Senin, 03 Desember 2018

Menkes Prancis Tuding Kerusuhan Paris Ditunggangi Ekstremis


Para pemadam kebakaran memadamkan mobil-mobil yang dibakar oleh para pengunjuk rasa yang memakai rompi kuning, simbol protes seorang pengendara Prancis terhadap naiknya harga BBM, selama kerusuhan di dekat Place de l'Etoile di Paris, Prancis, 1 Desember 2018.[REUTERS / Stephane Mahe]
Para pemadam kebakaran memadamkan mobil-mobil yang dibakar oleh para pengunjuk rasa yang memakai rompi kuning, simbol protes seorang pengendara Prancis terhadap naiknya harga BBM, selama kerusuhan di dekat Place de l'Etoile di Paris, Prancis, 1 Desember 2018.[REUTERS / Stephane Mahe]

CB, Jakarta - Menteri Kesehatan Prancis menuding kerusuhan yang terjadi di Paris selama unjuk rasa "rompi kuning" ditunggangi oleh kelompok ekstremis.
"Saya ingin mendengar rompi kuning mengatakan bahwa demonstrasi ini diambil alih oleh kelompok-kelompok ekstremis," kata Menkes Agnes Buzyn kepada televisi BFM, seperti dilaporkan dari Reuters, 2 Desember 2018. Ia juga meminta massa untuk mengorganisir diri sehingga dapat memulai dialog dengan pemerintah.

Pengunjuk rasa mengamuk di pusat kota Paris pada Sabtu, membakar mobil dan bangunan, menjarah toko-toko, menghancurkan jendela dan terlibat bentrok dengan polisi. Demonstrasi ini adalah yang terburuk dalam 10 tahun terakhir di Prancis.

Menteri Kesehatan Prancis Agnes Buzyn.[REUTERS]
Pemerintah terkejut karena semakin meningkatnya kekerasan setelah dua minggu protes nasional terhadap harga BBM dan tingginya biaya hidup. Demonstrasi ini dikenal sebagai gerakan "rompi kuning" karena demonstran menggunakan rompi kuning selama beraksi sebagai simbol pengendara yang menentang naiknya harga BBM.

Di Paris, polisi mengatakan telah menangkap hampir 300 orang sementara 110 orang terluka, termasuk 20 anggota pasukan keamanan. Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air kepada pengunjuk rasa di Champs Elysees, di Taman Tuilleries dekat Museum Louvre dan tempat-tempat lain.
Di beberapa daerah hampir tidak ada polisi yang berjaga sama sekali, karena sekelompok pria bertopeng berkeliaran di bawah bayang-bayang ikon terkenal ibukota dan melalui distrik-distrik perbelanjaan, menghancurkan jendela-jendela butik.

Unjuk rasa di ibu kota Paris, Prancis, memprotes kenaikan pajak bahan bakar minyak berakhir rusuh pada Sabtu, 1 Desember 2018, waktu setempat. Press Tv
Emmanuel Macron sedang berada di Argentina untuk KTT G20 dan mengatakan akan memanggil para menteri untuk membahas krisis setelah kembali pada Minggu. Perdana Menteri Edouard Philippe juga membatalkan perjalanan ke Polandia.
"Kami berada dalam keadaan gawat, saya tidak pernah melihat yang seperti itu," kata Jeanne d'Hauteserre, wali kota distrik 8 Paris, dekat monumen Arc de Triomphe.

Demonstrasi pecah pada 17 November dan telah menyebar dengan cepat melalui media sosial. Pengunjuk rasa memblokir jalan di seluruh Prancis dan menghalangi akses ke pusat perbelanjaan, pabrik dan beberapa depot bahan bakar setelah Emmanuel Macron mengumumkan kenaikan harga BBM, yang berujung kerusuhan di pusat Kota Paris.




Credit  tempo.co