Kamis, 28 Desember 2017

Berkeras Latihan Militer, China Sebut Taiwan Akan Terbiasa


Berkeras Latihan Militer, China Sebut Taiwan Akan Terbiasa 
  Ilustrasi jet tempur China, Shenyang J-11. (U.S. Navy/Wikimedia CC-PD-Mark)



Jakarta, CB -- China menyebut Taiwan akan terbiasa menghadapi latihan angkatan udara di sekitar wilayahnya. Sementara itu, Taipei menegaskan menginginkan perdamaian dengan Beijing.

Beijing menganggap pulau yang dipandang sebagai provinsi pembangkang itu sebagai sebagai wilayahnya dan tak pernah menepikan kemungkinan menggunakan cara paksa untuk merebutnya kembali.

Media pemerintah China melaporkan latihan "keliling pulau" itu secara besar-besaran, bulan ini, termasuk menunjukkan gambar pesawat pengebom dengan latar belakang Yushan, tempat yang disebut sebagai puncak tertinggi Taiwan.


Ketika ditanya soal latihan berkelanjutan dan rekaman-rekamaman yang dirilis angkatan udara, Kantor Hubungan Taiwan Pemerintah China menyatakan pihaknya dan Kementerian Pertahanan telah berulang kali menyatakan bahwa latihan itu adalah kegiatan rutin.

"Semua orang lama-lama akan terbiasa dengan latihan itu," kata juru bicara, An Fenghsan, sebagaimana dikutip Reuters pada Rabu (27/12), tanpa menjelaskan lebih jauh.

Angkatan Udara China telah melakukan 16 kali latihan militer di sekitar Taiwan sepanjang tahun ini, kata Kementerian Pertahanan Taiwan. Mereka juga memperingatkan bahwa ancaman militer China terus meningkat setiap harinya.

Beijing mengambil langkah lebih keras terhadap Taipei sejak Tsai Ing-wen yang berasal partai pro-kemerdekaan memenangkan pemilihan umum tahun lalu.
Pesawat tempur China kerap bermanuver di Taiwan.
Pesawat tempur China kerap bermanuver di Taiwan. (Ministry of National Defense/Handout via REUTERS)
China mencurigai Tsai ingin mendeklarasikan kemerdekaan resmi dan melanggar batas toleransi Beijing. Tsai mengatakan Taipei menginginkan perdamiaan dengan China, meski di saat yang sama bersumpah akan mempertahankan keamanan dan cara-cara Taiwan.

Pemerintahan demokratis Taiwan tampaknya sama sekali tidak mau dikendalikan China yang otokratis, dan Taipei berulang kali menuding Beijing tidak mengerti demokrasi. 

Perdana Menteri Taiwan William Lai mengatakan bahwa Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan memerhatikan dengan seksama aktivitas angkatan udara China.

Lai mengatakan pemerintahannya akan mengikuti arahan presiden, pihak yang bertanggung jawab atas hubungan Taiwan dan China.

"D bawah kepemimpinan presiden, Yuan Eksekutif mendorong hubungan pemerintah, menstabilkan hubungan lintas-selata menuju perkembangan yang damai," kata Lai, merujuk kepada kabinet Taiwan dengan nama resminya.




Credit  cnnindonesia.com