
Pasukan khusus Irak menembakkan senjata ke arah militan ISIS di Mosul, Irak, Senin (14/11/2016). (REUTERS/Goran Tomasevic )
Jakarta (CB) - Jurnalis foto BBC Ayman Oghanna selama
berpekan-pekan terus menempel pasukan khusus Irak dalam operasi merebut
kembali Mosul dari ISIS.
Ayman kini mengenang seorang prajurit pasukan elite Irak itu yang gugur dalam Operasi Mosul, Ahmed "Talqa" atau Ahmed Si Peluru.
Seperti semua prajurit pasukan elite Irak, Ahmed, sang serdadu gugur itu hanya disapa dengan nama depannya.
Ahmed
sebenarnya tak suka sebutan Talqa karena lebih senang disebut Ahmed
"SpongeBob", julukan yang disematkan anaknya karena senyum unik yang
memperihatkan gigi ompongnya.
Nama lengkap Ahmed tidak boleh
diungkapkan karena sebagai anggota pasukan elite Dinas Kontra Terorisme
(CTS) yang juga kerap disebut Divisi Emas, pengungkapan nama keluarga
akan membahayakan keluarga sang serdadu.
Ahmed sudah terlibat
pada semua semua perang di zamannya. Ayman mengenang Ahmed sebagai orang
paling berani, paling baik dan paling lucu yang dia kenal.
Julukan Talqa disematkan kepada Ahmed setelah apa yang menimpanya sepuluh tahun lalu.
Suatu
malam sepuluh tahun lalu, dalam perjalanan pulang, warga Syiah dari
kota Baghdad ini diseret dari kendaraannya di sebuah pos pemeriksaan
polisi.
Waktu itu polisi Irak banyak disusupi milisi Syiah dan
milisi Syiah memburu anggota CTS karena unit inilah yang kerap
menggeledah milisi-milisi Syiah di Baghdad.
Mereka menyeret Ahmed
dan menemukan kartu identitasnya yang hanya punya keterangan nama
"Ahmed". Dia kemudian diseret ke sebuah rumah kosong dan disiksa di
sana. Namun Ahmed tak pernah mengaku anggota pasukan khusus Irak yang
terkenal itu.
Tak kunjung mengaku meski berulang-ulang disiksa,
akhirnya milisi Syiah menembak Ahmed lima kali, salah satunya tembus ke
batok kepalanya. Darah mengucur deras dan Ahmed langsung tersungkur
sampai kemudian para penyiksanya yakin dia telah mati.
Mereka
kemudian membuang Ahmed ke tumpukan sampah di daerah Sunni. Ini biasa
dilakukan oleh milisi mana saja selama perang sektarian di Irak, demi
"lempar batu sembunyi tangan", memicu satu sekte untuk saling balas
dendam ke sekte lainnya.
Ironisnya, di daerah Sunni itu, Ahmed
yang Syiah malah diselamatkan seorang pria tua Sunni yang membawanya ke
rumah sakit. Ahmed kemudian sembuh dan berusaha mencari penolongnya,
namun tidak pernah ditemukan.
Pegawai rumah sakit bilang bahwa
setelah pria tua itu membawa Ahmed ke rumah sakit, pria itu malah dibawa
polisi Irak karena dianggap telah menyiksa Ahmed.
Ahmed yakin
pria Sunni yang menolongnya itu telah bergabung dalam daftar ribuan
orang Irak yang hilang begitu saja karena lingkaran kekerasan dan balas
dendam di negerinya.
Ahmed yang ajaib selamat dari kematian
sepuluh tahun lalu itu akhirnya tewas di Mosul dalam operasi perebutan
kembali benteng terbesar dan terakhir ISIS di Irak itu.
Ahmed
tewas setelah seorang militan ISIS yang mengemudikan truk penuh bom
meledakkan bom bunuh diri di samping Humvee yang ditumpangi Ahmed. Ahmed
adalah pembawa senjata di Humvve itu.
Ahmed adalah salah seorang
dari banyak personel CTS yang menjadi ujung tombak militer Irak dan
selalu berada di pusat perang Irak sejak 2003.
Dibentuk oleh
militer AS, para personel CTS direkrut dengan standard-standard yang
mirip dengan rekrutmen pasukan khusus AS, Baret Hijau.
Setelah
sepuluh hari berlatih di Baghdad, para kadet dikirimkan ke Yordania
untuk mengikuti seleksi selama tiga bulan. Dari 1.200 orang yang
mengikuti proses seleksi, hanya 80 orang yang lolos.
Selama
seleksi, semua kadet tidak diperbolehkan memanggil satu sama lain dengan
nama asli mereka, melainkan dengan nomor prajurit.
Ternyata
dengan pola rekrutmen seperti itu, di negera yang dibelah oleh konflik
sektarian, sistem itu terbukti ampuh mengeratkan semangat korps dan
kebersamaan di antara Syiah, Sunni, dan Kurdi.
CTS mungkin
satu-satunya cerita sukses AS di Irak, namun setelah AS menarik mundur
pasukannya pada 2011, standard dan seleksi masuk CTS juga berubah. Meski
begitu CTS masih merupakan pasukan yang paling profesional dan tidak
sektarian di Irak.
Ketika hampir seluruh militer Irak ambruk oleh
ISIS, para prajurit CTS bertahan dengan gagah berani dan kemudian
menjadi pahlawan. Pada hampir setiap pertempuran melawan ISIS, CTS
selalu menjadi ujung tombak, termasuk terakhir ini di Mosul.
Ahmed
sendiri sudah pernah berada di medan perang Ramadi, Hit, Falluja,
akhirnya di Mosul, seperti dia lakukan sebelum itu pada perang melawan
Alqaeda dan milisi Syiah.
Kendati malang melintang di berbagai
medan perang, Ahmed bukan serdadu gila perang. Sebaliknya dia kerap
sangat konyol dengan acap berguyon dibarengi senyum SpongeBob"-nya, tak
peduli itu dalam kondisi di bawah desingan peluru.
Credit
ANTARA News/ BBC