama hak asasi manusia, ketentuan
hukum dan semua pencapaian yang telah diwujudkan terutama buat perempuan
Afghanistan, buat anak-anak dan kelompok minoritas di negeri ini," kata
Ketua Kebijakan Luar Negeri EU tersebut.
Pada gilirannya, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan
Afghanistan berada di jantung Asia, dan ketakstabilan di Afghanistan
akan memiliki dampak pada seluruh wilayah itu.
"Kestabilan tak bisa diwujudkan dengan intimidasi atau dengan kekuatan
dan senjata yang hanya akan memulai era baru ketakstabilan," demikian
peringatan Presiden Afghanistan tersebut.
Pernyataan itu dikeluarkan saat milisi Taliban dan AS dijadwalkan
melanjutkan pembicaraan pada April di Doha, Qatar. Pemerintah
Afghanistan makin merasa disisihkan di meja perundingan. Taliban tak
bersedia berbicara dengan Pemerintah Afghanistan, sehingga mengakibatkan
kebuntuan.
Saat menyerukan gencatan senjata segera dan dilanjutkannya pembicaraan
perdamaian di negara yang diporakporandakan perang tersebut, Mogherini
mengatakan EU akan selalu memihak rakyat Afghanistan.
Layanan
darurat Iran menuturkan, korban tewas akibat banjir besar yang merendam
sebagian wilayah Iran telah mencapai 21 orang. Foto/Reuters
TEHERAN
- Layanan darurat Iran menuturkan, korban tewas akibat banjir besar
yang merendam sebagian wilayah Iran terus meningkat. Saat ini, lanjut
layanan darurat Teheran, korban tewas telah mencapai 21 orang.
Bencana
itu, yang menurut Menteri Enegeri disebabkan oleh perubahan iklim,
melanda di tengah liburan Tahun Baru Iran, dengan banyak pekerja bantuan
sedang berlibur.
"19 orang tewas dan 98 lainnya luka-luka di
kota selatan Shiraz, sementara satu orang tewas di provinsi barat
Kermanshah dan seorang lainnya di Lorestan," kata layanan darurat Iran,
seperti dilansir Al Arabiya pada Rabu (27/3).
Dengan
20 dari 31 provinsi Iran mengalami banjir atau menghadapi ancaman yang
akan segera terjadi, pemerintah Iran dilaporkan telah mengaktifkan
Komite Manajemen Krisis Nasional untuk menanggulangi bencana ini.
Layanan
meteorologi Iran telah memperingatkan akan lebih banyak hujan lebat
hingga hari ini, dan peringatan banjir telah dikeluarkan untuk
provinsi-provinsi pusat seperti Isfahan dan ibukota Teheran.
Sementara
itu, pemerintah Iran dilaporkan telah mengirimkan beberapa pesan teks
ke semua telepon seluler milik warganya dan mendesak semua orang untuk
berhati-hati dan menunggu instruksi dari sumber resmi.
Menteri Keuangan Steven Mnuchin. (Andrew H. Walker/Getty Images for City Harvest/AFP)
Jakarta, CB -- Amerika Serikat (AS) pada Selasa (26/3) memberlakukan sanksi baru pada jaringan perusahaan dan orang-orang di Iran, Turki, dan Uni Emirat Arab. Setidaknya ada 25 orang dan entitas yang masuk dalam daftar hitam AS dan terkena sanksi.
Mereka
yang masuk antara lain perusahaan yang terkait dengan Korps Pengawal
Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Kementerian Pertahanan dan Logistik
Angkatan Bersenjata, atau MODAFL.
Selain itu, sanksi juga menyasar Ansar Bank, Atlas Exchange, Iranian Atlas Company.
Sanksi diberlakukan karena mereka dituduh AS telah mentransfer uang miliaran dolar dan euro ke Pengawal Revolusi Elit Iran.
"Kami menyasar jaringan perusahaan dan
individu yang berlokasi di Iran, Turki, dan UEA. Kebijakan dilakukan
untuk mengganggu skema yang digunakan rezim Iran untuk memindahkan dana
lebih dari US$1 miliar secara ilegal," kata Menteri Keuangan Steven
Mnuchin seperti dikutip dari Reuters, Selasa (26/3).
Tapi sayang, ia tak menjelaskan secara rinci sanksi yang dimaksud.
Utusan khusus AS untuk Iran Brian Hook
merinci kesalahan yang dilakukan oleh Ansar sehingga mereka terkena
sanksi. Ia menyebut Ansar merupakan bankir Pengawal Revolusi Iran yang
operasinya di luar negeri dijalankan oleh Quds Force.
Menurutnya,
perusahaan Ansar telah mengumpulkan $ 800 juta selama satu setengah
tahun terakhir untuk membeli kendaraan militer dan untuk mendanai IRGC
dan operasi Pasukan Quds.
"Mereka menciptakan perusahaan-perusahaan terdepan untuk mengakses sistem keuangan AS sendiri," kata Hook.
Sementara itu untuk Kementerian Pertahanan Iran, sanksi dan label
hitam diberikan karena AS menganggap mereka sebagai organisasi teroris. Kementerian itu sebenarnya sudah masuk daftar hitam pada 2007 karena perannya dalam persenjataan pemusnah massal.
Amerika Serikat (AS) menuturkan mereka tidak pernah memiliki niat mengurangi sanksi kepada Korea Utara (Korut). Foto/Reuters
WASHINGTON
- Amerika Serikat (AS) menuturkan mereka tidak pernah memiliki niat
mengurangi sanksi kepada Korea Utara (Korut). Washington menegaskan,
sanksi hanya akan dikurangi jika Pyongyang telah merampungkan proses
denuklirisasi.
Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Keamanan
Internasional dan Nonproliferasi, Christopher Ford mengatakan, Korut
tidak akan melihat adanya bantuan sanksi yang signifikan sampai Korut
sepenuhnya dan dapat diverfikiasi pemusnahan senjata nuklir mereka.
"Kami
serius ketika mengatakan, bahwa denuklirisasi Korut yang final dan
terverifikasi sepenuhnya, seperti yang dijanjikan oleh Presiden AS
(Donald) Trump dan pemimpin Korut Kim (Jong-un) di Singapura, adalah
tujuan kami," ucap Ford, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (27/3).
"Kami
memiliki niat untuk mencapai tujuan itu. Dan sampai kami mencapai titik
itu, mereka seharusnya tidak mengharapkan untuk melihat semacam bantuan
sanksi dramatis yang mereka minta," sambungnya. Ia juga menekankan
bahwa keputusan ini tidak bisa dinegosiasikan.
Ford kemudian
menambahkan bahwa meskipun AS terus melanjutkan kampanye tekanan
terhadap Korut, Washington tetap terbuka untuk melakukan pembicaraan
lebih lanjut dengan pihak Korut.
Utusan khusus AS untuk Korut, Stephen Biegun,
berkunjung ke China, Selasa (26/3), sebulan setelah pertemuan kedua
Donald Trump dan Kim Jong-un yang tak menghasilkan kesepakatan. (Andrew
Harnik/Pool via Reuters)
Jakarta, CB -- Utusan khusus Amerika Serikat untuk Korea Utara, Stephen Biegun, dikabarkan mengunjungi China
pada Selasa (26/3), sebulan setelah pertemuan kedua Presiden Donald
Trump dan Kim Jong-un di Vietnam tak menghasilkan kesepakatan apa pun.
Kedutaan AS di Beijing melaporkan bahwa lawatan Biegun dilakukan untuk mengoordinasikan kebijakan dengan China terkait Korut.
"Stephen
Biegun, Utusan AS untuk Korut, berada di sini untuk melanjutkan
koordinasi AS-China mengenai kebijakan yang berkaitan dengan Korut,"
ucap seorang juru bicara kedubes AS kepada AFP.
Jubir tersebut menolak memberikan rincian lebih lanjut perihal kedatangan Biegun.
Kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan lawatan Biegun
bersamaan dengan kedatangan seorang pejabat tinggi Korut yang disambut
oleh pejabat pemerintah China dan utusan Pyongyang di Beijing.
Meski begitu, belum jelas lawatan Biegun dan pejabat tinggi Korut itu saling berkaitan atau tidak.
Lawatan
Biegun berlangsung sebulan setelah pertemuan Trump dan Kim Jong-un
digelar untuk kedua kalinya di Hanoi, Vietnam, pada 27-28 Maret lalu.
Kedua pemimpin gagal menyepakati dokumen bersama soal denuklirisasi di
Semenanjung Korea. Masalah sanksi menjadi salah satu ganjalan Trump dan
Kim Jong-un mencapai kesepakatan dalam pertemuan di Hanoi.
Korut
ingin AS mencabut sanksi secara bertahap sembari Pyongyang melakukan
denuklirisasi. Namun, AS berkeras tidak akan mencabut sanksi sebelum
Korut benar-benar melucuti senjata nuklirnya.
Meski begitu, Trump dan Kim Jong-un berkomitmen melanjutkan dialog meski pertemuan selanjutnya belum direncanakan.
China
sebagai sekutu Korut cukup banyak membantu proses dialog antara
Washington dan Pyongyang. Beijing meminjamkan pesawat untuk dipakai Kim
Jong-un ke Singapura dalam KTT perdana AS-Korut pada Juni 2018 lalu.
Januari
lalu, Beijing juga menjamu Kim Jong-un untuk keempat kalinya sebelum
KTT Hanoi. Selama ini, Kim memang kerap mengunjungi China untuk bertemu
Presiden Xi Jinping sebelum dan setelah pertemuannya dengan Trump atau
Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in.
Perdana Menteri Thailand Prayuth
Chan-ocha memasukan kertas suara pada pemilihan umum Bangkok, Thailand,
Minggu (24/3/2019). (REUTERS/ATHIT PERAWONGMETHA)
antara
Bangkok (CB) - Kampanye
pemilihan umum yang berlangsung pada akhir pekan di Thailand "sangat
condong" untuk menguntungkan satu partai yang dekat dengan junta
militer, kata seorang pemantau pemilihan dari Asia pada Selasa,
mengeritik proses penghitungan surat suara yang menimbulkan kecurigaan.
Kebingungan atas hasil-hasil pemilu dua hari setelah pemungutan suara
pada Ahad telah menghapus harapan-harapan bahwa pemilihan pertama sejak
kudeta militer tahun 2014 akan mengakhiri pergolakan politik hampir
selama 15 tahun di kekuatan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu.
Hasil-hasil resmi belum diumumkan, tapi "fron demokrasi" yang beroposisi
mengatakan pihaknya telah menarik cukup mitra koalisi untuk membentuk
pemerintahan, sementara partai pro-tentara juga menyatakan kemenangan
dan mengatakan tidak akan menerima seseorang selain pemimpin junta
Prayuth Chan-ocha sebagai perdana menteri.
Asian Network for Free Elections (ANFREL) yang berkantor di Bangkok
belum mengumumkan penilaiannya apakah terjadi kecurangan dalam
pemilihan. Dua pihak tersebut mengaku meraih kemenangan dalam pemungutan
suara.
Namun ketika ditanya apakah pemilu itu berlangsung jujur dan adil,
seorang pejabat ANFREL menolak mengomentari langsung, hanya mengatakan,
"Lingkungan sangat condong menguntungkan junta militer."
"Begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan bersama," kata Rohana
Nishanta Hettiarachchie, ketua misinya. "Tak adil untuk ambil simpulan
seluruh proses berjalan jujur dan adil atau tidak."
Komisi Pemilihan Thailand belum segera bersedia memberi komentar. Komisi
itu sebelumnya menolak menanggapi tuduhan-tuduhan mengenai kecurangan.
Wartawan
Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara
karena melaporkan tindakan keras brutal Myamar terhadap Muslim Rohingya.
Foto/Istimewa
NAYPYITAW
- Mahkahmah Agung Myanmar memutuskan untuk menerima banding yang
diajukan oleh pengacara dua wartawan Reuters yang dijatuhi hukuman tujuh
tahun penjara karena melaporkan tindakan keras brutal Myamar terhadap
Muslim Rohingya.
Wartawan Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, tetap
berada di Penjara Insein sementara pengacara mereka menghadiri sidang
pertama pengadilan tentang permohonan mereka di Ibu Kota Myanmar,
Naypyitaw. Istri keduanya juga datang ke persidangan, membawa anak-anak
mereka.
Vonis kepada para wartawan karena melanggar Undang-undang
Rahasia Resmi negara itu telah dikecam oleh kelompok-kelompok hak asasi
pemerintah Barat dan asosiasi pers global. Mereka juga telah menyoroti
masalah kebebasan berekspresi di Myanmar, bahkan setelah transisi dari
pemerintahan militer ke pemerintah terpilih di bawah peraih Nobel
Perdamaian Aung San Suu Kyi.
Pendukung
Wa Lone dan Kyaw Soe Oo berpendapat keduanya dijebak karena
ketidaksenangan pemerintah Myanmar atas laporan mereka tentang tindakan
keras oleh pasukan keamanan terhadap anggota minoritas Rohingya di
negara bagian Rakhine.
Lebih dari 700.000 Rohingya melarikan diri
ke negara tetangga Bangladesh setelah tindakan keras itu, yang dimulai
pada Agustus 2017. Para kritikus menggambarkan kampanye itu sebagai
pembersihan etnis, atau bahkan genosida, di pihak pasukan keamanan
Myanmar.
Banding Mahkamah Agung berpendapat bahwa putusan
pengadilan yang lebih rendah melibatkan kesalahan dalam prosedur
peradilan. Banding pada bulan Januari ke pengadilan yang lebih rendah
ditolak dengan alasan bahwa pengacara wartawan gagal menyerahkan cukup
bukti untuk membuktikan bahwa Wa Lone (32) dan Kyaw Soe Oo (28) tidak
bersalah.
Pengacara
Khin Maung Zaw mengatakan bahwa dalam penyerahan 1,5 jam ke pengadilan,
ia mengutip 13 alasan di mana ia yakin prosedur peradilan telah
dilanggar.
Menurut Khin Maung Zaw, dengan keputusan ini, pihak
pengacara akan kembali bertemu dengan hakim untuk dapat mempertahankan
banding jika ia memutuskan bahwa prosedur hukum telah dilanggar. Dalam
hal itu, semua putusan dari pengadilan rendah akan dihapuskan, yang
dapat menyebabkan kedua wartawan dibebaskan atau hukumannya dikurangi,
atau menghadapi putusan baru pengadilan.
Jika banding ditolak,
maka putusan pengadilan yang lebih rendah akan tetap berlaku. Tampaknya
hukum masih dapat memungkinkan beberapa peluang lebih lanjut untuk
meninjau kembali kasus tersebut, serta kesempatan untuk meminta
pengampunan.
Belum diputuskan tanggal untuk sidang banding lanjutan.
"Hari
ini, kami berharap bersama untuk yang terbaik dan percaya bahwa keluarga
kami bisa bersatu sesegera mungkin," kata Chit Su Win, istri Kyaw Soe
Oo, seperti dikutip dari ABC News.go.com, Rabu (27/3/2019).
Pan
Ei Mon, istri Wa Lone, mengatakan dia yakin hakim akan memutuskan
berdasarkan alasan atas dasar argumen yang diajukan oleh pengacara.
"Aku tidak begitu mengerti tentang peradilan," katanya.
"Tapi aku hanya ingin bersatu dengan suamiku dan aku ingin mereka berdua pulang secepat mungkin," tukasnya.
China Beli 300 Pesawat Airbus dengan Total Harga USD34 Miliar
PARIS
- Airbus menandatangani kesepakatan penjualan 300 pesawat senilai USD34
miliar (Rp482,22 triliun) pada China. Itu bertepatan dengan kunjungan
Presiden China Xi Jinping ke Prancis. Kesepakatan itu menjadikan Airbus
mampu mengimbangi rival utamanya dari Amerika Serikat (AS) Boeing dalam
pencatatan rekor penjualan pesawat.
Perjanjian penjualan antara
Airbus dan agen pembelian Pemerintah China, Aviation Supplies Holding
Company, termasuk pembelian 290 A320 dan 10 pesawat berbadan besar A350.
Para pejabat Prancis menyatakan nilai transaksi 30 miliar euro sesuai
dengan harga katalog. China diperkirakan akan mendapatkan diskon besar.
Transaksi itu lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Saat
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berkunjung ke China pada
2017, China memesan 300 pesawat Boeing. Tapi, perang dagang antara
Beijing dan Washington memengaruhi hubungan bilateral kedua negara.
Memang tidak ada bukti keterkaitan langsung antara kesepakatan Airbus
dengan ketegangan AS-China serta permasalahan armada Boeing.
Namun,
para pengamat China memandang Beijing memiliki sejarah mengirimkan
sinyal diplomasi atau memainkan penjualan pesawat. AS dan China berusaha
menurunkan ketegangan perang dagang dalam beberapa bulan terakhir.
“Kesimpulan
kontrak penjualan besar yang besar ini menjadi langkah ke depan dan
sinyal baik dalam konteks saat ini,” kata Presiden Prancis Emmanuel
Macron saat jumpa pers dengan Presiden China Xi Jinping dilansir
Reuters.
Ketika ditanya negosiasi penjualan pesawat merupakan
hasil dari kesalahan Boeing, Presiden Pesawat Komersial Airbus Guillaume
Faury mengabaikan hal itu. “Itu merupakan kerja sama jangka panjang
dengan mitra kita yang telah berlangsung lama. Itu juga menjadi sinyal
kuat kepercayaan diri,” kata Faury.
Dia mengungkapkan, Airbus
mendapatkan penghargaan atas pembelian pesawat dalam jumlah besar.
Airbus siap mendukung pertumbuhan penerbangan sipil China dengan pesawat
berbadan kecil dan besar. “Perluasan jejak kita di China menunjukkan
kepercayaan pasar China dan komitmen kita terhadap China dan mitra
kita,” ujarnya.
China
memang menjadi andalan utama Airbus. Apalagi bisnis pariwisata dan
penerbangan di China juga berkembang sangat pesat. Menurut para analis,
kesepakatan diplomatik mengandung banyak tuntutan baru, perluangan
pemesan, atau dampak kredit yang sangat nyata. Salah satu sumber
industri mengungkapkan pesanan terbaru Airbus, termasuk pesanan
Pemerintah China telah masuk dalam daftar Airbus, tetapi nama
pelanggannya tidak disebutkan.
Airbus sendiri tidak bisa
berkomentar mengenai hal itu. Pemesanan Airbus juga menjadi hal rumit
bagi Beijing. Pasalnya, China ingin membangun industri
kedirgantaraannya. Penjualan Airbus kali ini juga merupakan kesuksesan
Presiden Macron. Sebelumnya, dia gagal meyakinkan China untuk membeli
184 pesawat saat berkunjung ke Beijing pada awal 2018, tapi kini dia
justru berhasil.
Sumber industri menyatakan, penundaan negosiasi Airbus karena faktor
perang dagang. Ditambah lagi tuntutan pertumbuhan ekonomi China semakin
pesat. Ditambah dengan skandal Boeing 737 MAX yang menyisakan pertanyaan
dan misteri karena terkait kecelakaan Lion Air dan Ethopian Airlines.
Boeing pun mulai ditinggalkan.
China merupakan negara pertama
yang mengandangkan pesawat Boeing 737 pada bulan ini menyusul kecelakaan
Ethiopian Airlines. Langkah itu diikuti berbagai regulator penerbangan
di seluruh dunia. “Airbus memiliki pesawat A320 yang memiliki model sama
seperti Boeing 737 MAX,” ujar Ellis Taylor, pengamat dari firma
intelijen penerbangan FlightGlobal dilansir CNN.
“Sebagian besar
maskapai memesan MAX akan tetap melanjutkan pembelian. Namun, mereka
harus berinvestasi dalam infrastruktur dan pelatihan untuk mendukung jet
tersebut. Jika mereka harus mengalihkan pembelian ke Airbus, mereka
harus membutuhkan biaya yang besar,” kata Taylor.
Sayangnya,
tidak jelas maskapai China yang memesan Airbus. Biasanya maskapai yang
dimiliki pemerintah, yakni Air China dan China Southern Airlines. Namun,
sulit melacak maskapai yang membeli pesawat Airbus. “Pesanan tersebut
umumnya diumumkan selama kunjungan kenegaraan,” kata Taylor. “Pengumuman
yang sama juga dilakukan saat kunjungan kenegaraan AS,” ujarnya.
Pembelian
Airbus oleh China, menurut Taylor, juga dipengaruhi hubungan Boeing dan
China. “Isu 737 MAX akan menekan penjualan Boeing,” tuturnya. China
masih menjadi pasar yang besar bagi Airbus dan Boeing. China
diperkirakan membutuhkan 7.400 pesawat baru dan kargo hingga 2037. “Pada
suatu hari nanti China akan membutuhkan Boeing dan Airbus. Itu hanya
masalah waktu saja,” kata Taylor.
Sementara itu, saham Airbus
kemarin naik tajam sekitar 1,9% setelah pengumuman transaksi dengan
China. Sebelumnya, pada Februari lalu, Airbus akan menghentikan produksi
pesawat superjumbo A380 karena penurunan pesanan dari banyak maskapai.
Pesawat terbesar di dunia yang memiliki dua dek kabin yang menampung 544
penumpang dengan desain standar memang didesain untuk menantang pesawat
legendaris Boeing 747.
A380
terakhir akan dikirim ke maskapai pada 2021. Hingga 2021, Airbus hanya
akan memproduksi 17 A380, termasuk 14 untuk Emirates dan tiga untuk
maskapai ANA dari Jepang. Untuk menjamin pelanggan Airbus dari Asia
hingga Eropa, Airbus akan tetap mendukung pelayanan A380 ke depannya.
Kabar
tak terduga dari Airbus itu setelah Emirates memutuskan mengurangi
pesanan pesawat superjumbo yang ikonik itu. Emirates memutuskan tidak
mengandalkan A380, tetapi beralih membeli 30 pesawat A350 dan 40 A330neo
yang berukuran lebih kecil. Itu dilakukan dalam restrukturisasi.
Emirates yang memiliki 100 pesawat superjumbo A380 mengungkapkan
kekecewaan dengan penghentian produksi tersebut.
Jakarta, CB -- Dewan Perwakilan Amerika Serikat (AS) gagal untuk membatalkan rencana veto pertama Presiden Donald Trump. Kegagalan terjadi setelah dalam voting yang digelar Selasa (26/3), kubu Demokrat,
yang sebenarnya mengendalikan DPR AS, tidak mampu meraih dukungan penuh
dari Republik untuk mendapatkan dua per tiga suara yang diperlukan
untuk membatalkan veto Trump.
Demokrat hanya mampu mendapatkan
dukungan 14 suara dari kubu Republik agar veto bisa dibatalkan.
Kegagalan tersebut membuat rencana mereka membatalkan penetapan status
'darurat nasional' yang dilakukan Trump karena keinginannya untuk
membangun tembok di perbatasan Meksiko tidak dipenuhi parlemen, kian
sulit.
Dengan hasil perolehan suara 248 berbanding 181, Trump
sekarang kemungkinan akan terus mencari cara agar dana US$5,7 miliar
yang dibutuhkan untuk pembangunan tembok perbatasan AS dengan Meksiko
bisa dipenuhi.
Namun, kekalahan tersebut tidak membuat
Ketua DPR AS Nancy Pelosi surut. Ia berjanji anggota parlemen akan
terus mencoba untuk memblokir langkah Trump melalui proses kongres
reguler untuk mengalokasikan dana, serta meninjau deklarasi daruratnya
lagi dalam waktu enam bulan dari sekarang.
Pelosi berpendapat Trump telah melampaui wewenangnya. DPR merasa
legislatif memiliki kekuatan untuk mengontrol pengeluaran di bawah
Konstitusi AS.
"Karena kami bersumpah pada Konstitusi, bukan
kepada presiden Amerika Serikat, "kata Pelosi seperti dikutip dari
Reuters, Rabu (27/3).
Tetapi tuduhan Demokrat tersebut dibantah
oleh Republik. Mereka menegaskan Trump telah bertindak secara hukum di
bawah undang-undang 1976 yang dikenal sebagai Undang-Undang Keadaan
Darurat Nasional
"Presiden memiliki wewenang untuk bertindak.
Presiden menggunakan wewenang yang diberikan Kongres kepadanya," kata
Perwakilan Republik Sam Graves.
Sebagai informasi Trump pada 15 Februari lalu mengumumkan keadaan
'darurat nasional' dalam upaya untuk meminta Kongres memindahkan dana
pembayar pajak untuk membangun tembok pembatas AS dengan Meksiko.
Status
ditetapkan karena permintaan dana yang diajukannya untuk membangun
tembok perbatasan antara AS dengan Meksiko tidak dipenuhi. Penetapan
status itu pun dipermasalahkan tidak hanya oleh DPR AS, tapi juga negara
bagian.
Koalisi 16 negara bagian AS bahkan menggugat penetapan tersebut ke pengadilan.